
Rama sampai di Tasikmalaya sekitar jam dua siang, mereka langsung ke rumah Pipit untuk mengadukan semua yang terjadi semalam. Amarah orang tua Pipit ga terbendung, Rama dan rombongannya segera pamit karena tidak mau ikut campur urusan keluarga.
Mobil bergerak menuju Villa milik Pak Isam. Mereka janjian akan pulang bareng ke Jakarta, jadinya masih nunggu Rama sampai ke Villa.
Sachi berlari kearah mobil Rama begitu mobil memasuki halaman Villa. Rama pun memeluk erat putri kecilnya sesaat setelah turun dari mobil.
"Kangen Ayah ga?" tanya Rama.
"Iya dong ... Ayah.. ada Aunty Izza itu best, tapi kalo tambah Ayah pasti lebih best" puji Sachi.
Rama mencium tangan Pak Isam dan Mas Haidar. Kemudian duduk di sofa. Ngobrol sebentar bersama.
"Oh yaaa ... Sachi udah makan belum?" tanya Rama sambil memangku Sachi.
"Udah .. tadi makan soto buatan Aunty Izza.. mmmhhh ... so yummy, Sachi nambah dua kali" adu Sachi.
Izza keluar membawakan coklat hangat untuk Rama, Mang Ujang dan supir. Izza meletakkan satu cangkir di meja ruang keluarga dan dua cangkir lagi di teras. Rama meminumnya selagi hangat.
Kemudian Izza kembali ke dapur. Rama menyusul kesana bersama Sachi.
"Masih ada sotonya? katanya buatan Aunty Izza itu enak banget" kata Rama.
"Ada .. tapi ayamnya digoreng dulu ya, tadi kehabisan" jawab Izza yang mengambil ayam ungkep di kulkas.
"Ayamnya tiga potong ya" pinta Rama.
Sachi berlari menuju ruang keluarga karena dipanggil sama Mas Haidar.
"Tadi pagi ga sengaja ketemu sama Lilis" adu Izza sambil menggoreng ayam.
"Terus??" tanya Rama.
"Saya udah minta maaf, tapi kayanya belum bisa menerima permintaan maaf saya. Bingung juga sih sebenarnya, saya kan ga tau apa-apa tentang masa lalu, kenapa dia menimpakan kemarahannya ke saya?" lanjut Izza.
.
Mang Ujang dan supir tadinya mau masuk ke dapur buat ambil makan, melihat ada dua orang manusia sedang berbicara, mereka membatalkan niatnya. Rasanya ga enak melihat wajah keduanya yang serius.
Akhirnya Mang Ujang beli cuanki yang kebetulan pas banget lewat depan Villa.
.
"Ya penting kan udah minta maaf. Mau orang itu mau memaafkan atau ga ya urusan dia" kata Rama menengahi.
"Kak.. sekarang saya tinggal didekat kampus, di apartement sewa punyanya Mas Haidar" ujar Izza sambil masih fokus menggoreng ayam.
Kuah soto juga sedang dihangatkan. Izza pun meracik isian pelengkap soto kedalam mangkok.
"Oh yang disana, kirain yang dimana .. udah chat sih pas kamu pindah, Mas Haidar punya lima unit disana, baru dibeli setahun yang lalu, uang warisan dari Mbah, saya juga ada tapi cuma satu dan bukan disana. Punya saya sedang disewa ke orang" ucap Rama.
Izza dengan terampil mengangkat ayam goreng yang sudah matang dari wajan.
"Ayamnya disuwir atau mau begini aja Kak?" tanya Izza.
"Yang satu disuwir, yang dua taro piring terus kasih nasi" jawab Rama.
Izza menyediakan soto sesuai permintaan Rama. Kemudian menuang kuah kedalam mangkok. Setelah semua rapih, dia hidangkan didepan Rama.
"Makasih ya" kata Rama.
"Kak .. bisa ngobrol sambil Kakak makan?" tanya Izza yang kadang merasa ciut juga kalo Rama wajahnya datar.
"Apa? ngomong aja" ujar Rama.
