HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 166, Happy day



Alex didampingi oleh Rama dan Izza, karena Pak Isam dan Mas Haidar menolak dengan alasan tidak ada pasangannya.


Rama dan Izza berdiri dibelakangnya Alex, bukan disampingnya, biar bagaimanapun sekarang berada di wilayah Pesantren, Izza dan Alex tidak bisa berdampingan karena bukan mahramnya, jadi Alex tidak bisa diapit oleh pasangan ini.


Semua beriringan masuk kedalam Mesjid. Ada dua pintu berbeda untuk jalan masuk para jama'ah laki-laki dan perempuan.


Acara akan segera dimulai, berkas data kedua calon mempelai sedang ditanyakan ulang oleh pihak Kantor Urusan Agama.


"Benar nama calon mempelai laki-lakinya bernama Aan Kurnia?" tanya Pak Penghulu.


"Ya Pak" jawab Alex.


Yang kenal sama Alex langsung menahan tawa, bagaimana ga lucu, selama ini sosok berkulit coklat dan perawakan tinggi besar terkesan garang dikenal dengan nama Alex yang terdengar macho, pada kenyataannya nama sebenarnya adalah Aan Kurnia. Bukan melecehkan sebuah nama, tapi jauh aja antara panggilan sama nama sebenarnya.


Sebenarnya nama Alex itu diciptakan oleh Rama. Jadi saat Alex jadi anak bawang ketika Rama dan teman-temannya tawuran, ada juga anak bawang lain yang bernama Aan. Karena ada dua nama yang sama, akhirnya Alex dipanggil Alex yang merupakan singkatan dari Aan jelek. Karena Aan yang satu lagi lumayan cakepan sedikit dibanding Alex. Karena terkesan keren nama panggilan seperti itu, akhirnya nama tersebut dipakai terus sama Alex hingga sekarang. Tidak ada yang tau nama aslinya selain Rama.


.


"Kebanting banget nama sama perawakannya.. Alex ternyata Aan Kurnia.. hehehe" bisik Mang Ujang yang duduk disebelahnya Rama.


"Emang kenapa? nama itu do'a" kata Rama.


"Lucu Mas Boss... preman namanya Aan.. kenapa jadi Alex? sok keren deh Aan" ucap Mang Ujang yang masih aja ketawa geli.


Rama memberikan isyarat agar Mang Ujang bisa diam.


.


Ijab kabul akan dimulai, Alex menjabat tangan Bapaknya Mba Nur. Tangan Alex tampak bergetar, keringat membasahi dahinya.


Semua mata tertuju ke meja akad nikah.


"Bisa dimulai sekarang?" tanya Pak Penghulu.


"Bisa" jawab Bapaknya Mba Nur.


Pak Penghulu memberikan pengarahan singkat kepada Bapaknya Mba Nur dan Alex.


"Sudah paham?" tanya Pak Penghulu lagi.


"Paham" jawab Alex dan Bapaknya Mba Nur secara bersamaan.


Ijab kabul pertama tidak bisa diucapkan Alex dengan baik, ada bagian ucapan yang terputus. Semua orang akhirnya jadi tegang, apalagi wajah Mba Nur yang sudah seperti orang mau menangis.


Izza yang ada disampingnya Mba Nur langsung mengusap tangannya Mba Nur.


"Banyak berdo'a ya.. Bang Alex hanya nervous aja, nanti setelah agak tenang pasti bisa mengucapkan akad dengan lancar" bisik Izza.


Mba Nur mengangguk.


.


Rama menyodorkan segelas air mineral ke Alex. Langsung Alex meminum sampai habis.


"Kurang?" tawar Rama.


"Iya Boss" jawab Alex.


Mang Ujang dikasih kode untuk memberikan lagi segelas air mineral. Sementara itu Rama juga memberikan tissue agar Alex mengeringkan keringat diwajahnya.


"Santuy Bang Bro.. pikirin yang enak-enak aja, abis akad kan bisa bebas enak-enak.. " goda Mang Ujang.


"Tegang Mang" sahut Alex pelan.


"Jangan tegang sekarang, nanti kalo udah di kamar berduaan aja tegangnya" ledek Mang Ujang lagi.


Rama langsung menyenggol tangannya Mang Ujang, kemudian meminta Mang Ujang kembali ke tempat duduk semula.


