
Sang lelaki yang sudah sangat "panas" makin mendekat kearah Izza yang sudah makin tidak berdaya. Tubuhnya sudah rebah telentang di ranjang. Tangannya Izza sudah dipegang dengan erat oleh lelaki tersebut, tubuh lelaki itu juga sudah ada diatas tubuhnya Izza.
Nafasnya memburu dengan cepat sebagai pertanda sudah ingin memulai permainan.
"Mulai malam ini... you are mine (kamu milikku). Kita nikmati malam ini dengan indah sayang, jika suami kamu tidak bisa menerima kondisi kamu lagi, dengan tangan terbuka saya akan jadikan kamu ratu dalam hidup saya. Sudah lama ingin memelukmu sedekat ini.. finally... i can.." bisik sang lelaki.
"Jangan... saya mohon jangan Pak" pinta Izza memohon dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Tenaga Izza sudah lemas karena dia tidak makan minum sejak tadi siang dan banyak bergerak kesana kemari untuk mencoba mencari cara untuk meloloskan diri. Keringat sudah membanjiri tubuhnya meskipun dalam ruangan ber AC.
Jilbab Izza dibuka paksa oleh lelaki yang sudah seperti kerasukan setan. Sekuat tenaga Izza mencoba mempertahankan jilbabnya namun apalah dayanya. Tenaga lelaki memang lebih kuat dibandingkan tenaga perempuan.
Kini rambutnya Izza sudah tergerai manja. Jilbab segiempat yang tadi dikenakan akhirnya dijadikan tali pengikat tangannya Izza dengan kayu diatas ranjang.
Izza tidak bisa bergerak karena lelaki tersebut duduk diatas tubuh Izza sambil membuka bajunya kemudian celananya, kini lelaki tersebut hanya tinggal memakai ****** ***** saja. Izza langsung memejamkan matanya, tidak mau melihat pemandangan yang ada dihadapannya.
Rok yang Izza kenakan mulai dilepaskan dari tubuhnya. Untunglah Izza masih memakai legging.
"Perfect... melihat kamu masih berpakaian saja sudah membuat saya kalap... apalagi tanpa busana" ucap sang lelaki sambil tersenyum nakal.
"Jangan .. tolong jangan lakukan hal ini ... tolong .. saya punya suami... apa yang Bapak minta, pasti akan dia kabulkan" pinta Izza lagi.
Sang lelaki tersebut malah tertawa terbahak-bahak.
Permohonan Izza dengan muka memelas malah membuat lelaki tersebut makin bergairah. Bibir Izza dicium secara paksa, Izza mencoba melawan dan memberanikan diri membuka matanya, beberapa kali lelaki tersebut berhasil mencicipi bibir pecah delimanya Izza meskipun tiap bibirnya menyentuh bibir Izza, Izza mencoba bergerak dan meludahinya beberapa kali.
"Wow... liar juga ya" ucap sang lelaki.
Lelaki tersebut memegang kedua pipinya Izza agar tidak bisa bergerak.
"Maafkan Izza ya Kak.. bukan mau mengkhianati pernikahan kita, tapi Izza ga mampu melawan... maafkan ya Kak... Izza tidak bisa menjaga tubuh ini dari cengkraman lelaki selain Kakak .. Ya Allah... ampunilah hambamu ini, jika takdir berkata menjadi korban rudapaksa... ampunilah aku telah berbuat zina... ampuni aku karena tidak bisa menjadi istri yang baik" berulang kali Izza bicara dengan nada pelan sambil menangis.
"Kenapa harus meminta maaf ke Rama? dia ga akan bisa memberikan kamu lebih dari yang bisa saya berikan Izza... hanya satu yang akan saya minta dari Rama.. menceraikan kamu dan menyerahkan kamu ke saya. Lihat disana ada kamera yang siap merekam kejadian malam ini .. itu akan jadi bukti jika saya ... Flandy... sudah bisa mencicipi tubuhmu.. kamu yakin Rama masih bisa terima kamu jika video itu sampai ketangannya?? hahahaha" ujar Pak Flandy penuh kemenangan.
"Jika hal itu terjadi, saya pasti akan menjauh dari Kak Rama.... entah menjauh dengan cara pergi dari hidupnya dan tidak akan pernah kembali menampakkan diri saya dihadapan dia .. atau ... atau saya akan mati bunuh diri. Sebagai seorang istri dan seorang wanita... itu adalah pilihan yang terbaik demi nama baik seorang suami. Saya mungkin bisa meninggalkan orang-orang yang saya cintai, tapi dendam saya terhadap tindakan Bapak kali ini... akan terus saya ingat. Bapak ga layak disebut sebagai seorang suami dan Bapak... bahkan binatang pun masih lebih terhormat dibanding Bapak .. " geram Izza dengan segala sisa tenaga yang dia punya.
