
Senin pagi Rama sudah berada di Head Office Abrisam Group. Ada morning meeting yang harus dia pimpin. Berkoordinasi dengan Manager dan Kepala Bagian seperti biasanya, yang beda hanya ga ada Mba Gita yang biasanya sudah membawakan setumpuk file untuknya. Kali ini dia bawa sendiri dan membawa notebook untuk mencatat sesuatu yang perlu dia catat.
"Sepertinya rapat koordinasi ini sudah bisa dipahami bersama tentang hal yang perlu dikerjakan kedepannya. Bapak Ibu sekalian, saya akan memberikan statement tentang berita penangkapan Mba Gita .. itu benar adanya. Jadi bukanlah berita hoax. Beliau sudah tidak bergabung lagi di Abrisam Group, karena perusahaan ini punya aturan jika ada karyawan yang tersandung kasus hukum maka bisa diberhentikan, hal-hal yang menyangkut hal pribadi silahkan diselesaikan dengan Mba Gita atau keluarganya. Jika menyangkut pekerjaan silahkan langsung dengan saya. Bersamaan dengan hal tersebut, saya minta kepada bagian HRD untuk berkonsultasi secara hukum dengan pihak legal guna memberhentikan Mba Gita secara tidak hormat. Tadi pagi juga saya sudah menyampaikan kepada pihak HRD, bahwa pengganti Mba Gita adalah Farida, dan baru bisa bergabung dengan Abrisam Group Minggu depan. Untuk sementara waktu urusan administrasi saya akan dibantu bagian umum yaitu saudara Iqbal. Jika ada temu janji, surat menyurat yang akan diajukan ke saya bisa diserahkan ke saudara Iqbal terlebih dahulu. Saya melarang keras semua karyawan Abrisam Group membuat cerita mengenai penangkapan Mba Gita, baik secara langsung maupun via media sosial. Saya akan mengeluarkan internal memo untuk mengatur hal tersebut. Sanksi bagi yang melanggar yaitu pemberhentian hubungan kerja secara tidak hormat juga. Silahkan Bapak Ibu sebagai pimpinan bagian berkoordinasi dengan semua jajaran dibawahnya untuk memperhatikan internal memo yang akan saya keluarkan. Tidak ada yang berubah di Abrisam Group, semua berjalan sebagaimana mestinya walaupun tanpa Mba Gita. Bagian umum juga harus segera berkoordinasi dengan pihak Security untuk menjaga agar tidak ada wartawan yang bisa lolos dari lantai satu, saya juga minta pengawalan ketika naik turun mobil, ingat sekali lagi .. saya tidak menerima wartawan manapun untuk wawancara. Semoga penjelasan saya cukup jelas dan bisa dipahami. Terima kasih atas perhatiannya, silahkan semua kembali ke ruangannya masing-masing" perintah Rama dengan tegas.
Iqbal mendapatkan arahan dari Rama untuk membantu pekerjaannya. Karena beberapa kali pernah membantu Rama saat Mba Gita cuti, jadinya sedikitnya sudah paham akan tugasnya.
.
Setelah berkoordinasi di Head Office Abrisam Group, Rama langsung meluncur ke Audah Hotel. Ada jadwal meeting dengan Mba Anindya dan pihak ketiga yang akan menjadi rekanan tenant. Audah Hotel dengan konsep Hotel transit atau untuk kaum traveler, memerlukan pusat kebugaran untuk para tamu (sering dicari oleh para tamu).
Pusat kebugaran berupa spa, sauna dan pijat. Rama dan Anindya sudah sepakat untuk bekerjasama dengan pihak ketiga yang lebih berpengalaman mengelola pusat kebugaran daripada membuatnya sendiri. Pihak ketiga tersebut nantinya akan mengadakan pelayanan ini di Audah Hotel. Sudah sebulan terakhir mereka semua saling mencari kesepakatan tentang jenis pelayanannya. Karena sering disalahgunakan pusat kebugaran seperti ini, pihak Audah Hotel akan membagi fasilitas tersebut sesuai gender. Jika tamu perempuan maka semua terapisnya harus perempuan, demikian pula sebaliknya.
Kedepannya mereka berharap para tamu bisa lebih fresh untuk melanjutkan perjalanan atau bagi yang lelah setelah perjalanan bisa bugar kembali.
