HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 68, Chilling time



"Eh iya... hampir aja lupa, tadi Izza nelpon, minta bantuin jual mobil punyanya Mba Gita, beli aja Mas Boss.. lumayan buat anter jemput Sachi sekolah. Kayanya baru dua tahun Mba Gita ganti ke mobil yang sekarang" adu Mang Ujang.


"Jual mobil buat apa katanya Mang?" tanya Rama.


"Buat biaya kuliah, bayar pengacara sama buat kebutuhan Mba Gita sih bilangnya. Emang ada apa sih Mas Boss segala Mba Gita mau pakai pengacara?" ucap Mang Ujang yang belum tau tentang penangkapan Mba Gita.


"Kemarin saya kasih pengacara perusahaan ga mau, kok sekarang malah cari pengacara, gayanya kaya kebanyakan duit. Dikasih gratis malah milih yang bayar" kata Rama sinis.


"Mas Boss belum jawab nih, emang Mba Gita kenapa? kok sampe ditahan Polisi. Mau tanya ke Izza kayanya ga enak, tadi ditelpon aja suaranya kaya orang lagi linglung dan serak abis nangis" ucap Mang Ujang.


"Belum denger emangnya? biasanya tuh kuping paling cepat dengar berita bombastis" tanya Rama.


"Belum pasti juga sih Mas Boss, tadi pagi di grup chat orang Kantor sempet rame bilang Mba Gita ditahan, tapi belum ada yang tau persisnya karena apa sampe ditahan" jawab Mang Ujang.


"Korupsi di Abrisam Group selama lima tahun terakhir ini" kata Rama dengan entengnya.


"Korupsi???? ga salah denger nih? keliatannya Mba Gita orang baik kok. Siapa yang ngelaporin ke Mas Boss?" lanjut Mang Ujang ga percaya.


"Tapi kenyataannya memang korupsi, udah ngaku pula orangnya. Yang ngelaporin ke saya ya ... adalah .. Mang Ujang taulah tipe saya yang ga akan bertindak tanpa bukti-bukti. Saya rasa memang sudah saatnya Mba Gita menuai apa yang sudah ditanam" jawab Rama lagi.


"Mba Gita nanam apaan emangnya Mas Boss? tadi bilangnya korupsi, eh sekarang bilangnya menuai apa yang ditanam. Lieurrr ..." kata Mang Ujang bingung.


"Maksudnya mendapatkan hukuman yang setimpal sama perbuatannya Mangggg" jawab Rama sewot atas keleletan berpikirnya Mang Ujang.


"Oh gitu, emang gede korupsinya Mas Boss?" selidik Mang Ujang.


"Kalo kecil buat apa saya laporin? dah ya jangan dibahas dulu, rasanya masih kesal sama perbuatannya Mba Gita. Lagian Mang Ujang kan mulutnya ga bisa digembok, adanya nanti malah rame berita kemana-mana. Saya hormati dulu para penyidik pihak berwajib yang mengungkap semua. Membuktikan apakah bukti yang saya berikan sesuai fakta atau tidak" jelas Rama.


"Ye ilahhhh ... ga percaya banget sih Mas Boss" sahut Mang Ujang.


"Emang kenyataannya kannnn ... siapa yang sering ngoceh yang ga karuan ke Papi dan Mas Haidar?" cibir Rama.


"Saya mah ga ember, cuma mengungkapkan fakta aja. Gimana nih Mas Boss ... dibeli aja ya mobilnya" rayu Mang Ujang.


"Udah banyak mobil disini" jawab Rama.


"Kasian sama Izza dong Mas Boss, udah mah yatim piatu, ga punya keluarga, ga punya pekerjaan karena masa kontrak kerja udah habis, eh sekarang orang yang menanggung hidupnya lagi ditahan. Nanti dia jadi gembel gimana? sayang aja orang sepintar dan semanis itu harus jadi anak jalanan" papar Mang Ujang dengan wajah sendu.


"Ga usah dijelekin tuh muka, Mamang gegulingan depan saya juga ga akan mengubah apapun" sahut Rama.


"Emang udah dari sononya jelek ini muka, jangan becanda deh Mas Boss. Rasanya nih ya kalo sama Izza bawaannya kasian aja. Apa tanda-tanda jodoh kali ya .. kan bisa memperbaiki keturunan kalo Mamang sama Izza. Andai aja dia mau jadi istrinya Mang Ujang .. udah langsung dibawa ke kampung deh sekarang juga. Tinggal disana sampe Mamang punya banyak duit buat bawa dia ke Jakarta lagi" tukas Mang Ujang berkhayal.


"Ya udah lamar aja sekarang, siapa tau orang lagi kalut kan pikiran ga panjang" sahut Rama.


