HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 198, Moment



"Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin...." ucap semua penghuni rumah Pak Isam saat Rama mengumumkan kehamilan Izza setelah makan malam bersama.


Sebenarnya sudah banyak yang curiga kalo Izza sedang hamil, tapi tidak berani mengatakan secara langsung, selain khawatir tersinggung, bisa saja berita kehamilan itu tidak valid selama belum keluar dari mulut Izza maupun Rama.


Hingga diusia kehamilan menginjak sepuluh minggu barulah Rama mengumumkan. Sekaligus meminta do'a ke semua orang agar kehamilannya lancar hingga waktunya melahirkan.


Sachi terlihat langsung memeluk Izza karena dia diberi pengertian akan punya adik bayi baru.


"Jadi di perut Mommy ada dede bayi ya?" tanya Sachi.


"Iya" jawab Izza.


"Nanti Sachi dipanggil Mba aja ya, jangan Kakak" pinta Sachi.


"Kenapa mau dipanggilnya Mba?" tanya Izza.


"Kan Sachi orang Jawa, jadinya Mba" jawab Sachi simple.


"Oh gitu.. kalo Kakak orang mana?" tanya Izza iseng.


"Kakak.. orang mana ya?? orang disini deh" kata Sachi dengan polosnya.


"Orang sini? maksudnya orang Jakarta?" iseng Rama nimbrung.


"Bukan... orang sini.. ya disini.. kan Mommy sama Ayah panggilnya Kakak Ade. Sachi kan bukan kaya Ayah sama Mommy" jelas Sachi dengan bahasa anak-anak yang sesuai usianya.


Rama memandang kearah Izza sambil tersenyum.


Sachi pindah duduk kedekat mainannya.


"Ayah.. nanti adiknya perempuan atau lelaki?" tanya Sachi.


"Belum tau" jawab Rama.


"Semua adik disini perempuan, jadi bisa main sama Sachi. Nanti kalau adik bayi yang baru lelaki, harus beli bola dulu" terang Sachi.


"Sachi mau beliin?" ujar Rama.


"Sachi ga bisa ke toko mainan sendiri. Nanti minta sama Papa dan Mama aja ya buat beliin" ucap Sachi.


"Kok Papa yang kena beliin? kan yang mau main adik bayi dan Mba Sachi" sahut Mas Haidar becanda.


"Ya kan Papa nanti diajak main bola juga, jadi kita main bareng" kata Sachi antusias.


"Oke.. apalagi yang mau dibeli buat adik bayi?" tanya Mas Haidar.


"Robot, mobil-mobilan, motor-motoran, sepeda, lego sama ring basket deh" jawab Sachi.


"Loh kok tambah banyak? bayarnya pakai apa nanti?" tanya Mas Haidar.


"Pake uang Mama, kan kalau Sachi beli mainan selalu Mama yang bayar" jawab Sachi.


"Nah.. setujuuuuu" kata Mas Haidar.


Mba Rani cuma ketawa mendengar perbincangan Bapak dan anaknya.


Mas Haidar dan Mba Rani pun sangat bahagia mendengar berita baik ini. Mereka juga minta dido'akan agar bisa segera menyusul punya anak.


"Akhirnya ya Bro... setelah penantian panjang. Congratz.. semoga lancar jaya deh sampai nanti waktunya. Yang sabar menghadapi bumil" pesan Mas Haidar.


"Tenang Mas.. sudah pengalaman menghadapi para bumil" sahut Rama.


Izza melihat dengan tatapan tajam kearah Rama.


"Maksudnya.. dulu kan menghadapi .. ya itu.. Mamanya Sachi. Terus Mba .. ya itulah... terus Maryam.. Lilis... begitu maksudnya" jelas Rama mencoba meluruskan ucapannya.


"Hati-hati kalo bicara Ram.. bumil itu gampang tersinggung, maklumlah hormonnya terganggu" ingat Mba Rani.


