HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 174, Full of love



Candra memperhatikan dua sejoli yang sedang bermain jetski, Izza sempat mencoba membawa jetski tapi akhirnya menyerah karena berat, tidak semudah membawa motor matic. Ujung-ujungnya Rama juga yang mengemudikan jetski. Keduanya tampak mesra, Izza memeluk tubuh Rama dari belakang. Sepanjang bermain jetski, mereka juga banyak tertawa. Bahkan beberapa kali Rama sengaja berhenti, mengambil foto berdua bahkan mencium Izza ditengah lautan. Izza tentu saja malu, tapi Rama cuek aja ada beberapa orang yang melintas naik jetski atau kapal kayu melihat mereka.


"Ampun deh Mas Boss, segala ditengah laut dia *******, ga takut ada ikan hiu apa ya.." ucap Mang Ujang geleng-geleng kepala.


"Namanya juga lagi dimabuk cinta Mang.. saya aja mau kaya gitu, sayangnya istri takut naik beginian" jawab Alex.


.


Mang Ujang dan Alex pun mengambil jalur yang menjauhi jetski yang ditumpangi Rama dan Izza, hanya tidak mau mengganggu para Bossnya yang sedang menikmati lautan milik berdua. Secara bergantian mereka membawa karena sama-sama penasaran bermain jetski.


.


"Lung... kalo mau kirim surat kemana ya?" tanya Lexa mengagetkan.


Candra sampai ga sadar kalo Lexa sudah ada dibelakangnya.


"Surat buat siapa? masih jaman kirim surat? ya kalo mau kirim sekarang kan ada pilihan ekspedisi yang beragam, mau yang cepat atau murah tergantung keinginan, kalo dulu ya adanya Kantor Pos doang, ga ada pilihan lain" jawab Candra panjang lebar.


Candra mengambilkan bangku plastik untuk Lexa duduk.


"Kalo mau kirim uang?" tanya Lexa.


"Ya transferlah via Bank, ada apa sih nanya-nanya gitu? kaya orang ga tau apa-apa aja" ujar Candra heran.


"Kalo mau kirim transferan hatiku untukmu pakai apa?" kata Lexa.


"Eeaa... udah pinter nih ngegombalnya" puji Candra.


"Kan ketularan Alung" jawab Lexa santai.


"Boy mana?" tanya Candra.


"Lain ya kalo udah punya anak pasti yang ditanya cuma anak aja, istrinya mana dicariin lagi" protes Lexa.


"Ya kan Acik ada disini, keliatan sama Alung" kata Candra.


"Boy lagi tidur.. katanya cape dari pagi olahraga" jawab Lexa.


"Iya .. biasalah ngajak joging sekaligus renang, makin jago dia ngambangnya, udah seimbang. Cik.. liat deh Izza sama suaminya, jadi inget kita jaman dulu ya" ungkap Candra.


"Kita? apanya yang sama? kayanya beda deh. Lagian kan kita belum kenal-kenal banget sama mereka" sahut Lexa.


"Ya jangan bandingkan dari sisi ekonomi dong, liat bagaimana keduanya pasangan yang masih muda, keliatannya juga dalam proses mengenal satu sama lain karena pacarannya setelah nikah, ga kaya kita yang ngalamin pacaran.. hehehe, terus perhatiin deh pas mereka tatap-tatapan mata dan saling ber ... keduanya tuh keliatan banget full of love. Ga perlu banyak yang terucap tapi body language keduanya mengatakan kalo mereka sedang jatuh cinta satu dengan lainnya" papar Candra.


"Ngapain sih Lung sampe segitunya memperhatikan pasangan lain. Biasanya cuek aja kalo liat pasangan seliweran didepan mata" tanya Lexa heran sama sikap keponya Candra.


"Liat Izza.. lama-lama sekilas kaya lagi liat..." Candra ga meneruskan pembicaraan.


"Ani???" tembak Lexa.


Candra diam, mati kutu dia begitu Lexa paham maksudnya Candra.


