
Rama sedang ada meeting didaerah Kemayoran, begitu keluar dari sebuah Apartemen yang akan direnovasi dan penambahan unit baru, Rama melihat Ibu Panti Asuhan sedang berdiri dipinggir jalan sambil melihat HP.
"Assalamu'alaikum Bu.." sapa Rama yang mencium tangan Ibu Panti Asuhan.
"Waalaikumsalam.. Nak Rama.. ya Allah.. sudah lama ga ketemu, terakhir saat nikah. Bagaimana kabarnya? Izza sehat?" tanya Ibu Panti Asuhan.
"Alhamdulillah kami semua sehat, Ibu juga tampak lebih segar sekarang" kata Rama.
"Alhamdulillah.. sedang apa disini Nak Rama?" tanya Ibu Panti Asuhan.
"Habis meeting, Ibu mau kemana?" ucap Rama.
"Habis mengunjungi teman di Apartemen ini, mumpung Ibu sedang ada jatah libur. Sekarang mau iseng muter-muter daerah sini aja sambil cari makan siang, kelamaan ngobrol sampai lupa waktu, sekarang sudah jam satu siang, teman Ibu juga tadi mendadak ada keperluan, jadinya langsung pergi. Daripada disini sendiri kan mendingan jalan-jalan" jelas Ibu Panti Asuhan.
"Kebetulan Bu.. saya juga belum makan siang, kita bareng aja. Sebentar ya saya panggil supir saya dulu untuk antar kita ke restoran" kata Rama.
"Merepotkan saja Nak Rama" ujar Ibu Panti Asuhan.
"Ga repot kok Bu.. kan saya ga masak atau menghidangkan.. hanya pesan terus makan deh" canda Rama.
"Masih aja Nak Rama suka becanda. Izza pasti bahagia hidupnya sekarang.. punya suami yang bisa dikatakan paket komplit" puji Ibu Panti Asuhan.
Rama hanya tersenyum, dia menelepon Mang Ujang untuk menjemputnya di Lobby.
🏵️
"Za... kamu ada masalah sama Rama? Papi perhatikan sudah sama-sama cuek. Boleh Papi tau? ya siapa tau bisa membantu memberikan masukan" tanya Pak Isam saat Izza sedang mencetak kue kering seorang diri di halaman belakang.
"Ga ada Pi" jawab Izza yang ga mau mandang kearah Pak Isam.
"Za.. mata Papi mungkin tidak sebagus dulu daya penglihatannya, tapi Papi punya mata hati yang berkata kalian sedang tidak baik-baik saja. Setiap hari pisah ranjang, Rama juga seperti menghindar dengan pergi pagi dan pulang larut malam. Kamu juga sibuk bantuin Mas Haidar. Jika ada waktu senggang kamu iseng buat makanan.. bukan kalian banget seperti ini" papar Pak Isam.
"Izza rapihin ini dulu ya Pi.. tinggal dipanggang bisa titip ke Mba di dapur. Sekalian mau cuci tangan" ijin Izza sambil membawa adonan yang sudah dicetak ke dapur.
Sepuluh menit kemudian, Izza kembali duduk di gazebo belakang. Dia membawakan dua gelas jus melon ke gazebo.
Dengan sisa-sisa keberanian yang dia punya, Izza menceritakan semuanya ke Pak Isam. Menurut pemikiran Izza, jika Rama saja sudah tau, maka Pak Isam pun berhak tau.
Gurat kecewa, sedih, kasian dan marah terlihat di wajah tuanya Pak Isam. Tampak Izza berusaha menahan air matanya karena tidak ingin terlihat tidak baik-baik saja.
"Maafkan Izza Pi" ucap Izza dengan tulus.
Pak Isam menghela nafasnya dengan berat.
"Papi kecewa kenapa kamu yang melakukan hal ini. Selama ini Papi sudah menganggap kamu seperti anak kandung Papi sendiri. Menurut Papi adalah sesuatu yang wajar jika Rama marah" ujar Pak Isam.
