
"Ada apa sih sebenarnya? kok mendadak begini" ucap Mas Haidar yang mulai curiga.
"Biar dia ada yang urus aja. Kasian kan sebatang kara di dunia ini. Kami sudah ketemu sama Pakleknya di Kudus, lumayan banyak dengar cerita keluarga disana tentang orang tuanya Izza. Tapi pada intinya keluarga seperti enggan menerima Bapaknya Izza beserta anak turunannya. Izza ga disambut layaknya saudara yang hilang kemudian berjumpa lagi" papar Rama.
"Kamu mau jadi dinas sosial atau gimana Ram? apa setiap ada wanita sebatang kara mau kamu nikahi semua?" Mas Haidar jadi terpancing emosi.
"Kalo Papi sama Mas Haidar ga mau ikut, ya biar Rama kesana sendiri. Rama laki-laki, bisa tanpa wali kok kalo mau nikah" kata Rama agak menantang.
"Ram ... menikah itu butuh persiapan. Jangan seperti inilah. Kita ajak ngobrol dulu Izzanya beserta Ibu Panti Asuhan, kita dengar apa Izza bersedia. Terus nanti kemana kita datangnya. Dia juga wanita yang layak diminta secara baik-baik. Mau keluarganya terima atau tidak kehadiran Izza, itu bukan urusan kita. Tapi secara adat dan agama, layaknya kita minta seorang wanita ke walinya" pendapat Pak Isam bijak.
"Kita bikin simpel aja lah Pi. Ga ada yang perlu dibicarakan secara mendalam. Izza juga pasti mau deh kalo dilamar. Nanti Rama yang handle semua. Yang penting akad terus kita makan-makan aja di Audah hotel. Yang diundang keluarga besar kita dan saudaranya Izza sekedarnya aja. Rekan bisnis juga yang dekat-dekat aja. Yang penting sah dulu secara negara dan agama" jelas Rama tanpa beban.
"Ga terjadi sesuatu antara kamu dan Izza kan? Sampe ngototnya kamu seperti ada keadaan yang terdesak untuk segera menikah. Apa kalian sudah ... " selidik Mas Haidar.
"Antara saya dan Izza ga ada hal yang perlu Papi atau Mas Haidar khawatirkan. Bisa dicek apakah Izza hamil atau tidak. Saya masih sadar mana yang boleh dan tidak. Meskipun kami pergi berdua, ga ada tuh ceritanya ngamar bareng" ucap Rama rada menyindir Mas Haidar.
"Papi tiba-tiba sakit kepala, kita teruskan besok aja ya pembahasan ini. Papi mau istirahat dulu" jawab Pak Isam langsung meninggalkan gazebo.
Sekarang hanya ada Rama dan Mas Haidar, berdua melanjutkan pembicaraan di gazebo.
"Menikah itu bukan main-main. Jangan perasaan kasihan kamu mengalahkan logika. Kamu cuma kasian sama Izza kan?" tanya Mas Haidar meyakinkan kembali.
Rama terdiam sambil memegang gelas dihadapannya.
"Kenapa harus mengorbankan diri kamu sendiri dan Izza demi sebuah rasa kasihan itu? Rama yang Mas kenal amat cermat dalam menyikapi semua permasalahan. Kalo sekedar membantu Izza buat kuliah dan hidupnya, Mas lebih saranin kamu bantu tapi Izza bekerja sama kamu dengan perjanjian potong gaji atau gimana gitu. Buat apa sampai terikat ke pernikahan. Akan banyak konsekuensinya kalo menikah itu. Mas udah pernah gagal, jangan sampai kamu mengalami hal yang sama" saran Mas Haidar.
"Menikah dengan saya berarti dia juga bekerja untuk saya kan Mas" jawab Rama.
"Rama ... istri bukan karyawan kamu. Ada hak yang dia miliki bersamaan dengan kewajibannya. Kamu juga akan memikul tanggung jawab dunia akhiratnya. Buat apa kamu jalanin agama selama ini, sholat ga ditinggal, rajin shaum sunnah, ikut kajian dan pengajian ... kalo untuk urusan pernikahan kamu sepelekan. Mas ga masalah kamu mau nikah sama siapa aja, karena Mas tau kamu bisa nyari calon istri sendiri. Jangan mengulangi kesalahan Mas dan Mba Mentari" Mas Haidar terus menasehati.
"Kenapa harus Mas Haidar yang jadi tolak ukur? kita beda keadaan Mas, bener kata Mas, Rama bisa cari istri sendiri, makanya pas udah ketemu kenapa harus nunggu?" tanya Rama.
