HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 92, Delightful person



Ternyata saat Mang Ujang dalam perjalanan pulang ke Jakarta, tadi siang sekitar jam dua, Rama menginstruksikan agar Mang Ujang menjemput dia di Bandara Soetta jam enam petang ini.


Jam setengah enam petang, Mang Ujang sudah tiba di Bandara. Dia pun sudah mengirimkan chat dan bilang ada di parkiran.


Pesawat baru landing, Rama memang tidak memakai bagasi, jadi tidak perlu menunggu bagasi. Dia meletakkan tas Izza diatas kopernya agar mudah dibawa.


"Rasanya agak budeg ya Kak kalo abis naik pesawat" ucap Izza.


"Ya ... tapi nanti oke lagi kok. Oh ya Mang Ujang udah nunggu kita di parkiran, nanti saya telepon dulu untuk menjemput ke pintu keluar" kata Rama.


"Kak.. gimana kalo kita sholat Maghrib dulu aja, nanti baru telpon Mang Ujang" usul Izza.


"Oke" jawab Rama.


💐


"Mas Boss abis dari mana ya? kok ga bilang mau pergi. Mba Rida aja tadi pagi nanyain Mas Boss dimana .. berarti bukan urusan pekerjaan. Tapi kemana ya? dia kan gila kerja, ga mungkin menghilang dihari kerja" Mang Ujang ngomong sendiri didalam mobil.


HP nya Mang Ujang berbunyi, tanda ada telepon masuk. Dari Rama.


"Saya mau sholat dulu. Mau naik keatas dulu atau langsung jemput di pintu keluar?" tanya Rama langsung.


"Tunggu di restoran boleh ga Mas Boss? ya sekalian makan malam gitu, saya sholat dulu tapi ya" tawar Mang Ujang.


"Ya udah nanti shareloc aja Mang ada dimana" jawab Rama.


💐


"Za ... mau pulang ke Panti Asuhan atau mau nginap di rumah? besok kan hari Jum'at, kamu bukannya ada jadwal kuliah pagi?" tanya Rama.


"Lagi pindah jam Kak, dosennya ada seminar. Gantinya pekan depan. Saya balik ke Panti Asuhan aja ya, Ibu masih ada pelatihan, kasian anak-anak" papar Izza.


"Sabtu jadi ya kondangan sama saya" pinta Rama.


"Ga bisa janji ya Kak. Maaf kalo saya ingkar janji. Tapi baju yang Kakak belikan waktu itu ada di kamar Sachi" jawab Izza.


"Kenapa ga bisa? toh urusan kamu ke Kudus udah selesai" kata Rama.


"Saya mau antar orang kayanya, ini baru aja chat" jawab Izza.


"Antar orang? maksudnya gimana ya?" tanya Rama ga paham.


"Ingat kan kalo mobil Mba Gita dibeli sama Mas Haidar dan digunakan untuk keperluan Panti Asuhan. Jadi kalo saya ada waktu dan bisa, ya terima sewa mobil plus nyupirin Kak. Ini ada rombongan mau besanan, lumayan Kak buat beli bensin mobil" papar Izza.


"Jadi supir gitu maksudnya?" tanya Rama meyakinkan.


"Iya .. malah jadi kepikiran sih buat jadi driver taksi online sekalian, kan ada mobilnya. Tinggal daftar aja, cukuplah dana buat daftar" jawab Izza.


"Jangan... jangan.. saya ga bolehin kamu jadi driver taksi online. Terlalu riskan buat wanita menjadi driver kaya gitu. Kamu kan ga tau nanti yang naik itu orang baik atau orang jahat. Kalo sekedar diambil harta mah bisa dicari, kalo sampe nyawa melayang gimana?" larang Rama.


"Terus mau minta-minta gitu? come on Kak.. It's not me" jawab Izza.


"Kamu jadi driver saya aja, saya sediakan tempat tinggal, makan sepuasnya, jadwal kuliah ga akan saya ganggu. Gimana? toh sama aja kan?" tanya Rama.


"Wah kalo jadi drivernya Mas Boss.. gimana nasib Mang Ujang nanti. Saya ga mau makan rejeki orang" ledek Izza.