"Lex ... istighfar dulu yang banyak.. tarik nafas panjang. Memang berat mengucap akad, tapi inilah tahapan ibadah selanjutnya yang akan kamu jalani dalam proses hijrah ini. Mba Nur orang yang sangat tepat buat menemani kamu" kata Rama memberikan semangat.


"Iya Boss" jawab Alex.


Rama menepuk pundaknya Alex. Kemudian duduk dibelakangnya Alex.


.


Ijab kabul kembali diucapkan, kali kedua ini Alex berhasil mengucapkan dengan lantang dan jelas hingga jama'ah seisi Mesjid berkata "SAAHHHHH".


Alex diminta menjemput Mba Nur yang duduk tidak jauh dari sana. Kemudian mereka menandatangani dokumen negara. Alex juga menyerahkan mas kawinnya untuk Mba Nur. Keduanya tampak lebih lega sekarang.


.


Acara adat dan resepsi langsung dilaksanakan di halaman Pesantren. Rama menepi ke kolam ikan, mengambil udara segar disana. Badannya memang ada di Pesantren saat ini, tapi pikirannya masih mengawang di Jakarta. Banyak tugas dan tumpukan berkas di meja kerjanya yang harus diselesaikan dalam waktu kurun waktu kurang dari seminggu. Blm urusan penjualan Audah Hotel.


"Ya Allah.. tidak ada maksudnya untuk tidak melibatkan Mba Anin dalam proses penjualan ini. Tapi ini adalah cara tercepat untuk menjualnya, mengingat situasi sudah tidak kondusif. Semoga pengacara hamba bisa membuat kesepakatan yang terbaik sama Mba Anin untuk proses pembagiannya.. " ujar Rama.


Rama meminta pengacara perusahaan untuk mengurus kesepakatan dengan Mba Anindya. Tapi langkah langsungnya Rama menjual atas dasar surat kepemilikan Audah Hotel semua atas nama dia. Rasanya sudah malas untuk berhadapan dengan Mba Anindya lagi.


💠


"Kenapa tidak Rama sendiri yang menghadap saya untuk membicarakan hal sepenting ini?" tanya Mba Anindya ke pengacaranya Rama.


"Maaf Bu, Pak Rama sedang ada acara diluar kota dan beliau sudah mewakilkan kepada saya untuk bertemu dengan Ibu" jawab sang pengacara.


"Dijual berapa sama Rama?" tanya Mba Anindya.


"Untuk rincian dan sebagainya sudah ada dalam dokumen yang kemarin diberikan ke Bu Anin" jawab pengacaranya Rama.


"Saya ingin diskusi dulu sama Rama" kata Mba Anindya.


"Silahkan Ibu membuat janji dengan Mba Farida, karena jadwal Pak Rama ya yang tau sekretarisnya" jawab sang pengacara.


Sepeninggalan pengacaranya Rama, Mba Anindya menelpon Rama tapi tidak diangkat.


"Kamu harusnya memperhitungkan Izza.. kita lihat apa kamu sanggup kehilangan dia? bodoh sekali kamu Rama .. menyerang tanpa menjaga burung dalam kandang dengan baik" ucap Mba Anindya penuh amarah.


🏵️


Izza datang membawakan makanan untuk Rama. Karena begitu sampai di villa, Rama memilih tidur. Subuh tadi juga sudah jalan ke Pesantren Abah Ikin.


"Makasih" jawab Rama sambil menerima piring dari Izza.


Izza duduk disebelahnya Rama, Rama mulai makan.


Keduanya hening, hanya terdengar bunyi dari piring dan sendok yang beradu serta suara ikan yang berkecipak didalam kolam. Sementara di halaman depan terdengar suara riuh rendah orang-orang saat upacara adat dilaksanakan.


"Ga liat acaranya Alex dan Mba Nur?" buka Rama.


"Udah sering liat upacara adat seperti itu" jawab Izza.


"Sachi dimana?" tanya Rama.


"Sama Mas Haidar, biasa kan anak-anak kalo liat tukang jualan mainan pasti minta beli" kata Izza.


"Audah Hotel akan Kakak lepas" ucap Rama datar.


Izza tidak menjawab tapi ada ekspresi kaget, tapi dia hanya mampu melihat kearah Rama.


"Kakak mau minta bantuan kamu karena ga bisa meninggalkan kantor Abrisam Group" kata Rama.


"Bantuan apa Kak?" tanya Izza.