"Saya mau kerja di tempatnya Mas Haidar" ucap Izza.
"Ngapain kerja, kan sebentar lagi kita mau nikah. Setelah nikah, tugas kamu ya Ibu Rumah Tangga aja. Kuliah silahkan selesaikan, mau lanjut S2 pun gapapa" sahut Rama.
"Selama kita belum nikah ya saya harus cari nafkah sendiri Kak" ungkap Izza.
"Kamu dengar ga sih? ga usah kerja. Sekarang kamu butuh berapa sampai kita nikah?" tanya Rama sambil menikmati makan siang yang udah kesorean.
"Ya ga gitu juga konsepnya. Kakak belum bertanggung jawab terhadap hidup saya sebelum akad nikah. Lagipula saya ga mau merepotkan Kakak. Saya ini sekedar ngasih tau, bukan minta ijin boleh atau tidaknya" jawab Izza.
Rama mengeluarkan HP dari celananya kemudian memencet beberapa kali.
"Saya transfer sepuluh juta dulu, nanti kalo kurang bilang aja" kata Rama sambil menunjukkan bukti transfer ke Izza.
"Saya ngomong ke Kak Rama bukan minta ditransfer, cuma ga mau ribut aja karena ga bilang dulu sama Kakak" sahut Izza yang jadinya malah kesel sama sikapnya Rama.
"Za... saya bukan mengekang kamu, tapi kematian Mba Zizi harusnya bisa kamu jadikan acuan kalo jaringan penjahat itu sangat berbahaya. Kapanpun mereka bisa menyandera, menyakiti bahkan melenyapkan kamu seperti yang mereka lakukan ke Mba Zizi. Mereka tau kamu ini bisa dijadikan tawanan mereka agar Mba Gita ga ngoceh tentang mereka" jelas Rama.
"Harusnya jaringan itu tau kalo saya hanya adik angkat, apa untungnya coba?" tanya Izza.
"Ya kalo bukan karena alasan Mba Gita biar ga ngoceh .. paling ga kamu bisa dijual kepada gadun kaya" lanjut Rama.
"Terus permintaan yang kemarin ditulis di kertas bagaimana Kak?" tanya Izza.
"Kalo saya lagi makan, diajak ngobrol tuh yang ringan-ringan aja. Jangan ilangin selera makan dong" protes Rama.
Izza malas melanjutkan pembicaraan, dia mencuci penggorengan bekas tadi menggoreng ayam.
"Za... masih ada ga sotonya?" tanya Rama.
"Abis" jawab Izza.
"Padahal mau nambah ini... laper banget" kata Rama.
"Tuh Mang Ujang lagi berhentiin tukang cuanki, beli itu aja buat ngenyangin perut" ide Izza sambil ngeloyor ninggalin dapur.
Rama yang baru selesai makan cuma bisa bengong.
"Cewe emang ga pernah tuntas ya kalo ngomong. Dia yang ngajak ngobrol ehhh malah dia ngeloyor gitu aja. Ampun banget deh ... urusan sama cewe emang paling ribet. Kayanya handle project tuh lebih mudah daripada memahami isi kepalanya wanita" gerutu Rama dalam hatinya.
.
Mang Ujang masih aja sedih karena kejadian semalam. Bagaimana ga patah hati kalo sang pujaan hati yang digadang-gadang menjadi istri justru berlaku curang dibelakangnya.
Rama, Izza dan Mang Ujang berada didalam satu mobil. Yang lain bareng Pak Isam. Sachi ikut di mobil Mas Haidar karena someonenya Mas Haidar ikut balik bersama mereka.
Mang Ujang dan Rama sedang dipanggil oleh ketua RT dan RW untuk didengar kesaksiannya. Sedangkan Izza ikut karena udah ga muat lagi di mobil Mas Haidar.
.
Di rumah orang tua Pipit, tampak sudah ramai orang berkumpul. Keluarga kekasihnya Pipit pun sudah ada disana. Mereka berembuk untuk nasib anak-anak mereka kedepannya.
Mang Ujang jalan dibelakang Rama saat masuk kedalam rumah tersebut. Izza juga mengikuti dari belakang.
