
Kamis sepulang kerja, Rama langsung menuju Tasikmalaya diantar sama supir Kantor. Pernikahan Mang Ujang akan dilaksanakan Jum'at jam sembilan pagi.
Rombongan keluarga Pak Isam dan para asisten rumah tangga baru akan berangkat selepas sholat Jum'at. Selain Sachi sekolah, Izza juga sedang ada janji temu dengan pembimbing tugas akhirnya. Jadi dipastikan yang akan hadir saat akad nikah Mang Ujang hanya Rama.
Rama sampai di Pesantrennya Abah Ikin sekitar jam tiga dinihari, tampak kesibukan di Pesantren sudah ga terlalu ramai, semua sudah siap. Tenda dan panggung pelaminan sudah dihias dengan indah. Mesjid di Pesantren juga sudah dihias bagian depannya. Bagian dalam baru akan dirapihkan setelah sholat subuh berjama'ah selesai.
Ada tim Hadroh yang sedang latihan akhir untuk mengiringi pengantin nantinya. Abah Ikin sedang rehat. Rama ditemani oleh anak-anaknya Abah Ikin dan ada juga perwakilan keluarga Mang Ujang.
Setelah sholat subuh, Rama pamit menuju rumah Mang Ujang, dia menyetir sendiri mobilnya.
Di rumah Mang Ujang tampak ramai, saudara dan tetangga sudah berkumpul. Rama dan semuanya dijamu sarapan, mereka menikmati hidangan sederhana nan mewah bagi Rama. Keluarga Mang Ujang menyiapkan nasi jagung, tempe goreng tepung dan balado cumi asin ditambah kerupuk karak (dari sisa nasi). Mereka semua terlihat lahap sekali makan beralaskan daun pisang.
Namanya juga mau hajatan, ada saja keriuhan yang timbul, padahal semua seserahan dan perlengkapan sudah disiapkan sejak semalam.
Hal-hal yang terlihat sepele akibat keselip, tapi membuat kegaduhan yang lumayan lucu sebagai hiburan.
Para Ibu-ibu ribet mencari bros yang sudah dibagikan agar tampak bagus berseragam, bahkan ada yang mondar-mandir nyari peniti untuk merapihkan jilbab segiempatnya. Bapak-bapak pun ga ketinggalan ikut meramaikan suasana, mencari peci hingga sendal yang hanya ada sebelah (banyak tamu sendal bertumpuk-tumpuk diluar rumah).
Ada juga saudara Mang Ujang yang perempuan, ada yang dandan sambil nyuapin anaknya yang merengek minta makan, akibatnya alis jadi tinggi sebelah.
Para anak muda lelaki malah ikut santai bareng Rama didepan rumah. Mereka menikmati sajian iseng setelah makan, ada kopi, kacang rebus dan ubi cilembu. Ga tau harus melakukan apa lagi, karena hanya tinggal menunggu berangkat aja.
Tepat jam delapan pagi, di rumah Mang Ujang diadakan acara minta ijin dan memohon do'a restu akan menikah, Mang Ujang berada didepan keduaborang tuanya. Mang Ujang duduk dilantai sedangkan kedua orang tuanya di kursi. Suasana mendadak jadi penuh haru biru, apalagi tipe Mang Ujang yang selalu keliatan ceria mendadak jadi mellow.
Selain kepada orang tua, Mang Ujang juga meminta do'a restu dari para pinisepuh/tetua di keluarga dan lingkungan sekitar. Rama menunggu diluar rumah, melihat setiap prosesi dengan rasa haru yang sama. Sengaja Rama ga masuk karena hari ini dia mau menempatkan diri sebagai seorang sahabat buat Mang Ujang, bukan Boss nya Mang Ujang.
Mang Ujang diapit oleh orang tuanya saat beranjak keluar dari rumah. Mang Ujang langsung memeluk Rama begitu melihat ada Rama didekat pintu.
