HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 65, Damn



Mba Gita mulai resah sikapnya melihat tatapan Rama yang seakan seperti siap menelannya hidup-hidup.


"Mba ... lebih baik mengaku aja, saya sudah memegang banyak bukti dan sekarang sudah ada ditangan polisi semuanya" kata Rama masih emosi.


Mba Gita dengan tatapan kosong, mulai ga beraturan menjawab percakapan dengan Rama, dia mengungkapkan keresahan yang sekarang menimpanya.


"Dengan segala daya upaya, lambat laun akhirnya Mba bisa jadi sekretarisnya Pak Isam, bahkan bisa dibilang menjadi tangan kanannya, menjadi karyawan yang sangat dipercaya dan menggantungkan semuanya ke Mba, dengan kepandaian dan kecantikan Mba tentunya semua bisa mudah diraih. Kalo Mba ga bisa menghancurkan keluarga Abrisam, yang penting bisa menikmati semua yang Abrisam Group punya saja sudah lebih dari cukup. Rupanya semua usaha Mba hampir digagalkan oleh Nay. Orang yang baru masuk dalam Abrisam Group tapi langsung mendapatkan cinta dan perhatian luar biasa dari Mas Haidar. Nay menjadi sosok yang sering banyak nanya tentang hal-hal yang menurutnya ganjil. Dia tipe orang yang kritis terhadap berkas-berkas yang Mba berikan ke Mas Haidar. Bahkan dia sudah sempat mengumpulkan bukti-bukti penyelewengan dana perusahaan. Sepertinya Nay punya rencana untuk melaporkan semuanya ke Mas Haidar. Tau sendiri kan paling susah untuk mengintervensi orang yang sedang jatuh cinta. Pastinya apa yang nantinya disampaikan oleh Nay, akan Mas Haidar dengar dan percaya. Timbullah rasa khawatir jika Nay akan mampu memberikan bukti-bukti ke Mas Haidar dan Mas Haidar memecat Mba. Tamatlah riwayat Mba di Abrisam Group ... gudang duit dan syurga dunia buat Mba" buka Mba Gita terus terang.


Rupanya Mba Gita belum meminum obat terlarang hari ini, dia sudah dikategori sebagai pecandu, tiap hari harus minum obat. Tujuannya meningkatkan rasa percaya diri dan berani. Mba Gita makin terlihat gelisah dan ga banyak berkelit. Semua obrolan berjalan lancar tanpa ditutupi. Memang menguntungkan pihak Rama, tapi Rama mencoba tetap dijalur aman, tidak mengorek semua hal, karena menurutnya ini adalah kapasitas pihak penyidik nantinya.


"Awalnya cuma mau menggertak Nay saja, tujuannya biar Nay menjauh dari Mas Haidar. Kalo Nay jauh dari Mas Haidar, maka akan mudah Mba mempengaruhi Mas Haidar seperti Mba mempengaruhi Pak Isam. Diluar kendali Mba, apa yang Mba perintahkan malah menyebabkan kebakaran hebat. Apinya terus menyala besar dan menimbulkan korban jiwa. Memang bodoh banget orang suruhan Mba ... cuma mau uangnya aja. Ga mikir kalo itu hanya gertakan sedikit. Jadilah ini semua kasus hukum. Untunglah Big Bossnya Mba ikut turun tangan membantu hingga hal ini bisa ditutup" geram Mba Gita.


"Saya udah kehilangan kata-kata Mba... orang yang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri ternyata menikam keluarga saya dari belakang. Saya hampir ga percaya dengan bukti-bukti yang ada. Tapi kenyataannya seperti ini kan?. Kenapa Mba bantu saya merawat Sachi? seakan tulus menjadi sandaran saya saat terlelah dalam hidup ini" ucap Rama sambil beberapa kali mengusap wajahnya.


"Karena Sachi akan jadi kartu As bagi Mba. Dia bisa Mba jadikan senjata pamungkas. Bukankah kehadiran dia akan mencoreng muka keluarga Abrisam?" kata Mba Gita penuh kemenangan.


"Maksudnya?" tanya Rama.


"Mas Rama pasti tau kan siapa Sachi? anak diluar nikahnya Mas Haidar... bukankah itu bukan kartu As?" ujar Mba Gita sambil sedikit tersenyum.


