HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 40, Dream



Izza memandang laptopnya, mencoba mencari hiburan dengan menonton drama-drama dari luar negeri, tapi semakin dia cari semakin dia semrawut pikirannya. Rupanya semua ucapan Rama terus menerus terekam dalam memory otaknya. Hingga ia tertidur di meja belajarnya.


💫


Dalam mimpinya Izza, ia melihat detik-detik kehilangan keluarga akibat amukan si jago merah, kenangan itu kembali muncul, sungguh terasa perih dihati. Keping demi keping kenangan perlahan meminta waktu untuk memutar ingatan. Sesuatu yang ga pernah diduga, menyisakan luka yang nyata.


"Kakak dimana?" ada suara berteriak kencang setelah melihat kedua orangtuanya terbakar didepan mata.


Selalu pertanyaan itu yang berhasil menyayat luka didada. Izza ga mengalami hilang ingatan setelah kejadian, jadi dengan jelas semua bisa ia ingat. Dalam sujudnya ia selalu meminta kepada Allah untuk mempertemukan dia kembali dengan sang kakak yang diyakininya masih hidup. Rapalan do'a yang berharap kakaknya selalu bahagia dan tetap tersenyum hingga saat kelak bisa bersua kembali dengannya.


.


Saat kejadian, malam yang sangat gelap pertanda hujan akan turun karena sempat ada geludug berbunyi, padahal siang harinya sangat panas terik.


Tak pernah disangka oleh Izza bahwa pagi hari itulah menjadi tatapan kakaknya yang terakhir kali dilihatnya, tak pernah mengira lambaian tangannya untuk berangkat kerja akan menjadi cerita yang mengalirkan air mata.


Malam itu ketika hujan mengguyur Kota dengan sangat lebatnya, dengan kasih sayangnya sang kakak menerobos untuk membelikan Izza sebungkus nasi goreng yang dipesannya saat kakaknya masih dijalan menuju pulang ke rumah. Saat itu Izza akan menghadapi ujian kenaikan kelas tingkat SMP. Sehingga sang kakak mau adiknya terpenuhi asupan makanan biar bisa konsen belajar. Kebakaran itu bukan hanya melenyapkan keluarganya, tapi juga semua mimpinya.


Dinas sosial setempat menyerahkan Izza ke panti asuhan karena tidak ada sanak saudara lagi di Jakarta. Kontak keluarga ada di HP orang tuanya yang mungkin ikut terbakar bersama orangtuanya.


"Kakak, aku rindu, sangat merindukanmu..." lirih Izza bicara meracau dalam tidurnya.


Izza berharap semoga rindu yang dititipkan pada Allah senantiasa sampai pada kakaknya serta orang tuanya tercinta.


🏵️


Mba Gita sudah berdiri dibelakangnya Izza, tadi ia mendengar Izza meracau omongan yang sama.


Awalnya Mba Gita mau bangunin Izza biar bisa tidur di kasur bukan di meja belajarnya, tapi niatnya dibatalkan karena Mba Gita tau persis kalo Izza pasti sedang memimpikan kejadian musibah yang menimpa keluarganya. Bukan ga sayang sama Izza, tapi menurut Mba Gita inilah cara Izza melepaskan kerinduan bertemu dengan keluarganya. Mba Gita kembali menutup pintu kamar Izza dan kembali ke kamarnya


🏠


Rama dan Mang Ujang sampai di villa pas tengah malam. Mang Ujang pamit langsung pulang memakai mobilnya Rama.


Sesampainya disana, pekerja disana menyediakan teh hangat untuk Rama. Rama pun segera mandi dan merebahkan tubuhnya di kamar.


Setelah agak rileks, dia mengeluarkan laptop dari dalam tasnya dan mengambil USB yang dulu diserahkan Mba Nay ke Rama.


Rama memang belum pernah melihat isinya, karena dirasa belum waktunya. Tapi hari ini dia sudah bertekad akan mendengarkan apa yang ingin Mba Nay sampaikan padanya. Ada dua folder, Faqi dan Baby. Rama membuka folder yang tertera namanya, dia yakin folder baby adalah haknya Sachi. Folder ini berisi foto, video dan surat.