"Intinya jangan sampai pusat kebugaran ini menjadi ajang prostitusi terselubung ya. Silahkan untuk konsep alam Balinya ga jadi masalah untuk diterapkan, hanya aturan main harus jelas. Walaupun suami istri, tidak boleh dalam bilik yang sama. Jadi harus ada dua pintu agar bisa diarahkan sesuai gender. Untuk pelayanan di kamar tidak diperbolehkan, hal ini untuk menjaga agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Semua pasal tersebut harus tercantum agar masing-masing pihak bisa menjalani dengan baik. Lokasinya sudah disediakan di lantai satu samping kanan lift, itu ada space cukup untuk dimanfaatkan. Ruangan dan peralatan yang dibutuhkan silahkan pihak pusat kebugaran yang handle, kami hanya menyediakan tempat dengan sistem kerjasama bagi hasil per tamu saja. Saya kira juga tidak perlu yang treatment lengkap, biasanya untuk orang yang transit hanya butuh treatment body, hand and foot saja" papar Rama.
"Baik Pak Rama, seminggu kedepan akan kami pelajari dulu agar pengajuan draft kerjasamanya sudah sesuai dengan kesepakatan kita" jawab owner-nya pusat kebugaran.
"Mungkin pintu masuk bisa juga dari depan, bisa aja kan para pekerja sekitar Audah Hotel juga memerlukan layanan seperti ini. Tidak perlu mahal, karena kami juga tidak meminta sharing yang besar" saran Anindya.
"Baik Bu Anin .. terima kasih atas waktu yang diberikan kepada kami, semoga kerjasama kita bisa segera terwujud. Senang bisa berdiskusi dengan Anda berdua, pengusaha muda yang santai tapi idenya brilian. Walaupun masih dalam hitungan bulan, Audah Hotel cukup mulai punya nama dikelasnya" puji owner pusat kebugaran.
"Ini otaknya Pak Rama .. saya hanya mendesain tampilannya saja .. " kata Mba Anin merendah.
.
"Lis .. tolong nanti kamu hubungi Aa' Rama, mulai bulan ini terapinya hanya seminggu sekali. Alhamdulillah sudah bisa jalan lancar pakai tongkat. Jadi yang biasa anter terapi datangnya hari Rabu aja" kata Ibunya Ceu Lilis.
"Iya Bu, dari Sabtu HP nya ga aktif. Padahal Lilis mau kasih tau kalo hari Rabu mau ke Jakarta, ada panggilan nyanyi sama rombongan sini. Ada dana menginapnya juga dari yang manggil, Lilis udah minta nginepnya di Audah Hotel aja, biasanya Aa' Rama kasih harga bersahabat kalo yang udah kenal" jelas Ceu Lilis.
"Nanti kalo kamu ke Jakarta, titip oleh-oleh ya buat Aa' Rama. Dia kan suka makanan kampung" ucap Ibunya Ceu Lilis.
"Iya Bu, kayanya Aa' mah serba doyan. Apa aja ditelan" ujar Ceu Lilis.
"Dia sehat ga ya? Biasanya rajin hubungin kamu, tumben kayanya Ibu ga dengar kamu titip salam dari Aa' Rama. Ibu jadi khawatir" tanya Ibunya Ceu Lilis.
"Ya Bu ... mungkin Aa' lagi sibuk. Aa' itu beneran orang kaya Bu, bukan sok kaya jadi sok sibuk. Aa' punya perusahaan sendiri dan juga sekarang punya Hotel walaupun masih kerjasama. Jadi pasti waktunya habis buat kerja dan kerja. Tapi baru kali ini Aa' ga bisa dihubungi, sesibuk-sibuknya dia pasti balas chat. Apa lagi diluar negeri kali ya jadi ga bisa dihubungi?" tukas Ceu Lilis.
"Mungkin Lis .. namanya orang kaya ya.. bisa kemana aja dia suka" jawab Ibunya Ceu Lilis.
.
Waktu menunjukkan pukul dua siang.
"Ngopi yuk di cafe bawah" ajak Mba Anindya.
"Saya shaum Mba .. insyaallah" jawab Rama.
"Rajin juga kamu puasanya ya ... biar enteng jodoh ya?" ledek Mba Anindya.
"Biar enteng segala-galanya Mba" jawab Rama yang masih sibuk membalas chat di HP nya.
Sejak penangkapan Mba Gita, HP yang biasa untuk nomer yang umum diketahui orang memang di nonaktifkan. HP yang untuk keluarga dan orang terdekat aktif, tapi ga semua orang tau nomernya.
