HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 184, High Tension



Maryam sudah tau jika kehamilan pertamanya ini hamil anak kembar ketika usia kehamilan memasuki usia sembilan minggu.


Mendengar kabar tersebut, jelas membuat keluarga besar merasa sangat bahagia, sudah lama tidak ada keturunan kembar di keluarga besar kedua belah pihak, baik dari pihak Mang Ujang dan Maryam. Memang ada keturunan kembar diatasnya Kakek, tapi sudah dua keturunan tidak ada yang kembar.


Saat banyak pasangan lain sangat ingin punya anak kembar sampai ada yang melakukan program hamil kembar ataupun bayi tabung tapi Maryam dan Mang Ujang diberikan rejeki anak kembar secara alami.


Kehamilan Maryam tidak banyak mengalami gangguan secara medis, paling sekedar mengidam saja. Banyak orang bilang kalo hamil anak kembar lebih sulit karena sang ibu mengalami mual yang parah, sampai ada yang harus bed rest total tetapi itu semua tidak terjadi pada Maryam. Dia tetap energik dalam beraktivitas, jika merasa lelah maka akan istirahat. Maryam sudah tinggi kesadarannya dalam mengatur kondisi tubuhnya sendiri.


Maryam, rencananya jika sudah dekat hari perkiraan lahir, akan pulang ke Tasikmalaya. Rasanya lebih merasa nyaman jika melahirkan anak pertama ditengah keluarganya. Di Jakarta ini hanya bersama Mang Ujang saja. Rasanya ada yang kurang lengkap, meskipun dia tau kalo keluarga besar Pak Isam pasti perhatian juga.


.


Ketika memasuki usia kandungan tiga puluh dua minggu, saat Mang Ujang bersiap memanaskan mobilnya Rama, Maryam berteriak karena ketika keluar dari kamarnya menuju garasi, ada cairan yang mengalir dan tidak bisa ditahan.


"Air apa ini ya? bukan pipis kayanya. Ya Allah" ucap Maryam bingung sambil bersandar di tembok.


Mba Nur yang sedang ada didekat Maryam, menghampiri Maryam dan memegang tubuh Maryam.


"Ya Allah.. Maryam.. itu air ketuban" pekik Mba Nur.


Maryam jadi panik, dia dibantu duduk sama Mba Nur. Sedangkan Alex langsung lari menuju garasi mobil untuk memanggil Mang Ujang.


"Tenang ya Maryam.. kita ke Rumah Bersalin sekarang, jangan panik, kita banyak-banyak berdo'a. Mang Ujang lagi dipanggil" ucap Mba Nur mencoba menenangkan.


Sebenarnya Mba Nur juga panik, tapi dia harus berusaha setenang mungkin agar Maryam bisa lebih tenang.


.


Rama yang sedang duduk di balkon kamarnya, mengecek chat yang masuk ke HP dan emailnya.


Rama melihat kearah belakang rumah, ada Maryam dan Mba Nur menangis bareng.


"De.. De..." panggil Rama agak keras.


Izza yang sedang mengganti sprei langsung menghampiri Rama.


"Ada apa Kak?" tanya Izza.


"Itu Maryam kenapa? coba kamu tanya. Kok nangis begitu sama Mba Nur" pinta Rama.


Izza turun kebawah dan menghampiri Maryam. Rama melihat dari balkonnya.


.


"Ada apa?" tanya Izza.


"Air ketubannya sudah pecah Mba" jawab Mba Nur.


"Ya Allah... gimana ini Mba Nur? Mang Ujang mana?" tanya Izza mulai ikutan was-was.


"Lagi disamperin sama Bang Alex, kayanya Mang Ujang lagi nyiapin mobil buat Mas Rama" kata Mba Nur.


Mang Ujang dan Alex berlari menuju kamar belakang, Rama merasa ada yang ga beres, jadinya dia ikutan turun untuk menghampiri Maryam.


.


"Kan masih lama lahirannya, kata dokter APL eh LPL eh apa sih itu pokoknya" ucap Mang Ujang ga karuan paniknya.