"Beneran nih? ga nyesel kalo Mamang sapu duluan? ntar nyesel" tanya Mang Ujang meyakinkan.


"Nyesel? seribu wanita lebih dari dia aja bisa saya dapetin hanya dengan sekali tepuk" jawab Rama makin sombong.


"Tapi kayanya dia ga bakalan terima Mamang .. ya udah deh Mas Boss... tolong beli mobilnya aja" pinta Mang Ujang makin ngenes.


"Dibilangin saya ga butuh mobil, lagipula dia udah tinggal di Panti Asuhan. Tempat dimana dia dulu berada. Kalo masalah kerjaan nanti saya tanyain Mba Anin, apa masih butuh dia atau ngga. Ya mau gimana lagi kan Mang, saya udah banyak dirugikan dengan perbuatannya Mba Gita yang mengambil uang Abrisam Group" tutur Rama kesal.


"Kan Mba Gita mah karyawan teladan Mas Boss, liat dong apa yang dia udah kasih buat perusahaan. Uang yang diambil Mba Gita anggap aja bonus atas kerja kerasnya" saran Mang Ujang.


"Kenapa malah bersimpati sama penjahat seperti dia? Tolong dipisahkan ya antara bonus dan uang milik perusahaan. Saya juga mengeluarkan semua yang menjadi haknya karyawan. Mang Ujang aja sering korupsi kan? saya kasih uang makan malah ga beli makanan. Itu mulai dari yang kecil, lama-lama ada kesempatan bisa aja ambil yang lebih besar" oceh Rama.


"Astaghfirullah.. iya juga ya, maafin Mang Ujang ya Mas Boss, besok-besok kalo dikasih uang makan, pokoknya pasti buat makan. Janji deh ga ulangin lagi" janji Mang Ujang.


"Mang juga harus berpikir kalo saya ini korban. Apa yang diberikan perusahaan ke Mba Gita itu lebih dari cukup, diatas rata-rata pendapatan Sekretaris di Jakarta. Tapi kalo seseorang dah kepepet, apa juga dilakonin" ujar Rama.


"Kepepet apa Mas Boss? ga mungkin dong seorang Mba Gita dikejar tukang kredit panci atau orang warteg yang sering diutangin" kata Mang Ujang.


"Apa yang Mba Gita lakukan ya karena kepepet... kepepet karena ingin menikmati hidup kaya raya penuh gelimang kemewahan tapi caranya instan. Kepepet pingin diliat seorang pekerja yang sukses di Ibukota" papar Rama.


"Tapi kan Izza ga tau kali Mas Boss .. dia kan juga diangkat adik sama Mba Gita, belum tentu Mba Gita cerita udah korupsi uang perusahaan" gumam Mang Ujang.


"Sama aja Mang... kampus tempat Izza kuliah tuh udah terkenal dengan sebutan kampus anak-anak tajir. Perguruan tinggi swasta yang pake standar internasional sistem pendidikannya. Buat apa masuk ke kampus elit kalo ga punya kemampuan secara materi? Mba Gita pasti punya rencana buat Izza" ucap Rama.


"Ah tetep aja kasian atuh Izzanya, cuma jadi korban wehh" jawab Mang Ujang.


"Lebih kasian lagi kalo dia sampe diperalat sama Mba Gita buat mencapai suatu tujuan. Kenapa ga Mang Ujang aja yang beli mobilnya kalo merasa kasian sama Izza" ide Rama.


"Buat apa atuh punya mobil? mending beli sawah di kampung" jawab Mang Ujang.


"Udahlah Mang... ga usah dipikirin. Mau rileks sejenak dari hingar bingar kondisi yang lagi menerpa. Senin siang kita ke Kantor Polisi, ada berkas yang harus saya antar buat melengkapi laporan" ujar Rama.


"Tapi Mas Boss, tetep atuh ah kasian sama Izza, andai Mamang punya perusahaan kaya Mas Boss, pasti langsung deh Izzanya dikasih kerjaan. Balik ke Panti Asuhan mah paling cuma bisa sekedar makan minum tidur gratis, belum tentu bisa kuliah. Mana ada dana besar buat kuliahin satu orang di Panti Asuhan. Pastinya Panti Asuhan akan membuat skala prioritas, utamanya ya makan minum penghuni Panti Asuhan" papar Mang Ujang bak orang pinter.


"Ngomongnya tinggi amat segala skala prioritas.. tau ga maksudnya?" canda Rama.


Mang Ujang males berdebat lagi sama Rama yang kini sudah memasang headsetnya dan melanjutkan bersepeda keliling halaman belakang rumahnya yang asri.


🏵️


Ahad pagi, Haidar mengajak Sachi menikmati car free day, Rama baru tidur selepas sholat subuh, jadinya ga dibangunin buat ikut olahraga.


