HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 52, Sadness



Rama menggendong Sachi menuju kamarnya, Izza membantu membukakan pintu kamar, tiba-tiba Sachi bangun.


"Mau bobo sama Aunty Izza" kata Sachi lemah.


"Bobo sama Ayah aja ya" bujuk Rama.


"Maunya sama Aunty Izza juga ..." ucap Sachi malah nangis.


"SACHIIII" hardik Rama.


Bukannya diam malah Sachi tambah nangis.


"Kak..." panggil Izza pelan guna mengingatkan Rama agar ga teriak ke Sachi.


"Maafin Ayah ya ... tapi ini udah malam, Sachi harus tidur. Kasian aunty Izza kan cape" pinta Rama sambil memeluk Sachi.


Rama kadang kelepasan menghardik Sachi. Terbiasa hidup tanpa bimbingan orang tua membuat Rama kadang sulit untuk mengontrol emosinya jika terlalu ditekan.


"Ga mau ... maunya sama Aunty Izza, Ayah jahat" kata Sachi sambil menangis dan memukul tubuh Rama.


Buru-buru Izza turun tangan daripada nanti Rama tambah marah ke Sachi.


"Ya udah jangan nangis lagi ... kita tidur yuk di kamar sebelah. Nanti Ayah bawain tasnya Sachi aja ya" bujuk Izza.


Sachi mengangguk tanda setuju. Sachi berpindah tangan dari Rama ke Izza.


"Nanti tasnya saya letakkan didepan kamar ya" kata Rama.


"Iya" jawab Izza.


Rama membukakan pintu kamar buat Izza. Setelah Sachi dan Izza masuk, dia balik ke kamar untuk mengambil tas milik Sachi.


Pintu kamar Izza diketuk beberapa kali. Izza membukanya.


"Dia sih udah ga ngompol, tapi kan malam ini udah tidur, jadi belum pipis sebelum tidur, ini selimut tambahan buat perlak aja ya, jaga-jaga kalo dia ngompol" kata Rama.


"Iya" jawab Izza.


🏵️


Jam enam pagi Sachi sudah main di parkiran Hotel. Rama yang lagi jogging heran. Tumben jam enam pagi, Sachi sudah rapih mandi. Biasanya bangun sekolah jam setengah tujuh pagi, itu juga susah dibanguninnya (info dari pengasuhnya Sachi). Sachi sekolah mulai jam delapan pagi dan sering telat.


"Ayahhh .... " panggil Sachi sambil mendekati Rama.


Rama berjongkok didepan Sachi.


"Wah anak Ayah udah bangun ... hmmm rambutnya juga udah wangi" kata Rama sambil mencium rambut Sachi yang masih basah.


"Iya .. tadi Sachi diajak sholat sama Aunty Izza, terus mandi deh" adu Sachi bermanja.


"Alhamdulillah .. Sachi bawa mukena emangnya?" tanya Rama.


"Ngga ... tadi pakai jiblab Aunty Izza" jawab Sachi.


"Jilbab... bukan jiblab" koreksi Rama.


"Ayah .. Sachi beliin mukena dong" pinta Sachi.


"Kan udah punya di rumah" kata Rama.


"Mau yang bunga-bunga kaya Aunty Izza" jawab Sachi.


"Nanti ya beli sama Mba Nur, Ayah ga paham beli mukena, kan Ayah ga pernah pake mukena" jelas Rama.


"Ga mau ... pokoknya mau sekarang" Sachi mulai ngambeknya.


"Sachiii ... nanti Ayah marah nih. Kenapa sih jadi keras kepala? anak Ayah itu anak yang nurut" ucap Rama mulai kepancing emosi.


"Ayah jahat..." kata Sachi sambil berlari mendekati Izza yang masih berdiri didepan Lobby.


Tampak Izza seperti membujuk Sachi, entah apa yang dibicarakan oleh mereka.


