
"Oh ya ... ada dideposit box yang dipindahkan ke apartemen.. mudah-mudahan HP nya masih bisa nyala dan dilihat lagi semua. Dulu pernah buka tapi sepintas aja. Siapa tau ada bukti kejahatan Mba Gita, soalnya pas Mba Nay meninggal, dia sempat buka-buka tas milik Mba Nay" kata Rama sambil mengambil kunci mobilnya dan bergegas menuju garasi samping rumah.
.
"Malam Mas Rama" ucap security rumahnya.
"Tolong buka pagar" jawab Rama.
"Mau kemana Mas? sudah jam satu malam ini, Mang Ujang juga sudah tidur" ingat security.
Rama hanya memandang dengan tatapan ga suka kalo banyak dikomenin.
"Baik Mas .. akan segera saya buka pagarnya" kata security dengan sigap.
Mobilnya Rama menjauh dari rumah. Dia langsung menuju apartemennya.
Begitu sampai disana, dia langsung menuju deposit box dan membukanya. Wajah Rama terlihat bahagia karena menemukan HP tersebut.
HP milik Mba Nay ga bisa hidup padahal udah coba dicharge selama satu jam. Ada rasa kekhawatiran kalo ke tukang servis HP. Sekarang gerak langkah Rama pasti sedang diawasi, makanya ga mungkin HP dia tinggal untuk diservis.
"Lex .. ada orang kamu yang jago benerin HP ga? mati total nih, tapi ada data yang harus saya liat, data itu kesimpan di memory HPnya" tanya Rama lewat sambungan telepon.
"Ada Boss .. si Kuncir yang dari kemarin ngawal Boss itu gape banget urusan utak atik elektronik. Dia itu dulunya hacker Boss. Semua anak buah saya kalo rusak HP dan laptop pasti minta tolong sama dia" jelas Alex.
"Besok ajalah.. kayanya dia udah tidur. Minta dia ketemu saya di parkiran Apartemen ya pagi ini, mobil saya ada di D2" perintah Rama.
"Udah tau pasti dia Boss. Dia kan ikutin Boss terus, tidur pasti dekat sama mobilnya Boss" jelas Alex.
"Orang kamu itu bisa ya tidur dimana aja? padahal kalo dia mau, saya ada kamar lagi disini" kata Rama.
"Terlatih segala medan Boss. Dia kan pasukan shadow Boss, biar orang ga ada yang tau kalo dia lagi ngawal. Oh ya Boss .. besok apa saya masih perlu kawal Mba Izza?" tanya Alex lagi.
"Masih.. pastikan dia selamat pulang dan pergi. Jangan luka seujung kuku pun. Dia kayanya lagi diikutin terus sama jaringannya Mba Gita. Padahal cuma sekedar mau dijadikan sandera agar Mba Gita ga ngoceh di pengadilan nanti" ingat Rama.
"Baik Boss, saya akan jaga Mba Izza semaksimal mungkin" jawab Alex.
⬅️⬅️
Sejak penangkapan Mba Gita, Rama sudah memprediksi kalo Izza akan jadi sasaran dari jaringannya Mba Gita, makanya Rama langsung menginstruksikan Alex langsung untuk mengawal Izza. Biar bagaimanapun, Izza sudah menjadi bagian penting dalam hidup Sachi. Jadi selain demi Sachi, hal ini juga agar Mba Gita bisa lebih tenang menceritakan siapa saja yang terlibat, tidak perlu takut akan keselamatan Izza yang pastinya terancam.
Rama pula yang meminta Alex menjadi ojek online untuk menyamarkan tugasnya, hal ini agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Izza.
Alex langsung mencari tahu tentang jadwal Izza ke Kampus. Bersamaan dengan itu, Alex sudah ada didekat tempat Izza berada ketika akan memesan ojol, jadi bisa dapat Alex sebagai drivernya.
Izza memang tidak curiga terhadap Alex, malah sudah seminggu sejak Mba Gita ditahan, antara Alex dan Izza sudah lumayan suka berbincang ketika dalam perjalanan. Malah Alex menawarkan diri untuk menjadi ojek langganan saja, dia kenakan tarif yang sama seperti ongkos naik ojol.
