
Rama ijin ke Izza untuk menjenguk Mba Anindya dan Mamanya di kediamannya mereka. Dia datang seorang diri, karena Izza masih belum siap bertemu sama keluarganya Om Flandy. Pak Isam dan Mas Haidar pun tidak mau ikut karena masih marah dan kecewa atas tindakan Om Flandy terhadap keluarga terutama terhadap Izza.
.
Sebelumnya Rama sudah mengirimkan chat ke Mba Anindya, meminta persetujuan untuk bisa menjenguk. Mba Anindya mengijinkan, makanya Rama datang.
Rama mampir ke toko kue langganan Mba Anindya dan membelikan makanan yang biasanya Mba Anindya pesan.
.
Kondisi fisik Mba Anindya dan Mamanya terlihat makin drop tapi mereka tidak mau dibawa ke Rumah Sakit. Mentalnya pun terlihat makin down karena banyak bukti-bukti baru yang memperberat tuntutan hukum terhadap Om Flandy.
"Ram... minta maaf ya..." ucap Mba Anindya yang tergolek lemah di kasurnya.
Tangan Mba Anindya menyentuh pergelangan tangannya Rama, Rama yang sudah menganggap Mba Anindya sebagai kakak sendiri, membalas memegang telapak tangannya Mba Anindya. Sebagai rekan bisnis, tentu amat sangat disayangkan semua ini bisa terjadi, apalagi dengan sejarah kedekatan kedua keluarga mereka.
"Sekarang ga usah merasa bersalah Mba.. Mba fokus menata semua hal kedepannya. Sudah suratan takdir kita harus melalui hal ini, Mba juga yang sabar ya. Semoga kita sama-sama belajar banyak dari kejadian yang menimpa kita" ucap Rama menguatkan.
"Tante benar-benar kecolongan Ram.." sahut Mamanya Mba Anindya yang tiduran disebelahnya Mba Anindya.
Rama menuju kearah samping Mamanya Mba Anindya kemudian mengusap tangannya.
"Tante .. semoga lekas pulih kembali, harus bisa lebih kuat lagi.. pasti Tante bisa" kata Rama memberikan semangat.
"Tante malu sama teman-teman dan rekan bisnis. Suami seorang bandar obat-obatan terlarang, punya calon mantu juga ternyata anak buahnya, bisnis kami langsung sepi.. ya restoran, hotel, butik dan spa.. hancur gara-gara kelakuan lelaki tua yang ga tau malu" geram Mamanya Mba Anindya.
Rama hanya diam mendengarkan kedua wanita ini saling bercerita dan mengungkapkan kemarahan serta kekecewaan terhadap Om Flandy.
"Sulit memang disituasi seperti ini untuk menerima, tapi mau ga mau itulah kenyataannya. Saya marah dan kecewa sama Om Flandy, apalagi istri saya menjadi sosok yang diobsesikannya. Sekarang bagi saya yang terpenting menjaga mental Izza aja sih biar ga makin terpuruk" ucap Rama.
"Padahal wanita disekitar Papanya Anin itu cantik-cantik dan seksi, entah kenapa malah sama istri kamu obsesinya. Tante sudah tutup mata sama para wanita yang sering diajaknya liburan... tapi kali ini sungguh diluar dugaan" lontar Mamanya Mba Anindya.
"Maaaa... jangan begitu.. ga boleh kita menilai Izza kaya gitu" ingat Mba Anindya.
"Mama bicara tentang fakta kok, kalo kelakuan Papamu yang genit sama wanita sih Mama sudah kebal, toh ga ada yang dinikahi sama Papamu, kaya tissue aja, habis dipakai ya dibuang. Ini sampe segitu cintanya sama Izza tuh apa yang dilihat? badan ga ada seksi-seksinya, wajah juga pas-pasan, waktu resepsi cakep karena Rama mampu bayar make up artist ternama aja jadi keliatan manglingin. Mama kan pernah liat wajah aslinya, standar dan ga ada menariknya. Udah gitu dia juga bukan dari kalangan kita" papar Mamanya Mba Anindya dengan nada yang sangat melecehkan Izza.
