
Sarapan pagi ini, sebenarnya Rama mau mencari kuliner khas di Kudus, tapi karena Izza belum keluar dari kamar, akhirnya dia memutuskan duduk di restoran Hotel, menikmati sajian yang ada.
Rama sudah berdiskusi via chat dengan Pakleknya Izza, sudah disarankan untuk pulang langsung ke Jakarta tanpa mampir dulu ke tempat Pakleknya. Rasanya keluarga beliau malu sama Rama dan Izza terhadap kejadian kemarin.
Izza pun sudah setuju akan balik hari ini ke Jakarta nanti sore, Rama yang membelikan tiketnya. Mereka akan naik pesawat karena kalo kereta api, baru ada malam hari. Besok pagi Rama sudah ditunggu orang untuk penandatanganan kontrak kerjasama.
.
"Kak... ga berlebihan kalo naik pesawat? Hotel ini aja kan udah mahal. Saya ga enak dibayarin terus. Saya kasih uang ya ke Kak Rama, walaupun ga senilai dengan apa yang udah Kakak kekuarin" kata Izza.
"Udahlah ga usah. Kamu dah siap-siap belum? kita naik taksi online aja ya ke Bandara di Semarang" ucap Rama.
Keduanya bergegas meninggalkan Kudus tanpa pamitan secara langsung karena Rama sudah meminta pertimbangan Pakleknya Izza apa perlu mampir lagi atau tidak.
Penerbangan memang baru jam empat sore, tapi Rama maunya sekitar dzuhur sudah ada di Bandara. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan dan dikirim via email. Rama membutuhkan tempat yang nyaman dengan sinyal yang bagus.
💐
Mang Ujang lagi pamitan mau balik ke Jakarta. Dia tampak sedang mengajak sang pujaan hati ngebakso, bagaimana ga dipandang keren kalo ngajak baksonya naik mobil.
"Kerja di Jakarta jadi apa Kang Ujang?" tanya Pipit, wanita yang sudah lama ditaksir Mang Ujang.
Usia Pipit baru lulus SMA tahun ini, jadi lumayan hampir sepuluh tahun bedanya dengan Mang Ujang.
"Jadi asisten pribadi Boss besar" ucap Mang Ujang penuh kebanggaan.
"Wah hebat ya jadi aspri .. pantes ya sampai dipinjamin mobil sama Bossnya" puji Pipit.
"Boss Akang mah lagi pergi entah kemana, kalo mobil ini yang minjemin itu Papanya dan Kakaknya Boss. Mobil yang jarang kepake. Paling buat anter ke pasar aja" jawab Mang Ujang rada sombong.
"Sekeluarga sayang banget ya sama Kang Ujang .. rejeki banget tuh Kang dapat Boss kaya gitu" ujar Pipit.
"Ya abis gimana ya, mereka sangat tergantung sama Akang. Ibaratnya udah percaya seribu persen deh, apa aja yang Akang bilang pasti langsung okeh ... siapa dulu dong ... Ujang teaaa" lanjut Mang Ujang.
"Alhamdulillah punya Boss kaya gitu. Kerja yang bener ya Kang, biar barokah" ucap Pipit mengingatkan.
"Biar kita bisa cepat ke pelaminan ya?" canda Mang Ujang dengan nada sok manja.
"Nanti dulu atuh Kang .. kita lebih saling kenal dulu. Biar ga salah langkah" kata Pipit.
"Atuh kalo salah langkah tinggal mundur .. hehehe" canda Mang Ujang.
"Ah Akang mah lucu ... " puji Pipit.
"Akang teh lucu kalo sama Pipit aja ... beneran deh, pokoknya kalo orang kota mah bilangnya i lop yu pull" ucap Mang Ujang.
"Sagala i lop yu i lop yu an .. atuh yang bilang i lop yu bakalan kalah sama yang bilang will you marry me" timpal Pipit.
"Apaan itu will yu meri mi? jenis makanan baru dari mie?" tanya Mang Ujang.
"Atuh tadi sok-sokan pake bahasa Inggris, masa ga tau artinya will you marry me.." ledek Pipit.
"Waktu sekolah tuh pas pelajaran bahasa Inggris, Akang lagi sakit perut, jadi ga masuk sekolah. Jadi ketinggalan pelajaran.. hehehe" alasan Mang Ujang.
