
Sudah pukul sembilan malam, Rama mengajak Izza untuk pulang. Rama masih aja sibuk sama HPnya yang langsung berisik ketika diaktifkan (selama makan, Rama sengaja mematikan HP nya untuk bisa menikmati makan tanpa gangguan).
Setelah semua panggilan telepon berakhir, Rama meletakkan HPnya di bagian samping pintu mobil.
"Mba Anin minta untuk semua bagian sahamnya di Audah Hotel, diubah menjadi seratus persen punya saya" adu Rama.
"Kakak lagi ngomong sendiri atau lagi curhat ya?" tanya Izza yang ga paham karena tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu, Rama langsung bicara seperti tadi.
"Memangnya ada orang lain lagi didalam mobil selain kamu?" tanya balik Rama.
"Abisnya tiba-tiba langsung bilang begitu, orang kan biasanya ada prolog dulu, ga langsung ke intinya" ucap Izza.
"Mba Anin setelah menikah ingin fokus menjadi Ibu Rumah Tangga, jadi mau melepaskan bisnisnya satu persatu. Ya mungkin karena usia juga ya, ingin segera punya momongan" lanjut Rama.
"Kenapa harus dijual dalam tanda kutip ya, padahal selama ini bukannya Mba Anin tidak aktif dalam managementnya Audah Hotel? Memang setiap keputusan pasti Kakak putuskan berdua, tapi posisinya sebagai pemegang saham saja, tidak termasuk dalam managementnya" kata Izza.
"Saya juga bilang begitu, tapi Mba Anin ga mau dijual, maunya tetap punya dia tapi secara legalitas menjadi milik saya" lanjut Rama.
"Ga paham deh.. maksudnya gimana?" tanya Izza penasaran.
"Intinya saham itu tetap punya Mba Anin, tapi minta diganti menjadi nama saya semua. Jadi nanti kita buat perjanjian berdua kalo sekedar pinjam nama aja, tetap semua keuntungan dan kepemilikan ya punya Mba Anin" jelas Rama.
"Kenapa harus repot-repot ganti ke nama Kakak kalo tetap juga Mba Anin pemiliknya. Ini pasti ada sesuatu yang ga beres. Buat apa coba harus begitu, maaf ya.. orang kalo sudah memegang yang berharga kadang lupa diri. Apa Mba Anin ga takut semua miliknya dikuasai oleh Kakak karena mau dituntut secara hukum pun sah milik Kakak" papar Izza.
"Itu juga yang saya bilang ke Mba Anin, khawatir ga bisa menjaga amanahnya. Namanya manusia kan tempat khilaf dan dosa" jawab Rama.
"Terus tujuannya Kakak bilang ke Izza buat apa? sekedar pemberitahuan atau mau bertukar pikiran?" tanya Izza.
"Keduanya. Boleh dong saya mendengarkan second opinion dari orang lain. Mba Anin minta ini jangan dibocorkan ke Papi" jawab Rama.
"Coba telaah lebih dalam lagi alasannya. Khawatir ada sebuah konspirasi yang nantinya malah merugikan Kakak. Memang keliatannya Kakak untung karena secara hukum sah milik Kakak. Tapi kebayang ga kalo dikemudian hari ternyata saham itu terlibat pencucian uang atau tindak kejahatan lainnya. Apa ga jadi ribet tuh. Mending ya kalo mau aman ya dibeli sekalian, jadi ga ada sangkut pautnya lagi sama apapun yang menyangkut Mba Anin. Dengan membeli artinya kan semua punya Kakak" saran Izza.
"Sempet mikir begitu, tapi uangnya ga ada untuk membeli semua sahamnya" kata Rama.
"Coba minta pertimbangan Papi dan Mas Haidar, keduanya lebih pakar dibanding Izza dan Kak Rama" saran Izza.
"Kan dibilang kalo Mba Anin ga mau Papi tau tentang hal ini" jawab Rama.
"Aneh amat sih bisnis segala keluarga ga boleh tau. Memangnya ga masalah kalo saya tau? nanti Mba Anin ga suka .." ujar Izza.
"Kan dia cuma bilang orang tuanya dan Papi aja, diluar itu berarti ga masalah dong" kata Rama.
