
Izza berjalan dibelakangnya Alex, sementara dua pengawal tambahan berada dibelakangnya Izza, posisinya pun sudah sangat siap sedia menjaga.
Didepan ruangan ada dua lelaki tinggi tegap bersiaga didepan pintu.
Alex membuka pintu ruangan yang sudah dibooking, Alex sebelumnya diinformasikan oleh Rama tentang siapa yang akan ditemui oleh Izza dan diminta untuk memesan ruangan yang privat dan tidak besar.
Begitu melihat Pak Alfian dan istrinya serta Mba Anindya berada didalam ruangan, langkah Izza terhenti tepat didepan pintu yang terbuka. Alex menyingkir kesebelah kanannya Izza.
Kini semua saling berpandangan.
"Za..." sapa Mba Anindya ramah sambil menghampiri Izza yang masih diam mematung.
Tujuan Mba Anindya untuk memecah suasana yang terasa kaku.
Buru-buru kedua pengawal bersiaga karena instruksi dari Rama tidak ada yang boleh menyentuh Izza.
Mba Anindya menghentikan langkahnya. Diam-diam Alex video call dengan Rama.
"Maaf Bu.. tidak boleh mendekati Bu Izza, ini perintah langsung dari Pak Rama" kata pengawalnya Izza.
"Hei.. Izza ini sudah seperti adik saya sendiri, kenapa harus begini sih. Bilang aja sama Rama.. saya... Anindya... yang bertemu sama istrinya" ucap Mba Anindya agak kesal.
"Silahkan Ibu menghubungi Pak Rama langsung, kami hanya menjalankan perintah saja" jawab pengawal.
"Rama kenapa sih Za? sampe kaya gini penjagaan buat kamu" protes Mba Anindya.
Izza diam, dia tidak meminta para pengawalnya untuk menyingkir atau apapun.
Alex mengambil kursi untuk Izza duduk dekat pintu, kemudian pintu ditutup.
Izza kemudian duduk.
Mba Anindya kembali ke kursinya karena merasa kesal dengan para pengawalnya Izza.
"Bisa minta mereka semua keluar dari ruangan ini dulu Za? kita kan keluarga.. ga perlu seperti inilah.. kita juga ga bawa senjata api atau senjata tajam kok. Pengawal kami aja ada diluar ruangan kok. Lagipula tempat seperti ini kalo kami macam-macam bisa habis dihajar massa" pinta Pak Alfian.
Alex menuju ujung ruangan, tadi dia sudah menyiapkan laptop untuk sambungan teleconference secara daring dengan Rama.
"Kehadiran mereka tidak akan mempengaruhi pembicaraan kita. Apa yang ingin Bapak dan Mba sampaikan ke saya hingga datang kesini? khusus mencari atau kebetulan belaka? sepertinya saya bukanlah orang penting yang harus kalian semua cari kan?" tanya Izza masih dengan wajah dinginnya.
"Menemui kamu lebih tepatnya sih Za. Mba cari seminggu ini menghilang, ditelepon ga diangkat, ga taunya kesini. Lagi liburan atau apa nih?" jawab Mba Anindya mencoba rileks.
"Apa diantara kita masih ada urusan yang belum selesai?" tanya Izza.
"Jangan sombong begitulah Za.. apa karena sudah menjadi mantu keluarga Abrisam jadinya kamu bersikap seperti ini ke kami? kita kan sudah kenal lama, kok kaya ketemu sama orang asing" kata Pak Alfian.
"Ya kaya ga tau aja .. apa yang tidak bisa berubah kalo harta sudah dalam genggaman" sahut Istrinya Pak Alfian meremehkan Izza.
Buru-buru Pak Alfian menyenggol lengan istrinya untuk diam saja.
