HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 50, Respect



Mungkin karena lelah, Rama sampe tertidur diatas sajadahnya. Jam dua malam dia terbangun seperti biasa dan melaksanakan sholat tahajud.


Kembali ia bermimpi bertemu sama Mba Nay lagi. Dalam mimpinya Mba Nay datang dengan pakaian pengantin dan tersenyum padanya.


"Faqi ... selesaikan semua dengan baik, Mba cuma bisa berharap sama kamu. Terimakasih atas semuanya yang udah kamu berikan buat Mba dan Sachi. Kamu memang adik Mba yang paling bisa diandalkan. Tegakkan langkahmu, walaupun perih melanda, akan ada bahagia diujungnya" ucap Mba Nay dalam mimpi Rama.


Rama terbangun dan segera mengambil air minum buat meredakan rasa kagetnya. Setelah tenang, dia memasukkan flashdisk milik Mba Nay ke laptopnya. Kembali memutar video yang ada didalamnya, diperhatikan lagi dengan seksama dan mulai berpikir untuk langkah selanjutnya.


🏵️


Jam enam pagi, Izza dan Ceu Lilis tampak akrab sekali tengah duduk di Restoran untuk sarapan. Rama sendiri sudah jogging di seputaran parkiran Hotel selepas sholat subuh. Mang Ujang masih tidur sepertinya, karena Rama telpon berkali-kali tapi ga diangkat.


Seusai jogging, Rama menuju Restoran juga, Rama mengambil tempat duduk ga jauh dari tempat duduknya Izza dan Ceu Lilis.


"Paling bahagia tuh kalo liat cewek-cewek kita bisa akur. Buat latihan kalo mereka dua-duanya jadi istri.. ya ga?" tiba-tiba Mba Anindya menepuk bahunya dan mengambil posisi duduk disebelah Rama.


"Eh Mba Anin .. kirain siapa" ucap Rama kaget.


"Jadi yang baju coklat atau yang baju pink nih?" lanjut Mba Anindya.


"Mbaaaaa... masih pagi nih, jangan mulai deh" ucap Rama yang merasa terusik.


"Jangan takut melangkah Ram ... kegagalan Mba Mentari dan Mas Haidar dalam rumah tangga, bukan berarti bisa menimpa kamu juga kan? Kalo kamu udah yakin dan siap untuk berkomitmen bahkan menikah sekalipun, kenapa harus ditunda-tunda. Mba rasa Papa Isam juga mau menimang cucu" ungkap Anindya.


"Belum saatnya Mba, kan ada Sachi sekarang ini, Papi udah mulai sayang kok sama Sachi" jelas Rama simple.


"Sachi ... benar dia anak Mas Haidar?" tanya Anindya serius.


"Saya jawab iya atau tidak, sepertinya ga akan mengubah keadaan. Kenapa baru sekarang menanyakan Mba? harusnya sejak bayi Sachi saya bawa ke rumah" kata Rama agak kurang nyaman membicarakan jati diri Sachi ke Anindya.


"Kamu tau kan sejarah kisah antara Nay dan Mas Haidar?" ujar Anindya.


"Saya tau atau tidak pun sama... ga akan mengubah keadaan. Mereka tidak pernah bersatu di dunia ini" jawab Rama.


"Kenapa setelah Mba cerai sama Mas Haidar, kamu ga membuka jati diri Sachi ke Mas Haidar?" tukas Anindya.


"Dulu rasanya selalu menunggu kapan bisa membuktikan hal itu. Tapi apa mau dikata, Mas Haidar masih sakit jika mendapatkan tekanan pikiran. Ditambah banyak memorynya yang sudah hilang, secuil pun ga ingat sama Mba Nay walaupun setiap ulang tahun Sachi selalu saya ajak ke makam. Sekarang saya sudah bahagia dengan keadaan seperti ini. Keluarga besar bisa menerima Sachi sebagai anak saya aja itu udah lebih dari cukup. Mungkin nanti kalo Sachi udah berusia tujuh belas tahun, mau ga mau saya akan berterus terang. Sambil menunggu waktu itu, biarlah saya menikmati masa menjadi Ayahnya Sachi. Susah payah saya mengorbankan banyak hal buat Sachi, mimpi ... masa muda ... semua saya lepaskan untuk Sachi. So ... biarlah cerita ini menjadi milik saya dan Sachi" jawab Rama gamblang.


Sejak sering ngobrol sama Abah Ikin, Rama pun sadar diri untuk tidak memaksakan siapapun menerima Sachi sebagai darah daging keluarga Abrisam, membiarkan sang waktu yang menjawab adalah tindakan bijak saat ini. Secara agama pun, anak yang lahir diluar nikah tidak bernasab pada Ayahnya. Kedudukan Sachi dalam keluarga Abrisam, secara agama dan hukum negara tidaklah kuat. Untuk itulah Rama kerja keras demi menjamin masa depannya Sachi.