"Siap Bu Komandan.. pokoknya mau jadi suami siaga untuk Mba Boss yang satu ini" kata Rama sambil memeluk Izza dari samping.


Malam ini semua berbincang santai saja, Pak Isam malah terlihat mellow.


"Papi kenapa?" tanya Mas Haidar.


"Kelilipan" jawab Pak Isam gengsi.


"Ga usah malu mengakui kalo Papi bahagia" ledek Mas Haidar.


"Iya.. Bisa dikatakan.. inilah kali pertama Papi mendengar kabar kehamilan dengan hati yang sangat bahagia dan penuh rasa syukur. Kehamilan pertama menantu Papi. Terbayang akan melewati masa sembilan bulan yang pastinya akan memorable banget. Papi sering mendengar tentang kisah para ibu hamil dari teman-teman Papi. Katanya beda sama jaman dulu Papi dan Mami. Bumil era sekarang suka aneh-aneh dan bikin emosi katanya. Semoga kamu ga seperti itu ya Za.. tapi kalo kamu mau sesuatu dari Papi, bilang aja.. Papi akan turuti selama tidak membahayakan kandungan kamu" janji Pak Isam.


"Kan jadi ikutan mellow .." ucap Izza.


Pak Isam mendekati Izza dan duduk disebelahnya.


"Ram.. Izzanya jangan dipeluk terus dong.. Papi juga mau meluk anak perempuan Papi nih" pinta Pak Isam.


🏵️


Tidak ada masalah yang berarti dikehamilan Izza kali ini. Justru inilah yang membuat Rama malah jadi khawatir.


Rama jadi agak sering hilang konsentrasi karena memikirkan Izza yang banyak makan, dokter sudah memberikan nasehat untuk mengatur pola makan agar Ibu dan bayi sehat hingga waktu melahirkan. Jika terlalu banyak asupan dikala masa hamil trisemester pertama dan kedua, berat janin bisa melampaui batas normal dan tidak baik untuk kesehatan ibu dan janin.


Farida sedang berbincang tentang dokumen yang perlu Rama periksa.


"Selamat ya Pak.. saya senang mendengarnya" ucap Farida.


"Makasih.. minta do'anya untuk Izza dan bayi dalam kandungannya" jawab Rama.


"Bu Izza top deh.. ga rewel sampai usia kehamilan sepuluh pekan. Memang ada Pak yang sangat enjoy dikehamilannya, tidak merasakan keluhan yang berarti. Kakak saya juga seperti itu. Makan doyan, ga ada mual muntah, secara medis juga sehat-sehat saja. Tapi memang ada kebiasaan yang berubah. Kakak saya malas liat matahari, jadi akan lebih aktif di sore dan malam hari. Jendela rumah selalu ditutup hordengnya biar ga keliatan sinar matahari. Kakak ipar saya juga sama, tidak ada ngidam yang aneh-aneh, tapi tidak bisa liat nasi. Jadi selama sembilan bulan ya makannya umbi-umbian sebagai pengganti nasi. Ibu hamil memang kadang diluar nalar manusia normal Pak. Ada yang ga bisa makan tapi sehat-sehat saja hingga melahirkan. Berarti Bapak beruntung" papar Farida.


"Saya justru malah maunya dia minta apa gitu, tiap ditanya ga mau ini itu, kan jadi khawatir saya tidak perhatian sama istri. Okelah untuk mual muntah tidak ada ya saya senang, karena dia jadi lebih strong melewati fase kehamilan ini. Meskipun sekarang kegiatannya lebih banyak di rumah, tapi ya dia ga bisa diam. Kadang menjahit, menyulam, bikin kue atau rapihin tanaman. Kalo cape ya tidur, ga peduli saya telepon berkali-kali. Untuk urusan tidur dia ga bisa diganggu. Katanya bisa pusing kalo tiba-tiba harus bangun" adu Rama.


