HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 38, Big Boss



Rama dan Izza masih berada di ruang meeting.


"Selama kerja disini, kamu digaji kan Za?" tanya Rama.


"Alhamdulillah digaji, jumlahnya pun sesuai dengan yang diinformasikan oleh Pak Isam saat akan kerja disini" jawab Izza.


"Ok ... oh ya satu hal lagi, ketika kamu bekerja secara formal, harusnya kamu punya surat perjanjian kerja, memang kamu ga khawatir kalo saya ga bayar gaji kamu?" tanya Rama lagi.


"Berarti bukan rejeki saya kalo perusahaan ini dzolim terhadap karyawannya" jawab Izza.


"Hei .. ini dunia kerja, malah mau berceramah tentang agama disini. Saya biar kata keliatannya cuek juga sedikit paham kalo bukan rejeki kita ya pasti ga akan jadi milik kita. Tapi dalam dunia kerja itu, setiap yang kamu berikan buat perusahaan layak dihargai, termasuk salah satunya itu mendapat gaji" saran Rama.


"Ya.. insyaa Allah sarannya akan saya ingat. Saya juga meminta maaf jika selama bergabung disini belum bisa memberikan yang terbaik buat perusahaan, sebagai pribadi pun juga memohon maaf jika ada kesalahan ucapan dan perilaku saya dalam berkomunikasi dengan Kak Rama selama ini" ucap Izza sopan.


"Hari ini saya minta ke kamu, tolong semua yang ada didalam kardus yang kita bawa kemarin dari Hotel, bisa dirapihkan sesuai kategorinya. Mba Gita juga akan saya minta buat bantu kamu hari ini. Waktunya fokus kuliah lagi yang benar Za, cari ilmu sebanyak mungkin, cepat lulus dan melamar kembali kesini. Saya tunggu Izza yang baru, yang sudah bisa belajar dari pengalaman hidup dan lebih mumpuni ilmunya" ucap Rama.


"Terimakasih atas penawarannya, kita liat nanti saja. Saya ga berani berandai-andai terlalu jauh. Step by step dulu aja, menyelesaikan kuliah dulu, baru nanti mikir mau bagaimana setelah lulus kuliah. Sampaikan salam hormat saya untuk Pak Isam" kata Izza.


"Insyaa Allah akan saya sampaikan" jawab Rama.


"Maaf kalo saya tidak bisa langsung berpamitan sama Pak Isam" lanjut Izza.


"No problem ... Sometime you need to step outside, get some air and remain yourself of who you are and who you want to be (Terkadang kamu perlu keluar, menghirup udara yang segar dan mengingat kembali siapa dirimu dan mau jadi apa kedepannya)" ucap Rama sambil bergegas menuju pintu keluar ruang meeting.


Izza berdiri ketika Rama beranjak jalan.


"Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think (pendidikan bukanlah mempelajari sebuah fakta, tetapi melatih pikiran untuk berpikir)" ungkap Izza.


Rama membalikkan tubuhnya menghadap kearah Izza.


"And you did it (dan kamu berhasil) .. Kak Rama mampu berpikir dengan cepat, saya rasa bukan karena faktor akademis saja, lebih dari itu, mungkin pengalaman hidup yang membuat Kakak bisa seperti sekarang ini. Sekali lagi terima kasih sudah banyak memotivasi saya" puji Izza.


"One more thing .. tanpa sadar kamu sering bertindak sesuai dengan keinginan orang lain, bukan sesuai dengan hati dan keinginan diri sendiri, jika hal ini kamu biarkan terus menerus maka kamu kan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mempunyai prinsip dengan hidup kamu sendiri. Berubahlah Za ... jangan selalu berlindung dibelakang Mba Gita terus. Kita ga pernah tau, orang tempat kita berlindung itu akan lebih dulu meninggalkan kita atau kita yang justru meninggalkan dia" ujar Rama sambil berlalu meninggalkan Izza di ruang meeting, Izza masih terdiam mencerna kata-kata Rama.


.


