HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 132, Like marsmellow



Izza mengetuk pintu kamarnya Rama. Tidak ada sahutan dari dalam, Izza memegang handle pintu, ternyata ga dikunci. Pelan-pelan dia masuk kedalam kamar Rama.


Rama sedang sholat. Izza meletakkan makanan diatas meja kerjanya Rama. Ketika Izza akan beranjak keluar kamar, Rama pas selesai sholat.


"Jangan keluar Za .. tidur disini aja. Tempat tidurnya cukup untuk kita tidur berdua" pinta Rama.


"Gapapa Kak.. saya di kamar bawah aja" jawab Izza.


"Kamu ga mau ya tidur berdua lagi sama saya? merasa ga bahagia nikah sama saya?" tanya Rama sambil melipat sajadahnya.


Izza masih berdiri terpaku.


"Sini Za .. duduk disebelah saya" pinta Rama yang sudah duduk ditepi ranjangnya.


Izza memilih duduk di kursi santai dekat jendela kamar.


"Apa karena saya bukan kriteria lelaki yang kamu inginkan untuk dijadikan suami?" tanya Rama lagi.


"Ada apa ya Kak? setiap saya dapat kiriman, Kakak mendadak berubah jadi baik, apa ada hubungannya sama paket-paket yang selama ini ditujukan untuk saya?" tanya Izza.


"Ya" jawab Rama.


"Katanya ga cemburu, kok malah kaya gini jadinya" ledek Izza.


Rama berjalan kearah meja kerjanya, dia mulai menikmati hidangan yang disediakan oleh Izza, capcay dan ayam bakar.


"Kak.. apa posisi saya dihati Kak Rama sebenarnya? masihkah saya dinikahi karena alasan Sachi yang minta?" tanya Izza memberanikan diri.


"Perlu saya jawab?" tanya Rama balik.


Izza malah diam.


"Minta waktu lima menit untuk saya habiskan makanan ini dulu" pinta Rama sambil melanjutkan makannya.


Izza menunggu Rama selesai makan.


🌺


"Harus sungkem nih sama Mas Boss.. beneran dijodohin sama cewe dengan kualitas jempolan" ujar Mang Ujang yang lagi ngobrol sama Alex via sambungan telepon.


"Sama Mang .. saya juga bersyukur dijodohkan sama Mba Nur. Alhamdulillah sudah bertemu sama orang tuanya Mba Nur beserta keluarga. Saya ceritakan semua kisah hidup yang sekelam-kelamnya tanpa ditutupi. Tapi wejangannya sangat bijak, saya diminta untuk tobat, minta ampunan kepada Allah dan berubah menjadi orang yang lebih baik lagi" jawab Alex.


"Mas Boss itu memang baik sama kita Lex.. dia pikirin banget masa depan kita. Sampai urusan jodoh juga diperhatikan. Padahal entah pernikahan apa yang sedang dia jalani sama Mba Izza" ujar Mang Ujang.


"Betul Mang.. terkesan satu ke timur terus yang satu lagi ke barat. Cape saya kasih masukan ke Boss. Semoga dengan banyaknya kiriman buat Mba Izza, membuat mata Boss terbuka. Masa bisa-bisanya milihin kita jodoh yang baik, eh dia sendiri ga baik-baik pernikahannya. Mereka itu sama-sama sayang, cuma ga tau deh tembok apa lagi yang menghalangi keduanya buat saling mencintai" kata Alex panjang lebar.


"Tembok? maksudnya bikin tembok dimana? jangan bilang kamar bawah dibikin tembok pemisah jadi mereka tidur sekamar tapi pisah pake tembok" ungkap Mang Ujang.


"Mulai deh lemotnya.. maksudnya penghalang kenapa mereka ga bisa bersatu. Sekarang keluarga sini terima kok Mba Izza apa adanya, terus keyakinan sama, pemikiran juga sama-sama nyambung" papar Alex.


"Gengsi kali" ujar Mang Ujang.


"Apa yang digengsiin lagi sih Mang. Istri udah didepan mata, masih juga tengah malam pindah ke kamar atas. Kalo saya mah .. udah abis deh istri saya untel-untel di kasur.. hahaha" gemes Alex.


"Ya iyalah...secara udah sah gitu loh" sahut Mang Ujang.


