HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 105, Movie teather



Rombongan Pak Isam ditunda waktu berangkatnya karena ada tamu yang datang. Untunglah belum pesan tiket bioskop, jadi masih bisa bebas waktunya. Ada tiga mobil yang rencananya akan diberangkatkan, dengan jumlah yang ikut totalnya tujuh belas orang termasuk Rama. Mas Haidar ga bisa ikut karena masih kerja.


"Mba Izza... Sachi udah ngambek, bagaimana kalo kita jalan duluan?" ide Mba Nur.


"Ga enak juga ya, soalnya Bapak kan masih ada tamu dan belum bilang ke beliau tentang rencana ini" jawab Izza.


Rupanya Sachi terus merengek hingga Pak Isam mendengar. Pak Isam pamit dulu sama tamunya sebentar untuk berbicara sama Izza. Sebelumnya Pak Isam masuk ke kamar dan keluar membawa amplop.


"Kalian berangkat duluan aja, Papi kayanya ga jadi ikut, ga enak masih ada tamu. Tiket beli online saja. Papi transfer nanti" ucap Pak Isam sambil menyerahkan amplop ke Izza.


"Terus Bapak ga jadi ikut?" tanya Izza.


"Kayanya ga bisa deh, kami lagi ada pembahasan serius ini" ucap Pak Isam.


"Bapak ga masalah nih ditinggal?" tanya Izza lagi.


"Iya gapapa, nanti kalo kurang uangnya, kamu telpon aja ya biar ditransfer" jawab Pak Isam.


Baru aja rombongan mau jalan, mobil Rama memasuki halaman rumah.


"Ayahhhhh" teriak Sachi sambil berlari mendekati mobilnya Rama.


Rama turun dari mobil dan memeluk putri kecilnya. Keduanya melepaskan rindu.


"Ayah bau banget" protes Sachi sambil menutup hidungnya.


"Ayah udah pake minyak wangi kok" jawab Rama.


"Sachi ga mau ah sama Ayah.. abis bau sih" kata Sachi.


"Ayah mandi dulu deh, tungguin ya" pinta Rama.


"Ayah lama .. Sachi mau jalan sama Mba Nur aja ya, nanti Ayah janji nyusul ke bioskop" ucap Sachi.


"Aunty Izza mana?" tanya Rama.


"Sama Opa didalam" jawab Sachi.


.


Izza memberikan uang ke Alex karena dia ga bisa bareng rombongan, tamunya Pak Isam sepasang suami istri yang sedang curhat, Izza membantu menenangkan istrinya yang tampak sudah berusaha menahan tangis tapi ga kuat, makanya diputuskan belum bisa berangkat ikut rombongan dulu, nanti dia bareng sama Rama. Mang Ujang masih nunggu Rama sesuai instruksi. Nanti mereka akan nonton yang jam tujuh malam, jadi masih ada waktu untuk menyusul kesana.


Untunglah Sachi mau berangkat tanpa Izza, dia sudah antusias karena dijanjikan main di playground dulu sebelum nonton di bioskop. Para asisten rumah tangga dan security yang tidak berdinas juga mau window shopping aja, karena yang dituju salah satu Mall elit jadinya berat dikantong kalo berbelanja disana.


Dua mobil sudah bergerak meninggalkan rumah Pak Isam menuju salah satu bioskop yang sudah dipesan tiketnya secara online oleh Izza. Uang yang diserahkan ke Alex untuk beli makanan dan minuman serta mengajak Sachi main.


.


Rama masuk kedalam rumah, ada kawan Papinya yang dia kenal. Rama langsung menghampiri dan mencium tangan keduanya.


"Rama makin gagah aja" puji Om Dadang.


"Alhamdulillah" jawab Rama.


"Habis dinas luar kota ya .. ada project dimana sekarang?" tanya Om Dadang.


"Ya namanya pemburu rejeki Om .. jadi dimana aja ada peluang ya disitu saya akan datang" jawab Rama basa basi.


"Ini calonmu memang tanggap ya, langsung membantu menguatkan istri saya. Ya namanya juga wanita.. gampang nangis" ujar Om Dadang.