"Kenapa ga Mba keluarkan kartu As nya sekalian? malah mudah kan untuk menghancurkan nama baik kami" buru Rama.


"Karena ternyata hati Mba ga bisa bohong kalo terlalu sayang sama Mas Haidar .." jawab Mba Gita rada pelan.


"Maksudnya Mba Gita suka sama Mas Haidar? Jadi sulit untuk menyerangnya?" kata Rama meyakinkan pendengarannya.


"Ya ... rasa yang susah Mba bohongi. Raut wajahnya mengingatkan Mba sama mantan terindah yang pernah hadir. Orang pertama yang membuat Mba merasa sangat bahagia sekaligus orang pertama yang menyakiti Mba. Mas Haidar itu lelaki yang bisa dibilang mendekati perfect. Dia laki banget, baik, ramah, sabar, penurut dan kayanya kalo udah cinta sama seseorang tuh total banget. Pria idaman para wanita" sahut Mba Gita.


"Jangan bilang kalo Mba Gita juga yang merusak mental Mba Nay hingga bermasalah kehamilannya dan mengalami pendarahan begitu melahirkan Sachi?" duga Rama tiba-tiba.


Mba Gita tampak bingung, ga menyangka kalo analisa Rama sangat cepat.


"Ya ... Menerima kenyataan kalo Nay mengandung anaknya Mas Haidar itu berat. Mba yang merusak mentalnya dengan mengirimkan foto kemesraan Mas Haidar dengan Mba Anindya. Mba juga yang membuat dia merasa menjadi perempuan paling hina di dunia ini karena sudah hamil diluar nikah. Mba ga mau nanti dia bisa merusak semuanya kalo Mas Haidar sembuh dan ingat kembali sama Nay" ucap Mba Gita.


"Wow.... membunuh tanpa menyentuh. Mba ... dendam ga akan ada untungnya, apalagi keluarga kami tidak tahu menahu tentang motif dibalik kejahatan Mba. Memang Papi banyak bisnisnya, tapi saya ga tau sepak terjangnya saat muda dulu. Ditambah belum tentu kenal sama keluarga Mba. Jadi saya rasa ga adil kalo Mba menimpakan hal itu ke keluarga kami" jawab Rama.


Tubuh Rama mulai gemetar karena menahan segala rasa yang ada. Rama terbiasa melampiaskan emosinya yang meledak dengan memukul sesuatu, tapi kali ini harus ditahan karena ga mungkin dia menggebrak meja di kantor Polisi atau menyerang Mba Gita.


"Kehadiran Sachi sebenarnya menjadi pukulan terhebat dalam hidup Mba. Ketika melihatnya terlahir ke dunia ini, Mba langsung teringat masa kecil saat kelas empat SD, orang tua selalu bertengkar terus karena ada wanita lain. Wanita tersebut akhirnya menikah dengan Ayahnya Mba. Hal ini yang membuat Ibunya Mba bunuh diri karena ga kuat dimadu. Ayah pun selalu bersama keluarga barunya, lupa sama Mba. Hidup dititip sana sini sama saudara hingga berakhir di Panti Asuhan karena tidak ada lagi yang mau asuh Mba. Sebenarnya kehadiran Izza, sudah Mba niatkan sebagai momentum untuk berubah ... tapi ....." lanjut Mba Gita.


"Tapi kenapa masih Mba lanjutkan kejahatan setelah bersama Izza?" tanya Rama.


"Saya terpaksa Mas Rama..." teriak Mba Gita.


Penyidik sudah mau bereaksi dan bersiap masuk ke ruangan. Tapi ditahan oleh Komandannya.


"Terpaksa? siapa yang maksa Mba?" tanya Rama.


"Terpaksa karena sudah terperosok lebih dalam ke dunia obat terlarang. Terpaksa untuk memenuhi kehedonan Mba. Terpaksa karena Mba ingin jadi orang kaya raya. Terpaksa untuk menutup hutang" jawab Mba Gita berteriak.


