HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 78, At Jakarta Fair



Rama menghampiri Izza dan Sachi yang lagi makan waffle stick, mereka makan satu waffle berdua, saling menyuapi satu sama lain. Seperti dua orang yang sudah mengenal lama, hanya lewat tatapan saja bisa langsung tertawa bersama. Sachi menemukan sosok Mama dalam diri Izza dan Izza menemukan sosok adik kecil yang manis dalam diri Sachi.


"Ini orderannya tuan putri... Sachi udah cuci tangan belum?" tanya Rama sambil menyerahkan bungkusan ke Sachi.


"Cuci tangannya dimana Yah?" kata Sachi bingung.


"Ini ada tissue basah, pakai aja, darurat. Kalo mau ke kamar mandi antrinya panjang, nanti malah ga sempat makan gara-gara nyari tempat cuci tangan" ide Izza.


"Jorok dong?" ujar Rama.


"Disini mau higienis banget ya susah, kamar mandi pasti banyak orang, desek-desekan buat masuk kesana. Tempat cuci tangan diluar juga ga banyak, malah banyak yang ga keluar airnya. Sesekali pakai tissue basah kan ga masalah. Lagipula ini tissue basah punya Sachi, mereknya juga ternama, dijaminlah mutunya" papar Izza panjang.


Izza mengelap kedua tangan Sachi pakai tissue basah, demikian pula sama tangannya.


"Untung di tas masih ada stok cairan antiseptik" ingat Rama sambil membuka tas selempangnya.


Rama mengelap tangannya pakai tissue basah kemudian menyemprotkan cairan antiseptik yang food grade ke tangannya dan tangan Sachi. Lalu menyerahkan botol kecil tersebut ke Izza.


Sachi kembali minta disuapin sama Izza, alasannya biar cepat makannya. Dia duduk dipangkuan Rama, sedangkan Izza dan Rama duduk dilantai.


"Sachi duduk dibawah aja, kasian Ayah berat kan mangku kamu" saran Izza.


"Go boleh sama Ayah, katanya kotor" jawab Sachi.


"Udah gapapa, biasa kok saya mangku dia kalo lagi makan" kata Rama.


Izza ga melanjutkan percakapannya sama Rama. Berdebat sama Rama artinya bisa menghilangkan moodnya hari ini.


"Beli apa tadi buat dimakan?" tanya Rama.


"Ini ada toge goreng, kerak telor sama nasi pedas Bali. Terserah Kakak mau yang mana" tawar Izza sambil mengeluarkan makanan yang dibeli dari kantong plastik.


"Sharing ajalah, biar bisa nyobain semuanya. Keliatannya enak dan jarang nemu nih makanan yang masih otentik kaya gini" tukas Rama.


Izza masih menyuapi Sachi. Karena kasihan melihat Izza belum makan, Rama menyodorkan potongan kerak telor pakai sendok lainnya (bukan sendok yang dipakai oleh Rama sebelumnya).


"Ga usah Kak .. nanti saya bisa makan sendiri, ga usah repot-repot. Sudah biasa kok nyuapin anak-anak dulu baru nanti makan belakangan" tolak Izza dengan sopan.


Rama membagi dua kerak telor, kemudian membagi dua juga sebungkus nasi pedas.


"Kalo toge goreng terpaksa kita makan setempat berdua nih, ga mungkin kan saya campur ke nasi dan kerak telor punya kamu" kata Rama.


"Kakak makan aja semua toge gorengnya, ini aja udah cukup kok" ujar Izza lagi.


"Jangan gitu dong, atau saya beliin lagi aja ya" ucap Rama.


"Ga perlu Kak. Udah makan cepat Kak, gantian jaga Sachi, dikeramaian seperti ini anak-anak ga boleh lepas dari pegangan kita" sahut Izza.


Setelah makan, mereka bertiga menyusuri tiap booth, melihat jika ada yang menarik. Sachi memborong mainan, baju dan makanan. Ada yang untuk anak-anak Panti Asuhan, ada pula yang buat dirinya sendiri. Berkali-kali Rama menawarkan ke Izza untuk mengambil apa yang diinginkan, tapi berkali-kali pula Izza menolaknya.


