HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 16, Bad or good news ?



Hati Rama ga tenang, hari ini terakhir kursus singkatnya. Ia segera pergi ke travel agent mencari tiket ke Indonesia. Rama meminta uang ke Haidar buat beli tiket dan dapat untuk penerbangan besok pagi dan akan transit di Abudhabi dulu. Hanya tiket itu yang tersisa, yang lainnya baru ada keesokan harinya.


Rama langsung membayar tiket itu. Dia juga memberi kabar ke Nay kalo akan balik besok ke Indonesia. Nay senang mendengar kabar tersebut.


Rama memandang sebuah kotak cincin ditangannya. Cincin yang ia beli disini saat ada pameran berlian. Seakan berjodoh dengan cincin itu, Rama mendapat job dari owner restoran tempat ia bekerja untuk mendampinginya membicarakan tentang ekspansi bisnis dengan rekannya yang orang Indonesia. Selain itu, Rama juga membantu membuat logo baru buat restoran.


Rama menjadi translator diantara keduanya dan mentranslate isi perjanjian kedalam bahasa Inggris. Bayarannya cukup buat membeli cincin yang didiskon hingga 60% dari harga normal karena pameran hari terakhir.


Rencananya cincin itu akan ia gunakan untuk melamar Nay. Sudah saatnya Nay menikah dan mendapat perlindungan seorang lelaki. Sudah cukup selama ini mendengar keluh kesah Nay. Rama sendiri tidak bisa mendefinisikan hatinya, apakah karena kasihan atau diam-diam dia sudah jatuh hati ke Nay sehingga bertekad menikahinya. Baginya tidak perlu cinta untuk masa sekarang ini, tapi sebuah buku nikah agar anak yang lahir kelak bisa punya akte kelahiran dan berkas lainnya.


Rama sudah berpikir masak-masak untuk mengambil langkah ini. Mengharapkan Haidar adalah sesuatu yang mustahil karena Haidar hari ini menikah sama Anindya.


Rama sudah siap menanggung hidup Nay dan anaknya. Rencananya mereka akan diboyong Rama ke Inggris setelah menikah. Memang perjanjiannya sama Papi akan dia langgar, tapi ini demi sang bayi yang kelak akan tumbuh besar dan menanyakan sosok Ayahnya.


"Jangan khawatir Mba Nay... saya akan berikan status terhormat buat Mba dan sang buah hati. Biarlah waktu yang akan membuktikan kalo seorang Rama akan menjadi suami dan Ayah yang baik untuk kalian. Memang akan berat berlawanan sama Papi dan melanggar janjiku sendiri, tapi semua kulakukan demi nama baik dan harga diri Mba Nay. Kita memang akan sama-sama menjadi korban dilingkaran cinta ini. Kalo Mas Haidar ga bisa bersatu sama Mba Nay, ijinkan aku memberikan cinta yang sama seperti yang Mas Haidar berikan. Walaupun untuk itu pasti butuh waktu yang ga sebentar" ucap Rama sambil melihat cincin itu lagi.


Memang sudah beberapa kali, Rama mengajukan diri buat melamar Nay. Tapi Nay tetap pada pendiriannya untuk tidak menikah sama Rama. Baginya Rama sudah seperti adik kandungnya, dia amat santun menjaga hubungan dengannya. Ga pernah sekalipun Rama meminta video call karena kalo melihat wajah Nay, Rama khawatir timbul syahwat yang ga seharusnya. Mba Gitalah sosok yang menjadi penengah diantara mereka.


🌺


Akhirnya Rama kembali menghirup udara Indonesia juga setelah tujuh bulan ga pulang. Sebenarnya dia sudah memasuki liburan musim dingin, rencana buat kerja part time jadi pemandu wisata para orang tajir warga +62 harus dibatalkan karena pikirannya terus tertuju ke Nay. Dari Bandara ia langsung menuju ke Apartemen Nay, hatinya makin ga karuan karena udah banyak misscall ke Nay tapi belum ada respon balik.