🏵️
Sebelum penerbangan kembali ke Jakarta dengan pesawat, Rama dan Izza menunggu disebuah Lounge Bandara. Kalo Rama menggunakan Priority Pass dari sebuah kartu Bank (mengingat dia salah satu CEO dengan kekayaan melimpah, jadinya pihak Bank menjadikan Rama menjadi salah satu nasabah prioritas, tidak perlu antri atau pergi ke ATM untuk setor tunai dan tarik dana, cukup angkat telepon maka pihak Bank akan menghampiri Rama. Begitu pun untuk masalah lounge di Bandara baik nasional maupun internasional sudah dapat diakses secara gratis).
Untuk Lounge ini, jika pemegang tiket bisnis juga bisa gratis menikmati fasilitasnya, makanya Izza memakai free pass ke Lounge tersebut. Bagi pengunjung umum, tarif yang dikenakan untuk memanfaatkan fasilitas yang ada sekitar seratus lima puluh ribu rupiah, sudah termasuk menu ala buffett dan minuman sepuasnya.
Pada impresi pertama, Bandara Ahmad Yani Semarang bisa dikatakan salah satu Bandara terbaik di Indonesia karena efisien, bersih dan terasa modern. Terminal baru saat ini menggantikan terminal lama yang kini digunakan oleh VIP dan penerbangan tertentu.
Hari ini Lounge dalam kondisi yang cukup ramai namun terdapat banyak sekali tempat duduk kosong. Lounge menghadap langsung ke runway. Salah satu keunggulan Lounge ini adalah akses langsung ke gate keberangkatan, jadi tidak perlu berjalan jauh untuk mencapai gate.
.
"Kak... apa ada wanita spesial dihati Kakak?" tanya Izza bikin Rama kaget.
Belum pernah ada yang menanyakan hal ini secara langsung kepadanya. Bahkan keluarga pun tidak pernah ambil berat tentang hal ini.
Berat memang untuk menerima kenyataan bahwa seseorang yang sangat dicintai telah meninggalkan kita terlebih dahulu.
Rama pun masih sulit melupakan bayangan Mba Nay dalam benaknya.
"Ada.." jawab Rama singkat.
"Kenapa Kakak tidak menikah sama dia? bukankah Kakak cinta sama dia? buat apa berniat memperistri saya kalo Kakak bisa bersamanya" usul Izza.
"Keluarga ga setuju Kakak menikah sama dia?" tanya Izza ragu-ragu, sebenarnya ada rasa kekhawatiran kalo Rama akan marah, tapi mulut Izza rasanya ingin terus berbicara.
"Dia yang ga mau saya nikahi. Papi sudah membebaskan saya memilih pendamping sendiri" jawab Rama tenang.
Rama meletakkan laptopnya di meja dan mematikan, entah kenapa otaknya mengirimkan sinyal bahwa dia perlu berbicara tentang keresahan hatinya selama ini. Rama merasa Izza sebagai orang yang tepat untuknya berbagi. Izza kenal siapa dirinya, jadi ga perlu bercerita siapa dia lagi.
"Seorang Rama ditolak? kedengarannya aneh. Atau wanita itu memang ga silau sama harta yang Kakak punya?" ujar Izza.
"Wanita itu Mamanya Sachi .. " kata Rama yang membuat Izza kaget.
"Maaf Kak" ucap Izza ga enak hati.
Izza rasanya udah enggan meneruskan pembicaraan karena Mba Nay sudah tiada.
"Mba Nay hadir disaat hati saya masih kosong. Belum pernah kenal yang namanya cinta. Mba Nay itu kekasih gelapnya Mas Haidar. Mereka berniat untuk menikah karena sudah melakukan hal yang kebablasan dalam berhubungan. Tapi takdir berkata lain, dihari pernikahan yang sudah ditentukan, Mas Haidar mengalami kecelakaan hingga koma bahkan amnesia. Wanita mana yang ga hancur mendengar calon suaminya kecelakaan. Saat kami bawa ke Klinik, ternyata diketahui Mba Nay sudah berbadan dua. Keluarga kami fokus ke pengobatan Mas Haidar hingga keluar negeri. Mba Nay terabaikan. Akhirnya saya memutuskan untuk mendampingi dia melewati saat dia hancur, menukar mimpi saya dan menuruti semua keinginan Papi. Setiap hari dilewati lewat chat dengan Mba Nay. Kenyamanan yang saya dapatkan dari Mba Nay serta rasa kasian melihat dia sebatang kara, membuat saya dari sekedar empati menjadi jatuh hati. Empat kali saya melamarnya, empat kali juga saya ditolak karena cintanya Mba Nay hanya untuk Mas Haidar. Tibalah saat Sachi lahir, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, saya janji akan menjaga Sachi. Saya bawa bayi Sachi ke rumah setelah saya memakamkan jenazah Mba Nay secara baik. Kemudian saya pergi melanjutkan kisah saya diluar negeri. Itulah kenapa Sachi sudah seperti anak saya sendiri. Saya yang mengadzankan dan memeluknya sesaat setelah lahir" ungkap Rama sambil menatap pesawat yang datang dan tinggal landas.