Istrinya Om Dadang tampak masih dipeluk dan ditenangkan oleh Izza. Rama duduk disamping Pak Isam.


"Kamu ingat ga sama anaknya Om Dadang?" tanya Pak Isam.


"Iya .. temannya Mas Haidar waktu SMA, kan sering kerja kelompok disini" jawab Rama.


"Umurnya kan sama kaya Mas Haidar, udah hampir tiga puluh tiga tahun. Sampai sekarang belum mau nikah juga" adu Om Dadang.


"Mungkin belum ketemu jodohnya Om" ucap Rama sambil membuka jaketnya.


"Iya .. tapi yang jadi masalah, dia belok" kata Om Dadang.


"Belok bagaimana ya Om?" tanya Rama ga paham.


"Om mendapati dia berciuman di kamarnya, ada juga foto-foto mesra dilaci kamar" jawab Om Dadang.


"Biasalah Om para muda mudi hal-hal seperti itu ketika berpacaran" kata Rama.


"Mungkin kalo sama cewe sih gapapa Ram, ini sama cowo" sahut Om Dadang gemes.


"Sesama jenis maksudnya?" tanya Rama meyakinkan.


"Iya" jawab Om Dadang.


"Sudah tanyakan langsung ke yang bersangkutan belum?" tanya Rama.


"Sudah dan mengakui semuanya, yang parahnya mereka malah mau menikah di Thailand sebulan lagi" ucap Om Dadang.


"Coba Pi .. bawa aja ke Abah Ikin, siapa tau pikirannya jadi terbuka. Tapi bisa juga dibawa ke psikolog Om, selain pergaulan, masa lalu bisa juga jadi momok yang membuat seseorang menyukai sesama jenis" saran Rama.


"Papi ga kepikiran.. oke deh nanti Papi coba hubungi Abah Ikin" kata Pak Isam.


"Besok Abah Ikin ada di Pasar Minggu, adiknya mau menikahkan anaknya" lapor Rama.


"Kamu abis dari sana?" tanya Pak Isam.


"Iya .. Rama mau mandi dulu ya, nanti Sachi ngambek kalo Rama ga nyusul" pamit Rama.


.


Lima belas menit kemudian, Rama dan Izza berpamitan untuk menuju bioskop. Mang Ujang sudah standby di mobil.


"Mobil dalamnya bersih, tapi luarnya kaya abis off-road" kata Mang Ujang.


"Nanti pulangnya kalo masih ada yang buka, ke cucian mobil robot aja" jawab Rama.


Izza duduk di bangku belakang, sedangkan Rama di bangku depan. Dia rebahkan kursinya kemudian tidur.


.


"Cape banget kayanya Mas Boss" ujar Mang Ujang.


"Biarin aja Mang .. sekarang fokus ke jalan biar bisa nonton bareng sama yang lain" pinta Izza.


"Mas Boss habis dari mana sih Mba? segala ngilang beberapa hari. Mang Ujang kan jadi khawatir" tanya Mang Ujang.


"Ya ga tau Mang .. kita ga usah ikut campur" saran Izza.


"Mba .. maaf sebelumnya, sebenarnya udah beberapa hari mau bilang, tapi ga enak deh rasanya. Mau ngobrol di rumah kok ga pas terus waktunya" kata Mang Ujang.


"Ada apa Mang? bilang aja" ucap Izza.


"Sebenarnya ... aduh gimana ya... begini... ada apa ya antara Mba Izza dan Ceu Lilis? kayanya dia marah banget sama Mba Izza. Apa rebutan Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Lilis cerita ke Mamang?" tanya Izza balik.


"Udah hampir dua mingguan Ceu Lilis kalo malam tidur di rumah orang tua Mamang. Bapak tirinya genit, Ambu khawatir Ceu Lilis kenapa-kenapa. Ceu Lilis pernah bilang ke Ambu kalo ga setuju Mas Boss dan Mba Izza menikah. Ya bisa dibilang ... Mba Izza habis dijelek-jelekkinlah. Ambu kan memang belum terlalu kenal sama Mba Izza, baru ketemu sekali saat takziah dulu, makanya Ambu bilang ke Mamang buat kasih tau ke Mas Boss. Ya tujuannya biar Mba Izza menjauh dari Mas Boss" papar Mang Ujang jujur.