➡️➡️➡️
Siang ini Izza pulang lebih cepat dari Kampus karena dosennya berhalangan hadir. Dia memang tidak langsung memesan ojol kalo posisinya belum didekat pintu gerbang, khawatir ada keperluan dulu, jadi kasian kalo sudah dapat driver harus dicancel atau menunggu lama.
"Za ..." panggil Rama yang sudah ada di parkiran.
Untung hari ini dia ga bareng teman-temannya yang udah pergi duluan menuju salah satu Mall. Jadi ga dibully sebagai bahan ledekan temannya.
"Kak Rama ada perlu apa disini?" tanya Izza bingung.
"Jemput kamu" jawab Rama singkat.
"Kayanya belum seminggu ya? baru juga dua hari, tenang aja Kak.. saya orang yang tepat janji. Saya akan menemui Kakak Senin besok, tolong disediakan waktunya" kata Izza tegas.
"Bisa kita ngobrol dulu? ya mungkin di tempat yang lebih enak daripada disini" tanya Rama.
"Saya rasa ga ada yang perlu kita bicarakan lagi" putus Izza.
Izza langsung berjalan keluar menjauh dari parkiran mobil. Ditengah teriknya matahari, Izza melangkah dengan pasti. Tangannya sedang sibuk memencet aplikasi ojek online, dia ingin segera sampai ke Panti Asuhan karena jadwal dia mencuci baju hari ini.
Rama mengikuti dari belakang pakai mobilnya. Tapi sulit mendekati Izza karena antri keluar di gerbang. Izza mempercepat langkahnya, dia belum juga dapat driver ojol.
"Mba Izza... " panggil Alex.
"Eh Bang Alex .. " jawab Izza.
"Udah dapat driver Mba?" tanya Alex.
"Belum.. saya cancel dulu deh, tolong anterin saya ke Panti Asuhan bisa?" tanya Izza.
"Siap Mba .. " jawab Alex sambil menyerahkan helm ke Izza.
.
Setelah sampai di Panti Asuhan, Alex mau numpang ke kamar kecil. Izza membuatkan segelas sirup dingin untuk Alex.
"Bang Alex ... minum dulu" tawar Izza.
"Pake repot-repot Mba .. jadi enak nih saya" jawab Alex.
Alex meminum sirup yang sudah disediakan sama Izza. Ketika dia mau pamit, ada chat masuk yang mengabarkan kalo ada suruhan Big Bossnya Mba Gita yang siap menyulik Izza dan sudah berkeliaran didekat Panti Asuhan. Jadinya Alex pura-pura cape dan mau numpang duduk dulu di Panti Asuhan hingga suasana dinilai aman.
"Mba Izza kalo mau berkegiatan silahkan aja, saya numpang lempengin pinggang" kata Alex.
Ada mobil pickup memasuki parkiran Panti Asuhan, ada dua kardus bergambar mesin cuci, satu kardus bergambar lemari pendingin yang sedang hits serta satu kardus dispenser hot and cool yang letak galonnya dibawah.
"Permisi .. ada di Panti Asuhan ini yang bernama Ibu Izza?" tanya kurir barang.
"Saya Mas ... ada apa ya?" kata Izza.
"Kami mau antar pesanan" jawab sang kurir.
"Saya ga pesan apa-apa" ucap Izza bingung.
"Di form pemesanan atas nama Ibu, sudah dibayar saat ada pameran di PRJ. Hari Minggu kemarin Bu transaksinya" kata kurir meyakinkan Izza dengan memberikan copy form pemesanan dan bukti pelunasan. Dilihat dibukti bayar ada tanggal dan waktu saat dia ke PRJ.
"Wow .... tiga puluh dua juta sekali gesek.. ini kalo kartu ATM punya awak bersebelahan sama kartu ATM nya Kak Rama, langsung minder kayanya" canda Izza seorang diri.
"Saya turunin ya Bu?" tanya kurir lagi.
HP Izza berdering.
"Assalamualaikum..." sapa Izza rada males jawabnya.