"Dia jadi drivernya Sachi aja. Kan drivernya Papi yang sekarang jadi drivernya Sachi" jawab Rama.


"Ini kita mau ngobrol atau mau jalan pulang ya Kak?" kata Izza.


"Oh ya .. Mang Ujang ada disalah satu restoran, sekalian makan malam ajalah kita" ajak Rama.


"Ya ampun Kak, jadi ga enak nih saya ..." ujar Izza ga enak hati.


"Za... thank you" ucap Rama sangat tulus.


"For???" tanya Izza heran mendengar seorang Rama mengucapkan terima kasih padanya.


"So far, every moment we've spent together has been awesome (Sejauh ini, setiap momen yang kita habiskan bersama sangatlah luar biasa)" Rama berkata dengan manisnya.


"Are you okay Kak? bukan karena habis naik pesawat terus mabuk udara jadi ngomong ngelantur kan?" timpal Izza.


"Saya ga pernah menumpahkan cerita masa lalu saya ke orang lain. Tapi sekarang saya percayakan cerita saya ke kamu. Hari ini terasa beban dipundak agak berkurang. Karena itulah selayaknya saya berterima kasih" kata Rama.


"Kak... apa yang sudah Kakak lakukan itu juga luar biasa, pengorbanan dimana cinta lebih banyak bertindak dibandingkan logika yang berpikir. Kakak hanya terjebak didalamnya. Rasa cinta memang tidak pernah mengenal tempat, waktu, situasi dan kondisi. Datang seenaknya dan pergi semaunya. Kontrol semuanya Kak, karena Kakak bukan superhero, ingat juga kalo dalam situasi apapun, jangan biarkan emosi mengalahkan kecerdasan yang Kakak punya. Saya kira Kakak bukan anak kemarin sore yang harus banyak didikte. Toh Kakak juga lebih matang pemikiran dibandingkan dengan saya" ungkap Izza.


Rama diam tapi mencerna semua kalimat yang terucap dari bibirnya Izza. Baru kali ini ada yang berani ngomong frontal mencabik egonya.


"Kadang kenyamanan bisa hadir dari sebuah situasi yang sama sekali belum kita mengerti" ucap Rama dalam hatinya sambil memperhatikan Izza.


"Kak.. saya akan jawab lamarannya sekarang, toh sekarang atau besok juga ga akan mengubah keadaan ... Kita bisa saja menjadi pasangan yang sempurna, hanya saja sekarang kita tidak berada dalam situasi yang sempurna. Hidup bahagia itu bukan sekadar bisa tersenyum, tetapi bagaimana menerima situasi apapun dengan penuh syukur. Jadi ... maaf saya ga bisa menjadi bagian dari hidup Kak Rama. Tapi saya do'akan dengan tulus, suatu hari nanti Kakak bisa bertemu dengan wanita yang hebat disaat yang tepat. Terima kasih sudah banyak membantu saya dan orang disekitar saya, semoga Allah membalas kebaikan Kak Rama sekeluarga. Sampaikan salam untuk semua keluarga di rumah ya Kak" kata Izza secara gamblang.


"Oke ..." jawab Rama santai.


"Maaf saya ga bisa ikut Kak Rama pulang, saya ingin sendiri, jadi tolong hormati keputusan saya .. assalamualaikum" pamit Izza sambil mengambil tasnya dan menuju tempat pemberhentian bus dari Bandara menuju keberbagai tempat tujuan.


Biasanya Rama bisa langsung emosi jika mendengar perkataan yang ga sesuai sama keinginan dia. Tapi sekarang, dibiarkan Izza pergi atas pilihannya sendiri. Rama hanya melihat Izza dari kejauhan.


Setelah Izza sudah ga keliatan, Rama berjalan menuju restoran tempat dimana Mang Ujang berada. Langkahnya biasa, hanya otaknya sedang berpikir keras.


.


"Abis kemana Mas Boss? kok ga ada informasi ke Mamang kalo mau pergi?" tanya Mang Ujang penasaran.


"Kan lagi minta cuti .. kok malah udah balik?" tanya Rama balik.