"Lilis ngomong apa aja emangnya Mang?" tanya Izza penasaran.


"Katanya Mba Izza dari keluarga pembunuh... maaf ya Mba. Mang Ujang juga kaget karena baru tau" ucap Mang Ujang ragu.


"Terus apa lagi Mang?" tanya Izza.


"Mba Izza sengaja dekat sama Mas Boss untuk mengincar hartanya, makanya berusaha membuat Mas Boss bertekuk lutut pakai Sachi. Semua orang juga tau kalo kelemahan Mas Boss itu ada di Sachi" lanjut Mang Ujang.


Rasa sedih menyelimuti Izza, sudah berusaha tidak menampakkan wajah sedih, tapi dia ga bisa. Turun juga air matanya.


"Maaf ya Mba .. Mamang ga bermaksud membuat Mba Izza jadi nangis. Mamang cuma bingung. Disatu sisi Mamang sayang sama Mas Boss, tapi disisi lain ya Mamang ga percaya kalo Mba Izza bisa melakukan hal itu. Kenyataan Mba Gita yang ternyata orang jahat pun bikin Mamang shock, dia kan dikenal sebagai seorang sekretaris yang sangat setia sama Abrisam Group, tapi ternyata ... ya begini. Apa benar Kakaknya Mba Izza dipenjara karena merencanakan kebakaran rumah keluarga Ceu Lilis?" papar Mang Ujang.


Izza mencoba beristighfar dalam hatinya. Perih rasanya menanggung beban yang dia tidak ketahui sama sekali. Ibaratnya siapa yang makan nangka dia yang kena getahnya.


Rama terbangun karena mendengar beberapa kali Izza berisak tangis.


"Ada apa Za? kenapa nangis? tanya Rama bingung begitu membuka matanya.


Ga ada jawaban dari Izza, tapi Izza tengah berupaya keras menghapus air matanya dan menghentikan tangisnya.


"Za .. kenapa?" tanya Rama lagi.


Izza masih terdiam.


"Ada apa sih Mang?" tanya Rama penasaran.


"Maaf Mas Boss.. saya hanya menyampaikan omongan Ceu Lilis ke Mba Izza" jawab Mang Ujang yang susah buat berbohong.


"Omongan apa?" tanya Rama lagi.


Giliran Mang Ujang yang terdiam, kalo dia ngomong, pasti Rama akan marah besar.


Rama loncat ke bangku belakang dan menegakkan kembali bangku depan. Sekarang dia duduk disampingnya Izza.


"Sebentar lagi sampai Mall, kita mau cari hiburan biar happy, jangan nangis kaya gitu, nanti Sachi liat pasti banyak pertanyaan" saran Rama.


Izza terus berusaha menghapus air matanya. Rama memberikan tissue wajah yang ada di mobil. Rama suka pake ini jika muka terasa ga fresh.


"Diantara kalian berdua... siapa yang mau cerita? ada apa sih? apa perlu saya telpon Lilis?" akhirnya Rama kesel sendiri.


"Dah Kak .. gapapa kok" ucap Izza mencoba menenangkan Rama.


"Nangis sesenggukan gini sampe ganggu tidur saya .. kamu bilang gapapa?" kata Rama penuh penekanan.


"Maaf kalo ganggu tidurnya. Maaf ya Kak" ujar Izza pelan.


"Coba cerita ada apa? jadi saya paham kenapa kamu nangis" tanya Rama lagi.


"Kak .. udahlah.. i'm okay" jawab Izza.


Perempuan memang berbeda dari laki-laki dalam hal menunjukkan emosi. Bisa dikatakan perempuan lebih mudah mengekspresikan semua emosi yang dirasakan, salah satunya dengan menangis.


"Kalian berdua hutang cerita sama saya. Malam ini juga harus ada yang cerita. Saya ga mau tidur dalam kondisi penasaran. Kalo ga ada yang mau cerita juga, saya akan tanya Lilis langsung" ancam Rama.


