
Setelah perawatan selama lima hari, Maryam diperbolehkan pulang ke rumah. Kondisi kesehatannya sudah dinilai aman untuk meneruskan recovery di rumah. Tapi kedua anaknya belum bisa keluar dari Rumah Sakit. Kondisi para bayi belum stabil, jadi masih memerlukan perawatan khusus.
Keluarga Abah Ikin dan keluarganya Mang Ujang sudah ikut berembug mengenai biayanya. Orang tua Mang Ujang rencananya akan menjual kebun cabe dan tomat, tidak luas, hanya kurang dari seratus meter. Kedua belah pihak keluarga tidak enak hati dengan keluarga Pak Isam yang sudah banyak menggelontorkan dana hingga mencapai tujuh puluh juta rupiah. Ini masih akan terus bertambah jika kondisi bayi-bayi belum stabil.
.
Selepas ikut menjemput Maryam dan Mang Ujang di Rumah Sakit, Rama dan Izza berbincang di halaman belakang sambil menikmati kudapan di Sabtu sore yang cerah ini. Sachi sedang bermain sepeda ditemani oleh Mas Haidar.
Mba Rani nanti akan menyusul datang kesini, ada acara serah terima jabatan komandannya, jadi harus masuk kantor.
"Kak... kayanya kita pending dulu ya program IVF nya. Melihat kondisi Mang Ujang sekelurga rasanya gimana gitu" buka Izza.
"Maksudnya khawatir kejadian kaya Maryam dan anak-anaknya menimpa kita?" tanya Rama.
"Bukan kearah situ Kak.. itu kan bagian takdir yang ga bisa kita elakkan. Ini lebih kepada prioritas biaya" jawab Izza.
"Kita kan sudah sepakat untuk menyisihkan tabungan kita untuk program ini. Ga ada masalah kok, lagipula gaji Kakak di Abrisam Group dan Audah Hotel cukup kok untuk kita ikut program itu" kata Rama.
"Bukan begitu maksudnya.. Mang Ujang pasti butuh dana lebih sekarang ini. Ada sih mereka simpanan, tapi sudah mulai terpakai, ya namanya pasien ICU ya, terkadang butuh obat yang urgent dan harus ditebus langsung, tidak masuk bill tagihan rawat inap. Kedua keluarga juga sudah bingung Kak.. biayanya ga sedikit, kurang lebih kata dokter anak, bayi-bayi akan ada di NICU sampai usia sebulan" papar Izza.
"Tadinya juga mau bilang begitu, tapi khawatir kamu salah tanggap dan berpikir Kakak yang ga mau ikut program IVF. Apalagi Kakak udah bilang kan mau bantu Farida buat DP pembangunan rumahnya. Lumayan menguras tabungan kita" jawab Rama.
"Kakak ga masalah kan? program kita tingkat keberhasilannya tidak bisa terjamin seratus persen, tapi anak-anak Mang Ujang ini sudah terlahir dan berwujud. Inilah yang Izza maksudkan sebagai prioritas" alasannya Izza.
"MasyaAllah... istrinya Rama memang top markotop. Begini nih kalo ikut kajian ga nyender di tembok, ga sibuk update status di media sosial dan ga ribet urusan rebutan konsumsi. Jadi ilmunya terserap dengan baik.
Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. Allah SWT berfirman : Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri (QS. Al-Isra:7). Seorang muslim diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain, bukan hanya mencari manfaat dari orang atau memanfaatkan orang lain. Terima kasih sudah sering mengingatkan dan memberikan banyak pelajaran dalam hidup" ucap Rama dengan bangganya.
"Kebalik Kak.. Kakak malah yang banyak memberikan input positif dalam hidup Izza. Entah gimana nasib Izza kalo ga menikah sama Kakak" jawab Rama.
"Gimana yaaa... mungkin masih di Panti Asuhan, dikagumi oleh para secret admire, nangis mulu, moody an, kadang jutek .. ya pokoknya gitu deh" ledek Rama.
Izza menyubit lengannya Rama. Keduanya tertawa bersama.
"Deuhhh... bahagia amat sih.. ada kabar apa nih sampai ketawanya kedengaran dari pintu depan" goda Mba Rani yang baru datang.
Izza dan Mba Rani cipika cipiki. Kemudian keduanya duduk di kursi taman.
"Ini Mba Rani.. ada yang tanya, kalo ga ketemu sama saya, nasibnya bagaimana sekarang" ucap Rama.
Izza melotot, merasa malu pertanyaannya ditanyakan ke Mba Rani.
