
"Duduk Nak... maap kalo tempatnya amat sangat sederhana" ujar Abah Ikin.
"Gapapa Abah... malah saya yang ngerepotin malam-malam bertamu" jawab Rama.
"Tamu itu rejeki Nak... ayo silahkan dinikmati seadanya" kata Abah Ikin lagi.
"Makasih banyak .. Alhamdulillah sudah dinikmati sebelum disuruh" ujar Rama.
"Ini putranya Pak Isam?" tunjuk Abah kearah Rama.
"Ya.. saya anak bungsunya" jawab Rama lagi.
"Oh yang kuliah di Inggris?" tanya Abah meyakinkan.
"Ya ... Alhamdulillah sudah selesai, jadi sudah balik ke Indonesia" ungkap Rama.
"Alhamdulillah... Papi kamu bangga banget sama kamu Nak, sering menceritakan tentang kamu kalo main kesini" ujar Abah Ikin.
"Papi main kesini?" tanya Rama ga percaya.
"Iya .. sejak beli tanah dekat sini jadi pasti mampir kalo pas lagi kesini" jelas Abah Ikin.
"Alhamdulillah ... mungkin cerita Papi berlebihan, padahal saya mah biasa aja, ga ada yang istimewa, masih banyak beloknya" ujar Rama merendah.
"Alhamdulillah masih sadar kalo itu belok. Gapapa Nak... ga ada manusia yang sempurna di dunia ini. Semua harus belajar hingga kelak kita dipanggil untuk pulang" nasehat Abah Ikin.
"Ya Abah... mohon bimbingannya" pinta Rama.
"Kebiasaan disini ada kajian ba'da subuh... kamu bisa isi kajian hari ini?" tanya Abah serius.
"Saya? Aduh masih miskin ilmu .. maaf. Saya memang pernah sekolah di sekolah islami, tapi hanya sedikit yang nempel diotak. Jadi saya rasa, tidak ada yang bisa saya sajikan" tolak Rama.
"Disini ga ada yang pandai atau kurang pandai, ga ada yang tinggi ilmunya dibandingkan dengan yang lainnya. Kita semua sama, bisa saling berbagi cerita. Beberapa jama'ah juga sudah pernah mengisi kajian. Tentang pengalaman hidup yang bisa kita ambil sebagai pelajaran. Ada yang pake narkoba puluhan tahun terus insyap, pas kesini kasih pengalaman buat semua. Bukankah dakwah itu membuat orang punya keinginan berubah kearah yang lebih baik? setiap manusia pasti punya pelajaran hidup. Abah rasa cerita kamu bisa dijadikan pelajaran" tutur Abah Ikin.
"Baik ... insyaa Allah saya siap jika memang sekedar sharing kisah hidup untuk memotivasi orang lain, tapi kalo ada kekurangan mohon dikoreksi, karena saya tidak pernah memberikan sharing dikhalayak ramai" tutur Rama.
"Insyaa Allah" jawab Abah Ikin sambil manggut-manggut.
.
Rama memenuhi janjinya memberikan sedikit sharing buat para jama'ah. Jama'ah sholat subuh bukan hanya santri pesantren, tapi juga banyak penduduk sekitar yang ikut berjama'ah disana karena inilah Mesjid satu-satunya di kampung ini.
Setelah memperkenalkan diri dan berbicara sedikit sebagai awalan, Rama memulai intinya.
"Saya anak bungsu yang bisa dibilang haus kasih sayang orang tua. Mami meninggal saat melahirkan saya, Papi sibuk dengan pekerjaan karena beliau harus mencari nafkah untuk kami bertiga anak-anaknya. Saya baru tersadar setelah dewasa kalo beban Papi menjadi orangtua tunggal adalah hal yang ga mudah. Apalagi beliau tidak menikah lagi setelah kematian Mami. Mungkin jama'ah disini ada yang mengalami seperti saya" ucap Rama.
Rama mencoba mengatur degup jantungnya yang mulai kencang karena grogi.
