HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 179, I'am bored



Dikehamilan keduanya, Lexa lebih moody daripada biasanya, benar-benar swing banget moodnya, ga bisa salah ucap atau tindakan sedikit, langsung aja melenting. Ga pandang bulu juga siapa yang ada dihadapannya.


Lexa juga jadi gampang marah ke Boy, namanya juga anak lelaki berusia kurang dari tiga tahunan, sedang penasaran mengekplorasi yang ada disekitarnya. Bahkan sudah memecahkan kaca jendela rumah hingga dua kali karena main bola didalam rumah.


Pak Sanjaya tidak pernah minta ganti ke Lexa, tapi tetap saja Lexa marah ke Boy. Jika Candra turun tangan menasehati Lexa, yang ada malah jadi ribut. Pak Sanjaya aja sudah mulai pusing menghadapi ketidakstabilan emosi di kehamilan Lexa kali ini.


💠


Makan siang hari ini, Candra sedang berada di daerah Kemang. Dia makan siang sendiri karena habis meninjau salah satu project ruko didaerah sini, karena mendapatkan laporan bahwa proyek agak terkendala karena banyaknya preman-preman yang berkerumun di lokasi proyek dan amat mengganggu.


Letak Restorannya tepat bersebelahan dengan minimarket sayur dan buah-buahan organik milik Mas Haidar.


Tidak sengaja Candra bertemu sama Izza yang juga mau makan siang. Akhirnya mereka sepakat untuk makan siang bareng satu meja.


"Jadi sekarang kerja atau usaha sendiri Za?" tanya Candra.


"Dibilang kerja ya ngga juga, hanya membantu mengawasi aja. Kan Kakak ipar sedang honeymoon selama dua mingguan. Hari ini baru hari kelima bantu-bantu disini, tapi kok kayanya mulai enjoy dan mau lanjut kedepannya. Asyik juga ketemu banyak orang dan berbincang, daripada di rumah ga ada kegiatan" jawab Izza.


"Seorang nyonya Rama tidak punya kegiatan? kok terdengar agak ganjil ya.. Sebagai kaum sosialita bukannya banyak party dan wira wiri kesana kemari?" ledek Candra.


"Beneran Mas.. saya ga kaya para sosialita itulah.. belum mampu" jawab Izza.


"Merendah aja kamu Za.. apa yang suami kamu punya itu sangat banyak, bisa jadi para kaum sosialita yang sekarang eksis punyanya harta dibawah jumlah yang suami kamu punya" ujar Candra.


"Ga gitu juga Mas.. ga serta merta langsung hedon melihat harta yang ada didepan mata. Lagipula suami saya juga mengajarkan untuk tetap jadi diri sendiri aja, bergaya biasa yang penting kebutuhan hidup tercukupi" kata Izza.


"Banyak pengusaha yang dibentuk oleh keadaan.. misalnya karena menikah dengan keluarga pengusaha seperti saya ini, ada juga lewat jalur pendidikan hingga bisa mencapai posisi atas dan lain sebagainya. Tapi Rama itu kategori pengusaha yang dilahirkan, ibaratnya sudah darah pengusaha mengalir ditubuhnya, jadi pemikirannya pasti bagaimana menggunakan harta yang dimiliki untuk ekspansi dibandingkan sekedar membeli sesuatu yang bersifat konsumtif" puji Candra.


"Bisa jadi... tapi memang saya benar-benar ga ada kerjaan Mas. Mau kerja apa di rumah kalo semua sudah ada yang ngerjain. Anak juga belum ada, keponakan sekarang tinggal terpisah.. jadi ga ada kesibukan ngurus anak. Urus suami pun cuma pagi dan malam aja, kalo suami kerja ya saya bengong doang" papar Izza.


"Disaat orang-orang cari kerja untuk cari uang, kamu malah buat mengisi waktu luang. Atau mau kerja sama saya aja Za? saya dan Mas Akmal baru buka kantor pemasaran tour and travel kecil-kecilan, tujuan utamanya sih seperti perpanjangan tangan Sanjaya Resort, tapi ga menutup kemungkinan ke tujuan lainnya. Sasaran kita ya pasangan yang mau honeymoon, sekolah atau instansi yang ingin outing. Baru buka tiga bulan ini, dulunya kita ga punya kantor pemasaran resmi, ya nawarinnya gerilya ke sekolah-sekolah dan instansi. Akhirnya Mas Akmal kepikiran untuk punya kantor pemasaran aja sekalian. Baru ada satu karyawan yang ngurusin semuanya, kayanya memang perlu tim marketing. Kamu kan pinter ngomong dan gaya negosiasinya juga oke .. gimana kalo gabung? ya belum bisa gaji sesuai UMR, tapi daripada gabut. Nanti juga ada komisi kalo memang ada yang booking paket" jelas Candra.


