
Rama ga berangkat sholat subuh berjama'ah di tempatnya Abah Ikin, dia baru tidur setelah sholat subuh di villa, Izza juga baru tertidur sekitar jam tiga dinihari dan melanjutkan tidur setelah sholat subuh berjama'ah sama Rama.
Jam enam pagi, suasana villa sudah ramai, para asisten rumah tangga juga sudah menyiapkan sarapan untuk dinikmati bersama.
"Rama ga keliatan nih .. dia belum bangun?" tanya Pak Isam.
"Tadi subuh sudah bangun Pak, bikinin Sachi susu terus kayanya tidur lagi" jawab Mba Nur.
"Tumben dia tidur lagi abis sholat subuh, biasanya ga tidur juga kuat kok beraktivitas seperti biasa" ucap Pak Isam.
"Cape kali Pi.. Izza juga belum keluar dari kamar kayanya. Masih betah kali bertiga kruntelan" kata Mas Haidar.
"Kayanya mereka semalam udah masuk kamar dari jam sepuluh lewat, emang sih Rama masih mondar-mandir keluar masuk kamar aja, tapi kan ga ikut begadang sama kita. Rama itu sehari paling bisa tidur sekitar dua jam aja, kok sekarang udah langsung KO" lanjut Pak Isam.
"Papi kaya ga pernah jadi pengantin baru aja. Kejar setoran lah Pi. Kan Sachi udah bilang mau punya adik biar ada temannya. Memangnya Papi ga bahagia kalo dapat cucu lagi?" kata Mas Haidar.
"Ya bahagia dong, Papi malah bersyukur kalo memang mereka berdua menjalankan komitmen pernikahan. Papi kemarin sempat ragu, tapi kalo melihat seminggu ini Rama selalu tidur di kamar bareng Izza, walaupun bukan di kamar Rama, tapi Papi lega" ucap Pak Isam.
"Kamar Rama itu cowo banget Pi, lagipula banyak berkas-berkas kerjaan milik Rama. Daripada ga nyaman ya mending di kamar Mba Mentari, tempat tidurnya juga besar, kalo Rama kan kasur nomer dua, ya ga nyaman untuk tidur berdua" papar Mas Haidar.
"Dia belum bilang mau renovasi, Papi sih tunggu dia yang ngomong duluan. Tapi ya kadang adikmu itu kan suka out of the box, jalan pikirannya sudah ditebak. Yang penting satu pinta Papi.. ga boleh ada yang keluar dari rumah Papi. Nanti kamu juga sama, stay disana bareng-bareng" harap Pak Isam.
Kunci kamar terdengar dibuka, Rama dan Sachi keluar dari kamar, keduanya masih muka bantal, karena lapar, jadi mereka keluar kamar.
"Papa...Opa..." panggil Sachi.
"Bangunnya kesiangan ya Sachi.. sini duduk sebelah Papa" ajak Mas Haidar.
Sachi dan Rama duduk di kursinya meja makan. Sachi duduk disebelahnya Mas Haidar dan Rama duduk disebelahnya Pak Isam.
Para asisten rumah tangga sedang sarapan juga, mereka makan bareng lesehan di ruang tengah.
"Izza kemana?" tanya Pak Isam.
"Tidur" jawab Rama.
"Tumben masih tidur.. biasanya udah ada aja yang dikerjain setiap pagi. Bangunin dulu sana Ram.. biar sarapan bareng" pinta Pak Isam.
"Jangan Pi .. kasian... abis begadang dia" kata Rama sambil menuangkan teh hangat kedalam cangkir.
"Iya Opa... Mommy itu semalam sakit" ujar Sachi.
"Sakit? kok kamu ga bilang Ram? semalam kenapa ga dibawa ke dokter? gimana sih kamu Ram.." tanya Pak Isam agak khawatir.
"Disini mana ada dokter dua puluh empat jam, lagipula Izza ga mau dibawa ke dokter" jawab Rama.
"Semalam kan Mommy sakit tuh ya... sama Ayah diusap-usap" mulai Sachi bicara.