"HPL Mang..." jawab Izza.


"Nah ya itu.. kok malah udah mules sekarang, emang bisa?" tanya Mang Ujang lagi.


"Namanya juga perkiraan.. bisa tepat atau meleset" terang Izza.


Izza mengusap perutnya Maryam dengan lembut.


"Ga usah banyak tanya Mang Ujangggg... cepet bawa ke Rumah Bersalin tempat biasanya periksa rutin" pinta Mba Nur rada setengah teriak.


"Bawa pake apa Mba Nur??? mana kuat saya gendong dia, letak Rumah Bersalin juga lumayan dari sini kalo jalan kaki" kata Mang Ujang makin bingung.


"Siapa yang suruh jalan kaki? mobil banyak" ucap Izza kesal sama kelemotannya Mang Ujang.


Rama sudah berdiri didekat mereka, menyaksikan suasana panik, Mang Ujang garuk-garuk kepala, Maryam mengaduh kesakitan.


"Apa ini ? kok rame banget" tanya Rama.


"Mau melahirkan kayanya Boss" jawab Alex.


"Ya bawalah ke dokter" perintah Rama.


"Pake apa bawanya Mas Boss?" ucap Mang Ujang.


"Ya pake mobil.. masa naik odong-odong" kata Rama.


"Mobil yang mana Mas Boss?" ujar Mang Ujang.


"Lex.. ambil kunci mobil yang biasa buat belanja, itu kan muat banyak. Kamu ikut nyupirin. Mba Nur di rumah aja, minta satu orang perempuan buat dampingin Maryam. De.. kamu urus sekolahnya Sachi ya, pakai mobil Papi aja yang kecil. Pokoknya kamu fokus ke Sachi" Rama mengatur semuanya.


"Iya" jawab Izza.


Alex mengambil kunci mobil di pos security dan mengeluarkan mobil. Mba Nur meminta bantuan satu asisten rumah tangga untuk ikut ke Rumah Bersalin mendampingi Maryam. Baju belum dirapihkan, Mang Ujang mengambil bajunya Maryam, Mba Nur yang merapihkan kedalam tas.


Rama teringat ada kursi roda di gudang, dulu sempat dipakai oleh Mas Haidar pasca kecelakaan. Rama sendiri yang mengambilnya.


Tubuh Mang Ujang yang agak kurus ga bisa membantu menggendong istrinya untuk bangun.


"Maaf ya Mang Ujang.. Maryam.. saya bukan berniat kurang ajar, tapi saya akan coba bantu angkat ya. Ini darurat, saya harap jangan berprasangka saya ambil kesempatan" pinta Rama dengan sopan.


"Udah Mas Boss.. santai aja .. ini kan darurat.. boleh aja kok gendong istri saya" sahut Mang Ujang.


Rama mengambil selimut yang sedang dijemur, ditutupnya tubuh Maryam dengan selimut hingga terbungkus. Hal ini untuk menjaga agar tidak bersentuhan secara langsung dengan Maryam.


Rama mengangkat tubuhnya Maryam, Izza membantu memegang bagian kaki. Mang Ujang memegang kursi roda agar tidak bergerak.


Setelah Maryam duduk di kursi roda, Mang Ujang mendorong kearah depan lewat jalan samping.


"De.. urus Sachi dulu, sudah jam bangun tidur, kan mau siap-siap sekolah" kata Rama.


"Mba Nur lagi bangunin, udah disiapin kok bekal dan sarapannya, tinggal dimakan aja" jawab Izza.


Rama dan Alex membantu Maryam naik kedalam mobil. Mang Ujang masuk kedalam mobil tepat dibangku pengemudi.


"Mang Ujang mau ngapain? duduk disampingnya Maryam, biar Alex yang nyetir, nanti Mang Ujang kalut malah bahaya" ucap Rama menahan sabar menghadapi kepanikan Mang Ujang.


Mang Ujang keluar dari mobil dan masuk kembali dibangku tengah persis disebelah Maryam.


"Ya Allah... ya Allah.. mules banget A'.. Ya Allah.." kata Maryam berulang-ulang.