"Bapak ini aneh deh .. para suami diluar sana malah berdo'a agar istrinya ga minta yang aneh-aneh, kok ini malah minta istrinya ngidam" ujar Farida bingung.


"Bukan minta aneh-aneh maksudnya. Saya cuma mau dia tau saya ada dalam perjalanan Ibu hamil yang panjang ini, sembilan bulan loh. Semakin tambah usia kehamilan pasti akan ada saja yang berubah dari bumil. Berat kan bawa kandungan selama sembilan bulan. Sedangkan anak itu kan kita berdua yang mengupayakan, jadi wajar dong kalo suami ingin membuat istrinya selalu happy melewati masa sekarang ini. Setiap ditanya ga mau apa-apa kan malah jadi bingung. Apa benar istri tidak mau apa-apa? atau malah dia kesal sama suaminya. Padahal sekedar dimintain bawa makanan saja sudah seneng kok. Ini setiap ditawarin makanan ga mau, ditawarin barang juga ga minat. Saya mau kirim uang ekstra buat dia beli apa yang diinginkan juga ditolak. Malam saya mau pijitin katanya ga cape. Terus artinya saya apa dong?" cerita Rama.


"Bu Izza kan memang independent woman sebelum kenal sama Bapak. Banyak cerita pula yang bilang kalo Bu Izza wanita kuat dengan prinsipnya. Beberapa kali saya berbincang juga terlihat beliau tidak mau merepotkan suaminya. Bu Izza sangat paham dengan segala kesibukan Bapak. Mungkin beliau mau Bapak bisa konsentrasi dalam bekerja, tidak perlu mengkhawatirkannya kehamilannya. Bukan tidak butuh Bapak, tapi justru ingin memberikan dukungan untuk Bapak" nilai Farida.


"Iya juga sih... tapi tetap aja saya mau dia minta apa gitu" tetap Rama pada pendiriannya.


"Kalo Bu Izza nolak, kami semua yang di kantor ini bersedia kok Pak dibelikan sesuatu. Ya martabak seloyang juga boleh.. hehehe" canda Farida.


"Ide bagus tuh.. kamu pesan martabak, pastikan dari security hingga para Manager kebagian" jawab Rama.


"Becanda saya Pak" buru-buru Farida meralat ucapannya.


"Saya beneran kok.. ga becanda. Kamu pesan saja, tiap ruangan satu kotak. Uangnya minta sama bagian keuangan, bilang potong uang operasional harian saya" perintah Rama.


"Jadi enak nih.. makasih ya Pak.. semoga Bu Izza dimudahkan melewati fase kehamilannya.. bayi dalam kandungan sehat-sehat dan Bapak juga makin sukses pekerjaan dan bisnisnya" do'a Farida.


"Aamiin ya rabbal'alamin.." jawab Rama.


.


Setiap jam, Rama selalu mengirimkan chat ke Izza, selalu diakhiri dengan pesan kapan bisa video call.


🏵️


Dalam perjalanan pulang kerja, Rama mampir ke toko buah. Dia membeli beberapa buah segar untuk istri tercintanya.


"Mas Boss memang luar biasa. Badan tegap, penampilan necis banget dari bawah ke atas, gagah, rambut klimis kaya artis...eh dia nenteng tas belanja ..mana pink pula warnanya... Cucok banget deh ah Mas Boss" ledek Mang Ujang begitu Rama masuk kedalam mobil.


"Toko ini tas belanjanya warna pink, emang ga liat tuh tokonya dominan warna pink" jawab Rama.


"Selow Mas Boss.. jangan emosi sama Mamang, nanti anaknya mirip loh.. mau???" ingat Mang Ujang.


"Astaghfirullahal'adzim... " jawab Rama sambil mengelus dadanya.


"Oh iya tadi Maryam bilang, Mba Boss lagi seneng cemilin kacang almond panggang. Maryam dikasih sama Mba Boss.. eh ASI-nya tumpah ruah. Katanya memang bagus untuk bumil dan busui. Beli dimana Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Oh.. beli di Farida, Ibunya kan jualan cemilan" jawab Rama.


