
"Hello, kids! Please answer my greeting. Good morning (Halo, anak-anak! Ayo jawab salam Bu Guru ya. Selamat pagi)" sapa Ibu Gurunya Sachi dengan sangat ramah dan gembira.
"Good morning Miss (Selamat pagi, Bu Guru)" jawab para siswa.
"I can’t hear clearly kids... Please answer my greeting louder. Good morning (Ibu masih tidak jelas dengarnya anak-anak. Ayo jawab salam Bu Guru lebih kencang ya. Selamat pagi)" kata Ibu Guru penuh semangat.
"Good morning Miss (Selamat pagi, Bu Guru)" jawab anak-anak penuh semangat juga.
"That’s good. You’re all great (Nah, bagus. Kalian semua hebat)" puji Ibu Guru.
"Now I want to know, who’s eat breakfast this morning? (Sekarang Bu Guru mau tau, siapa yang sudah sarapan pagi ini?)" tanya Ibu Guru lagi.
"Me ... me... me (Saya)" jawab anak-anak saling rebutan.
"That’s great. Is there anyone who didn’t eat the breakfast? (Bagus. Ada yang belum sarapan?)" kata Ibu Guru.
"No ... no ... no..(Tidak)" jawab pada siswa lagi.
Izza dan yang lainnya melihat kegiatan para siswa dilayar lebar yang disediakan disebuah ruangan yang luas dan dilengkapi dengan tempat duduk yang nyaman. Ruangannya pun ber AC, jadi para penunggu bisa nyaman untuk menunggu disana. Ada pula buku-buku bacaan tentang parenting.
Ada seorang Ibu yang menghampiri Mba Nur yang sedang duduk bersama Izza.
"Nur .. ini siapa? manisnya.. " puji salah satu Mamanya teman Sachi.
"Ini Mamanya Sachi Bu" jawab Mba Nur asal.
Mba Nur memberikan tanda ke Izza untuk mengiyakan. Izza paham, pasti ada sesuatu yang ditutupi oleh Mba Nur, tapi pasti dilakukan demi kebaikan Sachi.
Sachi memang baru masuk tahun ini ke sekolah yang sekarang, sebelumnya Sachi bersekolah lebih jauh lagi. Makanya belum paham banget kalo Sachi lebih banyak didampingi Rama kalo ada acara sekolah.
"Wah baru keliatan ya Mamanya .. pantas Sachinya cantik.. ternyata punya Mama yang cantik pula" tambah Mamanya teman Sachi.
Izza hanya tersenyum.
"Yuk kita ngopi-ngopi cantik di coffe shop depan sekolah, walaupun depan sekolah tetap aja harus bawa mobil, kan jalan besar dan muter dulu" ajak Ibu-ibu lainnya.
"Ayo Mamanya Sachi .. anak-anak masih lama kok, kan disini juga para pengasuhnya ada. Tenang aja. Pihak sekolah juga bertanggung jawab, mereka tidak akan menyerahkan anak kita ke orang yang tidak dikenal" ujar seorang Ibu meyakinkan.
Untunglah tadi Mas Haidar menyarankan agar Izza memakai baju milik Mba Mentari yang ukuran tubuhnya sama kaya Izza. Ditambah tas mini yang harganya mencapai harga lima motor matic terbaru. Izza berusaha menolak tawaran tersebut, tapi Pak Isam memperbolehkan dan meyakinkan Izza untuk menjaga penampilannya karena Sachi bersekolah disebuah sekolah internasional dimana banyak anak kaum jetset dan anak artis sekolah disana.
Pak Isam dan Mas Haidar yang memilihkan pakaian serta tas dan sepatu untuk Izza. Kebetulan ada dress panjang milik Mba Mentari dengan motif sabby chic dominan kearah biru dipilihkan untuk Izza. Kebetulan Mba Mentari juga ada jilbab polos dengan warna senada (walaupun belum berhijab, sebagai muslimah, Mba Mentari juga punya koleksi jilbab dan scarf). Pak Isam yang memilihkan tas simpel warna navy agar sama dengan flat shoes warna senada.
.
Rombongan Ibu-ibu yang berjumlah lima orang naik ke mobil milik Pak Isam yang baru dibeli tiga bulan yang lalu.