Seketika ruangan hening menunggu celotehannya Sachi yang pasti akan jujur apa adanya.
"Diusap-usap? Mommy sakit apa kok diusap-usap?" tanya Mas Haidar iseng.
"Sachi semalam bangun? Ayah liat Sachi tidur nyenyak deh" kata Rama sambil mengambil pisang goreng yang ada dihadapannya.
"Bangun, tapi Sachi merem matanya ... Sachi liat tangan Ayah masuk ke bajunya Mommy, terus dipakein bedak kebadannya Mommy" bongkar Sachi.
Pak Isam melotot kearah Rama, Mas Haidar dan yang ada di ruang tengah mencoba menahan tawa.
"Terus Ayah ngapain lagi? Aduh Ayah sayang banget ya sama Mommy sampai pakein bedak ke badannya Mommy" korek Mas Haidar makin iseng.
"Ga gitu ceritanya..." sahut Rama.
"Anak kecil tuh ga pernah bohong .. ayo terus Sachi cerita... Ayah sama Mommy ngapain lagi habis dikasih bedak" lanjut Mas Haidar dengan senyuman penuh makna.
"Terus Ayah usap-usap tangannya Mommy... terus lehernya... pake bedak semua. Mukanya Mommy udah kaya hantu pakai bedak .. hihihi. Terus Ayah bilang Mommy tidur aja. Pas Mommy tidur dikasih selimut sama Ayah terus Ayah tidur di lantai" papar Sachi dengan gaya anak-anaknya.
Semua sudah tertawa geli, Rama sampe keselek pisang goreng mendengar cerita Sachi. Dia langsung terbatuk-batuk.
Pak Isam menepuk punggungnya Rama, mau membantu sekaligus kesal.
"Kalo mau bermesraan jangan sampai dilihat sama anak kecil" bisik Pak Isam.
"Mesra apanya sih Pi... Rama ga aneh-aneh kok, cuma bantu bedakin punggungnya" jawab Rama.
"Segala tangan masuk kedalam baju kamu bilang ga aneh-aneh. Sachi kan liatnya begitu, dia memang ga tau tangan kamu gerilya kemana, tapi kalo dia cerita kaya gini, orang akan berpendapat kalian sedang bermesraan tapi pakai alasan sakit ke anak biar aman" ujar Pak Isam sambil menjewer telinganya Rama.
Suara gelak tawa makin terdengar bersahutan, apalagi pas Pak Isam menjewer telinganya Rama.
"Izza itu semalam gatal-gatal.. alerginya kambuh gara-gara makan buah kokosan di tempat Abah Ikin, udah gitu ditambah dia memang ga cocok diudara dingin. Minum obat pun ga berefek, akhirnya Rama minta dia pakai bedak aja untuk mengurangi rasa gatalnya" jelas Rama.
"Mba Boss yang gatal apa Mas Boss nih yang gatal.. Hahahaha" ledek Mang Ujang yang disambut suara tertawa lagi dari yang ada disana.
"Ga percaya ya udah" jawab Rama.
"Makanya Mas Boss.. udah tau masih manten baru, gampang timbul tegangan tinggi, eh malah anak ikut tidur bareng, ambyar kan jadinya. Mana anaknya mulutnya lancip kaya saya. Apa aja diomong" sahut Mang Ujang.
Rama diam dan meneruskan sarapannya. Menurutnya percuma menjelaskan lebih dalam lagi karena persepsi semua orang, semalam dia sedang bermesraan sama Izza tapi ketahuan sama Sachi.
"Papa Haidar ... kenapa semua orang tertawa?" tanya Sachi yang ga paham apa yang sedang semua tertawakan.
"Semua bahagia diajak jalan-jalan ke villa ini" jawab Mas Haidar.
"Sachi jangan tidur sama Ayah dan Mommy ya nanti malam. Gimana kalo tidur sama Papa Haidar aja" rayu Pak Isam.
"Sachi maunya sama Mommy, Ayah aja yang tidur sama Opa" jawab Sachi.