"Berapa Mas Boss?" tanya Mang Ujang serius.


"Oh kalo almond panggangnya kemarin kalo ga salah harganya dua ratus lima puluh ribu per satu kilogram. Itu belum seberapa Mang, di kamar juga ada kacang pistachio panggang yang berasal dari Timur Tengah. Kalo yang itu empat ratus ribu per satu kilogram. Makanya dia taro dekat ranjang aja, dicemilin kalo iseng bangun tidur. Nah hari ini dikasih tester sama Farida, kacang kastanye atau orang lebih kenal dengan sebutan chestnut, harganya tiga ratus ribu per kilogram. Katanya dipanggang bisa, dikukus juga enak" jelas Rama.


"Ya Allah.. itu kacang mahal-mahal amat ya. Kalo saya mah kacang rebus sekilo harga tiga puluh ribu aja rasanya udah mahal. Eh ternyata ga ada apa-apanya sama cemilan Mba Boss. Pantes kalo ASI tumpah-tumpah.. harganya mahal" jawab Mang Ujang takjub.


"Izza ga pernah minta Mang.. tapi saya beli eh dia doyan, jadi ya order lagi sama Farida" kata Rama.


"Baby Obos memang beda ya.. dari dalam perut aja udah tau mana yang mahal dan enak" puji Mang Ujang.


"Biar nanti keluar dia sehat dan pintar Mang" ujar Rama.


"Emang iya Mas Boss? kalo makanin kacang mahal nanti anaknya pintar?" tanya Mang Ujang.


"Kata siapa?" tanya Rama balik.


"Lah.. tadi kan Mas Boss bilang, nanti keluarnya sehat dan pintar" kata Mang Ujang.


"Kirain gitu kalo makan kacang mahal bisa pintar. Mamang mau pesan biar kata Mas Boss apa tuh.. up .. update.." ucap Mang Ujang.


"Bukan update Mang.. tapi upgrade.. jadi ada peningkatan dari hari ke hari. Kalo update mah itu sosmed" jawab Rama dengan penuh kesabaran.


🏵️


Rama sudah sampai di rumah sebelum adzan Maghrib, sebuah rekor bagi Rama.


Mereka sholat Maghrib berjama'ah di rumah. Setelah itu lanjut makan malam bersama.


Rama mengupas beberapa buah-buahan yang Izza ingin makan. Malam ini Izza masih kenyang, jadi tidak mau makan nasi, hanya ingin buah saja.


Jam delapan malam, Rama meminta Izza untuk rehat saja di kamar. Rama membawakan cangkir beserta teh celup serta oatmeal. Tidak lupa membawakan roti dan selai ke kamarnya. Dia khawatir Izza kelaparan dimalam hari.


Sejak mengetahui kehamilan Izza, Rama super perhatian ke Izza. Sangat jelas terpancar dari gestur Rama jika saat ini dia sangat bahagia, terharu dan bangga, bahkan tampak lebih bahagia dari Izza, hal ini karena perempuan yang begitu ia cintai mengandung buah hati mereka.


Rama mengelus perut istrinya perlahan, sebagai tanda ia sangat peduli dan sayang sama istri dan anaknya. Sepertinya sang bayi paham akan perintah dari sang Ayah yang beberapa kali mengajak berbicara agar bisa diajak kerjasama dan tidak merepotkan Izza. Setiap Rama mengajak berbicara, degup jantung Izza lebih tenang.


🏵️


Weekend ini, selepas subuh, Rama dan Izza kembali masuk kedalam selimut, hujan yang turun sedari malam membuat enggan beranjak dari ranjang.


"Kakak peluk aja ya.. biar ga dingin" ucap Rama sudah diposisi memeluk Izza.


"Sumpek kan Kak.. semaleman juga sudah dipelukin terus" jawab Izza.