"Ani dan Izza mungkin sama-sama wanita yang ga berdaya karena keadaan, mungkin keduanya punya kesamaan dalam hal memperjuangkan sesuatu.. Ani berjuang mempertahankan Alung.. tapi Izza keliatan berjuang untuk hidupnya sendiri. Sekarang kita liat dia amat nyaman disisi suaminya karena mungkin dia mendapatkan segalanya dari Mas Rama. Keliatan kok kalo Mas Rama amat melindungi Izza. Beda banget sama Alung yang ga ada khawatir-khawatirnya kalo Acik pergi kemana gitu" lanjut Lexa.


"Ga gitu juga Cik.. tapi kan Alung ga pernah bolehin kamu pergi sendiri, ada yang dampingin kalo Alung ga bisa. Kalo tentang Ani, kan sudah kelar antara Alung sama dia, udah lama juga kan.. sebelum kita nikah bahkan. Ga usah terus cemburu kalo kesebut nama dia. kita sama-sama sudah bahagia kok dengan jalan hidup masing-masing" kata Candra meluruskan pendapat Lexa.


"Alhamdulillah.. setahun ini memang mantan terindahnya Alung itu ga muncul dalam hidup kita, tapi tau sendiri selama dua tahun awal pernikahan kita selalu ada aja kerusuhan yang dia ciptakan" sindir Lexa.


"Dia kan udah ikut suaminya, melanjutkan kuliah. kan Acik tau sendiri pas mereka pamitan setahun yang lalu. Beneran deh Alung ga sama sekali ada komunikasi dengan mereka lagi" ucap Candra.


"Ani kan ovariumnya diangkat Lung.." kata Lexa.


"Tau dari mana? waktu ketemu keluarganya pas kita ke tempat Ibu Minggu kemarin, ga ada yang kasih tau" tanya Candra.


"Di media sosialnya, dia menceritakan perjuangan kehamilannya serta program yang sudah dijalankan. Tiga kali hamil dan tiga kali pula mengalami keguguran. Hingga seminggu yang lalu ovarium sebelah kanan diangkat" adu Lexa.


Candra kaget mendengar berita ini, tapi tidak terlalu shock karena sempat beberapa kali mendengar adanya tindak kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa Ani. Keluarga besar sebenarnya sudah meminta Ani berpisah saja, tapi Ani tetap memilih untuk melanjutkan rumah tangganya. Entah apa yang ada dipikirannya Ani, yang jelas dia tidak pernah lagi mengeluh ke siapapun tentang rumah tangganya. Keluarga juga banyak tau tentang Ani dari para asisten rumah tangganya Ani.


"Kasian ya Lung.. Acik yakin kok Ani sebenarnya orang baik, hanya keadaan yang membuat dia jadi agak melawan. Semoga dia diberikan kesabaran luar biasa untuk melanjutkan hidupnya" harap Lexa.


Candra hanya meng Aamiinkan dalam hati, khawatir Lexa salah paham kalo dia lontarkan secara langsung.


"Untunglah Mba Flo ga sama lelaki cecunguk itu, udah dikasih kesempatan berkali-kali ga ada insyafnya. Emosion kan orangnya, makanya Alung males berhubungan bisnis atau apapun sama dia. Udah enak gini aja" kata Candra.


"Keliatannya Izza emang kaya Ani.. kalem, tenang.. tapi kalo diusik pasti berisik. Tapi ada sebuah kekuatan dalam diri Izza yang membuat siapapun bisa langsung tertarik. Bukan dalam artian tertarik ingin menjadi pasangan ya.. tapi ketertarikan untuk berbincang lebih lama sama dia" nilai Lexa.


"Yuppp" jawab Candra.


"Masih muda tapi pemikirannya lebih dewasa. Acik aja kalah dewasa dalam pola berpikir sama dia, kalo menurut pengawalnya, Izza dulu adalah penghuni Panti Asuhan karena tidak punya sanak keluarga lagi" tambah Lexa.


"Pantes dia keliatan strong banget. Kok bisa ya ketemu sama seorang Rama, anak konglomerat ternama" ujar Candra.


"Kita aja bisa ketemu Lung.. ya walaupun lewat sana sini dulu. Tapi kan ga langsung kita kenalan terus dikenalin ke keluarga, yang ada kebalikannya, Alung lebih kenal keluarga Acik dulu dibandingkan Acik" ucap Lexa.


"Tapi kan kita udah ketemu saat masih kecil.. itulah jodoh.. sejauh apapun pasti akan ketemu juga" kata Candra.