"Ya mau gimana lagi.. banyak do'a aja ya .. " saran Mang Ujang.


Alex langsung melaju menuju Rumah Bersalin tempat biasanya Maryam periksa kandungannya.


"Aduhhh... kenapa jadi kosong begini isi otak.. gimana deh Lex .. itu .. anu.. itu loh" kata Mang Ujang sambil menepuk pundaknya Alex.


"Apaan sih Mang? ini itu anu.. mau tanya apa? coba tarik nafas dulu Mang. Mending Mang juga banyak bersholawat deh biar tenang" saran Alex.


"Nah itu dia.. udah lupa semua ini... Allaahu akbar allaahu akbar allaahu akbar. Laa ilaaha illallaahu wallaahu akbar. Allaahu akbar wa lillaahil-hamd" ucap Mang Ujang.


"Itu mah mau takbiran hari raya Mang" sahut Alex.


"Tuh kan lupa .. gimana dong ini Lex? nanti kalo bayinya lahir terus lupa bacaan adzan gimana?" tanya Mang Ujang malah panik sendiri.


Tangan Mang Ujang dipegang kencang oleh Maryam untuk melampiaskan rasa sakit yang makin tidak tertahankan.


"Udah gini aja Mang... sekarang fokus ke Maryam aja dulu, nanti kalo bayinya lahir dan Mang Ujang masih lupa juga, setel internet.. cari deh bacaannya. Ya masa saya yang adzanin bayinya Mang Ujang" saran Alex.


"Ga percuma memang nih Alex.. banyak main sama Mas Boss dan Mba Boss .. jadi ketularan pintarnya" sahut Mang Ujang sumringah.


"Emangnya Ambu bisa bantu orang melahirkan? bukan bidan kan" jawab Mang Ujang.


"Bukan bantu lahiran, tapi buat bikin tenang, adanya sama Aa' malah ga karuan" omel Maryam yang udah kesal.


"Tapi kan Tasikmalaya Jakarta lumayan makan waktu" jawab Mang Ujang.


"Makanya telpon dari sekarang" perintah Maryam.


Mang Ujang menelpon Maman untuk kasih tau Ceu Lilis. Mereka kan lebih dekat dibandingkan keluarga yang ada di Tasikmalaya. Setelah itu Mang Ujang menelpon kedua orang tuanya, memberikan kabar. Maman yang memberi kabar ke orang tuanya kalo Maryam sudah saatnya melahirkan.


Kepanikan terjadi di Tasikmalaya, Abah Ikin meminta para pengurus dan santri berdo'a bersama untuk keselamatan putri dan cucu-cucunya.


.


Sesampainya di Rumah Bersalin, para petugas medis sudah sigap untuk membantu Maryam turun dari mobil.


"Ini Mba suster... ini dia basah.. ga tau kenapa, tiba-tiba sakit perut" adu Mang Ujang sambil berjalan menuju ruang tindakan.


"Bapak agak menepi sebentar ya, istrinya mau diperiksa dulu" kata Bidan yang berdinas.


Rumah Bersalin ini memang ramai, terkenal sebagai tempat yang sangat mendukung para Ibu hamil untuk bisa melahirkan secara normal, kecuali dengan alasan medis yang darurat, maka akan dirujuk ke Rumah Sakit rekanan.


Bidan dan perawat langsung menghubungi dokter obsgynnya Maryam. Semua kondisi pasien dilaporkan secara terperinci. dokter juga memberikan arahan untuk melakukan tindakan yang diperlukan hingga beliau sampai di Rumah Bersalin.


Ditangan Maryam sudah terpasang infusan. Sakit perutnya pun makin menjadi. Karena belum tau apakah Maryam alergi terhadap antibiotik, dilakukan skin test untuk mencoba apakah antibiotik yang akan digunakan menimbulkan reaksi alergi terhadap pasien atau tidak.


.