"Karena terpaksa itulah Mba membuat laporan palsu selama lima tahun belakangan ini, Mba memanfaatkan momen terendah kehidupan keluarga kami. Saat kondisi keluarga kami berduka atas kepergian Mba Mentari dan kecelakaan Mas Haidar serta kondisi Papi yang sedang sedih luar biasa. Ditambah saya jauh dari Indonesia. Makanya saat itu Mba pengaruhi saya untuk ga sering balik ke Indonesia sekedar menjenguk Mba Nay dan kandungannya. Mba juga yang membuat profile rekanan kontraktor palsu sehingga saya pilih karena Mba memanfaatkan circle saya yang pada akhirnya melarikan uang perusahaan sampe saya rugi satu milyar. Alhamdulillah orang tersebut sudah meringkuk didalam penjara karena sebulan yang lalu sudah ditangkap. Dia akan menjalani sidang sebentar lagi" ucap Rama.


"Dari mana Mas Rama tau semuanya?" tanya Mba Gita.


"Semua cerita sudah dalam genggaman saya Mba .... Orangnya pun sudah mengaku bersalah sudah menipu saya. Nama Mba pun sudah dia sebut sebagai dalangnya. Bahkan tanpa sepengetahuan Mba, selama saya kuliah, saya punya orang-orang dalam yang bisa saya percaya untuk mengawasi jalannya Abrisam Group. Buat apa Mba menyelewengkan uang perusahaan? saya hitung semua hampir sepuluh milyar selama lima tahun ini. Itu yang sudah saya audit dengan auditor independen. Maaf ya Mba ... kayanya harta yang Mba punya ga senilai sama uang yang Mba rampas dari kami" kata Rama kesal.


"Senang-senang kan Mas Rama sekeluarga hidup berkelimpahan, sedangkan saya sedari kecil sudah berjuang hidup terbatas, apalagi saat di Panti... ga enak hidup dibawah belas kasih para donatur" ujar Mba Gita.


"Terus atas semua takdir itu Mba Gita berhak mengambil harta kami? kenapa harus kami?" ucap Rama makin kesal.


"Ya .. karena apa yang Mas Rama punya sekarang itu hasil menyakiti hidup Mba dan banyak orang lagi yang bernasib sama kaya Mba" jawab Mba Gita.


"Mba sakit jiwa kayanya. Hanya karena masalah Ayahnya yang menikah lagi terus membuat hidup Mba susah, kami yang menanggung akibat perbuatan Ayahnya Mba. Terus usaha bangkrut dan Ayah sakit-sakitan kemudian meninggal menjadi tanggungjawab kami juga. Sungguh ga masuk akal" kata Rama lagi.


"Karena kepandaian yang Mba miliki, Mba dapat beasiswa dalam kategori siswa tidak mampu tapi berprestasi. Mba bisa kuliah dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Saatnya mewujudkan impian semasa kecil, seperti kehidupan para artis yang glamor. Siapa yang ga tergoda hidup seperti itu, yang selalu dipertontonkan setiap hari lewat layar televisi" lanjut Mba Gita.


"Tergoda? Mba cukup dewasa untuk melihat dunia glamor seperti itu Mba. Mereka itu bergaya hedon biasanya endorse dari sebuah merek. The real sultan ga akan mempertontonkan kemewahan ke khalayak ramai, selain khawatir dikejar pajak yang ga sesuai, mereka juga down to earth.. humble" jelas Rama.


"Mas Rama ga pernah kurang dari kecil, jadinya bisa ngomong kaya gitu" sahut Mba Gita.


"Jujur aja Mba ga pernah memperhitungkan Mas Rama karena selama ini taunya Mas Rama selalu berkonflik sama Pak Isam dan lebih buruknya lagi, setahun belakangan saya terjerat judi online berkedok saham yang buat uang saya banyak habis disana dan punya banyak hutang" kata Mba Gita.


"Astaghfirullah" ucap Rama sambil menutup mukanya dengan tangan.


"Mba kira dengan menikmati uang.. Mba akan dapat kebahagiaan. ternyata bukan itu Mas. Mba hanya dapat kebahagiaan semu, kebahagiaan itu kita bisa ciptakan sendiri dengan cara yang sederhana" sesal Mba Gita.


"Betul Mba .. masih banyak cara membangun kebahagiaan" lirih Rama berkata.


"Ya... sejak kerja bareng Mas Rama, saya memikirkan buat benar-benar tobat" ucap Mba Gita.