"Sedih yang mendalam sudah pasti karena banyak momen dalam hidup kita terlewat begitu aja, saat pertama kali sekolah apalagi, paling berasa ga diantar orang tua. Rasanya ga adil ketika melihat anak-anak lain menikmati hidup dengan orang tua yang lengkap. Kalo sudah begitu, timbul rasa kangen. Kalo kangen sama Mami, saya hanya bisa ke makam dan berdo'a. Tapi kalo kangen Papi yang agak repot, beliau sering keluar kota, hanya lewat telepon aja kami berkomunikasi. Saya juga pernah ada difase jadi anak bandel, karena nggak ada yang mengontrol dalam perjalanan hidup saya. Alhamdulillahnya saya ga tergoda narkoba dan miras, tapi tergoda juga dengan kehidupan malam ibukota. Bandel saya jaman sekolah ya bolos dan nongkrong di warnet main game, kebut-kebutan motor biar dibilang jagoan, balap mobil liar plus ikut taruhan. Tapi sekarang Alhamdulillah udah mulai sedikit insyaf kok.. hehehe" ucap Rama sambil nyengir dan para jama'ah banyak yang tersenyum
"Meskipun kondisi kehidupan saya tampak ga normal, saya punya Kakak-kakak hebat yang selalu mendukung tiap langkah saya, serta pastinya Papi yang dalam kesibukan, dalam diamnya pasti mendo'akan saya menjadi anak sholeh yang bisa membanggakan keluarga. Saya hanya kekurangan cinta seorang Mami aja, tapi bisa sedikit tertutupi oleh sosok Kakak perempuan saya. Kecewa, marah dan sedih atas takdir saya rasakan. Tapi ketika saya telusuri lebih dalam, Allah mengganti dengan banyak kenikmatan. Semoga ga menimbulkan sifat riya' bagi saya ya jika saya ungkap. Mohon maaf sebelumnya, semoga semua jama'ah tidak menganggap saya sombong... Saya dari kecil hidup tanpa kekurangan materi, bisa dibilang hari ini saya mau sesuatu maka hari ini juga bisa saya dapat. Kakak-kakak pun sayang sama saya dan sangat mensupport baik materi maupun moril. Saya punya teman dari berbagai kalangan, Alhamdulillah selalu menjadi bintang pelajar ditiap angkatan sekolah almamater saya. Saya memilih sekolah yang statusnya Internasional dengan basic islami, sekolah yang justru jarang dipilih oleh anak dalam kalangan saya. Saat itu bisa dibilang saya mampu sekolah di sekolah ngetop manapun di ibukota, tapi saya ga mau karena merasa tidak cocok dengan lingkungannya. Inilah yang dulu bikin Papi saya marah, saya ga mau mengikuti jejak keluarga. Sampailah saya dapat undangan kuliah di sebuah PTN. Kembali takdir saya berkata lain, saya akhirnya melanjutkan pendidikan disalah satu universitas diluar negeri, atas keinginan Papi yang telah memilihkan jurusan yang ga saya inginkan" lanjut Rama dengan nada mulai berat.
"Memberontak? Sebelumnya iya, tapi ketika kuliah tidak melawan sama sekali. Saya terima semua, bahkan pernah mengalami kesulitan karena saya dengan sok nya bergaya hidup mandiri ga mau terima kiriman uang dari Papi. Papi hanya membayar uang kuliah dan asrama aja. Di negeri orang tanpa keluarga, saya mulai berdamai dengan keadaan. Saya mulai ngerasain apa yang namanya lapar, ga punya uang, kerja keras dan menjalin pertemanan sehat. Saya buang rasa malu dan mulai bangkit memperbaiki hidup dengan bekerja paruh waktu. Alhamdulillah saya bisa lulus dengan nilai yang lumayan. Kembali ke tanah air disajikan persoalan bisnis orang tua yang sedang mengalami penurunan, Papi sudah mengamanahkan pada saya agar mengurus dengan baik. Sekali lagi saya menerima dengan terpaksa... Sekarang saya tambah menyadari, mungkin apa yang saya lihat semalam, maaf ada yang kecanduan narkoba, terlibat pergaulan bebas dan berniat bunuh diri, itu ga menimpa saya. Semarah-marahnya saya sama orang tua, saya masih bisa mengontrol otak saya buat ga kearah negatif. Kuncinya berteman dan bergaullah dengan yang baik. Karena dilingkungan baik pun belum tentu kita jadi orang baik, semua berpulang pada diri sendiri. Mulai sekarang.. Kakak, Adik dan teman-teman sekalian yang masih memberontak terhadap orang tua, segeralah minta maaf selagi sempat. Orang tua ga pernah ga sayang sama anaknya, hanya kita aja yang maunya sesuai dengan keinginan kita. Biar bagaimanapun orang tua banyak makan asam garam kehidupan, lebih berpengalaman. Allahummaghfirlii, waliwaalidayya, war hamhumma, kamaa robbayaanii shagiiroo. Walijami'il muslimina wal muslimaati, walmu'miniina wal mu'minaati, al ahyaa'i minhum wal amwati. Wataabi' wabainanaa, wa bainahum bil khoiraati, robbighfir warham wa anta roohimiina, walaa quwwata, illa biilaahi 'aliyyil adzim" tak terasa ada genangan air mata tertahan disudut mata Rama.
