HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 71, Restless



"Kamu nih sebenarnya tau ga sih kasus apa aja yang didakwakan ke Mba Gita sampe ditangkap polisi?" tanya Rama datar.


"Penyelewengan uang perusahaan. Kak Rama sendiri kan yang laporin" jawab Izza lempeng.


"Bukan itu poin terpentingnya Za" kata Rama.


"Terus Mba Gita terlibat kejahatan apa lagi? kok kayanya Kak Rama sebegitu dendam banget sama Mba Gita sampe menjebloskan ke penjara tanpa Kakak pertimbangkan segala jasa Mba Gita terhadap Abrisam Group" tanya Izza.


"Kasian sekali kamu ga tau sepak terjangnya Mba Gita, dia termasuk salah satu pengedar narkoba dengan jaringan yang sudah luas, terlibat judi online dan yang lebih sadis lagi ... dia yang merencanakan untuk menyingkirkan Mba Nay. Kebakaran yang terjadi di rumah Mba Nay adalah rencananya. Mba Gita merasa Mba Nay adalah ancaman buatnya karena Mba Nay mulai curiga sama semua tindak tanduk Mba Gita di Abrisam Group. Saat itu Mba Nay adalah Sekretarisnya Mas Haidar, jadi pastinya Mba Nay bisa membaca berkas-berkas sebelum ke tangan Mas Haidar. Dia juga yang menyiksa batin Mba Nay sampe akhirnya Mba Nay merasa krisis pede hingga kesehatannya dan kandungannya menurun" papar Rama dengan penuh emosi.


"Astaghfirullah .... astaghfirullah .. Ya Allah ... ga mungkin Kak ... ga mungkin Mba Gita kaya gitu .. Kakak pasti salah orang" bela Izza dengan tangan bergetar dan menangis.


"Mba Gita sudah mengakui semuanya didepan penyidik, jadi sudah jelas dalam BAP nya ada. Itulah kenyataannya Za" ujar Rama.


"Ga mungkin Kak .. ga mungkin... Kakak pasti dapat laporan yang salah. Izza ga pernah liat Mba Gita pakai obat-obatan terlarang. Ga pernah menunjukkan diri sebagai pemakai atau pengedar. Pokoknya tidak ada yang mencurigakan selama ini" lanjut Izza.


"Kalo pelakunya sudah mengakui semua perbuatannya .. apa saya juga yang salah?" sahut Rama.


Izza menahan lanjutan tangisnya. Mencoba menguatkan diri dengan menghapus air matanya.


"Lilis itu adik kandungnya Mba Nay .. orang yang sudah sejak dulu dicari sama Mba Nay dan saya" terang Rama.


"Ya Allah ...." gumam Izza.


"Saya akan bilang semuanya ke Lilis besok. Sudah saatnya dia tau siapa pembunuh keluarganya. Dendam ini harus tuntas terbayarkan Za" ucap Rama berapi-api.


"Besok tidak ada jadwal untuk kunjungan Kak, Lilis ga akan bisa ketemu sama Mba Gita" ucap Izza.


"Saya tau .. makanya saya mau ajak kamu buat ketemu sama Lilis" pinta Rama.


"Kenapa ngajak saya? saya orang luar yang ga tau apa-apa tentang kisah Mba Nay dan Mba Gita" ucap Izza bingung.


"Karena kamu adiknya Mba Gita ... ehm.. maksudnya kamu kan adik angkatnya Mba Gita. Ya bisa dong mewakili Mba Gita untuk meminta maaf atas apa yang terjadi" jawab Rama buru-buru meralat ucapannya.


"Tapi kan Izza ga tau tentang Mba Gita yang banyak melakukan kejahatan seperti ini. Bukan ga mau membela Mba Gita, tapi apa yang mau dikatakan ke Lilis tentang kematian Mba Nay? sedangkan Izza aja ga kenal siapa Mba Nay dan kisah masa lalunya dengan Mba Gita. Lagipula ternyata Izza pun ga cukup mengenal siapa Mba Gita, buktinya kan Izza ga tau kalo dakwaan Mba Gita sebegitu banyaknya" kata Izza.