"Apa Boss Rama kurang laki kali ya?" tukas Alex.


"Kurang laki? emang kalo laki-laki kurang kaya gimana sih? agak-agak setengah laki setengah perempuan?" tanya Mang Ujang.


"Maksudnya ga bisa bangun kali Mang.. masa ga ada nafsu-nafsunya sekamar sama istri" jawab Alex.


"Apanya yang ga bisa bangun? perasaan tiap tidur sama Mba Izza juga Mas Boss bangun paginya" ucap Mang Ujang.


"Yang ga bisa bangun tuh burung perkutut" ujar Alex rada mulai sewot.


"Emang di rumah ada burung perkutut? dimana? kayanya ga ada yang punya binatang disini" jawab Mang Ujang polos.


"Maksudnya ga bisa melayani istri di ranjang Mangggggg" gamblang Alex berucap.


"Masa sih... kita ga tau aja kali Lex.. keliatannya kaya cuek, tapi kalo udah di kamar mah pasti disikat juga lah" sahut Mang Ujang sambil ketawa.


"Udahlah Mang... kenapa kita kaya Ibu-ibu rumpi. Wah sebentar lagi nih jadi penganten... gimana Mang ... deg-degan ga?" tanya Alex.


"Ga sabar Lex ... ga sabar bermesraan sama istri ... hahahaha" canda Mang Ujang.


💐


Seusai makan, Rama mendekati Izza yang masih duduk di kursi santai milik Rama. Dia duduk bersebelahan sama Izza yang sudah duduk tegap tidak menyender lagi seperti tadi.


"Za .. maaf kalo saya belum bisa jadi suami yang baik" buka Rama.


"Kak.. jangan kepikiran karena hadiah-hadiah itu. Saya bukan menolak kehadiran Kakak tapi ingin semua berjalan senatural mungkin. Sekarang pun tengah mengupayakan untuk jatuh cinta sama Kakak" kata Izza.


Rama kaget sama pengakuan Izza.


"Saya pun sama... masih terus berusaha untuk membuka hati saya kembali. Mba Nay sudah saya pendam dalam-dalam Za.. bisa dikatakan sudah move on.. karena kamu yang selalu berhasil membuat saya ingin segera pulang ke rumah. Tapi apa daya, pekerjaan membuat saya banyak menghabiskan waktu diluar" ucap Rama.


Rama meraih tangannya Izza kemudian menggenggam dengan lembut. Izza jadi bingung harus bagaimana.


"Ayo ikut .." pinta Rama sambil mengajak Izza menuju walking closet di kamar Rama.


Didalamnya hanya ada lemari kaca, berisi perlengkapan Rama. Ga besar ruangannya hanya sekitar dua kali dua meter.


"Saya punya brankas ... surat-surat yang penting dan sering dibutuhkan ada disitu. Kalo surat kepemilikan Audah Hotel dan Abrisam Group ada di deposit box salah satu Bank. Terkadang ada juga uang cash kalo kebetulan dapat uang cash. Yang jelas jam dan perhiasan milik Mami yang Papi kasih ada didalamnya" kata Rama.


Rama menekan kode angka untuk membuka brankas. Rama sengaja memperlihatkan kode membuka pintu brankas ke Izza.


"Saya ganti jadi tanggal lahir kamu Za.. tidak ada rahasia diantara kita. Kamu boleh membuka dan memakai yang ada didalamnya. Sekarang hanya kita berdua yang tau kode brankas ini, saya harap kamu bijak dan bisa menjaga kepercayaan" ucap Rama lagi.


Rama mengambil kotak perhiasan yang ada didalam brankas.


"Mau pakai?" tawar Rama.


Izza menggeleng.


Rama membuka kotak perhiasan tersebut. Kilauan berlian sangat cantik memantulkan kejernihannya.


"Pakai kalung yang ada bandulan kecil ini ya.. kata Papi ini dipakai Mami sehari-hari. Dibeli saat Mami hamil Mba Mentari. Katanya ingin beli kalung dari emas putih dan bandulan berlian yang kecil" cerita Rama sambil mengambil kalung tersebut.


Rama menutup kotak perhiasan dan dimasukkan kedalam brankas lagi kemudian dikunci.


Rama membuka jilbab instan milik Izza. Rambut Izza tengah dikuncir kuda.