"Mommy kan lagi sakit, kasian nanti ga ada yang usap-usap punggungnya Mommy kalo Ayah tidur sama Opa" lanjut Mas Haidar.
"Sachi bisa usap-usap Mommy" jawab Sachi.
"Sachi kan besok sekolah, kalo Mommy sakitnya malam gimana? Sachi bisa bangun untuk urusin Mommy? nanti kalo Mommy minta makan dan minum gimana?" tanya Mas Haidar.
"Iya ya .. ya udah.. nanti malam Sachi tidur sama Mba Nur di kamar Sachi, kan udah lama ga tidur di kamar" jawab Sachi.
"Good girl... ini baru anak Papa" kata Mas Haidar.
Izza keluar dari kamar, sudah segar, sepertinya sudah mandi.
"Za .. udah sehat?" tanya Pak Isam.
"Alhamdulillah udah ga gatal lagi Pi, cuma rasanya masih ngantuk karena pengaruh minum obat alergi" jawab Izza yang duduk disebelahnya Rama.
"Sarapan dulu aja, nanti jam sepuluh kita balik ke Jakarta" ucap Pak Isam.
.
Setelah sarapan Rama menerima tamu, anak sulungnya Abah Ikin.
"Jadi bisa bantu ya Kang?" tanya Rama.
"InsyaAllah A' .. saya biasa mengurus surat-surat orang yang akan nikah ke KUA. Semua yang dibutuhkan sudah saya kirim ya via chat. Berkas Aa' sudah dibawa lengkap?" kata anak sulungnya Abah Ikin.
"Ssttt... jangan ngomongin tentang berkas saya. Disini lagi kumpul orangtua dan keluarga, nanti mereka tau" bisik Rama.
"Punten A' .. oh ya.. kemarin Lilis sudah menyerahkan semua persyaratan berkas-berkas yang dibutuhkan. Tapi ini kapan tanggalnya ya A'? pengajuan kan butuh tanggal" kata anak sulungnya Abah Ikin.
"Untuk tanggalnya, saya sudah minta tolong ke Abah Ikin untuk menentukan kapan baiknya. Nanti Akang bilang saja ke Lilis mengenai tanggalnya, biar mereka siap. Soalnya kalo perempuan mau nikah pasti ada printilan yang lebih ribet" pinta Rama.
"Nanti berkas punya saya akan dikirim via paket dokumen ya Kang, surat numpang nikahnya belum selesai. Nanti kalo sudah keluar, saya kirim kesini" kata Rama pelan.
Izza membawakan kopi susu dan cemilan untuk Rama dan anak sulungnya Abah Ikin. Rama sudah memberikan kode ke anaknya Abah Ikin agar tidak membicarakan tentang pernikahan didepan Izza.
💐
Di mobil Rama terisi Izza, Sachi, Mba Nur dan Alex. Rama yang mengemudikan mobil karena lagi ingin menyetir. Izza duduk disebelahnya. Sachi bersama Alex dan Mba Nur dibelakang. Sebenarnya Alex ga enak hati disupirin sama Rama. Tapi Rama minta Alex untuk istirahat karena semalam begadang bareng Pak Isam dan Mas Haidar.
"Kakak ga beli oleh-oleh buat orang Kantor?" tanya Izza.
"Di mobil yang kemarin bawa sembako, udah terisi banyak oleh-oleh. Orangtuanya Mang Ujang, keluarga Lilis sama keluarga Abah Ikin kirimin ke villa tadi pagi" jawab Rama.
"Ohhh .. tadi sekilas dengar kayanya Lilis mau nikah ya Kak? sama siapa?" tanya Izza.
"Salah dengar kali" kata Rama.
"Mungkin... Oh ya, besok pagi saya bisa ya ke Audah Hotel, setelah antar Sachi. Sekitar jam dua siang baru berangkat ke Kampus, pulangnya sekitar jam delapan malam dari sana" lapor Izza.
"Bukannya jadwal kuliah kamu baru selepas Maghrib?" tanya Rama.
"Iya .. ada diskusi kelompok dulu, kami kan suka susah buat kumpul, jadinya ya sebelum kelas aja kumpulnya. Sebelumnya sudah via zoom kan diskusinya" jelas Izza.