Ketika dokter obsgyn datang dan meyakinkan bahwa Maryam baik-baik saja, akhirnya perawat mulai menyuntikan antibiotik melalui infusan. Drama melahirkan terjadi. Setelah antibiotik dimasukkan, tiba-tiba Maryam panik dan sesak napas, kejang dan akhirnya tidak sadarkan diri. Padahal pada pemeriksaan awal, tekanan darah normal dan kondisi sudah masuk pembukaan dua.


🌷


Rama merasa ga sedap hati, dia menelpon Farida dan bilang tidak akan datang ke Kantor karena akan mendampingi Mang Ujang di Rumah Bersalin.


Rama menilai Mang Ujang gampang panik, sedangkan melahirkan butuh keputusan yang cepat dan tepat untuk menyelamatkan jiwa Ibu dan bayinya.


Alex melaporkan segala perkembangan yang terjadi ke Rama via sambungan telepon.


"Mang Ujang mana?" tanya Rama.


"Ada nih Boss.. lagi nangis disebelah saya" jawab Alex.


"Kenapa?" tanya Rama kaget.


"Maryam akan dirujuk Boss, ini dalam tahap persiapan, ke Rumah Sakit Medika Bahagia, ga jauh dari Rumah Bersalin" lapor Alex.


"Lanjut Lex.. kita ketemu disana" ucap Rama.


"Tapi pihak sini minta uang deposit Boss, Mang Ujang tadi sudah kasih lima juta, kayanya kurang" lanjut Alex.


"Minta Izza transfer ke rekening kamu, sepuluh juta dulu, nanti kalo kurang, bilang aja nambah di Rumah Sakit, saya otewe" perintah Rama.


Rama langsung memutar balik mobilnya di putaran yang tidak jauh dari letak mobilnya. Kemudian mengarah ke Rumah Sakit. Rama juga menelpon Izza untuk ditransfer sejumlah uang untuk pegangan.


.


Dilakukan tindakan Sectio Caesaria terhadap Maryam untuk menyelamatkan Ibu dan kedua bayinya. Ternyata Maryam mengalami eklampsia (komplikasi kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi dan kejang sebelum, selama ataupun setelah melahirkan).


Rama duduk disampingnya Mang Ujang, Alex pun ikut mengapit Mang Ujang. Keduanya memberikan dorongan semangat dan do'a untuk keselamatan semuanya.


"Keluarga di Tasikmalaya kata Maman sudah bergerak ke Jakarta, kita bertenang ya Mang. Sekarang Maryam berada ditangan dokter yang memang ahlinya. Hanya do'a yang bisa kita panjatkan sekarang ini" ucap Rama dengan nada yang menyejukkan.


"Tapi Mas Boss... katanya habis melahirkan, kemungkinan Maryam dan bayi kami masuk ICU. Kenapa bisa begini, tadi cuma diinfus doang kok malah pingsan" kata Mang Ujang sambil menangis.


"Tadi kan kita sudah mendengar tentang kondisi Maryam. Ibu melahirkan tidak bisa kita prediksi kan Mang. Mungkin tadi kondisi Maryam tidak stabil secara mental, jadinya berpengaruh. Kita ga bisa menyalahkan keadaan. Yang terpenting saat ini kita berupaya menyelamatkan semuanya" tutur Rama.


"Iya Mang.. mau sholat dulu? saya temenin" ajak Alex.


"Udah ga konsen deh kalo kaya gini. Udah baca do'a sebisanya aja" jawab Mang Ujang.


Menurut dokter, selama kontrol kehamilan tidak ada tanda-tanda bahwa Maryam akan mengalami eklampsia. Memang eklampsia sendiri bisa datang kapan saja, dengan gejala yang berbeda-beda disetiap ibu hamil.


🏵️


Keluarga Abah Ikin dan keluarga Mang Ujang baru sampai di Rumah Sakit sore harinya. Mereka semua melihat para bayi dulu, Maryam tidak bisa dijenguk.


Di ruang tunggu pasien ICU, Abah Ikin memimpin berdo'a bersama. Izza baru datang, dia membawakan makanan dan minuman serta karpet lipat. Tadi Alex dan Rama membantu membawakan barang bawaan Izza.