"Kak .. please... ga semua tangisan saya harus Kakak ambil hati. Sudahlah, Kakak juga bukan siapa-siapa yang harus menghapus tiap tetesan air mata saya. I can take care of my self (saya bisa mengurus diri sendiri)" pinta Izza sambil meletakkan telapak tangannya diatas telapak tangan Rama kemudian menepuknya pelan.


Izza mengisyaratkan dia baik-baik aja dan ga perlu dibawa emosi sama Rama. Rama memandang kearah telapak tangannya yang dipegang oleh Izza.


"Kamu ga baik-baik aja Za.. " ucap Rama dalam hatinya.


🌺


"Rumah sepi banget Pi .. jadi nonton bareng-bareng?" tanya Mas Haidar.


"Jadi" jawab Pak Isam.


"Kok Papi ga ikut?" tanya Mas Haidar lagi.


"Tadi ada Dadang main kesini" ujar Pak Isam.


"Om Dadang ada apa datang kesini Pi? mau undang nikahan Soma?" kata Mas Haidar.


"Bukan, kamu tau ga kalo Soma penyuka sesama jenis?" ucap Pak Isam.


"Ga Pi.. emang begitu?" tanya Mas Haidar kaget.


"Iya.. nanti Papi ceritain semua. Rama udah pulang, sekarang lagi ikut nonton" lapor Pak Isam.


"Dah pulang deh dia.. rumah udah kaya Hotel transit. Seenaknya mau datang dan pulang" kata Mas Haidar rada menyepelekan Rama.


"Jangan cari gara-gara sama dia, besok kita kumpul keluarga. Papi harap kalian bisa sama-sama menahan emosi" ingat Pak Isam.


"Asal dia ga mulai duluan juga gapapa Pi" sahut Mas Haidar ogah-ogahan.


"Besok dibawa ga calonnya?" tanya Pak Isam.


"Lagi ga di Jakarta Pi" jawab Mas Haidar.


"Berarti besok Papi kenalin Izza ya sebagai calon mantu" ucap Pak Isam.


"Jadinya mau nikah ga tuh anak? disuruh nikah agama aja kabur, apalagi disuruh nikah resmi" ujar Mas Haidar.


💐


Menonton di bioskop platinum merupakan pengalaman pertama untuk para pekerja di rumahnya Pak Isam. Tadi secara khusus Pak Isam meminta Izza membeli tiket tersebut agar semua punya pengalaman pernah menonton di bioskop platinum yang harga tiketnya mencapai lima kali lipat dari harga tiket bioskop jaringan biasa.


Jadwal film dimulai jam tujuh malam, mereka sholat Maghrib dulu baru kemudian ke bioskop. Rombongan Rama juga langsung menuju Musholla dulu baru nanti ke bioskop.


Disamping Musholla ada semacam selasar seperti teras yang cukup nyaman untuk beristirahat dan sekedar berfoto-foto bagi yang tidak sholat.


Semua bertemu disana, Sachi langsung nempel ke Rama bahkan minta gendong karena cape bermain.


.


Ruang tunggu bioskop terpisah dari yang biasa, disana menyediakan sofa-sofa yang lebar dibeberapa spot yang sangat strategis. Apalagi ada beberapa tempat duduk yang khas dipasang berdampingan dengan pohon-pohon bambu yang menjulang tinggi.


"Lex.. udah tukar tiket onlinenya?" tanya Rama.


"Sudah" jawab Alex sambil memperlihatkan tumpukan tiket.


Alex menyerahkan amplop uang ke Izza. Kemudian sama Izza dimasukkan kedalam tasnya.


Tampilan tiket platinum sangat cantik, kartu dengan tempat tiket berwarna silver biru dongker. Yang belum pernah nonton ke bioskop platinum heran karena bentuknya seperti kartu ATM.


"Kaya kartu hotel ya.." ucap Mang Ujang.


"Ini nanti gimana masuknya ya Mang? apa dimasukin kartunya?" tanya Mba Nur.


"Ini aja pertama kali nonton ke bioskop platinum, ya mana tau caranya gimana. Ikutin Mas Boss aja" saran Mang Ujang.


Rama meminta tolong ke Izza untuk memberikan uang ke semuanya masing-masing dua ratus ribu rupiah per orang.