"Perjanjian kita harusnya sudah berakhir sejak lama, setelah Kakak dan kembaran saya meninggal. Memang saya tidak menyelesaikan misi terakhir untuk berpisah dari suami ... tapi suami saya sudah tau semua ceritanya dan beliau memaafkan dan menerima saya apa adanya" ucap Izza penuh penegasan.
"Udahlah.. lupakan perjanjian itu, kita berbincang sebagai kawan lama aja. Segala kesalahpahaman yang terjadi dimasa lalu ya ga perlu kita kenang. Buka lembaran baru" ajak Pak Alfian.
"Apa yang suami saya bicarakan ke kalian semua ? hingga meminta menemui saya disini" tembak Izza.
Pak Alfian dan Mba Anindya saling berpandangan.
"Kami semua sudah lama ga ketemu sama Rama, dia terlalu sibuk dengan Abrisam Group" jawab Mba Anindya.
"Apa suami saya mengancam untuk melaporkan tindakan kalian semua kepihak berwajib?" buru Izza penasaran.
Belum ada yang berani menjawab.
"Hanya karena ketakutan kalian semua, saya yang harus legowo dan menuruti kehendak kalian lagi? kemana hati nurani kalian semua ketika saya si anak empat belas tahun yang kehilangan orang tua dan tidak bisa berpikir apapun dalam melanjutkan hidup malah dijadikan boneka? pernah berpikir bagaimana perasaan saya dalam kondisi terjepit saat itu? bahkan baju pun hanya yang melekat dibadan. Beruntung saya tinggal di Panti Asuhan, walaupun menjadi boneka kalian semua, tapi saya masih punya hati nurani yang diajarkan oleh Ibu Panti Asuhan. Secara bodoh saya ikuti apa yang kalian semua mau tanpa membantah.. demi apa??? demi kembaran saya.. satu-satunya keluarga yang saya punya" Izza mulai meneteskan air matanya.
Pengawal yang berdiri dibelakang Izza langsung menyodorkan tissue ke Izza.
Izza mengusap air matanya sampai kering.
"Za.. kami datang membawa perdamaian.. kami mau minta maaf atas semua yang sudah terjadi" ucap Mba Anindya.
"Iya Za.. toh kami tidak meminta kamu untuk bercerai sama Rama. Silahkan lanjutkan rumah tangga kalian .. kami bahagia melihat kamu sekarang sudah bahagia" kata Pak Alfian.
"Urusan minta maaf... kayanya agak terdengar dipaksa ya.. saya yakin ada suami saya dibelakang kalian semua untuk datang kesini secara khusus menemui saya. Jujur aja.. toh sudah biasa kan hati ini tersakiti oleh kalian semua" ungkap Izza agak mulai bangkit.
"Ga usah buruk sangka dulu Za.. rileks.." sahut Mba Anindya.
"Apa yang mau diminta dari saya? ga perlu basa basi" tanya Izza.
Pak Alfian dan Mba Anindya diam.
Izza berdiri. Para pengawalnya sudah kembali bersiaga disampingnya Izza. Alex pun buru-buru mematikan laptopnya.
"Kalo sulit untuk bicara, silahkan tinggalkan pesan. Titip ke Bang Alex aja suratnya. Saya mau istirahat, saatnya video call dengan suami dan anak" kata Izza sambil membalikkan badan kemudian berjalan keluar.
"Za..." panggil Mba Anindya.
Izza tidak menoleh tapi menghentikan langkahnya.
"Rama menggunakan kekuasaan terhadap Audah Hotel untuk dijual, Mba ga boleh ikut campur sedikitpun dan tinggal terima bagian harga penjualan. Kamu tau kan Za kalo ada surat penyerahan dari Mba ke Rama? Rama tidak menunjukkan surat perjanjian tambahan ke pihak lawyer. Bodohnya Mba juga ga minta salinannya karena percaya sama Rama. Om Alfian akan membeli bagian yang Rama punya, tapi sepertinya Rama ga mau, Mba ga tau alasannya. Om Alfian, lawyer beliau sampai perwakilan perusahaan sudah mencoba membuat janji sama Rama tapi selalu ditolak oleh sekretarisnya" papar Mba Anindya dengan lancar.
