
"Maaf kalo buat kamu sedih. Kalo boleh tau, kematian orang tua kamu karena apa ya? Tapi kalo kamu ga bersedia menjawab gapapa sih" lanjut Rama hati-hati.
"Kebakaran rumah" jawab Izza singkat.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun.. maaf kalo buat kamu harus ingat masa lalu .. by the way, udah hampir jam satu, ayo kita balik ke Hotel. Udah ditunggu sama yang lain" ajak Rama.
Izza dan Rama berjalan berdampingan, tapi Izza satu langkah agak dibelakang Rama, dia ga mau sejajar. Rama hanya senyum aja, dia paham memang selayaknya seperti itu.
"Seperti filosofi sholat kan? imam selalu didepan dan makmum dibelakang, jadi tetaplah berjalan dibelakang saya kalo mau jadi makmum nantinya" goda Rama sambil senyum kearah Izza.
Izza sendiri tampak salah tingkah atas ucapan Rama, menerka apa maksudnya, padahal tadi didalam mobil jelas-jelas Rama menelpon dan akan membawa wanita yang diteleponnya ke Jakarta.
"Bener kata Mba Gita, lelaki itu selalu cari peluang disetiap kesempatan, apalagi kalo dia punya segalanya. Mempermainkan wanita yang dia mau seenak hati. Habis merayu yang satu, sekarang menggoda yang lain... Ya Allah kuatkanlah iman hamba..." ujar Izza dalam hati.
"Ayo cepat jalannya, apa jangan-jangan lagi mikir buat menjadi makmum saya?" timpal Rama penuh kemenangan.
Izza ga berani menjawab pertanyaan Rama, dia hanya mengikuti langkah Rama seperti tadi.
🌷
"Hai Mas ... sini" panggil Anindya sambil melambaikan tangannya.
Haidar mendekati meja Anindya.
"Ada apa mau ketemu saya Anin?" tanya Haidar saat mereka sudah duduk disalah satu Restoran.
Anindya yang meminta bertemu sama Haidar siang ini.
"Wow .. langsung to the point rupanya. I like it" jawab Anindya.
"Saya ga punya banyak waktu, masih ada yang harus saya kerjakan" ucap Haidar cuek.
"Minumlah dulu kalo Mas ga mau makan. Saya mau nawarin kerjasama bisnis kok, bukan membahas hubungan diantara kita. Toh sudah berakhir juga, ga perlu dibahas lagi" kata Anindya.
"Ga usahlah kita kerjasama dalam bisnis. Jodoh aja ga panjang, apalagi bisnis" tangkis Haidar.
"Jodoh dan bisnis kan beda Mas. Ya bisa aja kan memang takdir kita bukan sebagai pasangan suami istri, tapi jadi partner bisnis. Keluarga kita juga sudah saling kenal lama" papar Anindya.
"Bukannya yang membuat semua ini keluarga kamu?" tanya Haidar.
"Entahlah ... yang saya tau sekarang adalah kondisi perusahaan milik Papa Isam lagi banyak yang bermasalah. Masalah keuangan sih pastinya. Siapa tau perbincangan kita siang ini bisa jadi solusi" ujar Anindya.
"Anin... semua itu sedang diurus sama Rama, saya udah ga ada kena mengena dengan bisnis Papi, saya punya bisnis sendiri yang perlu saya urus. Jadi jelas ya kalo kamu salah orang. Bukan ketemu sama saya kalo mau ajak kerjasama, harusnya ketemu sama Rama" jelas Haidar lagi.
"Kalo gitu, tolong dong bilang ke Rama buat nerima kerjasama yang saya tawarkan sama dia" pinta Anindya.
"Oh udah pernah ketemuan sama dia?" ujar Haidar.
"Udah, tapi ya ga ada kejelasan sampai sekarang" adu Anindya.
"Kamu punya kontak dia, tau juga dimana harus nyari dia, terus masih tau jalan ke rumah lewat mana, so.. silahkan langsung aja ngomong sama dia. Rama pasti tau apa yang harus dia lakukan terhadap penawaran bisnis dari kamu. Saya udah ga mau ikut campur lagi di Abrisam Group" jawab Haidar sambil berdiri dan langsung pamit pergi.