Heboh sekantor gara-gara keputusan fenomenal sang Big Boss yang baru. Langkah yang dibilang terlalu terburu-buru untuk diputuskan. Belum lama menduduki jabatan ditampuk tertinggi, Rama cukup banyak membuat keputusan yang dianggap terlalu berani dan ga pakai basa-basi. Termasuk dia juga tidak peduli dengan pembelaan para bawahannya.


Awalnya semua berpendapat Rama masih anak kemarin sore di kantor ini, jadi hal yang tidak diprediksi akan bisa mengubah aturan yang ada di jaman Pak Isam maupun Haidar. Tapi keras kepala dan otoriter menjadi ciri khas dari Rama, sifat yang berbeda dari Papi dan Kakaknya. Mungkin karena dia besar diluar tanpa bimbingan orang tua.


.


Setelah kejadian tersebut, bisa dikatakan sekarang para karyawan segan berhadapan dengannya secara langsung, khawatir salah ucap atau perbuatan yang ga berkenan di mata Rama maka akan berdampak dalam keberadaan karyawan di kantor ini.


Suasana kantor pun menjadi lebih kaku dari sebelumnya. Bagi yang masih berniat untuk kerja di Abrisam Group, mereka akan kerja sebaik mungkin agar tidak sampai diberhentikan oleh Rama. Tapi bagi yang terbiasa kerja dengan santai, mereka sudah ancang-ancang membuat lamaran kerja ke perusahaan lain.


Rama sudah melaporkan kepihak HRD tentang keputusannya memberhentikan Pak Feri dan Pak Idam atas dasar surat pengunduran diri yang mereka ajukan sendiri.


Rama juga sudah langsung berkonsultasi dengan pihak pengacara perusahaan untuk kasus ini. Semua bukti yang dia kumpulkan, sudah diserahkan untuk dipelajari. Pihak pengacara meminta waktu untuk mempelajari guna menentukan langkah hukum yang akan ditempuh.


⬅️⬅️


Sebenarnya, jauh sebelum kasus ini mencuat, Nay sempat memberitahukan tentang sepak terjang Pak Feri dan Pak Idam ke Haidar, tapi saat itu Haidar masih tidak percaya karena kedua karyawan tersebut sudah lama bergabung dengan Abrisam Group. Posisi Nay sebagai Sekretarisnya Haidar, makin memungkinkan Nay mendapatkan bukti segala kecurangan Pak Feri dan Pak Idam. Berkas copy an laporan "asli tapi palsu" yang Nay dapat, tadinya mau Nay berikan ke Haidar, tapi kejadian kebakaran rumahnya meluluh lantakkan niatnya.


Berkas itu secara ga sengaja terbawa sama Mba Nay saat ada pemotretan terakhir sebelum kebakaran dan masih tersimpan rapih di Apartemen milik Haidar saat Nay tinggal disana.


Hingga kecelakaan Haidar terjadi, berkas itupun masih tersimpan rapih. Rama yang menemukan saat ke Apartemen hendak menjenguk Nay, tapi ternyata Nay sedang pergi entah kemana (Rama memegang kunci Apartemen milik Haidar yang tertinggal di kamar Hotel saat dia menumpang mandi).


Rama menelpon Nay untuk mengklarifikasi temuannya.


"Mba minta kamu bilang ke Pak Isam tentang hal ini, mereka selalu berbuat curang terhadap perusahaan. Sekarang ga mungkin kan Mba ngomong ke Mas Haidar. Kelak jika kamu berada di perusahaan Abrisam Group, hati-hatilah" pesan Nay saat Rama menanyakan hal tersebut.


"Mba yakin mereka korupsi setiap tahunnya dan membuat laporan palsu? kok bisa? kemana tim audit kita?" tanya Rama.


"Mereka pasti kerja tim, Mba belum sempat menelusurinya, jadi sekarang kamu harus bisa menyelidiki sendiri biar kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi" jawab Nay.


"Papi itu udah berpengalaman lama Mba .. masa bertahun-tahun dibohongi ga ada kecurigaan" ucap Rama.


"Mba juga belum paham, sekarang Mba udah ga bisa membantu lagi. Hanya berkas ini yang ada. Mba yakin kamu bisa mengungkap semua ini. Kamu itu punya sifat yang berbeda sama Pak Isam dan Mas Haidar yang mudah percaya sama orang yang lama ikut mereka. Kamu itu tipe keras kepala dan rasa penasarannya tinggi" kata Nay.