"Uangnya buat beli cemilan ya, lumayan panjang kan filmnya sembilan puluh menit, untuk makan malam nanti kita cari tempat makan yang enak buat nongkrong" ucap Rama.


"Nah .. begini nih enaknya pergi sama Boss.. dijamin kenyang" celetuk salah satu asisten rumah tangga.


.


Tibalah saatnya pintu bioskop dibuka. Ketika masuk, sudah banyak orang yang duduk di kursinya masing-masing. Kapasitas tempat duduk hanya dua puluh empat kursi. Jadi hanya ada delapan orang yang bukan rombongan mereka, rombongan Rama berjumlah enam belas orang karena Pak Isam ga jadi ikut.


"Ini bioskop atau ruang tamu ya.. mevvah banget" gumam Mba Nur.


Deretan kursi recliner empuk dengan sandaran yang bisa diatur tampak berjajar rapih. Bisa juga mengisi ponsel dengan charger USB disisi kanan dan kiri kursi. Kursi disini modelnya bergandengan dengan meja kecil diantaranya. Dapat welcome drink berupa air mineral botol kecil. Meja kecil diperuntukkan buat meletakkan makanan atau minuman. Ada juga tombol untuk memanggil staf jika ingin pesan makanan.


Kursi khusus ini bisa sambil selonjoran atau tidur-tiduran. Ketika sampai ditempat duduk yang ditentukan, rata-rata para pekerja di rumah Pak Isam takjub, mereka melihat-lihat kursi yang akan diduduki.


Sachi maunya duduk bersebelahan sama Mba Nur, karena Sachi tau tiap nonton sama Rama pasti ditinggal tidur. Tadinya Izza menawarkan untuk duduk disebelahnya, tapi Sachi udah nyaman duduk disebelah Mba Nur dan Mba Nur juga ga enak kalo duduk disebelahnya Rama. Rama dan Izza mendapatkan bangku dipojok kanan atas, rupanya para pekerja sudah kongkalikong mengatur tempat duduk keduanya. Sachi pun sudah banyak dipengaruhi agar ga sama Ayahnya.


Muncul lagi kebingungan dari para pekerja melihat kursinya Rama sudah bisa disenderkan dan ada dudukan kakinya juga.


Mang Ujang dengan sok pintar, mencari-cari tuas dibagian terluar kursi, barang kali tuasnya sama dengan tuas yang berada di kursi mobil. Karena ga ketemu juga, Mang Ujang berkeliling dibagian belakang kursi.


Rama dan Izza hanya ketawa-ketawa melihat para pekerja pada kebingungan.


"Kak.. bantuin tuh.. kasian" pinta Izza.


"Pada gengsi sih.. itu kan ada petugas didepan, bisa kan nanya" ujar Rama.


"Bantu ah .. kasian liatnya kaya orang bingung" kata Izza.


"Udah kamu duduk aja, saya yang turun kasih tau caranya" ujar Rama sambil berjalan menuju kursinya Mang Ujang.


"Tombolnya ada di kursi sebelah kanan dalam, emang nyempil sih, nah ini buat aturnya" jelas Rama sambil memencet tombol.


Semua mengikut arahan dari Rama. Karena pertama kali mereka menggunakan kursi elektrik, jadi malah pada iseng buat main dengan menaikkan dan menurunkan sandaran kursi.


Lampu dimatikan, tanda film akan segera diputar.


"Lah kok orang udah pada selimutan, niat banget nonton bawa selimut" bisik Mang Ujang ke Alex yang duduk disebelahnya.


"Iya ya .. aneh-aneh aja segala bawa selimut, ga sekalian bawa bantal guling. Dikira ini tempat tidur apa ya" ledek Alex.


Mang Ujang dan Alex melihat ada salah satu penonton yang mengambil selimut di laci bagian tengah kursi yang memisahkan antara kursi satu dan lainnya.


"Ternyata disediain... hehehe. Kita ndesonya keliatan ya" cengir Mang Ujang.


"Iya Mang... mana AC nya dingin banget" ucap Alex sambil mengambil selimut.


Rata-rata semua membeli popcorn dan minuman bersoda. Ada pelayan yang membawakan makanan dan minuman untuk Sachi (Rama yang tadi panggil untuk memesan sekaligus memberikan uang sejumlah pesanan untuknya dan untuk di meja Sachi).