Rama memasangkan kalung kelehernya Izza, keduanya saling berhadapan sangat dekat.


Memberikan pasangan sebuah kalung, bisa diartikan bahwa pria tersebut menyayangi wanitanya dan ingin membuat hubungan jadi semakin intim.


Rama masih memasangkan kalung dari arah samping kanan kepala Izza.


"Beneran terpana melihat bulu yang tumbuh disekitar mulut dan dagunya, kumis tipis yang tampaknya lupa dia cukur ... haha… jadi geli sendiri melihatnya" lanjut Izza dengan khayalannya.


"Sebenarnya ada rasa canggung saat mendekatkan wajahku ke wajahmu. Sungguh menggelikan tiap wajah kita mendekat, entah kenapa selalu ingin kupeluk erat, i love it (aku menyukainya). Ingin rasanya berlama-lama seintim ini untuk lebih mengenalmu dan menyelami rasa hatiku sendiri" ujar Rama dalam hatinya.


Rama yang ga pernah memasangkan kalung agak kerepotan dengan cara mengaitkannya.


"Bisa ga Kak? kalo ga bisa nanti saya pakai sendiri" kata Izza yang refleks menengok kesamping untuk memastikan apakah Rama bisa memakaikan kalung atau tidak.


Rama yang tadinya konsentrasi penuh kearah pengait kalung akhirnya ikut refleks memandang Izza.


"Tanpa sadar, kamu menatapku dengan tatapan sayumu, mungkin kamu heran ya melihat sikapku sekarang ini? tatapan matamu disertai dengan senyum yang sulit dijelaskan. Za ... dari jarak sedekat ini aku bisa merasakan nafasmu yang hangat. Seandainya, kamu memang adalah punyaku, ingin sekali menciummu, tapi bagian yang mana ya ??? haha… lupakanlah" khayal Rama sambil kembali fokus memasangkan kalung.


Izza rada ga nyaman dengan posisi seperti ini, ga mau terlihat baper sendiri.


"Dek... bolehkah kiranya, sekedarku ingin menyentuhmu? Hanya untuk memastikan, kaulah wanita yang kutuju" ujar Rama dengan suara pelan.


"Apa Kak?" tanya Izza yang ga jelas Rama ngomong apa.


Karena memang Rama sudah sangat tergoda dan ga bisa mengontrol dirinya lagi, bola matanya mulai melucuti dagu sampai bibirnya Izza. Perlahan kelopak mata Izza menutup secara slow motion seakan pasrah dengan apa yang akan Rama lakukan.


Kalung terjatuh karena memang belum dikaitkan.


Bersentuhan bibir untuk pertama kalinya, sangat lembut seperti marsmellow namun ada sensasi yang meletup.


Tangan Rama berada dipinggangnya Izza. Tangan Izza masih kaku kearah bawah. Rama makin berani, dia meraih tangannya Izza dan meletakkannya pada bahunya yang kekar. Izza sudah menempel dilemari kaca milik Rama.


Rama kembali meletakkan satu tangannya di pinggang Izza dan satu lagi dibagian punggung Izza untuk mengusap dengan lembut.


Pertahanan Izza selama ini supaya tidak jatuh gengsi gagal total. Izza luluh seperti lilin mencair dihadapan Rama yang berbadan atletis.


"Harus gimana lagi ya? tapi mau apa lagi coba.. toh saya sudah ada dalam pelukannya" pikir Izza.


Izza akhirnya hanya diam dan membiarkan Rama berlaku seperti ini. Dada Izza bergemuruh dengan keras. Batinnya berteriak entah gembira atau sedih. Izza memang merasa pelukan Rama adalah candu yang menghangatkan sekaligus melindungi. Jantungnya deg-degan tidak karuan.


Rama melepaskan pagutan bibirnya. Memandang Izza lekat-lekat sambil tersenyum, rupanya dia ingin melihat reaksi Izza. Izza hanya diam dengan pipi bersemu merah jambu. Izza ga kuat melawan tatapan matanya Rama. Kejadian ini membuat seluruh saraf-saraf ditubuh Izza langsung bergetar hebat.


"Begini rasanya dicium seorang laki-laki? OMG... tulang kaki rasanya ga cukup kuat untuk menopang tubuh... untung tangannya menahan badan supaya ga jatuh" kata Izza dalam hatinya.


