
Rama bertemu dengan Mba Anindya di Audah Hotel. Pertemuan ini sudah direncanakan sejak seminggu yang lalu, mengingat Mba Anindya sekarang tinggal di Malaysia bersama Mamanya, jadi tidak bisa mendadak balik ke Indonesia. Disana mereka kembali membuka toko baju, ambil barangnya dari Tanah Abang dan beberapa UMKM yang dulu dibina sama Mba Anindya. Semua bisnis Mba Anindya yang ada di Jabodetabek sudah ditutup. Bersama Mamanya sudah memutuskan untuk pindah menetap di Malaysia. Sebelumnya memang sudah punya rumah disana serta bisnis kerjasama, sekarang bisnis dihandle sendiri.
Di Malaysia, barang Tanah Abang terutama busana muslim amat diminati. Karena busana muslim di Indonesia lebih beragam baik model dan bahannya. Peluang ini dimanfaatkan oleh Mba Anindya yang paham seluk beluk supplier yang bisa mengekspor pakaian jadi kesana. Link Mba Anindya lumayan bagus, jadinya dalam waktu kurun waktu empat bulan saja, bisnisnya sudah berjalan lancar. Sudah ada toko dalam bentuk fisik maupun toko online.
.
Rama dan Mba Anindya duduk di restoran yang ada di Audah Hotel. Hanya berdua saja. Pak Alfian tidak bisa ikut karena ada keperluan lain. Keduanya sekalian makan siang bersama.
"Lebih segar sekarang Mba.. sudah bisa tersenyum optimis seperti dulu lagi" buka Rama.
"Alhamdulillah.. hidup terus berjalan kan? nyaman pula tinggal kat sana. By the way.. Lama kita tak jumpa ya Ram.. more than setengah tahun?" ucap Mba Anindya dengan nada bicara Melayu dan khas warga kota sana yang berbicara dicampur bahasa Inggris.
"Ya Mba.. bagaimana kabar Mamanya Mba Anin?" tanya Rama lagi.
"Sihat... Alhamdulillah. Kembali suke tengok wayang (nonton bioskop) and drama kat TV (drama di TV).. seperti saat di Indonesia" jawab Mba Anindya.
"Cakap Melayu lancar dah.. niat ganti pasport lah tu" goda Rama.
"Tak lah.. everyday cakap Melayu with our customer, maybe lidah dah selese kot (udah nyaman)" jawab Mba Anindya.
"Tak ape lah.. cakap Melayu tapi jiwa nih janji tetap merah putih" ucap Rama.
"InsyaAllah ...oh ya.. congaratulation Rama and Izza. Finally... kalian akan punya anak. Kapan perkiraan lahirnya Ram?" tanya Mba Anindya.
"Sekitar kurang dari dua bulan lagi Mba" jawab Rama.
"Pasti happy kamu dan Izza. Menantikan buah hati kalian dalam suasana yang kondusif dan pastinya penuh cinta kasih. Tak sangka setelah huru hara yang dah berlaku dimasa silam, finally Izza dapat anugerah juga. Ingin bisa bertemu sama dia, tapi pasti kamu tak ijinkan" kata Mba Anindya.
"Untuk kehamilan Izza.. saya hanya bisa berucap Alhamdulillah Mba.. do'akan saja semuanya berjalan lancar. Mengenai keinginan Mba untuk bertemu sama Izza, belum waktu yang pas. Biarlah dia melewati fase kehamilan penuh kebahagiaan. Jangan ada air mata lagi, sudah cukup saya melihat dia sengsara. Sekarang tengah mempersiapkan diri menjadi Ibu tangguh untuk anak-anak kami, saya tidak mau ada gangguan dalam persiapannya. Saya harap Mba Anin tidak kecil hati terhadap larangan saya yang satu ini" jawab Rama.
"Mba paham kok Ram.. Mba datang kesini, untuk membahas mengenai email kamu tentang penjualan saham yang kamu punya di Audah Hotel dan peletakkan jabatan sebagai Vice President di Audah Hotel. Sudah dipikirkan baik-baik Ram? Audah Hotel masih butuh kamu. Bukannya selama ini fine-fine aja kerja double dengan Abrisam Group. Perusahaan kamu juga makin maju" ucap Mba Anindya.
