
Zian sedang belajar rembetan, diusianya yang kesembilan bulan, sudah banyak perkembangannya. Meskipun agak gemuk, tapi lincah. Semakin banyak celotehan yang keluar dari mulutnya. Ini karena Zian dibiasakan untuk dibacakan buku menjelang tidur, konon katanya dengan mendengar maka anak akan merekam dengan lebih cepat.
Kesehatan Pak Sandy sebulan belakangan ini bisa dikatakan menurun, Izza beberapa kali menemani Pak Sandy di Rumah Sakit. Mas Barry dan Ani sedang program bayi tabung disalah satu Rumah Sakit di Surabaya. Sedangkan Kakaknya Mas Barry menangani semua pekerjaan yang ditinggalkan oleh Mas Barry. Jadi terkadang Izza yang diminta untuk menemani Pak Sandy.
Memang Izza tidak sampai menginap di Rumah Sakit, tapi waktunya lumayan tersita sebulan terakhir ini. Meskipun sudah ijin ke Rama, tapi justru belakangan ini malah menadi sumber keributan diantara keduanya. Rama yang pulang kerja ingin diservice istimewa oleh istrinya, malah mendapati Izza tertidur nyenyak karena lelahnya. Sebenarnya bukan salah Izza seratus persen, Rama mulai kembali pulang diatas jam sebelas malam. Istri mana yang tidak mengantuk di jam tersebut, apalagi seharian sibuk mengurus anak-anak.
.
Sudah dua hari Izza mulai bekerja sementara di Audah Hotel. Membantu menjadi public relation disana. Rama setengah hati memberikan ijinnya, tapi Izza memohon dengan amat sangat, sehingga Rama tidak bisa berkutik dengan permintaan istrinya.
Hari ini Zian terjatuh dan kepalanya terantuk tangga saat merembet keatas tangga, rupanya Mba Nur sedang mengambil minum untuk Zian. Padahal Zian tadi ada di playmate dan dikasih pagar, tapi Zian berhasil mendorong pagar yang tidak tertutup rapat.
Suara tangisnya Zian yang kencang membuat seisi rumah jadi heboh. Izza hari ini sedang presentasi di Audah Hotel karena ada satu perusahaan yang akan memakai paket Audah Hotel untuk acara rapat tahunan.
HP Izza disilent jadi tidak diangkat saat Mba Nur menghubungi. Akhirnya Mba Nur menelepon ke Rama.
Rama langsung meminta Mba Nur membawa Zian ke Rumah Sakit terdekat dan Rama akan segera kesana.
Rama mengemudikan mobilnya sendiri menuju Rumah Sakit. Hanya perlu setengah jam, Rama sudah ada disana. Zian langsung minta digendong oleh Rama. Mereka masih ada di IGD. Sambil menggendong Zian, Rama berkonsultasi dengan dokter jaga.
"Bagaimana kondisi anak saya dok? benjolnya lumayan besar ini, apa berbahaya?" tanya Rama borongan karena saking khawatirnya.
Zian kembali menangis dan Rama coba menenangkan. Mba Nur diminta terus menghubungi Izza. Wajah Mba Nur sebenarnya juga sudah pucat, dia takut Rama marah akibat kelalaiannya, ditambah belum juga berhasil menghubungi Izza sehingga Rama tampak lebih kesal lagi.
"Jatuh, terbentur dan benjol memang bagian yang tidak bisa terhindarkan dari perkembangan kemampuan motorik dan kemandirian anak seusia pasien ini Pak. Meskipun kita sudah berusaha mengawasi dan menjaga anak sekuat tenaga, kaki anak-anak kecil agak lebih pendek dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. Hal inilah yang membuat pusat gravitasi anak lebih dekat ke kepala daripada pusat gravitasi orang dewasa. Bapak bisa perhatikan anak-anak jika terjatuh lebih sering kepala yang terlebih dahulu. Setelah kami periksa, anak Bapak tidak ada pendarahan diluar, kesadaran juga baik dan tidak kejang serta muntah" papar dokter jaga.