"Lelah ya ... baru mulai stabil .. langsung dihajar masalah yang baru. Ga menyangka kalo Mba Gita bisa kaya gitu" kata Mba Anindya.
"Saya juga awalnya sulit menerima hal ini Mba, tapi semua bukti sudah ada dan jelas, ditambah Mba Gita juga mengakui perbuatannya. Ya sudah ... jalani aja semua fasenya" jawab Rama pasrah.
"Terus kamu udah punya Sektretaris baru?" tanya Mba Anindya.
"Alhamdulillah sudah, Minggu depan baru bisa bergabung. Tiga Minggu yang lalu saya memang mencari Sekretaris, rencananya buat disini, tapi mengingat kondisi seperti ini ya mau ga mau dia akan saya tempatkan di Abrisam Group" jelas Rama.
"Izza gimana kabarnya?" tanya Mba Anindya.
"Terakhir ketemu dia saat penangkapan dan saya antar ke Panti Asuhan, setelah itu ga tau lagi" jawab Rama dengan acuhnya.
"Kasian juga dia ya .. gimana nasib kuliah dan hidupnya kalo ga ada Mba Gita? padahal dia termasuk anak yang pola pikirnya bagus dan rajin. Mungkin dia ga termasuk kategori mahasiswa yang pandai, tapi dengan skill yang dia punya, kayanya kelak dia bisa sukses membangun kariernya" jelas Mba Anindya.
"Kalo kuliah kayanya belum lama ini Mba Gita bayar uang kuliah, saya tau karena pinjam kantor dan potong gaji. Tapi kalo hidupnya sekarang kayanya ya balik ke kehidupan Panti Asuhan lagi" lanjut Rama.
"Dia kan kuliah di kampus elit, bisa minder dia bergaul kalo kondisinya udah kaya gini" tukas Mba Anindya.
"Saya ga paham sama pola pikirnya Mba Gita. Kenapa memaksakan Izza masuk ke Kampus swasta yang isinya banyakan orang-orang tajir" sahut Rama.
"Link .. Mba Gita itu tau kedepannya link sangat diperlukan. Orang-orang kaya yang sedang kuliah sekarang, pada masanya akan menggantikan orang tua di bisnis keluarga mereka. Kalo Izza berkawan akrab dengan orang-orang ini, bukan ga mungkin Izza bisa jadi karyawan bahkan orang kepercayaan mereka" papar Mba Anindya.
"Izza walaupun kuliah ditempat mahal, Mba ga pernah liat dia pakai sesuatu yang wah. Malah pernah dia cerita kalo bajunya itu semua yang belikan Mba Gita. Dia hanya tinggal pakai aja" lanjut Mba Anindya.
"Kata Mang Ujang, mobilnya Mba Gita mau dijual buat kebutuhan pribadi Mba Gita selama proses hukum berlangsung dan sisanya untuk hidupnya Izza" ucap Rama.
"Poor Izza ... semoga dia tabah menjalani semua ini" harap Mba Anindya.
"Oh ya Mba .. udah hampir jam tiga, saya ada janji jam empat ke Polres, tadinya jam satu janjian disana, tapi dimundurin" kata Rama.
"Ya udah jalan aja sekarang, hati-hati ya, Mba dengar dari Mang Ujang kalo mobil kamu abis kena lemparan batu" ujar Mba Anindya.
"Udah oke lagi kok Mba ... saya pamit pulang dulu ya, kerjaan udah saya bawa, kayanya mau kerjain di rumah aja" ucap Rama.
"Take care... " ingat Mba Anindya.
🏵️
"Pi .. kemarin pas car free day, ga sengaja ketemu sama Izza. Haidar udah beli mobilnya Mba Gita, tapi mobil itu Haidar hibahkan ke Panti Asuhan" cerita Haidar.
"Alhamdulillah kalo begitu, Papi juga kasian sama Izza. Lagi meningkat hidupnya eh tiba-tiba dihempaskan lagi" jawab Pak Isam.
"Papi kenal sama Izza?" tanya Haidar.
"Dia kan penghuni Panti Asuhan yang perusahaan kita kasih bantuan tiap bulannya, jadi Papi udah ketemu dia sekitar lima tahun yang lalu. Kalo kenal banget ya ngga, tapi Ibu Panti sering cerita tentang dia. Dia itu anaknya rajin, walaupun udah diangkat adik sama Gita, tiap libur kuliah pasti ke Panti Asuhan. Biasanya bebenah sama nyuci nyetrika. Bikin kopi susunya enak loh dia, Papi beberapa kali dibuatin pas ada dia" cerita Pak Isam.