Setelah mendengar pemaparan pelaku dan saksi, akhirnya diputuskan untuk menikahkan mereka segera. Karena untuk menutupi malu keluarga. Tidak pernah ada kejadian seperti ini di kampung tersebut, jadi akan dijadikan pembelajaran juga untuk generasi yang akan datang agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Rama segera pamit karena harus balik ke Jakarta, besok pagi sudah harus bekerja lagi. Sudah ada setumpuk pekerjaan yang menunggunya.
Rama yang mengemudikan mobil menuju Jakarta karena Mang Ujang lagi banyak bengong. Izza diminta duduk didepan agar Mang Ujang bisa rebahan.
"Besok kamu cari kontrakan atau kost eksklusif ya dekat kampus, pindah dari apartemennya Mas Haidar" pinta Rama.
"Emang kenapa Kak? disana oke kok" tanya Izza heran.
"Saya hanya ga mau sejarah berulang .. kamu udah pernah saya ceritakan tentang Sachi kan?" ujar Rama yang mencoba tetap menutupi identitasnya Sachi dari Mang Ujang.
"Tergantung orangnya Kak .. saya ga akan ijinin lelaki masuk ke tempat tinggal lah. Jangan pukul rata semua orang sama dong" protes Izza.
"Serapih apapun kamu membuat rencana, tapi jangan lupa ada syaiton yang selalu menggoda" kata Rama sambil masih fokus menyetir.
"Bener tuh Mba .. nih kaya saya aja. Udah mah si Pipit itu anaknya alim, cuma sekolah rumah sekolah rumah aja kegiatannya. Atuh ternyata eh ternyata... Kepala ditutup eh dada dibuka.. duh Gustiiii" curhat Mang Ujang.
"Jangan sok nasehatin deh, umur Mamang kan lebih tua" protes Mang Ujang.
"Umur itu tidak menjamin pola pikir lebih matang Mang .. lagipula saya ga nasehatin kok, cuma memberikan semangat. Bersyukur ketauan sekarang, coba kalo udah akad nikah, apa Mang Ujang ikhlas dapetin wanita kaya Pipit? Berarti Allah masih sayang, diperlihatkan sekarang, sebelum perasaan cinta lebih mendalam" papar Izza.
"Kalo ngomong enak.. ini yang ngerasain perihhhh, mana liat kejadian didepan mata lagi" sewot Mang Ujang.
"Udah deh bestie .. jangan sewot aja, mending tidur deh, daripada mood saya yang lagi bagus ini berubah jadi jelek, bisa-bisa saya turunin ditengah jalan kalo ngomel mulu" potong Rama.
"Mas Boss mah ga paham gimana rasanya patah hati" oceh Mang Ujang.
"Ketika kita bertemu tragedi nyata dalam hidup, kita ada dua pilihan, yang pertama.. kehilangan harapan dan jatuh kedalam kebiasaan merusak diri sendiri, atau pilihan kedua dengan menggunakan tantangan untuk menemukan kekuatan batin kita. Saya pun pernah mengalami, bahkan lebih parah dibandingkan yang ini" papar Rama.
"Mas Boss pernah ditinggal pacarnya? sama juga pacarnya ditikung orang?" tanya Mang Ujang penasaran.
"Kematian yang memisahkan kami" jawab Rama.
"Jangan bilang itu Mamanya Sachi yang makamnya selalu Mas Boss datangi" terka Mang Ujang.
Rama dan Izza diam. Mang Ujang pun lama-lama tertidur, rupanya dia ga tidur sejak semalam, menjaga pacarnya Pipit biar ga kabur dari kamar.
Mereka mampir ke rest area. Rama ingin membeli minuman, Izza ingin ke kamar mandi dan Mang Ujang lapar.
Rama pergi ke minimarket, Izza ke toilet dan Mang Ujang lagi liat-liat kira-kira mau makan apa.
.
"Minggu depan ke rumah ya, saudara Papi kumpul, sekalian mau kenalin kamu ke keluarga besar" kata Rama saat duduk di selasar.