"Makasih Mas Boss... saya ga tau harus balas Mas Boss seperti apa, kalo bukan karena Mas Boss, semua ini ga akan terjadi" kata Mang Ujang sambil menangis.
"Udah Mang .. ga usah nangis mulu, nanti bedaknya luntur loh. Mau nikah harus tenang karena kalo gugup bisa ilang deh semua hapalan ijab kabulnya" canda Rama sambil menepuk pundaknya Mang Ujang.
Yang hadir di rumah Mang Ujang tertawa mendengar perkataan Rama.
"Untung Ujang punya atasan seperti Aa' Rama, meuni someah hade ka semah" puji saudaranya Mang Ujang.
"Apa itu Mang?" tanya Rama yang ga paham.
"Itu istilah pilosopi masyarakat Sunda, artinya ramah, bersikap baik, menjamu dan membahagiakan orang lain walaupun belum kenal" jelas Mang Ujang.
Rama hanya tersenyum. Mang Ujang mengusap air matanya pakai tissue yang sudah dikantongi semenjak tadi.
"Sebagai penghormatan saya, hari ini saya yang akan membawa mobil menuju Pesantren. Mengantarkan sahabat terbaik saya untuk menempuh hidup baru. Jadi Mang Ujang dan kedua orang tua, cukup duduk manis saja dibangku penumpang" kata Rama.
"Atuh ga enak dong Mas Boss.. ada kok saudara saya yang juga supir. Biar dia yang bawa" jawab Mang Ujang.
"Anggap aja bentuk support buat bestie, ga usah ga enak hatilah" ujar Rama.
"Ini semua juga sudah dibiayain sama Mas Boss, ya Allah.. bener deh Mamang itu beruntung punya Mas Boss" puji Mang Ujang.
"Udah ga usah tambah mellow... tuh rombongan perwakilan keluarga pengantin wanita sudah datang. Ayo siap-siap, kasian nanti Pak Penghulu nungguin" ajak Rama.
Utusan dari pihak mempelai wanita menjemput calon mempelai pria untuk diantar ke tempat acara. Hal ini memang sudah adatnya daerah sana. Tujuannya agar memastikan calon mempelai pria sampai dengan selamat tanpa rintangan apapun ke tempat yang sudah ditentukan.
Rama mengemudikan mobilnya paling depan, yang lain mengikuti dari belakang menuju ke Pesantren Abah Ikin.
Melihat Mang Ujang yang duduk disebelahnya agak nervous, tangan bergetar, mulut komat kamit entah apa yang dirapalkan, kaki juga ga bisa diam serta duduk seperti orang resah. Melihat hal itu, makinlah Rama suka untuk meledeknya.
"Katanya playboy, masa baru gini aja udah gemeteran. Ini kita belum sampai loh di tempat akad. Lama-lama bisa pingsan loh kalo ga tenang" ledek Rama.
"Mas Boss kaya dulu ga ngerasain aja... dah Dig dug banget nih" jawab Mang Ujang.
"Tarik napas panjang Mang, terus buang pelan-pelan, banyak-banyak berdo'a agar semua dilancarkan. Semua lelaki yang akan menikah pasti akan mengalami hal yang sama seperti Mang Ujang, tapi bagaimana pikiran kita harus bisa menguasai emosi yang ada" nasehat Rama.
"Tumben Mas Boss ga ngebully Mamang, biasanya demen banget liat Mamang bingung" ujar Mang Ujang.
"Negative thinking aja nih Mang Ujang sama saya, coba aja kalo ga percaya, begini terus sampe tempat akad .. auto blank pikiran" kata Rama.
"Benar Jang .. apa yang dibilang sama Nak Rama.. makanya dari kemarin disuruh ngaji sama sholat susah banget. Tujuannya buat ademin hati dan pikiran. Ini malah main catur sama tetangga" timpal Abahnya Mang Ujang.
"Diminta siraman malah nolak, jadinya kan ga tenang" sahut Ambunya Mang Ujang emosi.