"Sudah Mba.. sudah saya pikir masak-masak, sudah bulat pula keputusannya. Hal ini sudah berbincang juga dengan Izza, Papi dan Mas Haidar. Rasanya tidak mau tertangguh lagi keputusan ini. Semoga prosesnya bisa selesai sebelum Izza melahirkan. Saya mau kerja dengan jam normal .. office hour. Sudah punya rencana untuk tidak seperti sekarang ini, sibuk tak tentu waktu. Bukan saya tidak punya obsesi untuk menjadi orang besar seperti Papi dan lainnya, tapi saya ingin juga mengikuti tahap perkembangan anak. Saya tau rasanya kurang kasih sayang dan perhatian. Ditambah pengalaman orang disekitar seperti Sachi dan Izza, membuat saya harus kerja ekstra untuk menciptakan suasana keluarga yang baik untuk anak-anak saya kelak. Semoga tidak ada pohon pisang berbuah dua kali.. kejadian yang menimpa generasi kita jangan sampai kejadian juga di generasi yang akan datang. Abrisam Group butuh perhatian ekstra kedepannya Mba. Perusahaan makin banyak yang baru, karyawan yang muda-muda pun siap kapan saja menjadi pesaing hebat. Alhamdulillah kita sudah lulus kuliah S2 nya, sepertinya mau lanjut S2 bidang lain selain bisnis. Tapi untuk agenda kuliah lagi masih saya pending dulu, liat situasi nantinya" papar Rama panjang lebar.
"Karena alasan itu saja Ram?" kata Mba Anindya meyakinkan.
"Kan saya sudah bilang sejak kita bagi tiga kepemilikan saham, hanya enam bulan saja saya akan bantu Audah Hotel. Di Abrisam Group sekarang ini sedang banyak proyek yang berjalan. Ditambah kami akan membuka kantor perwakilan di Surabaya, untuk mengcover daerah Indonesia Timur. Semua itu butuh effort yang ekstra dari saya sebagai pimpinan. Sembilan bulan sejak kepemilikan saham Audah Hotel kita revisi, belum juga ada yang menggantikan saya di Audah Hotel hingga detik ini. So.. inilah waktu yang tepat Mba. Seperti yang tercantum dalam email juga, saham milik saya sudah ada yang berkenan untuk membelinya. Saya bisa atur jadwal untuk kita berempat bertemu guna pembicaraan lebih lanjut" jelas Rama lagi.
"Siapa Ram pembelinya?" tanya Mba Anindya.
"Namanya Pak Sandy, sebelumnya beliau lebih banyak ke pekerjaan sipil. Sepertinya mau coba main di Hotel" kata Rama.
"Nanti saya bilang dulu ke Om Alfian, kapan beliau bisa ke Jakarta" jawab Mba Anindya.
"Kita juga harus buka lowongan untuk pengganti saya Mba" pinta Rama.
"Tunggulah Ram, masa peralihan seperti ini akan sulit jika pucuk pimpinan ganti baru. Pasti harus cerita dari awal lagi. Sabar sampai saham kamu terjual dan kita bicarakan ulang. Mba harap juga waktunya sesuai keinginan kamu, sebelum Izza melahirkan" sahut Mba Anindya.
"Oke.." jawab Rama singkat.
Keduanya berbincang ngalor ngidul saja, bercerita tentang kehidupan mereka masing-masing.
"You know Ram.. ketika melihat kamu sebahagia sekarang, Mba jadi termotivasi untuk bahagia juga" kata Mba Anindya.
"Sudah ada lelaki yang dekat?" tanya Rama.
"Belum.. Mba masih menutup diri. Sulit melupakan rasa terhadap kamu. Izza itu adalah wanita beruntung, wanita yang selalu kamu perjuangkan dan mendapatkan curahan kasih sayang tanpa batas" puji Mba Anindya.
"Saya suami orang Mba.. jangan menyimpan rasa terlalu lama. Lagipula sebentar lagi jadi seorang Ayah.. Akhirnya... bisa juga saya punya anak ya.. hahaha" canda Rama.
"Kamu kan lelaki normal Ram" sahut Mba Anindya.
"Bukan kearah situ Mba maksudnya. Lebih kepada melihat diri sendiri. Masa kecil yang kurang menyenangkan, hobi berantem dan masuk kantor polisi tiap Minggu, menyelesaikan permasalahan-permasalahan dengan adu jotos.. rasanya ga terbayang sekarang seperti ini" cerita Rama.