"Untuk apa bunuh diri sayangku.. setelah ini kita bisa tinggal diluar negeri, kita bisa pergi jauh dari orang-orang yang kita kenal dan membina hidup yang baru.. saya akan menikahi kamu Za .. kamu yang membuat saya tergila-gila sejak pertama kali jumpa... kamu memang bukan yang pertama, tapi saya pastikan akan jadi yang terakhir" janji Pak Flandy.
🌺
Rama kembali bertukar tempat duduk dengan Alex. Rama terdiam, tapi dari raut wajahnya terlihat dia sedang memikirkan sesuatu.
Alex sebenarnya belum paham langkah apa yang akan Rama ambil, tapi dia yakin kalo Boss nya yang satu ini tidak akan gegabah dalam bertindak.
Alex mengemudikan mobil menuju Kantor Polisi tempat tadi Rama melaporkan penculikan Izza.
.
Setelah memberikan keterangan tambahan, pihak kepolisian segera menyusun rencana.
Rama masih berada di Kantor Polisi, menunggu Mba Rani datang.
Pak Isam dan Mas Haidar pun sudah menelpon Rama untuk menanyakan perkembangan lanjutan. Rama memang tidak memberikan perkembangan secara terperinci, ini berkaitan dengan misi pihak kepolisian, daripada banyak orang yang tau, maka kemungkinan rencana gerakan mereka bocor akan lebih besar.
Tapi Pak Isam sudah memutuskan akan menuju Surabaya besok pagi dengan penerbangan pertama. Mas Haidar bertugas menjaga Sachi serta memastikan Sachi tidak mendengar berita apapun tentang Izza.
Informasi yang diberikan oleh Rama belum tentu valid, baru bersifat dugaan sementara. Makanya semua sedang diperhitungkan secara matang.
Rama menenangkan diri terlebih dahulu didalam Musholla yang ada di Kantor Polisi. Berdo'a untuk keselamatan Izza dan kelancaran semua rencana penyelamatan Izza.
.
"Ya Allah, jadikan ia sebaik-baik istri bagiku dan jadikan aku sebaik-baik suami baginya..." tutup do'anya Rama.
Rama keluar dari Musholla dan duduk dibangku luar yang ada didepan Musholla.
"Walaupun malam ini kita tidak bersama, percayalah De.. do'aku akan selalu terpanjat untuk keselamatanmu. Segala daya upaya sudah kukerahkan De, semoga semua informasi yang sudah diberikan kepihak berwajib bisa membantu menemukanmu. Kamu hadir memberi cinta, membawa bahagia dan selalu memberikan rasa rindu yang tak pernah ada habisnya De.. i love you.." ucap Rama dalam hatinya sambil melihat langit malam.
🌺
"Mba Nur.. kok Mommy belum telepon Sachi sampai malam?" tanya Sachi ketika dikelonin sama Mba Nur.
"Mungkin Mommy sudah tidur... cape kali" jawab Mba Nur.
"Mommy jahat ... Mommy ga sayang sama Sachi" ucap Sachi mulai merajuk.
"Mommy ga jahat Sachi... Mommy sayang banget sama Sachi, tapi malam ini belum bisa hubungi Sachi dulu. Nanti kalo Mommy sudah bisa, pasti hubungi Sachi" lanjut Mba Nur.
"Ayah juga ga telepon Sachi, apa semua orang dewasa itu sibuk?" tanya Sachi.
"Mungkin Ayah sedang sama teman kerjanya, jadi belum bisa telepon juga" jawab Mba Nur.
"Sachi pokoknya marah sama Ayah dan Mommy" kata Sachi mulai ngambek.
"Kita do'akan aja ya Sachi.. semoga Mommy dan Ayahnya Sachi diberikan perlindungan dari Allah dan dijaga dari segala bahaya" saran Mba Nur.
"Bahaya apa Mba Nur? memangnya Ayah sama Mommy main sepeda ditengah jalan jadinya takut ketabrak?" tanya Sachi lagi.
"Kita tidur dulu ya, besok kan Sachi ada les renang pagi hari" ajak Mba Nur.
"Ya Mba Nur .. Sachi mau berdo'a dulu biar Mommy dan Ayah bisa telepon Sachi besok pagi" kata Sachi.