"Apa kamu punya janji yang belum tertunaikan sama Nay?" tanya Mba Anindya.


"Kenapa nanya hal itu Mba? pentingkah untuk saya jawab?" kata Rama.


"Ya .. Mba tau kamu yang melindungi Nay dan kandungannya dengan cara menukar mimpi kamu yang ingin kuliah arsitektur. Apa sebanding semua ini? menukar mimpi dengan seorang anak kecil bernama Sachi yang belum jelas juga siapa Ayah biologisnya" ujar Anindya.


"Apapun itu ... ga ada kena mengena dengan bisnis kita ini Mba. Sachi adalah anak saya, selamanya dia akan jadi anak saya. Urusan saya sama Mba Anin murni partner bisnis" tutur Rama penuh penekanan.


"Mba tau kalo kamu pasti ada janji sama Nay. Makanya kamu ga mau membuka identitasnya Sachi" ucap Anindya.


"Kalo Mba penasaran banget ... oke saya jawab, salah satunya iya. Tapi apapun cerita dalam hidup yang akan saya lalui, itu tujuannya buat bahagia lahir batin dunia akhirat" jawab Rama.


"Ram ... hidup ga harus sempurna, kamu bukan superhero yang bisa menyelesaikan semuanya sendiri. Kamu butuh orang lain" saran Anindya.


"Mba sendiri gimana? jadi nikah bulan depan?" tanya Rama mengalihkan pembicaraan.


"Mudahan-mudahan ya semua berjalan lancar. Mba udah menemukan orang yang tepat, yang bisa mencintai Mba seadanya. Dia yang mampu menggetarkan hati Mba setelah lama beku" ungkap Anindya.


"Kepikiran ga Mba kalo ternyata kita lebih dekat setelah ga jadi saudara. Dulu saya amat membenci Mba, makanya ga pernah mau diajak ngobrol atau ketemuan. Tapi balik lagi .. inilah proses yang harus kita jalani, sama-sama mendewasakan diri menerima takdir yang tertulis" ujar Rama.


"Ya bener banget tuh. Sekarang diantara Mas Haidar dan Mba udah sama-sama memahami dan menerima semua yang udah terjadi. Kami sudah pernah bersatu dan pernah juga mencoba membangun kembali puing rumah tangga kami, tapi rupanya ga bisa. Kami punya pemikiran yang berbeda, jadi kami memutuskan menjadi sahabat seperti sekarang ini. Mba juga mau minta maaf kalo dulu sempat membenci Sachi ya ... anak itu ga bersalah" pinta Anindya tulus.


"Ya Mba... wajar aja Mba kaya gitu, kalo Rama diposisi Mba pasti akan melakukan hal yang sama. Istri mana yang bisa menerima anak suaminya dari wanita lain kan?" sahut Rama.


"Sekarang Mba udah sadar kalo memang ikatan persaudaraan ga akan mungkin bisa terlepas kalo kita saling legowo. Selepas soft opening ini, Mba serahkan semua operasional Hotel ini ke kamu ... Mba percaya kamu bisa melakukannya dengan baik. Kalo ada masalah bisa hubungin Mba .. kapanpun. Mba do'akan juga Abrisam group segera bangkit kembali. Mba tunggu bersaing dengan kamu dilevel yang seharusnya Abrisam Group berada" semangat Anindya.


"Makasih Mba atas segala bantuannya. Atas waktu dan nasehatnya selama enam bulan belakangan ini. Semua orang bisa berubah dan salah satunya Mba Anin... luar biasa hatinya Mba ku ini" puji Rama.


"Mulai deh jadi pinter muji" ucap Anindya.


"Oh ya Mba.. hari ini ga ada yang harus saya kerjakan ya?" tanya Rama.


"Ga ada kayanya kalo disini, ga tau deh kalo di Abrisam Group .. hehehe.. Mba kan ga tau jadwal kamu" jawab Anindya.


"Saya mau pergi dulu Mba, kalo ada yang penting, telepon aja ya" pinta Rama.


"Oke .. kapan mau jalannya?" tanya Anindya.


"Sarapan dulu terus mandi dan siap-siap deh" jawab Rama.


"Hati-hati di jalan" ucap Anindya.


.


"Itu siapanya Aa' Rama?" tanya Ceu Lilis kepo.


"Ga tau ... pernah liat tapi ga kenal" jawab Izza.