Mereka juga mencoba berbagai wahana permainan. Rama juga tampak menikmati bermain disana. Yang lagi trend adalah human claw, biasanya mesin penjapit boneka pakai besi, ini diganti oleh manusia. Makanan ringan dimasukkan kedalam kolam plastik yang besar kemudian yang main akan digantung dan diturunkan ke kolam makanan tersebut. Bisa diambil menggunakan tangan dan kaki kemudian didekap agar tidak berjatuhan.


Ketika adzan Dzuhur berkumandang, mereka mencari tempat sholat. Izza sedang tidak sholat, jadi menunggu bersama Sachi ga jauh dari tempat Rama akan sholat.


Bajunya Sachi udah basah karena keringat, Izza berinisiatif untuk menggantikan bajunya Sachi. Didalam koper skuternya ada baju ganti. Sekalian juga Izza merapikan belanjaan Sachi kedalam koper.


Mereka antri ke kamar mandi karena akan ganti baju didalam kamar mandi. Sekalian Sachi dan Izza ingin buang air kecil.


Hampir setengah jam menunggu Rama selesai sholat, Sachi udah makin kegerahan padahal bawa electric mini fan miliknya.


"Panas banget aunty..." keluh Sachi.


"Ya udah kalo ga kuat, kita pulang aja ya" saran Izza.


"Ga mau .. Sachi mau main kesana dulu" ucap Sachi sambil menunjuk kearah Playground.


"Tunggu Ayah ya, kan Ayah lagi sholat" kata Izza.


Izza dan Sachi kembali duduk dipinggiran jalan, keduanya kembali menikmati donat yang tadi dibeli.


"Aunty ... Sachi happy banget" ucap Sachi.


"Alhamdulillah.. berarti besok harus semangat belajarnya, biar bisa jalan-jalan lagi. Pasti kalo Sachi rajin belajar, Ayah akan kasih hadiah jalan-jalan" saran Izza.


"Iya aunty, tapi aunty janji ya setiap hari telpon ke Sachi. Pakai HP nya Mba Nur aja" kata Sachi.


"Ga bisa janji ya .. aunty kan juga harus kuliah dan urus anak-anak Panti Asuhan, jadinya kadang jarang pegang HP" jelas Izza.


"Aunty .. Sachi bukan malas ke sekolah, tapi Sachi maunya ditunggu sama Mama. Teman-teman yang lain Mamanya nunggu di food court, ada juga yang dijemput sama Mamanya pas pulang sekolah. Kalo Sachi selalu sama supir dan Mba Nur" adu Sachi agak sedih.


"Ga semua teman Sachi dijemput kan sama Mamanya? Pasti ada yang Mamanya kerja, atau punya usaha bahkan punya adik yang masih kecil. Bukan berarti ga dijemput orang tua itu ga sayang. Rasa sayang Ayah ke Sachi itu ya dengan kerja keras dan memenuhi semua kebutuhan serta keinginan Sachi. Jadi Sachi bisa belajar di sekolah yang bagus, bisa ke Mall, bisa beli mainan bahkan bisa jalan kaya gini" ucap Izza sedikit menasehati dengan bahasa yang sederhana.


"Tapi Sachi ga punya Mama, jadi ga bisa dijemput sama Mama" lanjut Sachi.


"Kata siapa ga punya Mama? Sachi punya Mama yang sudah mengandung dan melahirkan Sachi, hanya Mama Sachi sekarang sudah bersama Allah. Kalo Sachi mau bertemu Mama, harus banyak berdo'a, kelak semoga bisa berkumpul lagi sama Mama" jawab Izza.


"Ayah juga bilang kaya gitu" ucap Sachi.


"Bersyukur aja ya Sachi... kamu lebih beruntung dari anak-anak yang lain. Walaupun ga pernah ketemu Mama, tapi Sachi dapat kasih sayang yang banyak dari Ayah dan keluarga semua" ujar Izza.


"Sachiiii ... " panggil Rama lembut.


Sachi menghampiri Rama, kemudian digendong sama Rama. Izza bangkit dari duduknya dan mendorong koper skuter milik Sachi mendekat kearah Rama.


Mereka bergegas menuju Playground yang ditunjuk oleh Sachi. Playground ini berupa mandi bola didalamnya ada istana balon. Bagian atasnya tertutup terpal jadi tidak panas jika siang hari.