"Maaf ya Tante .. maksudnya ini mau menghina istri saya atau bagaimana ya? saya datang kesini baik-baik loh.. lagipula istri saya sama sekali tidak tau kalo ada yang mengagumi dia seperti itu. Sekarang Izza dibawah pengawasan psikiater dan psikolog juga karena perbuatan yang dilakukan oleh Om Flandy. Dia juga sama seperti kalian .. fisik dan mentalnya juga terguncang. Maaf kalo terkesan agak emosi mendengar ucapan Tante, tapi yang sedang Tante hina itu istri Rama.. wanita baik-baik yang Rama pilih menjadi pendamping sekaligus calon Ibu untuk anak-anak Rama kelak" kata Rama yang tersulut emosi.
Bisa dibilang memang dalam seminggu terakhir ini Rama itu tidur tak lena, makan tak nikmat. Semua perhatian dikerahkan untuk Izza walaupun disambi dengan pekerjaannya sendiri. Jadi jika ada ucapan yang tidak sreg dihati pasti dia akan langsung bereaksi agak keras tanpa berpikir siapa yang berbicara.
"Maaf ya Ram.. Mama tertekan sama pemberitaan ini itu yang berkembang belakangan ini. Jadi ya agak gimana gitu ngomongnya" pinta Mba Anindya ga enak hati.
"Harga diri istri saya ga boleh diinjak-injak, apalagi didepan saya, janji saya sama Allah untuk selalu menjaganya, jadi jika ada yang berani menyenggolnya, saya akan jadi orang paling depan yang pasang badan buat dia" ucap Rama makin emosi.
"Kenapa kamu jadi kampungan gini sih Ram? norak banget bela wanita sampai seperti itu. Hal ini yang sebenarnya sejak lama ingin Tante pertanyakan ke kamu .. ga malu punya istri dari orang yang ga selevel sama kamu? udahlah dia anak Panti Asuhan, ga jelas siapa keluarganya, nikah juga sendirian karena keluarga ga mau terima dia, ditambah punya Kakak angkat juga bobrok.. kamu ga takut nanti kamu tau belangnya dia? orang seperti dia ujung-ujungnya apa kalo bukan harta? please.. Belajar dari keluarga kami Ram.. orang terdekat pun belum tentu bisa kita percaya, Tante kasian aja sama kamu.. so sebelum harta kamu ludes, sebelum nama baik kamu ambles.. lebih baik kamu tinggalin dia. Kembalikan dia ke Panti Asuhan lagi. Kamu tuh cakep, baik, mapan .. sekali tepuk bisa sepuluh wanita datang, tinggal kamu tunjuk mau yang kaya gimana" kata Mamanya Mba Anindya.
Rama benar-benar sudah merasa tersinggung level maksimal oleh ucapan Mamanya Mba Anindya.
"Saya datang kesini sebagai seorang teman yang berempati terhadap musibah yang kita alami bersama, jika kehadiran saya tidak diharapkan.. ya lebih baik saya balik kanan dan pulang. Perlu digarisbawahi, orang tua dan keluarga saya aja tidak pernah meminta saya berpisah untuk dari Izza, sejak kenal hingga kemudian memutuskan menikah pun tidak ada yang mengajukan keberatan, kenapa Tante yang notabene orang luar malah menjadi sutradara dalam takdir hidup saya?" ungkap Rama.
"Kamu sudah dipengaruhi sama dia, liat aja nanti.. kamu akan tau bagaimana sakitnya jika apa yang Tante ucapkan kejadian sama kamu" ucap Mamanya Mba Anindya.
Karena sudah tidak nyaman dengan situasi yang ada, Rama memutuskan untuk langsung pamit pulang. Percuma saja dia mencoba untuk tidak memutus tali silaturahim antar keluarga jika dipihak lain malah sibuk menilai Izza dan menjatuhkan harga dirinya.
"Ram.. Ram... maaf ya" panggil Mba Anindya.
Rama tidak menjawab bahkan tidak menoleh sedikit pun.
"Anak muda kok kurang ajar begitu sama orang tua.. langsung aja pergi.. ga sopan. Tapi wajar sih.. dapat orang kampung ya jadi ikut kampungan" celoteh Mamanya Mba Anindya.
"Jangan gitu Ma.. ya wajar dia marah sama ucapan Mama. Kalo Anin ada diposisi dia malah akan berbuat lebih keras lagi.. bisa-bisa Anin tampar mulut orang yang merendahkan keluarga kita" ungkap Mba Anindya.
