
Anaknya Candra yang kedua sudah berusia empat puluh hari, rencananya akan dibawa ke Resort keluarga. Ada perayaan ulang tahun anaknya Mas Akmal dan Mba Flo disana.
Candra dan Lexa memang termasuk orang tua yang tidak terlalu cemas jika anak masih kecil bepergian, yang terpenting keamanan dan kenyamanan terjamin.
.
Candra yang menggendong bayinya selama dalam Speedboat, telinga bayinya pun dipakaikan pelindung telinga untuk anak-anak. Pasti akan kaget mendengar suara mesin dan gemercik air yang terkena mesin.
"Lung.. kan Pak Sandy juga mau menginap ke Resort" buka Lexa.
"Oh ya... tau dari mana? kebetulan juga Alung udah lama ga berjumpa sama beliau. Pak Sandy sekarang banyak di rumah saja, sudah tidak mengurus perusahaan sama sekali" kata Candra.
"Pasti Alung ga main ke rumahnya karena Ani sekarang tinggal sama Pak Sandy kan? dulu kan rutin sebulan sekali kesana" tanya Lexa.
"No komen ah .. apapun jawaban Alung pasti Acik cemburu. Jadi mendingan no komen, cari aman" jawab Candra sambil nyengir.
"Biar bagaimanapun Pak Sandy juga ada sumbangsihnya terhadap Alung. Jangan lupa begitu aja, kita harus tetap ingat jasa-jasa yang membentuk kita hingga hari ini" saran Lexa.
"Siapa yang lupain Pak Sandy? kalo ulang tahun, Alung kirimin makanan atau sekedar hadiah sederhana. Tapi bukan Alung yang antar ya, pakai kurir. Selama ini ya berhubungan via telepon saja, agak susah samain jadwal antara Alung sama Pak Sandy. Yang tadi Alung tanya belum dijawab.. siapa yang bilang kalo Pak Sandy mau ke Resort?" tanya Candra.
"Mba Flo... Pak Sandy hubungin Mas Akmal terus minta dibookingin kamar, Mas Akmal cerita ke Mba Flo" jelas Lexa.
"Sendiri atau sama keluarganya?" tanya Candra.
"Ngarep ya .. biar bisa ketemu sama mantan tuh" ejek Lexa.
"Nah kan.. pasti pikirannya kearah sana. Ya udah deh.. mending diam daripada ribut" putus Candra.
"Sendiri Lung.. mungkin mau santai sendirian. Nanti juga bisa ketemu sama Ayah. Kalo udah ketemu sama Ayah pasti isinya ngobrol ngalor ngidul" ujar Lexa.
Candra cuma manggut-manggut, ga mau menjawab apapun.
"Kenapa cuma menganggukkan kepala? Alung sekarang udah ga mesra lagi nih, apa karena anak sudah dua ya?" terka Lexa.
"Tuh kan jadi melebar kemana-mana pembahasannya. Acik kan tau sendiri kalo sebulan terakhir ini Alung lagi ada masalah di kantor. Dua Manager sekaligus resign, jadi banyak yang harus dibantu untuk menjaga berjalannya semua tugas yang ditinggalkan" jelas Candra.
"Dulu selalu romantis, saat Acik hamil pun masih sama. Kenapa abis Acik melahirkan, Alung kayanya biasa aja" protes Lexa.
"Alung anterin kontrol ke Rumah Sakit ga? Alung ikut bangun tengah malam buat sekedar ganti popok atau gendong anak kita setelah kamu susuin? emang begitu ga romantis?" tanya Candra.
"Itu bukan romantis Lung.. tapi sebagai bentuk support terhadap Ibu menyusui. Biasanya Alung ada aja bahan gombalan yang membuat jadi terbang melayang" ucap Lexa.
"Ohhh... jadi nunggu digombalin? hehehehe.. bukan ga mau Cik.. entah kenapa ya, melihat kamu habis melahirkan our princess, Acik tuh tambah cantik, terus kan ASI nya berlimpah.. jadi bagian dadanya lebih besar dan menggoda, rasanya bahaya kalo gombalin Acik.. ga ada bahan pelampiasan, kan lagi masa nifas kemarin itu. Lagipula nanti Alung khawatir rebutan pabrik ASI sama anak sendiri" sahut Candra yang langsung mendapat tepukan dipundaknya oleh Pak Sanjaya.
Pengasuhnya Boy pun terlihat menahan senyum mendengar omongan Candra yang sangat vulgar.
