HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 59, Interview



Rama hari ini ngantor di kantor pusat Abrisam Group, dia sudah memberikan instruksi jika pihak manajemen Audah Hotel butuh tanda tangan, maka mereka bisa menemui Rama di kantor pusat Abrisam Group.


"Pagi Mas" sapa Mba Gita sambil meletakkan tumpukan berkas.


"Pagi .. belum juga saya sarapan Mba, udah disuguhin berkas aja" canda Rama.


"Tumben belum sarapan, biasanya udah dua kali makan kalo pagi kaya gini" ledek Mba Gita.


"Habis sholat subuh saya tidur lagi Mba, tau-tau udah jam tujuh aja. Mana HP juga saya silent, terus ketidurannya sambil dengerin musik dari laptop. Walhasil semua yang udah berusaha bangunin saya ya ga kedengeran" jelas Rama.


"Kok bisa sih Mas tidur nyenyak banget kaya gitu" ucap Mba Gita heran.


"Cape banget kayanya, tau sendiri lah gimana pola hidup saya sejak pulang ke tanah air sampai hari ini. Jadi kadang kalo udah tidur ya ga ingat dunia" kata Rama.


"Mulai manage waktu Mas. Jaga kesehatan, jangan sampe tumbang" nasehat Mba Gita.


"Makasih udah diingetin" ujar Rama.


"Abis ga ada ayang sih buat ingetin" goda Mba Gita.


"Ayangnya masih on the way kehatiku Mba .. hahaha" sahut Rama sambil becanda.


"Mau dicariin sarapan ga Mas? soalnya udah dua minggu ini warungnya Mba Rani tutup" info Mba Gita.


"Ga jualan lagi?" tanya Rama.


"Katanya sih pindah Mas, tapi kok ya ga pamitan. Kata satpam juga titip pesannya cuma minta tolong kasih barang-barang yang ada di warung sama orang yang membutuhkan" jawab Mba Gita.


"Oh gitu, Mba tau alasan Mba Rani pindah?" kata Rama penasaran.


"Patah hati katanya Mas Rama udah jarang ke kantor ini dan sering liat Mas Rama jalan sama Mba Anin" ujar Mba Gita.


"Ini kenapa jadi bergosip ria" ucap Rama.


"Beneran Mas .. wong Mba Rani sering curhat sama karyawan sini" kata Mba Gita meyakinkan.


"Mba Rani tuh cocoknya jadi Kakak saya .. bukan pasangan saya" jawab Rama.


"Gimana Mas.. mau dicariin sarapan ga?" tanya Mba Gita lagi.


"Ga usah Mba, Mang Ujang lagi nyari bubur ayam sama ketoprak buat saya" jawab Rama.


"Mau minum apa Mas pagi ini? nanti saya pesan ke bagian Pantry" tawar Mba Gita.


"Tadi sudah dipesankan sama security yang sekalian mau ke Pantry" jawab Rama.


"Oh begitu... serba pas ya ada yang bantu semua" kata Mba Gita.


"Alhamdulillah ... jadwal saya apa aja hari ini Mba?" tanya Rama sambil menyalakan tablet pintarnya.


"Hari ini full ketemu orang-orang. Pagi ada morning meeting bulanan, dari jam sembilan sampai jam sepuluh. Kemudian ada dua calon kandidat Manager keuangan yang akan final interview sama Mas Rama, jadi sudah sebulan ini melewati test dari pihak HRD. Diperkirakan akan selesai sekitar jam makan siang. Jam dua siang akan ada tiga calon Sekretaris yang juga final interview buat jadi Sekretarisnya Mas Rama di Audah Hotel. Menurut informasi dari pihak HRD, hasil test sudah sesuai dengan apa yang Mas Rama inginkan, hanya tinggal Mas putuskan mau yang mana" papar Mba Gita sambil melihat catatan kegiatan Rama.


"Isinya interview aja nih, jadi ga banyak mikir dan baca ya. Ok deh ... makasih Mba" jawab Rama.


"Sama-sama Mas .. ada yang bisa saya bantu lagi?" tanya Mba Gita.


"Belum ada" kata Rama.


Mba Gita pamit keluar dari ruangan Rama, bersamaan dengan itu, ada panggilan masuk di HP Rama.


Rama seperti biasa diam mendengarkan lawan bicaranya melaporkan sesuatu kepada dirinya.


