
Sebenarnya Izza sudah merasakan tanda-tanda dekat dengan waktu persalinan sekitar seminggu yang lalu, tapi tidak memberitahukan ke Rama. Izza tau kalo Rama sedang banyak yang dipikirkan berkaitan dengan penjualan saham kepemilikan ke Mas Barry, bahkan sedang mengajarkan Mas Barry yang ditunjuk untuk menggantikan posisi Rama di Audah Hotel.
Izza sempat mengalami mulas tapi belum intens, perut juga sering kencang serta posisi tidur sudah tidak nyaman lagi. Biasanya kalo Rama pulang kerja, dia akan menghampiri Izza untuk mengelus-elus perutnya Izza, biasanya nanti perutnya Izza bisa rileks kembali.
.
Di ruang bersalin, ada dua Bidan yang secara bergantian mengamati perkembangan Izza, kebetulan tidak ada pasien lain di ruangan ini. Rama mempraktekkan sedikit yang diketahui saat ikut mendampingi Izza ikut kelas yoga dimasa kehamilan. Selain membacakan do'a, terus memberikan afirmasi positif ke Izza agar gelombang cinta dari bayi yang akan dilahirkan segera bisa muncul secara teratur.
Izza sudah dicek CTG (Kardiotokografi adalah alat yang dipakai untuk mencatat pola denyut jantung janin dalam hubungannya dengan adanya kontraksi ataupun aktivitas janin dalam rahim), VT (vaginal touche atau pemeriksaan dalam merupakan suatu metode dengan memasukkan dua jari pemeriksa, bagian telunjuk dan jari tengah, kedalam ****** ibu untuk memeriksa pembukaan servik atau leher rahim apakah telah siap untuk proses kelahiran bayi atau belum), tensi darah serta pemeriksaan laboratorium.
Sekarang masih pembukaan satu, tapi Izza sudah merasakan kesakitan sehingga sulit rasanya bisa berbaring dengan nyaman.
Rama sampai memeluk Izza berkali-kali agar Izza lebih tenang menghadapi rangkaian pembukaan jalan lahir. Sesekali Rama terlihat menyuapi roti dan susu yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit ke Izza.
Saat Izza ingin buang air kecil, Rama membantu Izza untuk berdiri, begitu bangun di tempat tidur sudah basah.
"Ini basah keringat atau apa ya sus?" tanya Rama.
Bidan segera sigap melihat tempat tidur.
"Ini air ketuban, sepertinya rembes atau ketuban pecah dini. Hati-hati di kamar mandi ya Bu, jangan mengejan. Saya laporkan ke dokter obsgyn dulu" kata Bidan.
Karena khawatir, Izza malah tidak jadi buang air kecil. Rama mengelap tempat tidur dengan tissue (tempat tidur untuk pasien yang akan melahirkan tanpa sprei dan dilapisi bahan anti air, anti darah dan noda). Setelah tempat tidurnya kering, Rama menggantikan baju pasien ke Izza yang tadi sudah basah.
"Suaminya benar-benar sangat perhatian, beruntung sekali Ibu Izza" puji Bidan.
"Ya kan bikinnya bareng sus, masa giliran kaya gini saya tunggu bayinya keluar saja.. hehehe" canda Rama.
"Betul Pak.. jangan mau enaknya aja, harus ikut andil saat proses melahirkan" sahut Bidan.
"Salah tempat nih saya bicaranya, secara disini perempuan semua.. hahaha" kata Rama.
"Bapak juga ikut mendampingi yoga atau senam hamil ya? saran untuk istrinya mengatur nafas bagus, sepertinya sudah paham sekali" lanjut Bidan.
"Iya.. saya selalu mendampingi, pokoknya urusan istri dan anak nomer tujuh" jawab Rama.
"Loh kok tujuh Pak? bukan prioritas dong?" tanya Bidan heran.
"Kan yang pertama itu Allah.. Tuhan Yang Maha Esa, terus lima selanjutnya kan Pancasila.. baru setelah itu istri dan anak" canda Rama.
"Wah agamis plus nasionalis" ucap Bidan.
