HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 82, With you



Rama meminta Izza menunggu di Lobby sementara Rama mengambil mobilnya di parkiran. Tadinya pihak security mau mengambilkan mobilnya Rama, tapi ditolak sama Rama.


Setelah didepan lobby, dengan sigap security membukakan pintu untuk Izza. Kemudian Rama memacu mobilnya pergi meninggalkan Head Office Abrisam Group.


"Boss sama Mba Izza jadian ya?" para security bergosip.


"Ngga tau deh" jawab security lainnya.


"Katanya Sabtu kemarin mereka nginep di Audah Hotel. Eh sekarang Mba Izza datang ke Kantor. Emang jaman makin gila, cewe malah yang kegatelan sama cowo" ujar security.


"Ya tergantung cowonya, kalo modelannya kaya kita mah mana ada cewe yang nempel" sahut lainnya.


"Apa lagi ngerayu Boss kali, kan Mba Gita dipenjara gara-gara korupsi disini. Ya siapa tau kan dia menukar tubuhnya dengan kebebasan Mba Gita" asumsi lainnya.


"Bisa jadi tuh ... orang kalo udah kepepet apapun jadi deh. Lagian kalo sampe hamil juga auto jadi istrinya orang kaya" ujar security.


"Bisa aja Lo .. kalo mau tanggung jawab, lah kalo ngga gimana? namanya cewe mah punya harga diri, biar kata lagi butuh buat meringankan tuntutan terhadap Mba Gita, ya jangan sampe merendahkan martabat dengan nemenin tidur dong" kata lainnya lagi.


"WWOOOYYYY..." ujar Mang Ujang sambil gebrak meja yang ada di Pos security.


Yang ada di ruangan kaget semua.


"Pada ngeghibah aja, Mas Boss tau pada tamat riwayatnya" tukas Mang Ujang menakuti semuanya.


"Jangan atuh Mang.. cari kerjaan repot masa sekarang. Lagian disini mah statusnya karyawan tetap, Mas Rama ga mau pakai outsourcing" jelas security.


"Nah itu pada tau kalo Mas Boss berpihak pada karyawan, kenapa sih pada masih aja ngomongin dia. Kalo masalah kehidupan pribadi mah ga usah pada ikut campur, saya aja yang supir pribadi ga kepo pengen tau. Lagi masalahnya dimana? mereka masih pada singel, umur juga pada udah cukup buat nikah, Mas Boss juga mampulah ngidupin anak istri" omel Mang Ujang.


"Bukan gitu maksudnya Mang.. atuh kalo mau bandel ga usah di kandang sendiri dong. Masa nginep di Audah Hotel, kan semua karyawan kenal sama mereka" lanjut security.


"Eh .. dia mau bandel kek, mau jungkir balik kek .. ada masalah buat Lo? asal tau aja kalo malam itu saya yang tidur sekamar sama Mas Boss. Mba Izza sama Sachi di kamar yang berbeda. Biar kata Mas Boss lulusan luar negeri.. dia masih paham sama adat istiadat orang timur" oceh Mang Ujang lagi.


"Maaf deh Mang Ujang, jangan bilang-bilang Mas Boss ya" pinta para security.


"Kalo ga mau dilaporin.. sana beliin nasi Padang pake lauk rendang sama telur dadar, minumnya es jeruk" suruh Mang Ujang.


Mang Ujang sengaja mencari kesempatan dalam kesempitan, sekedar buat hiburan dan ngasih pelajaran ke agar ga gampang gitu aja ngomongin Rama. Para security ya ga berani menolak permintaan Mang Ujang, karena mereka tau bagaimana Rama sangat dekat sama Mang Ujang.


🍒


"Kak.. saya mau ketemu hanya ingin menyampaikan pesan dari pengacara Mba Gita untuk bisa berbincang, makanya saya langsung datang ke kantor untuk membuat janji, kan waktu Kak Rama pasti padat, jadi biar bisa dijadwalkan, pihak kami hanya menunggu jadwal saja. Dan sekaligus mau berterima kasih sudah membelikan alat elektronik untuk Panti Asuhan" ujar Izza.


"Mesin cuci itu biar kamu ga usah capek-capek ngucek baju, tinggal masukin aja terus pencet deh. Kalo dispenser kan jadi ga repot harus masak air buat minum. Kulkas pun saya rasa cukup besar buat menyimpan makanan, secara disana penghuninya banyak. Kamu udah sholat ashar belum? sekarang udah jam empat loh ... tadi saya udah sholat di kantor" tanya Rama.