"Thank you Alex ... segera saya transfer pembayaran terakhir ya .. seratus juta rupiah" jawab Rama sambil tersenyum puas.


"Sama-sama Boss .. kalo ada proyek lagi bolehlah hubungi saya" ucap Alex.


"Oh iya... saya akan siapkan perjalanan kamu ke Thailand, stay disana selama dua mingguan. Jangan ada yang tau kamu kaki tangan saya, pastikan semua clear" ingat Rama.


"Siap Boss" ucap Alex lantang.


Sambungan telepon terputus. Rama mengambil HP khusus untuk bertransaksi mobile banking kemudian mengirimkan bukti transfer ke Alex. Setelahnya menelpon biro perjalanan yang bekerja sama dengan Audah Hotel untuk dipesankan tiket dan akomodasi ke Thailand.


.


Rama mengikuti semua jadwal yang sudah disusun oleh Mba Gita. Satu persatu para kandidat berbincang dengan Rama. Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, kandidat terakhir untuk calon Sekretarisnya di Audah Hotel juga sedang dipersilahkan masuk oleh Mba Gita. Rama merasa udah ga sanggup memegang dua perusahaan sekaligus tanpa dua sekretaris.


Kandidat terakhir ini masih bekerja disebuah perusahaan dibidang retail kosmetik. Penampilannya menjadi titik awal perhatian Rama. Hal ini dinilai penting karena dia akan mendampingi Rama dalam berbagai tugas kantor, mau ga mau, kesan pertama harus meyakinkan. Rama ingin sekretarisnya tampak berkelas, terlihat menarik, anggun dan elegan. Memang kecantikan bukanlah syarat mutlak, akan tetapi sekretaris harus tahu bagaimana cara menampilkan dirinya sendiri.


"Silahkan duduk" pinta Rama dengan ramah.


"Terima kasih Pak" jawab sang kandidat.


Rama mengambil file data tentang kandidat terakhir ini.


"Silahkan ceritakan tentang Anda dan pekerjaan yang sudah pernah dijalani" kata Rama.


Rama memperhatikan sang kandidat. Namanya Farida, lulusan sebuah Universitas swasta ternama di Jakarta. Usianya pun hanya terpaut dua tahun lebih muda dari Rama.


Farida mempresentasikan dirinya, Rama memperhatikan riasan Farida yang tidak menor dan tidak glamour, dia berdandan dengan riasan sangat natural. Aksesoris juga tidak berlebihan, hanya scarf yang menutupi leher jenjangnya. Mulai dari pakaian, tata rambut, tas hingga sepatu semua pas. Matching dan ga berlebihan. Farida mampu berpenampilan seperti wanita elegan yang profesional layaknya penampilan sekretaris kantor yang baik dan menarik.


Farida juga paham teknis berbicara, menjaga jangan sampai terlihat letih, lesu, kurang percaya diri atau memberi kesan bermalas-malasan. Cara berbicara pun diperhatikan baik itu intonasi tinggi rendah nada dalam mengucapkan kalimat, terdengar sangat jelas, terkesan ramah dan sopan.


"Oke .. terima kasih atas pengenalan dirinya. Saya langsung mengajukan pertanyaan ya. Apa itu sikap profesional menurut Anda?" tanya Rama.


"Profesional berarti kita mampu untuk memposisikan setiap tanggung jawab yang diberikan, mampu memilah mana kepentingan individu dan mana kepentingan perusahaan, tidak mencampur kedua kepentingan tersebut.


Rama mencoba tetap cool.


"Apa makna hidup buat Anda?" lanjut Rama.


"Hidup bukan sekedar hidup, ada sesuatu yang harus kita cari dan itu tugas dari setiap individu untuk mencarinya" jawab Farida.


"Apa arti pekerjaan bagi Anda?" kata Rama.


Farida baru kali ini menjalani interview dengan pertanyaan nyeleneh. Biasanya ditanya pengalaman dan yang berkaitan dengan pekerjaan.


"Saya mengartikan pekerjaan bukan semata mencari uang ataupun jabatan. Tapi bagaimana saya bisa berkarya dan berkontribusi yang terbaik dimanapun saya bekerja" jawab Farida idealis.


"Jawaban standar dan super aman ya .. " ucap Rama datar tapi cukup bikin Farida cenat cenut karena tatapan dan senyumannya Rama.


Farida hanya bisa membalas dengan senyumannya, udah ga tau harus bagaimana lagi.