"Kan sayangggg banget" kata Rama dengan mimik lucu.


"Bener nih sayang?" tanya Izza.


"Bener lahhh, jangan pernah ragukan deh" jawab Rama dengan bangganya.


"Berarti mau dong ngabulin keinginan sang jabang bayi" ujar Izza antusias.


"Mau apa sih si pineapple baby nih" kata Rama sambil mengelus perutnya Izza.


Rama memang sering memberikan panggilan pineapple baby kepada janinnya karena sepertinya Izza positif setelah banyak makan nanas dan sempat honeymoon ke Subang.


"Bikin selai nanas dong Kak... kan katanya dulu pernah buat terus dijualin" pinta Izza.


"Bumil ga boleh makan nanas" kata Rama.


"Siapa yang mau makan? Cuma mau liat Kakak mengupas nanas, terus marut secara manual, mengaduk adonan selai.. ehmmm kayanya seksi deh" ungkap Izza bermanja.


"Beli aja sih... pake repot-repot bikin" jawab Rama.


"Mau dibilangin ke Papi ya? Kan Papi udah pesen kalo semua keinginan Izza harus diturutin. Kakak juga berkali-kali bilang buat Izza minta sesuatu" ucap Izza pura-pura ngambek.


"Siap Mba Boss, bisa ribet kalo Papi boss tau. Ini kan kali pertama Papi ngadepin mantu yang lagi hamil. Hadehhhh si obos yang didalam perut kok ya ada-ada aja sih maunya" kata Rama sambil mencium perutnya Izza. Izza ketawa karena geli perutnya diciumin terus sama Rama.


.


Rama dan Izza langsung beranjak ke dapur, nanya ke orang dapur, apa ada stok nanas di rumah.


Karena tidak ada stok, Rama langsung mengambil kunci motor. Dia bersiap mencari nanas. Cuaca diluar masih hujan gerimis. Begitu sedang mengeluarkan motor dan bersiap pakai jas hujan, ada tukang nanas keliling pakai mobil bak lewat depan rumah.


Jelas saja menjadi tontonan penghuni rumah karena Izza melarang semua orang untuk membantu Rama.


Cukup cekatan Rama memarut nanas serta mengolah menjadi selai. Sengaja hanya bikin dari satu buah nanas, biar ga terlalu lama prosesnya.


"Ada-ada aja ya ... masa Boss besar perusahaan bonapid, Boss di Hotel pula.. eh diminta bikin selai. Kaya orang ga bisa beli selai aja sih Mas Boss" ledek Mang Ujang.


"Katanya saya seksi kalo terjun ke dapur" jawab Rama sambil masih mengaduk selai.


"Seksi dari mananya sih? pake kaos oblong sama training begini dibilang seksi" kata Mang Ujang heran.


"Udah sana.. ganggu aja.." usir Rama malas ngobrol sama Mang Ujang.


"Cape ya Kak?" tanya Izza.


"Oh tentu tidak dong.. jangankan ngaduk selai, diminta bangun rumah pun akan kulakukan untukmu pujaan hatiku" rayu Rama.


"Ga candi sekalian kaya Bandung Bondowoso Mas Boss" sahut Alex ketawa.


Rama melihat kearah Alex dengan wajah yang datar. Alex Lang berhenti tertawa.


"Emang Bandung Bondowoso itu dimananya Bandung kota? atau masuk Kabupaten Bandung Barat? perasaan bolak balik Bandung ga pernah dengar ada daerah namanya Bandung Bondowoso. Kaya nama orang Jawa ya" ucap Mang Ujang ga paham.


"Buka internet sana.. ketik deh Bandung Bondowoso itu apa. Daripada panjang lebar saya jelasin nanti Mamang ga paham" jawab Alex sambil meninggalkan dapur.


🌺


Bertambah usia kehamilan, Izza malah makin menggila ngidamnya. Rama sudah sangat sabar menghadapi semua keinginan Izza yang suka susah dipenuhi.