Ambunya Mang Ujang mau prosesi sebelum menikah diadakan, toh pihak periasnya pun akan menyediakan. Tapi Mang Ujang ngotot ga mau, baginya biar pihak calon mempelai wanita saja yang lengkap menjalankan prosesi.
"Selowww brohhhh... nanti habis ijab kabul bisa ngapain aja. Toh acaranya hari ini cuma akad, baru besok kan resepsinya" lanjut Rama.
"Jangan ya Jang ... nanti aura pengantinnya tidak keluar pas resepsi" ingat Ambunya Mang Ujang.
"Ada ya aturannya begitu?" tanya Rama.
"Ada ... Ambu sudah diberitahukan oleh periasnya, kalo akad nikah dan resepsi beda hari, pengantin harus bisa tahan diri dari saling berhubungan. Malah diminta tidurnya pisah saja biar tidak tergoda" jelas Ambunya Mang Ujang.
"Kuatin imannya si imin ya Mang... hahahaha" ledek Rama.
Ambu dan Abahnya Mang Ujang tertawa, Mang Ujang masih saja ga bisa tertawa. Tetiba selera humornya melayang.
Rombongan Mang Ujang sudah memasuki area Pesantren, memang akad dan resepsi akan dilaksanakan di Pesantren mengingat areanya sangat luas. Toh Pesantren ini bukan Pesantren tempat belajar formal, hanya tempat rehabilitasi aja. Jadi masih bisa dipakai untuk hajatan pernikahan tanpa diganggu aktivitas lainnya.
Sesampainya di tempat acara, calon mempelai pria disambut oleh Ibu dari calon mempelai wanita dengan mengalungkan bunga melati (ngabageakeun).
Setelah keluarga Mang Ujang duduk di tempat yang sudah diatur, giliran rombongan keluarga Ceu Lilis yang memasuki areal Pesantren.
Ceu Lilis tampak cantik sekali dalam balutan kebayanya, dia tampil khusus dengan menutup kepalanya pakai hijab yang sudah dihias sedemikian rupa serasi dengan kebayanya.
Ternyata Ceu Lilis jika pakai hijab dan didandani oleh perias profesional, makin keluar aura kecantikannya. Banyak yang pangling sama tampilan Ceu Lilis.
Ceu Lilis memang sudah sebulan terakhir menjalankan semua treatment yang diberikan oleh perias pengantin agar tampil paripurna diacara hari ini.
Rama segera menghampiri Ceu Lilis.
"Kamu mirip banget sama Mba Nay hari ini Lis" puji Rama.
"Makasih ya A'..." jawab Ceu Lilis malu-malu.
"Alhamdulillah do'a Aa' dan do'a kamu akhirnya telah terjawab Lis, setelah rahasia besar terkuak, kini tugas Aa' adalah membawamu pada sebuah akad nikah. Memang rencana awal kamu maunya di KUA saja, Alhamdulillah didetik terakhir diputuskan untuk bareng sama Mang Ujang secara bergantian. Semoga kamu ikhlas ya Lis, saya urusin selama ini, kurang lebihnya saya minta maaf. Inilah akhir kerja keras, do'a dan air mata Aa' selama ini mencari kamu demi sebuah janji sama Mba Nay. Lepas sudah beban berat yang begitu melelahkan pundak Aa'. Layar akan segera dikembangkan, perahu siap berlayar mengarungi samudera kehidupan. Bersiaplah menghadapi ombak yang tak selamanya ramah pada kamu. Tegarkanlah hati saat cobaan menerpa. Selalu bersyukur atas apa yang Allah berikan. Barokalloohu laka wabaroka 'alayka wajama'a baynakuma filkhairin. Aa', istri dan keluarga Abrisam, akan selalu ada buat kamu. Ingat juga kalo Aa' hanya sekedar seorang Kakak bukan tempat sampah kamu yang akan menampung semua keluh kesah. Jangan buka keburukan pasangan, karena aibnya adalah aibmu juga" nasehat Rama.