Tanpa sengaja, Sachi bertemu sama Izza yang menjajakan dagangannya. Izza bersama anak Panti Asuhan berdagang pakai mobilnya Mba Gita. Dagang nasi beserta lauk pauknya.


"Aunty Izza...." sapa Sachi.


"Hai Sachi .. sama siapa kesininya?" tanya Izza.


"Sama Papa Haidar dan Mba Nur" jawab Sachi.


Sachi mencium tangan Izza dan memeluk Izza dengan erat.


Izza tersenyum begitu melihat kehadiran Mas Haidar. Ini adalah pertemuan kedua antara Mas Haidar dan Izza. Dan baru kali ini Mas Haidar melihat wajah Izza secara seksama. Wajahnya hampir mirip sama Nay, hanya beda di hidung dan warna kulit. Nay berkulit sawo matang dan hidungnya kecil mancung, kalo Izza lebih bersih kulitnya dan hidungnya rada bangir kaya wanita Arab.


Mas Haidar memutuskan sarapan ditempatnya Izza. Sachi minta disuapin sama Izza, tentu saja Izza ga bisa menolak permintaan Sachi.


"Za .. jadi ngerepotin ya?" tanya Mas Haidar.


"Jangan panggil Pak .. panggil aja Mas Haidar" pinta Mas Haidar.


"Jauh banget car free day ke daerah sini Mas?" tanya Izza.


"Sekalian ada keperluan dekat sini, jadi sekalian mampir dulu" jawab Mas Haidar.


Sachi makan nasi pakai telur dadar dan oseng kacang panjang dicampur tempe. Mba Nur pesan pecel sayur dan gorengan. Dagangannya Izza memang variatif tapi ga banyak jumlahnya, ada warung yang memberikan utangan sayuran untuk pihak Panti Asuhan ambil dulu, selesai dagang baru bayar. Sebenarnya sudah lama menjajakan ditempat car free day, karena letak Panti Asuhan ga jauh dari areal perkantoran tempat car free day ada tiap weekend.


"Sachi doyan oseng tempe sama kacang panjang?" tanya Mas Haidar heran, padahal ada cabe dimasakan tersebut.


"Sachi suka makan bareng kita-kita Mas, jadinya suka pedas, ya level standar tapinya" jelas Mba Nur.


"Ga sakit perut tapi ya?" tanya Mas Haidar rada khawatir.


"Alhamdulillah ga bermasalah Mas. Tapi baru kali ini dia makan tempe, selama ini ga suka tempe" jawab Mba Nur.


"Mirip sama Mamanya yang ga suka tempe" ujar Mas Haidar dalam hatinya.


"Oh Sachi ga suka tempe? kok milih sayur yang ada tempenya?" tanya Izza.


"Ayah suka makan tempe, jadinya mau coba juga. Aunty .. bisa minta tolong tambahin sayurnya boleh?" tanya Sachi dengan sopan.


"Boleh ... nasinya nambah juga?" tawar Izza.


"Iya .. sama telurnya juga" jawab Sachi.


"Waduh anaknya Papa makannya banyak kaya Ayah Rama" goda Mas Haidar.


"Sachi bukan anaknya Papa Haidar, Sachi itu anaknya Ayah Rama" jelas Sachi.


Agak tertampar dengan keadaan mendengar ucapan Sachi tadi, tapi Haidar mencoba menerima. Bukan hanya sekedar Sachi anak kecil, tapi dia juga sadar diri sudah jauh hilang dalam tumbuh kembang Sachi.


"Kayanya Sachi makannya lahap banget. Papa juga mau makan ah .. jadi lapar" ujar Mas Haidar sambil melihat masakan yang ada.


Mas Haidar dilayani oleh anak-anak Panti Asuhan yang sudah biasa berdagang disini. Cukup rame lapak tempat Izza jualan, mungkin selain makanannya enak, mereka rata-rata kasihan sepertinya melihat anak-anak sudah ikut berdagang. Apalagi ketika tau kalo ini anak-anak Panti Asuhan, saat bayar ga mau dikasih uang kembalian.


"Za... ini enak deh ikan pakai cabe ijo, ga pedes tapi sedap" puji Mas Haidar.


"Itu ikan cue tongkol cabe hijau Mas. Ya ikan murah aja, bingung jualnya kalo lauknya mahal" jawab Izza.


"Tapi ini the real masakan rumahan, rasanya kaya makan di rumah. Siapa yang masak Za?" lanjut Mas Haidar.


"Ibu sama Izza .. ya bisanya masakan sederhana aja Mas. Mungkin ga sebanding dengan masakan asisten rumah tangga di rumah Mas Haidar" ucap Izza merendah.


"Beneran loh ini pujian, bukan sekedar basa basi. Kalo boleh saya minta nomer HP kamu dong, siapa tau saya ada pesanan nasi kotak yang bisa kamu kerjakan" kata Mas Haidar.