"Oke .. saya juga pulang malam" ujar Rama.
"Mau ketemu Mba Anin ya?" tanya Izza.
"Iya .. susah bikin jadwal sama dia. Makanya besok juga janjian sekalian makan malam" jawab Rama.
"Sama Mas Ivan juga?" ujar Izza.
"Entahlah... terserah Mba Anin aja, toh bisnis kami juga Mas Ivan tau kok" kata Rama.
"Kak... boleh tanya ga?" agak hati-hati Izza berbicara.
"Tanya apa?" tanya Rama.
"Kakak melihat ga sih gelagat Mas Ivan yang aneh?" kata Izza.
"Aneh gimana maksudnya?" tanya Rama belum paham.
"Kan sudah tunangan ya sama Mba Anin, ga ada tuh keliatan mesra atau layaknya pasangan yang mau menikah. Rasanya pasangan itu yang satu ke barat terus yang satu ke timur, jadi ga ketemu" papar Izza.
"Kita aja udah nikah tapi ga kaya orang nikah, yang satu ke utara terus yang satu ke selatan" jawab Rama dengan santainya.
"Terus kalo udah nikah kita mau berkepit aja emangnya?" sahut Izza.
"Bukan gitu .. tapi pola pikirnya kamu tuh yang aneh. Emang setiap pasangan harus gitu selalu berduaan? mereka itu orang-orang sibuk, punya bisnis masing-masing. Apalagi Mas Ivan kan seorang pengusaha batubara, jarang ada di Jakarta. Mba Anin juga sibuk sama urusan butik dan factory outletnya, jadi wajarlah mereka jarang keliatan bareng" jelas Rama.
"Tapi kalo ketemu mereka biasa aja Kak ... " lanjut Izza.
"Kita juga kalo ketemu biasa aja.. maksud kamu apa sih? ngomong tuh ga usah muter-muter deh, langsung aja" selidik Rama.
"Saya kan pernah ikut sama Mba Anin, beliau orang baik. Hanya ga mau aja kalo sampai Mba Anin gagal untuk kedua kalinya. Saya melihat Mas Ivan kaya menyimpan sebuah rahasia. Maaf ya ini kan persepsi saya, ya mungkin aja kan Mas Ivan sebenarnya sudah punya keluarga atau bagaimana gitu. Saya kan pernah liat Mas Ivan, usianya ga beda jauh sama Mas Haidar, yakin masih bujangan?" telaah Izza.
"Hahaha... otak kamu udah sok kaya detektif. Pas acara tunangan kan ada orang tuanya, mereka ga mungkin setuju kalo anaknya itu sudah menikah dengan wanita lain kemudian membuat komitmen baru dengan wanita lainnya lagi. Udah deh.. jangan kebanyakan nonton serial ala-ala James Bond, malah jadi fitnah nantinya" jawab Rama.
"Ya saya kan cuma sayang aja sama Mba Anin, kasian aja liatnya kalo beliau ga bahagia. Mba Anin itu baik banget Kak, sama karyawan ga membedakan. Saya pernah liat mereka bertengkar, bahkan sampai Mas Ivan bilang untuk menunda pernikahan sampai waktu yang ga ditentukan" ujar Izza.
"Waktu kita nikah kan Mba Anin bilang kalo Mas Ivan malah ingin cepat menikah karena ngiri sama kita" kata Rama.
"Ya sih.." jawab Izza.
"Kata orang kan kalo mau menikah pasti ada aja cobaannya, jadi ya mungkin lagi sama-sama emosi jadinya apa yang kamu dengar itu terlontar tanpa sengaja. Toh buktinya mereka baik-baik aja sampai sekarang" ucap Rama.
"Semoga ya ... " jawab Izza.
HP Rama berbunyi, dari Mas Haidar.
"Tolong angkat Za" pinta Rama.
Ternyata Mas Haidar bilang akan rehat di rest area sekalian sholat dan makan siang. Rama diminta menuju rest area yang sudah ditentukan.