"Iya Pi.. Kak Rama berbuat seperti ini pun memang tidak salah. Izza yang salah" kata Izza.
"Ga ada solusi yang bisa kalian upayakan?" tanya Pak Isam.
"Izza sudah menyerahkan semuanya ke Kak Rama.. Izza pasrah Pi" jawab Izza.
"Papi juga bingung ya harus bagaimana, hanya kalian berdua yang tau solusinya. Jika kamu benar-benar cinta dan sayang sama Rama .. perjuangkan. Jika semua ini masih kamu anggap sebagai sebuah misi untuk menghancurkan keluarga kami.. maka hentikan sampai disini Za. Papi ga mau semuanya serba berlarut-larut.. Papi akan segera bicara sama Rama. Hasilnya seperti apa, Papi harap kalian bisa saling legowo dan pakai kepala yang dingin untuk memutuskan segala sesuatunya" ungkap Pak Isam.
"Iya Pi .. sekali lagi Izza minta maaf ya Pi.. walaupun berniat ga baik, tapi segala cinta dan kasih sayang Izza kepada keluarga ini bukan sebuah skenario Pi" kata Izza.
"Inilah hidup Za.. selalu ada konsekuensi terhadap sebuah pilihan.. Hidup ini ga selurus jalan tol. Tapi ada belokan kiri dan kanan yang membuat kita harus lebih berhati-hati dan mencari pegangan yang kuat agar bisa sampai ke tujuan dengan selamat. Hidup ini juga tidak setenang aliran sungai. Terkadang ada banjir bandang yang siap menerjang. Kita harus selalu waspada, agar tidak terbawa arus yang bisa membelokan kita dari arah yang seharusnya kita tuju. Selalu berdo'a dan berserah diri kepada Allah SWT, manusia hanya bisa berusaha sedangkan yang menentukan hasilnya hanyalah Allah SWT" nasehat Pak Isam.
"Iya Pi" jawab Izza.
Izza mendengarkan dengan penuh penghayatan setiap perkataan Pak Isam. Terlihat sekali Pak Isam berusaha tidak memihak, tapi hati kecilnya sebagai orang tua besar kemungkinan berada dipihak Rama.
🏵️
Rama akhirnya kelepasan ngomong tentang hal yang sedang menimpa rumah tangganya. Ibu Panti Asuhan sudah tau cerita ini dari mulut Izza sendiri melalui sambungan telepon. Ibu Panti Asuhan pula yang menyarankan Izza untuk berterus terang ke Rama.
"Ibu sudah dengar senuanya. Ibu juga sudah memberikan gambaran ke Izza jika kejujurannya harus dibayar mahal. Libatkan Allah Nak Rama, Izza pun hancur juga perasaannya, sama seperti Nak Rama sekarang. Sejak dia diantar ke Panti Asuhan, anaknya lebih banyak diam, ketika sudah tau kisah hidupnya, wajar dia seperti itu. Dia ga bisa speak up tentang apa yang menimpanya. Banyak yang harus dia pendam sendiri karena tidak pede harus membuka cerita hidupnya ke orang lain. Tapi dia anak yang sangat rajin, apa saja dikerjakan. Selain itu dia juga telaten sama anak-anak. Jarang Ibu melihat dia tertawa, sekedar tersenyum aja susah. Tapi sejak menikah sama Nak Rama, banyak mengubah dunianya. Dia mulai bisa rileks, gampang ketawa, udah bisa becanda. Ibu kira dia sudah menemukan kebahagiaan yang dia cari, hingga cerita itu dia sampaikan ke Ibu. Sebagai orang tua, pasti segala rasa tertumpah saat itu juga. Menyalahkan dia pun rasanya tidak ada guna. Toh dia tidak minta dilahirkan dalam posisi seperti sekarang ini. Latar belakang keluarga yang tidak jelas membuatnya jadi krisis percaya diri. Ditambah oleh kasus penculikan kemarin. Apalagi jika orang-orang membicarakan tentang dia yang amat sangat disayangkan menjadi pendamping seorang pemimpin perusahaan ternama .. Ibu hanya bisa membayangkan bagaimana beratnya jadi dia. Kelemahannya dia tuh gampang kasian sama orang dan selalu ingin orang yang dia sayangi bisa bahagia meskipun dia sendiri sengsara" jelas Ibu Panti Asuhan.
