HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 70, Flow



Mang Ujang mengikuti langkahnya Rama menuju kedalam Kantor Polisi. Dia membantu membawakan berkas serta bukti batu yang digunakan untuk melempar kaca mobilnya.


"Sore Pak Rama ..." sapa seorang Polisi Wanita.


"Sore" jawab Rama sambil berjabat tangan.


"Mba Rani?????" gumam Mang Ujang.


"Kenapa Mang Ujang?" tanya Mba Rani sambil tertawa kecil.


"Gapapa Mba Rani ... eh Bu Polwan ... eh bener ga ya ini Mba Rani?" ucap Mang Ujang belepotan.


"Ya saya Maharani, bisa dipanggil Rani .. silahkan duduk" ucap Mba Rani mempersilahkan Rama dan Mang Ujang duduk di kursi tamu.


"Jadi Mang .. Mba Rani yang kita kenal adalah salah satu jajaran dalam satuan reserse narkoba (SATRESNARKOBA)" kata Rama menjelaskan secara singkat.


"Tugasnya ngapain aja Mba Rani eh Bu Polwan?" tanya Mang Ujang.


"Tugas kami disini melaksanakan pembinaan fungsi penyelidikan, penyidikan, pengawasan penyidikan tindak pidana penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba berikut prekursornya, serta pembinaan dan penyuluhan dalam rangka pencegahan dan rehabilitasi korban penyalahgunaan Narkoba. Sekarang jabatan saya Kanit Idik, jadi tugasnya melakukan penyelidikan dan penyidikan tindak pidana narkotika dan obat berbahaya (Narkoba). Melakukan pemanggilan terhadap saksi. Melakukan penangkapan terhadap pengedar atau pemakai narkotika dan obat berbahaya (Narkoba). Melakukan penahanan terhadap tersangka Narkotika dan obat berbahaya (Narkotika). Melakukan penyitaan dan pengeledahan. Melakukan pemeriksaan barang bukti ke Balai POM atau ke BNN.


Melakukan pemberkasan dan pengiriman berkas perkara ke Kejaksaan Negeri" papar Mba Rani panjang lebar.


"Banyak amat tugasnya ya Mba Rani .. eh Bu Polwan. Kalo Mang Ujang mah udah pingsan deh kalo dikasih tugas kaya gitu" ucap Mang Ujang


"Tugas negara Mang Ujang, kecintaan kita terhadap tanah air dan ingin bisa memberikan sumbangsih kepada negeri tercinta ini, InsyaAllah akan terasa ringan menjalankannya" kata Mba Rani.


"Tapi kok bisa jadi pedagang pesor? katanya Polwan .. masih ga ngerti deh Mamang" tanya Mang Ujang yang belum paham.


"Ya kami bisa jadi apa aja... kadang jadi penjual makanan, pengamen, pedagang asongan dan lainnya demi sebuah penyelidikan" jawab Mba Rani.


"Jadi yang bener profesinya apa ya Mba? ga paham saya, masa segala pernah jadi pengamen dan pedagang asongan. Mba Rani beneran polisi kan? ga lagi nyamar jadi polisi?" ujar Mang Ujang masih loadingnya lama.


Mba Rani ketawa geli melihat wajahnya Mang Ujang yang kebingungan.


"Mang ... mending diem deh, mau ditangkap sama Mba Rani?" goda Rama.


"Ya atuh janganlah Mas Boss, apa kata orang tua di kampung, ijin ke Jakarta buat kerja masa malah di penjara. Beneran deh Mba Rani eh Bu Polwan Mba Rani, Ujang mah SIM punya dan belum habis masa berlakunya, nyupir juga ga ugal-ugalan, tertib lalu lintas deh pokoknya" kata Mang Ujang.


"Baguslah kalo begitu, namanya berkendara ya harus lengkap semua surat-suratnya. Mematuhi peraturan lalulintas juga untuk menjaga keselamatan Mang Ujang dan pemakai jalan lainnya" jawab Mba Rani.


Ada anggotanya Mba Rani yang ijin masuk dan memberikan berkas ke Mba Rani.


"Oke Mas Rama .. terima kasih atas bantuannya selama ini" ucap Mba Rani.


"Saya hanya menjalankan tugas sebagai warga negara yang baik Bu Kanit" sahut Rama sambil tersenyum.