Anindya hanya bisa diam aja memandang kepergian Haidar. Memang sejak perceraian mereka, hubungan keduanya bukan tidak baik, hanya langsung putus komunikasi. Janjian hari ini aja atas bantuan Pak Isam yang menyampaikan pesan Anindya ke Haidar. Awalnya Haidar menolak, tapi permintaan Pak Isam untuk menjalin silaturahim yang baik dengan pihak Anindya menjadi poin penting yang ditekankan oleh Pak Isam. Ditambah pula Haidar tau, keluarga Anindya ga akan tinggal diam kalo Haidar menolak ajakan buat bertemu. Haidar hanya ga mau membuat runyam keadaan perusahaan milik Papinya.
Sebenarnya sudah berkali-kali Anindya menghubungi Rama untuk menanyakan progress kerjasama mereka, tapi seakan Rama masih menarik ulur kerjasama yang ditawarkan olehnya. Rama memang sukar ditebak arah pemikirannya. Jadi mempersulit Anindya buat menekan Rama.
Anindya pun sudah menghubungi Mba Gita buat dijadwalkan untuk bertemu, tapi Mba Gita selalu berhasil menghindarkan pertemuan tersebut atas permintaan Rama.
"Udah menuju bangkrut aja masih kebanyakan gaya. Kakaknya sok pintar dan mandiri padahal ga bisa apa-apa. Adiknya pun sama, belagak hero padahal belum teruji. Kasian Papa Isam, punya anak lelaki ga bisa diandalkan" gumam Anindya.
💐
"Sudahlah Pak Feri.. Pak Idam.. Izza... duduk dulu, sudah jam dua lewat dan belum ada progress yang saya inginkan tersaji disini. Jujur aja sama saya, apa ada penjualan aset yang tidak tercatat dalam pembukuan yang Izza serahkan ke saya?" tanya Rama melihat kearah Pak Feri dan Pak Idam secara bergantian..
Keduanya ga berani menjawab.
"Kenapa banyak catatan barang rusak dan dimusnahkan dalam pelaporan penutupan Hotel. Padahal saya sudah melihat dan mempelajari semua laporan bagian maintenance Hotel selama dua tahun terakhir. Jadi bisa ditelusuri semua. Apalagi ada kode barcode di setiap barang yang bisa saya ketahui kondisi sejarahnya. Saya juga baru tau dari lawyer perusahaan kalo kondisi Hotel ini belum dinyatakan pailit, tapi bisa dibilang sudah tidak menghasilkan. Kenapa bisa muncul kata pailit ya? Pak Isam pun langsung percaya dan mengambil langkah PHK massal dan menutup Hotel ini. Perusahaan jadi punya tanggungan besar terhadap karyawan yang terpaksa kena PHK, jadi tolonglah saya minta dengan amat sangat kejujuran dari semua. Saya menghormati Bapak berdua ini sebagai karyawan senior di Abrisam Group. Tapi kalo seperti ini ...apa yang bisa saya nilai untuk mempertahankan Bapak berdua? Please ... budaya korupsi hanya akan menghancurkan Anda. Anda berdua mungkin lupa pernah ada laporan awal aset yang sudah diinventarisir, saya juga sudah cek inventaris Hotel dengan memulai data lampau. Dari sana kan jelas jumlah barang yang kita punya apa aja. Panti asuhan yang ada didalam list penerima hibah barang dari Hotel juga sudah saya kroscek semua, dan Anda tau kan apa yang saya maksud?" tanya Rama.
"Maaf Mas Rama..." sesal Pak Feri.
"Apa yang diberikan Perusahaan selama ini kurang sampai Anda berdua berbuat seperti ini? Menurut laporan pihak HRD, gaji dan bonus Anda berdua sangat lebih dari cukup. Okelah Anda korupsi untuk aset yang lain. Tapi yang saya ga bisa tolerir adalah hibah ke panti asuhan. Tega Anda berdua memakan sesuatu yang bukan hak Anda. Mau diletakkan kemana muka saya kalo Anda hanya memberikan barang ke panti asuhan yang ga sesuai dengan instruksi saya. Kebayang ga kalo saya udah bilang akan kirim tiga puluh single bed beserta sprei dan bantal tapi yang datang hanya sepuluh bed tanpa sprei dan bantal? Dan Anda dengan teganya meminta pihak panti asuhan mensyahkan jumlah yang anda bubuhkan dalam surat tanda terima. Tega sekali.... belum cukup disitu, ongkos untuk membawa bed ke panti asuhan juga anda makan karena pihak panti asuhan yang dibebankan untuk membayar truk sewa. Kemana hati nurani ANDA???" ujar Rama sambil berusaha menahan emosi.