Para Bidan tertawa mendengar jawabannya Rama. Sebenarnya Izza ingin tertawa, tapi rasa was-was ketubannya kering membuat dia ga mau banyak bergerak.
Lima menit kemudian, dokter obsgyn datang. Memeriksa kondisi Izza. Dokter meminta Rama ikut ke meja konsultasi untuk berbincang.
"Pak .. istrinya didiagnosa KPD.. ketuban pecah dini, pembukaan pun masih satu. Saya sarankan untuk dilakukan induksi saja. Prosedurnya akan dimasukkan obat melalui infus, cukup dua labu infus. Jika tidak berhasil, maka akan dilakukan tindakan operasi Sectio Caesaria. Bagaimana Pak?" tanya dokter obsgyn
"Silahkan lakukan yang terbaik untuk istri dan anak saya dok. Saya kan orang awam, saya yakin dokter lebih mengerti tentang hal ini, jadi saya setuju saja" jawab Rama tampak mencoba tegar.
Rama dan dokter obsgyn mendekati Izza.
"Baik Bu.. Bapak sudah setuju untuk dilakukan induksi, tidak perlu cemas. Tindakan ini untuk mempercepat pembukaan. Sekarang Bidan akan memeriksa kondisi jantung dede bayinya dulu ya, untuk menilai apakah kuat untuk dilakukan induksi atau tidak" jelas dokter obsgyn.
Izza mulai agak panik, Rama buru-buru mengelus kepalanya Izza.
"Sabar ya.. kita bisa lalui ini bersama. Kakak akan selalu ada disamping kamu" bisik Rama.
Hasil pemeriksaan jantung bayi dinilai bagus dan induksi pun akan segera dimulai.
"Memang nanti akan terasa mulas ya, semoga pembukaan maju dan bisa berhasil lahir normal, pokoknya Ibu harus semangat" kata dokter obsgyn.
Tangan Izza dipasang infus. Terus disuntik tes alergi antibiotik yang sukses membuat Izza menangis karena perih.
Rama kembali menawarkan makanan untuk Izza, dokter obsgyn tadi memberikan saran agar Izza mengisi perutnya sebagai cadangan tenaga. Tapi Izza sudah tidak kepikiran untuk makan.
Cairan induksi dimasukkan kedalam cairan infus. Tetiba rasa mual datang dan Izza malah memuntahkan semua makanan yang tadi sudah masuk ke tubuhnya.
Sudah memasuki waktu Ashar, Rama meminta Mba Rani untuk menunggu Izza dulu sementara dia sholat Ashar. Pak Isam malah ikut menemani Izza, beberapa kali kelihatan Pak Isam mengusap air matanya. Tadi Rama sempat memberitahukan tentang proses induksi persalinan. Mba Rani pun ikut memberikan dorongan semangat untuk Izza.
.
Sekitar tiga puluh menit, Izza mulai merasakan efek induksi, rasanya seperti rasa nyeri perut kalau lagi haid tapi berkali-kali lipat. Muncul kemudian hilang, begitu terus secara berulang-ulang.
Setelah selesai sholat, kembali Rama yang menunggu Izza didalam ruangan. Izza mencoba untuk tidur miring kekiri supaya ketuban tidak banyak rembes. Rama mengusap-usap punggung Izza, untuk membantu mengurangi rasa nyeri.
"Sampai kapan mules kaya gini sus?" tanya Izza lemah.
"Sabar ya Bu, kemungkinan subuh sudah lahir" jawab Bidan.
"Sekarang baru jam empat sore sus.. masa dua belas jam seperti ini" oceh Izza.
"De.. mau sholat ga? siapa tau bikin tenang" tawar Rama.
"Tapi kan begini Kak.." ucap Izza.
"Tayyamum saja kalo ga kuat ke kamar mandi, nanti ditutup selimut saja. Niatkan sholat, ga masalah sambil tiduran juga. Allah tau kamu sedang berjuang untuk melahirkan, jadi seperti ini pun tidak masalah" saran Rama.