"Nasib orang memang ga ada yang tau .. maaf ya Za, dengan latar belakang keluarga kamu yang bersentuhan dengan permasalahan hukum, bisa jadi kamu akan terjebak didalamnya jika tidak bertemu sama Rama. Bukannya Mba membela Rama ya, tapi dia adalah sosok yang udah paling ideal buat kamu. Bersyukur Za, kalian bisa saling melengkapi, saling mencintai dan saling support. Kalian ini jadi role model buat Mba dan Mas Haidar loh" papar Mba Rani.
"Iya tah Mba? jadi ge er nih" ucap Rama sambil menepuk-nepuk dadanya.
Mereka bertiga tertawa, Mas Haidar yang melihat dari kejauhan, langsung berjalan mendekat karena baru liat ada istrinya disana.
Mba Rani mencium tangannya Mas Haidar, Rama dan Izza senyum-senyum ngeledek.
"Kenapa Ram? kok senyumnya beda" ujar Mas Haidar.
"Penasaran aja kalo polisi pulang terus ketemu sama suaminya gimana" kata Rama.
"Sama aja semua profesi juga, cium tangan atau cipika cipiki" jawab Mas Haidar.
"Ohhh.. kirain ada adegan pasang borgol dulu biar ga kemana-mana.. hahahha" ledek Rama.
"Ada-ada aja imajinasinya" ucap Mas Haidar.
"Mas.. Abahnya Mang Ujang nawarin tanah ga?" tanya Rama.
"Iya.. " jawab Mas Haidar.
"Mau beli? kalo Rama ga Mas.. dananya mepet, kemarin kan buat Mang Ujang aja udah lumayan. Masih ada keperluan lagi Mas" kata Rama.
"Nah itu dia, tabungan ada, tapi kan buat jaga-jaga juga. Mas habis buka toko lagi, belum balik modal" papar Mas Haidar.
"Papi berminat ga ya?" tanya Rama.
"Coba aja tawarin" kata Rama.
⬅️
Abahnya Mang Ujang berbincang dengan Pak Isam saat di Rumah Sakit, keduanya duduk diselasar Musholla. Semalam mereka berbincang setelah Rama dan Mas Haidar tidak berminat dengan tanah tersebut.
"Bagaimana ya Pak Isam, saya sungkan sebenarnya bicara seperti ini, tapi sudah tidak ada solusi lain" buka Abahnya Mang Ujang.
"Bicara saja .. jika saya bisa bantu, InsyaAllah akan saya bantu" jawab Pak Isam bijak.
"Saya langsung saja ya Pak, saya mau jual kebun yang kecil di kampung, surat-surat lengkap, pajak tidak menunggak, selama ini jadi kebun cabe dan tomat saja" kata Abahnya Mang Ujang agak merasa malu.
"Untuk biaya Rumah Sakit ya Pak?" tembak Pak Isam.
"Iya.. saya tidak enak sama keluarga Bapak. Sudah banyak membantu, dana yang diberikan juga tidak sedikit. Apalagi Mas Rama. Atau sertifikat ini sebagai jaminan saja bagaimana Pak? nanti sedikit-sedikit kami cicil biaya Rumah Sakit untuk cucu-cucu kami. Pihak keluarga Maryam juga sudah mengeluarkan dana yang tidak sedikit Pak. Bapak mungkin paham, posisi kita sama-sama orang tua dari pihak lelaki, patutnya saya dan anak saya yang menanggung hal ini. Bapak tau sendiri Ujang itu seperti apa. Baru kerja sama Mas Ramalah dia bisa nabung. Sudah saya ingatkan dari dulu padahal Pak" ungkap Abahnya Mang Ujang makin ga enak hati.
"Begini saja Pak.. nanti saya bicara sama Ujang langsung saja ya. Pokoknya Bapak tidak perlu khawatir, biaya untuk cucu-cucu Bapak akan kami handle dulu" kata Pak Isam.
"Terima kasih banyak Pak.. semoga Allah memberikan keluarga Bapak rejeki yang berkecukupan dan barokah" do'a Abahnya Mang Ujang.
"Aamiin ya rabbal'alamin" jawab Pak Isam.
➡️➡️
Pak Isam yang baru pulang habis bermain golf, ikut berkumpul di halaman belakang bersama anak, cucu dan menantunya.
"Lagi ada konferensi apa nih?" sapa Pak Isam.
Semua mencium tangannya Pak Isam. Mba Rani mengambilkan cangkir untuk Pak Isam di dapur.
"Abahnya Mang Ujang nawarin tanah Pi, kami lagi mepet banget ini neraca keuangannya, Papi minat?" tembak Rama langsung.
"Udah bilang kok semalam sama Abahnya Ujang. Abah Ikin juga bilang kalo keluarga Ujang kaya ga enak hati karena ga bisa memberikan sumbangsihnya untuk biaya Rumah Sakit" papar Pak Isam.
"Jadi Papi sudah deal ya?" tanya Mas Haidar meyakinkan.