Pak Feri dan Pak Idam makin tertunduk lesu karena tingkah polahnya udah terbongkar sama Rama. Izza pun ikut ga enak hati karena terkesan ia ikut berkomplot padahal dia ga tau sama sekali dengan sepak terjang kedua atasannya.
"Saya tunggu Anda berdua di kantor besok siang, silahkan pilih .. mau mengundurkan diri tanpa pesangon atau kita selesaikan di meja hijau aja, ya jadi urusan ke pihak berwajib atas tuduhan penyelewengan aset perusahaan. Saya sudah konsultasi dengan pengacara perusahaan. Semua sudah disusun buat pelaporan, tinggal serahkan aja ke pihak berwajib" ungkap Rama tegas.
"Gilaaa .... diam kaya orang santai, pas gerak kita kena bantai" ucap Pak Feri dalam hati.
"Nih anak kecil ga bisa dipandang sebelah mata, sadis juga .. sat set sat set ... habis kita dikuliti sama dia" kata Pak Idam dalam hatinya.
Rama menelpon Mang Ujang, ga lama kemudian, Mang Ujang sudah masuk ke ruangan dan membawa box kosong sesuai perintah Rama.
"Mang Ujang... Izza... masukkan semua berkas yang ada di ruangan ini termasuk yang ada didalam laci Pak Feri dan Pak Idam. Ingat ... tanpa ada sisa selembar pun" perintah Rama.
Mang Ujang dan Izza langsung menjalankan perintah dari Rama.
"Pak Feri dan Pak Idam... bisa saya minta kunci yang Anda semua pegang?" pinta Rama.
"Apa password deposit box ini?" tunjuk Rama. "Passwordnya ulang tahun saya Mas" jawab Pak Feri.
"Anda kira saya ini tau semua tanggal lahirnya karyawan? lagian ini kan aset perusahaan, kenapa pake tanggal lahir Bapak?" ujar Rama tambah kesal.
"Saya tulis ya Mas" kata Pak Feri sambil menulis disebuah kertas.
"Sekarang rapihkan dulu yang seharusnya Anda bawa, barang pribadi atau apapun yang memang milik Anda berdua. Setelah itu silahkan langsung pulang. Kita ketemu besok. Rasanya udah malas melihat kalian" kata Rama sambil duduk.
.
"Mas Boss kenapa sih Za? udah kaya mau makan orang aja. Galak banget" bisik Mang Ujang.
"Ga tau deh Mang, kita ikutin aja dulu yang tadi diperintahkan, daripada kita nanti kena omelan" saran Izza.
"Ini kali pertama Mas Boss marah, biasanya kan cengengesan aja. Serem ya ..." lanjut Mang Ujang.
Setelah Pak Feri dan Pak Idam pamit pulang. Rama ikut membantu Mang Ujang dan Izza merapikan semua, dia juga memanggil dua security buat membantunya. Hingga ga terasa sudah jam lima lewat.
"Oke udah jam lima lewat, semua udah rapih tinggal dibawa aja ke kantor. Oh ya Za .. kamu bilang aja sama Mba Gita kalo nanti saya dan Mang Ujang yang antar pulang ke rumah. Ini jalur macet kalo jam pulang kerja, kita juga harus ke kantor dulu buat nurunin barang. Kasian Mba Gita kalo harus nungguin kamu balik ke kantor" kata Rama sambil mengelap peluh didahinya.
"Gapapa Mas nanti saya naik taksi aja, atau ikut ke kantor juga gapapa. Mba Gita lembur hari ini, jadi masih di kantor sampai jam delapan malam" jelas Izza.
Rama mengambil HP nya dan mengirimkan chat ke Mba Gita, ga lama kemudian Mba Gita menelpon ke Izza untuk ikut arahan dari Rama. Toh mereka ga berduaan aja, ada Mang Ujang juga turut serta bersama mereka.
Sebelum masuk kedalam mobil, Rama menyempatkan diri mampir ke minimarket sebelah Hotel, membeli air mineral dan roti serta beberapa snack.