"Untuk adikku yang pasti setelah memutar video ini akan tampak makin tampan dan dewasa... Faqi (dulu panggilannya masih ini) ... Mba Nay rekam video karena kita jarang bisa bicara panjang hanya berdua saja. Inilah ungkapan dari jiwa yang rapuh dan pada akhirnya mampu diobati dengan kehadiranmu. Saat mentari pagi membelai membangunkan tubuh ini, Mba berharap sinarnya membawa kabar baik, guna mengobati resah jiwa selama ini. Saat angin berhembus, Mba harapkan bisa membawa sebuah kerinduan untuknya nun jauh disana. Mba Nay makin mencintai Mas Haidar seiring tumbuhnya janin ini yang semakin membesar. Terima kasih sudah sudi menukar mimpimu buat Mba Nay dan sang bayi yang tak berdosa ini. Faqi ... Pernahkah kamu tau apa yang Mba rasakan saat ini? Bahwa kehadiranmu mampu membasuh relung jiwa yang sudah melepuh serta membuat denyut nadi kembali berirama. Kamu seperti bintang kecil yang menghiasi gulitanya langit hidup Mba. Apapun yang akan terjadi kelak nanti, tolong jagalah anak Mba dan tolong juga untuk mencari adik Mba yang entah dimana rimbanya. Kami berpisah saat kebakaran itu terjadi. Mba sudah simpan di flashdisk ini foto adik Mba yang masih tersisa di HP, hanya ini yang ada di galeri HP. Mba juga cantumkan media sosialnya biar kamu bisa telusuri dan tau dimana keberadaannya jika ia masih hidup. Kutitipkan orang-orang berhargaku disampingmu Faqi, termasuk Mas Haidar yang sudah sulit untuk dijangkau. Biarlah do'aku bisa memeluknya dari jauh. Tapi jika kamu tidak bisa menemukan adik Mba .. gapapa Faqi, yang penting kamu udah usaha buat mencarinya" isi rekaman Mba Nay.


Rama mengulang sampe empat kali video tersebut dan pada bagian foto-foto adiknya Mba Nay dia coba perbesar dan perhatikan raut mukanya. Media sosial yang tercantum pun sudah dicek, tapi pengguna sudah tidak aktif sejak kejadian tersebut. Rama mencoba mengirim pesan pribadi ke media sosial adiknya Mba Nay. Berharap jika dia masih ada dan bisa mengakses media sosialnya, dia bisa segera menghubungi Rama.


"Mba ... akan Rama coba cari. Walaupun ga bisa menjanjikan banyak hal, semoga Mba bisa tenang ya" ucap Rama.


Rama pun tertidur dengan laptop masih menyala. Pas adzan subuh dia terbangun dan sholat bersama para pekerja di villa. Karena masih ngantuk, dia kembali merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.


.


Sinar matahari sudah masuk ke sela-sela kaca, rombongan Pak Isam belum tampak, sepertinya baru akan berangkat pagi ini dari Jakarta.


Karena menonton video berulang-ulang, akhirnya semua terus terngiang-ngiang di otaknya Rama, hingga terbawa mimpi dan terbangun karena kaget seakan berjumpa sama Mba Nay.


Mang Ujang yang mulangin mobil, berniat bangunin Rama karena mau menanyakan apa hari ini dia dibutuhkan atau tidak.


Mang Ujang yang posisinya sudah dekat sama Rama pun ikut kaget karena Rama yang bangun langsung duduk dan melotot.


"Ya Allah Gusti....." ucap Mang Ujang sambil mengusap dadanya.


"Mang Ujang mau macam-macam ya sama saya?" tanya Rama kaget.


"Amit-amit Mas Boss... saya cuma mau bangunin. Hari ini saya ada kerjaan atau ngga?" kata Mang Ujang.


Rama masih duduk sambil mengucek matanya, setelah kesadarannya full ia minta disiapkan kopi sama pekerja di villa.


"Jadi gimana nih Mas Boss?" tanya Mang Ujang.


"Jalan yuk Mang" kata Rama.


"Jalan kemana?" tanya Mang Ujang lagi.


"Cari motor yang bisa dibeli dan dibawa sekarang juga, lumayan kan buat kalo kita disini" jelas Rama.


"Mas Boss ini ngelindur ga sih? bangun tidur mau beli motor. Ga beli pesawat sekalian" ujar Mang Ujang.


"Beneran ... ga mungkin kan kita disini pake mobil kalo mau kemana-mana. Mending naik motor bisa sat set sat set" jawab Rama dengan santainya.


Pekerja di villa menyediakan dua cangkir kopi hitam buat Rama dan Mang Ujang, ga lupa menghidangkan pisang goreng buat mereka.


"Makasih ya ... ini pisang hasil kebun?" tanya Rama.