Banyak jama'ah yang ikut larut dalam lantunan do'a Rama, ada pula yang menyadari kesalahan kepada orang tuanya. Namun diujung baris belakang, ada lelaki tua yang tersenyum sambil menghapus airmata berkali-kali. Hari ini Rama mampu membuktikan padanya, bisa menjadi anak yang bisa membanggakan dirinya.
.
"Pi...." sapa Rama dari belakang Pak Isam.
Pak Isam membalikkan badannya. Ga ada kata terucap dari keduanya, hanya pelukan hangat yang bisa disaksikan sebagian jama'ah. Dibarisan depan, Abah Ikin sangat bahagia melihat pelukan antara Pak Isam dengan Rama.
Rupanya Pak Isam ga bisa tidur dan minta diantar penjaga villa ke pesantren. Dia ga menyangka kalo Rama yang akan mengisi kajian hari ini. Dia telah melakukan banyak ketidak adilan buat Rama, tapi anaknya ga pernah menjelekkan dimuka umum.
🍒
"Za... nonton yuk" ajak Sony, tetangga sebelah rumahnya Izza.
"Ga bisa Kak, maaf saya ada kegiatan" tolak Izza sopan sambil menyiram tanaman.
"Takut ya sama Mba Gita?" tanya Sony menerka.
"Bukan Kak, memang saya mau pergi, lagi pula saya ga bisa hanya berduaan dengan yang bukan mahram, khawatir menimbulkan fitnah, lagipula ga baik kan kalo mendekati zina" jawab Izza beralasan.
"Sok alim banget sih... kita tinggal di ibukota kali. Banyak yang pake jilbab pada gandengan tangan bahkan pergi nonton berduaan kok. Mereka ga masalah berpacaran. Ini bukan jaman kuno, kalo masih mempertahankan kaya gitu mah tinggal aja di pesantren" kata Sony tampak emosi.
"Maaf Kak, saya ga bisa menilai orang, itu berpulang ke masing-masing pribadi orang tersebut. Saya pun masih jauh dari kata alim. Sekali lagi mohon maaf kalo jawaban saya kurang berkenan buat Kak Sony" kata Izza.
"Za... masuk, bantuin Mba masak" panggil Mba Gita dari depan pintu.
.
"Za... berapa kali sih Mba bilangin, jangan dekat-dekat sama lelaki, mereka hanya melihat wanita tuh dari tampang aja. Mereka ga ada yang tulus kenalan sama kamu" omel Mba Gita.
"Kan sama tetangga Mba, nanti kalo kita disapa ga jawab disangka sombong. Yang penting kan tau batasannya" jawab Izza.
"Kamu mah susah kalo dinasehatin, ada aja jawabannya" kata Mba Gita kesal.
🌷
"Abah .. kami pamit dulu, mau ada acara pagi ini, semalam baru sampai sini jam dua an" kata Pak Isam pamit.
"Mangga Pak Isam..." jawab Abah Ikin.
Pak Isam pulang bareng penjaga villa. Kalo Mang Ujang dan Rama masih penasaran ketemu sama Ceu Lilis. Gantian sekarang mang Ujang yang boncengin Rama.
Raffa memakai topi serta kacamata hitamnya yang disimpan dalam tas. Menikmati udara pagi yang masih segar, angin pun terasa memeluk tubuh atletisnya. Udah lama ga menghirup udara sesegar ini. Dia mengabadikan pemandangan dengan membuat video memakai HP nya. Tapi tiba-tiba Mang Ujang ngerem mendadak yang membuat HP Rama terjatuh. Motor berhenti, Rama mengambil HP nya kemudian menegur Mang Ujang.