"Kata pengawalnya lagi nih ... justru orang tua dan Kakaknya Rama yang lebih dulu kenal sama Izza, ya masih kekuatan orang dalam sih.. hehehe. Mana bisa nolak kalo orang tua yang minta mereka untuk menikah" tutur Lexa.


"Kepo amat ya sekarang Acik sama hidup orang, sampe tanya ke pengawalnya. Lagian tuh pengawal ember juga ya ... rahasia Boss dibongkar" ujar Candra.


"Bukan pengawal yang kemarin, tapi yang baru datang lagi.. itu malah katanya tangan kanannya Mas Rama. Kalo dilihat-lihat kayanya ga banget jadi tangan kanannya Boss besar, apa mungkin Rama sukanya sama orang unik kali ya, jadinya milih tangan kanan yang kaya gitu" kata Lexa.


"Ada lagi yang datang? ini mau unjuk kekuatan apa gimana sih?" tanya Candra ga tau jika ada rombongan datang bareng Rama.


"Ada .. kan nyusul bertiga.. Mas Rama dan dua orang lagi.. suami istri, istrinya lagi hamil. Tadi pagi nanya disini apa ada Klinik terdekat, Acik anterin aja, terus akhirnya kita malah ngobrol-ngobrol" jelas Lexa.


.


Setelah bermain jetski selama dua puluh menit, Rama kembali ke dermaga tempat jetski tadi parkir.


"Terima kasih Mas Candra.. keren banget jetskinya, saya pernah pakai beberapa jetski tapi model seperti yang tadi dipakai ya baru tau. Enak banget, lebih garang.. jadi cocok buat laki yang hobi otomotif" ucap Rama.


"Punya tipe yang mana nih? bolehlah kapan-kapan main bareng" tanya Candra.


"Ga punya saya Mas.. masih sewa-sewa saja kalo mau main. Maklumlah saya bukan pecinta olahraga air. Lebih suka motor, tapi ga koleksi ya, sekedar punya satu aja cukup" jelas Rama.


"Oh gitu... kita ngopi-ngopi dulu lah.. ngobrol ngalor ngidul aja jika tidak keberatan" tawar Candra.


"Terima kasih atas ajakannya, bagaimana kalo diganti makan siang aja? karena saya belum tidur dari kemarin, mau rehat sejenak sebelum sholat Jum'at" tolak Rama dengan halus.


"Oh ya .. silahkan beristirahat.. semoga nanti bangun tidur sudah fresh lagi, lumayan bisa tidur dua jam sebelum sholat Jum'at" jawab Candra.


Seperti biasanya, Rama selalu mengajak Mang Ujang dan Alex datang ke Mesjid dua puluh menit sebelum adzan berkumandang. Selesai berwudhu dan sholat sunnah Tahhiyatul Masjid, segera mereka duduk bersila menunggu adzan. Rama membaca Al Qur'an yang ada di HP nya.


Baru dua menit duduk manis, tak terasa, tiba-tiba kantuk mulai melanda mata Mang Ujang, hingga terlelap dengan khusyu’ dalam kondisi duduk bersila. Tidak bergerak.


Seperti biasa pula, beberapa menit sebelum adzan berkumandang diedarkanlah kotak amal bagi para jama’ah. Melintaslah kotak amal tersebut dihadapan Mang Ujang. Karena Mang Ujang masih terlelap, kotak amal terhenti dihadapannya. Melihat kondisi ini, Rama segera membangunkan Mang Ujang dengan cara sedikit menyenggol lengannya Mang Ujang, sontak Mang Ujang kaget dan langsung berdiri kemudian melakukan gerakan takbir. Spontan banyak jama'ah yang menahan tawa, tapi ada beberapa yang tertawa lumayan kencang.


Mang Ujang celingak-celinguk, belum ada yang berdiri, hanya dirinya yang berdiri. Rama menarik lengannya Mang Ujang agar duduk kembali.


Muncul rasa malu dalam diri Mang Ujang, Rama memberikan kode untuk menggeser kotak amal.


Rama dan Alex memasukkan uang kedalam kotak amal, Mang Ujang tidak memasukkan uang karena sudah terlanjur malu hingga ga fokus memasukkan uang kedalam kotak amal.


"Mas Boss kenapa banguninnya ngagetin gitu sih... kan jadi malu" bisik Mang Ujang.