Saat mulut Izza terbuka sedikit, kembali Rama mengulangi melekatkan bibirnya sekali lagi. Karena mendapatkan respon yang bagus dari Izza, Rama bertambah berani dan menikmati ciuman itu dengan sepuas-puasnya.


Seorang pria bisa merasa kagum dengan pesona yang dipancarkan pasangannya hingga menjadi alasannya untuk mencium bibir perempuan tersebut. Tak sedikit pria yang kesulitan mengungkapkan kekaguman terhadap perempuan melalui kata-kata sehingga lebih memilih mengungkapkannya dengan perbuatan lembut, seperti membelai dan menciumnya.


"Dek... maaf ya Kakak ga bisa mengawal hasrat yang timbul" pinta Rama dengan suara pelan.


Rama mengambil kalung yang terjatuh kemudian diserahkan ke tangan Izza.


"Maaf juga ga bisa pakein kalung, ya namanya juga lelaki" lanjut Rama.


Izza masih menggenggam kalung tersebut, Rama langsung masuk ke kamar mandi.


Izza mendengar suara berisik didepan pintu gerbang. Security di rumah Pak Isam sedang berbincang dengan dua orang lelaki didepan gerbang.


Alex terlihat mendekati gerbang dan ikut berbincang. Izza melihat dari jendela yang ada di ruangan walking closetnya Rama.


"Ada apa?" tanya Rama yang baru keluar dari kamar mandi.


"Ga tau .. itu ada pickup juga dibawah" jawab Izza.


Rama mengangkat telepon rumah kemudian menekan nomer extension pos satpam.


"Ada apa didepan pagar tengah malam begini?" tanya Rama.


"Ini ada kurir Mas, ngotot mau antar barang untuk Mba Izza. Saya sudah bilang tidak bisa menerima kiriman untuk Mba Izza" jawab security.


"Saya turun ya" kata Rama.


Rama mengambil jaketnya.


"Kamu tunggu disini aja, saya mau liat dulu ada apa" instruksi Rama ke Izza.


.


"Jasa pengantaran memang ada yang buka dua puluh empat jam?" tanya Rama.


"Maaf Pak .. karena ini orderan khusus dan minta diantar sekarang juga, jadi kami antar" jawab kurir.


"Ini apa isinya?" tanya Rama.


"Ayunan kayu untuk di taman Pak" jawab kurir.


"Siapa yang pesan? saya dan semua penghuni rumah ini tidak ada yang pesan" kata Rama tegas.


"Kami hanya menjalankan tugas Pak" jawab kurir.


"Siapa pengirimnya?" tanya Rama.


"Maaf Pak kami tidak tau, tugas kami hanya mengantar saja" ujar sang kurir.


"Kalo saya tolak, masalahnya apa?" cecar Rama.


"Tolong bantu tugas kami Pak" mohon sang kurir.


"Begini saja.. kiriman dikasih note ditolak penerima. Bawa balik ke tempat semula, jika tidak mau terima juga, masukkan ke gudang ekspedisi dan tunggu sampai ada orang menanyakan tentang kiriman ini, jika dalam batas waktu maksimal barang tidak diambil... ya ambil aja buat Mas" saran Rama.


"Tidak bisa begitu Pak" mulai ngotot kurirnya.


"Sebagai penerima, saya punya hak untuk menolak. Kalo ini isinya bukan seperti yang tercantum dalam surat jalan, apa Mas mau tanggung jawab? Misalnya isi sebenarnya bom terus meledak di rumah bagaimana?" tanya Rama dengan tegas.


"Tolonglah kami Pak .. nanti bisa kena marah sama Boss kami jika barang ditolak" mohon kurir dengan nada memelas, rupanya takut sama omongan Rama.


"Telepon Bossnya.. nanti saya yang jelaskan kenapa saya menolak kiriman ini" tantang Rama.


Kedua kurir hanya saling berpandangan, kemudian mereka sepakat meninggalkan rumah Pak Isam.


.


"Ingat ya .. apapun bentuknya, semua kiriman untuk Izza langsung tolak" ingat Rama.


"Siap" jawab security.


"Istirahat Lex.. besok saya dan Izza ga kemana-mana kok, kamu kalo mau keluar jalan-jalan gapapa" kata Rama.


"Ya Boss" jawab Alex.