"Waalaikumsalam.. udah datang pesanannya?" tanya Rama.
"Udah .. dan saya ga pesan ini sama sekali. Kenapa beli banyak banget?" kata Izza.
"Minta kurirnya turunin dulu, nanti saya jelasin" ujar Rama sambil menutup sambungan telepon.
"Dasar orang anehhhhh" geram Izza.
Ibu Panti Asuhan kaget melihat banyak barang yang diturunkan.
"Ini dari siapa Za? ga ada laporan hari ini ada sumbangan" tanya Ibu Panti Asuhan heran.
"Dari Kak Rama" jawab Izza.
"Seserahan?" tanya Ibu Panti Asuhan lagi.
"Entahlah, orang aneh kaya gitu mah susah ditebak" kata Izza.
"Baik Bu Izza .. barang sudah diturunkan, silahkan ditandatangani bahwa barang sudah diterima" ucap kurir sambil menyerahkan kertas tanda terima.
Izza menandatanganinya, kemudian menyerahkan kertas tersebut ke kurir.
.
"Wah dapat kiriman barang nih Mba Izza .. " ledek Alex basa basi.
Padahal Alex yang mengirim chat ke Rama untuk memberitahukan kalo barang pesanan sudah sampai di Panti Asuhan.
"Alhamdulillah.. ada orang baik yang kirim" jawab Izza rada ga senang.
"Kalo kita baik juga akan ada orang baik yang bantu Mba" kata Alex.
"Maaf Bang Alex profesi jadi driver ojol sambilan atau utama?" tanya Izza.
"Gimana ya Mba .. dibilang utama ya ngga juga, dibilang sambilan juga ngga" jawab Alex yang bingung karena kaget Izza nanya kaya gitu.
"Kok bisa gitu ya .. tapi Bang Alex.. saya terima kasih banget, selama hampir sebulan ini saya banyak dianter dan dijemput, udah kaya ojol pribadi .. hehehe... lagi pula kok ya bisa pas, begitu mau pesen ojol pasti udah ada Bang Alex" ucap Izza.
Alex cuma bisa tersenyum.
🍒
Rama baru aja balik ke Head Office Abrisam Group. Mukanya ga ngenakin buat diliat. Mang Ujang udah nunggu didepan Lobby biar bisa parkirin mobilnya Rama ke tempat parkir di basement.
Pintu mobil dibukakan oleh security, begitu liat Mang Ujang langsung aja kunci dilempar kearah Mang Ujang, dengan sigap langsung Mang Ujang tangkap.
"Mas Boss tampangnya kusut amat, abis dari mana sih dia?" ucap Mang Ujang.
"Kenapa tuh Mang?" tanya security kepo.
"Ga tau .. kan kita sama-sama disini, apa kalah tender kali jadi kesel" jawab Mang Ujang.
"Bisa jadi... eh tapi waktu ditipu aja ga kesel kaya gini" ujar security lagi.
"Padahal kemarin tuh orang biasa-biasa aja, tadi pagi emang rada keliatan tegang, tapi masih ngobrol kok di mobil" ucap Mang Ujang.
"Emang Boss kita mah yang ini rada unik" sahut security.
Rama keluar dari pintu lift, kemudian berjalan menuju dekat lift untuk mengambil minuman dingin. Para karyawan yang melihat mukanya ga enak langsung menyingkir. Rama duduk di kursi yang tersedia disamping showcase air mineral.
"Mba Rida .. jangan ganggu dulu, biasanya Boss kalo kaya gitu lagi marah atau kesal. Kalo kita tegur malah ntar kena sembur. Jadi diemin aja, paling sepuluh menit lagi mendingan" saran pegawai disana.
"Gimana ya, itu ada tamu udah pending satu jam, Pak Rama dadakan ijin pergi dulu tadi, mana tamunya udah datang" kata Farida bingung.
"Tunggu dulu aja, sampai Boss yang manggil" lanjut pegawai tersebut.
Rama berjalan masuk ke ruangannya tanpa melihat Farida sedikitpun. Dia duduk di kursi kebesarannya.
