HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 186, Keep calm



Sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit, Rama banyak diam, hingga Mang Ujang menyerahkan ASI ke perawat ruang bayi pun, Rama masih juga diam. Mang Ujang jadi merasa bersalah. Rama sudah sangat baik sama Mang Ujang, tapi malahan Mang Ujang ga menjalankan nasehat Rama untuk berhemat. Ditambah perlakuannya terhadap Maryam, pasti Rama kecewa karena dia adalah comblangnya.


Waktu menunjukkan pukul sembilan malam, keduanya baru balik ke rumah. Kemudian Rama duduk di gazebo taman depan, Mang Ujang menghampiri.


"Mas Boss... Mamang mau minta maaf" buka Mang Ujang hati-hati.


"Buat apa Mang minta maaf ke saya? ga akan ada pengaruhnya apa-apa. Rasanya mulut sudah berbusa memberikan banyak masukan buat Mang Ujang, tapi liat kenyataannya?" tutur Rama sambil memandang langit.


Direbahkan tubuhnya di gazebo. Mang Ujang mengikuti disebelahnya.


"Terus kenapa mau ikut ke Rumah Sakit buat serahin ASI?" tanya Mang Ujang.


"Kan kita best friend.. dah janji kan buat merasakan susah senang bersama" jawab Rama.


.


"Itu Mang Ujang sama Mas Rama ngapain ya tiduran di gazebo?" tanya security yang baru datang untuk tukar shift jaga.


"Mas Rama bersimpati kali sama Mang Ujang, secara kan Teh Maryam baru lahiran, jadi Mang Ujang lagi puasa. Mas Rama sama Mang Ujang kan bestie banget. Jadi biar sama-sama puasa gitu sama istrinya" jawab security lainnya.


"Terus mereka berdua mau tiduran di gazebo gitu? emang ga dinyamukin?" tanya security pertama.


"Udah... ga usah ikut campur, kondisi aman terkendali ya. Laporan jaga sudah ditulis juga" kata security yang bersiap pulang.


Security yang pulang mengambil motornya yang di parkir dalam garasi.


"Mas Rama.. Mang Ujang.. saya pamit pulang dulu ya" ujar security.


"Ya... hati-hati di jalan" jawab Rama sambil mengacungi jempol.


.


"Mas Boss pasti kecewa sama Mamang. Beneran deh Mas Boss .. habis ini Mamang nurut apa kata Mas Boss" janji Mang Ujang.


"Mending perbaiki hubungan Mamang sama Maryam" jawab Rama.


Ada tukang siomay lewat, yang biasa muter di komplek sini, tidak pakai gerobak, tapi pakai motor. Rasanya enak dan memang harga agak mahal mengingat kualitas bahan yang digunakan juga yang bagus. Tukangnya tau kalo ini komplek elit, jadinya harga tidak masalah asalkan enak, bersih dan bahan yang digunakan tidak sembarangan.


Rama duduk sambil merogoh kantongnya untuk mengambil dompet, dilihatnya sudah tidak ada uang rupiah lagi, adanya dollar yang dia simpan sebagai penghuni tetap dompet serta kartu dari berbagai Bank.


"Mang... pinjem uang dong, seratus ribu aja. Ada yang minta-minta tuh" kata Rama.


"Dimana Mas Boss? di pagar ga ada orang minta-minta" jawab Mang Ujang celingukan.


"Itu tukang siomay.. dia yang minta... " ujar Rama.


"Minta? kapan mintanya? Mas Boss aja disini dari tadi. Tuh tukang syomay juga lagi berhenti di rumah depan sini. Hendrik mah ga bakalan jadi pengemis kali Mas Boss.. kan dia tukang siomay" tukas Mang Ujang bingung.


"Iya dia minta... minta dibeli kan dagangannya? kalo ga minta dibeli buat apa dia muter-muter komplek menjajakan dagangannya" ucap Rama santai.


Mang Ujang paham, kemudian berjalan mendekati pagar.


"Hendrik... sini, dicariin Mas Boss nih" panggil Mang Ujang.


"Eh Mang Ujang.. lama ga keliatan. Tunggu sebentar saya kesana, mumpung ada Mas Boss, saya masuk kesana boleh?" tanya Hendrik.


"Masuk aja" jawab Mang Ujang sambil membuka pintu pagar.


.


Hendrik si tukang siomay yang sudah jadi langganannya Rama sejak pulang dari Inggris. Rama biasanya iseng kalo diatas jam sembilan malam, mau makan nasi lagi rasanya kepenuhan karena sudah makan malam. Akhirnya siomay selalu menjadi pilihannya sebagai pertolongan pertama penunda kelaparan.