"Calon pembelinya minta untuk bertemu di Pulau Seribu, beliau sedang rehat disana karena istrinya sedang hamil dan ngidamnya selalu ingin lihat laut. Jadi beliau memindahkan pekerjaan semua kesana. Jika ada yang ingin bertemu ya disana" jelas Rama.


"Mba Farida atau yang lain memang tidak bisa Kak?" tanya Izza.


"Waktunya yang ga bisa diatur lagi. Tau sendiri kan kondisi proyek besar ada dua yang akhirnya ditake over full oleh Kakak. Perusahaan Om Flandy mulai collaps dan ga ada yang mau bertanggung jawab" lanjut Rama.


"Tapi kan Izza ga paham dunia bisnis" ujar Izza.


"Tugas kamu menemui beliau untuk memberikan informasi awalan saja. Kemudian mencatat apa saja yang beliau butuhkan dan menjadi jembatan penghubung komunikasi diantara beliau dengan Kakak. Karena pekerjaan ini simple, makanya Kakak memilih untuk mengutus kamu. Alex dan Mba Nur akan ikut sekalian honeymoon disana, Kakak sudah booking kamarnya" kata Rama.


"Kapan Kak?" tanya Izza.


"Selasa sampai Jum'at, sekarang sedang dipersiapkan oleh Farida dan tim untuk dokumen yang akan diserahkan ke beliau" jawab Rama.


"Tapi ajarin dulu ya Kak" pinta Izza.


"Ya.. sepulang dari sini, kamu rapihkan outfit yang akan digunakan disana. Performa kamu harus berkelas karena yang dijual ini nilainya milyaran. Mix and match aja sama barang milik Mba Mentari" ujar Rama.


"Iya Kak" jawab Izza.


"Makasih ya" ucap Rama sambil meneruskan makannya.


.


Selepas ashar acara sudah selesai, keluarga Mba Nur dan teman-temannya Alex sedang beristirahat.


Abah Ikin mengajak ngeteh sore para pasangan muda. Ditemani oleh istrinya, beliau duduk disebuah saung yang tidak jauh dari kolam ikan.


Ada beberapa kudapan yang disajikan ditengah-tengah mereka, ada green balls and grated coconut with liquid brown sugar (klepon), sticky glutenous rice with chicken meat inside banana leaf (lemper) dan Indonesian original fried meal full of vegetable (bakwan). Ada pula dua teko yang berisi teh tawar panas dan kopi hitam.


"Alhamdulillah..acara sudah selesai. Saatnya menapaki hidup yang baru buat Nak Alex dan Nak Nur" buka Abah Ikin.


"Terima kasih atas semuanya, saya merasa punya keluarga" ucap Alex penuh haru.


"Semua sudah Abah anggap anak sendiri, jadi jangan sungkan jika ingin berbincang sekedar menanyakan sesuatu. Abah bukan orang yang serba tau, tapi punya pengalaman terlebih dahulu dibandingkan kalian semua dalam mengarungi bahtera rumah tangga" kata Abah Ikin.


Semua dipersilahkan untuk mencicipi kudapan yang ada didepannya.


"Kami ini para orang tua, hanya mengantarkan kalian memasuki gerbang kehidupan yang baru, ibaratnya mengantarkan kalian hingga di dermaga. Untuk selanjutnya, bahtera rumah-tangga kalianlah yang akan mengarungi samudera kehidupan, yang tentunya tak sepi dari ombak bahkan mungkin badai yang menerjang. Karena itu, jangan tinggalkan jalan ketaqwaan. Hanya dengan ketaqwaan saja Allah Subhaanahu wa ta’alaa akan mudahkan segala urusan kalian. Pernikahan juga membuat banyak hal bertambah, orang tua kalian bertambah, saudara kalian bertambah, bahkan sahabat-sahabat kalian pun bertambah. Semua itu tentu memperpanjang tali silaturahim, memperlebar tempat berpijak, memperluas pandangan dan memperjauh daya pendengaran. Bukan saja semakin banyak yang perlu kalian atur dan perhatikan, sebaliknya semakin banyak pula yang akan ikut mengatur dan memperhatikan kalian. Maka, barang siapa yang tidak kokoh sebagai pribadi dia akan semakin gamang menghadapi kehidupannya yang baru. Jangan bersedih dan merasa kecil hati jika kalian menganggap bekal yang kalian miliki sekarang ini masih sangat kurang. Jangan mencoba untuk menjadi sempurna karena sempurna hanya milik Allah dan Andra and the Backbone" ujar Abah Ikin.


Semua belum mudeng, jadi masih diam menyimak.