Izza menganggukkan kepalanya.


"Kalo gitu kita langsung cari baju" kata Rama datar.


"Baju? buat apa Kak?" tanya Izza bingung.


"Weekend ini saya ada kondangan salah satu rekan kontraktor, konsepnya outdoor disalah satu rooftop hotel di Jakarta " jelas Rama.


"Terus hubungannya Baju dan kondangan sama saya apa ya?" tanya Izza masih ga paham arah pembicaraan Rama.


"Temenin sayalah buat menghadiri acara itu" jawab Rama.


"Masih ga paham..." ucap Izza.


"Makanya jangan banyak gaul sama Mang Ujang, jadinya rada lelet mikirnya... Ini rekanan utama saya yang punya hajat, banyak juga akan ketemu dengan kolega-kolega bisnis pastinya disana. Namanya wedding reception kaya gitu kan pasti bawa pasangan, ga mungkin dong saya sendiri kesananya" jelas Rama.


"Terus????" tanya Izza.


"Ya berhubung kamu yang lagi dekat sama saya, mau ga mau harus ikutlah kesana" kata Rama santai.


"Harus? sejak kapan saya harus menuruti semua keinginan Kak Rama? kita ga ada komitmen apa-apa, so .. ga bisa dibilang harus nemenin kan? Jadi orang tuh ada basa basinya, ga kaya gini yang langsung aja mutusin sendiri tanpa tanya dulu. Bisa aja kan weekend ini saya ada acara" sahut Izza.


Izza selalu berhasil membuat Rama sulit untuk berkata-kata lagi.


"Bisa ga sih sedikit aja ga bantah" ucap Rama.


"Oh hellooooo .. Saya bukan bola yang bisa diarahkan kemana-mana sekehendak hati Kak Rama. Udah mah ngajakin nikah kaya orang main-main, eh sekarang seenaknya mau ngajak ke pesta. Seorang Rama loh ini... ga takut pasaran anjlok gara-gara bawa saya ke party nya orang kaya? mau memperkenalkan saya dihadapan kolega?" tanya Izza dengan rada sinis.


"Please .. temenin ke pesta ya .. gitu cara bicaranya?" ucap Rama dengan nada yang rendah.


"Saya mau pulang sekarang Kak.. " putus Izza.


"Beli baju dulu Za ..." pinta Rama.


"Mau putar balik ke Panti Asuhan apa saya turun aja disini, saya bisa kok pulang sendiri naik kendaraan umum" jawab Izza.


"Za .. " panggil Rama.


"Saya ga mau Kak. Saya ga mau menuruti apa yang Kakak inginkan" kata Izza tegas.


"Kalo saya tukar informasi tentang Mba Zizi gimana? kira-kira tertarik ga? atau ga perlu aja kali ya ... toh sudah lima tahun berlalu" tanya Rama mencoba tawar menawar dengan Izza.


Tentu aja Izza kaget begitu Rama menyebutkan nama Kakaknya.


"Kak Rama kenal sama Mba Zizi?" ucap Izza rada ga percaya.


"Dia Kakak kandung kamu kan? yang membawa kamu ke Panti Asuhan kemudian ga pernah kembali buat jemput kamu. Kakak yang sangat kamu sayangi" lanjut Rama.


"Dimana Mba Zizi sekarang? apa Kak Rama ada dibalik hilangnya Mba Zizi?" tanya Izza penasaran.


"Ketemu aja belum sama orangnya, gimana mungkin ada kaitannya sama saya? jangan nuduh kalo ga ada bukti" kata Rama mengingatkan.


Rama diam, malah memakai kacamata hitamnya karena senja membuat matanya rada silau untuk melihat jalan.


"Kak .. dimana Mba Zizi?" buru Izza lagi.


Rama masih fokus menyetir, pandangan tertuju ke jalanan, dia mengemudikan mobilnya menuju salah satu Mall premium di kawasan Jakarta.


"Kalo saya kasih tau dimana keberadaan Mba Zizi, apa penawaran dari kamu? siapa tau sebanding penawarannya sama info tentang Mba Zizi. Ingat ya .. tawar menawar ini harus seimbang" kata Rama.


"Oke .. saya ikut ke pesta yang akan Kak Rama hadiri" janji Izza.


"Ini kabar yang pasti kamu tunggu-tunggu loh .. masa cuma itu aja berani kasih penawarannya .. belum sebanding" ledek Rama rada sinis.