Izza meminum jus sirsak pesanannya. Akhirnya terjawab semua teka-teki tentang Sachi.
"Papi dan Mas Haidar tau kok siapa Sachi. Mas Haidar juga akan berjuang memasukkan namanya dalam akte Sachi. Saya sudah merelakan hal tersebut. Mas Haidar yang lebih berhak atas Sachi dibandingkan saya" tambah Rama.
Izza masih ga bisa komentar karena shock mendengar pemaparan Rama.
"Selain kehilangan Mba Nay .. saya juga kehilangan separuh jiwa saya lainnya, yaitu Mba Mentari. Kecelakaan pesawat terbang saat akan menjenguk Mas Haidar. Mba Mentari dan Mas Haidar adalah orang yang sayang sama saya. Papi dulu sangat tidak peduli, keluarga besar juga menyalahkan saya atas kematian Mami. Dari dulu saya selalu membayangkan, alangkah bahagianya mereka yang tumbuh kembang dengan adanya kasih sayang orang tua dari kecil hingga menginjak remaja sampai pada dewasa. Ga seperti saya yang harus mengemis dan haus akan kasih sayang. Ketika pilihan yang ada hanya menangis, mungkin saya salah satu orang yang pandai dalam bermain air mata, karena tidak dapat dipungkiri bahwa siapapun ketika mendengar kata orang tua, semua akan dengan mudahnya meneteskan air mata. Pelarian semua itu, saya melakukan kenakalan remaja dengan cara tawuran, balapan liar dan masuk klub malam. Untunglah ga tergoda sama obat-obatan dan miras. Apa yang saya dapat? pengakuan bahwa saya berharga. Bahwa saya jagoan, bisa memimpin dan semua takluk ditangan saya. Langganan masuk Polsek selama beberapa jam, hampir dikeluarkan dari sekolah tapi Papi datang memberikan tawaran bantuan alat olahraga ke sekolah dan berjanji akan mengawasi saya agar tidak nakal lagi... ternyata itu semua kebahagiaan yang semu" kenang Rama.
"Tapi Kak Rama yang sekarang saya liat jauh dari hal-hal yang tadi Kakak ceritakan tadi" sahut Izza.
"Saya pernah ada diujung maut. Dari sanalah saya banyak berubah, ya bisa dibilang lumayan tobat. Ketika kuliah, pernah berada disebuah tempat yang ternyata tempat peredaran narkoba, saya dihajar sama preman lah istilahnya. Tau-tau udah di Rumah Sakit. Pihak KBRI yang menolong saya disana, karena saya sempat menelpon 911 untuk memberitahukan tentang peredaran tersebut. Info dari perawat saya sudah tidak sadarkan diri selama dua hari. HP saya hilang jadi tidak bisa menghubungi keluarga. Keluarga sudah dihubungi pihak KBRI atas data yang saya berikan ketika lapor diri kesana. Mas Haidar dan Mba Anindya yang datang untuk mengurus saya. Sejak saat itu saya banyak berubah. Tapi satu yang ga bisa saya ubah, kebencian saya terhadap orang-orang yang menyakiti Mba Nay .. wanita pujaan hati sekaligus cinta matinya saya" ucap Rama panjang lebar.