"Kalo semua warga negara seperti Mas Rama, mungkin negara kita akan aman dan damai" puji Mba Rani.


"Bisa aja nih Bu Kanit, ternyata kalo berseragam ngeri-ngeri gimana gitu liatnya. Biasa liat jualan pesor, eh sekarang megang pistol. Dulu kayanya masih belum jadi Kanit ya keliatan belum garang, sekarang tambah garang .. hehehe" canda Rama.


"Lima tahun yang lalu kan saya masih muda .. hehehe. By the way sekarang sudah ga ada yang jualan disana lagi dong Mas?" tanya Mba Rani.


"Ya udah ngga ada lagi, andai bukan kepentingan penyidikan juga ga akan Papi mengijinkan tempat tersebut untuk dipakai. Kebayang ga Mba, perkantoran mewah depannya warung tenda?" jawab Rama.


"Iya .. dan Alhamdulillah ga ada yang curiga dengan keberadaan kami. Sampaikan rasa terima kasih kepada Pak Isam dan keluarga. Alhamdulillah sudah disediakan tempat. Ini juga atas bantuan Mas Rama yang secara khusus meyakinkan Pak Isam untuk memberikan tempat untuk kami berjualan. Memang sangat strategis letaknya, dekat dengan Bandara yang riskan sebagai tempat untuk pengiriman barang terlarang dan juga mempelajari gerak dari jaringannya Gita. Ditambah bukti-bukti yang Mas Rama berikan, makin melengkapi data yang sudah kami kumpulkan. Sekarang jaringannya sudah tertangkap di Batam, sepertinya bersiap lari ke Singapura" jelas Mba Rani.


"Ya kan sudah saya bilang, Mba Gita itu sering banget liburan ke Batam. Makanya saya kirim orang kesana untuk mengikuti gerak langkah Mba Gita. Semoga jaringannya bisa ikut tertangkap sampai ke akar-akarnya, mereka sudah menghancurkan banyak generasi muda" harap Rama.


"Jaringan ini para pelanggannya artis dan pengusaha, makanya duitnya ga berseri. Saya berpesan kepada Mas Rama untuk menghindari hal tersebut, jangan tergoda dengan obat-obatan terlarang" nasehat Mba Rani.


"Siap Bu Kanit .. malah saya terinspirasi untuk diadakan tes narkoba semua karyawan Abrisam Group, kita kan ga tau apakah Mba Gita sudah melebarkan sayapnya di kantor atau tidak" lanjut Rama.


"Bagus kalo begitu, banyak kok Rumah Sakit dan Klinik yang bisa bekerjasama untuk pengecekan seperti itu. Semoga tidak ada yang kami comot dari sana ya setelah test" sahut Mba Rani.


🍒


Haidar melakukan transfer terakhir untuk pelunasan mobilnya Mba Gita. Sengaja dia datang ke Panti Asuhan karena sudah janjian sama Izza.


Haidar datang bersama Sachi dan Mba Nur, mereka membawa banyak mainan dan makanan untuk anak-anak Panti Asuhan.


"Terima kasih sudah datang ya Mas Haidar. Baru kali ini main kesini ya, kalo Pak Isam dan Mas Rama sudah pernah singgah disini" sapa Ibu Panti Asuhan.


"Alhamdulillah Bu .. akhirnya bisa sowan kesini" jawab Haidar dengan ramah.


"Ini pasti namanya Sachi .. Aunty Izza udah banyak cerita tentang Sachi" terka Ibu Panti Asuhan.


"Iya Nek .. saya Sachi" jawab Sachi sambil mencium tangannya Ibu Panti Asuhan.


"Sachi kalo mau main sama teman-teman, bisa langsung ke ruangan sebelah. Mereka lagi kumpul disana" kata Ibu Panti Asuhan.


Sachi diantar sama Mba Nur ke ruangan sebelah. Ga lama kemudian Izza masuk ke ruang tamu, membawakan segelas kopi susu pesanannya Haidar.


"Silahkan diminum Mas" tawar Izza.


"Kalo Papi sudah memuji minuman atau masakan, berarti fix enak. Papi punya taste yang bagus. Dan katanya kopi susu buatan kamu itu pas, enak di mulut dan nyaman di perut" puji Haidar.