"Nah itu dia Mas Boss, berhubung saya udah selesai urusan, jadinya mending pulang ke Jakarta. Siap nyangkul lagi.. demi masa depan yang cerah" jawab Mang Ujang penuh gaya.


"Nyangkul? emang disini ada sawah?" tanya Rama gantian lemot kaya Mang Ujang.


"Itu mah istilah aja Mas Boss ... kerja ... kerja... masa begitu aja ga ngerti sih Mas Boss. Tapi belum dijawab nih Mas Boss .. abis dari mana?" jelas Mang Ujang kepo.


"Emang saya perlu lapor ke Mamang?" ucap Rama.


"Ya kan Mba Rida nanyanya sama Mamang" sahut Mang Ujang.


"Rida udah saya kasih tau kalo saya ga ke HO kok, jadwalnya juga udah diatur. Dia ga hubungi saya, HP aktif terus kok" kata Rama.


Mang Ujang tau kalo begini artinya Rama ga mau dikepoin. Makanya Mang Ujang langsung diam.


"Tolong order buat take away aja, saya makan di mobil" pinta Rama sambil menyerahkan uang ke Mang Ujang.


.


"Kenapa ga kesal ya saat dia pamit pulang sendiri? kenapa habis ngobrol sama dia rasanya rada plong" ucap Rama dalam hatinya.


"Mas Boss kenapa ya.. makan sambil bengong begitu. Kalo dia kesel pasti marah-marah, ini ya sekedar ga mau dikepoin aja. Tapi tiba-tiba anteng juga ga mungkin, ada apa sih sebenarnya?" tanya Mang Ujang bingung.


Rama mengambil HPnya dan mencari sebuah nama.


#Before you leave, I want to say thanks to you because it is a pleasure to have a delightful person like you to have in this life (Sebelum kamu pergi, saya ingin memberikan ucapan terima kasih sama kamu karena ini adalah pengalaman menyenangkan untuk mengenal sosok sepertimu)# ucap Rama mengirim voice note ke Izza.


Kemudian Rama memasukkan HPnya kedalam tas dan tidur.


"Udah kaya abege aja pake VN .. segala ngomong bahasa Inggrisnya panjang lagi .. kan jadi ga tau dia ngomong apa" gerutu Mang Ujang.


Rama memang sengaja pakaia bahasa Inggris agar Mang Ujang ga membocorkan pembicaraan ke siapa pun.


💐


Begitu sampai di rumah, Rama mengetuk pintu kamar Sachi, Mba Nur membukakan pintu dan keluar dari kamar. Rama menggendong Sachi yang tertidur untuk pindah ke kamarnya.


Pelan-pelan tubuh Sachi diletakkan di tempat tidurnya. Sachi ga bangun sama sekali. Rama kemudian mandi dan setelah itu sholat Isya.


Rasa kantuk sudah menyergap, alarm tubuhnya berbunyi untuk memintanya segera rehat.


"Maafkan Ayah ya Sachi" bisik Rama sambil mencium keningnya Sachi.


.


"Kok udah pulang Jang? bilangnya malam Senin baru sampai sini" tanya Mas Haidar begitu melihat Mang Ujang membawakan koper milik Rama.


"Sudah selesai urusannya Mas" ucap Mang Ujang.


"Jemput Rama dimana?" tanya Pak Isam.


"Di Bandara Soetta" jawab Mang Ujang.


"Tadi anterin Izza dulu dong ke Panti Asuhan?" tanya Pak Isam lagi.


"Mba Izza? Mas Boss sendiri kok. Ga ada Mba Izza" jawab Mang Ujang polos.


"Apa dia tinggalin Izza di Kudus ya Pi?" tanya Mas Haidar.


"Bisa jadi, besok kan dia ada penandatanganan kontrak kerjasama, jadi harus pulang. Makanya dia naik pesawat karena untuk mengejar waktu" papar Pak Isam.


"Tapi kan kasian Izza sendirian gitu nyari alamat yang dia sendiri aja ga ingat. Kalo patokan belum berubah mah ga masalah, tapi sekarang kan udah banyak pembangunan, pastinya akan banyak berubah wilayahnya" alasan Mas Haidar.