Mba Nur sekuat tenaga menahan bulir air matanya. Sosok Rama dan Izza adalah sosok yang sangat istimewa baginya, orang-orang baik yang selalu memberikan support materi dan non materi untuknya.
"Ya Allah... semoga Mba Izza cepat ditemukan, ada do'a anak yang tak berdosa ini menantinya pulang, semoga Engkau ijabah semua do'a kami ya Allah. PadaMu lah kami meminta ya Allah.. Mba Izza orang yang sangat baik. Dia cahaya dalam rumah ini yang membuat semua jadi bahagia. Sachi yang tidak pernah mendapatkan sosok seorang Ibu bisa mendapatkannya dari Mba Izza. Mas Rama dan Pak Isam pun jadi lebih dekat dari sebelumnya. Mas Haidar juga banyak berubah, memutus tinggal disini lagi. Satukanlah keluarga ini lagi ya Allah " pinta Mba Nur dalam hatinya.
💐
Rama sedang mendengarkan arahan dari Komandan yang memimpin anggotanya untuk bertindak sesuai rencana.
"Tapi saya ijin Pak Komandan, akan ikut ke TKP dengan jarak yang jauh tentunya. Biar bagaimanapun.. yang ditawan adalah istri saya, mohon kebijakannya Pak Komandan" pinta Rama.
"Saya akan menemani Pak Rama, karena saya sedang bebas tugas sekarang. Saya menjamin Pak Rama tidak akan mendekat ke lokasi dan berbuat nekat" kata Mba Rani.
"Baik Bu Rani.. kami percayakan Pak Rama bersama Ibu" jawab Komandan.
💐
Ketika Pak Flandy akan melepaskan legging yang dikenakan oleh Izza, ada suara ketukan keras dari luar pintu terdengar.
"Boss.. gawat Boss.. Boss" panggil dari arah luar kamar.
"Apaan sih... menganggu aja" teriak Pak Flandy dengan penuh amarah.
"Boss... markas kita yang ada di Malang sudah digerebek polisi, semua anak buah yang ada disana sudah ditangkap sejak tadi subuh. Berita ini baru kita dapatkan karena memang pihak kepolisian melakukannya secara diam-diam, hingga masyarakat sekitarpun tidak tau. Mereka merahasiakannya dari media juga" ucap anak buahnya Big Boss.
Langsung sang Big Boss buru-buru memakai pakaiannya kembali. Markas di Malang adalah tempat utama barang-barang haram berada. Letaknya yang ditengah perkebunan apel membuat tidak ada yang curiga. Seringkali penyelundupan dilakukan dengan cara mengirimkan obat terlarang bersama apel.
Dipilihnya daerah Jawa Timur karena letaknya berada di tengah-tengah Indonesia, banyak ekspedisi yang bisa dipakai sehingga memudahkan transaksi barang haram. Ditambah lagi, pelanggan mereka lebih banyak didaerah Indonesia bagian tengah dan timur.
Pak Flandy langsung keluar kamar dengan wajah penuh amarah dan kekhawatiran.
.
Izza berusaha melepaskan ikatan ditangannya, tapi tetap sulit. Pergelangan tangannya pun memerah karena terus memaksa tangannya untuk terlepas dari jilbab segiempat yang terikat.
Mas Ivan masuk ke kamar dan melepaskan tangan Izza dari jeratan jilbab.
"Pakai jilbab kamu dan roknya cepat... saya akan membebaskan kamu dari sini" kata Mas Ivan dengan suara yang pelan.
Mas Ivan membalikkan tubuhnya membelakangi Izza. Dengan cepat Izza langsung memakai rok dan jilbabnya, paling ga kepalanya rapat tertutup walaupun cuma diikat (penitinya entah hilang kemana saat tadi jilbabnya dibuka paksa).
"Mas Ivan.. saya ga tau apa Mas Ivan ada dipihak saya atau pihak lawan, tapi yang jelas.. saya percaya kalo Mas Ivan akan membantu saya" ucap Izza pelan.
"Kamu ikuti semua perintah saya" kata Mas Ivan.
Keduanya melangkah pelan keluar dari kamar kemudian berjalan menyusuri lorong dan masuk kesebuah gudang.
"Kita tunggu disini sampai mereka ada yang bergerak keluar. Kita ga bisa nekat langsung lari, penjagaan disini lumayan ketat. Liat disini ada jendela kecil yang bisa melihat apakah mobil bergerak keluar atau tidak" ucap Mas Ivan.