"Penawarannya masih kurang menarik, mungkin masih punya penawaran menarik lainnya.. ya tambah apa gitu" jawab Rama masih tarik ulur.


"Terus yang menarik apa? Coba Kakak sebutin aja maunya gimana?" tanya Izza lagi.


"Sachi Sabtu ini mau dibawa sama Mas Haidar ke Tasikmalaya buat ketemu Lilis, harusnya Minggu kemarin, tapi Sachi ada birthday party teman sekolah, jadi ga mau. Saya mau ajak kamu kenalan sama Papi, mumpung ga ada Sachi kan, jadi bisa berbincang tanpa terbagi perhatian dengan Sachi" ucap Rama.


"Kan udah kenal sama Pak Isam" jawab Izza.


"Ya kan kemarin kenal hanya sebagai adiknya Mba Gita" ujar Rama.


"Terus sekarang mau dikenalin sebagai apa?" kata Izza lagi.


"Sebagai calon istri lah, kamu harus bisa meyakinkan Papi kalo saya berniat untuk menikah" jawab Rama.


"Hahhhh?????" ucap Izza kaget.


"Ha ho ha ho ... udah kaya Mang Ujang aja kaya gitu jawabnya" kata Rama.


Izza malas melanjutkan percakapannya dengan Rama. Rasa sedih, kesal dan khawatir bercampur jadi satu, Izza sangat ingin tau tentang kabar Kakaknya.


Sekarang mereka sudah sampai di salah satu Mall, Rama memakai jasa valet parking, jadi ga repot mencari parkiran, penumpang cukup turun dan naik di Lobby saja.


Izza berpikir bagaimana mendapatkan simpati dari Rama agar Rama membuka mulutnya tentang Mba Zizi.


"Dia harus diperlakukan dengan manis, kalo pakai cara kasar, dia lebih kasar ... maklumlah si patung kayu ini emang kaku banget" kata Izza dalam hatinya.


Izza mengikuti langkah Rama.


"Kak... ini kan Mall premium ya .. ga susah lah dapat parkiran, kenapa harus pake jasa valet? kan bisa parkir sendiri" tanya Izza ketika berjalan mengikuti Rama.


"Males jalan ... sekarang kita parkir terus nyari pintu masuk, nanti selesai belanja, balik lagi ke parkiran, ga efisien" jawab Rama simpel.


"Disini berapa kalo pake jasa valet ya?" iseng Izza bertanya karena penasaran.


"Biasanya tarif valet parking akan lebih mahal tujuh kali lipat dari tarif biasa" jawab Rama sambil celingukan liat brand yang bagus buat acara resmi tapi outdoor.


"Kenapa ya tarif dibedain sampe jauh gitu ya?" tanya Izza lagi.


"Lot parkir yang disediakan untuk valet parking ini adalah lot parkir mati, artinya lahan tersebut tidak boleh digunakan untuk umum. jadinya ada potensi kehilangan uang disitu, makanya lot parkir itu diberikan harga yang cukup mahal. Juga letaknya kan ga jauh, biasanya dekat lobby dan tempatnya tertutup" jelas Rama panjang lebar.


"Tau banget dunia perparkiran, pernah jadi tukang parkir ya?" ledek Izza.


"Dokter obsgyn yang lelaki aja tau tentang kehamilan padahal ga pernah hamil" sahut Rama santai.


Rama masuk kesebuah butik muslimah punya salah satu perancang busana muslimah yang cukup ternama di negeri ini.


Mereka langsung disambut oleh pramuniaga yang siap siaga, karena sekelas butik premium, maka satu pramuniaga akan melayani satu customer hingga selesai bertransaksi.


"Untuk pesta outdoor, bisa memilih busana atau dress muslimah dengan bahan yang adem serta flowy, agar lebih fleksibel untuk bergerak. Sebagai referensi saya tunjukkan model gamis dengan bahan katun Jepang premium yang adem, tidak berbulu dan halus. Tapi tidak harus menggunakan gamis dengan banyak motif juga, cukup permainan tekstur seperti kombinasi bahan katun dan crochet yang mempermanis tampilan. Warna yang cerah seperti lime green atau pastel yellow juga bagus untuk Mba nya" ucap pramuniaga.


"Pilih aja yang kamu suka yang mana" kata Rama sambil menuju kursi tamu dan kembali sibuk dengan HP nya.