"Apa rencana kamu sebenarnya Rama? Menikah bukan cuma soal nafsu yang dilegalkan dengan kata sah. Kamu udah ga tahan untuk melakukan hubungan suami istri? atau ada alasan lain selain kamu bilang udah ketemu orang yang tepat?" ucap Mas Haidar sambil menepuk pundak Rama.
"Demi Sachi" tutur Rama dengan jujur.
"Maksudnya kamu mau Izza jadi Ibunya Sachi karena Sachi nyaman sama dia? please Rama.. kenapa sependek itu pemikiran kamu. Sachi masih kecil, dia bisa sayang sama semua orang yang tulus sama dia. Lagipula kamu sudah ikhlas dan setuju kalo urusan Sachi kedepannya menjadi tanggung jawab Mas. Jadi ga perlu sampai begini. Kamu udah cukup mengorbankan segalanya buat Nay dan Sachi. Cukup Rama .. cukup semua ini. Kamu harus bisa bahagia tanpa ada embel-embel membahagiakan Sachi. Kamu ini manusia .. bukan robot. Sampai kapan mengorbankan perasaan demi membahagiakan orang lain?" ungkap Mas Haidar yang merasa kasihan dengan hidupnya Rama.
Rama terdiam, memang apa yang dikatakan oleh Mas Haidar benar adanya. Tapi banyak yang berkecamuk dalam otaknya.
"Mas ... apa Mas sudah melupakan Mba Nay karena sudah ada seseorang dalam hidup Mas?" tanya Rama.
"Nay selalu dihati, tapi hidup harus terus berjalan. Bukan berarti membuka hati untuk wanita lain artinya Mas ga mencintainya lagi. Tapi sebagai lelaki normal, Mas juga butuh seorang istri yang bisa membahagiakan lahir dan batin" jawab Mas Haidar.
π
Pengurus Panti sedang ngumpul, ada Ibu Kepala Panti juga yang baru pulang pelatihan.
"Za ... sini duduk .." ajak Ibu Panti Asuhan.
Izza duduk disalah satu kursi ruang tamu.
"Jadi kemarin sudah ada pemberitahuan kalau Panti Asuhan ini akan dialihfungsikan sebagai tempat penampungan dan perawatan sementara orang dengan gangguan jiwa yang berkeliaran di jalanan. Anak-anak disini yang berjumlah sepuluh orang akan dipindahkan. Pekerja disini, akan diberikan pilihan, mau tetap disini atau dipindahkan. Tapi kita masih tunggu surat keputusan dari Dinas Sosial dulu. Mengenai status kamu Za, Ibu sulit untuk mempertahankan. Kamu bukan anak Panti Asuhan ini lagi dan bukan juga pekerja disini. Ibu harap kamu bisa mandiri kelak. Ibu juga akan dipindahtugaskan Za, ga mungkin kamu ikut Ibu pindah karena kan kamu masih kuliah" jelas Ibu Panti Asuhan.
Izza mulai merasa pusing juga, bayangan mau kedepannya bagaimana belum tergambar.
Izza pamit mau ke kamarnya, dia melewatkan makan malam bersama karena alasannya tidak lapar dan mau belajar.
Baru saja dia mendapatkan telepon dari pengacara Mba Gita yang ternyata telah mengundurkan diri, padahal uang sebesar seratus juta sudah Mba Gita serahkan karena mendapatkan janji bisa menyuap petugas guna memperingan hukumannya. Semua pemeriksaan serta barang bukti atas kasus Mba Gita sudah hampir lengkap, artinya sebentar lagi akan ada jadwal persidangan.
β¬ οΈβ¬ οΈ
Tadi pagi Izza sempat menjenguk Mba Gita, kondisinya agak kurus. Mba Gita ketakutan karena mendengar Zizi sudah meninggal di penjara. Jadi Mba Gita sangat berhati-hati terhadap makanan dan minuman yang diberikan kepadanya. Memang Mba Gita ga bilang tentang Zizi ke Izza karena belum saatnya Izza tau siapa dirinya. Ditambah Mba Gita juga sudah perlu penanganan untuk kecanduannya.
"Mba butuh pengacara, kamu tolong cari lembaga bantuan hukum yang gratis buat Mba. Tolong Za .. Mba takut" mohon Mba Gita.
"Cari dimana Mba? Izza ga paham" kata Izza.
"Kamu ke Mas Rama, dia pernah menawarkan pengacara ke Mba, tolong Za .. Mba bisa stress kalo ga didampingi pengacara dan pihak medis" ucap Mba Gita.
"Mba .. Izza sudah menolak lamarannya. Izza rasanya udah ga sanggup harus berhadapan lagi sama dia" adu Izza.