Apalagi sekarang tiap mau makanan, hanya sekedar dicium saja aromanya, tidak pernah dimakan.


Memasuki kehamilan dua puluh minggu, bukan hanya perut Izza yang tampak mulai menonjol, tapi perutnya Rama ikut juga menonjol, hal ini karena dia menjadi "tong sampah" semua makanan yang Izza inginkan tapi tidak dimakan. Daripada mubazir ya Rama makan saja semua makanan tersebut.


.


Kali ini giliran Pak Isam yang dibikin pusing karena Izza, jam delapan pagi minta makan kerak telor sambil liat Monas. Secara logika, mana ada tukang kerak telor dagang sepagi ini. Tapi demi mewujudkan keinginan menantunya, Pak Isam mengantar Izza ke Monas untuk mencari tukang kerak telor.


Karena office hour, jalanan lumayan padat merayap menuju Monas. Mereka baru sampai ditujuan sekitar jam sebelas siang. Alhamdulillah langsung ketemu tukang kerak telor yang baru turun dari mobil bak sewaan.


Yang bikin geleng-geleng kepala tuh, Izza hanya senang merekam cara pembuatan kerak telor, kemudian kerak telor difoto dengan latar belakang tugu Monas. Selepas itu minta pulang.


Kebayang kan, empat jam pulang pergi menembus macet dan hanya sekitar lima belas menit di parkiran Monas. Sekedar foto kerak telor doang.


.


Mang Ujang juga ga luput jadi korban ngidamnya Izza. Dia dimintain tolong buat manjat pohon kecapi di rumah tetangga belakang komplek (saat lagi duduk di teras atas, Izza melihat ada pohon kecapi dan sangat ingin makan kecapi yang ada di pohon itu), memang yang punya bolehin untuk diambil, tapi semut rangrang di pohon banyak banget.


Izza hanya minta satu buah kecapi saja, dia ikut dan menunggu dibawah pohon. Pas dikasih ke Izza, cuma Izza banting ( tips membuka kecapi memang dibanting, konon katanya bisa bikin manis rasa kecapinya), begitu terbelah, Mang Ujang malah yang diminta untuk memakannya.


Izza hanya senang membanting kecapi dan melihat orang makan kecapi. Mang Ujang terpaksa makan buah yang asem banget sambil gegarukan gara-gara gatel.


"Mang... Bahagia banget makan kecapi" ucap Izza.


"Bahagia gimana sih Mba Boss???" tanya Mang Ujang melas.


"Itu mukanya senyum-senyum sambil loncat-loncat kegirangan gitu... kaya anak kecil dapat hadiah" ujar Izza.


"Ini gatel Mba boss, bukannya kegirangan ..... aduh si Obos emang deh, ga Ayahnya, ga Eyangnya, sampe Mamang ikut jadi korban kemauannya" ucap Mang Ujang masih sambil garuk-garuk.


"Kaya Ayahnya dia... Kalo sudah maunya ya harus dapat. Nah kalo jahilnya kaya Mang Ujang dehh... hahaha" ucap Izza bahagia.


💠


Memasuki usia kehamilan dua puluh tujuh Minggu, Izza mendadak tidak bisa mencium aroma tubuh Rama. Pasti langsung merasa mual. Semua permintaan Izza, Rama tidak pernah merasa terbebani, tapi jika harus berjauhan sama Izza, rasanya berat.


Rama sekarang tidur disofa yang ada didalam kamar, karena Izza tidak mau tidur bersebelahan dengannya. Sebagai suami, dia juga merasa ingin memenuhi hasratnya kepada Izza, tapi Izza tidak bisa. Cukup membuat Rama uring-uringan karena sebulan sudah dia tidak mendapatkan jatah memenuhi keinginan biologisnya.