"Iya A' akan Lilis ingat. Boleh ga Lilis cium tangannya Aa' Rama? untuk menghormati seorang Kakak" tanya Ceu Lilis.
"Ga boleh ya, ini kan lingkungan Pesantren, jadi tidak boleh bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan Mahrom. Intinya ga usah cium tangan, Aa' paham kok kalo kamu menganggap Aa' itu Kakak sendiri. Kita saling menghormati aja ya. Aa' kan bukan mahrom kamu, lagi pula udah punya istri. Aa' ga akan menyakiti hati istri dengan seenaknya berpegangan tangan dengan wanita lain" alasan Rama.
Ceu Lilis paham akan prinsipnya Rama, jadi dia pun menganggukkan kepalanya untuk menghormati Rama.
Ceu Lilis diapit oleh orang tuanya menuju kursi pelaminan yang tampak cantik sekali hiasannya. Mang Ujang juga sudah siap di meja akad nikah. Petugas KUA pun sudah memasuki tempat acara dan tengah memeriksa dokumen.
Rencananya akad nikah Mang Ujang terlebih dahulu, baru kemudian akad nikah Ceu Lilis.
Mang Ujang bersiap mengucapkan ijab kabulnya. Abah Ikin sudah menjabat erat tangan Mang Ujang. Makin aja ga karuan hatinya Mang Ujang.
Rama yang paham kondisi seperti itu berusaha mencairkan suasana. Dia mendekati Pak Penghulu dan berbisik.
"Punten Pak Kepala KUA, calon pengantin lelaki sepertinya butuh dikasih minum dulu, itu keringetan sudah sebesar biji jagung, saya khawatir dia pingsan pas ijab kabul" pinta Rama.
Yang ada disekitar meja akad nikah tertawa. Kepala KUA akhirnya meminta air minum buat diserahkan ke Mang Ujang. Mang Ujang memang langsung menenggak habis sebotol kecil air mineral.
Setelah agak tenang, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan perhiasan seberat dua puluh gram, Mang Ujang resmi mempersunting anak bungsunya Abah Ikin, usianya masih muda, baru sembilan belas tahun dan baru lulus mondok disalah satu Pesantren di Yogyakarta dan sudah menjalani masa pengabdian setahun di Pesantrennya.
Saat pulang ke Tasikmalaya, anaknya Abah Ikin menjadi buah bibir didaerah tersebut. Abahnya Mang Ujang yang rutin sholat subuh di Pesantren jadi kepincut dan berharap bisa jadi mantunya.
Gayung bersambut, Rama yang berkunjung ke Pesantren pun, mempunyai rencana akan menjodohkan putrinya Abah Ikin ke Mang Ujang.
Setelah Abah Ikin berdiskusi dengan anak, mantu dan istri, barulah Rama datang ke rumah orang tua Mang Ujang untuk menyampaikan rencananya. Tentu orang tua Mang Ujang sangat setuju dengan usul tersebut.
Alhamdulillah anaknya Abah Ikin mau menerima lamaran dengan syarat Mang Ujang berubah menjadi lebih baik lagi agamanya. Saat khitbah, Mang Ujang dites jadi imam sholat, saat itu memang masih belepotan bacaannya, tapi Mang Ujang sudah menunjukkan itikadnya buat lebih mendalami lagi ilmu agama.
Ketika hidayah dibuka, jalannya bisa lewat mana aja. Bertemu sama anaknya Abah Ikin dijadikan momentum sama Mang Ujang untuk kembali belajar mendalami agama lagi.
Selama ini sudah sering diajak untuk ikut kajian, tapi masih bolong-bolong ikutnya. Setelah banyak diskusi sama Rama, Mang Ujang jadi makin mantap untuk menikah.
Setelah ijab kabul dan penyerahan mas kawin dan buku nikah. Sekarang giliran anak Abah Ikin yang laki-laki maju kedepan kepala KUA.