"Saya ga bisa mempermainkan sebuah pernikahan Bu, itu janji saya sama Allah, bukan sekedar sama manusia. Kok dengan sadarnya dia mempermainkan pernikahan ini. Itu sih poin yang buat saya kecewa" ucap Rama dengan amat sangat kecewa.
"Nak Rama... Ibu menyerahkan keputusan ditangan kalian. Kalian sudah dewasa, tau mana yang baik dan tidak. Tapi pesan Ibu, jika Nak Rama sudah tidak bisa menerimanya kembali, lepaskan dia secara baik-baik, kembalikan Izza ke Ibu, insyaallah Ibu ada tempat untuk dia di Panti Asuhan. Dulu kamu datang ke Ibu memohon do'a restu dan mengambilnya secara baik-baik, kini kamu datang dengan banyak kekecewaan. Ibu sudah siap menerima apapun kondisinya. Mungkin nanti ada rejekinya dia di tempat Ibu yang sekarang. Toh dia bisa bantu-bantu Ibu seperti dulu" pinta Ibu Panti Asuhan.
"Saya akan berdiskusi dengan keluarga dulu Bu. Saya juga mau ngobrol dari hati ke hati sama Izza juga. Tapi sekarang saya masih belum bisa menghadapi Izza dengan ketenangan yang saya punya. Jadi saya memilih untuk menghindar dulu. Saya ga mau ada masalah dikemudian hari. Saya mulai dengan baik, maka saya juga akan menyelesaikan dengan baik-baik" ungkap Rama.
"Makasih ya Nak Rama, sudah sayang sama anak Ibu selama ini. Terima kasih sudah jaga anak Ibu. Kalian sudah berjodoh, kalaupun harus terpisah itu karena Allah ingin kalian menjadi lebih baik lagi kedepannya. Mohon maaf jika Izza salah langkah saat memutuskan untuk menikah, semoga dia belajar banyak dari semua kejadian yang menimpanya. Membuatnya lebih kuat lagi kedepannya" ujar Ibu Panti Asuhan penuh haru.
"Ya Bu... terima kasih sudah selalu jadi orang tua buat kami, selalu mensupport apapun yang kami lakukan" ucap Rama sambil menggenggam tangan Ibu Panti Asuhan.
Orangtua mana yang tidak sedih mendengar rumah tangga anaknya seperti diujung tanduk. Gejolak emosi pasti mendera, ikut meratapi kesedihan anak. Seperti yang Ibu Panti Asuhan rasakan sekarang ini. Walaupun percaya jika Rama dan Izza pasti akan memakai akal sehatnya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada, tetap saja kesedihan tidak bisa beliau sembunyikan.
💠
Izza masih berbincang dengan Pak Isam, Sachi yang baru bangun tidur langsung menghampiri Izza. Kondisinya menangis saat datang.
"Anak Mommy kok nangis? kenapa Mba Nur?" tanya Izza.
"Bangun tidur sudah nangis, saya tanya malah nyari Mommynya" lapor Mba Nur.
Izza memeluk Sachi agar Sachi bisa lebih tenang.
"Mommy... tadi Sachi mimpi kalo Mommy pergi ninggalin Sachi" adu Sachi dengan suara yang parau.
Izza dan Pak Isam saling berpandangan.
"Itu kan mimpi.. sekarang buktinya Mommy ada kan?" tanya Izza mencoba meyakinkan Sachi.