"Masih kalah Mas sama coffe shop yang banyak bertebaran. Ini hanya susu kaleng biasa dan kopi kiloan pemberian orang-orang" jawab Izza merendah.


"Beneran loh ini bukan basa basi, makanya saya sampe request minta dibuatkan" kata Haidar.


"Izza ini memang suka utak-atik minuman, dicampur ini itu biar anak-anak ga bosan. Maklumlah Mas, banyak barang yang ada di kami kan campur merek karena pemberian orang-orang" jelas Ibu Panti Asuhan.


"Oh ya Za .. Jum'at ini saya mau pesan nasi box bisa? saya ada program Jum'at berbagi untuk para ojol dan kalangan yang membutuhkan jika lewat depan toko. Untuk wilayah Jakarta saya punya dua toko. Jadi bisa ga kamu penuhi permintaan pesanan sebanyak seratus box dan siap sekitar jam sepuluh pagi. Nanti supir saya yang akan ambil kesini. Untuk menu saya serahkan sepantasnya aja dengan budget dua puluh lima ribu rupiah per boxnya. Ga perlu pakai air mineral karena sudah saya sediakan sendiri" jelas Mas Haidar.


"Gimana Bu?" tanya Izza.


"Terserah kamu Za .. Ibu sih bisa-bisa aja, kamu ada jadwal kuliah ga?" ucap Ibu Panti Asuhan.


"Ga ada kelas pagi Bu, adanya kelas malam kalo Jum'at" jawab Izza.


"Jadi bisa ya? sekalian saya transfer aja ya Za, biar kamu bisa belanja. Pokoknya kamu harus ada keuntungan, kira-kira ajalah lauknya yang pantes, ga harus ayam atau daging kalo tidak memadai" ucap Haidar.


"Kamu kayanya udah rapih, mau jenguk Mba Gita?" tanya Haidar.


"Ya Mas .. mau menyampaikan tentang penjualan mobil" jawab Izza.


"Ga kuliah hari ini?" tanya Haidar.


"Libur Mas" jawab Izza.


"Ya udah nanti saya antar aja, tapi saya ga turun ya, maklumlah saya bawa Sachi, akan banyak pertanyaan kalo saya turun kesana" kata Haidar.


"Ga usah repot-repot Mas .. jadi ga enak sayanya" ujar Izza.


"Kebetulan masih searah kok .. santai aja" ucap Haidar.


🏵️


Rama masih aja bolak-balik Kantor pengacara dan Kantor Polisi, masih banyak yang dia diskusikan dengan pihak pengacaranya.


"Mas Rama harus hati-hati, jangan banyak bicara kalo tidak diperlukan, Mba Gita pakai pengacara yang lumayan terkenal, sering menangani kasus seperti ini, jadi lihai kalimat mereka. Jangan terpancing emosi jika bertemu sama pengacara itu" ingat pengacaranya Rama.


"Baik Pak" jawab Rama.


"Mengenai kasus pecahnya kaca mobil, pelaku sudah tertangkap karena ada foto yang jelas beserta nomer plat motornya. Tercurigai masih komplotan mereka" kata pengacaranya Rama.


"Sudah saya duga.. " ucap Rama.


🍒


Ceu Lilis sudah di Jakarta sejak Rabu, tapi baru hari Jum'at pagi bisa ketemu sama Rama. Itu juga karena Rama menginap di Audah Hotel karena banyak pekerjaan yang harus diselesaikan di Audah Hotel.


Saat sarapan mereka ketemu. Ceu Lilis sudah membawa oleh-oleh buat Rama, dia meletakkan di meja tempat Rama makan.


"Apa kabar Lis? long time no see" sapa Rama.


"Iya nih A' ... Lilis mah ga terlalu sibuk, Aa' Rama yang super sibuk" jawab Ceu Lilis.


"Udah sarapan?" tanya Rama.


"Belum A' .. oh ya ini oleh-oleh dari Ibu" jawab Ceu Lilis.


"Alhamdulillah... bilangin makasih ya sama Ibu. Saya udah dapat laporan kalo terapi Ibu sekarang seminggu sekali aja ya? semoga makin kearah perbaikan" ucap Rama.


"Iya A' .. makasih ya A' atas semuanya" kata Ceu Lilis.


"Sampe hari apa Lis disini?" tanya Rama.