"Itu mantan istrinya Mas Haidar, jadi bahasa gampangnya... mantan kakak iparnya Mas Boss Rama" sahut Mang Ujang yang tiba-tiba duduk


"Akrab banget sama mantan kakak ipar. Jangan bilang mau turun ranjang ya Mang" ceplos Ceu Lilis.


"Jangan sembarangan ngomong .. kalo Mas Boss dengar bisa marah nanti. Lagian Mba Anin itu juga nanam modal disini, mereka murni bisnis" ingat Mang Ujang.


"Emang Aa' Rama gampang marah ya?" tanya Ceu Lilis yang memang belum paham karakter Rama.


"Ya gitu deh ..." jawab Mang Ujang.


💐


#Jadi jalannya?# tanya Rama via chat.


#Ini lagi siap-siap# jawab Izza.


#Tunggu di Lobby aja, nanti saya antar ke panti# ketik Rama.


#Gapapa Kak .. saya bisa naik bis# jawab Izza lagi.


#Ga usah banyak kata, ini saya udah di mobil, kalo udah turun lift kasih kabar# lanjut Rama.


"Dia ada masalah apa sih di otaknya. Sebentar baik banget, ga lama dia marah-marah ga jelas. Kalo ga karena butuh uang, males banget kerja sama makhluk ini" ucap Izza dalam hatinya sambil gemes.


"Kenapa Za? kamu terima chat dari siapa? kok keliatannya kesel" tanya Ceu Lilis.


"Ga Lis ... gapapa" jawab Izza buru-buru.


💐


Mobil Rama sudah ada didepan Lobby, dia pun sudah ada dibelakang kemudi. Mang Ujang diminta stay di Hotel untuk menjaga Ceu Lilis.


Rama membuka kaca mobil dan menunjukkan wajahnya. Izza buru-buru menuju mobilnya Rama.


Security yang melihat langsung membukakan pintu mobil bagian depan untuk Izza.


"Terima kasih Pak" ucap Izza.


"Sama-sama Mba" jawab Security.


🍒


Didalam mobil...


"Alamatnya dimana?" tanya Rama memecah kesunyian diantara mereka.


"Alamat siapa Kak?" ujar Izza bingung.


"Kita kan mau ke panti, ya saya nanya alamat panti lah" jawab Rama ngeselin.


"Bambu Apus" kata Izza.


"Emang ga ada gitu jelasnya dimana. Atau patokannya apa? kamu kira saya ini driver taksi online yang tau alamat dengan memencet aplikasi terus diarahin sama map yang ada di HP" oceh Rama.


"Dekat kampus Urindo, ya kira-kira seratus meter dari sana" jelas Izza.


"Lewat tol Jagorawi ga sampe setengah jam itu mah" kata Rama.


"Cukup tau jalan juga ya .. padahal lama diluar negeri" puji Izza.


"Saya cuma empat tahun diluar negeri, sisanya hidup saya di Indonesia, jadi lamaan tinggal di Indonesia dong. Saya juga sering jalan-jalan muterin Jakarta, bisa dibilang cukup paham seluk beluknya" tutur Rama.


"Oh gitu ... " jawab Izza.


"Kamu keliatan fresh pake baju warna pink" puji Rama.


"Makasih" jawab Izza.


"Gimana kondisinya Ibu sekarang?" tanya Rama.


"Semalam dibawa ke Klinik yang ada laboratorium, hasilnya masih diambang batas normal, jadinya ga perlu rawat inap, bedrest aja. Kecuali nanti ga bisa masuk makanan dan masih demam, baru deh dirawat inap" jelas Izza.


"Terus uangnya dari mana?" tanya Rama.


"Semalam tetangga yang minjamin uang, makanya nanti kalo ada ATM tolong berhenti dulu ya Kak, saya mau gantiin yang semalam dipinjam" pinta Izza.


"Oke" jawab Rama.


Rama memberhentikan mobilnya didepan salah satu supermarket.


"Ada ATM disini, sekalian kita belanja buat anak-anak panti ya" kata Rama sambil mematikan mesin mobil.


Rama dan Izza memilih susu kemasan, biskuit, coklat dan jelly untuk anak-anak. Lumayan penuh satu troli isinya makanan. Untuk Ibu panti, Rama membelikan susu yang konon katanya bagus untuk orang yang sedang sakit, ga lupa memilihkan buah-buahan untuk semuanya.


Setelah membayar mereka balik kedalam mobil dan melanjutkan perjalanan.


.


Wajah-wajah ceria dan bahagia menyelimuti anak-anak panti. Mereka mendapatkan makanan yang jarang mereka nikmati. Izza yang membagikan secara merata untuk mereka.