"Apa sih Cannnn... siang-siang udah ngomongin pabrik ASI aja. Mentang-mentang sudah habis jatah mie instannya, bawaannya mau nyeruduk terus. Mau lanjut anak ketiga?" canda Pak Sanjaya.
"Kasih jarak dulu Yah.. minimal kaya Boy dan adiknya, jadi ga jauh tapi masih ada waktu untuk memperhatikan perkembangan anak di satu tahun pertamanya. Masih kurang rame memangnya Yah? Qisha sudah dua anaknya, Lexa juga dua" papar Candra.
"Kuranglah.. masing-masing minimal tiga deh, biar makin rame" jawab Pak Sanjaya.
"Ayah enak banget tinggal ngomong.. ga ngerasain hamilnya dan melahirkan" protes Lexa.
"Itu kan anugerah.. ga semua wanita diberikan kepercayaan secepat kamu. Harusnya bersyukur.." nasehat Pak Sanjaya.
"Nanti dulu Yah ... tunggu pas waktunya" kata Lexa.
🌷
"Katanya kita mau honeymoon.. kok malah arah balik rumah?" tanya Izza ketika mobil melaju kearah rumah.
"Jemput Alex dulu" jawab Rama.
"Masa honeymoon ngajak Bang Alex.. kasian Mba Nur lagi kurang enak badan" kata Izza.
"Siapa yang mau bawa Alex.. dia nanti yang bawa mobil ini pulang. Kita ga bawa mobil" jelas Rama.
.
Alex sudah menunggu di jalanan sebelum pintu tol terdekat dari rumah Pak Isam.
Alex kemudian membawa mobil tersebut, Rama dan Izza pindah ke bangku belakang dan mengistirahatkan tubuhnya.
Satu jam kemudian, Rama dan Izza sudah sampai ditujuan.
"Boss... sudah sampai nih" panggil Alex sambil memegang kakinya Rama.
Rama terbangun.
"Tadi tiket masuk kamu yang bayar?" tanya Rama.
"Ya Boss" jawab Alex.
Rama mengambil dompetnya dan memberikan uang ke Alex sebesar lima ratus ribu rupiah.
"Makasih Boss" kata Alex.
"Lusa sore jemput kesini ya" pinta Rama.
"Siap Boss" jawab Alex.
Rama mencium pipinya Izza. Jelas saja Izza terlonjak kaget.
"Kakakkkk.. malu kan ada Bang Alex" oceh Izza.
"Alex mah ga ngiri orangnya.. ayo bangun.. kita lanjut perjalanan" ajak Rama.
"Ini Ancol ya? kita honeymoon disini?" tanya Izza.
"Maksudnya mau di mobil ini aja... jadi mobil goyang gitu?" ledek Rama.
Izza langsung menepuk tangannya Rama sambil agak manyun. Alex sudah tertawa.
"Becandaaaa.... " ucap Rama.
Alex menurunkan tas milik Rama dan Izza dan membantu membawakannya ke tempat penyeberangan.
"Kita mau ke Pulau?" tanya Izza penasaran.
"Iya .. ke Jaya Resort. Yang dekat-dekat aja. Lagi malas di Hotel atau daerah dingin. Maunya yang hot-hot.. biar makin hot" bisik Rama nakal.
Kembali Izza menepuk lengannya Rama.
.
Setelah membeli tiket untuk menyebrang, Alex pamit pulang. Rama memang tidak menyewa khusus speedboat, ingin bareng sama banyak orang saja. Merasakan liburan dengan budget yang ga menguras kantong.
Sekarang jam satu siang, kemungkinan mereka akan sampai di Jaya Resort nanti sore sekitar senja menyapa.
.
Sepanjang perjalanan, mereka ngobrol ringan aja didalam ruangan kapal. Tengah hari seperti ini kalo diluar kapal pasti panas terbakar teriknya mentari.
"Kok milihnya Jaya Resort? kan banyak pulau lain yang belum dikunjungi" buka Izza.
"Kemarin kan belum banyak explore, lagipula ini juga bukan Kakak yang bayar, dapat gratisan" jawab Rama.
"Rahasia dong, pokoknya kita cuma stay dua harian aja, lusa sudah balik" kata Rama.
"Dikasihnya penginapan aja atau dapat uang saku nih?" korek Izza.