Rama mengikuti masuk kedalam Hotel, mengikuti jejak Sachi dan Izza yang berjalan kearah Restoran.


Sachi duduk bersebelahan sama Izza, Rama mengambil duduk disebelah meja mereka. Ada panggilan telepon masuk ke HP nya setelah Rama mengirim chat.


"Ya Mba..." jawab Rama langsung.


"Jadwal hari ini kosong Mas, tapi ada beberapa dokumen yang harus diperiksa, mengenai laporan bulanan dari bagian keuangan" jelas Mba Gita.


"Nanti Mang Ujang yang ambil kesana ya, hari ini saya mau luangin waktu sama Sachi" kata Rama.


"Kebetulan nanti tim marketing mau kearah sana, nanti dibawakan sekalian ya Mas. By the way, Sachi sakit Mas? kok sampe minta kosongin jadwal" tanya Mba Gita.


"Ya sedikit tantrum aja, soalnya saya sibuk terus kan, apalagi udah tiga hari ga ketemu langsung. Ya namanya juga anak-anak" jawab Rama.


"Izza baru selesai kerjanya besok ya Mas?" tanya Mba Gita.


"Izza ga jadi ke Tasikmalaya hari ini, jadi bisa pulang sehabis Lilis pulang kampung" jawab Rama.


"Baik Mas .. makasih ya sudah dikasih kerjaan" ucap Mba Gita.


"Mba .. kalo hari ini Izza saya ajak jalan dulu sama Sachi apa boleh?" ijin Rama.


"Mau kemana ya Mas?" tanya Mba Gita.


"Sachi minta dibelikan mukena bunga-bunga seperti punya Izza, sekalian mau saya ajak main ke playground mumpung dia libur sekolah. Kalo besok kan saya ada jadwal lagi, biasa nemenin Papi main golf, jadi ga bisa ngabisin waktu libur sama Sachi" pinta Rama.


"Tapi jangan pulang malam ya Mas" harap Mba Gita.


"Nanti saya antar ke rumah sekitar sore ya, jangan khawatir Mba, saya paling bawa ke Mall aja kok. Lagipula kan ada Sachi. Jadi dia bisa nemenin Sachi main sementara saya mengecek kerjaan" jelas Rama.


"Ya Mas" jawab Mba Gita.


.


Sachi menikmati orange juice dan roti pakai selai strawberry.


"Sachi ... sayang ga sama Ayah?" tanya Izza.


"Sayang" jawab Sachi.


"Sayangnya banyak atau sedikit?" tanya Izza lagi.


"Banyak" jawab Sachi lagi.


"Ayah kan lagi cape kerja, jadi Sachi bisa jadi anak baik ya. Jangan nangis, Sachi kan sudah besar, bisa langsung ngomong ke Ayah apa maunya Sachi. Kalo bayi baru nangis karena belum bisa ngomong. Sachi bukan bayi kan?" kata Izza pelan-pelan.


"Bukan .. Sachi anak TK besar .. sebentar lagi mau masuk SD kata Ayah" jawab Sachi sambil menikmati rotinya.


"Wah udah besar sekali, berarti bisa bicara baik-baik sama Ayah kalo mau minta apa-apa" ucap Izza.


"Ya .." jawab Sachi.


"Itu ada Ayah .. coba kiss and hug Ayahnya. Minta maaf kalo Sachi ngambek terus sama Ayah. Ayah kan sayang banget sama Sachi" pinta Izza.


Sachi bangun dari duduknya dan menghampiri Rama.


"Ayah ... Sachi minta maaf ya" kata Sachi sambil mencium kedua pipinya Rama kemudian memeluknya.


"Minta maaf buat apa?" tanya Rama heran Sachi bisa se sweet ini.


"Sachi nangis melulu, kata Aunty Izza, anak besar ga boleh nangis, yang nangis itu anak bayi" jelas Sachi.


"Jadi anak Ayah ini bayi atau anak besar?" tanya Rama.