Rama tampak berbincang sama Ibu di kamar, Izza menemani didalam.


"Maaf ya Nak Rama, Ibu ga tau kalo Nak Rama ini putranya Pak Isam. Tadi pas Izza bilang siapa Nak Rama ya Ibu kaget" ucap Ibu panti.


"Memang kenapa Bu kalo saya putranya Pak Isam?" tanya Rama.


"Ya mungkin waktu di Tasikmalaya kemarin Ibu kurang menjamu atau bagaimana gitu, sekali lagi mohon maaf ya Nak" pinta Ibu panti.


"Ga ada yang salah kok Bu. Alhamdulillah saya juga dijamu disana dengan baik" kata Rama.


"Izza ga ngomong sih, pantes kenal sama Mba Gita, ternyata Boss nya Mba Gita" tutur Ibu panti.


"Itu hanya jabatan di kantor, diluar kantor ya saya seperti ini, layaknya orang lain yang bersosialisasi dengan orang sekitarnya" lanjut Rama merendah.


"Terima kasih juga sudah memberikan pekerjaan sambilan buat Izza, membawakan makanan buat anak-anak, ya pokoknya buat semua yang Nak Rama lakukan" tukas Ibu panti.


"Bu ... nanti kalo masih perlu kontrol ke dokter lagi, hubungi Izza aja ya. Insyaa Allah saya yang akan menanggung biaya pengobatan Ibu" ucap Rama.


"Ya Allah Nak ... baik banget kamu Nak... memang buah jatuh ga jauh dari pohonnya, sama-sama baik seperti Ayahnya" puji Ibu panti.


"Saya belum ada apa-apanya dibandingkan Papi. Oh ya .. Ibu sudah makan?" tanya Rama.


"Sudah .. tadi dibelikan bubur" jawab Ibu panti.


HP Rama berbunyi, ada panggilan masuk, dia pamit untuk menerima telepon diluar dulu.


Rama tampak serius mendengarkan semua pembicaraan, dia ga banyak bicara.


"Bikinin minuman Za ... kasian Nak Rama dari datang belum disiapkan apa-apa" pinta Ibu panti.


"Udah ditawarin Bu, katanya minum air putih aja, ada kok di meja depan minumannya" jawab Izza.


"Dia baik ya sama kamu, apa dia ada hati sama anak Ibu yang satu ini?" goda Ibu panti.


"Ibu ini ya ... mana mungkinlah Bu, lagipula dia sudah ada wanita yang lagi diincer sepertinya. Kan Izza kerjanya diminta nemenin salah satu pengisi acara di soft opening Hotel miliknya, padahal bukan artis tenar, tapi dilayani seperti artis sama Kak Rama" cerita Izza.


"Terus kamu ada hati ga sama dia?" tanya Ibu panti serius.


"Ga lah Bu ... sadar diri aja siapa Izza dan siapa dia" lanjut Izza.


"Ya .. baiknya memang begitu. Perbedaan strata sosial di masyarakat kita masih menjadi satu issue yang ga kunjung usai. Siapapun jodoh kamu kelak, Ibu berdo'a yang terbaik buat kamu. Kamu juga berhak bahagia Za. Lepaskan semua dendam yang kamu punya Za, biarlah sekarang keluarga kamu sudah tenang di alamnya" nasehat Ibu panti.


"Tapi kebakaran itu menghancurkan segalanya Bu ... " jawab Izza emosi.


Rama ga sengaja mendengar pembicaraan Ibu dan Izza.


"Kebakaran? kalo ga salah dia pernah cerita kalo kejadian itu sekitar lima tahun yang lalu, pas sama kisaran waktu keluarga Mba Nay mengalami musibah kebakaran. Kenapa bisa sama ya ceritanya?" pikir Rama.


💐


Soft opening berjalan dengan meriah dan lancar, semua tampak menikmati acara yang dirancang singkat tapi berkelas.


Rama dan Anindya menjadi bintangnya, apalagi ketika Rama memberikan arti nama Audah Hotel yang artinya kemakmuran, para tamu yang tadinya mengernyitkan kening ketika baca pertama kali nama Hotelnya jadi sekarang bisa angkat jempol.


Duo pebisnis muda ini mampu menangkap permintaan pasar dengan baik, konsep yang jelas dan kekinian serta harga yang amat bersaing dengan fasilitas yang simple.


Setelah para tamu undangan pulang, Ceu Lilis pun tampak profesional menghibur para karyawan buat melepas lelah. Lagu-lagu dangdut kenamaan ia bawakan dengan ciamik. Para karyawan menikmati hiburan tersebut, apalagi Mang Ujang, udah siap nyawer sampe nukerin uang lima ribuan ke Bank.