"Cewe tuh ya.. begitu dengar kata gratisan, pasti maunya semuanya gratis. Jika orang itu memberikan semua termasuk makan dan uang saku, kayanya akan Kakak tolak. Ini juga terpaksa Kakak terima tawaran untuk menginap di Jaya Resort karena satu dan lain hal" bocor Rama tanpa dia sadari.
"Kakak janjian sama siapa?" tanya Izza.
"Eh.. ehmm.. tadi emang Kakak bilang mau janjian sama orang? kayanya ngga deh" anulir Rama.
"Terus satu dan lain halnya apa dong? jangan merusak suasana Kak, udah niat banget ini liburan singkat sambil memanjakan diri. Mau pijat dan luluran, terus spa habis gitu ke salonnya deh.. potong rambut" khayal Izza.
"Enak banget kayanya... Kakak boleh ikutan?" tanya Rama.
"Kalo ada terapis cowo, bolehlah.. tapi kalo terapisnya cewe semua.. mending Izza aja yang lulurin" jawab Izza.
"Over deh.. lagian Kakak mana pernah ikut perawatan kaya gitu, ga ada waktu" sahut Rama.
.
Tepat pukul lima sore, Rama dan Izza sampai disana, setelah menunjukkan bukti pemesanan, keduanya diantar oleh petugas Resort menuju kamarnya. Kamar kali ini merupakan kamar terbaru, terpisah dengan deretan kamar lainnya dan ada dapur untuk memasak. Cocok untuk pasangan yang sedang honeymoon dan enggan untuk keluar kamar.
.
"Kamar baru nih kita dapatnya, pas kesini kayanya baru mulai buat pondasi ya" kata Izza begitu bersantai di kursi.
"Sholat ashar dulu.." ingat Rama.
"Iya.. ini lagi keringin keringat dulu" jawab Izza.
🌺
"Boss semua pada bubar .. kita makin santai aja nih kerjanya" kata asisten rumah tangganya Pak Isam.
"Biasanya juga santai" sahut Mba Nur.
"Iya .. tapi kan ga perlu masak sesuai pesanan, rumah juga rapih karena Sachi ga berantakin. Ga ada tamu juga ... ya pokoknya dibawa santailah" jawab yang lainnya.
"Orang kaya enak ya.. mau liburan tinggal jalan. Ga mikirin besok gimana, secara uang di rekening aman" kata yang lain lagi.
"Mereka semua itu penuh perhitungan, ga sekedar menghambur-hamburkan uang. Mas Haidar sampai ajak Sachi keluar negeri, itu karena waktu yang diberikan ke Sachi selama ini sangat kurang. Mau ga mau kalo diluar negeri kan mereka bisa terus menerus bersama tanpa bantuan dari kita. Mas Rama dan Mba Izza selain mengantar Maryam, mereka akan bulan madu lagi. Kita kan liat bagaimana sedihnya Mba Izza yang belum kunjung hamil. Kalo Pak Isam sepertinya merasa kesepian seorang diri, jadinya ya mencari sesuatu yang menyenangkan hati, melihat bisnisnya berkembang disektor lain" papar Mba Nur.
"Semua Boss kita memang orang yang sangat baik, kerja disini sudah seperti keluarga. Ga membedakan .. apa yang mereka makan ya kita makan juga. Mau ngapain aja boleh asal pekerjaan sudah selesai. Ga banyak aturan dan yang jelas gaji kita cuma kepake buat check out di keranjang oren aja" sahut lainnya.
🏵️
Makan malam kali ini, Rama dan Izza sepakat buat makan di restoran Jaya Resort saja. Rasanya masih lelah setelah perjalanan panjang dari Tasikmalaya terus lanjut kesini.
Mereka memesan seafood sebagai jagoan hidangan jika ada di tepi pantai.
Tampak keluarga Pak Sanjaya sedang makan juga.
"Rama.. Izza... gabung sini" panggil Candra.
Rama dan Izza menghampiri meja tempat keluarga Pak Sanjaya berada.
"Ayah.. perkenalkan ini Rama Abrisam.. dan ini istrinya" ucap Candra memperkenalkan pasangan ini ke Pak Sanjaya.
Pak Sanjaya bersalaman dengan Rama.
"Apa ada hubungannya dengan Abrisam Group?" tanya Pak Sanjaya.
"Ini Big Bossnya Yah.. anaknya Pak Abrisam" jawab Candra antusias.