"Ujang mana?" tanya Pak Isam.
"Lagi nemenin istrinya Pi" jawab Izza.
"Tolong panggil kesini Za .. Papi mau negosiasi sama dia" pinta Pak Isam.
Izza berjalan menuju kamarnya Mang Ujang. Maryam sedang tidur, Mang Ujang mukanya kaya cucian seminggu ga dicuci, lecek ga karuan.
"Ada apa Mba?" tanya Mang Ujang.
"Kenapa ya Mba?" tanya Mang Ujang lagi.
"Ga tau.. pokoknya ditunggu sekarang juga" sahut Izza.
Izza dan Mang Ujang berjalan menuju tempat duduk Pak Isam.
"Ada apa Boss Papi cari saya?" tanya Mang Ujang.
"Duduk dulu.. muka ga ada semangatnya, harusnya bahagia, sudah dikaruniai dua buah hati sekaligus" ucap Pak Isam.
"Kalo normal-normal aja saya pasti bahagia Boss Papi, tapi kan tau sendiri bagaimana kondisinya sekarang ini. Tabungan sudah terkuras habis, kalo lama dirawatnya bagaimana?" tanya Mang Ujang yang memang sudah serba bingung.
"Gaji kamu double kan ya? dari Abrisam Group dan Audah Hotel" tanya Pak Isam.
"Iya Boss Papi" jawab Mang Ujang.
"Biasa sebulan bawa pulang berapa? sudah semua ya. Total gaji, tunjangan, overtime dan lainnya" tanya Pak Isam lagi.
"Ada sekitar delapan jutaan" jawab Mang Ujang.
"Gede juga ya" sahut Pak Isam.
"Itu belum sabetan lainnya Pi" Rama ikut nimbrung.
"Ya ilah Mas Boss.. sabetan mah buat makan nasi Padang" sahut Mang Ujang.
"Kebutuhan kamu sebulan berapa?" lanjut Pak Isam.
"Berapa ya?" ujar Mang Ujang bingung.
"Kalo ga gini deh.. kamu kasih Maryam semua atau berapa ditabungnya?" kata Pak Isam.
"Kalo saya.. gaji bagi dua Boss Papi, nah yang nabung itu Maryam, kalo saya kayanya sering habis.. hehehe" ujar Mang Ujang.
"Buat apa aja uang sebesar itu? kan makan bareng-bareng disini. Sabun dan sebagainya juga tinggal ambil" ucap Pak Isam lagi.
"Kan kasih orang tua Boss Papi, makan siang juga minimal tiga puluh ribuan, maklum kerja sama Mas Boss butuh energi lebih, jadi asupan makanan harus yang enak-enak" kata Mang Ujang.
"Waduh Mang... jual saya ini, kan setiap hari saya subdisi buat makan, emangnya ga cukup? lima puluh ribu loh, kalo sampe tengah malam malah seratus ribu buat makan" protes Rama.
"Nah itu masalahnya Mas Boss, ini yang sering jadi keributan dalam rumah tangga saya. BOROS" ucap Mang Ujang dengan lugunya.
"Buat apa aja? motor ga ganti baru, sawah ga punya, perhiasan juga kayanya ngga" tanya Rama penasaran.
"Sejak jadi supirnya Mas Boss, saya harus bisa imbangin gaya penampilan Mas Boss. Jadi saya beli sepatu kerja yang dua jutaan, nyicil dua kali bayar. Terus beli jam tangan yang lima ratus ribuan di toko oren, beli tas yang kawe super, ya pokoknya biar dendi gitu. Sejak menikah, sudah jarang beli-beli lagi, tapi saya boros jajan cemilan, iseng kan kerja ga ngemil" ungkap Mang Ujang dengan jujurnya.
"Udah... udah... ini saya tanya mau hitung-hitungan malah jadinya kasian sama hidup kamu Jang. Potong aja gaji di Abrisam Group ya dua juta sebulan, mulai bulan depan gajian kasih istri semua, dia yang atur buat hariannya. Makan di rumah aja, kalo perlu bawa bekel ke Kantor, pagi disini pasti sudah ada makanan, tinggal modal kotak makan sendiri. Saya sebagai orang tua kamu disini merasa malu kalo kamu ga bisa jadi suami yang baik untuk Maryam. Abah Ikin sudah menerima kamu sebagai menantu, harusnya bersyukur" nasehat Pak Isam.
"Iya Boss Papi, janji ga boros lagi, apalagi sekarang sudah ada anak dua" janji Mang Ujang.
"Dengerin Mang... jangan masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Tau kelakuan Mamang kaya gini ke Maryam, udah saya tonjok dari awal" geram Rama.
"Sabar Mas Boss.. langsung tonjok aja mainnya" sahut Mang Ujang.