"Makasih ya Mba informasinya, saya akan coba minta bantuan Mba Gita buat menyelidiki semua ini, karena ga mungkin saya sendiri. Apalagi saya akan segera berangkat kuliah" tutur Rama.


"Sebaiknya kamu sendiri aja, kamu ga akan pernah tau siapa lawan dan kawan" saran Nay.


➡️➡️


Rama juga sudah mengumpulkan bukti-bukti kecurangan dari Pak Feri selama menggantikan posisi Haidar saat Haidar dalam perawatan di Malaysia sekitar empat tahun yang lalu.


Bagian legal (hukum) menyarankan untuk membawa kasus ini ke ranah hukum saja karena sudah bisa terkena pasal penggelapan, tapi Rama belum mau melaporkan, terutama karena desakan Pak Isam.


Lagipula jika langkah hukum dia ambil, akan lebih sulit untuk mengungkap jaringan dari Pak Feri dan Pak Idam di kantor ini.


"Benar kata Mba Nay ... saya harus hati-hati, sekarang ga tau siapa lawan dan kawan. Buktinya kedua orang kepercayaan Papi yang justru berkhianat" seringai Rama dalam hatinya.


Pintu ruangan Rama diketuk, ada pengacara yang datang ingin berbincang dengan Rama.


"Jadi keputusan Mas Rama itu case closed (kasus ditutup)?" ujar sang pengacara.


"Pak Feri sudah bersama Papi selama dua puluh tahun, sedari Papi masih merintis di Surabaya. Pak Idam pun menjadi salah satu karyawan yang sudah ikut Papi ketika Hotel pertama dibuka. Ga mungkin saya tutup mata terhadap pengabdian mereka selama ini, walaupun sudah saya selidik dalam empat tahun belakangan ini ada kecurangan. Saya yakin kok, ada hal baik yang sudah mereka lakukan untuk hotel kan? Manusia tempatnya khilaf, apalagi kalo istri ada dua, kebutuhan pasti akan bertambah dong, secara ada dua dapur yang harus ngebul" ungkap Rama keceplosan.


"Pak Feri istrinya ada dua? Yang bener Mas Rama? keliatannya dia kan anggota SUSIS (suami sieun istri/suami takut istri)" kata pengacara.


"Hehehe... begitulah kenyataannya, biar jadi urusan beliau. Jadi saya masih perlu diskusi sama Pak Isam dulu" jawab Rama.


"Pak Isam sedang diluar negeri? lama tidak bertemu beliau" tanya pengacara.


"Wah ... dari seorang CEO menjadi petani? kok kayanya terkesan agak mengejutkan" ucap pengacara.


"Mungkin ingin lebih bermanfaat untuk orang lain yang lebih luas lagi. Saya rasa cukup dulu diskusi kita, saya juga harus balik kerja dulu, jangan lupa ya Pak, tolong surat keputusan pengangkatan dan perjanjian kerja saya diberikan ke HRD. Masa sudah dua bulan kerja, saya tidak dapat gaji, udah gitu HRD juga ga nanya sama saya" ungkap Rama


"Saya ga tau kenapa begitu ya Mas, soalnya sudah langsung dikasih salinannya ke HRD" tukas pengacara.


"Nanti saya yang akan bilang ke HRD" ucap Rama.


Sejak kerja, Rama memakai hadiah uang yang diberikan sama Pak Isam setiap anaknya lulus kuliah. Sebagian sudah dia simpan dalam bentuk deposito dan ada yang dibelikan tanah walaupun baru dapat lima puluh meter persegi (harga tanah di Jakarta terbilang sangat tinggi).


Rama meminta Mba Gita memanggil manager HRD. Rama protes dan minta di gaji selama dia bekerja.


"Maaf Mas Rama, memang kami tidak mengeluarkan gaji untuk CEO. Karena bebas mengambil uang yang dibutuhkan, tinggal pengajuan saja ke bagian keuangan dan ditembuskan ke pihak kami" jelas sang manager HRD.