"Suami saya itu akan berpikir panjang jika memutuskan sesuatu. Saya tidak tau kenapa beliau tidak mau menjual ke Pak Alfian, tapi sekedar pengetahuan kalian semua.. pemilik Jaya Resort ini sudah tertarik untuk membeli Audah Hotel" kata Izza.
"Za.. prospeknya bagus untuk Audah Hotel kedepannya" rayu Mba Anindya.
"Silahkan langsung ke suami saya aja Mba Anin.. keputusan beliau ga akan berubah hanya karena rayuan saya. Siapalah saya Mba .. kapan waktu beliau tidak menginginkan saya.. bisa aja kan saya dibuang. Mba Anin lebih kenal suami saya dibanding saya kan?" ujar Izza.
"Za.. hanya Audah Hotel harapan keluarga kami Za.. perusahaan Papa sudah mau collaps karena kasus yang Papa hadapi. Mama sudah pergi keluar negeri, tinggal sama adiknya. Perusahaan Om Alfian pun masih beririsan sama perusahaan Papa.. masa kamu tega kami hanya pakai kolor aja" ucap Mba Anindya.
"Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, tapi saya akan coba meminta suami saya untuk bertemu sama Mba Anindya dan Pak Alfian guna menuntaskan masalah ini. Perlu diingat.. saya bukan bagian dari Abrisam Group, hanya menjadi bagian keluarga Abrisam. Kalian semua orang bisnis pasti paham kan?" janji Izza.
Izza melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar diikuti oleh dua pengawal. Alex menyusul sambil membawa laptopnya.
💐
"Cik.. katanya Mas Akmal, kamu berminat sama tas punyanya Izza? kayanya biasa aja modelnya" tanya Candra ketika merebahkan tubuhnya diatas kasur.
"Iya... itu ga biasa Lung... limited edition. Bunda dulu punya tapi kan kejual" jawab Lexa singkat.
"Udah ga ada toko yang jual barang itu lagi? kan punya banyak toko langganan, siapa tau mereka ada stok" ujar Candra.
"Udah dibilangkan.. limited edition.. pokoknya Alung ga paham deh dunia per tas an yang kaya gitu. Nilainya sekarang bisa tiga kali lipat prelovednya juga" kata Lexa yang masih bete.
"Emang berapa harganya?" tanya Candra.
"Kalo liat di web resminya merek itu sepuluh tahun yang lalu aja seratus lima puluh jutaan, mungkin sekarang bisa sekitar lima ratusan" jawab Lexa.
"Kok turun banget harganya dari ratusan juta jadi ratusan ribu?" tanya Candra dengan entengnya.
"Lima ratus juta Lung... alias setengah milyar" jelas Lexa.
"Ya Allah... ga salah tuh? tas begitu doang? mending beli rumah" tanya Candra kaget.
"Ga ada deh investasi tas kaya gitu... big no. Jadi jangan beli tas yang harganya ga masuk akal. Mending kamu beli mas batangan atau tanah sekalian, ga akan turun nilainya" kata Candra tegas.
"Itu buktinya tas bisa naik kok harganya" jawab Lexa.
"Sekali tidak ya tidak.. Alung kasih kepercayaan untuk mengelola uang keluarga kecil kita untuk diatur secara bijak dan cermat" lanjut Candra.
Lexa langsung manyun.
"Jangan ngambek dong.. nanti baby dalam perut ini ikutan ngambek.. kan papanya mau nengokin malam ini" ucap Candra sambil memeluk Lexa dari samping.
"Udah enggap Lung.. kayanya malas rasanya melayani hal yang satu itu" tolak Lexa dengan halus.