"Muhun Mas Rama" jawab pekerja villa.


"Papi gede juga ya kebunnya, saya kira cuma dekat villa aja" kata Rama.


"Lebar Mas" jawab pekerja villa singkat.


"Udah pada sarapan yang kerja?" tanya Rama.


"Belum Mas, baru ngeteh dan ngopi aja" jawab pekerja villa.


"Kenal Ceu Lilis?" tanya Rama.


"Kenal atuh Mas" jawab pekerja villa.


Pekerja villa memandang kearah Mang Ujang.


"Geura atuh" kata Mang Ujang.


"Iya Kang" jawab pekerja villa.


🏵️


"Mba... boleh ga kalo Izza ijin mau ke panti asuhan hari ini, pulangnya hari Selasa. Mau nginep disana, ngobrol sama Ibu, kangen aja sama beliau, udah sebulan cuma komunikasi pake telepon aja" tanya Izza sangat hati-hati.


"Mba ga bisa antar Za" jawab Mba Gita sambil masak.


"Izza naik ojol aja. Insyaa Allah bisa kok" jawab Izza.


"Kamu lagi bete ya? Tiap bete pasti kesana, emang disana ada apa sih?" selidik Mba Gita heran.


"Ngobrol sama Ibu disana seakan lagi ngobrol sama Ibu sendiri. Ibu baik banget, penuh welas asih, pokoknya selalu bikin kangen" jelas Izza.


"Kamu kepikiran sama keputusan Mas Rama yang berhentiin sepihak gitu aja ya?" selidik Mba Gita.


"Ga Mba... Izza cuma kangen sama Ibu. Ga ada hubungannya sama siapapun. Pengen curhat dan memeluknya aja" jawab Izza.


"Ya udah sana... titip salam buat Ibu" ucap Mba Gita.


"Insyaa Allah disampein... makasih ya Mba" kata Izza sambil memeluk Mba Gita.


"Udah ah ga usah manja... udah makin gede sekarang" kata Mba Gita.


Panti asuhan memang menjadi persinggahan sementara Izza sebelum akhirnya diminta sama Mba Gita untuk tinggal dan diurus. Kalo Ibu yang dimaksud adalah Ibu kepala panti asuhan, yang mengurus dan seperti Ibu bagi Izza.


Perkenalan Mba Gita dengan pihak panti asuhan adalah pada saat perusahaan Pak Isam mengadakan buka bersama dan santunan. Mengundang tiga panti asuhan dan salah satunya adalah panti asuhan tempat Izza berada.


Izza yang saat itu sudah SMP, diberikan tanggung jawab untuk menjaga "adik-adik" pantinya saat acara berlangsung. Rupanya Mba Gita tertarik dan meminta ke Ibu panti agar Izza bisa diasuh olehnya.


Selama ikut Mba Gita, semua kebutuhan hidup Izza terpenuhi. Bisa sekolah yang layak, pakaian dan kebutuhan pribadi lebih dari cukup. Mba Gita memang banyak mengubah hidupnya menjadi sosok yang baru.


Tidak sekedar materi yang Mba Gita berikan, tapi perlindungan dan kasih sayang seorang Kakak pun Izza rasakan.


Bagi seorang anak yatim piatu seperti Izza, pastilah sosok Ibu panti asuhan menjadi pengganti sosok orang tua. Jadi kalo ada apa-apa, pasti Izza mengadu pada beliau. Ada rasa tenang jika berdekatan dan berbincang langsung.


.


Izza dengan semangat merapihkan bajunya untuk dibawa ke panti asuhan, ada beberapa bajunya yang masih layak pakai tapi udah ga sesuai dengan dirinya yang sudah berniat untuk ga pake celana jeans-nya lagi, celana itu sudah rapih dan dimasukkan kedalam plastik buat dibawa ke panti asuhan.


Baru aja dia mau pamit ke Mba Gita, HP nya sudah berbunyi. Telepon dari Ibu panti yang mengabarkan kalo kakak kandungnya Ibu panti meninggal dunia. Jadi tidak bisa ketemu sama Izza karena mau segera balik ke kampungnya.


Sebenarnya Ibu panti juga agak bingung. Bis ke Tasikmalaya baru ada nanti jam sepuluh pagi (yang tiketnya masih tersedia). Sedangkan sekarang masih pagi, masih jam enam pagi.


Adat istiadat di kampung itu ga nunggu lama untuk segera memakamkan jenazah. Sedangkan Ibu panti masih mau ngeliat Kakaknya untuk terakhir kalinya.