"Za .. kamu terima ajalah tawaran buat menikah sama Mas Rama. Kalo Mba bisa bebas, nanti kita bisa pergi yang jauh. Sekarang kita udah ga punya apa-apa. Satu-satunya cara yaitu menikah sama Mas Rama dan meminta banyak hal dari dia. Kamu harus bisa membuat dia takluk dalam genggaman, terus kumpulkan uang sebanyak-banyaknya dari dia, tipe Mas Rama ga akan pelit kok sama orang yang dia sayang. Dulu aja sama Mba Nay semua dikorbankan" ucap Mba Gita.
"Tapi Mba..." jawab Izza ragu.
"Kamu selalu bilang kalo akan melakukan hal apa aja buat Mba. Sekarang saatnya Za" ujar Mba Gita.
β‘οΈβ‘οΈ
Malam ini sulit sekali Rama memejamkan matanya, dia turun kebawah dan keluar menuju pinggir kolam renang.
Bagaimana pun juga diusianya yang baru akan menginjak dua puluh lima tahun sebulan lagi, sudah berani memutuskan untuk menikahi wanita yang masih berusia diawal dua puluhan. Hal ini bisa dibilang sebuah keputusan yang berani karena dia belum pernah menjalin sebuah komitmen dengan wanita manapun.
"Mba Nay .. aku pernah jatuh cinta padamu, tapi kali ini merasakan sebuah rasa yang berbeda. Sekarang mungkin tidak mencintainya, tapi dia mampu menjadi penyeimbang emosi, dia bisa mendengarkan keluh kesah tanpa membuat resah, dia mampu menjadi sosok mandiri yang tidak bergantung pada orang lain. Sebagai seorang pimpinan perusahaan besar, ga mungkin semua bisa saya urus sendiri, kini saatnya berbagi. Sachi semakin besar, belum ada sosok Ibu hadir dalam hidupnya. Mengharapkan pasangan Mas Haidar pun rasanya sulit, selain tidak suka anak-anak, wanita itu juga wanita karier. Izza adalah pilihan satu-satunya yang tepat. Tapi bagaimana mengatur keuangan rumah tangga nantinya, walaupun gaji double, tapi cicilan mobil ke Papi juga baru berjalan beberapa bulan. Memang sudah punya apartemen, tapi baru kemarin disewakan untuk mendapatkan income tambahan. Belum buat biaya kuliah S2 yang masuk semester ketiga. Jika menikah dengan Izza berarti menanggung uang kuliahnya. Ya Allah.. cukupkan rejekiku" harap Rama.
Salah satu keputusan terbesar dalam hidup adalah ketika seseorang memutuskan untuk menikah, akan mengikat janji dan berkomitmen untuk menjalani kehidupan bersama orang lain seumur hidup. Ada banyak halΒ yang perlu dipertimbangkan dan itu bukanlah perkara yang sepele.
π
Ditempat lainnya, Izza pun memandang kearah bulan yang sama seperti yang Rama lihat. Dia melihat ciptaan sang Rabb Nya yang tanpa cela lewat sebuah jendela.
"Apa yang harus kuputuskan... hidup sebatang kara, ada keluarga juga rasa-rasanya ga bisa terima karena kelakuan minus Bapak. Panti Asuhan ini pun akan dialihfungsikan, kemana kaki ini akan melangkah ya Allah. Ditambah psikis Mba Gita sudah berantakan, fisiknya pun tampak sakit. Haruskah menikah menjadi solusi dari semua masalahku ya Allah? Bodoh ga sih kalo menganggap pernikahan itu sebuah solusi keuangan dan demi balas budi? Bukankah justru jadi babak baru dalam kehidupan yang pastinya nggak akan mudah buat dijalani?" ucap Izza dalam hatinya.
π
"Menikah pasti jadi sebuah keputusan terbesar dalam riwayat hidup yang harus dijalani dengan penuh komitmen dan tanggung jawab. Mampukah kami bisa meraih pencapaian bertahan dan hidup bahagia bersama dalam mahligai pernikahan hingga akhir hayat nanti? Bisakah hidup bersama tanpa cinta?" kata hati Rama bicara.
Angin menyapu lembut wajah Rama. Dia membuka kaos yang dipakainya, menyisakan celana pendek batik yang kemarin sempat dibelinya di Bandara Semarang.
"Bener ga ya kalo menikah bisa memberikan rasa aman dan nyaman seperti sekarang ini? Dalam kesendirian aja bahagia kenapa harus berdua? Cukupkah aku bahagia hanya bersama Sachi?" tanya Rama sambil loncat masuk ke kolam renang, dikayuhnya tangan dan kakinya lebih cepat.
πΊ
"Saya sadar kalo orang yang akan menikahi saya itu juga bukan manusia yang sempurna, seperti saya aja yang masih banyak kekurangan. Bisa ga ya bisa saling terima? Apa yang membuat Kak Rama menjatuhkan pilihan ke saya?" tambah kata hati Izza.