"Saya yang promosiin Mang Ujang ke keluarga Abah Ikin, sekarang Mamang kelakuannya kaya begini, semoga Maryam ga ngadu ke orang tuanya aja. Mau taro dimana muka saya Manggg...." Rama makin gemes.
"Kan udah janji mau insyap Mas Boss, lagian Maryam itu istri solehah, ga mungkin ngadu ke orang tuanya" kata Mang Ujang.
"Ini ya.. dengarkan semua... Papi disini sebagai orang tua, tugasnya menyentil kalian yang nakal-nakal. Tujuannya untuk kebaikan kalian juga. Pokoknya Ujang.. ikutin semua arahan dan Senin lapor ke HRD mengenai potong gaji, nanti Rama yang membuat internal memo untuk HRD" ujar Pak Isam.
"Iya Boss Papi .. siap .. Ujang setuju saja" jawab Mang Ujang pasrah.
🌺
Alex bercerita tentang kelakuannya Mang Ujang ke Mba Nur. Tadi Mang Ujang curhat ke Alex panjang lebar.
"Awas aja kalo Abang ikut-ikutan gayanya Mang Ujang" ancam Mba Nur.
"Ya ngga lah, sebelum diomelin sama istri, Boss Rama bisa ngamuk" kata Alex.
"Itu Mang Ujang bisa ga ketahuan sama Mas Rama, padahal sudah setahun jadi supirnya Mas Rama" ucap Mba Nur.
"Setahun belakangan ini kan banyak drama-drama mewarnai kehidupan Boss dan keluarga. Jadi ga fokus liatin penampilannya Mang Ujang. Lagian Mang Ujang juga pinter, dia umpetin tuh barang-barang dibagian belakang mobil, jadi ga ketahuan sama Boss" papar Alex.
"Kayanya tadi Mang Ujang keluar lagi sama Mas Rama, bilangnya mau anterin ASI buat bayinya. Kira-kira bakalan lanjut diomelin ga sama Mas Rama?" tanya Mba Nur.
"Kalo diomelin doang sih ga masalah, Boss itu keras kalo mendidik. Saya aja udah berapa kali kena bogem mentah dari Boss" jawab Alex.
"Masa sih? keliatannya anteng-anteng aja Mas Rama. Sekasar itu? jangan-jangan Mba Izza juga kena KDRT ya, beberapa kali liat Mba Izza pas buka jilbab, ada bekas merah gitu di lehernya" adu Mba Nur dengan polosnya.
Alex malah tertawa mendengar penuturan istrinya.
"Kok malah ketawa sih.. serius ini. Nanti kalo saya merhatiin merah-merahnya, buru-buru Mba Izza pake jilbab. Kayanya ga mau ada orang yang tau tentang itu" lanjut Mba Nur.
"Itu bukan KDRT kekerasan dalam rumah tangga, tapi KDRT yang lain" ucap Alex masih sambil menahan tawa.
"Emang ada artinya KDRT yang lain?" tanya Mba Nur.
"Ada... KDRT .. kekonyolan dalam rumah tangga" jawab Alex.
Maksudnya gimana? ga paham" ucap Mba Nur.
"Ini benar-benar ga tau atau pura-pura ga tau?" tanya Alex.
"Beneran ga tau" ujar Mba Nur makin penasaran.
"Itu merah-merah bekas mereka bercinta, ya bisa dibilang tanda kasih lah. Mainnya kayanya panas banget, jadi meninggalkan bekas merah" jelas Alex.
"Kok tanda kasih malah merah gitu, kaya abis dipukul" kata Mba Nur.
"Bukan dipukul, tapi disedot" jawab Alex secara gamblang.
"Disedot? emangnya Mba Izza itu minuman segala disedot" kata Mba Nur makin bingung.
"Mau contohnya ga? biar ngerasain yang namanya tanda kasih tuh gimana" tawar Alex.
"Jangan aneh-aneh deh Bang.. tiap kita berhubungan suami istri aja Bang Alex sudah minta ganti-ganti gaya, masa mau ikutan gaya sedotan.. sedotan kan kecil ya, itu gaya apa sih?" makin Mba Nur bingung.
Rupanya Mba Nur memang masih polos, saat menikah dengan yang pertama hanya tau gaya konvensional saja, setelah suami puas ya permainan berhenti. Beda sama Alex, selain masih muda, Alex punya daya fantasi dan gaya yang dia tiru dari adegan film biru yang dulu ditontonnya.
"Boss sangar juga sedotannya.. sampe Mba Izza keliatan lehernya merah. Mbok ya kalo mau bikin tanda begituan tuh dibagian dalam. Nanti kalo Sachi liat apa ga timbul pertanyaan? anak itu kan rasa penasarannya tinggi" gumam Alex dalam hatinya.