Hendrik masuk kedalam pagar, motornya mendekati gazebo tempat dimana Rama duduk.


"Makin gagah aja nih Mas Boss.. bersihan juga mukanya" sapa Hendrik yang memang akrab sama Rama.


"Ya iyalah bersihan, secara udah ada yang mandiin, ada yang maskerin muka.. ya pokoknya udah ada yang urusin deh" jawab Rama asal.


"Ya ilahhhh... bikin ngiri aja nih Mas Boss" kata Hendrik.


"Biasa ya.. seporsi dulu" pinta Rama.


"Siap, ini memang adanya sisa tiga porsi ya.. ada inovasi baru nih.. sesuai saran Mas Boss, Alhamdulillah laku malah rasa yang baru" kata Hendrik sambil menyiapkan pesanannya Rama.


"Mang... tawarin security mau ngga, biar langsung habis nih dagangannya Hendrik" perintah Rama.


Mang Ujang memanggil security, mereka akhirnya ikut memakan siomay.


Bumbu kacangnya ini sangat legit karena dicampur kacang mede. Ikannya pun terasa, tidak sekedar tepung.


"Varian apa yang baru?" tanya Rama.


"Keju Mas Boss" jawab Hendrik sambil menyerahkan piring ke Rama.


"Eh beneran dibikin?" ucap Rama ga percaya.


"Ya kan Mas Boss yang kasih saran, akhirnya saya pikirin tuh. Iseng-iseng coba, eh malah laku" jelas Hendrik yang duduk disebelahnya Rama.


"Alhamdulillah kalo laku... tapi unik sih rasanya, enak juga, sensasi rasa ikan yang gurih dan asinnya keju jadi kaya rasa di mulut" nilai Rama bergaya seperti juri acara masak memasak.


"Pokoknya Mas Boss ini pelanggan VVIP nya saya deh. Bawa hoki banget setiap ucapannya" kata Hendrik.


"Bisa aja.. kebetulan itu" ucap Rama merendah.


"Sejak pakai nama Hendrik, siomay saya lebih laku Mas Boss. Cuma keliling komplek sini dari jam empat sore, jam segini udah habis, Mas Boss pas banget pesannya tiga porsi. Biasanya ya sekitar jam sepuluhan deh sudah habis, paling malam jam sebelas" tutur Hendrik.


"Kalo yang nama Hendrik itu sekedar buat naikin image aja, bukan berarti nama asli kamu itu ga bagus, tapi ga ngejual kalo di dunia bisnis. Kan keren namanya siomay Bro Hendrik, daripada siomay Bandung Hendra, udah sih bukan orang Bandung plus namanya Hendra, ga ngejual" papar Rama.


"Nah itu .. biasanya pada panggil Bang Hendra.. sekarang panggilnya Bang Hendrik.. jadi keren, plus tulisan yang dibawah bikin orang jadi mesam mesem.. itu kan juga idenya Mas Boss tiap ngeledek saya" lanjut Hendrik.


Ada tulisan di banner siomay:


"Jika tidak ada bahu untuk bersandar, masih ada siomay yang bisa didahar (dimakan)"


"Oh itu... tagline aja biar lain daripada yang lain. Jadi siomay keju ini baru sebulan yang lalu dong ya adanya, perasaan saya ga makan siomay ini udah sebulan yang lalu" tanya Rama.


"Baru dua mingguan, pas Mas Boss becanda itu saya renungin.. pikir-pikir.. akhirnya coba deh dinekatin. Awalnya mau minta Mas Boss tester dulu siomay keju, tapi ga pernah ada di rumah tiap saya lewat" jelas Hendrik.


"Iya nih .. pulang malam mulu sama sibuk honeymoon" jawab Rama santai.


"Widih .. lain banget ya Mas Boss sekarang, banyak becanda. Tapi kesaktian mulutnya belum ada lawan. Do'akan saya dong Mas.. biar punya pacar" pinta Hendrik.


"Baru dua puluh tahun, tapi saya belum punya pacar dari dulu. Pengen banget punya pacar, biar ada yang kasih semangat" jawab Hendrik.


"Cari duit dulu yang bener, masih ada orang tua kan? senengin orang tua sama adik-adiknya dulu. Nanti juga ada kalo udah waktunya" kata Rama yakin.