Izza melongok kearah jendela. Kemudian diminta Mas Ivan untuk duduk. Lampu di ruangan ini hanya sebuah bohlam kecil, jadi sangat temaram.
"Za... kita disini dulu karena tempat ini tidak pernah dijamah oleh mereka, saya ga tau apa bisa kita keluar selamat dari tempat ini, tapi paling tidak.. kita ada usaha untuk keluar dulu" kata Mas Ivan.
"Kita banyak-banyak berdo'a aja Mas, semoga Allah menyelamatkan kita dari marabahaya ini" jawab Izza.
"Apa Tuhan masih mau mendengarkan do'a saya? bahkan saya sudah tidak pernah berdo'a lagi sejak lama" ujar Mas Ivan dengan sinis.
"Allah akan selalu mendengar do'a semua orang Mas.. tapi urusan dikabulkan atau tidak, ya itu tidak bisa dijamin" ucap Izza.
"Za... bersyukur kamu dijadikan lebih baik dari Ibu kamu, sangat beda sekali ya Ibu dan anaknya" ceplos Mas Ivan.
"Maksudnya Mas Ivan kenal sama Ibu saya?" tanya Izza penasaran.
"Kenal.. sangat kenal .." jawab Mas Ivan.
"Ibu Andhika ... tapi nama kerennya Ibu Didie. Seorang wanita penghibur kelas kakap pada masanya, tapi terjerembab oleh seorang pria brengsek dengan segala tipu dayanya" buka Mas Ivan.
Izza langsung fokus mendengarkan Mas Ivan, bahkan Izza berani berhadapan duduknya dengan Mas Ivan.
"Kita seibu Za... " ungkap Mas Ivan.
Izza kaget mendengar ucapan Mas Ivan, hal yang pertama terlintas adalah tidak percaya dengan pernyataan tersebut.
"Kamu mungkin ga percaya sama omongan saya.. ga masalah sih mau percaya atau ngga.. tapi ini kenyataannya" ucap Mas Ivan.
"Kenapa baru sekarang Mas Ivan buka? kita sudah lama kan saling kenal" kata Izza.
"Saya selalu ada didekat kamu Za.. kenapa baru sekarang? karena lebih baik kamu ga tau Za.. apalagi sekarang kamu ada ditangan yang tepat. Rasanya lebih baik begini. Tapi .. Kakak tetaplah Kakak .. saya punya hati nurani juga setelah lama hati ini mati. Membayangkan kamu jatuh ditangan Pak Flandy, rasanya hati ini makin meradang. Paling tidak.. mungkin saya gagal sebagai Kakak yang baik, tapi biarlah saya berusaha menjadi orang baik..." ujar Mas Ivan serius.
"Ceritakan apa yang memang Mas Ivan tau, ga perlu ditutup-tutupi.. InsyaAllah saya terbiasa mendengar berita paling buruk sekalipun" kata Izza.
"Mba Gita memang anak dari lelaki yang selama ini kamu kenal sebagai Bapak. Benar istrinya Bapak itu bunuh diri karena suaminya menikah sama Ibu kita. Saya tau cerita ini dari Mbah Nung... orang tua yang sudah saya anggap seperti nenek sendiri, karena beliau yang merawat saya sedari kecil. Ibu Didie memang sudah salah jalan sejak remaja. Bahkan hamil diluar nikah saat sekolah tingkat SMA, saat itu usianya baru lima belas tahun. Dikeluarkan dari sekolah, lelaki tidak bertanggung jawab karena kabur entah kemana dan Ibu juga dibuang oleh keluarga. Ibu menceritakan semuanya ke Mbah Nung. Bayi yang dikandung saat itu adalah saya. Tidak lama setelah melahirkan, Ibu pamit ingin mengadu nasib dengan melamar kerja. Beberapa hari kemudian, Ibu bilang sudah dapat kerja. Menurut Mbah Nung.. Ibu pulang seminggu sekali dan selalu memberikan uang yang layak kepada Mbah Nung untuk merawat saya. Beberapa bulan kemudian, Ibu bilang sudah menikah dengan Bapak yang kamu kenal itu. Saya ga paham situasi yang terjadi, sampai saya kelas tiga SD, Ibu Didie masih rutin pulang ke rumah Mbah Nung seminggu sekali. Tapi lama kelamaan.. pulang sebulan sekali dan akhirnya bisa beberapa bulan sekali. Kiriman selalu lancar bahkan jumlahnya sangat besar. Saya sekolah di tempat yang sangat layak. Baru tau sepak terjangnya Ibu Didie, saat saya SMP. Kenyataan Ibu Didie adalah seorang wanita panggilan. Saat itu sudah ada Mba Zizi dan tengah hamil besar, bayinya itu ya kamu. Saya sempat setahun tinggal sama Ibu, tapi kelakuan Bapak sungguh keterlaluan jadinya jiwa saya berontak. Saya pergi meninggalkan semuanya dan masuk ke lembah yang sekarang ini" papar Mas Ivan.