"Besok siang pulang A'. Sore ini mau isi acara dulu" jawab Ceu Lilis.


"Besok bisa ketemu ga? pagi sebelum kamu balik ke Tasikmalaya" pinta Rama.


"Boleh A' .. ketemu disini aja?" kata Ceu Lilis.


"Besok Mang Ujang yang jemput kamu, sekitar jam tujuh pagi ya. Kita ketemu disuatu tempat" ujar Rama.


"Iya A' .. nanti Lilis telepon Mang Ujang juga" ucap Ceu Lilis.


🍒


Supirnya Haidar mengambil pesanan nasi box di Panti Asuhan, dia bertemu langsung dengan Izza.


"Makasih ya Mba Izza, ini ada titipan dari Pak Haidar untuk semua yang ada disini" kata supirnya Haidar sambil menurunkan kantong plastik besar.


"Apa ini Mas?" tanya Izza.


"Ada ayam dan daging slice Mba" jawab supirnya Haidar.


"Masya Allah .. tabarokallah .. makasih ya Mas, nanti saya hubungi Mas Haidar langsung untuk berterima kasih" kata Izza.


Setelah supirnya Haidar meninggalkan Panti Asuhan, Izza langsung menelpon Mas Haidar untuk mengucapkan rasa terima kasihnya.


"Za ... saya pernah mengabaikan seorang anak yang sudah tidak punya Ibu, untunglah ada seorang lelaki yang sangat baik secara ikhlas membesarkan anak tersebut. Mungkin kalo tidak ada lelaki baik ini, anak itu sudah berada di Panti Asuhan. Memang ga akan sebanding untuk menebus masa lalu, tapi saya ingin sedikit berbagi ke anak-anak yang kurang beruntung, sebagai wujud rasa syukur saya kepada Allah" ucap Mas Haidar rada mellow.


"Mas ... sungguh baik banget hati Mas Haidar dan keluarga, sulit saya untuk berkata-kata lagi selain berterima kasih. Semoga Allah memberikan waktu dan kesempatan buat Mas bisa bertemu dengan anak tersebut. Semoga dia sehat-sehat aja dan untuk lelaki baik yang sudah menolong.. semoga Allah balas segala kebaikannya" do'a Izza.


"Aamiin .. Makasih Za ..." ujar Mas Haidar.


🏵️


Jam dua siang, Izza dan Rama bertemu di Kantor Polisi. Rama dan Izza dimintai keterangan untuk kasus penyerangan terhadap mobilnya Rama. Izza juga merupakan saksi yang ada di tempat kejadian.


Keduanya masuk bersama ke ruangan untuk dimintai keterangan lebih lanjut. Keduanya bercerita secara bergantian.


"Baik saudara Rama dan saudari Izza, terima kasih atas keterangannya, jika diperlukan lagi akan kami panggil kembali" ucap Pak Polisi.


Karena mereka belum sholat ashar, keduanya bergegas menuju Musholla yang ada disana. Mang Ujang hari ini ga ikut sama Rama. Lagi dikasih tugas untuk mengecek semua mobil milik perusahaan yang sering banget mengajukan perbaikan dan uang bensin yang ga standar. Jadi akan dicek ulang sama bengkel.


Selepas sholat, Rama sudah menunggu Izza didepan tangga. Izza keluar dengan langkah pelan.


"Za ... Lilis lagi ada di Jakarta, besok saya akan bercerita semua ke dia" kata Rama membuka pembicaraan.


"Cerita apa ya Kak?" tanya Izza.


"Bisa kita ngobrol sebentar di Cafe dekat sini?" ajak Rama.


"Gimana ya Kak .. saya harus segera pulang. Ada kelas malam hari ini selepas Maghrib. Jadi maaf kalo saya ga bisa mengiyakan ajakannya" ucap Izza.


"Atau sekalian saya antar ke Kampus? kita bisa ngobrol didalam mobil. Ya memang hanya ada kita berdua di mobil, tapi saya janji ga akan berbuat macam-macam ke kamu, lagipula ini jam pulang Kantor, pasti jalanan akan ramai dan macet, jadi kalo saya macam-macam bisa dilihat orang" ujar Rama meyakinkan.


Akhirnya Izza setuju untuk diantar pulang oleh Rama. Ketika sudah didalam mobil, keduanya melanjutkan perbincangan.