"Apa????? ini perusahaan profesional atau warung pinggir jalan?" tanya Rama kaget.


"Pak Isam dan Mas Haidar juga seperti itu" bela manager HRD.


Rama menarik nafas panjang. Manager HRD tampak mulai agak memucat wajahnya.


Rama meminta HRD untuk merapihkan semua perjanjian kerja untuk seluruh karyawan mulai dari security, office boy, cleaning service sampe Rama sendiri pun harus ada.


Dia baru tau kalo ternyata Papinya menjalankan roda keuangan perusahaan seperti keuangan warung, kapan pun butuh buat keperluan pribadi bisa langsung tarik uang tanpa proses pengajuan yang ribet. Istilahnya ga ada gaji buat seorang Direktur Utama, karena bebas mau berapa aja tinggal ambil.


Tentunya Rama ga mau seperti itu, biar bagaimanapun cash flow perusahaan harus berjalan dengan baik. Rama meminta pihak HRD untuk mengecek standar gaji untuk level seperti dirinya. Rama ingin dibayar secara profesional, bukan mengambil uang perusahaan seenak hatinya.


Udah hampir dua bulan ini tabungannya lumayan terkuras buat kebutuhan Sachi dan dia sendiri, bahkan kembali menjual motornya yang baru dibeli sebulan yang lalu buat beli bensin dan biaya nongkrong bareng teman-temannya.


Selama ini dia memakai mobil kantor yang merupakan fasilitas untuk Direktur Utama seperti dirinya, sebenarnya ada mobil yang nganggur di rumah, tapi dia hanya pakai jika pergi bareng keluarga aja.


Setiap memakai mobil kantor pun, dia meminta Mang Ujang mencatat kilometer awal dan akhir serta mengumpulkan struk bensin dan tol.


🌺


Rama sudah tau resikonya, dia pasti akan kena tegur Papinya pas pulang ke rumah. Dan memang begitu pulang dari Tasikmalaya, Pak Isam sudah menunggunya pulang kerja.


Saat tadi di kantor, Rama mendapat kabar langsung dari Mba Gita, kalo setelah pensiun, Pak Isam memang minta di-update berita tentang perkembangan perusahaan termasuk sepak terjang Rama diperusahaan.


Muka Pak Isam tampak kurang bersahabat akan keputusan Rama beberapa hari ini. Setelah mencium tangan Papinya, Rama duduk dengan santai didepan Papinya. Mencoba duduk setenang mungkin.


"Papi udah dengar semuanya, oke Papi akui kamu cepat kerjanya, menyelidiki dengan cermat. Tapi kenapa ga minta pertimbangan Papi dulu?" sesal Pak Isam.


Rama menyerahkan sebundel berkas fotocopy ke Papinya. Pak Isam mengambil berkas dan membukanya. Wajahnya tampak kaget dengan banyaknya kecurangan yang dilakukan Pak Feri dibelakangnya. Kalo Pak Idam baru setahun belakangan aja, itupun atas ajakan dari Pak Feri.


"Kamu dapat bukti ini darimana? Valid ga nih? ini kan fotocopy" tanya Pak Isam meyakinkan.


"Rama udah mempelajari dua bulan ini Pi, semua data kantor pusat dan dua Hotel kita ada yang ga jelas cash flow nya. Management di Hotel bobrok sejak dipegang sama Pak Feri. Wajar kalo pada akhirnya harus tutup. Bahkan kalo lagi peak season (masa ramai seperti tahun baru, liburan) ada kamar yang dibuka tapi pakai kwitansi aspal (asli tapi palsu)" terang Rama.


"Maksudnya gimana? Papi ga paham" tanya Pak Isam.


"Untuk tamu yang membayar cash itu uangnya ditilep Pi. Pihak resepsionis sudah diajak kerjasama juga. Kwitansi keluar, tapi bukan kwitansi secara sistem komputer, mereka bikin manual dengan alasan ada perbaikan sistem jaringan komputer di Hotel. Kebayang ga Pi mereka sampai mencetak kwitansi dengan logo hotel untuk melakukan hal itu" papar Rama.