Seperti biasa petang ini macet tidak bisa bergerak. Rama memberikan air mineral dan roti ke Mang Ujang dan Izza yang duduk dibelakang.
"Berbuka dulu Za... seadanya, nanti kita makan yang bener kalo udah kelar nurunin barang ya" kata Rama
"Makasih" jawab Izza.
"Kamu ga perlu merasa bersalah atas kelakuan Pak Feri dan Pak Idam. Saya tau kamu ga berkomplot, tapi mereka memanfaatkan kamu yang masih polos di dunia kerja. Semoga menjadi pelajaran berharga buat kamu kelak ya Za. Kalo ada yang mencurigakan, kamu kan bisa tanya ke Mba Gita atau lapor ke saya. Ga kaya gini, harus saya kencengin dulu baru ngaku" ujar Rama.
"Ya.. makasih atas nasehatnya. Ini akan jadi pelajaran berharga buat Izza kedepannya" jawab Izza sambil menikmati hidangan berbukanya.
Izza sudah kehilangan kata-kata sejak Rama membongkar kelakuan atasannya (Pak Idam dan Pak Feri) didepan matanya sendiri, hal ini sesuatu yang bikin shock buat Izza.
Sesampainya di kantor mereka sholat dulu dan meminta security memasukkan semua dokumen dari mobil ke ruangan Rama.
Lima belas menit kemudian, mobil kembali meluncur buat mencari makan malam sambil mengantar Izza pulang. Kali ini Rama yang membawa mobil, karena Rama melihat Mang Ujang tampak berbeda, ga becanda kaya biasa.
"Mang Ujang sakit?" tanya Rama serius.
"Ga" jawab Mang Ujang singkat.
"Kok dari tadi banyak diam" protes Rama.
"Lagi males ngomong aja Mas Boss" jawab Mang Ujang lagi.
"Ada yang mengganjal sampe malas ngomong?" cecar Rama lagi yang bikin Mang Ujang tambah diam.
"Mang Ujang lagi jatuh cinta kali ya?" Izza ikut nimbrung buka suara.
"Boro-boro... yang ada jatoh tapi bukan cinta.... Ieu hate keur notog titajong boleksek (ungkapan yang menggambarkan hati dalam keadaan gundah)" ucap Mang Ujang dengan logat yang lucu.
"Apaan sih Mang... ga paham bahasanya" ujar Izza bingung.
"Ulah ceurik ku cinta, kalem weh (Ga usah nangis karena cinta, santuy aje)" sahut Rama becanda.
Rama agak mengerti bahasa Sunda karena pergaulannya luas dengan berbagai suku dan etnis. Tapi bahasanya ya bahasa pergaulan yang bisa dibilang kasar dan hanya untuk orang seusia yang udah dekat.
"Mas Boss bisa santuy... sepetik jari dua tiga cewe terlampaui" ujar Mang Ujang.
"Ngomong apa sih Mang... moody amat jadi lelaki. Udah ah daripada baper yang ga jelas mending kita cari obat laper dulu" ajak Rama.
"Sabar Mang... akan ada wanita baik buat orang sebaik Mang Ujang" nasehat Izza menyejukkan hati.
"Iya Za... mudah-mudahan Izza jodoh saya ya.. eh maksudnya jodoh Mang Ujang kaya Izza ..." ralat Mang Ujang buru-buru daripada dipelototin sama Rama.
Gantian Rama yang batuk-batuk denger Mang Ujang ngegombal yang udah jadul banget.
"Kenapa Mas Boss? Santuy atuh... sesama nikung jangan saling menikung.. hahahaha" kata Mang Ujang penuh kemenangan.
"Apaan sih Mang... ga ada yang nikung dan menikung... jalannya masih lurus aja dari tadi" sahut Rama mencoba meredam maksud Mang Ujang yang berfikir dia ngambil Ceu Lilis dari sisinya.
"Oh ya Za... mau makan apa? Tapi jangan jawab terserah, paling sebel saya dengernya" ucap Rama.
"Mi enak kali ya Mas Boss" saran Mang Ujang.
"Mi apa?" tanya Rama
"Minta kepastian dari si dia mau ga jadi kekasih hati" canda Mang Ujang yang kembali becanda.
Semua ketawa, Rama senang karena Mang Ujang udah seperti biasa.