"Siapa suruh tidur? kebiasaan. Makanya baca Al Qur'an atau berdo'a apa gitu biar ga ngantuk" omel Rama pelan.


🏵️


Selepas sholat Jum'at, mereka berniat makan bareng. Rama menyetujui karena Candra mendadak tidak bisa makan siang bareng karena ada pekerjaan lain.


Selepas sholat, Rama dan Izza memilih masuk ke kamar, mau beristirahat aja karena malam ini akan nonton layar tancep yang diadakan Jaya Resort.


Izza dan Rama duduk di sofa yang menghadap lautan lepas.


"Kamu bahagia De?" tanya Rama dengan lembut.


"Maksudnya bahagia gimana ya Kak?" tanya Izza balik.


"Kamu bahagia hidup jauh dari Kakak? ya dua hari ini kan kita berjauhan. Hampir sebulan pula kita jarang komunikasi yang intensif, bahkan jarang ketemu....apa kondisi kaya gitu membuat kamu bahagia?" jelas Rama.


"Ga lah Kak.. masa berantem gitu malah bahagia. Adanya merasa ada yang kurang aja.." jawab Izza sambil menyenderkan kepalanya ke bahunya Rama.


"Melihat kamu bahagia jadi cita-cita terbesar Kakak saat ini De ... Memang ga adil menempatkan kamu diposisi yang disalahkan. Makanya, Kakak mau kamu yang memutuskan, terserah apapun itu, semoga jadi yang terbaik buat kita De.. Kakak pasti banyak kekurangan dalam membimbing kamu, masih suka kebawa emosi. Ya kedepannya jika kesempatan masih ada, Kakak ingin memperbaiki semuanya" ungkap Rama sambil melingkarkan tangannya ke bahu Izza.


Ada kardus tergeletak di meja, dari semalam masih tertutup rapat.


"Buka deh De kardus itu..." pinta Rama.


Izza membuka kotak bekas kardus magicjar.


Ada beberapa barang disana. Izza belum paham maksudnya. Tapi Izza mengambil satu persatu barang disana. Buat pertama kali, dia mengambil payung lipat dan diperhatikan dengan seksama. Dia masih berusaha mikir apa maksudnya payung ini.


"Inget ga pertemuan pertama kita di areal perkuburan, saat hujan rintik dan Kakak nebeng dipayung kamu?" tanya Rama mengingat.


"Ya... kayanya payungnya ini ya" jawab Izza.


"Ya.. dulu Kakak minta ke Mba Gita" kata Rama.


Kali ini Rama gantian yang ambil cangkir beserta piring pisinnya, cangkir warna krem dan ada garis emas ditepiannya. Rama meletakkan didepan Izza. Izza mulai tersenyum.


"Jangan bilang ini cangkir pas Izza bikinin coklat hangat buat Kak Rama dan Papi buat pertama kalinya, saat Kak Rama memandang Izza sampe ga sadar lagi diliatin Papi" terka Izza.


"Ya... benar sekali... cangkir ini sampe Kakak bawa pulang De ...dicuci dan disimpan didalam kamar. Saat itu, melihat kamu memegang cangkir ini dan menghidangkan coklat hangat membuat hati Kakak berdesir.. saat itu seperti ada yang berbisik pada hati, kalo kamulah .. sosok wanita yang Kakak cari selama ini, yang selalu Kakak minta ke Allah..." jelas Rama.


Izza makin terharu.


"Ini bon setrum aki dari Mang Ujang... gara-gara aki mobil Mba Gita tekor, Kakak bisa antar kamu pulang dan tau rumahnya dimana... Kalo bukan Allah yang campur tangan ga mungkin secepat itu tau rumah kamu kan..." ucap Rama sambil tersenyum.


"Iya..." sahut Izza dengan tawa penuh air mata bahagia.


"Ini De...foto- foto barang Hotel yang dilelang, kamu berkontribusi besar dalam proses lelangnya dulu" sambung Rama.


Izza melihat foto satu per satu. Setelah itu Izza mengambil jaket jeans didalam kardus.


"Ya Allah... Ini jaket yang Kak Rama pinjemin pas di Rumah Sakit ya.. yang Izza lupa pulangin sampe ga sengaja dipakai saat lagi di Tasikmalaya, waktu kita makan bubur, apa deh bilangnya saat itu..." Izza coba-coba mengingat.