"Iya.. Pak Isam dan Mas Haidar udah ngajakin" jawab Izza.
"Tumben hari ini ngomongnya ga banyakan bikin emosi. Biasanya kalo ketemu sama kamu langsung saya spaneng rasanya" ujar Rama.
"Ya kan tumben juga Kak Rama ngomongnya ga ngeselin" ucap Izza santai.
"Dokumen kamu sedang diurus, sebulan lagi semua selesai. Saya sudah hubungi Paklek di Kudus. Beliau ga bersedia menerima saya dan keluarga disana, ga mau repot dan belum mengenal kamu banget. Sudah saya tawarkan solusi sebagai jalan tengah, jadi Minggu depan sekalian pas Keluarga saya datang ya kita lamaran aja. Pokoknya keluarga kamu di Kudus tinggal datang aja dan akan saya sediakan tempat di Audah Hotel termasuk kendaraan antar jemput kesana. Dan masalah Mba Gita, hari Selasa suda langsung ditarik berkasnya ya, tidak ada tuntutan tentang penyelewengan dana Abrisam Group dan rumah sudah dilepas police linenya. Jadi kasus Mba Gita hanya tinggal masalah narkoba dan pembunuhan berencana terhadap Mba Nay. Sudah saya tunjuk dua pengacara untuk membantu kasus hukum Mba Gita. Masing-masing pengacara untuk menangani satu kasus agar bisa fokus. Sudah saya penuhi apa yang kamu minta di kertas yang ditulis hari Senin yang lalu. Setelah resmi keluarga saya melamar kamu, pindah tempat tinggal ya, jangan di tempat Mas Haidar lagi. Kamu jadi tanggung jawab saya, bukan dia" jelas Rama panjang lebar.
"Masyaa Allah... beneran Kak apa yang barusan Kakak bilang?" tanya Izza meyakinkan.
"Saya orang yang menepati janji.. so sekarang udah ga ada lagi yang kamu minta sebagai persyaratan setuju menikah dengan saya?" tanya Rama.
"Cukup Kak .. terima kasih sudah memenuhi semua permintaan saya. Kalo bisa kita nikahnya saat liburan semesteran aja ya Kak, sekitar dua bulan lagi" harap Izza.
"Oke ... boleh... ada lagi?" tanya Rama.
"Perlukah kita memikirkan konsep rumah tangga seperti apa yang akan kita bina kedepannya?" kata Izza.
"Maksudnya gimana?" tanya Rama ga paham.
"Entah apa naluri dan pemikiran saya benar atau salah, tapi saya merasa Kakak terpaksa menikahi saya karena Sachi. Jika suatu saat Mas Haidar menikah dan mengambil Sachi dari Kak Rama, apa saat itu juga saya udah ga dibutuhkan?" ujar Izza.
Rama menatap Izza yang sedang melihat langit dikala senja. Sudah hampir Maghrib, jadi diputuskan akan sholat Maghrib dulu baru melanjutkan perjalanan.
Rama rasanya enggan menjawab pertanyaan dari Izza, lagipula dia ga punya jawaban yang tepat.
"Kemarin pergi sama keluarga Kak Rama, membuat saya seakan punya keluarga baru yang amat akrab dan penuh kasih sayang. Pak Isam mampu memberikan kehangatan layaknya seorang Ayah terhadap putrinya. Dulu sewaktu kecil saya pernah mendapat kehangatan tersebut, sebelum semuanya berantakan" kenang Izza.
Rama kembali melihat wajah Izza dari samping. Waktu senja yang tercipta ketika menjelang malam ini memang indah, meski senja hanya berlangsung begitu singkat.
"Mba Nay ... tanpamu aku serupa daun kering yang dilepaskan ranting, terbawa angin tanpa arah dan tanpa ingin. Tapi kini kutemukan senja paling indah dimata wanita lain selain dirimu, kudapatkan senja paling merah dibibirnya ... salahkah keputusan untuk menikahinya? Za ... diantara tumpukan dendamku pada keluargamu, ada rasa yang sulit kujabarkan. Seperti kataku dulu .. hadirmu selalu berhasil mengusikku.. siapa sebenarnya kamu Za?" ungkap Rama dalam hatinya.