Memasuki parkiran Apartemen, Rama langsung naik lift menuju unit tempat tinggal Nay (dia punya kartu akses karena diberikan oleh Haidar dulu). Langkah tegapnya makin dipercepat (sejak kuliah ia jadi rajin lari dan jalan kaki, selain terpaksa, ia juga udah mulai ikut club lari di kampusnya).


Dipencet bel berkali-kali tapi ga ada jawaban. Akhirnya dia mengeluarkan kunci cadangan dan membuka pintu. Rama langsung lari melihat Nay pingsan di sofa depan televisi dengan darah yang merembes banyak dari sela kakinya.


Rama menelpon nomer darurat buat dikirim ambulance ke Apartemen. Dalam waktu sepuluh menit, Nay dan Rama sudah berada didalam ambulance menuju Rumah Sakit terdekat.


🏵️


Kemarin akad nikah Haidar sudah berlangsung, Haidar kembali menelpon adiknya karena alasan meminta uang tiket untuk hadir ke pernikahan kakaknya. Ditunggu-tunggu malah ga nampak batang hidungnya.


Keluarga Pak Isam memang tidak tau tentang rencana kepulangan Rama. Haidar diminta merahasiakan kalo adiknya meminta uang buat beli tiket.


"Maaf Mas... bukan ga sayang sama Mas, tapi ada nyawa lain yang akan hadir ke dunia ini. Mereka lebih memerlukan kehadiran Rama dibandingkan kehadiran di pesta pernikahan Mas" ucap Rama bicara sendiri setelah ia membaca pesan dari Haidar.


.


Nay segera mendapat penanganan medis. Sampai pemeriksaan awal ga ada masalah dengan kandungannya, hanya air ketuban sudah merembes bersamaan dengan darah. Hingga jam sebelas malam ini, masih pembukaan tiga dan tidak maju, langkah induksi sudah diambil.


Mba Gita yang ikut ke pernikahan Haidar, langsung balik ke tanah air begitu Rama mengabarkan tentang kondisi Nay.


Mba Gita merasa iba dengan Nay, wanita luar biasa yang pernah ia kenal. Bahkan Mba Gita terpaksa berbohong ke Pak Isam kalo ada emergency yang menimpa keluarganya, jadi dia harus segera pulang. Awalnya Pak Isam ga ijinin Mba Gita pulang, tapi Mba Gita terus memohon dan atas bantuan Haidar pula, Pak Isam akhirnya mengijinkannya pulang lebih dulu.


Rama masih bolak balik antara kamar rawat Nay dan ruang tunggu. Bingung mengahadapi suasana seperti ini.


.


Selepas sholat subuh, Rama menghampiri Nay yang makin merasa sakit perut yang teramat sangat. Rama ga tega ngeliatnya dan meminta ijin ke Nay untuk mengusap perutnya.


Rama mulai mengusap perut Nay dengan lembut, dibacakan do'a-do'a dan diajak bicara agar si kecil bisa segera keluar.


"Faqi ...eh Rama .... terimakasih sudah menjadi Ayah bagi anak ini. Kamu adalah laki-laki baik yang mampu menukar mimpi demi kami. Tanpa kamu cerita, nantinya anak ini yang akan membalas segala pengorbananmu. Boleh Mba minta sesuatu lagi?" tanya Nay dengan pelan.


"Apa Mba?" kata Rama.


"Kamu nanti adzanin bayi ini dan kasih nama ya. Mba percayakan dia ditanganmu.." ucap Nay.


"Inshaa Allah Mba.. emang Mba mau kemana? kok minta Rama yang jaga" ucap Rama yang baru sadar atas permintaan Nay.


.


Pembukaan sudah bertambah, sudah bukaan enam. Rasa sakitnya pun makin menjadi. Rama mendampingi hingga di ruang bersalin. Sampe semua bidan di ruangan bersalin merasa baper akan ke sweet annya Rama.


.


Mba Gita sedang mengatur nafasnya yang masih tersengal, dari Bandara ia langsung menuju Rumah Sakit dan mendampingi Nay di ruang bersalin menggantikan Rama yang ga sanggup melihat kesakitan dari Nay.