"Oalahh... sepertinya saya malah ga pernah liat yang ini.. Pak Isam selalu bawa anaknya yang satu lagi... saya lupa namanya" kata Pak Sanjaya.
"Mas Haidar.. beliau yang dulu mendampingi Papi dalam menjalankan Abrisam Group, sekarang saya yang meneruskan" jawab Rama sopan.
"Oh begitu.. mungkin karena Bapak bertemunya sekitar enam atau tujuh tahun yang lalu kali ya, jadinya kamu belum mengurus Abrisam Group" ungkap Pak Sanjaya.
"Saya masih kuliah Pak, baru di Indonesia dua tahun belakangan. Langsung sama Papi diminta mengurusi Abrisam Group" lanjut Rama.
"Bagaimana kabar Pak Isam? menghabiskan masa pensiun dimana?" tanya Pak Sanjaya.
"Alhamdulillah Papi baik-baik saja. Sekarang sedang membangun bisnis penginapan kecil-kecilan didaerah Subang dan sekitarnya" jelas Rama.
"Ayah.. kasihlah mereka duduk dulu" saran Mba Flo.
Begitu berjabat tangan dengan Izza, Pak Sanjaya kaget. Tapi buru-buru Pak Sanjaya tersenyum.
.
Makan malam berlangsung secara kekeluargaan. Canda tawa terdengar dari arah meja.
Para Ibu dan para Ayah membawa anak-anak mereka masuk kedalam kamar setelah makan malam. Sekarang yang tersisa hanya Rama, Izza dan Pak Sanjaya.
"Masih muda ternyata kamu ya Ram.. dulu Candra dan Akmal saya terjunkan menjadi leader setelah usia dua puluh tujuh tahun. Matang secara emosi dan pengalaman" kata Pak Sanjaya.
"Konsep yang terpaksa saya hadapi ya learning by doing. Awalnya berat Pak, namanya masih idealis begitu lulus kuliah, usia dua puluh tiga tahun pula.. banyak diberikan nasehat, pengarahan dan omelan pastinya sama Papi. Sampai sekarang pun beliau masih jadi mentor saya dalam menjalankan Abrisam Group" jawab Rama merendah.
"Tapi kamu ini sudah matang pohon istilahnya. Darah bisnis mengalir deras dalam tubuh kamu, ditambah melihat bagaimana orang tua berjuang membesarkan perusahaan, jadinya secara psikologis, otak kamu merekam.. suatu saat akan seperti mereka. Anak saya yang punya pemikiran seperti itu hanya yang pertama. Yang kedua dan ketiga blass.. ga tertarik sama sekali" lanjut Pak Sanjaya.
"Akhirnya menantu diberdayakan ya.. hahhaa" goda Rama.
"Benar sekali... hahahha" kata Pak Sanjaya.
"Baik Pak.. saya dan istri pamit dulu, baru pulang dari Tasikmalaya lanjut kesini, jadi belum rehat" pamit Rama.
"Oh ya silahkan... " Pak Sanjaya mempersilahkan pasangan ini untuk menuju kamar.
Rama menggenggam tangannya Izza menuju kamar. Mereka berjalan santai menuju kamar.
Pak Sanjaya melihat mereka hingga keduanya hilang dari pandangan.
"Apa pikiran Ayah sama kaya Candra?" ucap Candra mengagetkan Pak Sanjaya.
Rama duduk dihadapan Pak Sanjaya.
"Anak-anak sudah tidur Can?" tanya Pak Sanjaya.
"Jangankan anak-anak, Mamanya anak-anak juga sudah ditiduri sekalian.. eh maksudnya tidur sekalian.. hahaha" canda Candra.
"Kamu nih .. ngomong sama mertua kok begitu.. Ayah nih sudah tua, ga lucu becanda seperti itu" nasehat Pak Sanjaya.
"Maaf Yah" ucap Candra menyesal.
"Siapa deh tadi nama istrinya Rama?" tanya Pak Sanjaya.
"Izza" jawab Candra.
"Ketika pertama kali Ayah liat, kaget banget dia mirip sama seseorang yang kita kenal. Semakin dilihat... eh semakin banyak miripnya" papar Pak Sanjaya.
"Menurut Ayah.. ini kebetulan atau memang ada takdir diantara mereka?" tanya Candra meminta pendapat.
"Mungkin faktor kebetulan belaka.. jika memang ada sebuah takdir diantara mereka, pada akhirnya jika harus terkuak maka akan terkuak" opini Pak Sanjaya.