"Tapi benjolnya besar seperti ini dok, kaya telur puyuh, apa perlu di MRI atau CT scan dok?" lanjut Rama.
"Belum memerlukan tindakan seperti itu Pak" jawab dokter jaga mencoba menenangkan.
"Tapi kalo saya yang minta sendiri boleh kan dok? saya ingin memastikan anak saya baik-baik saja. Nanti kalo gegar otak atau hilang ingatan bagaimana dok?" ucap Rama makin menjadi.
Bagi orang awam seperti Rama, karena sering mendengar berita jika kepala terbentur bisa gegar otak dan amnesia, jadinya bayangan seperti itu yang sekarang ada dalam benaknya.
"Pak.. untuk mendiagnosa pasien terkena gegar otak atau amnesia ada anamnesanya, kami para dokter tidak sembarangan dalam menegakkan diagnosa. Memang ada pemeriksaan yang berdasarkan rekomendasi dokter, namun ada juga yang atas permintaan keluarga pasien. Memang semua berpulang pada keluarga pasien, tapi secara medis belum dinilai perlu Pak untuk dilakukan MRI atau CT scan. Meski terlihat mengerikan bagi orang awam, benjol di kepala anak tidak selalu berarti anak terluka serius. Meskipun kita harus terus pantau. Kebanyakan bengkak di kepala memang menonjol karena tengkorak anak berada tepat dibawah kulitnya. Jadi Bapak tidak perlu khawatir yang berlebihan. Berikan ketenangan untuk anak sehingga bisa beraktivitas kembali. Tiga hari lagi kontrol ulang ya Pak" kata dokter jaga memberikan penjelasan.
"dokter tidak merasakan apa yang saya rasakan.. ada cemas, khawatir dan sedih melihat seperti ini dok. Orang tua mana yang tidak panik mendapatkan telepon dari rumah yang mengabarkan anaknya jatuh" ujar Rama yang memang sangat cemas melihat kondisi Zian.
"Tanda-tanda kondisi serius terjadi dalam dua puluh empat jam pertama setelah cedera, bagaimana jika sekarang pasien diobservasi selama dua jam dulu di IGD untuk melihat perkembangannya? agar Bapak juga bisa yakin jika kondisi anak bisa dilakukan dengan cara rawat jalan" tawar dokter jaga mencari jalan tengah.
"Baik dok.. saya setuju" jawab Rama tanpa pikir panjang.
"Anak dibawah satu tahun adalah manusia paling sensitif dalam merasakan luka di tubuhnya. Saat terbentur kepalanya, hal pertama yang biasanya terjadi akan menangis. Ini adalah reaksi normal ketika sesuatu yang mengejutkan, tidak nyaman, dan mungkin menyakitkan terjadi pada mereka. Benjolan pada bayi biasanya berubah kemerahan, hal ini dikarenakan terdapat banyak pembuluh darah didekat permukaan kulit di kulit kepala. Nanti di rumah, lihat apakah anak menolak makan, suhu tubuhnya naik, muntah-muntah, rewel, maka bisa kembali kesini" saran dokter jaga.
"Daripada bolak-balik, lebih baik rawat inap saja dok" jawab Rama.
"Sabar ya Pak.. menghadapi situasi seperti ini, orang tua harus bisa memberikan ketenangan untuk buah hatinya" saran dokter jaga.
Zian tertidur dalam dekapan Rama. Rama jadi lebih tenang. Izza masih juga belum bisa dihubungi.
"Maaf.. Bapak baru punya anak satu ya?" tanya dokter jaga setelah kembali memeriksa kondisi Zian.
"Iya dok.. ini anak pertama saya" jawab Rama.
"Biasa seperti itu Pak, orang tua merasa cemas berlebihan jika sang buah hati mengalami sakit. Tapi dibawa bertenang saja ya, akan saya resepkan salep untuk benjolnya. Untuk antibiotik dan vitamin tidak perlu ya Pak" ucap dokter jaga.