Rama dan Izza duduk diarea luar Playground, mengawasi dengan jarak yang lumayan dekat.


Rama sibuk mengetik di HP nya, entah dia sedang chat dengan siapa. Izza mendokumentasikan keceriaan Sachi dan mengirimnya ke Mas Haidar.


#Thank's ya, videonya Sachi gemes banget deh# Mas Haidar mengirim balasan.


#Sama2 Mas# balas Izza.


#Terima kasih banyak ya Za, kamu udah membantu saya menghadapi masa-masa sulit untuk mendekati Sachi, ntahlah kalo ga ada bantuan dari kamu. Semua saran kamu sangat berharga untuk saya. And you know .. perhatian dan murah hati adalah dua kata yang saya pikirkan ketika sering berbincang dengan kamu. Sebaik itu kamu Za# ketik Mas Haidar memuji.


Izza tidak membalasnya karena Sachi memanggil minta minum air mineral.


.


Rama berjalan kearah penjual jus buah asli, dia membelikan Izza jus mangga yang ada whipped creamnya serta potongan mangga sebagai hiasan.


Wajah Izza rada memerah karena terkena terpaan terik matahari. Kipasnya Sachi sedang dia pakai untuk mengurangi keringat diwajahnya.


"Nih .. buat segerin tenggorokan" kata Rama sambil menyerahkan segelas jus.


"Cuaca panas kaya gini ya bawaannya pengen minum yang segar. Kalo kita beli minuman dingin malah bisa batuk kalo kebanyakan, mending jus kan" ucap Rama.


"Iya sih" jawab Izza.


Izza dan Rama kembali sibuk masing-masing. Izza memperhatikan langkah Sachi, Rama kembali sibuk dengan gadgetnya.


Izza duduk didepan agak menyamping dari posisi duduk Rama. Tampak sekali guratan lelah diwajahnya Izza, lingkaran hitam juga nampak disekitar matanya. Sepertinya kurang tidur dan lelah.


Setelah kursi disebelahnya Izza kosong, Rama pindah kesana.


"Cape?" tanya Rama.


"Maaf ya Kak ... ga menyangka semua jadi kaya gini. Mba Gita yang tampak baik tapi ternyata ..." ucap Izza dengan tulus.


"Ga usah dibahaslah, hari ini kita habiskan untuk membuat Sachi bahagia aja" jawab Rama yang udah malas membahas kasus hukum.


"Kemarin udah ada gambaran hukuman penjara untuk kasus pembunuhan berencana sekitar lima belas tahun dan kasus korupsinya sekitar enam tahun, belum masalah pengendaran barang haram itu" jelas Izza.


"Oh kamu udah tau semuanya?" jawab Rama cuek.


"Sekali lagi saya minta maaf Kak, sempat salah menilai tindakan Kak Rama" ucap Izza.


"Hasil penjualan mobil semua buat bayar pengacara?" tanya Rama.


"Pengacara hanya dua puluh juta Kak, selebihnya membayar hutangnya Mba Gita. Izza didatangin sama orang-orang kaya preman gitu, ya karena memang ada bukti tertulis tentang hutang Mba Gita, jadinya Izza bayar. Toh itu mobil Mba Gita kan, bukan punya Izza, jadi ga berhak juga uangnya Izza pakai" jelas Izza.


"Uang saya ya .. uang yang diambil dari perusahaan.. bukan uangnya Mba Gita" potong Rama dengan sinis.


Izza ga berani menjawab.


"Terus buat ongkos kuliah, kebutuhan lainnya dan makan sehari-hari dari mana?" tanya Rama penasaran.


"Alhamdulillah masih ada uang kan dari kerja sama Mba Anin kemaren, lagipula sekarang udah tinggal di Panti Asuhan, ya makan dari sana aja Kak, seadanya" jawab Izza.


"Apa rencana selanjutnya?" selidik Rama.


"Maksudnya rencana tindakan hukum?" tanya Izza belum paham.


"Hidup kamu lah... saya ga peduli sama tuntutan hukum Mba Gita, sudah ada lawyer saya yang urus semuanya" jawab Rama dengan sok cool.


"Maksudnya Kakak peduli gitu sama nasib saya?" ucap Izza belum paham arah maksud pembicaraan Rama.