"Ya kan ada lagunya... sempurnaaaa... itu milik Andra and the Backbone kan lagunya?" tanya Abah Ikin.


Semua baru kompak tertawa mendengar candaan dari Abah Ikin.


"Coba Nak Rama, sharing tentang lemper, Abah pernah bawain materi itu sesuai yang Nak Rama kasih tau ke Abah, Alhamdulillah filosofi Jawa yang bagus sekali untuk kehidupan. Gantian Abah yang mendengarkan, biar semua yang ada disini tau, kayanya belum pernah mendengar" tembak Abah.


"Emang lemper segala ada filosofinya? atuh lemper kan makanan.. tinggal dibuka daunnya terus tinggal leppp... makan deh. Apa yang mau dijadikan pelajaran?" protes Mang Ujang.


"Makanya Jang.. kebanyakan ngitungin uang bensin sih, jadi kliyengan terus. Yang namanya filosofi mah ga melihat itu benda atau makanan, selama masih sejalan dengan ajaran agama ya tidak masalah. Rajin baca dan bergaul dengan orang yang baik serta bijak seperti Nak Rama.. jadi wawasan luas" nasehat Abah Ikin.


"Mas Boss kayanya standar aja bijaknya, eh kayanya banyak ngomel daripada kasih nasehat" lanjut Mang Ujang.


"Karena Mang Ujang itu loadingnya lama, keburu orang naik darah baru mudeng" ledek Alex.


"Wah Alex... ga ce es nih.. " ucap Mang Ujang.


Rama meminum secangkir kopi hitam hangat.


"Apa yang saya paparkan ini juga didapatkan saat di UK, sharing ilmu tiga bulan sekali di KBRI. Jadi konon katanya lemper adalah singkatan dari yen dielem atimu ojo memper, bahasa Indonesianya jangan sombong saat dipuji. Maksudnya adalah ketika mendapat pujian dari orang lain, hati tidak boleh menjadi sombong atau membanggakan diri. Lemper ini kan dibuat dari ketan, ketan itu ngraketaken paseduluran yang artinya merekatkan persaudaraan. Para leluhur mengajarkan melalui sifat lengketnya ketan yang dimaknai sebagai cerminan dari rasa persaudaraan yang erat antar sesama manusia. Makanya dalam sebuah acara atau hajatan, lemper menjadi salah satu panganan yang ada, karena melambangkan harapan akan datangnya rejeki. Pas saat buat kan pakai biting (tusuk gigi/potongan sapu lidi) di kedua ujung lemper kemudian ditusuk ke pembungkus daun pisang. Nah dua tusukan itu melambangkan rukun islam dan iman. Sedangkan pembungkus daun pisang diibaratkan sebagai segala sifat buruk. Untuk menikmati lemper, orang harus membuka tusukannya dan pembungkusnya terlebih dahulu, maksud jika ingin mencapai kemuliaan hidup, orang harus membersihkan diri dari sifat buruk terlebih dahulu" papar Rama yang tumben cara penyampaiannya ga seperti biasanya.


Otaknya Rama memang banyak diperas untuk memikirkan banyak hal, jadi kurang banyak berbicara selama seminggu terakhir. Ditambah ada perang dingin sama Izza, membuat dia makin banyak diam.


"Ribet amat Mas Boss... jangan-jangan nih klepon sama bakwan ada filosofinya juga" tebak Mang Ujang.


"Segala sesuatu pasti ada makna atau filosofinya Mang, tergantung cara pandang kita aja" jawab Rama.


"Aa' Rama mah luas ya pola pikirnya, melihat dari berbagai sisi. Semoga Maman bisa banyak belajar dari Aa' Rama.. terima hamba menjadi muridnya ya guru.. " canda Maman sambil menghaturkan hormat ala pendekar ke Rama.


Semua tertawa.


"Saya ikutan ah... terus jadikan hamba sebagai pengawal paduka" sahut Alex sambil membungkuk dihadapan Rama.


"Ini pada mabok lemper atau gimana sih.. jadi pada baper begini" ucap Rama heran.


Mang Ujang ikutan pindah duduk dihadapan Rama. Sambil garuk-garuk kepala.


"Yang satu nyebut guru.. yang satu paduka.. terus Mamang nyebut apa dong biar jadi anak buahnya?" tanya Mang Ujang polos.


"MAS BOSSSSS" sahut semua secara kompak.


Kemudian mereka tertawa bersama.