"Alhamdulillah saya yang nanggung sekolah dua adik .. kan saran Mas Boss juga. Begitu saya bilang kalo akan tanggung sekolah adik, dilalahnya siomay saya selalu laris. Kalo weekend biasanya suka ada pesanan buat acara, tapi tumben hari ini ga ada, jadinya dagang keliling" cerita Hendrik.


"Lebarin dong sampe ke komplek depan sana, kan cluster mininya komplek ini, siapa tau kan jadi banyak pelanggan, sama bikin kartu nama, kasih ke orang-orang, tulis disitu terima pesan antar untuk wilayah tertentu, misalnya seputaran komplek ini atau mana gitu" saran Rama.


"Kalo suhu yang ngomong, anak buah tinggal ikutin aja" sahut Hendrik.


"Ini yang saya salut sama kamu.. ga ndableg kalo dikasih saran. Kamu pertimbangkan dulu baik buruknya, baru deh ambil keputusan. Orang jaman sekarang udah susah mendengar, lebih senang berbicara" ungkap Rama sambil melihat Mang Ujang.


Mang Ujang merasa tersindir malah jadi keselek siomay, security mengambilkan minuman untuk Mang Ujang.


🌷


Untuk mengusir kejenuhan karena banyak waktu kosong, Izza akhirnya menjaga toko sayur dan buah organik milik Mas Haidar. Agak jauh dari rumah tapi dekat sama Kantor Abrisam Group. Izza akan datang setelah Sachi pulang sekolah, bahkan sesekali Sachi juga ikut ke toko.


Izza diantar jemput sama Alex, tadinya Alex menunggu Izza kerja, tapi rasanya ga enak jika kerja ditungguin. Atas kesepakatan dengan Rama, akhir Alex hanya antar jemput. Itupun tidak balik ke rumah, melainkan ke Kantor Abrisam Group.


Rama masih saja sibuk sama pekerjaannya, sehingga dia bikin aturan ke Izza agar tetap bisa mengawasi Sachi. Jam kerja dimulai saat Sachi berangkat sekolah kemudian pulang menjemput Sachi. Setelah itu bisa balik lagi ke toko tapi jam empat diminta pulang agar sebelum Maghrib sudah di rumah.


Mas Haidar tidak berdaya sama aturan Rama, disatu sisi dia paham kenapa Rama mengajukan persyaratan seperti itu, dilain sisi dia juga masih memerlukan bantuan Izza untuk mengawasi. Jaman sekarang sulit mencari orang kepercayaan.


🌷


Setelah perawatan intensif selama tiga pekan, anak-anaknya Mang Ujang diijinkan untuk pulang ke rumah. Ruangan yang terletak persis dibelakang dapur sudah di renovasi sama Pak Isam. Tadinya gudang makanan dan alat masak serta sepeda-sepeda.


Gudang logistik dipindahkan ke kamar Mang Ujang yang lama. Tempat tidur bayi untuk anak kembar juga sudah ada, dibelikan oleh Izza dan Mba Rani. Ambunya Maryam tinggal di rumah Pak Isam dulu untuk mendampingi masa nifasnya Maryam.


Sesekali Maman dan Ceu Lilis juga berkunjung ke rumah Pak Isam. Sachi adalah orang yang tampak paling bahagia. Dia punya adik seperti keinginannya sejak lama.


Pagi hari sebelum berangkat sekolah, Sachi sarapan didekat si kembar yang sedang dijemur. Sore hari juga Sachi kembali melihat si kembar, tidak jarang dia tertidur di kamarnya Mang Ujang dengan alasan menjaga adik bayi.


Bayi kembar berjenis kelamin perempuan ini perkembangannya makin membaik, meskipun kemampuan menghisap untuk langsung menyusu ke Maryam belum baik, tapi Maryam ga putus asa. Disendokkan satu persatu ASI ke bayinya dengan penuh ketelatenan.


🌺


Pangsa pasar yang tepat, kualitas barang yang bagus serta harga yang masih dibawah harga toko sejenis, membuat toko organik milik Mas Haidar cepat dikenal orang.


Izza juga bekerjasama dengan beberapa aplikasi belanja untuk mengembangkan sayap toko organik.


"Assalamualaikum Za..." sapa Candra.


"Waalaikumsalam.. Mas Candra lagi ke kantor sebelah?" jawab Izza.