"Mba Anin itu memang misterius. Kapan memangnya mereka mau nikah? belum ada info-info akan ada acara di Audah Hotel tuh" ungkap Izza.
"Ga disana, mereka maunya di Hotel ternama" jawab Rama.
"Iya sih ... kan koleganya pasti bukan orang sembarangan, mereka kan harus prestige (gengsi) diperlihatkan ya" kata Izza.
"Sachi malam ini tidur sama Mas Haidar, tadi sore abis pergi sama Papi dan Mas Haidar ke rumahnya Mba Rani" ujar Rama.
"Kok ga bilang mau ada pertemuan keluarga? kan jadi ga enak nih kita ga ikut. Mendadak ya?" ucap Izza ga enak hati.
"Memang sengaja ga kasih tau kamu ... saya cuma mau memberikan ruang untuk Mas Haidar menjelaskan siapa Sachi dan melihat bagaimana penerimaan keluarganya Mba Rani terhadap Sachi. Mba Rani masih single dan belum menikah, Mas Haidar sudah duda dan punya anak, pastinya pandangan keluarga juga akan gimana gitu. Ya kita dengarkan aja bagaimana keputusannya. Proses hukum agar Sachi bisa diakui sebagai anaknya Mas Haidar kan sedang berlangsung, jadi siapapun pendamping Mas Haidar ya harus bisa menerima Sachi" jelas Rama panjang lebar.
"Semoga keduanya bisa bersatu ya. Mba Rani ini memang sudah kepala tiga, mungkin di masyarakat terlihat lambat memutuskan untuk menikah, tapi menikah juga butuh kesiapan. Pasti banyak hal yang Mba Rani pikirkan, sama seperti Mas Haidar yang masih aja maju mundur. Mungkin ada rasa trauma yang menghantui keduanya" papar Izza.
"Apalagi pekerjaannya Mba Rani kan ada aturan ketat yang mengikat setiap anggotanya. Memang boleh menikah sama duda, tapi prosedurnya pasti beda kalo sama-sama single. Surat menyurat dan segala ijin komandan juga diperlukan. Sekarang aja mereka belum berani menunjukkan diri sebagai pasangan ke banyak orang. Pas acara keluarga aja ga diusahakan bisa ketemu" kata Rama.
"Ya kita do'akan aja semoga semua berjalan lancar. Kita hanya mendukung bukan yang berhak memutuskan" ucap Izza.
Rama memegang lehernya yang terasa kaku, dipijatnya pelan-pelan sambil masih menyetir. Dia mengambil cream penghangat kemudian dibalurkan kelehernya. Kemudian kembali di pijat.
"Kenapa Kak lehernya?" tanya Izza.
"Sudah dua hari ini leher suka kaku aja, biasanya pakai cream penghangat cepat teratasi, tapi sekarang ga ngaruh kayanya" jawab Rama.
"Stress kali Kak, jadi rasanya leher kaku" kata Izza spontan.
"Mendadak jadi dokter ya? jangan sok tau mendiagnosa orang. Stress itu butuh pemeriksaan panjang" sahut Rama sewot dibilang stress.
"Ya apalagi coba? tidur kurang, pikiran banyak, kerja sampe pulang tengah malam mulu. Belum kalo di rumah juga masih aja sibuk kerjaan" oceh Izza.
"Jangan tambah ocehan kamu yang ga penting .. kepala ini rasanya udah penuh banget" ujar Rama kesal sendiri.
"Saya yang nyetir aja Kak.. jadi Kakak bisa tiduran" pinta Izza.
"Ga usah.. kamu aja yang istirahat, besok pagi masih harus siapin bekal buat Sachi kan?" jawab Rama.
"Iya .. ada orderan malah" ucap Izza senang.
"Orderan apa?" tanya Rama.
"Pizza roti tawar sama mac and cheese, dua hari yang lalu kan Sachi bawa mac and cheese, eh teman-temannya suka, kemarin bawa pizza roti bakar terus dicetak pake cetakan boneka gitu, anak-anak rame nyicipin. Akhirnya digrup orang tua menanyakan resep, udah dikasih tau tapi katanya ribet, padahal mah praktis, tapi ga mau bangun lebih awal buat siapin. Akhirnya iseng-iseng deh bilang mau open PO, eh beneran ada yang pesan. Lumayanlah empat porsi mac and cheese sama tujuh porsi pizza roti bakar yang topingnya ayam, brokoli dan keju" papar Izza.