"Kurang ajar.... udah ga punya power masih belagu. Sok nolak diajak ngobrol. Emang dia siapa? Lagian Lo juga kenapa sih Ramaaa segala nyamperin dia, makin gede kepala kan ... " kata Rama ngomong seorang diri di ruangannya.
Pintu ruangan Rama diketuk oleh Farida. Setelah dipersilahkan masuk oleh Rama baru pintu dibuka.
"Pak ada tamu yang tadi..." kata Farida belum selesai bicara.
"Langsung suruh masuk aja. Habis ini cancel semua jadwal saya" perintah Rama.
"Maaf Pak, sudah ada dua tamu yang reschedule meeting karena tadi Bapak tidak ditempat" jawab Farida.
"Bisa ketemu sama Manager, itu pasti masih perkenalan dan penawaran aja" ucap Rama.
"Tapi yang datang bukan bagian marketing Pak, langsung ownernya yang akan menawarkan baja ringan untuk proyek perumahan yang di Tangerang" jelas Farida.
"Tolong ya dibiasain bisa membuat alasan kalo sewaktu-waktu saya ga bisa meeting" ujar Rama rada malas-malasan.
Akhirnya Rama menemui tiga tamu secara bergantian, waktunya pun ga lama. Setelah itu, dia minta ga diganggu dulu oleh semua pekerjaan.
Rama tiduran di sofa ruang tamu yang ada di ruangannya. Kembali pintu diketuk. Dengan malas-malasan Rama menuju pintu yang tadi dia kunci.
"Apalagi sih??? tanya Rama.
"Ada yang mau ketemu Pak" kata Farida.
"Kan udah saya bilang kalo ga bisa terima tamu lagi" ucap Rama.
"Maaf Pak .. istri Bapak yang mau ketemu" jawab Farida.
"Hah???? Istri? i'm single ... siapa yang ngaku istri saya?" sahut Rama kesal.
"Oh maaf, saya kira istri Bapak yang ketemu sama saya malam kemarin.. Memang saya tidak tanya apalagi begitu Ibu Izza bilang mau ketemu Bapak, sekali lagi saya minta maaf Pak. Soalnya Bapak tidak menyanggah kemarin, jadi saya kira Ibu Izza itu istri Bapak" jelas Farida panjang lebar.
"Udah .. udah .. penjelasannya cukup ... saya keluar dan ga balik lagi ke Kantor" kata Rama sambil mengambil HP dan tasnya didalam ruangan.
Langsung Rama menghampiri Izza dan mengajaknya keluar dari kantor. Mang Ujang yang baru balik dari pantry kaget melihat Rama dan Izza jalan tergesa-gesa.
"Mba Rida ... Mas Boss mau kemana?" tanya Mang Ujang.
"Ga tau Mang .. dari pagi moodnya jelek banget" jawab Farida.
"Tadi abis pergi aja saya dilemparin kunci .. emang gitu tuh gayanya" kata Mang Ujang.
"Sabar banget ya Mang Ujang ngadepin Boss kaya gitu" puji Farida.
"Bawahan memang harus bersabar melaksanakan setiap perintah atasannya termasuk menerima tabiatnya" kata Mang Ujang bijak.
"Ya Allah Mang Ujang .. top deh pokoknya. Saya aja kaget liat Boss kaya gitu. Itu pacarnya ya Mang?" ucap Farida.
"Ga paham sih sama hubungan mereka, kadang akur.. eh ga lama ribut. Kayanya sih menurut Mang Ujang ga lama lagi mereka akan punya hubungan yang lebih jelas" ujar Mang Ujang sok yakin.
"Beruntung banget ya jadi Bu Izza .. dapat lelaki yang hampir sempurna kaya Pak Rama" puji Farida.
"Beruntung???? musibah kali... hadeh saya aja yang level kesabaran udah tingkat tinggi aja masih ngelus dada ngadepin Mas Boss" sahut Mang Ujang dengan super pede.
"Jangan salah loh Mang .. sikap dingin laki-laki itu hanya topeng untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. Sifat bawaan laki-laki memang nggak terbiasa mencurahkan isi hati layaknya perempuan" ingat Farida.