Rama makin serba salah, pas pulang kerja katanya bau keringat, setelah habis mandi juga katanya bau sabun, sampai dia coba berenang siapa tau abis itu ga bau apa-apa tetap aja katanya bau.


Rama sampai mengganti minyak wangi, dari yang bau kayu hingga bau yang soft, dari yang murah hingga yang mahal, hasilnya pun tetap badannya bau dipenciuman Izza.


.


Rama berangkat kerja dengan muka yang rada keki.


"Mas Boss wangi amat, abis minum minyak wangi atau berendam minyak wangi?" goda Mang Ujang.


"Nyoba parfum baru, tapi masih aja nih Mang.. saya jadi serba salah, pake minyak wangi salah, ga pake lebih salah. Apalagi Izza tuh bawaannya kesal aja kalo liat saya. Boro-boro mau dideketin, baru liat muka saya aja dia udah mual. Ini udah hampir tiga puluh minggu loh, secara teori kan udah stabil harusnya. Dulu istri gimana Mang pas hamil?" tanya Rama serius.


"Kalo istri saya mah malah maunya nempel terus, apalagi pulang kerja bau asem gitu malah demen.. hahaha. Sekarang udah sibuk ngurusin anak jadinya udah ga mesra-mesraan kaya dulu lagi" jawab Mang Ujang.


"Ini akal-akalan wanita ga sih? Secara kan alasannya hamil, pasti bakalan diturutin semuanya. Kok kadang ngerasa dikerjain istri ya?" tambah Rama makin heran.


"Bisa jadi ... secara tuh para wanita kapan lagi coba kita manja-manja, kita iya in semua yang dia mau.. ya pokoknya serba oke deh, jangan-jangan memang bisaan mereka aja nih. Waktu Maryam hamil juga maunya jalan-jalan mulu, masa kalo di rumah ga nafsu makan eh begitu diajak keluar pasti makannya kaya orang abis nyangkul sawah sehektar .. haha.. Padahal kadang cuma jalan ke taman doang tapi kita bawa timbel. Bahagianya bumil simpel Mas Boss, tapi bikin kita senewen aja" kenang Mang Ujang.


"Stok sabar kayanya tiap hari saya isi ulang terus. Kalo mau pulang pasti deh banyak-banyak istighfar di jalan. Biar setrong ngadepin istri yang moody banget. Saya ngurusin perusahaan yang mau bangkrut aja ga serumit ini, ini ngurusin si calon bayi sama calon ibu.. repotnya bikin cenat cenut" curcol Rama geleng-geleng kepala.


"Dulu minta-minta biar Mba Boss ngidam, sekarang malah ngoceh" ledek Mang Ujang.


"Mang.. dia minta apa aja saya bisa turutin deh. Tapi urusan ga boleh dekat apa ga bikin pening kepala?" ucap Rama.


"Pasti peninglah.. apalagi kalo ga bisa dapat jatah. Istri haid seminggu kita aja melintir.. ya ga Mas Boss.. hahahaha" timpal Mang Ujang.


 🤍


Kehamilan Izza membuat Rama merasa jatuh cinta lagi. Ada debaran seperti saat dulu mulai menyukai Izza. Dimata Rama, Izza semakin cantik setelah hamil.


Setiap malam, Rama tetap berusaha mengusap perutnya Izza sambil berbicara pada si kecil yang berada didalam kandungan, membisikkan do'a-do'a. Meskipun Izza harus menutup hidungnya.


Ketika menatap wajah Izza dengan penuh perhatian, memandang perubahan tubuhnya Izza yang menurutnya adalah perempuan paling seksi di dunia, membuatnya makin tergila-gila.


Izza pun merasakan hal yang sama, dia kembali merasa jatuh hati pada suaminya. Hanya dia tidak mampu mencium aroma yang keluar dari tubuhnya Rama. Setiap malam, ketika pinggang terasa nyeri atau kram pada kaki, Rama selalu sigap mengelus pinggang dan memijit kakinya hingga Izza bisa tertidur pulas.