"Iya.. tadi ada interview karyawan baru. Habisnya Nyonya Rama menolak tawaran, jadinya cari karyawan baru. Alhamdulillah sudah mulai ada peningkatan orang yang memakai jasa tour and travel kami. Mas Akmal kan ga bisa bolak-balik untuk mengawasi karena lebih banyak di Resort. Jadinya saya yang masih urus sendiri" jelas Candra.


"Ah bisa aja nih Mas Candra.. saya cuma sekedar membantu, bukan karyawan. Sepertinya jika nanti Kakak ipar sudah mendapatkan orang yang cocok sebagai store manager, ya saya ga bantu lagi" kata Izza.


"Za.. sebenarnya saya ingin sekali mempertemukan kamu sama seseorang, orang yang saya bilang mirip banget sama kamu. Memang, bisa saja kebetulan mirip, tapi ga ada salahnya ketemu sama kenalan saya itu" ajak Candra.


"Saya minta ijin dulu sama suami, khawatir beliau ga setuju. Mas kan tau sendiri istri itu wajib tunduk sama suami" jawab Izza.


"Oh iya dong.. harus itu. Bilang aja sama Rama, nanti kita atur waktunya. Seminggu yang lalu saya baru ketemu sama kenalan saya ini, ga sengaja bilang kalo beliau mirip sama kamu, terus malah jadi penasaran ketemu" lanjut Candra.


"Perempuan?" tanya Izza.


"Laki-laki" jawab Candra.


"Kalo laki-laki saya ga jamin suami kasih ijin. Memang bukan tipe orang yang cemburuan, tapi katanya ga mau saya kena fitnah orang aja" ujar Izza.


"Ya pokoknya saya hanya menyampaikan aja, mau atau tidaknya terserah kamu" ucap Candra.


"Oh iya Mas.. bagaimana kabar Mba Lexa? sebentar lagi kan ya melahirkan" tanya Izza.


"Perkiraan dua mingguan lagi, do'akan ibu dan bayinya selamat dan sehat" pinta Candra.


"Aamiin ya rabbal'alamin.. kemarin ini saya sibuk mengurus anaknya supir pribadi suami. Kembar dan lahir belum cukup bulan, lumayan lama di Rumah Sakit, sekitar dua puluh hari" cerita Izza.


"Kenapa Za?" tanya Candra.


"Pre eklampsia" jawab Izza.


"Itu apa ya?" tanya Candra penasaran.


"Kalo lebih jelasnya mending Mas tanya ke dokter saja. Saya khawatir salah menjelaskan" kata Izza.


"Oke deh.. nanti kalo kontrol ke dokter coba saya tanyakan. Soalnya sekarang ini memang suka aneh-aneh aja penyakitnya. Tapi yang pertama, Lexa lahiran dibantu bidan dan dokter umum loh, dokter puskesmas disebuah daerah yang di puncak gunung. Untungnya kakak ipar dokter anak, jadi bayi bisa tertangani dengan baik. Abis lahiran langsung dibawa sama tiga ambulance. Lucu dan deg-degan sih prosesnya. Pokoknya ga lagi-lagi deh jalan kesebuah tempat jika dekat sama HPL. Mending sekarang diam-diam di rumah" kata Candra.


HP Candra berbunyi, ada panggilan dari nomernya Lexa.


"Pak... maaf saya diminta sama Ibu yang punya HP ini untuk menghubungi Bapak. Istri Bapak ada di Mall dan sepertinya mau melahirkan" langsung penelpon berbicara tanpa jeda.


"Istri saya ke Mall? dia sama siapa?" tanya Candra berusaha tenang, khawatir ini sebuah penipuan.


"Sama seorang suster dan anak lelaki yang masih kecil" jawab penelpon.


"Coba saya alihkan ke video ya.. untuk meyakinkan ini bukan penipuan" pinta Candra.


Begitu berubah menjadi setelan video call, Candra kaget melihat Lexa dikerumuni orang didalam Mall.


"Alung... cepat kesini" teriak Lexa.


"Susternya Boy dimana?" tanya Candra.


"Lagi panggil supir, Boy ikut sama dia karena nangis liat Acik begini" jawab Lexa.


"Lagian kenapa ke Mall.. kan udah dibilangin jangan kemana-mana" kata Candra.


"Alunggg... please ya jangan berdebat lama, ini air ketuban sudah pecah" omel Lexa.


"Kamu langsung ke Rumah Sakit, Alung langsung kesana" perintah Candra.


Setelah sambungan telepon ditutup.


"Za.. pamit dulu ya.. Lexa mau lahiran" kata Candra buru-buru sampai lupa belum bayar makanan.


"Ya Mas" jawab Izza.