Pelayan meletakkan makanan di mejanya Sachi. Ada french fries, sosis dan burger serta susu coklat.


"Kok Sachi dikasih makanan ya? ga bayar pula... gimana caranya ya?" tanya Mang Ujang.


"Mungkin karena dia anak-anak kali Mang, biar anteng ya dikasih makanan" jawab Alex.


"Itu Nur juga disediain minuman kaya es boba sama wafel" lanjut Mang Ujang.


"Apa yang punya bioskop tau kali kalo Sachi itu cucunya orang terkenal" sahut Alex yang sama-sama ga paham.


Pelayan mengarah ke kursinya Rama. Terlihat membawakan popcorn ukuran medium, dua gelas minuman dan dua kotak makanan.


"Tuh liat deh.. Mas Boss juga dianterin. Sachi aja ga bayar, ga dimintain uang kok si Nurnya" bisik Mang Ujang lagi.


"Kok kita ngga ditawarin atau dianterin ya? bisa ndower nih kita makanin popcorn asin ini" ucap Alex.


"Kita bilang aja yuk ke pelayannya, bilang kita ini supirnya Mas Boss" ide Mang Ujang.


"Mang Ujang aja coba yang lebih berani. Nanti kalo Mang Ujang udah dapat, baru deh saya ikutan" ucap Alex.


Begitu pelayan turun, Mang Ujang memanggil. Pelayan mendekati Mang Ujang.


"Mba.." panggil Mang Ujang pelan.


"Ada yang bisa dibantu Mas?" tanya pelayan.


"Kalo mau makan seperti anak itu bisa?" tanya Mang Ujang.


"Tentu Mas.. ini daftar menunya, mau pesan apa?" tanya pelayan.


Mang Ujang memesan makanan dengan melihat gambar karena namanya asing baginya, pelayan memencet alat kemudian menyerahkan bill ke Mang Ujang.


"Kok bayar Mba? itu anak sebelah saya ga bayar. Mas Boss saya juga yang paling belakang ga bayar. Saya ini supirnya dia loh Mba.. supirnya Bapak Rama, pemilik Abrisam Group dan Audah Hotel" ucap Mang Ujang rada sombong.


"Oh ya Mas.. kami disini tidak memandang apapun profesi Mas, yang jelas menu yang sudah diorder langsung dibayar terlebih dahulu. Untuk anak yang Mas maksud, sudah dibayar oleh Ayahnya, yang dipojok kanan kan?" ucap pelayan menjelaskan.


"Mba ga bilang harus bayar sih" kata Mang Ujang sewot.


"Maaf Mas.. sama seperti di bioskop lain, menu yang dipesan harus dibayar" jawab pelayan dengan nada yang sopan.


.


"Itu Mang Ujang kenapa?" tanya Izza.


"Paling juga dia sok tau order makanan. Pasti dia liat Sachi dikasih makanan ga bayar, jadi dia ikut pesan. Mang Ujang kan emang begitu tipenya, ga mau tanya-tanya dulu" jawab Rama sambil menikmati menu gourmet fish and chips.


.


"Jadinya berapa yang harus saya bayar?" tanya Mang Ujang kesal.


"Untuk makanan seratus empat puluh ribu dan minumannya tujuh puluh ribu. Total dua ratus sepuluh ribu sudah termasuk pajak " jelas pelayan.


Mang Ujang merogoh kantongnya, mengeluarkan uang yang tadi dikasih sama Izza, plus dia cari sepuluh ribu lagi di kantong celana.


Setelah itu pelayan menyajikan ke meja samping Mang Ujang.


"Silahkan Mas.. selamat menikmati" ucap pelayan.


"Untung saya ga pesan... mahal banget ya, cuma kentang sama ikan tepung dua biji plus es kopi sampe dua ratus sepuluh ribu.. mending makan warteg bisa buat seminggu Mang" ledek Alex.


Mang Ujang masih merengut. Mencoba menikmati makanan termahal yang pernah dia beli sendiri. Biasanya kalo makan sama Rama ga pernah mikir soal harga.