Izza mengikuti saran Rama, sudah terlihat tidak nyaman sholatnya, tapi dengan segala kekuatan tenaga, Izza akhirnya bisa menyelesaikan sholatnya.
"Kak.. maafin Izza kalo banyak salah selama jadi istri" pinta Izza.
"Jangan bicara seperti itu, Kakak sudah halalkan semua. Maafin Kakak juga ya, masih banyak kekurangan sebagai suami" kata Rama sambil mencium keningnya Izza.
"Ohhh... sweet banget sih.. mau jugaaaa" ledek Bidan.
"Makanya jangan ngejomblo mulu" sahut rekan Bidannya.
"Pak.. punya saudara ga? kayanya Bapak ini matang dan dewasa banget menghadapi istri, boleh kenalin ke saya kalo ada ya Pak" canda Bidan.
"Saya anak bungsu.. yang jomblo ya Papi saya. Lebih matang dan lebih dewasa dari saya" jawab Rama.
"Walah.. terlalu senior itu Pak.. kematangan... hehehe" kata Bidan.
Menjelang Maghrib sudah pembukaan lima, jangan ditanya rasa sakitnya, berkali-kali lipat dari sakit perut biasa.
"Kak.. kayanya ga kuat kalo sampai besok Subuh, operasi aja ya Kak.. sakit banget" pinta Izza sambil menangis.
"Terserah kamu De.. kalo sudah ga kuat ya jangan dipaksakan" jawab Rama.
"Ini mulesnya bagus Bu.. pembukaan juga cepat, semangat Bu.. bisa normal kok" ucap Bidan.
Rama memeluk Izza.
"De.. gimana? sekarang atur nafas, berpikir sejenak. Nanti Kakak akan informasikan ke Bidan kalo maunya operasi saja" kata Rama.
.
Sachi sudah terlihat lelah, akhirnya diputuskan Mas Haidar, Mba Rani dan Sachi pulang dulu ke rumah.
Pak Isam, Mang Ujang dan Alex masih setia menunggu diluar ruangan. Padahal Rama sudah menyarankan untuk istirahat di ruang perawatan saja, tapi mereka tidak mau.
"Laper juga ya nunggu kaya gini, air termos udah habis nih, nanti kita begadang gimana?" tanya Mang Ujang.
"Jang.. beli makan sana, kasian Rama belum makan, dari tadi dampingin Izza terus" pinta Pak Isam.
"Iya tuh Mang.. kasian Boss .. pasti laper" sahut Alex.
"Percaya deh.. kalo udah begitu, kita ga bakalan kepikiran bisa makan. Otak rasanya udah ga berfungsi" jawab Mang Ujang.
"Ga disituasi seperti itu aja otaknya Mang Ujang jarang berfungsi dengan baik" ledek Alex.
"Belum aja ngerasain istri mau melahirkan.. nanti kalo kamu bisa waras saat Mba Nur melahirkan, Mamang traktir makan deh" taruhan Mang Ujang.
"Rama kelihatannya tenang banget kok, ga panik kaya kamu Jang" lanjut Pak Isam.
"Beda guru beda ilmu antara Boss sama Mang Ujang lah Pak.. ibaratnya Boss kalo belajar duduk di kelas, nah Mang Ujang di tukang dagang yang ada diluar pager sekolah.. jadinya yang satu mah pinter, kalo Mang Ujang ya syukur-syukur bisa denger guru ngomong apa" ucap Alex sambil ketawa.
"Wah .. udah berani sama yang tuaan nih" kata Mang Ujang.
Adzan isya sudah terdengar, Rama meminta Pak Isam untuk menemani Izza kedalam ruangan sementara Rama sholat dulu.
.
"Iya nih, Rumah Sakit elit bikin kita sakit, bisa-bisa masuk angin kita. Ngomong-ngomong kita udah bangun tidur bangun tidur berapa kali ya? kok belum lahiran juga" jawab Mang Ujang.
"Kita disini jadi pasukan *****.. nempel langsung molor. Sofanya enak buat tidur, hawanya dingin, udah gitu sepi pula" ujar Alex.