💐
Setelah sholat Dzuhur, rombongan makan disalah satu restoran. Semua lebih senang makan yang posisi mejanya diluar saja dibandingkan dalam duduk didalam ruangan.
Setelah makan, Rama dan Mang Ujang ngobrol dibawah pohon depan Musholla, rombongan yang lain masih duduk di restoran. Mang Ujang lagi ngopi, kalo Rama beli es krim.
"Permisi Aa' .. Akang .. Mas.. Abang .. Kakak" panggil seorang lelaki yang berpenampilan seperti perempuan.
Rama dan Mang Ujang tadinya mau kabur karena keduanya rada ngeri sama sosok model kaya gini.
"Ya Mas.. eh Mba.. eh Akang... eh Teteh... eh apa sih ya panggilnya" ucap Mang Ujang rada bingung.
"Maap ganggu nie, akika mau tenyong, boleh dongse?" ucap sosok lelaki berpenampilan unik dengan rok dan stocking jaring-jaring.
"Ngomong apa sih? ga ngerti bahasa begitu, bisa pakai bahasa Indonesia aja ga?" tanya Rama.
"Deeuhhh.. itu kan bahasa gahoooulll, makanya gaul dong" kata lelaki itu.
"Mending ga gaul deh daripada gaul tapi modelnya jadi begini" ucap Rama.
Mang Ujang pindah duduk kebelakangnya Rama. Lelaki berpenampilan wanita ini duduk mendekat kearah Rama.
"Wait .. wait .. jangan dekat-dekat.. bukan mahram" kata Rama.
"Ihh... kita kan sesama lekong... hehehe, tapi akika mah lekong kawe" ucap lelaki itu.
"Lekong apa sih? saya taunya bengkong.. tukang sunat" ujar Rama rada sebel.
"Lekong tuh lelaki .. nakal ya mainnya sunat-sunat aja.. abis dong.. hahaha" ucap lelaki nan lentur kaya karet.
"Gini deh Mas..eh Mba.. apalah panggilannya, sekarang mau apa?" tanya Rama.
"Saya mau tanya dong" kata lelaki itu dengan nada kemayu.
"Oowh .. silahkan mau tanya apa? selagi saya bisa jawab ya akan coba saya jawab, kalo ga bisa nanti kamu bisa tanya ke orang yang lebih paham" papar Rama.
"Saya kan begini nih.. tapi mau gimana ya.. takdir.. terlahir dibadan yang salah. Sholat mau pakai koko dan sarung tapi akika dah pasang silikon didada. Mau pakai mukena masih punya lontong iyong.. jadi menurut Mas baiknya gimana?" tutur lelaki tersebut.
"Gimana ya... ya dalam beribadah harusnya dikembalikan awal kodrat kita seperti apa. Kita terlahir sebagai lelaki ya sampai mati pun harus beribadah sebagai lelaki" ucap Rama.
"Ngomong-ngomong metong... kalo pere metong kan disebut Almarhumah, terus lekong metong disebut Almarhum, nah kalo macam akika kalo metong ntar disebut apa dongse?" lanjut lelaki tersebut.
Rama diam sejenak, otak cemerlangnya seakan sulit menerima pertanyaan seperti ini, sampai dia garuk-garuk kepala yang sebenarnya ga gatal.
"Mmhhh... mungkin ini ya... soalnya saya beneran ga tau. Kayanya kalo modelan kaya gini... nantinya kalo meninggal disebut alumunium kali" jawab Rama asal sambil buru-buru lari.
Mang Ujang ikutan lari begitu melihat Rama lari. Sampe ketinggalan sepatu sebelah kirinya karena tadi lagi dijemur akibat kena tumpahan kopi.
"HeLLLLLLoooowwww.. pleease dong aachhh.. Akika ini banci, bukan panci..!!" geram lelaki gemulai itu sambil melempar sepatunya Mang Ujang.
Banyak orang yang tertawa terbahak-bahak melihat Rama dan Mang Ujang lari sedangkan lelaki setengah matang ini mencak-mencak kearah keduanya.