"Lanjut ya ... apakah Anda bersedia bekerja dibawah tekanan? mobilitas saya tinggi, bekerja pun datang paling pagi dan pulang paling malam diantara staf dibagian management" tembak Rama.


"Tentu setiap posisi memiliki tekanan tersendiri, sejauh ini saya bisa mengatasi tekanan pekerjaan. Karena kenyataanya tekanan akan membuat kita mengupgrade kemampuan terbaik yang kita miliki" jawab Farida.


"Memang seperti itu Pak, diposisi Bapak pun pasti memiliki tekanan juga kan?" ujar Farida mencoba mengakrabkan diri.


"Ya .. ya ... Bagaimana Anda memandang dan mengatasi kritik terhadap Anda?" lanjut Rama.


"Pada dasarnya kritik itu penting untuk kemajuan pribadi. Jadi saya akan menerima kritikan orang lain, rekan kerja atau atasan secara terbuka dan sopan. Saya akan melihat dan menilai kritik tersebut, apakah baik atau tidak, jika baik saya terima, jika tidak saya cerna kembali kritik tersebut guna perbaikan kedepannya" ujar Farida.


"Seperti apa orang yang sulit diajak kerjasama menurut Anda?" tanya Rama lagi.


"Bagi saya, orang yang sulit diajak bekerjasama adalah orang yang tidak mau belajar, tidak mau diatur, banyak alasan, tidak bisa diandalkan dan suka mengunjing orang lain" jawab Farida dengan intonasi yang sangat diatur rapih.


"Cukup dulu interview kali ini, apa ada yang mau ditanyakan?" tanya Rama.


"Tidak ada pertanyaan, saya tunggu kabar baiknya dari perusahaan Bapak. Bekerja di Abrisam Group akan menjadi pencapaian tertinggi saya dalam karier" ucap Farida.


"Besar ya harapannya .. tapi lebih baik pede sih daripada minder. Dengan pengalaman selama dua tahun menjadi Sekretaris Direktur, semoga Anda makin berkembang dimanapun Anda bekerja. Jalankan tugas Anda dengan baik dan bertanggung jawab karena secara tidak langsung Anda menampilkan citra perusahaan" saran Rama.


"Baik Pak .. terima kasih atas waktunya" tutup Farida.


.


Setelah semua calon karyawan selesai interview, pihak HRD dipanggil oleh Rama.


"Jadi bagaimana Mas?" tanya pihak HRD.


"Ini berkasnya sudah saya kasih note. Untuk Manager Keuangan, tolong cari yang baru lagi. Ini masih satu server sama yang dulu, dia dapat info lowongan pun dari Pak Feri dan Pak Idam" kata Rama.


"Saat saya tanya ditahap awal, mereka mendengar kabar tentang pemecatan Manager yang lama, kan memang sempat menghebohkan Mas. Makanya coba melamar kesini" lanjut pihak HRD.


"Ya gapapa, cari lagi aja" kata Rama.


"Untuk sekretaris bagaimana Mas?" tanya pihak HRD.


"Dua hari lagi panggil Farida, silahkan dipaparkan dulu jobdesc nya serta gaji yang kita tawarkan. Jika dia oke, langsung aja tanya apa bulan depan sudah bisa bergabung di Audah Hotel" kata Rama.


"Baik Mas... apa ada persyaratan tambahan untuk saya sampaikan kepada calon Sekretarisnya?" tanya pihak HRD.


"Jangan berpakaian terlalu terbuka atau menerawang. Dilarang berseksi-seksi dengan rok yang terlalu pendek. Jangan bermake up ria atau membetulkan make up di meja kerja, lakukan di toilet. Jangan melepas sepatu dan mengganti dengan sendal ketika bekerja, apalagi berjalan ke meja lain" ucap Rama.


"Baik Mas .. ada lagi?" tanya pihak HRD.


"Cukup" jawab Rama.


.


Jam delapan malam baru Rama dan Mang Ujang meninggalkan kantor.


"Udah makan belum Mang?" tanya Rama.


"Belum" kata Mang Ujang.


"Cari makan yuk, nasi goreng Kebon Sirih enak nih .. cuss yuk kesana" ajak Rama.


"Hayuklah gaskeun" jawab Mang Ujang.


Sachi menelpon Rama, seperti biasa, panggilan Sachi adalah sebuah keharusan bagi Rama.


"Mang .. balik pulang langsung, wedhok ngambek" pinta Rama.