Sachi seperti mempunyai ikatan batin yang kuat dengan Izza, anak ini sudah seminggu terakhir menanyakan kenapa Mommy dan Ayahnya tidak tidur bersama di kamar atas. Sachi tidur bersama Izza di kamar Mba Mentari atau kamar Sachi, sedangkan Rama tidur sendiri. Izza selalu memberikan alasan kalo Rama butuh sendiri untuk menyelesaikan pekerjaannya, jadi kalo ada Sachi dan Izza pasti Rama akan terganggu.
.
Sore hari Mas Haidar pulang kerja, dia membawa sayuran organik. Pak Isam sudah request ke Izza untuk dimasakin, Pak Isam juga sudah menelpon Rama untuk makan malam bersama.
.
Rama sampai rumah selepas Maghrib, Izza dan Sachi sedang di dapur. Pak Isam dan Mas Haidar tampak juga ada disana. Rama melihat betapa keluarga amat sangat sayang sama Izza. Apalagi Pak Isam, beliau bahagia punya anak perempuan lagi.
Menu makan malam untuk keluarga inti berbeda dengan orang-orang yang ada di rumah karena Mas Haidar membawakan sayurannya sedikit. Pak Isam minta dibuatkan
sayur bening bayam, bakwan jagung dan ikan bandeng presto oleh-oleh dari kawannya Pak Isam dari Semarang.
Rama yang sudah mandi, segera turun ke meja makan. Disana keluarga sudah menunggunya untuk makan malam.
Pak Isam juga meminta semua pekerjanya untuk keluar dari rumah, hanya ingin lebih intim dengan keluarga inti. Sachi sedang belajar ditemani oleh Mba Nur di kamarnya. Tadi sudah disuapin makan terlebih dahulu sama Izza.
.
"Kalian lagi ribut ya?" tembak Mas Haidar yang sudah ga tahan menahan pertanyaan ini sejak seminggu yang lalu.
"Ceritanya mau disidang nih?" ucap Rama dengan entengnya.
Izza mengambilkan nasi ke piring Rama dan Pak Isam.
"Udah pada tua.. malu kalo ga bisa menyelesaikan secara baik-baik. Mas diam bukan ga peduli, tapi memberikan ruang kepada kalian untuk menyelesaikannya sendiri, rupanya bukannya ada solusi malah makin menjadi. Segala pisah ranjang juga, ga kasian sama Sachi? Kalian kira Mas ga tau kalo Rama tidur sendiri di kamar sedangkan Izza di kamar Mba Mentari" ungkap Mas Haidar yang sudah gemes sama pasangan yang ada dihadapannya.
"Mas sudah tau belum ceritanya?" tanya Rama santai.
"Sebenarnya Mas ga mau tau, tapi kalo butuh pandangan, bisalah Mas berikan. Ayo siapa yang mau cerita" jawab Mas Haidar.
"Papi... Mas Haidar... Sudah pernah berumah tangga terlebih dahulu dari kalian. Kalo memang butuh nasehat Papi, silahkan ngomong aja ... kalian kan anak Papi semua, jadi ga perlu sungkan" ucap Pak Isam.
Izza dan Rama makan sambil diam.
"Kamu akan tetap jadi anak Papi Za, sekalipun kamu tidak menikah sama Rama pun .. kamu tetap anak Papi. Papi kenal sama orang tua kamu, Papi tau bagaimana kamu dulu di Panti Asuhan dan sekarang Papi bahagia ada kamu di rumah ini" ucap Pak Isam yang langsung menghampiri Izza kemudian memeluknya.
Izza akhirnya menangis dalam pelukan Pak Isam.
"Maafkan Izza ya Pi.. sudah bikin Papi kecewa. Maafkan Izza yang ga bisa menjadi anak yang baik buat Papi" kata Izza.
"Menangislah Za... kalo itu bisa membuat kamu lebih lega. Papi tunggu diantara kalian buat berbicara sama Papi, tapi kalian kayanya ga mau buat Papi cemas. Papi hargai itu, tapi sebagai orang tua, paling tidak.. Papi bisa kasih wejangan" ucap Pak Isam.