"Anak besar dong .. liat nih Sachi bisa jalan, kalo bayi kan ga bisa jalan, digendong sama susternya" kata Sachi.


"Good girl .. ayo habiskan makanannya biar tambah jadi anak besar" ajak Rama.


Kini Rama bergabung dengan Izza.


"Ga ambil sarapan Za?" tanya Rama.


"Ya nanti, biar Sachi sarapan sampe kenyang dulu" jawab Izza.


"Hari ini ikut saya nemenin Sachi main ya ke Mall. Udah lama saya ga quality time sama dia. Jangan khawatir, saya udah minta ijin ke Mba Gita. Nanti pulangnya saya antar sampe depan rumah kamu" jelas Rama.


"Ga bisa pergi berdua sama Sachi aja?" tanya Izza.


"Sachi kayanya lagi akrab sama kamu, apalagi dia minta dibelikan mukena. Di Mall ada kan?" kata Rama.


"Gapapa lah, demi Sachi. Jangankan mukena yang mahal, apapun yang saya punya aja siap saya berikan buat dia" ucap Rama.


"Aunty .. makan aja sekarang. Sachi bisa kok makan sendiri" ujar Sachi.


"Ya .. Sachi mau diambilin makanan lagi?" tanya Izza.


"Udah kenyang" jawab Sachi.


"Sachi hari ini mau jalan-jalan ga? sama Ayah dan Aunty Izza" tawar Rama.


"Mau .. mau ... mau .." Sachi tampak antusias.


"Sekarang Sachi sama Mang Ujang dulu ya, Ayah mau ngobrol sama Aunty Izza sebentar aja" pinta Rama memohon.


Mang Ujang yang baru datang ke Restoran untuk sarapan langsung bingung.


"Mang .. bawa dulu Sachi liat kolam ikan" perintah Rama.


"Saya mau sarapan dulu Mas Boss. Itu ada Izza, minta tolong aja dulu buat jaga Sachi" jawab Mang Ujang.


Rama memberikan kode mata buat Mang Ujang.


"Ayo Ade Sachi ... Mang Ujang anterin liat ikan" ajak Mang Ujang rada takut sama tatapan Mas Bossnya.


.


"Kita ambil makanan dulu yuk, nanti ngobrol sambil sarapan" ide Rama.


Izza mengikuti langkah Rama menuju meja makanan.


"Pagi Mas Rama.. mau sarapan apa?" tanya pelayan yang standby melayani tamu.


"Tenang aja, saya bisa ambil sendiri" jawab Rama.


"Baik Mas" jawab pelayan dengan sopan.


Izza mengambil bubur ayam dan omelet, sedangkan Rama mengambil nasi goreng dan lauk pauk yang disajikan.


Mereka menikmati sarapan di meja yang sama. Banyak karyawan yang memperhatikan keduanya, termasuk Mba Anindya dan Ceu Lilis.


.


"Beneran itu pacarnya Mas Rama?" bisik karyawan.


"Kata supirnya Mas Rama bukan, masa kalo pacarnya diminta tolong jadi asistennya Ceu Lilis, ga mungkinlah. Apalagi Ceu Lilis bukan artis, masih penyanyi kampung" jawab karyawan lainnya.


"Tapi semalam kata security mereka keluar Hotel dan balik hampir tengah malam. Bawa anaknya Mas Rama" kata lainnya.


"Mas Rama duda?" tanya karyawan wanita kaget.


"Single tapi punya anak satu" jawab lainnya.


"Anak angkat?" tanya karyawan wanita itu lagi.


"Bukan, anak kandungnya. Kebablasan waktu SMA, ga tau Ibunya kemana, yang jelas Mas Rama yang ngasuh dari bayi" jelas karyawan yang memang dulu sempat bekerja di Kantor pusat Abrisam Group.


"Wow.. Don Juan juga nih Boss kita. Jangan-jangan itu calon korban terbarunya. Keliatan tuh cewe masih polos banget" ucap karyawan lainnya.


.