"De Sachi bisa ga sih ngambeknya ditunda sampe makan nasi goreng kambing Kebon Sirih? udah kebayang enaknya eh gagal deh" kata Mang Ujang.


"Nanti beli aja nasi goreng Mas Nano yang depan komplek" ujar Rama.


"Ga lagi-lagi deh beli nasgornya Mas Nano, ya rasanya tergantung mood dia. Makanya dipanggil Mas Nano tuh karena rasanya nano nano ... kadang seasin air laut, kadang ga ada rasa karena lupa pake garam, belum kalo kecapnya kebanyakan .. rasanya kaya makan semur" jelas Mang Ujang.


"Oh gitu .. tapi rame aja tuh dagangannya" ucap Rama.


"Penglarisnya oke kali Mas .. yang beli mah orang-orang jauh, kalo orang deket komplek ya ga bakalan beli disitu. Enak mah nasi goreng Pak Jangkung, yang diseberang komplek dekat Apotek" jelas Mang Ujang lagi.


"Hobi jajan juga ya Mang Ujang ini" kata Rama.


"Emangnya Mas Boss, doyan banget makanan rumah. Kadang minta bekel buat sarapan sama makan siang dari rumah. Malamnya juga makan di rumah. Jajan atuh Mas Boss... don't rich people difficult" ujar Mang Ujang.


"Apa .. apa tadi bilangnya?" tanya Rama.


"Katanya pernah tinggal di Inggris, masa gitu aja ga ngerti" ejek Mang Ujang.


"Mang Ujang belajar bahasa Inggris dari belakang mobil truk yang kearah Pantura ya?" tembak Rama.


"Begitulah kira-kira ... kan banyak tuh tulisan-tulisan dibelakang truk, salah satunya ya don't rich people difficult" jelas Mang Ujang.


"Oh I see... maksudnya don't itu jangan, rich artinya kaya, people itu orang and difficult.. susah. Jangan kaya orang susah ... Hahaha. Kreatif banget deh para supir truk" jawab Rama sambil tertawa geli.


"Kan Mas Boss sering minta saya upgrade ilmu, ya saya belajar deh bahasa Inggris, kadang Mas Boss kan suka ajaib ngomongnya pake bahasa Inggris" tukas Mang Ujang.


"Nanti ingetin aja ya buat pinjamin Mang Ujang kamus yang bener. Pinter harus tapi ga keblinger" nasehat Rama.


"Belajar salah, ga belajar katanya ga mau maju. Jadi yang bener gimana sih Mas Boss?" tanya Mang Ujang dengan aksen yang lucu.


"Atau ikut kursus sama Sachi aja, nanti saya bayarin. Sachi aja udah bisa kok diajak ngomong pakai bahasa Inggris" saran Rama.


"Masa belajar bareng Sachi? jatoh banget ini harga diri" kata Mang Ujang.


"Ya udah belajar pake kamus aja sama sering ngobrol, jadinya nanti cepet lancar" ujar Rama.


"Oke deh .. ini nih yang ga didapat dari Boss yang lain. Mas Boss ini jempolan, selalu mau orang sekitarnya lebih maju" puji Mang Ujang.


"Ya biar ga malu-maluin lah Mang" sahut Rama.


"Oh iya Mas Boss, tadi ada cewe ketemu di Musholla kantor pas mau sholat Ashar. Cantik dan ramah banget. Katanya abis interview sama Bapak Rama. Buat calon Sekretaris di Audah Hotel ya?" selidik Mang Ujang.


"Yup... yang pakai baju hijau mint ya? namanya Farida" jelas Rama.


"Nah iya betul.. pakai baju hijau muda terus rambut dikuncir kuda. Mang setuju banget tuh Mas Boss" harap Mang Ujang.


"Emang dia yang saya pilih, kalo deal ya bulan depan sudah bergabung dengan Audah Hotel" lanjut Rama.


"Kelas Mas Boss ... jatah Mang nih ya kali ini. Kan Mas Boss mah bisa cari yang lain" harap Mang Ujang.


"Kita liat aja Mang .. yang penting saya ga butek lagi kalo disana, menyegarkan pemandangan di Audah Hotel, staff office kan cuma dua cewenya" jawab Rama.


"Enaknya punya Boss masih satu server tuh gini .. tau aja bikin pemandangan tempat kerja jadi indah" ucap Mang Ujang.