"Ini salah Izza Pi..." jawab Izza.
"Disini ga ada yang salah atau benar, tapi yang ada adalah bagaimana kalian saling legowo dan ikhlas dengan cobaan ini" ungkap Pak Isam.
"Ya Pi" jawab Izza yang udah mulai tenang.
Pak Isam melepaskan pelukannya dan kembali duduk di kursi.
"Kamu anak baik Za... Rama pun sama, kalian hanya terjebak disituasi yang ga kalian duga sebelumnya. Papi yakin kalian masih saling mencintai. Apa ga bisa semua diperbaiki?" tanya Pak Isam sambil melihat Rama dan Izza secara bergantian.
"Berat banget kesalahan Izza sama Kak Rama Pi, Kak Rama layak dapat yang lebih baik dari Izza" jawab Izza sambil menghapus air matanya.
Rama masih tidak berkomentar.
"Kesalahan apa sih Za? kok sampai seperti ini. Kamu juga Ram.. kok bisa kembali kesetelan semula? Mas kira kamu sudah banyak berubah dan lebih sabar. Ternyata baru cobaan menerpa begini aja sudah babak belur" ujar Mas Haidar.
"Izza aja yang cerita ya.. Rama ga bisa cerita" jawab Rama.
Cerita mengalir dari mulutnya Izza. Wajah Mas Haidar berubah berwarna merah menahan amarahnya.
"Parah kamu Za... ga nyangka wanita seperti kamu kaya gini. Apa yang kamu cari selain menukar perlindungan saudara kamu? harta? Mas kecewa Za... " ungkap Mas Haidar.
"Maaf Mas..." jawab Izza pelan.
"Terserah sama kamu Ram... Mas angkat tangan untuk hal ini. Kalo mau dibawa marah ya pasti marah, adik satu-satunya dipermainkan sebodoh ini. Tapi kalo kalian masih saling cinta mau gimana lagi? go head" kata Mas Haidar.
Rama pamit masuk ke kamar terlebih dahulu. Sama halnya dengan Mas Haidar.
Hanya tinggal Pak Isam dan Izza di meja makan. Izza kemudian merapihkan meja makan dan mencuci piring di dapur. Pak Isam memperhatikan dari kursi meja makan.
.
"Mba Izza nyuci piring tuh, ntar disangka kita ga kerja" ucap asisten rumah tangga.
"Ada apa sih sampai semua ga boleh masuk ke rumah?" tanya Mang Ujang.
"Emang Mang Ujang ga tau kalo Mba Izza dan Mas Rama lagi perang dingin?" tanya asisten rumah tangga lainnya.
"Perang dingin? lempar-lemparan batu es gitu?" ucap Mang Ujang.
"Udah A'.. ga usah ikut-ikutan atau komentar" sahut Maryam kesal.
"Kayanya lagi disidang sama Pak Isam dan Mas Haidar, nanti kita tanya aja sama Mba Nur, kan dia ada di lantai atas, kali aja dengar pembicaraan yang terjadi di lantai bawah" kata asisten rumah tangga.
"Mas Boss dan Mba Boss tuh bukan lagi berantem, tapi mereka lagi bingung kenapa ga kunjung hamil. Periksa ke dokter kan udah, katanya sehat semua, tapi belum juga berhasil" ujar Mang Ujang sok tau.
"Bener Mang kaya gitu? Mas Rama pernah ngomong ke Mang Ujang?" tanya security.
"Eh .. yang namanya supir pribadi itu adalah orang yang memegang banyak rahasia Boss. Masa ga percaya" jawab Mang Ujang.
"A'.. jangan menyebarkan berita jika tidak benar. Kalaupun benar Aa' memegang rahasia Mas Rama, maka sebaiknya tetap dipegang amanah tersebut" saran Maryam.
"Tau nih Mang Ujang mah dari dulu mulutnya ember banget" sahut security.