"Saya rasa kata maaf sekarang cukup buat Lilis, ga tau deh nanti kalo persidangan kasus ini dimulai, kalo dia marah itu sesuatu yang wajar sih" lanjut Rama sok cool.


Jalanan sudah terlihat ramai tapi lancar, karena masih jam lima kurang, orang kerja belum waktunya pulang.


"Za ... gimana besok bisa ketemu sama Lilis?" tanya Rama lagi.


"Maaf Kak, saya ga bisa bertindak mewakili Mba Gita, lagipula apa yang saya mau omong sama Lilis? saya belum dapat pengakuan dari Mba Gita, jadi ya ga bisa" jawab Izza.


"Kamu susah ya untuk meminta maaf?" lanjut Rama.


"Konteksnya gimana dulu Kak. Sekarang coba saya balik tanya ke Kak Rama, andai Kak Rama ada diposisi saya, yang ga tau apa-apa terus meminta maaf atas nama Mba Gita, apa akan Kak Rama lakukan? kalo pihak Lilis bisa terima dengan lapang dada, lah kalo ngga? apa ga habis saya dicaci maki" Izza malah balik bertanya.


"Ya iyalah... itu konsekuensi namanya" jawab Rama yakin.


"Walaupun ga kenal siapa Mba Nay?" buru Izza.


"Ya ..." jawab Rama.


"Bukankah itu konyol namanya? Saya kira dengan latar pendidikan dan lingkungan Kak Rama, jawaban Kak Rama terlalu naif. Silahkan kalo Kak Rama mau membuat diri terlihat bodoh, kalo saya tidak mau kaya gitu" ujar Izza bersilat lidah.


Latar pendidikan public relation membuat Izza memang pandai membalikkan semua perkataannya Rama.


Rama merasa tertohok oleh ucapan Izza. Entah kenapa sering jalan pemikirannya ga sejalan sama Izza.


"Oke lah kalo ga mau .. " kata Rama menyerah.


Rama fokus memperhatikan jalan, mulai ramai dengan lalu lalang kendaraan. Kampusnya Izza memang berlokasi di daerah yang lumayan padat karena ada areal perkantoran dan beberapa sekolah menengah internasional.


"Kak .. nanti turunin aja di dekat gerbang, saya bisa masuk sendiri" pinta Izza.


"Emang kalo masuk ke Kampus kamu kenapa? ada larangan gitu?" tanya Rama.


"Ga sih Kak .. tapi kan pake secure parking, nanti kena biaya parkir padahal kan cuma nurunin Izza aja" jawab Izza.


"Kamu takut saya ga bisa bayar parkir disana?" ucap Rama.


"Siapa sih yang meragukan harta kekayaannya keluarga Kak Rama, jangankan untuk bayar parkir, kalo Kampus dijual juga mungkin bisa dibeli .. iya kan?" nyinyir Izza.


"Wow ... sampe begitu ya kamu menilai keluarga saya" sahut Rama kesal.


Kampus Izza masih satu kilometer lagi, jalanan sudah padat.


HP milik Rama berbunyi, ada panggilan dari Alex.


"Ya ..." sapa Rama.


Rama diam mendengarkan semua yang dibicarakan sama Alex. Kalo Rama diam ketika menerima telepon, Alex sudah paham artinya ada orang didekat Rama yang ga perlu mendengar percakapan mereka.


"Oke .. thanks infonya" jawab Rama sambil menutup sambungan telepon.


Rama kembali diam, Izza tampak sedang membalas chat di HP nya.


"Kampus kamu ada program S2 apa aja?" tanya Rama.


"Bukannya Kak Rama sedang ambil S2 ya sama Mba Anin?" kata Izza malah balik bertanya.


"Emang kalo sekedar nanya ga boleh?" ucap Rama datar.


"Boleh ... " kata Izza.


"Jadi orang jangan langsung aja jawab, dipikir dulu baru deh jawab" saran Rama.


"Biasanya yang nanya program S2 ya memang minat ambil" jawab Izza.


"Mungkin bisa aja saya ambil .. selama ada hubungannya sama karier" kata Rama.


"Ya.. pendidikan memang menunjang karier kedepannya. Apalagi dengan posisi dan tercukupinya kemampuan finansial Kak Rama kan ... mau ambil S3 pun bisa" jawab Izza.