"Jadi ga tercatat gitu maksud kamu?" cecar Pak Isam.


"Ya Pi... kalo gesek debit atau kartu kredit kan pasti ada laporannya dari Bank, ga bisa dimainin sama mereka. Rama juga udah mempertimbangkan selama seminggu ini Pi. Sepertinya belum mau masukin gugatan ke ranah hukum mengingat jasa-jasa beliau ikut Papi selama dua puluh tahun. Papi tau ga kalo Pak Feri istrinya ada dua?" tanya Rama.


"Tau... kan yang istri keduanya itu juga sesama karyawan Hotel dulunya. Mereka ketauan sama istri pertamanya Pak Feri ketika sedang ngamar. Rame tuh kasusnya. Karena wanita itu hamil, mau ga mau Pak Feri harus nikahin, istri pertamanya bersedia dengan perjanjian setelah melahirkan harus menceraikan istri keduanya. Kan istri pertama ga punya anak" cerita Pak Isam.


"Tapi nyatanya ga pisah tuh Pi. Masih aja istrinya dua. Tau ga Pi ... yang kedua itu selalu tinggal di Hotel, ya Pak Feri yang urus semuanya" lanjut Rama.


"Masa sih?" tanya Pak Isam ga percaya.


"Baru pas Hotel tutup aja tuh dia pergi dan tinggal di rumah Pak Feri yang baru dibeli belum lama ini" kata Rama.


"Kan yang kedua cantik ... sayang mungkin kalo dilepasin sama Pak Feri gitu aja" ujar Pak Isam.


"Kok Papi ga tergoda nikah lagi?" pancing Raffa.


"Helooo... konteks kita ngomongin Hotel ya bukan pribadi Papi" jawab Pak Isam tegas.


"Intinya begitu ya Pi... Papi pasti pahamlah sama maksud Rama kenapa keputusan ini harus diambil. Ga mungkin kita melihara tikus buat grogotin Hotel terus dong Pi, harus berani membakar tikus sama sarang-sarangnya" ujar Rama.


"Papi paham... tapi yang Papi bingung tuh kenapa adiknya Gita kamu kenain juga? Bukannya dia ga tau tentang korupsi ini?" tanya Pak Isam lagi.


"Demi keadilan Pi..." jawab Rama.


"Keadilan buat siapa? Kamu kan tau anak itu masih kuliah, masih butuh biaya. Dia anak yatim piatu. Ya pasti berat buat Gita kalo full biayain dia lagi. Maksudnya Papi tuh biar Izza punya uang sendiri buat hidupnya sendiri" bela Pak Isam.


"Kan selama ini Mba Gita yang nanggung hidupnya, fine fine aja kok, Mba Gita ga pernah keliatan kurang" jawab Rama.


"Kasian kalo Gita semua, Gita kan banyak cerita ke Papi. Paling ga kalo adiknya kerja, bisa ngeringanin beban Gita" jelas Pak Isam menurunkan intonasi suaranya.


"Papi murni kasian atau ada hati nih sama Izza? Kok kayanya ngebela banget" cecar Rama curiga.


"Ya ampun ... kamu nih ya ... masa Papi sama wanita yang lebih muda dari kamu. Izza mah cocoknya jadi anak Papi bukan istri Papi. Atau jangan-jangan kebalik kali, kamu yang ada hati sama dia? Jadi kamu pecat dia biar bisa ngedate diluaran dengan status bukan atasan dan bawahan" ledek Pak Isam.


"Pi... kalo Rama ada hati sama dia, ga mungkin lah dikeluarkan. Ada juga dinaikin jabatan gantiin Mba Gita, biar bisa ketemu dan dekat tiap hari ... hahaha" jawab Rama dengan cueknya.


"Genit juga ya kamu ... emang kalo punya sekretaris cantik mau ngapain?" Kata Pak Isam penasaran.


"Paling ga kalo di mobil tuh ada pemandangan segar, ga kaya sekarang .. ngeliatnya muka Mang Ujang doang" ujar Rama sambil senyum.


"Awas ya kamu, jangan macam-macam, jangan pernah mengulang kisah Haidar" ingat Pak Isam.