"Kok kamu malah bela Rama sih.. " protes Mamanya Mba Anindya.
"Ma.. Anin tau Mama tertekan, tapi please jangan tambah suasana jadi runyam. Asal Mama tau ya, dia yang memegang semua harta yang Anin punya, karena punya feeling ga enak, Anin minta dia buat mengganti nama aset yang Anin punya jadi punya dia. Paling ngga.. harta Mama masih selamat ditangan dia. Kalo terjadi sesuatu dengan usaha atau ada yang disita dari harta kita.. masih ada aset di dia Ma. Secara hukum dia bisa menang karena ada tanda tangan Anin untuk menyerahkan harta ke dia, jadi kalo sampe dia marah dan tidak mau pulangin balik aset Anin.. ya ga bisa disalahkan juga" sahut Mba Anindya kesal sama sikap Mamanya.
💐
Dua minggu kemudian..
Sebenarnya Izza ingin bertemu sama Mba Gita, tapi dilarang sama Rama. Kondisi Izza yang belum stabil menjadi alasan Rama.
Karena Sachi lagi diajak Mas Haidar outing dengan para karyawannya Mas Haidar, jadinya weekend ini Rama gabut. Tadinya sudah menyiapkan waktu buat ajak Sachi main sepuasnya, kasian aja melihat Sachi yang bingung melihat Izza banyak diam, jadinya Sachi juga kurang ceria.
.
Akhirnya Rama memutuskan untuk ngajak Izza jalan ke Mall dan nonton film action terbaru yang pemainnya sangat terkenal. Produksi Hollywood genre seperti ini memang tidak pernah dia lewatkan.
"De.. jalan yuk ke Mall.. yang utamanya sih nonton bioskop, kalo mau shopping atau yang lain juga boleh" ajak Rama.
"Males kayanya Kak" jawab Izza.
"Sachi kan lagi pergi sama Mas Haidar, dari pada kita ga tau mau menghabiskan weekend ini gimana ya mending kita jalan" jelas Rama.
"Ya udah deh .. kayanya juga mau liat-liat ke toko buku, siapa tau ada yang menarik" kata Izza.
"Ganti baju dulu sana .. masa pake training gitu" ujar Rama.
"Kakak malah masih sarungan.. lebih parah lagi. Agak siangan aja deh nanti abis sholat dzuhur, lagian nonton pagi-pagi juga belum buka bioskopnya" sahut Izza.
"Nonton dimana nih enaknya... kalo di Mall of Indonesia ada yang eksklusif cuma dua puluh empat orang aja, bangkunya juga enak bisa diatur, gede kaya sofa. Atau di Central Park yang duduknya itu ya tempat tidur...asyik kan, kita nonton terus tempat mendukung banget buat pasangan kaya kita, gimana?" kata Rama menggoda.
"Sering ya ajak cewe kesana?" jawab Izza yang masih santai nonton televisi.
"Sering... paling ga sebulan sekali pasti nonton. Biasanya yang di Central Park, sambil tiduran bisa sambil peluk-pelukan.. cium-ciuman gitu, malah kadang kita sampe ketiduran.. hehehe" jawab Rama enteng.
"Ga malu apa diliat orang pelukan ciuman di bioskop?" tanya Izza rada-rada merinding bayanginnya.
"Ga sih, ga peduli juga sama orang lain, mereka juga sama-sama asyik sendiri" ucap Rama.
Izza makin bergidik ngeri ngebayangin bioskop yang isinya orang sedang bermesraan semua.
"Sama siapa nontonnya? mantan? gebetan atau karyawan di Abrisam Group?" iseng Izza bertanya.
"Cemburu yaaaa ... nonton sama Sachi kok.. berdua aja, film anak-anak. Sachi cewe juga kan?" goda Rama.
"Ga lucu" jawab Izza.
"Emang bukan pelawak.. wajar dong ga lucu. Kakak pesan online dulu ya tiketnya, nanti kehabisan" kata Rama.
Izza melihat kearah jendela karena sepertinya ada kehebohan.
"Ada apa rame banget disana?" teriak Izza penasaran dari atas balkon.