"Masakannya juga sedap Pi .. kemarin di car free day kan dia jualan nasi" puji Haidar.
"Papi kayanya baru cobain bakwan jagung sama bihun gorengnya, enak banget .. sampe nambah waktu itu Papi makan disana .. hehehe" ujar Pak Isam.
"Haidar nawarin kerjaan ke dia, buat di toko frozen food yang baru. Tapi dia masih belum fokus, jadi masih mempertimbangkan tawaran Haidar" lanjut Haidar.
"Ya mungkin dia ga mau malah ga maksimal kerjanya. Masih dalam kondisi seperti ini, ya kaget .. ya sedih .. ya macam-macamlah perasaannya campur aduk" ujar Pak Isam.
"Ya Pi ... tapi Sachi itu lengket banget sama dia, tau sendiri kan Sachi kalo ke orang dewasa malah susah ngeblend, kalo sama sesama anak-anak baru cepet. Maklumlah si bungsunya Papi kan terlalu over protective sama Sachi. Jadi selalu bilang untuk hati-hati kalo sama orang dewasa" kata Haidar.
"Rama itu sebenarnya suka ga sih sama Izza? Papi pernah liat ada foto hasil fotobox gitu, mereka foto bertiga. Rama, Izza dan Sachi .. ya kaya keluarga kecil aja" tanya Pak Isam.
"Itu anak mah setiap cewe juga ditempelin Pi. Papi tau yang penyanyi dangdut dari Tasikmalaya yang sering dia undang? itu kan biaya berobat Ibunya ditanggung sepenuhnya sama Rama. Terus anaknya diplomat juga sering kirim oleh-oleh tiap pulang ke Indonesia. Kalo Izza memang pernah jalan bertiga sama Rama dan Sachi, keliatannya juga mereka enjoy jalan bareng" papar Haidar.
"Dia besar kan ga banyak campur tangan wanita, Mba Mentari udah remaja saat dia kecil, jadinya ga bisa fokus perhatiin dia" ujar Pak Isam.
"Besar ga banyak campur tangan wanita bukan berarti dia dingin sama wanita dong Pi. Umurnya udah dua puluh empat tahun, biasanya udah mulai mikirin masa depan kaya gimana" kata Haidar.
"Memang ga cukup kamu liat dia pontang-panting kerja sana sini untuk mempersiapkan masa depannya?" tanya Pak Isam.
"Kalo masa depan karier sih ga perlu diragukan, dia dari kecil kalo ditanya pasti bilangnya mau jadi orang kaya. Yang Haidar maksud itu kearah hubungan percintaan. Hidupnya ga balance Pi... terlalu keras dan kaku hari-harinya. Siapa tau kalo ada kehadiran wanita disisinya dia bisa lebih terlihat seperti manusia. Ga kaya sekarang... kaya robot dalam balutan tubuh manusia. Kadang kita aja yang keluarganya ga paham sama arah pemikirannya" ucap Haidar.
"Dia ga suka kalo Papi tanya tentang hal itu" lanjut Pak Isam.
"Sama aja Pi .. ga pernah mau jawab kalo ditanya tentang wanita. Kayanya dia cuma sayang wanita ya sama Sachi aja" kata Haidar.
"Kenalin dong sama teman kamu yang kira-kira cocok sama dia" ide Pak Isam.
"Teman Haidar ya pasti lebih tua dari Rama Pi" jawab Haidar.
"Ya adiknya lah .. siapa tau Rama tertarik" kata Pak Isam.
"Tipe cewenya aja ga tau Pi .. biarin ajalah Pi, nanti juga ada saatnya dia mikirin tentang pernikahan, mau sampai kapan dia membujang" ucap Haidar.
🏵️
"Mas Boss... Mas Boss .... itu kok Polwan mirip sama Mba Rani" kata Mang Ujang sambil meyakinkan penglihatannya.
Rama membuka seat belt dan bersiap turun dari mobil.
"Mas Boss .. Mas Boss ... liat ga sih?" tanya Mang Ujang lagi.
"Apaan sih?????" tanya Rama.
"Kaya liat Mba Rani" sahut Mang Ujang.
"Mana?" tanya Rama lagi.
"Udah masuk" jawab Mang Ujang.