"Mba... gimana nih... kasian Ibu mau pulang Kampung tapi ga bisa sekarang" tanya Izza ke Mba Gita yang udah tau permasalahannya karena tadi sempat berbincang dengan Ibu panti.


"Gimana ya... bawa mobil sih satu-satunya cara buat ngejar waktu. Di panti ada yang bisa nyetir ga?" tanya Mba Gita.


"Ada kayanya Mba, yang bantu bersih-bersih kan biasa jadi supir kalo ada panggilan" jawab Izza.


"Gini aja... kamu bawa mobil ke panti terus dari sana biar supir yang bawa ke Tasikmalaya, kan kamu belum pengalaman keluar kota nyetirnya. Gimana kalo kamu ikut aja sekalian biar Ibu ada temannya, kasian kalo cuma berdua sama supir. Ini Mba ada sedikit buat beli bensin. Kamu masih ada uang pegangan ga?" tanya Mba Gita.


"Ada Mba.. masih ada gaji yang dikasih terakhir dari Abrisam Group. Saya juga dikasih bonus dari perusahaan, kata HRD sih perintah dari Boss" ujar Izza.


"Ya udah kamu pake dulu, mudahan-mudahan cukup buat bensin dan tol pulang pergi ya" kata Mba Gita.


"Insyaa Allah cukup Mba, kalo gitu Izza ambil jaket sama tambah baju satu stel lagi aja buat jaga-jaga" ucap Izza.


"Ya... bawa jaket yang tebal Za... disana dingin, apalagi musim ujan kaya gini, pasti tambah dingin" saran Mba Gita.


"Ya Mba" sahut Izza.


Izza kembali masuk ke kamarnya, menyiapkan apa yang dia butuhkan, kemudian melesat ke panti asuhan.


Jalanan agak lenggang karena Sabtu banyak perkantoran libur, cukup setengah jam Izza sudah sampe panti asuhan. Disana ia langsung disambut oleh Ibu, supir segera mengecek kondisi kendaraan. Setelah dicek baru mereka bersiap untuk berangkat.


"Bu.. kita lewat mana nih, weekend gini biasanya banyak jalan yang macet.


libur panjang kan. Kalo Cipularang ga bakal keuber sore sampe. Sekarang jam delapan lewat, kalo lancar sekitar ashar deh baru sampe, karena kan dari kota masih lumayan kan jaraknya ke rumah. Rencana dikubur ba'da ashar kan ya?" tanya supir.


"Iya juga ya Mas... lewat mana nih biar cepet?" kata Ibu panti.


"Sekarang jalan aja dulu ke arah Cikampek ya Pak, nanti saya telpon dulu orang Tasik yang saya kenal" ucap Izza.


.


Izza menelpon Mang Ujang, mereka pernah bertukar no HP, karena dulu Izza beberapa kali sempat dijemput Mang Ujang saat ngurus dokumen Hotel atas instruksi Rama.


"Assalamualaikum Mang" sapa Izza.


"Waalaikumsalam, eh Izza, kangen ya sama Mang Ujang sampe nelpon gini" sambut Mang Ujang happy.


"Mang kalo mau ke Tasik jalur alternatif yang ga macet lewat mana ya?" tanya Izza sambil menyiapkan buku catatan.


"Oh ya kalo Cipularang mah macet pasti, soalnya ini musim liburan, awal bulan pula, ditambah tadi ada info ada kecelakaan. Kalo Mang Ujang biasa lewat jalur alternatif kalo pulang kampung. Alhamdulillah ga sampe lima jam nyampe kok. Kamu masuk tol Cikampek lanjut ke tol Cipali, keluar di Kertajati ya jangan Cirebon.. kejauhan. Keluar tol Kertajati kan ada pertigaan tuh, nah ambil kanan arah Kadipaten/Majalengka ya kira-kira sekitar dua kilometer. Dari lampu merah Kadipaten lurus aja sampe arah kota Majalengka, kira-kira jalan itu sekitar delapan belas kilometer, jalannya bagus udah lebar. Kalo udah di Kota Majalengka lurus sampe ketemu bunderan Cigasong, ambil kanan ke arah Cikijing. Nanti ada simpang 3 Cikijing deket Polsek Cikijing ambil belok kanan arah Ciamis Tasikmalaya, ikutin dah jalan tinggal tujuannya ke desa apa. Sekarang udah banyak papan petunjuk" ucap Mang Ujang memberikan arah jalan.