.
Rama pulang ke rumah dan menjaga Zian. Alex ditelepon Rama untuk menghandle urusan pekerjaan hari ini. Untung tidak ada jadwal meeting, jadinya bisa koordinasi dari rumah.
Izza baru bisa dihubungi setelah Rama dan Zian sampai di rumah. Buru-buru Izza pulang ke rumah dengan segala kepanikan yang melanda.
"Ayo Mang.. cepetan ya.. Zian jatuh, kepalanya benjol. Kak Rama tadi sudah dari Rumah Sakit" ucap Izza khawatir.
"Waduh.. Obos jatuh? wah ngamuk deh Mas Boss kalo begini. Gimana sih Mba Nur jagain anak satu aja ga bisa. Tau sendiri Mas Boss sama Obos kaya gimana sayangnya. Jangan-jangan Mas Boss lagi nangis nih di rumah" jawab Mang Ujang.
"Udah ga usah banyak komen.. cepet sampe ke rumah dengan selamat" kata Izza.
"Kemarin Mas Boss tawarin pengasuh baru buat Obos, Mba ga mau. Mba Nur itu kan lebih banyak pegang Sachi. Lagipula sedang hamil muda, jadinya gerakannya ga cepat" papar Mang Ujang.
"Bisa diam ga Mang.." omel Izza.
Izza video call ke Rama. Seperti yang sudah Izza duga, Rama marah karena insiden ini. Wajahnya sudah tidak enak untuk dipandang.
Mang Ujang sampai kaget mendengar Rama agak keras nada bicaranya ke Izza.
Setelah meletakkan HPnya, Izza menangis.
"Jangan nangis Mba Boss.. Mas Boss memang keras orangnya, tapi dia baik kok. Mungkin karena anaknya kenapa-kenapa jadinya marah. Dulu ke Sachi juga sama, apalagi Obos ini kan anak kandung, pasti ada perasaan yang berbeda ketika melihat benjol begitu" ungkap Mang Ujang.
Izza tidak menjawab. Hanya bisa banyak-banyak berdo'a agar Zian baik-baik saja.
.
Sesaat setelah sampai di rumah, Zian sudah bangun dan ceria seperti biasa. Izza terus menerus mendekap Zian, tapi Zian ga betah, maunya kembali merangkak.
Rama diam saja melihat Izza yang meminta maaf berkali-kali. Rama menyibukkan dirinya dengan laptop dan HPnya sambil mengawasi Zian dari jauh.
Sepulang sekolah, Sachi yang mendengar Zian benjol langsung masuk ke kamar Zian.
"De Zian kasian.. sakit ga De?" tanya Sachi sambil mengusap kepalanya Zian.
Zian malah tertawa melihat kehadiran Sachi, dia merasa ada teman main. Zian mengejar Sachi yang akan ganti baju.
"Zian... duduk di tempat" teriak Rama.
Zian melongo mendengar suaranya Rama, kemudian menangis. Izza yang ada dibelakangnya Zian langsung menggendong Zian dan menemani Sachi untuk ganti baju.
Mba Nur membawakan makan siang untuk Sachi dan Zian ke kamarnya Zian.
"Maaf ya Mba.. saya harusnya ga ninggalin Zian sendirian, tadi saya mau ambil air untuk Zian minum" pinta Mba Nur penuh penyesalan.
"Orang di rumah kan banyak, ga bisa memangnya minta tolong yang lain buat jaga dulu? anak lagi masa perkembangan begini harus ekstra jaganya, jangan ditinggal sendirian" oceh Rama.
"Maaf Mas.. lain kali saya tidak akan meninggalkan Zian sendiri" janji Mba Nur.
"Udah Mba Nur.. istirahat ya.." kata Izza pelan.
Mba Nur pamit dari kamar Zian.