"Banyak-banyak do'a biar anaknya ga kaya kamu bandelnya" ledek Mba Anindya.
"Ya kalo cowo .. rasanya sedikit bandel gapapa lah .. asal ga lewat batas. Tapi kalo cewe.. Ayahnya sudah siap asah golok nih kalo ada yang berani nyenggol.. hehehe" ujar Rama.
"Kamu memang jauh banget berubahnya Ram. Lebih bijak dan hati-hati. Mba do'akan kamu sukses dengan jalan hidup yang akan dipilih. Oh ya.. Mba titip hadiah untuk Izza. Ada scarf bagus di Malaysia, milik salah satu selebriti disana, boleh kan hadiah ini kamu sampaikan ke Izza?" tanya Mba Anindya.
"Boleh Mba.. makasih ya" jawab Rama.
🏵️
Setelah bertemu dengan Mba Anindya, Rama kedatangan tamu spesial. Pak Sandy dan Mas Barry, mereka hendak melihat Audah Hotel secara lebih menyeluruh.
Rama dan beberapa Manager ikut untuk berkeliling Audah Hotel. Setelah itu, Rama, Pak Sandy dan Mas Barry singgah di cafe yang ada di rooftop.
"Saya sudah berbincang-bincang dengan pemilik saham yang lain, tunggu satu orang lagi datang ke Jakarta, baru nanti kita bicara lebih lanjut" lapor Rama.
"Kondisi keuangan Audah Hotel oke kan Ram?" tanya Pak Sandy.
"Dipenawaran yang saya berikan sudah saya lampirkan laporan keuangan selama dua tahun terakhir. Semoga bisa dipelajari oleh tim Bapak" jawab Rama.
"Ya.. sudah kami bahas. Secara keuangan bagus, tapi kenapa kamu lepas? bisa saja kamu jadi pemilik saham pasif" kata Pak Sandy.
"Terlalu panjang ceritanya Pak, intinya tidak ada kaitan dengan kondisi Audah Hotel secara keseluruhan dan bisnis, lebih ke alasan pribadi. Saya pernah bilang kan ke Bapak kalo mau bisa berbagi waktu lebih banyak untuk keluarga" ucap Rama.
"Hanya karena Izza mau melahirkan? come on Rama.. Bapak-bapak lainnya juga mengalami saat menghadapi istri melahirkan, tapi ga sampai seekstrim kamu, melepaskan jabatan plus saham" ujar Mas Barry.
"Abrisam Group saja sudah bikin tujuh keliling, ditambah lagi Audah Hotel.. dalam kehidupan pribadi juga menghadapi permasalahan keluarga.. sepertinya memang harus ada yang dikorbankan. Saya bukan manusia super yang bisa menjalankan semua dalam satu waktu. Audah Hotel ini bisnis pertama saya secara pribadi, terlepas dari segi modal dan sebagainya dari Abrisam Group. Banyak memory sebenarnya disini, termasuk dengan Izza" kenang Rama.
"Kenangan apa?" tanya Mas Barry.
"Tempat saya pertama kali menugaskan pekerjaan ke Izza, di tempat ini pula saya melamarnya secara resmi. Dan yang lebih penting, disinilah kami menikah secara agama yang selanjutnya disahkan secara negara di Pesantren Abah Ikin" cerita Rama.
"Tidak sayang sama memory nya?" tanya Mas Barry.
"Makanya saya tawarkan ke Pak Sandy dan Mas Barry, jadi suatu saat saya kangen untuk mengenang Audah Hotel, masih diijinkan untuk lihat-lihat.. hehehe" kata Rama.
"Semoga nanti hasil pertemuan dengan pemegang saham yang lain bisa menghasilkan keputusan yang terbaik" harap Pak Sandy.
"Aamin ya rabbal'alamin" tutup Rama.
🏵️
Karena dari pagi hingga sore, Rama sibuk di Audah Hotel, jadilah baru mengurus pekerjaan di Abrisam Group selepas Maghrib. Mau tidak mau, dia baru pulang ke rumah lewat tengah malam. Mang Ujang sudah pulang duluan naik motor. Jadi Rama menyetir mobilnya sendiri.