"Kan Mba udah angkat Izza menjadi adik? Bukankah dia sudah menjadi paket komplit dalam hidup Mba ... dia bisa menjadi adik dan teman Mba. Saya lihat juga orangnya ga neko-neko dan lumayan taat dalam agamanya" tukas Rama.


"Saya kasian sama dia.... sama seperti dia nasibnya, anak yatim piatu. Saat pertama melihatnya di Panti Asuhan yang selalu rutin Mba kunjungi, Mas tau kan kalo perusahaan setiap bulan memberikan bantuan ke Panti tersebut, hati ini bergetar saat melihatnya, seakan menemukan keluarga dalam dirinya" ungkap Mba Gita mulai mellow.


Rama terdiam, Mba Gita makin kesana kemari ngomongnya.


"Mba jugakah dibalik kecelakaan Mas Haidar dan masuknya Papi ke Pesantren buat rehabilitasi?" tanya Rama serius.


"Kalo kecelakaan Mas Haidar, Mba sama sekali ga terlibat. Tapi untuk kecanduannya Pak Isam, ya .. Mba pelakunya. Maafkan Mba.... Mba kira kalo Pak Isam kecanduan ganja akan mudah Mba pengaruhi lebih dalam lagi, ternyata ga bisa" sesal Mba Gita.


"Berapa lama Papi Mba kasih kopi berganja?" kata Rama kesal.


"Sejak kamu kuliah...saya bantu biar bisa istirahat otaknya. Mikirin kesehatan Mas Haidar dan kemarahan kamu saat kuliah, menjadi Pak Isam kena insomnia" jelas Mba Gita.


"Papi tau?" tanya Rama lagi.


"Awalnya ga... tapi efek ketagihan membuatnya nanya ke Mba.. tapi dua tahun kebelakang Pak Isam sudah insyaf makanya rehab. Mba ga tau masalah rehab, hanya kalo Mba tawarin ganja dia nolak" jawab Mba Gita.


"Saya kira cukup sampe sini dulu pembicaraan kita" pamit Rama.


"Mas Rama.... tolong jangan libatkan Izza dimasalah ini, biar jadi rahasia kita aja. Saya sangat sayang Izza, karena sebenarnya dia anak Ayah dan wanita selingkuhannya itu. Saya udah pernah tes DNA sama Izza dan hasilnya ada kesamaan. Data yang Izza berikan ke Panti, nama Ayahnya sama dengan nama Ayah saya. Saya mohon Mas... dia ga tau saya Kakak seayahnya" pinta Mba Gita.


Bak tersengat aliran listrik, Rama kaget luar biasa mendengar penuturan Mba Gita.


Rama kembali duduk menatap kearah Mba Gita.


"Mba sadar kan atas ucapan Mba yang tadi?" tanya Rama.


"Ya .. dia adik kandung Mba tapi beda Ibu" jawab Mba Gita mengulang informasi.


"Kenapa Mba membongkar rahasia ini ke saya? kenapa ga langsung ngomong ke Izza?" tanya Rama lagi.


"Karena Mba tau, Mas Rama pasti akan menyelidiki apakah Izza ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Izza sama sekali tidak tau sepak terjang Mba selama ini. Mba merahasiakan karena masih bimbang antara sayang dan benci terhadap Izza. Jadi jangan libatkan dia Mas ... saya mohon" pinta Mba Gita.


Rama kembali berdiri dan menuju pintu keluar.


"Mas ... saya yang bertanggung jawab atas semuanya. Tidak ada orang lain yang terlibat" kata Mba Gita lagi.


Rama langsung keluar tanpa memperdulikan apa yang Mba Gita ucapkan.


.


Setelah berpamitan dengan para Polisi, Rama rencananya akan diantar pulang oleh Alex dan Jimmy (bodyguard yang baru untuk Rama).


Di parkiran, Rama memukul pohon dekat mobilnya lumayan keras sampai tangannya memerah.


"Boss ... Boss ... sabar ... " tahan Alex.


"Kurang ajar wanita itu ... saya akan buat perhitungan..." geram Rama melepaskan amarahnya.


"Kita langsung pulang dulu Boss" tawar Alex.


"Alex .. selidiki lagi tentang Izza, tadi Mba Gita bilang kalo Izza itu adiknya" perintah Rama.


"Siap Boss" jawab Alex.