"Nanti saya coba tanya dulu ke suami, ini saya kerja bantuin Kakaknya aja banyak aturan.. apalagi kalo kerja sama orang. Tadinya Papi mertua minta saya gabung di Abrisam Group, tapi suami ga bolehin, menurut beliau kalo suami istri dalam satu kantor yang sama malah bisa timbul konflik pribadi" kata Izza.


"Oke deh.. ditunggu ya kabar baiknya. By the way, gimana kita bisa komunikasi ya kalo nomer HP kamu aja saya ga tau" ujar Candra.


"Saya minta kartu namanya aja Mas, saya ijin suami dulu ya kalo mau komunikasi dengan Mas Candra" jawab Izza.


"Sampe segitunya Rama mengatur ponsel kamu?" tanya Candra.


"Ga sih .. tapi memang kontak yang ada di HP saya ya kebanyakan perempuan. Yang lelaki hanya keluarga aja. Saya yang ga nyaman kalo komunikasi dengan lawan jenis lewat HP, khawatir timbul fitnah. Ini kita makan berdua aja bisa timbul fitnah. Secara mungkin wajah kita lumayan banyak dikenal oleh orang, ditambah daerah bisnis macam Kemang ini.. kans ketemu kolega pasti lebih besar" jawab Izza.


Candra salut sama pemikirannya Izza, anak semuda itu bisa berpikir panjang. Sangat berbeda dengan Lexa, yang kadang masih muncul sifat lamanya.


Candra ngobrol ngalor ngidul sama Izza hingga hampir jam dua siang. Candra pun pamit karena akan kembali ke Kantornya. Candra yang membayar makan siang Izza kali ini.


.


Keesokan harinya, Izza kembali bertemu sama Candra. Kali ini disebelah kantor pemasaran tour travel milik Candra dan Mas Akmal. Candra sedang disana karena ada janjian sama temannya yang punya sekolah tingkat SMP dan akan mengadakan study tour. Sedangkan Izza diminta untuk melihat ruko tepat disebelah kantor pemasaran tour and travel.


"Wah kita ketemu lagi nih Za.. bisa dua hari berturut-turut gini" sapa Candra.


"Iya nih Mas .. saya lagi liat ruko sebelah, Kakak ipar mau buka lagi minimarket sayur dan buah organik, kayanya kan daerah Pondok Indah ini pasti pangsa pasarnya bagus. Sudah liat sekitar sini juga belum ada pesaing, jadinya tertarik" cerita Izza.


"Ini ruko milik mertua saya Za, kalo minat bisalah nanti dikasih harga khusus .. harga pertemanan" ujar Candra.


"Iya Mas ... makasih.. saya lapor dulu sama Kakak ipar, kan beliau yang akan buka. Saya hanya sekedar liat-liat aja" ucap Izza.


Candra mengajak Izza makan siang ga jauh dari lokasi, Mas Akmal melihat dari balik pintu kantor pemasaran tour and travel.


"Candra sama Izza janjian atau gimana ya? lain macam wajahnya Candra kalo liat Izza. Secara fisik padahal lebih cantik Lexa, wajah Izza biasa aja.. standar .. tapi kelebihannya adalah daya tarik gesture dan nada bicaranya" gumam Mas Akmal.


.


Sekembalinya Candra ke Kantor tour and travel, Mas Akmal mengajak bicara di ruangan yang ada di lantai dua.


"Dari waktu di Resort sampai sekarang, kenapa lain Can kalo ketemu Izza? jangan bilang ada sesuatu ya.." tembak Mas Akmal.


"Lain gimana? sesuatu apa maksudnya Mas? we just a friend kok" jawab Candra santai.


"Come on Can.. kita kenal bukan sehari dua hari. Jangan main api Can kalo ga mau terbakar" ingat Mas Akmal.


"Siapa yang main api sih Mas.. kita sama-sama sudah berbahagia dengan pasangan kita masing-masing kok, ga ada yang perlu dikhawatirkan. Mas kan tau bagaimana saya terhadap Lexa" jawab Candra yang mulai agak tersinggung oleh kecurigaan Mas Akmal.