"Za .. maaf jadi ngerepotin kamu. Seminggu yang lalu saya dapat telepon dari gurunya Sachi di sekolah. Sachi banyak berubah setelah ada perayaan Mother's day di sekolah. Saat itu yang hadir saya, semua murid kasih bunga ke Mamanya, Sachi memberikan ke saya. Wajahnya amat sedih saat itu, tapi dia ga bisa mengucapkan apa yang dia rasa. Ya makin besar, dia memang makin rindu sosok seorang Ibu. Padahal saya udah sering ajak ke makam Mamanya dan menjelaskan kalo Mamanya sudah tidak ada di dunia ini" jelas Rama.


"Ditambah Kakak sibuk mempersiapkan soft opening ini ya, makin aja merasa kesepian" jawab Izza.


"Bisa dibilang dia ga dapat sosok wanita di rumah, terlepas dari para pengasuh dan asisten rumah tangga banyak yang wanita ya, tapi yang dia butuhkan bukan mereka, paham kan maksud saya?" ucap Rama.


"Jadi mengajak saya hari ini buat mengobati lukanya atas acara itu?" kata Izza.


"Ya .. saya ingin menebusnya. Jadi tolong bantu saya Za, saya akan bayar kamu .. kamu sebut aja berapa.. akan saya langsung transfer" harap Rama.


"Free of charge alias gratis Kak. Anggaplah sebagai rasa terima kasih saya sama Kakak dan Pak Isam" jawab Izza.


"Makasih banyak Za. Dia ga pernah bisa cepat beradaptasi dengan orang yang baru dikenal, tapi sama kamu bisa langsung cair. Ingat waktu di IGD dulu? dia langsung memanggil kamu Bunda. Dan semalam pun begitu, dia ga mau pisah dari kamu. Dia menemukan sosok Ibu dalam diri kamu Za" papar Rama.


Izza yang lagi minum sampe keselek. Rama lari mengambilkan tissue di meja makan dan buru-buru memberikan ke Izza.


"Saya harap kamu ga salah persepsi ya Za. Saya bukan sedang meminta kamu menjadi Ibunya Sachi. Mba Nay ga akan bisa tergantikan oleh siapapun" ujar Rama meluruskan maksud pembicaraan yang tadi.


"Iya .. saya paham Kak. No heart feeling kok. Mungkin kalo wanita lain berada diposisi saya pastinya akan mengharapkan lebih, tapi ga sama saya. Kak ... boleh saya mengutarakan sesuatu?" tanya Izza.


"Silahkan" jawab Rama.


"Melihat Kakak pertama kali, seperti ada sebuah hal yang saya ga tau bagaimana mendefinisikannya. Ada rasa berharap Kakak bisa membantu memecahkan banyak teka-teki dalam hidup saya. Bertemu sama Kakak seolah perasaan dendam saya hilang" ucap Izza dengan lancar.


"Dendam? dendam sama siapa? dendam untuk hal apa?" tanya Rama.


"Maaf ... saya salah ucap" kata Izza yang lupa menjaga omongannya hingga keceplosan.


"Za ... are you okay?" tanya Rama menyakinkan.


"Ya .. kapan kita jalan?" Izza mencoba keluar dari pembicaraan dengan Rama.


"Jam sepuluh ya, saya mau nunggu berkas dulu" kata Rama.


"Saya permisi mau siap-siap dulu. Ada beberapa barang yang belum saya rapihkan" pamit Izza.


Izza mau menuju kamarnya, Sachi terus mengikuti Izza dari belakang seolah ga mau berjarak sama Izza.


Izza menuntun tangan kecilnya Sachi, menunggu didepan pintu lift.


"Mba Nay ... saya mampu menukar kebahagiaan demi Sachi, saya mampu mengorbankan apapun yang saya punya untuknya. Saya mampu memberikan cinta yang dia pinta. Tapi saya tetap tidak bisa menggantikan sosok Ibu dalam hidupnya. Maafin saya ya Mba" ucap Rama dalam hati ketika melihat Izza dan Sachi dari belakang.