"Bisa bawa motor ga sih? Rem mendadak gini, polisi tidur ga ada, kendaraan lain juga ga ada.." omel Rama.
Mang Ujang masih bengong dan ga mendengar omelan Rama.
"Mang.... Mang...." kata Rama sambil nepuk bahu Mang Ujang.
"Mang... kesambet ya? Jangan nakutin dong. Masa pagi-pagi udah kesambet" kata Rama.
"Enak aja segala bilang kesambet .. Mas Boss ... eta... eta..." kata Mang Ujang sambil nunjuk kearah gerobak bubur.
"Apaan sih? gerobak bubur? Mang laper?" Kata Rama.
"Eta Ceu Lilis" jawab Mang Ujang sambil nunjuk gerobak bubur.
Rama dan Mang Ujang langsung berjalan kearah gerobak bubur yang ga terlalu rame pembelinya. Cuma ada dua orang abege cewe yang lagi makan, keliatannya abis olahraga.
"Ceu.... satu ya" kata Rama sambil duduk di kursi plastik.
"Eh Aa' Rama .. yang tadi di Mesjid kan ya? diliat dari deket malah lebih ganteng" sahut Ceu Lilis bahagia.
Rama kaget melihat muka Ceu Lilis, sekilas seperti melihat Mba Nay.
"Astaghfirullahal adzim...." kata Rama saking kagetnya.
"Kenapa Mas Boss?" tanya Mang Ujang penasaran.
"Ga... gapapa kok ... cuma kayanya ada yang kelupaan" jawab Rama berbohong sambil mengambil botol air mineral dan meneguknya.
"Kunaon Aa' kasep Mang (kenapa si Aa ganteng)?" tanya Ceu Lilis.
Mang Ujang cuma menggelengkan kepalanya. Rama masih terus minum lagi, tangannya bergetar, dia beristighfar terus menerus dalam hati. Setelah agak tenang, Rama mencoba melihat kembali wajah Ceu Lilis, ternyata ga mirip sama Mba Nay, mungkin hanya bayangan sesaat aja.
"Kerupuknya dipisah ya, terus dipakein kecap diatas kerupuknya" pinta Rama
"Muhun A'... sambel?" tawar Ceu Lilis.
"Dikit aja" jawab Rama.
"Mau juga ya" sahut Mang Ujang yang baru duduk.
"Ceu... boleh tanya?" kata Rama.
"Boleh atuh A' " jawab Ceu Lilis sambil kasih kembalian ke pembeli.
Kini hanya ada mereka bertiga dipinggiran jalan.
"Keliatannya Ceu Lilis ini masih muda, prediksi saya malah usianya dibawah usia saya, kenapa dipanggil Ceu Lilis? terkesan tua kan" tanya Rama yang memang biasa ceplas-ceplos.
"Nama sebenarnya tuh Cece Lisnawati, pas mulai nyanyi dipanggung dangdutan nama Cece kurang menjual, jadilah diganti nama panggung jadi Ceu Lilis, Alhamdulillah malah jadi rejeki A', mungkin lebih gampang kitu. Jadi teh Ceu itu bukan sapaan panggilan menghormati, jadi kaya nama aja" jelas Ceu Lilis sambil memberikan bubur ke Rama dan Mang Ujang.
"Oh gitu, wah pasti Ceu Lilis terkenal ya disini. Tapi memang suaranya bagus, ngomong aja merdu, apalagi nyanyi" puji Rama.
"Wah dipuji sama orang kota .. emang Aa' suka dangdutan juga?" tanya Ceu Lilis.
"Bukan masalah suka apa ngga, tapi memang jarang denger genre itu. Paling dengar saat security rumah jaga di pos" jawab Rama.
"Rumahnya ada security nya A'? pasti orang kaya raya nih Aa' .. eh tapi anaknya Pak Isam kan ya? atuh pantes ... Sultannya kampung sini" lanjut Ceu Lilis.
"Teu nyanyi deui Lis (ga nyanyi lagi)? kok jadi jualan bubur?" tanya Mang Ujang penasaran.