"Ini Mba Izza... kayanya Maryam mulai isi, dia lagi pengen makan mangga muda dan Mang Ujang diminta ambil di pohon" jelas salah satu asisten rumah tangga.
"Wah mau pada ngerujak ya .. ikutan dong" ucap Izza yang bergegas keluar kamar.
Rama masih duduk di balkon, masih sibuk sama HPnya buat memesan tiket bioskop.
.
"Beda A'.. maunya yang diambil langsung" jawab Maryam.
"Beneran hamil ga nih? nanti udah susah naik keatas eh ga taunya ga hamil" tanya Mang Ujang.
"Ya ga tau.. tapi kan udah telat A'.. besok deh pake testpack buat ngecek" jawab Maryam.
Mang Ujang masih bingung, mau naik takut, ga naik nanti istrinya ga terpenuhi keinginannya.
"Sini Mang Ujang.. Izza yang naik ya" tawar Izza.
"Jangan Mba.. wah bisa ngamuk tuh yang lagi duduk di balkon" ucap Mang Ujang.
"Ga lah .. saya mah dulu udah biasa Mang manjat pohon.. jaman masih pindah-pindah rumah kan sering sama teman-teman nyolong mangga tetangga. Ini mah masih pendek pohonnya, gampang banget" sahut Izza yang sudah melepaskan sendalnya dan bersiap naik keatas pohon.
"Mba.. jangan Mba.. nanti Mas Rama ngomel" ingat asisten rumah tangga.
Rama yang mendengar namanya disebut-sebut langsung melihat kearah bawah.
"De....De... mau ngapain?" teriak Rama yang kaget melihat Izza bersiap naik pohon.
"Naik pohon lah Kak.. Maryam lagi ngidam kayanya" sahut Izza.
"Jangan macam-macam ya... nanti jatuh" ingat Rama.
"Tenang aja Kak.. hati-hati kok" ujar Izza.
"Okee..." jawab Rama.
Rama melihat kearah bawah dengan wajah yang serius. Izza naik sambil tertawa-tawa, inilah yang membuat Rama ga melarang secara keras.
"Ya Allah... rindu banget sama gelak tawanya.. terima kasih ya Allah, akhirnya dia bisa tertawa lagi" gumam Rama.
.
Dibawah masih aja rame, para wanita sedang ngerujak rupanya. Untunglah mereka sudah sarapan semua, jadinya ga mules.
Rama tertidur di bangku malas yang ada di balkon. Cuacanya sejuk tapi tidak hujan, baru mendung saja sedari pagi.
💐
Alex sedang mengajak Mba Nur jalan berdua, ngedate. Rama yang modalin karena Alex bilang mau nyari perlengkapan untuk acara lamaran. Rama dan Izza tidak bisa ikut acara lamaran mereka nantinya karena berbarengan dengan acara pernikahan sepupunya Rama di Surabaya. Tapi nanti Mang Ujang dan beberapa orang akan hadir kesana sebagai perwakilan.
Rupanya Mba Nur diajak ke Tanah Abang untuk mencari baju dan perlengkapan lainnya. Sekalian juga membelikan untuk keluarganya Mba Nur di kampung.
💠
Jam satu siang, Izza masuk kamar mandi buat mandi karena kegerahan abis makan bareng sama semuanya di taman belakang dengan menu-menu yang pedas.
Dia memakai gamis kaos pemberian Rama saat serah-serahan dulu (belum pernah dipakai). Rama pun ikutan pakai kaos berwarna senada sama Izza dan dipadu dengan celana jeans kebanggaannya.
.
Sesampainya di Mall, keduanya langsung menuju bioskop karena filmnya akan mulai diputar jam tiga sore. Rama mengaja Izza ke bioskop yang kursinya berbentuk tempat tidur. Kalo ga inget Rama adalah suaminya, rasanya Izza pasti udah balik kanan deh jika diajak nonton tapi tempatnya seperti ini.
.
Setelah nonton mereka lanjut ke toko buku, Rama malah yang jadinya memborong buku.
"De... mau makan malam apa? Jangan jawab terserah atau udah kenyang ya.. klasik banget jawaban cewe kaya gitu" wanti-wanti Rama.
"Tapi emang kayanya masih kenyang sih Kak.. tadi di bioskop kan Kakak order banyak makanan" ujar Izza sambil menepuk perutnya.