"Memang Sachi itu keliatannya dandan simpel tapi berkelas. Diantar ke sekolah juga mobil selalu ganti-ganti. Memang Ayahnya Sachi itu kerja di perusahaan apa ya Mom?" tanya salah satu Ibu.
"Perusahaan keluarga" jawab Izza santai.
"Ini di jok ada logo huruf A besar kaya gini, jangan-jangan Abrisam Group ya? suami saya rekanan untuk lift dan eskalator semua proyek yang dikerjakan Abrisam Group. Sudah empat tahun belakangan ini" sahut seorang Ibu.
"Ayahnya Sachi berarti generasi kedua ya, pertama pasti Opanya Sachi" kata lainnya.
Izza hanya bisa tersenyum, apa yang dikatakan oleh Ibu-ibu memang benar adanya, dia khawatir salah menjawab jika banyak bersuara. Padahal ga banyak yang Izza tau tentang keluarga Pak Isam dan segala gurita bisnisnya. Yang dia tahu hanya keluarga Abrisam merupakan pengusaha kelas kakap di Ibukota.
"Mamanya Sachi ternyata punya tas limited edition ini? ya ampun.. ini lagi diburu sama para pengoleksi tas, keluar sekitar lima tahun yang lalu dan di Indonesia cuma ada sepuluh tas. Mau dijual ga? gimana kalo saya beli di harga dua ratus juta? kalo ga salah dulu harganya sekitar seratus lima puluhan juta" tawar salah satu Ibu yang tampaknya paham dengan branded ternama.
"Maaf Mom .. saya tidak bisa memutuskan sendiri, perlu berdiskusi dulu. Lagipula ini hanya untuk koleksi bukan dibuat sekedar investasi. Nanti jika diijinkan, saya akan hubungi kembali" kata Izza mencoba ngeles.
"Wah istri sholehah ya, apa-apa tanya dulu ke suaminya. Tapi biasanya para suami ga pernah peduli tuh sama koleksi kita, yang penting happy istrinya. Kita dandan cantik dan berkelas kan juga untuk menaikkan namanya juga. Orang pasti bilang, wah istrinya Bapak itu tampilannya berkelas, pantaslah.. istrinya salah satu pimpinan perusahaan X yang gajinya pakai US dollar" ujar salah satu Ibu dengan hebohnya.
"Iyalah .. para suami kan cari uang buat siapa? buat anak istri kan? lebih baik habis buat kita daripada buat wanita lain .. by the way, kita ada arisan loh, baru mulai satu lot, yang main baru sebelas orang, cuma dua puluh juta kok.." kata Ibu yang dandanannya paling mentereng.
"Nanti saya bicarakan dulu ya" ucap Izza.
"Udah kaya pengantin baru aja, apa-apa lapor suami. Disisihkan dua puluh juta mah okelah untuk istri seorang CEO Abrisam Group, uang receh pastinya, buat bayar listrik aja ga cukup .. hehehe .. ya kan mom?" ujar Ibu yang satu lagi.
"Maaf Mba Izza .. Mas Rama tadi telepon, mungkin HP nya Mba Izza sedang ga aktif ya? bisa tolong dicek dulu" pinta supirnya Pak Isam dengan sopan.
"Hp saya ketinggalan, tadi lagi dicharge di kamar. Nanti ya ditelepon balik pakai HPnya Mba Nur kalo sudah sampai di sekolah" jawab Izza.
"Baik, nanti saya laporkan ke Mas Rama" jawab supirnya Pak Isam.
Izza ikut kumpul karena untuk menjaga martabat Rama dimata orang tua temannya Sachi. Rupanya Rama tau dari Mba Nur yang mengabarkan kalo Izza diajak nongki syantek sama para Mama muda sosialita.
"Maaf Mba .. Mas Rama mau bicara" kata supirnya Pak Isam sambil menyerahkan HP miliknya.
"Wahhh... bucin banget ya, masih jam sepuluh pagi udah dicariin" ledek Ibu lainnya.
"Suami kita mah jarang nyari .. kecuali ada maunya .. ya gak Mom?" ucap lainnya lagi.
Mereka tertawa bersama.
.
"Ya .. " Izza hanya menjawab singkat.