"Saya pun awalnya dari keluarga bahagia. Hampir sempurna, tapi dikala masa lalu Bapak memporak-porandakan keluarga, sejak itu kami bak di neraka. Ibu selalu mendapatkan kecurigaan Bapak kemudian berakhir dengan ribut mulut dan Ibu dipukul. Kebakaran rumah membuat semua berakhir, entah kenapa saya dibawa kesebuah Panti Asuhan oleh Mba Zizi. Hanya saat itu pesannya adalah disana tempat teraman buat saya. Peristiwa sebelum kebakaran itu masih jelas tergambar dalam ingatan. Termasuk banyak teror yang kami dapatkan. Saya bersumpah saat jenazah orang tua saya dimakamkan, saya akan cari Kakak tiri saya yang menyebabkan Ibu saya banyak sengsara diakhir hidupnya. Tapi saya ga punya kemampuan baik ekonomi maupun lainnya. Menunggu orang itu datang menghampiri saya pun hal yang mustahil" sambung Izza.
Gantian Rama yang memandang Izza dengan pandangan penuh rasa kasian.
"Padahal dia sudah ada dihadapan kamu Za .. orang yang harus bertanggung jawab terhadap kesakitan yang Ibu kamu rasakan. Haruskah kamu tau sekarang?" tanya Rama mencoba berpikir dalam otak dan hatinya.
"Ibu Panti meminta saya untuk menghapus dendam itu dan menjalani sisa usia saya dengan penuh kedamaian. Entah apa saya bisa menghapus semua amarah saya terhadap keluarga istri pertama Bapak" ujar Izza.
"Terlalu sakit kah?" tanya Rama.
"Melihat Ibu mengalami tekanan batin itu pukulan yang berat sekali. Meskipun memar, Ibu selalu bilang baik-baik aja" jawab Izza.
"Itulah kenapa kamu sayang sama anak-anak? kamu ga mau anak-anak memiliki kenangan masa kecil yang buruk?" tanya Rama.
"Ya... termasuk ke Sachi. Bully an tidak punya Mama pasti berat untuk dia hadapi. Saat kejadian Ibu mengalami KDRT, saya udah berusia diatas sepuluh tahun, sudah tau rasa takut, marah dan sedih. Tapi Sachi? dia belum paham dengan semua kondisi" jawab Izza.
"Dengan kenyataan sekarang kamu seperti sebatang kara meskipun ada keluarga, apa langkah selanjutnya yang akan kamu tempuh?" tanya Rama iseng-iseng.
"Pasrah .. hanya itu yang mampu saya lakukan" jawab Izza seperti putus asa.
"Pasrah harus terus tinggal di Panti Asuhan? pasrah tidak bisa meneruskan kuliah karena keterbatasan biaya? pasrah harus bekerja keras buat memenuhi kebutuhan hidup sendiri?" timpal Rama.
"Kalo memang harus .. why not?" kata Izza makin putus asa.
"Apa tawaran menikah dengan saya bukan sebuah solusi terbaik buat kamu?" ucap Rama.
"Itu memang solusi ... kalo udah kepepet tapi .. hehehe" Izza mencoba menghibur diri sendiri.
Rama melihat ke papan pengumuman keberangkatan, pesawat tidak delay, sekitar setengah jam lagi akan berangkat, jadinya dia meminta Izza untuk bersiap.
"Pengalaman pertama ya naik pesawat? take it easy .. kalo takut bolehlah pegangan sama saya" goda Rama mulai mencoba untuk tersenyum.
.
Mereka duduk berdampingan dikursi terdepan dari pesawat, di kelas bisnis. Pramugari masih membantu penumpang lain untuk duduk di kursinya masing-masing.
Dalam hatinya Izza, tak henti-hentinya berdo'a dan membaca surah yang diingatnya. Akhirnya pesawat berjalan menuju landasan pacu dan setelah berhenti sesaat, suara gemuruh pun terdengar dan pesawat melaju dengan sangat kencang hingga akhirnya take off. Izza keliatan takut sekali, ditambah beberapa saat kemudian badan pesawat berbelok arah dan nampak sekali kemiringan sayap pesawat. Lewat jendela Izza melihat suasana diluar agak gelap karena mendung, padahal baru jam empat sore. Izza memejamkan mata dan mulutnya komat-kamit membaca do'a.
Rama langsung menggenggam jemari tangan Izza dengan lembut sambil membisikkan kalimat ...
"All is well Za" kata Rama dekat ditelinga Izza.
.
Perjalanan pesawat menuju Bandara Soetta sudah tiba. Pesawat akan segera mendarat dan penumpang diminta untuk memasang sabuk pengaman.
Dalam hati Izza sangat bersyukur karena penerbangan pertama kali sudah selesai dan tiba ditempat tujuan dengan selamat.