Izza menyuapi Zian yang sedang bermain lempar bola sama Sachi. Sachi makan sendiri, tidak disuapi oleh Izza.
"Kakak mau makan siang? mau di meja makan bawah atau mau dibawakan kesini?" tawar Izza.
"Nanti aja.. kamu urusin anak-anak dulu, kalo Kakak bisa cari makan sendiri" jawab Rama.
Setelah anak-anak tidur, Rama mengajak Izza ke kamar sebelah.
"Sudah Kakak bilang kan buat menolak permintaan Pak Sandy untuk kerja sementara di Audah Hotel. Para pekerja disini lagi banyak yang sakit dan pulang kampung, Mba Nur pun sedang hamil muda. Di Audah Hotel itu ada manager dan staf yang siap melayani customer, kenapa malah mengandalkan kamu sih" omel Rama.
"Kan cuma dua jam dalam sehari Kak, total hanya empat jam pulang pergi. Ya membantu sedikit-sedikit kan ga salah. Sama seperti Abrisam Group, perusahaan keluarga juga" jawab Izza.
"Kakak memang meminta kamu menerima pengalihan saham Audah Hotel, tapi sifatnya kamu sebagai pemilik saham yang tidak aktif. Besok sudah tidak ada lagi ya pergi ngantor ke Audah Hotel, kalo kamu ga enak ngomongnya ke Pak Sandy, nanti Kakak yang bilang. Belajar bilang tidak dong, ga usah pake ga enak hati" kecam Rama.
"Kak.. kondisinya lagi ga bisa Izza tinggal begitu saja. Staf sedang kewalahan juga, hanya seminggu ini kok bantu-bantu disananya. Nanti Izza minta buka kamar saja, jadi Zian bisa dibawa sambil kerja" janji Izza.
"Ga ada ya bawa anak kerja. Kamu tau kan kalo seorang istri ga boleh melawan perintah suaminya?" tanya Rama menegaskan.
"Kenapa harus marah-marah kaya gini sih Kak? Zian sudah oke kondisinya, Kakak sendiri tadi yang mendengar penjelasan dokter. Misalkan Izza yang jaga juga kalo memang Zian hari ini benjol ya pasti akan benjol" jawab Izza yang tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Rama.
"Mau berdebat?" ucap Rama mendekati Izza.
"Kak.. Izza juga perlu ruang untuk menjadi diri sendiri, selama ini Izza ikuti semua maunya Kakak. Toh semua sudah dikondisikan. Zian ada yang jaga dan hanya keluar di pagi hari selama empat jam saja. Lama-lama Izza juga bisa stress Kak.. bolak-balik aktivitasnya itu-itu aja, rasanya ga berkembang. Kerja sementara di Audah Hotel itu seperti refreshing buat Izza" papar Izza akhirnya ikutan emosi.
"Kamu bilang urus rumah tangga bikin stress? kegiatannya begitu-begitu aja dan ga bikin berkembang? apa yang ada dalam pikiran kamu sekarang De? Jangan karena kamu sekarang sudah punya keluarga yang berkecukupan dan punya harta pribadi terus merasa sombong ya. Kamu tinggal bilang mau refreshing kemana? kalo mau staycation di Hotel pun boleh.. tunjuk aja mau Hotel yang mana? berapa hari?" kata Rama makin tersulut emosinya.
"Bukan begitu maksudnya Kak .. Kakak ngomong kaya gini sama aja merendahkan istri sendiri" jawab Izza kembali berdebat.
Izza tau kalo Rama marah akan jawabannya, tapi memang dia sedang ada dititik rasa bosan. Rama yang sibuk dengan segudang pekerjaan, Pak Isam dan Mas Haidar yang jarang ada di rumah. Praktis dia hanya mengurus Sachi dan Zian saja dengan segala dramanya. Jarang bisa berbincang dengan yang lain meskipun banyak orang di rumah.
Rama berniat keluar dari kamar, dia membuka pintu.