"Can.. Mas tau rumah tangga kamu lagi ada sedikit masalah karena Lexa yang gampang emosian selama kehamilan kali ini, tapi ga jadi sebuah alasan untuk memaklumkan kamu mencari teman ngobrol, apalagi temannya itu wanita" kata Mas Akmal.


"Sekarang mungkin ga ada niat.. tapi kalo ada peluang kedepannya, apa ga jadi masalah? sebelum kejadian kan lebih baik menjaga" ujar Mas Akmal.


"Kenapa ya semua orang Indonesia tuh pasti pikirannya langsung negatif kalo ngobrol dengan lawan jenis? udah mah kita ngobrol di tempat umum, ramai, ga sembunyi-sembunyi, sekedar makan siang bareng.. kenapa ga bisa open minded kaya orang-orang bule sana yang biasa aja jika melihat orang berinteraksi" papar Candra.


"Can.. kita sama-sama lelaki, mungkin selama ini hidup kita lempeng-lempeng aja, tapi ga menutup kemungkinan kita bisa jadi cowo brengsek. Udah tau tabiatnya Lexa dari dulu tuh ribet, ditambah sekarang juga ga stabil emosinya. Coba kalo dia dengar berita kamu makan siang sama Izza, apa ga perang dunia tuh" ingat Mas Akmal.


"Salah kalo saya menyapa orang yang dikenal dan mengajak makan siang bareng karena sama-sama mau makan siang?" tanya Candra.


"Masih ingat sama Ani ya?" tembak Mas Akmal.


"Apa hubungannya Ani sama Izza? mereka ga saling kenal sepertinya" tanya Candra balik.


"Ya mungkin aja kan ...bisa dibilang banyak kemiripan diantara mereka. Bukan wajah ya.. tapi tampak luarannya kalem, bicara juga suaranya menenangkan, menikah dengan lelaki kaya yang akhirnya mengubah hidupnya, pokoknya tipe-tipe wanita pasrah dan alim gitu deh... selera kamu banget kan?" sindir Mas Akmal.


"Ga usah menilai terlalu jauh Mas.. kisah saya dan Ani sudah lama berakhir dan saya serta dia sudah memilih jalan masing-masing. Jangan ungkit kisah saya dan Ani kalo ga tau persis kenapa harus begini. Saya tau bagaimana menjaga kesetiaan Mas" ucap Candra mulai tersinggung.


"Cinta pertama ga akan pernah bisa terlupakan Can.. Mas tau kok kamu masih rada kepo sama hidupnya Ani meskipun didepan kita ga mengakui. Biar bagaimanapun Kakaknya Ani kan sahabat kamu" sahut Mas Akmal.


"Anggaplah apa yang Mas bilang itu benar.. bahwa saya ga bisa melupakan Ani... seperti Mas yang memendam rasa ke Mba Flo.. untunglah bisa jadi istri.. coba kalo dia masih sama Mas Barry... yakin Mas sudah menikah saat ini dengan wanita lain?" kata Candra rada sinis.


Mas Akmal marah dan meninggalkan Candra begitu aja. Candra cuma diam saja.


🌺


"Jam dua belas baru pulang ke rumah?" sapa Izza begitu Rama membuka pintu kamar.


Posisi Izza tiduran sambil melihat kearah pintu.


"Belum tidur De? kan tadi udah bilang ga usah nungguin. Udah makan belum?" tanya Rama sambil menutup pintu kemudian menghampiri Izza dan mencium keningnya Izza.


"Udah.. Kakak udah makan?" tanya Izza.


"Udah ... tadi sama Mang Ujang" jawab Rama.


"Mang Ujang jangan sering diajak kerja sampai malam Kak.. kasian istrinya lagi hamil. Kakak ganti supir aja dulu" saran Izza.


"Nanti ya dibicarakan lagi" kata Rama.


Rama meletakkan tas dan beberapa berkas keatas meja. Kemudian menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak sampai sepuluh menit, Rama sudah keluar dari kamar mandi dan memakai piyama untuk bersiap tidur.


Izza sebenarnya tadi sudah tidur, tapi terbangun karena ingin buang air kecil, begitu keluar kamar mandi, dia mendengar pintu pagar dibuka. Dari balik jendela kamar, Izza melihat mobilnya Rama memasuki halaman rumah.