Izza masih dibantu oleh pramuniaga untuk memutuskan membeli yang mana, akhirnya dipilih dua baju yang rasanya cocok dengan kepribadiannya.


Begitu sampai di kamar pas, rasanya ga enak hati memilih baju tersebut.


"Kak Rama marah ga ya? nanti dia bilang aji mumpung lagi? tapi emang bagus sih bajunya, pengerjaannya juga detail. Warnanya juga manis, ga pasaran ... tapi ga ramah banget sama kantong nih. Baju aja harganya lima juta keatas .. wowwwww" kata Izza ngomong sendiri.


HP nya Izza berbunyi.


"Cepet pilih bajunya, lama banget deh. Pokoknya pas dibadan dan oke semua ya langsung bayar. Saya lapar nih" cerocos Rama tanpa jeda.


"Tapi Kak .. harganya mahal disini, kita cari aja ditempat lain ya" kata Izza.


"Berapa sih?" tanya Rama.


"Yang warna lime green harganya setelah diskon lima juta, kalo yang beige enam jutaan" jelas Izza.


"Ambil aja dua-duanya, yang satu buat kondangan, yang satu lagi buat ketemu sama keluarga besar saya. Seminggu lagi, adik-adiknya Papi mau main ke rumah, memang rutin tiap tiga bulan kami ketemu. Jadi pasti saling kenal lah. Berhubung saya sudah melamar kamu, ya baiknya saya perkenalkan ke semua keluarga. Nanti terserah bagaimana penilaian mereka terhadap kamu" lanjut Rama.


"Ga usahlah... beli satu aja buat acara resepsi" akhirnya Izza memutuskan pilih yang mana.


"Ya udah keluar dari kamar pas .. langsung pilih jilbabnya sekalian, bayar deh .. bisa pingsan nih karena lapar" ucap Rama.


Izza akhirnya memilih kerudung dan menghampiri Rama.


"Mas bajunya sudah dipilih, jilbabnya juga .. ada lagi yang bisa dibantu?" tanya pramuniaga.


"Cukup .. saya bayar pakai card ya" ujar Rama sambil menyerahkan kartu debit ke pramuniaga.


"Saya ambilkan dulu mesin EDC nya Mas, agar bisa terlihat saat penggesekan kartunya" jelas pramuniaga.


Sambil menunggu Maghrib, mereka sudah ada di restoran yang menyajikan Chinese food tapi halal.


Mereka memesan dimsum dulu untuk mengganjal perut, nanti rencananya setelah sholat Maghrib baru deh akan makan berat. Rama juga udah telepon ke Ibu Panti Asuhan, meminta ijin mengajak Izza dulu.


"Bagaimana dua orang yang ga saling mengenal bisa memutuskan untuk menikah?" buka Izza.


"Kita mengenalnya kalo udah nikah aja" jawab Rama.


"Dimana Mba Zizi?" tanya Izza.


"Nanti ya ... saya akan ceritakan pas jalan pulang" janji Rama.


"Ga bisa sekarang?" buru Izza.


"Saya ga mau kamu nangis disini, nanti dikiranya saya orang jahat. Kalo di mobil kan hanya kita berdua, mau kamu nangis kek, mau jumpalitan juga orang ga tau" jawab Rama.


"Kenapa hari ini keliatannya moody banget. Sekejap ngeselin, sekejap baik dan sekejap banyak teka-teki?" tembak Izza.


"Hari ini banyak kesialan.. motor kesayangan dicuri orang, security yang teledor, panasin motor terus ditinggal. Security lainnya lagi ke kamar mandi. Mang Ujang lagi ngelap mobil disamping. Dikira Mang Ujang saya yang bawa motornya, ga taunya maling. Begitu mau jalan, laptop kebanting pas Sachi tiba-tiba meluk dari belakang. Semua kerjaan kan ada disana. Terus datang ke kampus kamu buat ajak belanja baju kondangan eh malah dicuekin dan ditinggal. Balik ke Kantor, kerjaan numpuk, tamu banyak .. ya bete lah" oceh Rama.


"Kenapa harus orang lain yang kena? Harusnya bisa bedain mana yang bersifat masalah pribadi dan pekerjaan, apalagi posisi Kakak kan sebagai pimpinan, harus jadi contoh untuk bawahannya. Bukan saya menggurui, tapi bisa kan lebih kalem dikit dan ngomongnya ga usah pake urat. Kemarahan diawali dengan ketidaksadaran dan diakhiri dengan penyesalan" saran Izza.