"Kamu kan punya nomer teleponnya, coba hubungi dia dan tanya gimana kondisinya" saran Pak Isam.


"Maaf nih Boss Papi, ini maksudnya Mas Boss pergi berdua sama Mba Izza ke Kudus? ada keperluan apa ya? kayanya Mas Boss ga pernah bilang ada proyek disana" tanya Mang Ujang ingin tau.


"Iya .. dua hari yang lalu berangkat, naik kereta bilangnya. Proyek Masa depan .. makanya mereka mau nyari keluarganya Izza" jelas Mas Haidar agak becanda.


"Proyek masa depan? Buat apa nyari keluarganya Mba Izza? bukannya udah meninggal ya?" tanya Mang Ujang.


"Keluarga yang lain kan ada Jang .. ingin cari adik-adik Bapaknya Izza. Dia mau menyambung tali silaturahim yang terputus aja" jelas Pak Isam.


"Kenapa Mas Boss perlu ikut? ga kaya biasanya nih Mas Boss. Apa mereka kawin lari kali ya Boss Papi?" cecar Mang Ujang.


"Kenapa harus kawin lari? wong dia minta nikah sekarang aja pasti saya kasih ijin kok" jawab Pak Isam.


"Tapi dari Bandara sampai ke rumah itu Mas Boss diam aja. Apa udah berbuat nggak-nggak kali Boss Papi, jadinya bingung mau sampaikan ke keluarga gimana caranya" timpal Mang Ujang.


"Sejak kapan Rama banyak omong. Memang orangnya banyak diam kok dari dulu" ujar Pak Isam.


"Diamnya tuh kaya ada yang dipikirin Boss Papi. Beda deh pokoknya. Kalo abis berantem sama Mba Izza, pasti Mas Boss itu bawaannya emosi, tapi kalo abis damai biasanya Mas Boss diam tapi santai. Ga kaya tadi, diam tapi mikir" adu Mang Ujang.


"Ada apa ya Pi kira-kira?" tanya Mas Haidar.


"Kita tanya kalo dia udah senggang waktu aja ya, besok kan dia ada acara, jadi biar fokus dulu" saran Pak Isam.


"Ya Pi" jawab Mas Haidar.


💐


Rama segera pulang ke rumah setelah penandatanganan kontrak di Audah Hotel. Rencananya mau ngobrol sama keluarga.


Papi dan Mas Haidar tampak sedang memperhatikan Sachi yang lagi karaokean. Tingkah polahnya Sachi membuat semua asisten rumah tangga tertawa.


Begitu Rama pulang, Sachi memeluknya erat. Sambil masih membawa mic untuk bernyanyi, sekarang dia berada digendongannya Rama.


Tampak bahagia banget keluarga ini, memperhatikan Sachi yang ada aja omongannya yang memancing ketawa.


Sudah sore, Sachi mau dimandikan dulu sama Mba Nur. Pak Isam, Mas Haidar dan Rama duduk ngeteh bersama di gazebo belakang rumah.


"Pi... Rama mau nikah" ucap Rama tanpa basa basi.


"Alhamdulillah kalo mau nikah. Silahkan aja, toh kamu udah punya tempat tinggal, punya pekerjaan dan Papi rasa kamu sudah cukup matang untuk memimpin keluarga" jawab Pak Isam santai.


"Sabtu ini kita akan lamaran ke Kudus ya" lanjut Rama dengan nada datar.


"Apa?" Pak Isam sampe keselek gara-gara ucapan Rama.


"Kamu jangan becanda ya .. pulang kerja malah minta nikah" sahut Mas Haidar.


"Serius Mas .. masa hal seperti ini buat becandaan" kata Rama yakin.


Setelah batuknya reda, Pak Isam mengelap mulutnya pakai tissue.


"Nikah sama Izza?" tebak Pak Isam.


"Ya" jawab Rama dengan santainya.


"Izzanya udah setuju untuk dilamar?" tanya Pak Isam.


"Dia malah ga tau" kata Rama.


Pak Isam dan Mas Haidar saling melihat satu sama lainnya. Rama menikmati secangkir kopi yang baru terhidang diatas meja.