"Kayanya baru dua puluh lima minggu, tapi gede banget ya perutnya yang sekarang, waktu hamil si boy kayanya ga sebesar ini. Padahal gede juga keluarnya" ucap Candra.
"Jadi maksudnya gendut banget gitu?" balik Lexa.
"Bukan begitu cintaku.. ihh kalo ngambek malah bikin gemes deh" rayu Candra makin mendekat ke Lexa.
"Lung.. dibilangin udah engap kalo deket-deket gini" ujar Lexa.
Suasana hati perempuan saat hamil kadang tak bisa ditebak. Bisa naik dan turun seperti ayunan. Kondisi ini biasanya terjadi karena perubahan hormonal yang dialami ibu hamil.
Sebagai seorang suami, Candra sudah menyiapkan hati dan pikirannya agar mampu mengatasi perubahan suasana hati Lexa yang lebih emosional selama kehamilan.
Candra termasuk suami yang ekstra sabar menghadapi istrinya, jangan lagi hamil, wong ga hamil aja Lexa kadang masih muncul gaya lamanya. Candra menanamkan dalam pikirannya bahwa seluruh fase ini bersifat sementara. Hamil akan ada masa akhirnya melahirkan, bukan selamanya. Candra juga ga masukin ke hati segala ocehannya Lexa. Candra juga sangat bawel dalam hal kesehatan kandungan, memastikan apakah Lexa cukup rehat dan mengikuti anjuran dokter dengan baik bahkan mengambil pengasuh untuk menjaga Boy.
"Cik.." bisik Candra.
"Apa..." jawab Lexa.
"Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.." kata Candra.
"Terus???? maksudnya apa?" ujar Lexa kesal.
"Tiap hari aku bengong mikirin kamu" lanjut Candra.
"Gombal aja.. padahal mau bilang Acik jelek tuh karena ndut begini" jawab Lexa.
"Ya ampunnn.. ini kan hasil perbuatannya Alung.. lagi tambah seksi kok.. bikin Alung jadi teracik-acik selalu" rayu Candra.
"Alung malu ga kalo jalan sama Acik?" tanya Lexa.
"Malu kenapa? kok kehamilan kali ini banyak insekyurnya sih? ada apa?" tanya Candra balik.
"Ga tau..bawaannya mellow aja, mungkin karena baby girl kali ya.. jadi agak sensi" ujar Lexa mellow.
"Cik... kamu tuh kaya lagu Sheila on 7" ucap Candra.
"Yang mana?" tanya Lexa penasaran.
"Anugerah terindah yang pernah kumiliki" kata Candra.
"Masih aja sih Lung hobi banget ngereceh kaya gitu" tukas Lexa.
"Cuma sama kamu kok Acikku... beneran deh" jawab Candra.
"Tapi kalo sama Izza kenapa Alung sama Mas Akmal keliatan hepi banget.. banyak ketawanya" Lexa rupanya cemburu.
"Acik tau kan dia istri orang.. lagi pake logika aja, kalo mau macam-macam masa di kandang sendiri, di ruang terbuka pula.. apa ga cari penyakit itu namanya. Kalo kami mudah akrab, ya karena ada kesamaan latar belakang .. kami sama-sama dari keluarga elit.. ekonomi sulit, kemudian qadarullah, diberikan banyak nikmat sama Allah untuk mengubah nasib dengan berdo'a dan kerja keras pastinya. Maaf ya.. bukan bermaksud menilai wanita lain dihadapan Acik, atau coba Acik pikir pas ngobrol sama dia.. Izza kaya punya magnet yang mampu menarik lawan bicara untuk fokus ke dia.. bener ga?" papar Candra.
"Iya juga Lung.. masa Acik sampe ga tau malu ya nawar tasnya dia, secara kan baru kenal. Bahkan ada banyak yang kemarin lewat didepan kami, ngeliatin dia aja. Inner beautynya sangat kuat, jadi wajahnya terkesan teduh. Buktinya suami dia bertekuk lutut bahkan sangat percaya dia pergi tanpa didamping suami" kata Lexa.