"Jaket aja menghangatkan.. apalagi Kakak... hehehe" jawab Rama.


"Ini juga waslap sama obat giduan... saat Izza digigit Pacet karena mau beli obat giduan lewat sawah terus ditolongin sama Kak Rama dan Mang Ujang kan ya.." terka Izza lagi.


"Ya... Kakak masih menyimpan baik semua kenangan tentang kita De..." jawab Rama.


Diambil tangan Izza dan dibimbingnya buat berdiri. Rama makin mendekatkan wajahnya ke wajah Izza.


"I love you De..." ucap Rama mendaratkan ciuman dibibirnya Izza serta memeluk erat tubuh Izza. Izza yang awalnya tangannya hanya berada disamping kini mulai memeluk pinggang Rama dan makin menempelkan tubuhnya mendekati Rama.


"Katanya ga jatuh cinta pada pandangan pertama" ledek Izza.


"Emang engga.. tapi seiring pertemuan kita, rasa itu muncul" jawab Rama.


"Kenapa barang-barang itu masih tersimpan rapih?" tanya Izza lagi.


"Karena ada seorang wanita unik, yang ga silau sama harta dan berani melawan Kakak" jawab Rama.


"Gengsi tuh mau bilang cinta" timpal Izza.


"Beneran.. malah kesel banget adanya, bener ya kata orang.. yang bikin kesel malah yang bikin kangen" sahut Rama.


Sebenarnya, ketika mereka berseteru, didalam kesendirian, kadang mereka sering menangis diwaktu yang bersamaan tapi di tempat yang berbeda. Saling rindu tapi hanya bisa diungkapkan diatas sajadah selepas sholat.


Sekarang makin dalam mereka saling melepaskan kerinduan, dua insan manusia yang saling cinta tapi ego sempat menghadang keduanya.


"Kamu jelas menarik. Berada disampingmu aja udah buatku bergidik. Wajahmu ga pernah gagal membuatku melirik. Belum lagi saat memelukmu erat sampai aku tak bisa berkutik" gombal Rama.


"So sweet banget sih ... begini terus ya, jadi ga terlalu kaku hidupnya" harap Izza.


Inilah hasil diskusinya Rama dengan para orang tua dan Allah pastinya. Terkadang memang kalo sama orang tua banyak yang ditutupi, tapi ga sama Allah. Cinta ini adalah sebuah hidayah baginya, kehadiran Izza menjadi sebuah candu buatnya makin dekat dengan keluarga, Izzalah yang mampu meredam segala emosinya. Keputusan untuk mencintainya adalah hal yang paling menyenangkan dalam hidupnya.


"Kita berdua udah sama-sama dewasa. Berbagi ciuman lalu mengarahkan bibir ke lekuk bahu pun udah ga lagi tabu. Bahkan jika mau ruang pribadi pun bisa saling kita masuki sesukanya. Orang sekitar udah mahfum melihat kita mesra" kata Izza.


"Wow... seorang Izza berani menggoda" ucap Rama takjub.


"Kakak adalah sosok pria yang dulu terpaksa Izza terima lamarannya, laki-laki dengan segala kelebihan dan kekurangannya tapi tetap berlogika. Lelaki yang sanggup melakukan hal-hal terbaik buat Izza dan keluarga, apalagi kalo itu menyangkut sebuah kata kebahagiaan. Walau misi Pak Alfian ga selesai Izza kerjakan, Izza sudah merasa misi ini sudah berakhir. Hati ini sudah tertawan dihati yang tepat. Dan Izza pun semakin hari semakin jatuh cinta sama Kakak" jujur Izza berkata.


"De ... Kakak tidak mencintaimu hanya untuk sekedar membuka bajumu. Dengan atau tanpa kehangatan bercumbu, hati ini akan tetap aman tersimpan dibagian atas dada kananmu, ya...dekat di jantungmu sayang" bisik Rama dengan mesra.


"Kakak udah berhasil mencuri hati Izza dan sekarang giliran Izza minta hati Kak Rama sebagai gantinya, supaya dada ini bisa kembali tenang dan harapan Izza sesuai keinginan" balas Izza bicara ditelinganya Rama.