"Saya transfer ya ke rekening kamu, siap-siap aja diminta traktiran karena baru gabung. Atau kalo gengsi kan pada rebutan bayar, nanti kamu yang langsung nyodorin kartunya. Sekarang kamu representasi dari keluarga Abrisam. Tadi pagi saya dikirimin foto OOTD kamu, pas .. not to much, elegant .. and don't worry about what to wear today, your smile goes with any clothes (Jangan khawatir dengan apa yang kamu pakai hari ini, senyum kamu cocok dengan pakaian apa pun yang kamu kenakan)" papar Rama.
🏢
Rama mentransfer uang ke Izza sebesar tiga juta rupiah. Bagi kaum sosialita sekedar ngopi aja bisa habis sekitar segitu.
"Pak ... Pak .. Pak Rama" panggil Farida.
Rama kaget karena Farida sudah ada didepan mejanya.
"Kapan kamu masuk? kok ga ketok pintu dulu?" tanya Rama rada marah.
"Udah sampe merah deh nih tangan saya ngetok pintu ruangan Bapak, ga juga ada yang jawab. Saya masuk pun Bapak masih liatin telpon. Senyum juga lebar banget sampe hampir nyentuh kuping tuh bibirnya" ledek Farida yang memang suka becanda.
"Ga usah banyak komenin diri saya, ada apa?" tanya Rama tegas untuk menutupi malunya.
"Ini saya temukan dilaci meja kerja Mba Gita, mungkin Bapak memerlukan" kata Farida sambil memberikan amplop coklat ke Rama.
Rama melihat sekilas kemudian meletakkan keatas mejanya.
"Ini sudah sepuluh berkas saya cek, ada yang sudah ACC dan ada yang perlu direvisi. Serahkan kebagian terkait, note sudah saya tulis disana langsung" jelas Rama.
Farida berjalan menuju pintu ruangannya Rama untuk kembali bekerja.
"Rida .. apa semua wanita bisa menyimpan rasa sakit mendalamnya hingga ga tampak oleh mata orang lain?" tanya Rama penasaran.
Rida membalikkan tubuhnya.
"Ga semua sih Pak, tapi kalo ada.. wanita itu pasti sangat kuat. Kadang kita memilih untuk terlihat bahagia karena rasanya malas untuk menjelaskan mengapa kita bersedih pada mereka yang bahkan tidak berusaha untuk mengerti kita" ucap Farida.
"Ribet ya perasaan wanita.. buat apa pura-pura bahagia? sedih kan ga ada salahnya" kata Rama.
"Ada sedikit saran dari saya, silahkan Bapak pikirkan bisa diterapkan atau tidak. Jika kita tidak bisa menjadi pensil untuk menulis kebahagiaan orang lain, jadilah penghapus untuk menghilangkan kesedihan orang tersebut. Kaum kami tidak pura-pura bahagia, tapi kami mencoba bahagia ditengah kondisi apapun" ujar Farida.
"Oke .. makasih sarannya, silahkan kamu kembali bekerja" kata Rama.
💐
"Wah Mama Sachi memang benar-benar tau mengucapkan salam perkenalan ya, kita ditraktir loh" ucap Mama temannya Sachi.
"Makasih ya Mom" ucap lainnya.
"Ayahnya Sachi yang meminta saya untuk mengucapkan salam perkenalan untuk Mommy-mommy kece ini" jawab Izza yang memang sangat luwes saat berbicara.
"Salam untuk Ayahnya Sachi" kata Ibu lainnya.
"Insyaallah saya sampaikan nanti salamnya" janji Izza.
.
Jam tujuh malam, Rama baru meninggalkan Head Office Abrisam Group, dijemput sama Mang Ujang.
Tadi Mang Ujang datang sama salah satu asisten rumah tangga yang bisa mengendarai motor milik Rama. Jadi motor sudah dibawa pulang duluan.
"Cape banget keliatannya Mas Boss" sapa Mang Ujang.
"Ga tidur saya kemarin. Pulang udah jam satu an, ngecek kerjaan terus udah mau subuh langsung ke Mesjid. Motoran ke HO dan kontinu meeting. Sekarang baru kerasa capenya" adu Rama sambil merebahkan kursinya.
"Kita mau langsung pulang atau mampir kemana dulu nih Mas Boss?" tanya Mang Ujang.
"Ke Audah Hotel aja. Saya mau tidur disana. Terserah Mang Ujang mau tidur di Hotel boleh, di rumah pun ga dilarang. Yang penting besok saya harus ada di PIK jam sembilan pagi" kata Rama.
"Ke Audah? kan ada Mba Izza di rumah, emang ga mau nemenin?" tanya Mang Ujang.