.


"Dia adalah anak manis yang sejak kecil sudah berkalang kesedihan. Tidak memiliki seorang Ibu untuk dijadikan sandaran hati atau sekedar bermanja. Padahal, diusianya yang masih belia, ia masih menginginkan kasih sayang. Perjalanan hidup anak yang telah ditinggal orang tua memang tidak sama seperti anak yang memiliki orang tua lengkap. Saya pun tau bagaimana perasaan seorang anak ini yang sedang merindukan kasih sayang orang tuanya secara utuh. Ketika anak-anak lain dapat bercerita dan mengadu kepada Ibunya, Sachi ga bisa, apa daya Ibunya sudah berpulang ke Rahmatullah. Saya punya Ibu panti sebagai tempat mengadu dan mendapatkan sosok Ibu dengan segala kasih sayangnya tapi hidup dalam bayang-bayang kata balas budi sama Mba Gita. Sedangkan Sachi punya kasih sayang Ayahnya dan pemenuhan segala kebutuhan hidup tanpa harus memikirkan nasibnya akan cerah atau tidak, tapi jiwanya hampa karena ga ada sosok wanita sebagai Ibu di rumah. Ya Allah .. jika pertemuan kami untuk saling melengkapi, berilah kasih sayang diantara kami" ucap Izza dalam hatinya, tanpa sengaja ada air mata berkumpul disudut matanya.


.


"Sachi kapan datang? tadi Mba tegur malah kabur" adu Mba Anindya ke Rama.


"Semalam Mba, kangen berat sama Ayahnya yang ganteng ini .. hehehe" canda Rama.


"Oke deh .. Mba pulang dulu ya, see you" pamit Mba Anindya.


.


Jam sembilan pagi Ceu Lilis sudah siap pulang, jadwal kepulangannya dimajukan atas permintaan Ceu Lilis. Rama sudah membelikan banyak oleh-oleh untuk keluarga Ceu Lilis. Bayaran manggung pun sudah diberikan plus bonusnya.


Kepulangan Ceu Lilis dipercepat karena Ibunya jatuh saat akan pindah dari kursi roda ke tempat tidur. Rama sudah meminta penjaga villa untuk melihat keadaan Ibunya Ceu Lilis.


"Makasih ya A' ... bukan Lilis ga mau lama-lama, tapi kasian adik-adik juga. Ibu kan udah terbatas gerakannya" kata Ceu Lilis.


"Kalo ada apa-apa kabarin ya Lis" pinta Rama.


.


"Mas Boss .. ini dokumen yang Mba Gita kasih, tadi supir kantor yang antar kesini" kata Mang Ujang.


"Makasih, taro di mobil aja" perintah Rama.


"Jadwal kita hari ini mau kemana Mas Boss?" tanya Mang Ujang lagi.


"Mang Ujang saya kasih libur, Senin baru jemput saya ya di rumah kaya biasa" papar Rama.


"Bener nih Mas Boss?" tanya Mang Ujang meyakinkan.


"Bener ..." jawab Rama.


"Alhamdulillah ... saya mau pulang kampung, temen saya nikah. Pulang bareng Ceu Lilis aja ah" kata Mang Ujang.


"Mang ... ini buat sarapan" ujar Rama sambil memberikan uang seratus ribuan ke Mang Ujang.


"Kan saya sarapan disini Mas Boss, Ceu Lilis juga masih nunggu mobil" kata Mang Ujang.


"Sarapan udah habis, para tamu doyan banget sama menu yang disajikan. Jadi Mang beli aja diluar" jelas Rama.


"Ya ampunnn ... nasib... nasib.... nginep di Hotel tapi sarapannya diluar Hotel. Mas Boss sih tadi minta saya bawa Sachi liat ikan. Jadinya rejeki saya kepatil ikan deh" kata Mang Ujang memelas.