Izza menutup jendela kamarnya, khawatir banyak nyamuk yang masuk. Obat nyamuk semprot sudah habis dan belum beli lagi.
π
"Rumah tangga yang dibangun dengan cinta aja pasti mengalami banyak konflik, apalagi keputusan ini ya? Apa ga malah jadinya huru hara? Apa tega menyakitinya untuk membalas rasa sakitnya Mba Nay? Tapi dia adik dari orang yang membunuh keluarga Mba Nay sekaligus adik dari orang yang merencanakan dan mengobrak-abrik perasaan Mba Nay hingga kehamilannya bermasalah" ucap Rama sambil terus mengayuh tangannya lebih kencang lagi.
π
Izza merebahkan tubuhnya di kasur tipis dengan sprei yang warnanya sudah lusuh. Bahkan ada tambalan dibagian pinggirnya. Sprei yang sudah termakan usia dan sudah dicuci dalam kurun waktu empat tahunan.
"Dua orang berbeda segala-galanya, menyatu menjadi satu, pastinya konflik dalam rumah tangga itu pasti terjadi, gimana ngadepinnya kalo kita ga saling kenal kepribadian masing-masing?" Izza bergumam sambil geleng-geleng kepala.
π
Dua puluh menit nonstop Rama berenang, nafasnya mulai tersengal-sengal. Dia keluar dari kolam renang, menuju gazebo untuk mengambil kimono handuk dan mengambil minuman yang ada di kulkas mini dalam gazebo tersebut.
Rama kembali duduk di pinggiran kolam renang sambil menikmati jus dalam kemasan.
"Ayo Rama ... berdamailah dan selesaikan semua permasalahan yang kamu punya. Masalah yang kamu pendam akan berakibat buruk pada dirimu sendiri" semangat Rama untuk dirinya sendiri.
π΅οΈ
"Semoga keputusanku adalah jalan yang terbaik, sudah setiap saat kumohon padaMu ya Allah. Berikan keberkahan dalam setiap langkah yang kutempuh, keputusan ini demi Mba Gita, meskipun terkesan menjilat ludah sendiri, saya harus mampu belajar untuk hidup saling melengkapi dan berusaha untuk membahagiakan satu sama lain. Entah bagaimana didepannya, saya harus kuat. Kak Rama harus segera ditaklukkan demi semua rencana berjalan lancar. Kalo Mba Gita sudah banyak berkorban, kini saatnya badan ini dipertaruhkan" ucap Izza dengan keyakinan.
Izza melihat HP nya, sudah pukul satu malam.
π
"Mampukah saya menyentuhnya? menjalankan kewajiban serta hak saya sebagai suami. Bisakah dilakukan tanpa cinta?" kembali Rama bertanya pada dirinya.
π
"Oh my goshhhh ... gimana kalo dia menuntut haknya mendapatkan nafkah batin? bagaimana dengan kewajiban sebagai seorang istri untuk melayani sepenuh hati? siap ga ya? Ngeri juga ngebayanginnya nih, laki-laki mana yang bisa menahan kalo udah berada dalam satu kamar dengan wanita, apalagi udah halal.... Gimana ya? Izza ... Izza.. kenapa ga mikir panjang sih. Ayo kamu udah nolak dia .. masa mau jilat ludah sendiri" kata Izza sambil ngetuk jidatnya berkali-kali.
πΊ
Paginya Mang Ujang sedang mengelap mobil Mas Bossnya biar kinclong. Hari Sabtu ini Rama akan meeting dengan beberapa rekanan di Audah Hotel bersama Mba Anindya. Weekend memang dihabiskan untuk mengurus Audah Hotel secara keseluruhan.
Pak Isam mendekati Mang Ujang.
"Jang... " panggil Pak Isam sambil menepuk bahunya Mang Ujang.
Tentu aja Mang Ujang terlonjak kaget hingga kanebonya dilempar kearah Pak Isam.
"Maaf ... maaf Boss Papi .. Ujang kaget jadi spontan ngelempar" pinta Mang Ujang sambil mengambil kanebo dari tangan Pak Isam.
"Rama pernah cerita ga kalo mau nikah?" selidik Pak Isam.
"Nikah? Pacar aja ga punya .. eh tapi gebetan banyak deh dia" jawab Mang Ujang becanda.
"Emang dia suka sama Izza? menurut kamu gimana hubungan Rama dan Izza?" tanya Pak Isam borongan.
Mang Ujang bingung jawabnya. Selain memang Rama sulit untuk dikulik tentang perasaannya, Mang Ujang juga belum yakin ada getaran cinta diantara keduanya.