Pak Isam, Mba Rani dan Mas Haidar pun sudah merapat ke Rumah Sakit. Semua memberikan transferan untuk Mang Ujang. Rama dan Izza sudah memberikan uang ke Rumah Sakit sebagai uang muka sebesar empat puluh juta rupiah.


.


Mang Ujang bengong sendirian di parkiran depan Rumah Sakit. Rama yang mau mengambilkan jaket untuk Abah Ikin, melihat Mang Ujang.


"Ngapain bengong disini Mang?" sapa Rama.


"Bingung Mas Boss..." jawab Mang Ujang lemes.


"Bingung kenapa? semua sudah melewati masa kritisnya, tinggal kita tunggu perbaikan kondisi kesehatan Maryam dan anak-anak" kata Rama.


"Bukan itu aja Mas Boss.. bingung biaya. Tabungan saya cuma ada dua puluh juta. Itu juga karena Maryam pinter nyimpennya. Sekarang aja uang Mas Boss udah terpakai empat puluh juta, gimana saya kembaliinnya. Kita ga tau sampai kapan semua dirawat" keluh Mang Ujang.


"Ya Allah Mang.. yang penting selamat dan sehat dulu. Ga usah mikirin uang, anggap aja sebagai hadiah. Kita kan bestie" jawab Rama sambil menepuk pundaknya Mang Ujang.


"Terima kasih Mas Boss.. terima kasih" ucap Mang Ujang sambil memeluk Rama.


"Udah.. udah... Mang... nanti orang pada bingung ngeliat kita pelukan di parkiran" tolak Rama.


"Terima kasih ya Mas Boss.. semoga Allah ganti rejekinya lebih melimpah ruah lagi" ungkap Mang Ujang tulus.


"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab Rama.


💠


Ketika sadar, Maryam sudah berada di ruang ICU dengan kondisi terpasang ventilator, infus dan segala macam alat lainnya. Dia tidak sadarkan diri selama dua hari pasca operasi.


Ketika sadar dari koma, yang dipikirkan Maryam pertama kali adalah anak-anak, apakah mereka sudah lahir, kalau sudah bagaimana kondisinya dan banyak pertanyaan lainnya yang memenuhi kepala Maryam.


Mang Ujang diminta masuk kedalam ruang ICU dan menjelaskan secara singkat kalo anak mereka sudah lahir dengan cara operasi caesar.


Alhamdulillah keduanya lahir dengan selamat, karena mereka belum cukup umur ketika dilahirkan, akhirnya mereka harus masuk ke ruang NICU sambil dipantau kondisinya.


.


Rama dan Izza melihat bayi lewat kaca, ada jadwal tirainya dibuka. Tangan Rama memeluk pundaknya Izza.


Izza sedari kemarin selalu berkaca-kaca melihat kondisi bayinya Mang Ujang. Sedih rasanya melihat bayi sekecil itu dipasang kabel-kabel di badannya, lahir secara prematur, berat badan yang jauh dibawah normal dan pernafasan yang belum sempurna.


Tapi disisi lain, Izza turut bersyukur karena kedua bayi selamat dilahirkan ke dunia tanpa kurang satu apapun.


"Semoga semua bisa segera pulih kembali, bisa berkumpul di rumah. Pasti rame rumah kita dengan tambahan penghuni baru" ucap Rama.


Izza memeluk Rama dan menangis. Rama membawa Izza ke bangku ruang tunggu yang terletak sekitar seratus meter dari ruang NICU.


"Kenapa De...?" tanya Rama sambil mengusap air matanya Izza.


"Berat banget perjuangan menjadi seorang Ibu.. bisa ga nanti Izza jadi seorang Ibu?" tutur Izza mellow.


"Jika kelak saatnya tiba, Kakak akan ada disamping kamu De. Kita hadapi berdua. Peristiwa ini jadi pembelajaran kita bersama untuk lebih banyak buka mata dan telinga tentang kehamilan" saran Rama.


"Janji ya Kak.. " ucap Izza.


"InsyaAllah De..." jawab Rama.