"Whatever... " ucap Rama cuek.


Rama masuk kedalam parkiran Kampusnya Izza.


"Masuk dari pintu yang mana?" tanya Rama.


"Lobby utama Kak" jawab Izza.


Rama langsung menuju lobby utama.


"Ok... dah sampai... bisa kan buka pintu sendiri?" ucap Rama.


"Makasih Kak" jawab Izza.


Izza turun dari mobil, setelah itu Rama langsung memacu mobilnya menjauh dari lobby Kampus.


"Za ... Izza ..." panggil temannya Izza yang juga baru datang.


"Gila ... naeknya sekarang mobil mevvah" ledek temannya Izza yang lain.


"Siapa tuh Za? pacar lo ya?" kepo temannya.


"Za ... Lo tuh aslinya orang kaya ya? inget ga dulu kita pernah ketemu di Mall sama Kakak Lo yang cowok .. dari tampilannya aja keliatan tajir, dari atas sampe bawah branded semua" sahut lainnya.


"Ini mau bahas mobil, penampilan atau apa sih? we just a friend okay" jawab Izza malas-malasan.


"But friend bisa jadi boy friend kannnn" ledek temannya lagi.


"Nanti dijemput lagi dong sama si doi?" tanya temannya Izza.


"Emang dia driver taksi online yang kerjaannya antar jemput" sahut Izza.


"Gw mah yakin dia bakal jemput deh ... berani taruhan?" tanya temannya Izza.


"Of course... berani dong..." jawab Izza yakin.


"Kalo dia jemput, beliin kita nih bertiga Frozen bento di minimarket ya .. yang dua puluh ribuan itu loh" kata temannya Izza.


Izza bingung juga, memang di tabungannya masih ada uang hasil penjualan mobil, tapi dia ga mau pakai untuk sekedar taruhan konyol seperti ini.


"Oke ... deal" jawab Izza setuju.


Izza mengambil keputusan tersebut karena rasanya adalah hal yang mustahil kalo Rama sampai menjemputnya di Kampus, jadi kans untuk menang mencapai sembilan puluh sembilan persen.


🍒


"Mang Ujang dimana?" tanya Rama lewat sambungan telepon.


"Di rumah Mas Boss lah, lagi main catur sama Papi Boss" jawab Mang Ujang.


"Saya ga pulang ke rumah, nginep di Audah Hotel, besok pagi jangan lupa jemput Lilis terus ke cafe dekat Hotel aja" perintah Rama.


"Heran deh sama Mas Boss, kalo sama-sama udah di Audah Hotel, kenapa harus dijemput? tinggal jalan bareng aja sama Lilis dari Hotel" ujar Mang Ujang.


"Jangan bawel jadi orang, jalanin aja apa yang saya perintahkan .. atau mau saya ganti?" ucap Rama kesal.


"Iya Mas Boss .. santuy aja dong ngomongnya, ga usah pake urat. Kan cuma becanda..." kata Mang Ujang.


Pak Isam memberikan kode untuk meminta HPnya Mang Ujang. Langsung sama Mang Ujang diberikan.


"Kamu ga pulang kenapa? jangan berbuat macam-macam ya" kata Pak Isam.


"Macam-macam apa sih Pi .. Papi kan tau sendiri Rama kaya gimana. Untuk masa sekarang, lebih aman di Hotel Pi, lagian kan sampe rumah juga sekedar tidur, besok pagi juga ada jadwal meeting" jelas Rama.


"Besok kan Sabtu.. emang kamu ga libur?" tanya Pak Isam heran.


"Everyday is Monday Pi .. belum saatnya libur, banyak yang harus dikejar" jawab Rama.


"Udahlah Rama .. Papi tau kamu pekerja keras .. don't push your limit (jangan memaksakan batasanmu)" kata Pak Isam.


"I’m feeling really great (saya merasa sangat luar biasa/baik-baik aja)" jawab Rama.


"Ram ... take care.. Papi cemas sama keselamatan kamu" ucap Pak Isam.


"Pi ... Rama kan ada bodyguard, jadi ada yang bantu lindungin. Sekarang Rama cuma lagi ngerasa resah aja, bukan takut loh" adu Rama sambil menarik nafas panjang.


"Kenapa? lelah?" tanya Pak Isam.