Laki-laki inilah yang dipilih oleh Rama untuk menjadi suaminya Ceu Lilis. Sejak sering ke Pesantren Abah Ikin, Rama beberapa kali berbincang sama anak ketiganya Abah Ikin. Dia lulusan sarjana pertanian disalah satu kampus ternama di Bogor. Mengabdikan dirinya di kampung halaman dengan menjadi penanggung jawab di perkebunan milik Pak Isam, yang hasilnya untuk menyuplai toko sayur dan buah organik milik Haidar yang sudah ada lima outlet di seputar Jabodetabek.
Rama menilai lelaki inilah yang paling tepat untuk melanjutkan tongkat estafet melindungi serta membimbing Ceu Lilis.
Rama menceritakan semua ke Abah Ikin tentang perilaku Bapak tirinya Ceu Lilis. Anaknya Abah Ikin pun secara legowo mau menerima perjodohan ini.
Kedua adik beradik anaknya Abah Ikin ini memang lulusan Pesantren tingkat SMP dan SMA nya, jadi sudah tertanam dalam diri untuk mengabdikan seluruh ilmu yang didapat untuk kemajuan ummat. Pernikahan adalah salah satu cara untuk berdakwah, mengajak seseorang untuk kembali mempelajari ilmu agama serta menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim.
Akad nikah Ceu Lilis berjalan dengan lancar. Ada tangis haru diujung matanya Rama. Dia berusaha tersenyum lebar melihat Mang Ujang dan Ceu Lilis berada ditangan yang tepat.
Setelah akad berjalan dengan lancar, kedua pasangan mempelai pun melakukan sungkeman kepada kedua orang tua untuk meminta maaf akan kesalahan-kesalahan.
Sekarang dua pasang pengantin duduk di kursi sambil dipayungi, upacara penyaweran pun dilakukan kepada pengantin. Orang tua memberikan nasehat diiringi kidung. Pemberian nasehat diiringi pelemparan uang logam, beras, kunyit yang diiris tipis-tipis dan permen.
Konon katanya uang logam dan beras melambangkan kemakmuran, kunyit sebagai simbol kejayaan, sedangkan permen melambangkan manisnya kehidupan berumah tangga.
Acara dilanjutkan dengan meuleum harupat. Mempelai wanita membakar batang harupat yang dipegang mempelai pria dengan lilin sampai menyala. Setelahnya batang harupat dimasukkan kedalam kendi berisi air yang dipegang mempelai wanita. Batang harupat diangkat kembali dan dipatahkan lalu dibuang. Prosesi ini bermakna bahwa kedua mempelai diharapkan senantiasa memecahkan persoalan rumah tangga secara bersama-sama. Istri yang memegang kendi berisi air menggambarkan peran istri yang berperan mendinginkan setiap persoalan yang membebani hati dan pikiran suami.
Prosesi nincak endog (menginjak telur) ditiadakan karena Abah Ikin yang meminta, layaknya sebuah makanan tidak boleh diinjak-injak.
Kedua pasang pengantin kembali keatas pelaminan untuk melanjutkan prosesi huap lingkup, dimana pengantin disuapi oleh orang tua sebagai pertanda tidak ada perbedaan antara kasih sayang terhadap anak dan menantu.
Setelah itu susunan acara berlanjut dengan pabetot bakakak hayam, kedua pengantin saling tarik-menarik ayam bakar utuh. Yang mendapat bagian lebih besar harus berbagi dengan pasangannya. Prosesi ini berarti rejeki yang diterima harus dinikmati bersama-sama.
Hanya dua jam acara berlangsung, dilanjutkan ramah tamah. Tapi berhubung akan masuk waktu sholat Jum'at, area Mesjid langsung dirapihkan kembali.
Baru besok resepsi akan diadakan untuk keduanya. Hari ini hanya akad nikah saja mengingat hari ini ada ibadah sholat Jum'at.
Rama langsung dipeluk oleh Abah Ikin, keduanya menangis haru tanpa bisa mengucapkan kata-kata.