"Kalo marah jangan bawa sampai keluar kamar Kak.. marah sama Izza silahkan, tapi ga perlu ada yang tau. Izza yang salah atas jatuhnya Zian, jangan salahkan Mba Nur atau lainnya" pinta Izza.
Rama berhenti sejenak kemudian keluar kamar.
Rupanya Rama berencana kembali ke Kantor Abrisam Group. Kali ini Mang Ujang diminta untuk mengantarkannya kesana.
"Ga makan dulu Mas Boss?" tanya Mang Ujang.
"Nanti aja di Kantor" jawab Rama.
"Tanggung kan Mas Boss, sebentar lagi jam dua belas" lanjut Mang Ujang.
"Kalo Mang Ujang mau makan ya makan aja dulu" ucap Rama.
"Beneran nih Mas Boss.. ya udah Mamang makan dulu. Mas Boss mau tunggu di mobil atau masuk dulu kedalam rumah?" tawar Mang Ujang.
"Saya nyupir sendiri kalo Mamang mau makan dulu" sahut Rama.
"Ga jadi deh Mas Boss.. Mamang makannya nanti aja di kantor" jawab Mang Ujang.
Selama dalam perjalanan menuju kantor, Rama banyak memejamkan matanya. Mang Ujang curi-curi melihat Rama dari kaca spion.
"Pasti nih ngamuk gara-gara Zian benjol. Marah sama istrinya, eh semua orang kena" oceh Mang Ujang dalam hatinya.
HP Rama berdering, ada telepon masuk dari Mba Anindya. Rupanya dia sudah kembali ke Indonesia, baru saja landing.
"Ram.. Mama meninggal..." kata Mba Anindya lemah sambil menangis.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun.. sekarang dimana Mba?" tanya Rama.
"Jenazah masih ada di Rumah Sakit, Mama kemarin minta pulang ke Indonesia sendirian, sampai disini dijemput sama Om Alfian terus dijalan Mama pingsan. Dibawa ke Rumah Sakit, rawat inap sejak semalam. Kerjaan Mba baru bisa di oper ke karyawan tadi pagi. Mba langsung kesini, begitu sampai sini, HP dinyalakan langsung berbunyi tanpa henti" jelas Mba Anindya.
"Mba di Bandara ada yang jemput?" tanya Rama.
"Ada.." jawab Mba Anindya.
"Kita ketemu di Rumah Sakit ya Mba" pinta Rama.
.
Rama menghubungi Mas Haidar dan Pak Isam, mengabarkan berita duka cita yang disampaikan oleh Mba Anindya. Keduanya baru akan pulang besok dan meminta Rama untuk mengurus apa yang patut dibantu.
.
Sesampainya di Rumah Sakit, suasana sudah penuh duka cita. Mba Anindya malah tampak pingsan berkali-kali.
Mba Anindya naik mobilnya Rama menuju rumah Om Alfian, tempat jenazah akan disemayamkan. Keluarga akan berdiskusi apakah sore ini bisa dimakamkan atau menunggu hingga esok pagi.
Mba Anindya merebahkan kepalanya dipundaknya Rama.
"Mba sudah ga punya siapa-siapa Ram.." kata Mba Anindya memilukan.
"Mba.. sabar ya.. sekarang yang perlu kita pikirkan adalah memakamkan jenazah terlebih dahulu" jawab Rama.
"Ram.. Mba .. Mba sebatang kara sekarang" ucap Mba Anindya sambil terus menangis.
Rama mengambil tissue kemudian diserahkan ke Mba Anindya. Bahkan Rama turut membantu menghapus air mata di pipinya Mba Anindya.
"Wah.. wah.. Mas Boss menang banyak ini. Mana sekarang mantan Kakak ipar lebih cantik. Ini Mas Boss beneran tulus apa modus ya.. sampe dipeluk diam aja ga nolak. Macam-macam bilangin Mba Izza nih" ucap Mang Ujang dalam hatinya.