"Setelah semua terkuak, apa yang sebenarnya Rama cari Pi? kepuasan? kelegaan?" ucap Rama.


Suara Rama bergetar, seakan tanggul pertahanannya sudah hampir jebol.


"Lepaskan satu persatu yang jadi beban kamu, kenapa hidup harus terus membahagiakan orang lain demi sebuah janji? Memang janji adalah hutang, tapi bukannya sudah kamu membayar semua?" tanya Pak Isam.


"Entahlah Pi ..." jawab Rama.


"Sekarang kamu rehat, bebaskan pikiran dari apapun. Atau kalo perlu kamu liburan kemana gitu" usul Pak Isam.


"Nantilah Pi dipikirkan dulu.. Rama masih di jalan nih Pi .. udah dulu, Assalamualaikum" ucap Rama sambil memutuskan hubungan telepon.


"Waalaikumsalam" jawab Pak Isam kemudian menyerahkan HP ke Mang Ujang.


"Mas Boss punya hutang apa ya? dia kan orang kaya, gaji juga double, pemilik Abrisam Group dan sebagian saham Audah Hotel.. bukannya hutang dia cuma mobil aja ya?" ucap Mang Ujang dalam hatinya.


.


"Mas Boss lagi galau ya Papi Boss?" tanya Mang Ujang.


"Ya namanya anak muda... galau sedikit wajar aja" jawab Pak Isam.


"Sejak Mba Gita ditangkap, Mas Boss itu jadi lebih diam. Tapi muka kusut bin semrawut. Sebenarnya lagi ada masalah apa lagi Mas Boss ya?" adu Mang Ujang.


"Ga pernah ada yang bisa mengerti jalan pikirannya Jang. Saya aja bingung sama dia. Makanya diam aja, ga ikutan untuk kasus pelaporannya" ujar Pak Isam.


"Biasanya kalo udah suntuk, Mas Boss pergi ke makam Mamanya Sachi. Kayanya Mas Boss cinta banget ya sama Mamanya Sachi. Papi Boss kenal sama Mamanya Sachi?" lanjut Mang Ujang.


Pak Isam diam seribu bahasa, Nay adalah masa lalu yang kelam dalam sejarah keluarga Abrisam.


"Udahan dulu ya Jang ... saya ngantuk" kata Pak Isam menyudahi permainan.


"Siap Papi Boss ... selamat istirahat" ucap Mang Ujang.


"Ngga anak... ngga Bapak... sama aja, kalo ditanya langsung aja ngeloyor" gumam Mang Ujang.


🍒


Rupanya Rama memutar arahnya, tidak jadi menuju Audah Hotel.


Sekarang dia tengah duduk disalah satu minimarket yang menyediakan makanan dan minuman instan. Rasanya sangat lapar, dia membeli frozen bento berupa nasi beef teriyaki, mie instan cup dan teh kemasan dingin. Dinikmati sendiri sambil melihat kearah parkiran.


.


"Dosen yang mau seminar eh kita yang repot, biasa jam delapan selesai kuliah, ini malah lanjut sampe jam sembilan buat ganti kelas Minggu depan" keluh temannya Izza.


"Ya mau gimana lagi? dosennya baru bilang pas kita udah mulai kelas. Mungkin karena besok kan Sabtu, hari libur, jadi bisa buat rehat" sahut Izza.


"Untunglah kita ada di Kota Metropolitan, jam sembilan malam mah kaya masih Maghrib, jalanan masih rame, angkutan umum dan ojol pun masih banyak seliweran. Pulang naik apa Za?" ucap temannya Izza.


"Naik bis aja" kata Izza


"Kakak lo yang cewe ga jemput?" tanya temannya Izza.


"Lagi ga bisa" jawab Izza buru-buru.


"Ya udah... gw temenin sampe halte deh, soalnya gw naik ojol aja" kata temannya Izza.


"Sorry ya.. gw duluan.. bokin gw dah jemput nih, tuh udah ada didepan" kata temannya yang lain.


"Enak banget yang udah punya pacar, ada yang jemput pulang" goda temannya yang lain.


"Za ...."


Ada suara yang memanggil Izza, secara spontan Izza dan temannya langsung melihat kearah asal suara.