Suara adzan Maghrib membuat keduanya segera beranjak menuju Musholla. Mang Ujang yang baru selesai makan pun ikut ke Musholla.
.
Setelah sholat Maghrib, mereka berjalan menuju mobil untuk melanjutkan perjalanan.
"Baru berasa laper nih.. " kata Rama sambil berjalan.
"Ya ilah Mas Boss.. dari tadi bukannya nyari makan malah sibuk ngobrol, sekarang malah mau makan. Mau sampe rumah jam berapa nih kita? mana harus anter Mba Izza dulu yang arahnya beda" keluh Mang Ujang.
"Tenang bro .. nanti dibungkus aja, makan di mobil" jawab Rama.
"Saya belum bisa fokus nyetir nih .. masih galau" alasan Mang Ujang.
"Tenang Mang.. Izza kan bisa nyetir, bisalah gantiin sebentar .. ya ga Za" ucap Rama.
"Iya Kak" jawab Izza.
"Kamu mau makan juga Za? mau makan apa?" tawar Rama.
"Jangan nasi yang penting. Repot makannya" jawab Izza.
"Oke tunggu aja di mobil" kata Rama.
.
Izza dan Mang Ujang nunggu diluar mobil karena lupa minta kunci sama Rama yang lagi membeli fast food, pilihan lainnya ga menarik dan pasti akan repot kalo dimakan didalam mobil.
"Mana Kak kuncinya" pinta Izza.
"Saya aja yang bawa, soalnya ini mobil udah saya kulik, ga standar, kalo yang belum biasa sama setelan gasnya bisa mati-mati mulu" kata Rama.
"Katanya mau makan" ujar Izza.
"Gampanglah" jawab Rama sambil masuk kedalam mobil.
Mang Ujang kembali selonjoran dibangku belakang. Masih meratapi kisah cintanya sambil melihat HP, entah apa yang dilihatnya.
"Ini ada french fries, burger, bento box sama fried chickennya. Tadi saya udah minta piring kertas dan beliin saos sambel, kamu kan suka pedas" kata Rama sambil menyerahkan plastik ke Izza.
"Tolong ambilin sarung tangan plastik di dashboard ya" pinta Rama.
"Mau makan sambil nyetir? bahaya Kak" ujar Izza.
"Bisa kok, santai aja .. saya bawa mobil ga ngebut kok" kata Rama.
"Melanggar aturan Kak.. kalo ga keberatan saya suapin aja gimana? ada sendok kan?" usul Izza.
"Up to you, saya ga minta loh" jawab Rama.
Izza memakai sarung tangan plastik kemudian membuka rice box. Menyendokkan sedikit kemudian diarahkan ke mulutnya Rama.
"Ya ampunnnn ... ga ngertiin banget sama orang yang lagi patah hati, segala suap-suapan di mobil" protes Mang Ujang.
"Bahaya Mang kalo nyupir sambil makan" jawab Izza.
"Modus banget deh Mas Boss .. bisa aja kan tadi mobil dibawa Mba Izza dulu, segala alasan gasnya .. emang nih pada ga ada yang simpati sama nasib jomblo terpaksa ini" ujar Mang Ujang makin sewot.
Setelah habis dua rice box, Rama kemudian meminum float yang tadi dibelinya.
"Minum kalo ga dingin ga enak ya? kayanya ga kenal waktu, selalu minum es" ucap Izza.
"Kaya ada yang ga pas aja kalo ga minum es. Oh ya ... makasih ya udah nyuapin.. perut kenyang, perjalanan jadi lancar" ucap Rama.
Izza meletakkan french fries dan ayam dipiring kertas dari restoran fast food tersebut, lalu membuka saos botolan sebagai cocolan.
"Enak banget kayanya Za" ucap Rama.
"Mau?" tawar Izza.
"Boleh lah" jawab Rama sambil membuka mulutnya.
"Terus aja Mas Boss ... Mba Izza ... terus panasin terussss..." oceh Mang Ujang dari belakang.