"Bahan-bahannya udah ada?" tanya Rama.
"Udah, di rumah tuh apa aja ada, malah ga dimanfaatkan secara maksimal. Makanya saya berinisiatif habisin stok yang ada di rumah biar kedepannya bisa diisi sama kebutuhan yang memang terpakai aja. Ya namanya yang ngatur banyak ya apa aja dibeli jadinya. Sekarang kan saya yang atur semuanya" jelas Izza.
"Biasanya orang tua temannya Sachi ga mikir harga, yang penting anaknya suka. Maklumlah orang kaya" kata Rama.
"Tepat sekali .. mac and cheese sama pizza masing-masing dikasih harga dua puluh ribu aja dibilangnya murah" ujar Izza.
"Karena standar harganya, udah biasa jajan mereka diatas itu " jawab Rama.
.
Jam setengah sebelas malam mereka baru sampai di rumah, terjebak macet di jalan tol.
Saat masuk Rama masih memijit leher bagian belakangnya sambil berjalan.
"Ga usah ke kamar Sachi, nanti dia bangun" saran Rama sambil duduk di sofa ruang tengah yang terletak dekat pintu kamar Mba Mentari.
"Iya .. Kakak mau dibikinin minuman atau apa gitu?" tanya Izza.
"Ga usah, minum air mineral dingin aja" jawab Rama.
"Masih kaku lehernya?" tanya Izza.
"Masih... malah tangan juga ikutan nih sekarang" jawab Rama.
Izza tidak jadi masuk ke kamar, dia berjalan mendekati Rama yang sedang merebahkan tubuhnya di sofa dengan posisi tengkurap.
Tangan Izza menyentuh lembut leher belakangnya Rama. Tentu saja Rama terperanjat kaget.
"Saya pijitin ya? anggap aja sebagai ucapan terima kasih sudah dibelikan HP dan diajak makan malam di restoran mewah" kata Izza.
Pelan-pelan Izza memijat lehernya Rama hingga bagian kepala. Kalo mengikuti kata hatinya, rasanya enggan menyentuh Rama, tapi dia punya kewajiban untuk mengurus suaminya. Izza berpikir kalo Rama sudah menjalankan sebagian besar tanggung jawabnya sebagai suaminya, kenapa dia ga bisa melakukan hal yang sama. Mencoba belajar menerima kenyataan bahwa mereka sudah terikat pernikahan meskipun baru secara agama.
Karena merasa nyaman, Rama sampai ketiduran. Sekitar lima belas menit Izza memberikan "treatment" untuk Rama.
Teringat Rama belum sholat isya, pelan-pelan Izza membangunkan Rama. Tapi Rama ga bergeming ketika dipanggil namanya. Izza berlutut disamping sofa dan memanggil Rama tepat ditelinganya. Rama memicingkan matanya perlahan sambil melihat wajah Izza ditengah cahaya lampu yang tidak terlalu terang dan tidak pula redup. Jarak keduanya pun ga terlalu jauh.
"Ehmmm... ehemmm... kalian berdua sedang apa disitu?" ledek Pak Isam sambil keluar dari kamar.
Keduanya kaget. Izza buru-buru bangkit dan berdiri, Rama juga langsung duduk.
"Sana lanjut di kamar aja, mau pandang-pandangan sampai pagi juga ga dilarang. Disini kan bisa siapa aja lihat" tambah Pak Isam.
.
Izza membersihkan riasan diwajahnya, sambil menghilangkan sisa keringat yang menempel ditubuhnya. Setelah itu dia bergegas untuk mandi. Di rumah Pak Isam, saat mau menikmati mandi air panas, tidak perlu masak air dulu, sudah ada water heater, jadi tinggal pencet maka air yang sudah disesuaikan suhunya langsung mengalir. Izza memang dimanjakan oleh fasilitas yang ga pernah dia nikmati sebelumnya. Apalagi kamar Mba Mentari memang standar Hotel banget. Luas, dilengkapi dengan sofa untuk menikmati home theater dan kamar mandi lengkap dengan water heater serta bathtub.