"Mana tadi Mas Boss bilang sekitar subuh lahirannya, bisa-bisa kita kenyang tidur disini" ucap Mang Ujang.
.
Rama kembali ke ruang bersalin, menepuk pundaknya Pak Isam.
"Papi sama Mang Ujang dan Alex ke kamar aja ya. Malu diliatin security tuh dua orang diluar yang lagi enak banget tidurnya. Papi pasti capek, atau pulang dulu gapapa, kan menurut dokter sekitar subuh lahirannya" jelas Rama.
"Kasian Izza.. sudah Ram..jangan paksakan normal, di operasi saja sekarang. Nanti Papi tambahin biaya Rumah Sakitnya" kata Pak Isam.
"Sudah dicover oleh Asuransi kantor Pi.. apalagi Izza ada dua asuransi, yang satu lagi dari Audah Hotel. Ini bukan masalah uang Pi.. intinya Rama serahkan semua ke Izza. Jadi gimana De.. mau operasi aja?" ucap Rama sambil mengusap kepalanya Izza.
"Maaf Pak.. kami akan memeriksa kondisi Ibu dan detak jantung bayi dulu" pinta Bidan.
Rama dan Pak Isam menyingkir terlebih dahulu.
"Cek dalam dulu ya Bu" kata Bidan.
"Kenapa cek dalam lagi sus, sakit..." ucap Izza.
"Ini prosedurnya Bu.. jangan ngeden ya Bu kalo mules" jawab Bidan.
"Tapi kayanya udah ada yang mau keluar" kata Izza.
"Iya Bu.. sekarang majunya makin cepat, bagus ini Bu" lanjut Bidan.
.
Jam sembilan malam, dokter obsgyn menuju ruang bersalin untuk visit selepas jadwal praktek. Membersihkan diri dan memakai baju khusus ruang bersalin.
Begitu selimut dibuka, ada bercak darah.
"Ini pembukaan hampir lengkap" teriak dokter obsgyn.
Sedari tadi sudah semua siap baik alat untuk Ibu bahkan inkubator untuk bayi. Jadi hanya tinggal ditarik mendekat ke tempat tidur.
Pak Isam segera keluar, Rama mendekati Izza.
"Telepon dokter anak, tadi saya liat ada yang baru habis ikut operasi" perintah dokter obsgyn.
"Baik dok" kata Bidan cekatan.
.
Karena bersamaan dengan operan shift dinas. Bidan yang ada di ruang bersalin pun banyak, sekarang ada enam Bidan, satu dokter obsgyn dan satu dokter anak.
"Yuk .. kita belajar mengejan ya.. Bapak dibagian kepala saja, untuk membantu menyemangati Ibu. Tarik nafas kemudian buang perlahan" pinta dokter obsgyn.
Izza sudah belajar cara mengejan yang benar lewat senam hamil, tapi karena mulai kalut, banyak yang dia lupa.
Akhirnya Rama yang mengingatkan.
"Ambil nafas De.. nanti buang nafasnya pas ngeden. Dengarkan instruksi dari dokter ya, jangan buang tenaga, kamu pasti bisa" kata Rama.
Dokter obsgyn memberikan instruksi kepada Izza.
"Ayo Bu, kita mulai ya" bimbing dokter obsgyn.
Rama yang ada disampingnya Izza malah ikutan menarik nafas dalam-dalam dan membuang perlahan.
"Bapaknya malah bagus teknik pernafasannya" ucap dokter obsgyn.
Rama malu, jadinya mencoba menahan diri untuk tidak ikut ambil nafas seperti Ibu yang akan melahirkan.
Hampir sepuluh menit proses mengejan, bahkan pakai posisi miring ke kiri karena konon posisi ini lebih mudah. Tapi justru rasa kontraksi berkurang dan pegal karena menahan kaki yang diangkat miring. Akhirnya Izza telentang lagi, tenaganya sudah mulai habis dan yang dipikirannya adalah bagaimana caranya agar rasa sakit ini segera berakhir.
Di tengah-tengah proses ini, Izza melihat salah satu Bidan membawa gunting. Khawatir akan dirobek, tapi Rama buru-buru menutup wajahnya Izza dengan tangannya.