"Ada banyak orang disana" jawab Rama.
"Kasian kan Mas .. dia lagi sedih. Tadi dia cerita pas lagi makan bareng di dapur" oceh Mang Ujang.
"Makan di dapur? kenapa ga makan bareng Papi?" tanya Rama.
"Boss Papi kan pergi mancing di Pulau, sore pulangnya dari sana. Sachi tidur siang, ya mungkin ga ada teman jadi ikut makan bareng di dapur" jelas Mang Ujang.
"Dia cerita apa?" tanya Rama.
"Ya kejadian semalamlah. Kalo saya jadi dia mah udah nangis gegulingan kali, secara double kehilangan dalam satu waktu. Udah mah kehilangan Kakak.. eh segala jenazahnya dicolong orang ga dikenal" papar Mang Ujang.
"Karma mungkin Mang" ucap Rama sambil memejamkan matanya.
"Karma dari mananya Mas Boss?" tanya Mang Ujang.
"Kakaknya yang meninggal itu adalah orang yang membakar rumah keluarga Mba Nay dulu, Mamanya Sachi" sahut Rama.
"Apa???? kok kaya mbulet gini... dulu Kakaknya bakar rumah Mamanya Sachi, sekarang adiknya dekat sama Sachi. Apa harus waspada sama Mba Izza? bisa aja kan dia dendam karena Kakaknya masuk penjara gara-gara itu" kata Mang Ujang sotoy.
"Jangan kejauhan mikirnya, Izza aja ga ketemu Kakaknya udah lima tahun, bahkan dia ga tau kalo Kakaknya di penjara. Makanya dia bisa sekuat ini dan kayanya legowo menerima kenyataan yang ada" jawab Rama.
"Perasaan ruwet amat hidupnya. Eh tapi Mas Boss.. beneran nih ga ada perasaan sayang gitu ke Mba Izza? Kalo emang Mas Boss ga minat ya saya mau bawa dia pulang ke kampung. Abah udah oke aja kalo Mba Izza tinggal disana" kata Mang Ujang.
"Lagi kuliah kok malah disuruh tinggal di kampung, jangan ngadi-ngadi jadi orang" ujar Rama kesal.
"Tuh kan dia marah .. itu tandanya suka tuh sama Mba Izza. Jadi orang jangan gedein gengsi lah. Tinggal ajak nikah kelar deh perkara" kata Mang Ujang.
"Ga usah ngatur hidup saya bisa?" jawab Rama.
.
Mang Ujang ngoceh ngalor ngidul, bak mendengar dongeng, Rama pun akhirnya tertidur. Begitu sampai di Audah Hotel baru Rama dibangunin.
"Mang buka kamar aja, saya mau tidur sendiri" kata Rama begitu keluar dari mobil.
🏠
"Sachi.. tidur ya, udah jam delapan nih" ajak Izza penuh kelembutan.
"Iya" jawab Sachi menyudahi main bonekanya.
"Kita ke kamar mandi dulu ya, pipis, gosok gigi terus cuci muka, tangan dan kaki" pinta Izza sambil membawa Sachi ke kamar mandi.
Mba Nur merapihkan mainan Sachi.
Izza dan Sachi kini sudah di ranjang untuk tidur.
"Aunty .. kenapa Ayah belum pulang?" tanya Sachi.
"Mungkin masih kerja" jawab Izza.
"Ayah udah ga sayang sama Sachi" kata Sachi.
"Masih bilang Ayah ga sayang sama Sachi? Ayah yang meminta untuk Aunty Izza buat nemenin kamu selama Ayah lagi sibuk. Gapapa kan?" bohong Izza.
"Oh jadi Ayah ditukar sama Aunty Izza? gapapa .. Sachi happy banget, besok bisa tungguin Sachi di Sekolah?" ucap Sachi.
"Ga bisa sayang, Aunty besok ada kuliah pagi, jadi ga bisa nemenin kamu" jelas Izza.
"Tapi Aunty pulang kesini kan? Aunty ga balik ke Panti Asuhan lagi" harap Sachi.
"Rumah Aunty Izza disana sayang. Ya kaya Sachi, rumahnya disini jadi pulangnya kesini. Tapi Aunty janji akan main lagi kesini kalo ga ada jadwal kuliah ya" jelas Izza dengan bahasa sederhana.