Izza membersihkan seluruh tubuh plus keramas. Rasanya rambut sudah bau dan lepek karena seharian tertutup jilbab.
Setelah selesai mandi, dia membalut tubuhnya dengan kimono handuk yang pendek. Sejak di rumah ini, dia membiasakan diri ketika habis mandi pakai kimono handuk karena biasanya ada Sachi dan Mba Nur, jadinya malu kalo hanya terbebat handuk.
Pintu kamar mandi terbuka, kakinya melangkah keluar dari kamar mandi.
"Mandi atau tidur sih?" tanya Rama yang sudah merebahkan dirinya diatas sofa.
"Ougghhh" pekik Izza yang langsung kembali masuk kedalam kamar mandi karena kaget.
Rama mendekati pintu kamar mandi dan mengetuk pintunya.
"Kok malah masuk lagi" kata Rama.
"Ngapain Kakak disini?" tanya Izza dari balik pintu.
"Kita kan belum sholat isya, ya sholat berjama'ah lah" jawab Rama.
"Tapi kenapa main masuk aja ke kamar ga pake permisi" omel Izza.
"Siapa yang ga kunci pintunya?" tanya Rama.
"Ya kan terbiasa ada Sachi dan Kakak pesan jangan dikunci pintunya biar bisa liat Sachi kalo pulang kerja, alasannya ga mau ganggu bangunin saya" jawab Izza.
"Mau sampai kapan di kamar mandi?" tanya Rama.
"Kak Rama keluar dulu, nanti baru kita sholat kalo sudah pakai baju" pinta Izza.
"Oke.. saya keluar dulu" jawab Rama.
.
Lima menit kemudian Izza sudah berganti baju piyama panjang dan sudah memakai mukenanya. Dia membuka pintu kamarnya dan Rama masuk kedalam kamar.
Keduanya sholat berjama'ah. Setelah selesai dan berdo'a, Rama membalikkan tubuhnya menghadap Izza. Izza mencium tangannya Rama.
"Dokumen kamu sudah selesai, tapi belum sempat diambil" lapor Rama.
"Makasih.. nanti saya ambil sendiri" jawab Izza.
"Nanti diambilkan sama pihak kantor pengacara" lanjut Rama.
"Oh gitu.. ya udah gapapa. Kak... besok boleh ga saya ijin ga ke Audah Hotel. Ada keperluan" tanya Izza.
"Keperluan apa?" ujar Rama.
"Saya masih boleh ga punya ranah pribadi yang ga perlu Kakak ada didalamnya?" pinta Izza.
"Gimana.. gimana... kamu paham konsep suami istri ga?" tanya Rama.
"Iya .. tapi saya minta Kakak tidak mencampuri urusan saya kalo ga saya minta" jawab Izza.
"Sorry .. ga bisa" kata Rama.
"Please... saya butuh ruang sendiri dulu, ini semua terlalu cepat untuk saya" ujar Izza.
"Maaf Za.. saya ga bermaksud untuk mengurung dan membatasi gerak kamu. Tapi sekarang kondisinya ga aman. Mba Gita yang dalam pengawasan pihak berwajib aja bisa kabur tanpa jejak, Mba Zizi yang di penjara kenyataannya bisa meninggal tiba-tiba dan entah sekarang dimana raganya dimakamkan. Kamu sekarang istri saya, separuh jiwa saya, jadi menjaga kamu adalah tanggung jawab saya" ungkap Rama.
"Pernikahan kita bukan dilandasi cinta Kak.. kita berdua punya kepentingan masing-masing terhadap pernikahan ini" jawab Izza.
"Ya .. benar apa yang kamu katakan. Tapi akad yang saya ucapkan ga main-main Za. Saya menerima takdir untuk menikah sama kamu. Untuk apa saya repot-repot melegalkan pernikahan kita kalo saya mau main-main" ucap Rama.
"Tapi boleh ya besok ga ke Audah Hotel. Mau kumpul sama Mama-mama temannya Sachi" pinta Izza lagi.