"Jangan takut ya" bisik Rama.
"Sudah siap Bu?" tanya dokter obsgyn.
"Ya.." jawab Izza.
Kembali Izza menyiapkan tenaga, menarik nafas kemudian dibuang sambil mengejan.
Errrrggghhhh!
Kepala bayi sudah berhasil keluar, selanjutnya seperti slime, tulang bayi seakan lunak jadi keluar tanpa hambatan di jalan lahir.
Rama yang menggunting tali pusat bayi, kemudian bayi merah yang menangis kencang diletakkan didadanya Izza.
Rasa sakit maksimal yang Izza rasakan langsung tidak terasa. Tidak ada robekan sehingga tidak memerlukan jahitan.
Sang bayi masih sibuk mencari ****** Ibunya, sambil Rama mengadzankan. Tidak bisa terlukis dengan kata-kata apa yang Rama rasakan saat ini. Dia yang tidak pernah menangis dimuka umum, melepaskan air matanya di ruang bersalin.
Setelah lima belas menit, dokter anak mengambil bayi untuk diperiksa, Rama diminta mendampingi bayi karena akan dipasang gelang pengenal.
dokter anak menjelaskan kondisi bayi yang Alhamdulillah sehat.
"Tadi kita lihat bersama bayi terlilit tali pusat, tapi tidak ada masalah dengan pernafasannya ya Pak. Dan sudah ada giginya satu, Ibunya bagus asupan kalsiumnya. Berat badannya juga besar .. tiga koma sembilan kilogram, panjang lima puluh centimeter" jelas dokter anak.
"Alhamdulillah.." jawab Rama.
"Ibunya terpenuhi gizi dengan baik selama kehamilan" puji dokter anak.
"Alhamdulillah dok.. makan tidak terlalu bermasalah" jawab Rama.
Bayi dimasukkan ke inkubator.
Rama keluar ruangan untuk memberitahukan Pak Isam, kalo anaknya sudah lahir.
Pak Isam langsung menangis dalam pelukan Rama.
"Selamat...selamat.... bisa Papi lihat Izza dan cucu Papi?" kata Pak Isam.
"Nanti ya Pi.. Izza lagi dibersihkan. Ibu dan bayi akan langsung room in, rawat gabung di ruang rawat. Jika keduanya stabil, akan dibawa ke ruang rawat" jelas Rama.
"Iya.. " jawab Pak Isam.
"Selamat ya Mas Boss" kata Mang Ujang sambil toss dengan Rama.
"Selamat Boss.. akhirnya lahir juga Boss kecil yang kita tunggu-tunggu" ucap Alex.
"Makasih ya semua.." jawab Rama.
"Tanggal lahirnya sama seperti Ayahnya, sepertinya ini anak buah Ayahnya.. hehehe" kelakar Mang Ujang.
.
Rama kembali masuk ke ruang bersalin. Mendekati inkubator. Dia memandangi mata kecil anaknya yang terbuka, tangan mungilnya tengah bergerak.
"Wah.. manja ya.. maunya ditungguin sama Papa, tadi Papanya keluar dia diam dan merem" goda Bidan.
"Anak Ayah pintar ya..." kata Rama.
"Oh panggilnya Ayah.. jarang-jarang bayi lahir sudah tumbuh gigi. Bapak coba lihat telinganya, lubangnya membentuk lafadz Allah jika diperhatikan baik-baik" ujar Bidan.
Rama melihat sambil mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT.
"Nak.. makasih sudah hadir menjadi kado terindah buat Ayah. Tanggal ini bukan hanya seorang manusia mungil yang terlahir ke dunia tapi juga terlahir kembali dua orang manusia menjadi seorang Mommy dan seorang Ayah" kata Rama.
"Bapak cuci tangan dulu, nanti pakai antiseptik, bisa memasukkan tangan untuk menyentuh tangan bayinya lewat lubang inkubator" saran Bidan.
"Boleh Bu Bidan?" jawab Rama bahagia.
"Boleh Pak.. tapi pastikan higienis dan sebentar saja ya" kata Bidan.