.
Begitu masuk kedalam kamar, Rama melihat Izza tengah duduk di tempat tidur sambil menonton televisi.
"Assalamualaikum.. belum tidur De?" sapa Rama.
"Waalaikumsalam..." jawab Izza.
Rama buru-buru masuk kamar mandi biar Izza tidak mencium bau keringatnya.
Baru saja Rama masuk kamar mandi, pintunya sudah diketuk. Rama memakai handuk dipinggangnya kemudian membuka pintu.
"Kenapa De?" tanya Rama.
"Kok langsung ke kamar mandi? menyembunyikan sesuatu ya?" duga Izza penuh kecurigaan.
"Menyembunyikan sesuatu apa De? Kakak hanya ga mau kamu mual karena aroma badan Kakak" jelas Rama.
"Habis sama siapa? sampai buru-buru mandi. Melakukan apa?" buru Izza lagi.
"Ya Allah.. masa ga percaya sama Kakak. Kalo ga percaya, besok kamu minta CCTV Kantor, dengan siapa saya di ruangan" tantang Rama.
"Udah ga sayang ya sama istri sendiri?" tanya Izza.
"Ga sayang gimana sih De? ada apa sebenarnya sampai berubah begini? Kakak tau kamu kalo mulai merajuk pasti ada sesuatu.. ngomong aja, ga usah muter sana sini, sudah malam" ucap Rama.
Sebenarnya nada bicara Rama biasa saja, mungkin karena lelah, mimik mukanya seperti tidak suka jika dicemburui.
Izza langsung ngambek dan kembali ke tempat tidur. Dia mematikan televisi kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut yang kemarin dibelikan oleh Pak Isam.
Rama melanjutkan mandinya. Keluar kamar mandi, dia mencari baju dan celana pendek untuk tidur.
"Boleh tidur disebelahnya ga?" tanya Rama yang sudah ada disampingnya Izza.
Izza pura-pura tidur.
Rama mengusap perutnya Izza kemudian menaikkan kaos yang Izza kenakan. Melihat secara langsung perut yang mulai membesar, diciumnya beberapa kali. Seperti biasa, jika disapa Ayahnya, maka sang jabang bayi akan bereaksi.
Perutnya bergerak terus, semakin direspon oleh Rama, semakin yang didalam bergerak.
"Udah ya... Ayah kan udah pulang, sekarang tidur, kasian Mommy.. kalo kamu gerak terus, pasti Mommy ga bisa tidur nyenyak" bujuk Rama.
Izza masih memejamkan matanya. Ditutupnya perut Izza dengan kaos dan selimut.
Rama pelan-pelan tidur disebelahnya Izza, dia sudah memesan sabun tanpa wewangian dari temannya yang ada diluar negeri. Jadi tidak ada bau seperti sabun pada umumnya. Padahal Izza memakai sabun seperti biasa dan herannya tidak mual.
Rama kembali mendekati perutnya Izza.
"Obos... nanti kalo udah keluar dari perut Mommy, jangan banyak ngambek sama Ayah ya. Jadi anak Sholeh Sholehah, sehat-sehat, ga cengeng, sayang sama orang tua... pokoknya Ayah sangat sayang sama Mommy dan kamu" kata Rama
Izza masih juga memejamkan matanya.
"Obos .. nanti kalo udah lahir mau langsung punya adik ga? Biar ada temen mainnya" lanjut Rama.
Langsung aja Izza membuka matanya dan menyubit lengannya Rama.
"Ngomongnya enak banget, dikira hamil ga berat apa? belum ditambah kalo lagi datang mual dan lemasnya, ga enak mau ngapa-ngapain juga" omel Izza.
"Ini kan baru proposal, ya kali aja penawarannya diterima. Obos ini lahir di keluarga Abrisam yang ujung-ujungnya pasti terjun ke bisnis. So.. mulai diajarin untuk mengajukan proposal dan mendealkan sesuatu. Eh tapi ya De.. kalo bisa melahirkan setiap tahun, lucu juga kali ya, sekalian cape ngurusin anak-anak. Nanti membesar bareng, kan jadi kaya teman sebaya" tutur Rama yang langsung mendapatkan cubitan lagi dipipinya.