"Iya .. pakai yang layak dipakai kalo ngumpul sama mereka. Perhiasan yang saya kasih ya dipakailah. Sementara pakai dulu baju dan tasnya Mba Mentari. Pokoknya harus stunning Mommynya Sachi" ingat Rama.
"Harus kaya gitu?" tanya Izza.
"Yuppp... HARUS" ucap Rama.
"Ada-ada aja aturannya, apa nanti ga terkesan orang kaya baru kalo semua perhiasan dipakai?" tanya Izza.
"Pake sewajarnyalah. Pakai cincin lamaran dan pernikahan, jamnya Mba Mentari ada yang simpel tapi mereknya ga abal-abal, tasnya juga kisaran ratusan juta. Begitu aja cukup, ga to much lah" kata Rama.
"Oke Kakak Boss.. saya janji ga akan malu-maluin menjadi Mommynya Sachi" janji Izza.
"Bisa ga malam ini kita saling mengenal diri masing-masing. Bisa cerita tentang dunia kampus, kerjaan, impian, rencana masa depan atau apalah itu bentuknya. Bukankah kita harus memulai itu semua? kita kan sudah suami istri, biar bisa saling memahami" usul Rama.
"Apa yang harus ceritakan dalam dunia saya Kak? hanya banyak air mata" ucap Izza.
Izza merapihkan mukenanya. Rambutnya yang masih agak lembab dibiarkan terurai. Izza duduk ditepi ranjang. Rama berjalan kearah pintu.
"Kakak ga jadi ngobrol? ya udah Kakak keluar dulu nanti baru saya kunci pintunya" ujar Izza yang segera turun dari ranjang.
Rama malah mengunci pintu kamar dan mematikan lampu utama, yang menyala hanya lampu yang ada diatas kepala ranjang, kemudian Rama berjalan perlahan menuju kearah Izza. Buru-buru Izza kembali duduk ditempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
"Kakak mau ngapain? Kakak sendiri udah janji ya.. ga akan menuntaskan kewajiban Kakak atas tubuh saya jika belum menikah secara resmi" ingat Izza.
Izza sudah merasa bingung harus bagaimana lagi. Kini Rama duduk ditepi ranjang sebelah Izza kemudian menggeser duduknya hingga berdampingan persis disebelahnya Izza.
Rama menyandarkan kepalanya ke pundaknya Izza. Seorang pria yang tampak baik-baik saja, melakukan hal ini artinya dia sudah sangat letih dengan keadaan atau sedang tidak enak badan dan butuh teman yang tepat untuk berbagi.
Rama yang selalu ingin terlihat dengan bahu yang tegak, seketika bahu itu jadi rileks. Baja keras yang biasa ada dihadapannya Izza seketika melumer.
"Malam ini saya hanya ingin didengar.." ucap Rama sambil tetap menatap kearah depan.
Izza terdiam.
"Pegel ya bahunya kalo saya bersandar kaya gini?" tanya Rama.
"Lumayan.." jawab Izza.
Rama mengambil bantal kemudian meletakkan bantal tersebut dibagian pahanya Izza. Lalu kepalanya direbahkan diatasnya. Rama ga memandang kearah Izza, dia masih memandang kearah pintu.
"Apa yang ingin Kakak luapkan?" tanya Izza memberanikan diri untuk buka suara.
Rama malah memejamkan matanya. Izza mulai melihat wajah Rama yang menyamping. Hidung Rama mancung, rambutnya rapih karena memang dia suka potongan yang simpel.
Rama masih memejamkan matanya.
"Saya sudah lelah dengan semuanya..." tiba-tiba Rama berkata sambil tetap memejamkan matanya.
"Rindu sama Mami dan Mba Mentari ya?" tebak Izza.
Rama menarik nafas panjang kemudian membalikkan tubuhnya dengan posisi telentang. Izza yang malah jadi kalut. Bingung dipandangi oleh Rama.
"Saya terlalu kasar ya? ga memahami wanita ya?" tanya Rama.
Izza mencoba berpikir cepat untuk menjawab pertanyaan Rama, tapi otaknya sudah tidak bisa kompromi diajak mikir karena Rama makin menatapnya.