"Bisa saya simpulkan kalo Mas Ivan adalah anak didik Pak Flandy sejak masih remaja?" simpul Izza.
"Tepat sekali Za .. saya sejak kelas dua SMP sudah ikut Pak Flandy. Awalnya tidak langsung dengan beliau, tapi lewat anak buahnya. Saya jadi kurir untuk mengantarkan obat-obatan tersebut, saya udah ga sekolah lagi karena merasa sudah mudah cari uang. Pikiran saat itu ya buat apa coba sekolah belajar matematika, biologi dan fisika kalo ujung-ujungnya akan cari uang yang ga perlu pandai di pelajaran tersebut. Karena saya selalu selamat menjadi kurir .. naiklah saya menjadi pengedar kecil-kecilan.. obat yang dioplos murah untuk anak SMA yang uangnya masih terbatas, naik lagi ke anak kuliahan sampai ke level para artis dan sosialita. Semua saya capai dengan sangat mulus. Anak emas sebutan yang Pak Flandy sematkan ke saya. Uang berlimpah dengan fasilitas yang selalu dipenuhi oleh Pak Flandy membuat saya makin masuk ke jurang nista, bak menggali lubang kuburan saya sendiri" lanjut Mas Ivan.
"Mas Ivan yakin kita seibu? Mas Ivan melihat saat saya dilahirkan?" kata Izza.
"Ya .. saya ada saat Ibu melahirkan. Ibu cuma bilang ga jelas siapa Bapak dari anak yang dikandung karena masih jadi istrinya Bapak, tapi lama disimpan oleh Pak Flandy, bahkan Ibu juga masih menerima tamu saat Pak Flandy bersama keluarganya. Ibu mengakui sendiri kalo kamu anak beramai-ramai atau bahasa kasarnya ... anak yang ga jelas siapa Bapaknya" jawab Mas Ivan dengan entengnya.
"Berarti Mas Ivan sengaja mencari Pak Flandy karena mendengar nama itu disebut oleh Ibu?" tanya Izza penasaran.
"Ya.. Ibu juga yang kasih tau harus kemana cari Pak Flandy. Karena dia yang membuat Ibu jadi makin merana, Ibu sakit hati karena sudah tidak dipakai oleh Pak Flandy sehingga kondisi ekonomi jadi turun. Yang mengaku sebagai Bapak kamu itu juga anak buahnya Pak Flandy. Dia yang menyodorkan Ibu ke Pak Flandy. Setelah terbuang dari Pak Flandy, Ibu dijadikan budak nafsu para lelaki hidung belang, uangnya ya diambil sama Bapak. Ibu ga pernah ngelawan.. ga tau kenapa bisa sebucin itu, mungkin pakai cara yang ga wajar seperti pakai dukun kali" lanjut Mas Ivan.
"Balas dendam sama Pak Flandy karena melihat nasib Ibu?" tanya Izza.
"Iya... sekotor-kotornya Ibu... tetaplah seorang Ibu yang menjaga saya bisa selamat lahir ke dunia ini. Mungkin kalo saat itu Ibu melakukan aborsi... saya ga pernah ada di dunia ini" ucap Mas Ivan.
"Apa sudah terbalas dendam itu?" tanya Izza.
"Sebentar lagi sebenarnya... saya berencana menikahi Anindya untuk saya sakiti seperti Pak Flandy menyakiti Ibu. Tapi seminggu yang lalu rencana saya berubah karena tau Pak Flandy akan menculik kamu dan merudapaksa kamu disini. Saya tau beliau terobsesi sama kamu, tapi saya selalu berusaha agar beliau ga bisa mendekati kamu. Rencana penculikan kamu itu sudah direncanakan berkali-kali, tapi saya selalu bisa menggagalkannya. Kali ini saya memang tidak menggagalkan karena sudah saatnya .. the end of the game. Nanti kamu paham kalo semua ini sudah berakhir. Za... pegang HP saya, jika terjadi sesuatu pada saya, serahkan HP saya ke pihak yang berwajib" ungkap Mas Ivan.
Mas Ivan memberikan HP nya ke Izza. Izza menyimpannya disaku rok yang ada sleting pada bagian kantongnya.