"Belum lahir udah diajarin bisnis.. jangan memaksa dia menjadi penerus Abrisam Group dong, biarlah dia punya impian hidupnya sendiri. Kan Kakak merasakan gimana sulitnya menjalani apa yang tidak Kakak sukai. Terus mengenai punya anak lagi, memang enak kaum suami mintanya, ibaratnya cuma ambil bagian sebagai penabung bibit saja. Kita nih para Ibu yang merasakan seluk beluk dunia kehamilan. Nanti masuk ke fase melahirkan yang bertaruh nyawa. Lanjut lagi mengurus anak-anak yang pastinya punya tingkah laku dan tabiat masing-masing. Ayahnya pasti punya alasan kerja dan cape kalo diminta untuk membantu urus anak" oceh Izza.
"Wahhhh... harusnya liat dulu dong siapa suaminya, ga mungkinlah bikinnya bareng masa ngurusinnya ga bareng. Kami kaum suami memang punya kewajiban buat mencari nafkah tapi melekat juga sebuah tanggung jawab memimpin keluarga. Pembahasan cukup disini ya, Kakak ngantuk. Besok kan libur kerja, pagi-pagi kita berenang yuk" ide Rama.
"Kenapa ngajak berenang? Izza gemukan ya karena belakangan ini banyak rebahan?" tanya Izza insecure.
"Memangnya renang buat sekedar kurus? Ga usah mikir macam-macam De, wajar kamu lebih berisi karena sedang hamil. Renang itu bagus untuk pernafasan dan bisa bikin rileks. Lagian di rumah kok renangnya, bukan buat kamu turun berat badan kok, wong ikan paus yang renang tiap hari aja ga kurus-kurus sampai saat ini" papar Rama.
"Jahat banget samain Izza sama ikan paus" kata Izza kesal.
"Ga begitu maksudnya .. ini kita jadi tidur atau ga?" tanya Rama.
"Belum ngantuk" jawab Izza.
"Gimana kalo Ayah yang berwibawa ini nengokin anak tercintanya, mumpung Mommy ga mual dekat sama Ayah.. udah sebulan nih De ga dapat jatah.. hehehe" rayu Rama.
"Abisnya bau badan Kakak itu ga enak" ujar Izza.
"Mumpung sekarang baunya enak, ya kita mulai aja, sekalian buat bekal" bisik Rama.
"Bekal? Kakak mau dinas luar kota?" tanya Izza.
"Ngga.. bekal nanti kalo kamu masa nifas, lumayan itu empat puluh hari ga boleh disenggol.. hahaha" kata Rama.
Rama terkadang merasa bingung juga jika mengajak Izza untuk berhubungan suami istri, banyak pengalaman temannya yang kurang menyenangkan. Sehingga pernah di konsultasi bulan lalu, Rama menanyakan hal ini ke dokter.
Selama tidak ada keluhan yang membahayakan untuk janin, diperbolehkan. Dengan durasi dan posisi yang tidak seperti sebelum hamil. Aktivitas ini bisa juga menjadi "olahraga" yang membantu membakar kalori dalam tubuh calon ibu, mampu melancarkan sirkulasi darah, mengurangi rasa nyeri, membantu tidur lebih nyenyak, serta membuat ibu merasa lebih bahagia.
Disarankan saat usia kehamilan masuk ke tiga puluh tujuh minggu, jika bisa dihindari karena kepala janin sudah memasuki rongga panggul, sehingga dikhawatirkan menyebabkan pendarahan atau persalinan dini.
"Repot juga ya De.. ga bisa banyak gaya" bisik Rama.
"Iya.. jadi sakit pinggang kalo posisi salah" jawab Izza.
"Kalo ga nyaman ya gapapa De.. Kakak paham kok" ucap Rama.
"Katanya buat bekel.." ledek Izza.
"Setelah melakukannya kok malah ga tega ya.. kayanya Kakak harus kembali banyak berpuasa, biar ga kepikiran kebutuhan biologis dulu. Anak ini kan yang kita tunggu-tunggu, setelah dia lahir, bisa kita melakukan sebebas dulu lagi" ucap Rama.
"Makasih ya Kak.. selalu jadi orang yang paling mengerti sama Izza" kata Izza.
"Terima kasih juga sudah selalu melayani Kakak dengan sepenuh hati" jawab Rama