Rama merebahkan tubuhnya yang terasa sangat letih. Seminggu ini dia berbagi waktu antara Abrisam Group dan Audah Hotel, dari meeting ke meeting, memeriksa tumpukan dokumen di dua tempat secara teliti dan cermat, belum lagi sidak ke lapangan untuk memastikan semua berjalan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan.


"De.. Sabtu pagi ikut ya jalan santai di Bundaran HI, car free day kan... sekaligus ada acara meet up sama teman-teman SMA, ya reuni kecil-kecilan lah" kata Rama.


"Sabtu kayanya mau ke toko Mas Haidar yang di Kemang, kan barang masuk setiap Sabtu pagi" jawab Izza yang sudah memejamkan matanya.


"Bilang aja ke Mas Haidar kalo kamu ada acara, lagian kan disana sifatnya hanya membantu mengawasi, semua toko Mas Haidar ada kok store managernya, jadi ga perlulah kamu yang datang pagi menunggu supplier datang" ujar Rama.


Berbincang dikala tubuh letih dan lelah memang tidak disarankan, karena sering berujung dengan kemarahan. Rasa lelah datang tanpa permisi mengetuk saat manusia tengah berjuang keras. Inilah yang Rama pertimbangkan untuk tidak berbincang sama Izza malam ini.


Kehidupan berumah tangga memang tak selamanya mulus. Ada kalanya rumah tangga romantis dan adakalanya juga masalah datang menghampiri yang membuat romantisme jadi berkurang.


"Kak... boleh ga kalo Izza kerja?" tanya Izza saat Rama baru akan memejamkan matanya.


"Apa?? kerja? kerja dimana?" tanya Rama kaget.


"Ya dimana aja.. yang penting kerja. Kayanya ga banyak kegiatan bikin otak jadi buntu" jawab Izza sambil merapatkan tubuhnya mendekati Rama.


"Kenapa? bosan di rumah karena ga ada Sachi?" tanya Rama pelan-pelan.


"Ya.. semua juga udah ada yang ngerjain, mati gaya aja" jawab Izza.


"Kenapa sih De... belakangan ini keliatannya banyak berubah, ada yang mengganjal selain merasa bosan?" tanya Rama lagi.


"Sebenarnya bingung harus cerita dari mana, pada intinya sekarang didalam tahap kesepian yang amat sangat. Sachi hanya ada disini saat weekend, Kakak juga masih fokus urusan Abrisam Group dan Audah Hotel, Papi banyak di Subang, Mas Haidar dan Mba Rani juga jarang kesini, Mba Nur dan Bang Alex yang dulu menjadi teman ngobrol juga sudah ikut Mas Haidar, Maryam ga bisa diajak ngobrol panjang karena udah mulai gampang cape, asisten rumah tangga disini juga sibuk sama pekerjaannya masing-masing. Rasanya hidup seperti dalam istana sebagai tuan putri, hanya duduk menunggu membunuh sepi" ungkap Izza.


Rama sangat paham karakter Izza yang terbiasa banyak kegiatan, harus terpasung diam, meskipun dia ga pernah membatasi gerak langkah Izza, tapi cukup sadar diri kalo ada yang salah sama rumah tangga mereka.


"Kakak minta maaf ya kalo akhir-akhir ini makin sibuk. Mohon banget kamu paham dan sabar. Audah Hotel sedang masa transisi dan Abrisam Group pun sedang dalam masa bangkit kembali. Banyak PR yang harus Kakak selesaikan. Kakak sadar bukan manusia super, tapi boleh kan Kakak punya harapan tinggi terhadap apa yang sedang Kakak jalani. Ini semua juga untuk masa depan kita De. Bukannya kamu yang meminta untuk proses bayi tabung, itu kan butuh biaya yang ga sedikit De. Mungkin tabungan kita sudah cukup untuk itu, tapi alokasi dana yang kita punya bukan hanya untuk itu aja. Namanya orang hidup kan ada aja De.. ntah ada undangan pernikahan, ulang tahun atau acara lainnya dari saudara hingga rekan kerja, belum untuk kebutuhan pribadi kita. Kakak juga tengah menyelesaikan disertasi, sebulan lagi akan maju sidang. Biayanya ga sedikit De untuk menyelesaikan jenjang S2 ini" papar Rama.


Izza diam dan memilih untuk tidur membelakangi Rama. Rama pun ikut diam dan memejamkan matanya. Sudah malas melanjutkan pembicaraan yang ujung-ujungnya bisa membuat keributan.