Gak lama kemudian, lahirlah sang jabang bayi melihat dunia. Bayi perempuan yang kulitnya bersih dan mempunyai wajah mirip sama Haidar telah berada didekapan Rama. Dengan tangis haru, Rama menggendongnya dan mengadzankan. Setelah itu sang bayi dibersihkan oleh perawat.


❤️


Haidar tampak sumringah karena menurut pemikirannya ia sudah menikahi wanita yang amat ia cintai. Jangan ditanya bagaimana dengan Anindya, inilah momen paling bahagia dalam hidupnya, bisa menikah dengan laki-laki yang mengisi hatinya sejak lama.


Hujanan hadiah membanjiri pernikahan mereka, dari kunci rumah, paket honeymoon hingga perhiasan.


🌺


"Mas Faqi ... Mas Rama ... eh .. aduh siapa sih... cepat masuk sini" teriak Mba Gita dari pintu ruang bersalin.


Rama yang sedang duduk memandang foto Haidar dan Anindya yang tengah berbahagia, langsung lari mendekati Mba Gita.


"Kenapa Mba?" tanya Rama.


Mba Gita ga bisa berkata, dia menunjuk kearah Nay yang masih terbaring lemah. Rama buru-buru masuk.


"Mba Nay..... ada apa ini dokter?" tanya Rama yang langsung panik melihat kondisi Nay yang menurun.


"Kami perlu persetujuan untuk pasien masuk ke ICU, ada komplikasi pernafasan dan pendarahan yang belum bisa dihentikan" jelas dokter.


"Lakukan yang terbaik untuk kakak saya dok" ujar Rama.


"Ramaaaa ...." panggil Nay lemah.


Rama mendekati Nay. Mendekatkan telinganya ke mulut Nay.


"Ada flashdisk di tas saya. Saya titip buat anak saya.... jaga dia seperti anakmu..." lirih suara Nay.


"Mba.... Mba masih bisa membesarkan anak Mba.... kita besarkan bersama Mba.. Rama janji" ucap Rama sedih.


"Saya udah ga kuat Rama.... kamu mau kasih nama apa ke bayi Mba?" tanya Nay.


"Aruna Sachi Kayana..." jawab Rama.


"Apa artinya?" ucap Nay lagi.


"Anak yang suci, ceria, bersinar hangat dan selalu memberikan kebahagiaan kepada orangtuanya" ucap Rama sambil menggenggam tangan Nay.


"Sachi...." kata Nay makin melemah.


"Ya.. Sachi akan kita besarkan bersama Mba... Rama janji akan mengantarkan Sachi ke Mas Haidar" janji Rama.


"Ga perlu Rama ... semua sudah terlambat. Dia ga pernah tau keberadaan Sachi... jangan serahkan ke dia. Hanya kamu yang Mba percaya buat jaga Sachi" kata Nay sambil mengucapkan dua kalimat syahadat dan menarik nafas panjangnya.


Nay meninggalkan dunia fana ini untuk selamanya. Meninggalkan Sachi sang buah hati dan sebuah luka yang teramat dalam. Sebuah penutup cerita yang memilukan.


Kesedihan Rama dan Mba Gita ga terbendung lagi. Tapi Rama sigap, segera meminta pihak Rumah Sakit mengurus jenazah dan dia akan mengurus pemakaman.


Mba Gita mendampingi Sachi di Rumah Sakit sampai nanti Rama kembali.


🍒


Acara makan siang bersama dengan keluarga besar sekaligus pamitan kedua keluarga yang akan balik ke Indonesia, sedang berlangsung disalah satu restoran mewah.


Saat akan makan steak, pisau Haidar terlalu keras memotong hingga piringnya terbelah dua. Pelayan segera mengganti dengan yang baru dan menyingkirkan piring yang terbelah itu. Keluarga merasakan sebuah firasat jelek karena kejadian tersebut. Gelas yang diisi orange juice diberikan oleh pelayan ke Haidar dan tanpa sengaja jatuh berkeping-keping ketika dalam genggaman Haidar, jemari Haidar terkena pecahan gelas. Dengan sigap pelayan memberikan perekat luka untuk Haidar.