"Cewe tuh gitu ..bilang kenyang, terus kalo cowonya makan sendiri eh ntar bilangnya ga ada perasaan banget sih makan sendiri, atau bilang ih kamu mah ga peka deh jadi cowo" jelas Rama dengan mimik yang dibuat lucu.
"Ya udah Kak Rama maunya makan apa? Izza ikut aja" tengah Izza males berdebat.
"Udah lama banget ga makan shabu-shabu nih.. ada disini all you can eat yang enak dan halal pula" ucap Rama.
.
Shabu-shabu adalah salah satu makanan berkuah khas Jepang yang cukup populer di Indonesia. Shabu-shabu adalah salah satu jenis nabe ryori atau makanan yang dimasak dalam panci dan dimakan selagi hangat.
Biasanya shabu-shabu bisa terdiri dari beragam bahan makanan, mulai dari daging yang diiris tipis, aneka seafood dan juga aneka sayuran segar. Bahan-bahan tersebut disajikan dalam keadaan mentah kemudian pemesan memasaknya sendiri langsung di meja makan.
Biasanya kuah shabu-shabu terbuat dari ganggang laut atau kaldu ayam murni. Beberapa restoran shabu-shabu di Indonesia seringkali menawarkan pilihan kuah beragam seperti tomyum khas Thailand, sup mongolia, kuah mala khas Sichuan.
"Sudah pernah makan all you can eat kaya gini?" tanya Rama.
"Belum pernah.. kalaupun punya uang juga sayang lah, sekali makan dua ratus ribuan per orang" jawab Izza.
"Terus siapa yang mau bayar nih?" tanya Rama lagi.
"Ya Kakak lah.. kan yang ngajak Kakak" jawab Izza santai.
"Tadi buku udah dibayarin De.. gantian lah makan kamu yang bayar" pinta Rama.
"Mending ga usah kalo gitu" lanjut Izza.
"Ampun deh.. punya istri pelit amat ya.. padahal uangnya banyakan kamu kan daripada direkening Kakak" papar Rama.
"Yang ngajak jalan siapa?" tanya Izza.
"Jadi kita deal nih.. siapa yang ngajak jalan maka dia yang bayar?" ucap Rama sambil menyodorkan tangannya.
"Tergantung sikon lah" sahut Izza dengan entengnya.
"Terus ... intinya semua Kakak juga yang keluar uang, walaupun nanti kamu yang minta jalan?" tanya Rama meyakinkan.
"Sekarang Kakak cari uang kan buat istri dan anak, buat apa banyak-banyak uang direkening tapi keinginan istri dan anak tidak terpenuhi. Setuju ga?" canda Izza.
"Entahlah ini pake mahzab yang mana.. kapanlah kami para pria bisa menikmati hasil kerja..." ungkap Rama sambil becanda.
"Dibalik suami yang memenuhi semua kebutuhan dan keinginan istri, akan ada istri yang bahagia dan akan melayani sepenuh hati lohh" lanjut Izza.
"Oke... oke... demi melihat istri bahagia.. apapun akan kulakukan" jawab Rama tersenyum sambil menggandeng tangannya Izza masuk kedalam restoran.
.
Rama memilih dua kuah untuk mereka nikmati, kemudian memilih daging. Izza yang mengambil sayuran dan berbagai saus.
Pelayan meletakkan panci diatas kompor listrik. Kemudian menjelaskan secara singkat bagaimana cara menaikkan dan menurunkan suhu, mematikan dan menyalakan kompor, juga tingkat panas yang tepat untuk memasak.
Izza memasukkan bahan-bahan yang lama matang terlebih dahulu. Untuk jenis mie (udon, bihun, kwetiau) dan daging tidak terlalu lama memasaknya. Daging sapi di restoran shabu-shabu diiris sangat tipis, sehingga cepat matang ketika direbus.
"Habisin yang sudah kita ambil, restoran shabu-shabu all you can eat mengenakan sanksi denda bagi konsumen yang tidak menghabiskan makanannya" ingat Rama.
"Iya.. makanya ambilnya juga sedikit, kan udah pernah baca di internet gimana aturannya resto all you can eat.. sekedar tau sih dulunya, tapi kan bermanfaat juga untuk masa sekarang" jawab Izza