"Ini nyindir atau gimana? Alung bukannya ga mau kamu pergi sendiri, tapi khawatir kamu kerepotan kalo jalan sendiri. For your information, dia juga sendiri kok.. kan ada pengawalnya yang suami istri, terus sore tadi ditambah lagi dua pengawal.. mana badannya gede-gede banget. Pengawalnya pesan ruang makan yang tertutup, ada tamu sih keliatannya, ga tau deh tamunya nginep disini atau ngga" papar Candra.
"Widih... kita aja ga pernah pake pengawal ya" ucap Lexa takjub.
🌷
Memikirkan hal yang telah lalu memang sesuatu yang wajar, selalu memikirkannya setiap kali malah menjadi sakit sendiri.
Mengalihkan pikiran dari hal yang berbau kesedihan dan rasa kecewa adalah cara terbaik untuk melaluinya.
Izza berdiam dipinggir pantai dekat kamarnya. Duduk sendiri di pasir. Para pengawal mengawasi dari jauh.
"Mba.. udah jam sebelas.. angin makin kencang, kalo Mba mau ga tidur, lebih baik di kamar aja nonton TV atau Mba duduk di teras depan kamar" saran Alex yang menghampiri Izza setelah Mba Nur tidur.
"Iya Bang.." jawab Lexa sambil berdiri.
"Sabar ya Mba.." semangat Alex.
"Makasih" jawab Izza singkat.
Izza berjalan didepannya Alex, para pengawal mengikuti dibelakangnya Alex.
"Rombongan tadi sudah langsung pulang Mba" lapor Alex.
"Oke.." jawab Izza.
"Mba baik-baik aja? atau perlu ditemani sama Nur?" tanya Alex.
"Ga usah.. pengawalnya suruh tidur aja ya ... kasian" pinta Izza.
"Ya" jawab Alex.
.
Izza meneruskan duduk di teras, sekarang sudah memakai jaket tebal untuk menghadapi dinginnya air laut. Dia juga sudah menyeduh jahe hangat sebagai teman malam ini.
Terlalu banyak yang berkecamuk dalam otaknya Izza hingga sulit untuk diurai satu persatu. Tanpa terasa air matanya sudah membasahi kedua pipinya.
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari.
"Jangan biarkan kamu terpaku untuk memikirkan kesedihan dan kekecewaan. Saat kamu mulai memikirkannya, segera alihkan dengan memikirkan hal bahagia lainnya. Kamu punya kami yang sangat mensupport apapun yang kamu lakukan dan yang terpenting love yourself" kata Rama yang sudah ada dibelakangnya Izza.
Izza langsung memeluk Rama, keduanya berpelukan sangat erat sekali.
"Bagian terbesar dari mengenang adalah mengkritisi apa yang terjadi pada diri kamu. Ketika hal buruk terjadi, bukan berarti kamu gagal. Kamu sedang mencoba hal yang baik. Kamu harus ingat ada banyak hal yang datang dan pergi, yang terkadang hasilnya diluar rencana. Belajarlah lebih menikmati hidup dan mencintai diri kamu sendiri. Bukan berarti melupakan. Mulailah untuk memaafkan penyebab semuanya. I love you.. You did it De... " puji Rama.
"I love you too.." jawab Izza.
"Mas Boss.. urusan ailopyu entar dulu deh.. saya ngantuk berat ini. Kasian Maryam juga udah mabok laut" teriak Mang Ujang.
"Ya udah sana pesan kamar" perintah Rama.
"Pesan kemana? resepsionis juga udah pada molor" keluh Mang Ujang.
"Ya buka tenda disini" jawab Rama.
Rupanya Rama sudah memesan kamar untuk Mang Ujang, Alex datang setelah Rama telepon. Mengantarkan Mang Ujang dan Maryam ke kamarnya.