"Boleh Mas .. " jawab Izza sambil memberikan nomer HP nya ke Mas Haidar.


Jualan sudah habis jam sepuluh pagi, tempat makanan pun sudah rapih disusun kedalam mobil. Mas Haidar memberikan uang dua puluh ribuan untuk tiga anak Panti Asuhan untuk jalan-jalan sekitar sini bersama Sachi dan Mba Nur.


Sachi langsung akrab dengan teman barunya, dia memang mudah bersosialisasi seperti Rama. Tidak pandang siapa temannya, langsung bisa menyatu.


Mas Haidar juga memberikan uang seratus ribuan ke Mba Nur buat pegangan kalo anak-anak mau jajan.


Izza dan Haidar ngobrol berdua, mereka duduk di kursi plastik dan posisinya dibelakang mobil.


"Mas turut simpati ya Za, semoga semua bisa ada penyelesaian yang baik" kata Mas Haidar.


"Makasih Mas" jawab Izza.


"Rama itu anak yang baik, bertanggung jawab dan memang keras kepala. Tapi Mas yakin dia ga akan bermain-main dengan ranah hukum" kata Mas Haidar.


"Mas Haidar bisa bantu?" tanya Izza yang akhirnya memungkiri janjinya ke Mba Gita.


"Gimana ya Za ... Mas udah lepas semua kepemilikan saham di Abrisam Group. Sekarang Abrisam Group hanya milik Papi dan Rama. Apalagi Rama sudah memegang delapan puluh persen kepemilikan Abrisam Group. Mas sudah diberikan yang sama oleh Papi, jadinya semua sudah dibagi adil. Kamu tau kan dengan status kepemilikan mayoritas, maka Rama bisa bertindak apapun demi perusahaan" jelas Mas Haidar.


"Mba Gita minta mobil ini dijual Mas, untuk operasional Mba Gita dan Izza" adu Izza rada putus asa.


"Gini aja ... kamu mau lepas berapa mobilnya?" tanya Mas Haidar.


"Sepantasnya aja Mas .. saya ga paham harganya" jawab Izza yang bingung ketika ditanya harga.


"Seratus lima puluh juta boleh?" tanya Mas Haidar.


"Kata Mang Ujang juga kisaran harganya segitu kalo second. Izza setuju aja Mas" jawab Izza.


"Kemana saya transfernya? intinya saya lunasi dalam waktu tiga hari ya, setiap hari saya transfer lima puluh juta. Tapi saya titip mobilnya untuk operasional Panti Asuhan. Kalian kan pasti perlu mobil ini" tukas Mas Haidar.


"Alhamdulillah .. makasih banyak ya Mas.. semoga Allah memberikan rejeki berlimpah dan kesehatan untuk Mas Haidar. Sekali lagi terima kasih ya Mas" ucap Izza sambil haru.


"Udah ... ga usah banyak terima kasih. Kamu masih kuliah kan Za?" tanya Mas Haidar.


"Alhamdulillah masih Mas.. baru sebulan ini masuk semester baru" jawab Izza.


"Semester berapa sekarang?" tanya Mas Haidar lagi.


"Semester empat Mas" ujar Izza.


"Rencananya mau kerja part time lagi ga? saya pernah dengar kamu kerja sama Anin" kata Mas Haidar.


"Ya Mas.. tapi udah ga lagi, Mba Anin nyari yang bisa full time" jawab Izza.


"Kerja sama saya aja mau? saya baru buka frozen food dekat sini, bisa dibilang seperti agen besarlah, saya ambil langsung dari distributornya. Kami buka dari jam tujuh pagi sampai jam delapan malam. Jadi ada dua shift, shift pertama dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore, yang shift siang dari jam dua belas siang sampai jam delapan malam, ishoma bergantian saja tergantung kesepakatan. Ada sih penanggung jawab tokonya, tapi saya butuh seperti supervisor yang bisa membuat toko lebih menarik dengan penataan atau konsep yang bagus. Mas liat kamu bisa Mas percaya. Waktu kerja bisa kita atur sesuai jadwal kuliah. Sabtu dan Ahad jatah libur, kalo toko buka, malah lebih banyak yang masuk biasanya karena lebih ramai" jelas Mas Haidar.


"Nanti kalo sudah enak hati saya pertimbangkan ya Mas. Sekarang masih serba bingung, masih fokus urus Mba Gita. Bukan saya menolak rejeki ya Mas.. mohon dipahami" kata Izza.


"Ya ... Mas paham kok" jawab Mas Haidar.


"Za ... kenapa nasibmu tak seelok paras wajahmu ... Nay ... dia seperti reinkarnasi kamu" ucap Mas Haidar dalam hatinya.