"Kamu ga perlu nanya saya peduli ga sama hidup kamu, yang saya tanyakan itu bagaimana rencana hidup kamu kedepannya?" tanya Rama.


"Perlukah Kakak tau apa rencana saya?" ujar Izza simple tapi menohok Rama.


"Ya kalo ga mau jawab ga masalah kok. Hidup kamu kan kamu yang rasakan .. buat apa kepo sama hidup orang bukan?" sahut Rama makin songong.


"Belum tau sih Kak. Kalo untuk kuliah, sekuatnya saya jalanin, ya untuk semester ini memang sudah bayar, tapi kalo ga ada ongkos dan buat fotocopy serta tugas ya mau gimana lagi? Jadi intinya saya jalani sesuai kemampuan dompet saja. Atau semester depan saya akan ajukan cuti sambil cari pekerjaan" jelas Izza pasrah.


"Ambil S1 atau D3 sih?" tanya Rama lagi.


"S1 Kak" jawab Izza singkat.


"Ada yang kamu mau minta dari saya? anggap sebagai hadiah karena mengurus Sachi dua hari ini" tawar Rama.


"Bener nih saya boleh minta sesuatu Kak?" jawab Izza bahagia, matanya berbinar.


"Saya kasih waktu lima menit untuk berpikir, silahkan permintaan beserta alasannya. Nanti saya pertimbangkan apa bisa saya bantu" ucap Rama.


"Saya minta ada keringanan hukuman buat Mba Gita. Apa ga ada pertimbangan dari Kak Rama dengan masa kerja Mba Gita di perusahaan? Saya kira bukan waktu yang sebentar bekerja disana selama lebih dari dua dekade" kata Izza spontan tanpa mikir panjang.


"Empat menit lagi" ucap Rama sambil melihat jamnya.


"Kalo perlu ... Kakak bisa ambil aset rumah beserta isinya. Kak Rama tau kan daerah rumah Mba Gita itu termasuk kawasan yang mahal harga tanahnya di Jakarta" tawar Izza.


"Tiga menit lagi" kata Rama sambil masih melihat jam tangannya.


"Memang belum menutup uang yang Mba Gita ambil, tapi daripada engga sama sekali" kata Izza.


"Dua menit" ingat Rama.


"Kalo kasus kebakaran itu ... saya ga bisa berkomentar, saya tidak kenal sama sekali sama Mba Nay" lanjut Izza.


"Satu menit lagi" tegas Rama.


"Saya rela melakukan apapun untuk Mba Gita" kata sakti dari Izza akhirnya keluar.


"Waktu habis ... cuma itu yang kamu mau bilang?" tanya Rama sambil memandang Izza.


"Ya" jawab Izza masih menunduk.


"Tadi kamu bilang rela melakukan apapun buat Mba Gita?" tanya Rama meyakinkan.


"Ya Kak, Mba Gita sudah memberikan banyak ke saya" jawab Izza masih menunduk.


"Saya klarifikasi dulu ... masalah hukum nantilah kalo saya sudah konsultasi sama lawyer. Mengenai rumah kayanya memang punya saya lah. Saya kasih peringatan ya ... jangan dengan mudahnya menyebut nama Mba Nay didepan saya. Dia terlalu istimewa untuk disebut oleh orang seperti kamu... paham?" ungkap Rama penuh penekanan.


"Maaf Kak" jawab Izza.


"Menikah dengan saya dan ikuti semua perintah saya tanpa membantah. Sebagai bayarannya, saya akan membiayai semua kebutuhan hidup kamu, bahkan saya bisa kasih lebih dari yang kamu butuhkan. Saya juga akan berkonsultasi dengan pihak pengacara apakah bisa laporan tentang korupsi dicabut. Sesuai apa yang tadi kamu katakan, anggap aja sebagai ucapan terimakasih sudah mengabdi di perusahaan Papi dan membantu saya menjaga Mba Nay walaupun pada akhirnya menjadi akses untuk menyakiti Mba Nay. Semua aset rumah beserta isinya milik Mba Gita akan menjadi hak saya, nanti akan diurus untuk penyerahan dari Mba Gita ke saya. Ingat ya... segala isinya ... termasuk tas brandednya, perhiasan, serta jam branded yang dia koleksi. Saya memerlukan kamu hanya untuk Sachi, jadi jangan terlalu bangga saya ajak menikah" tegas Rama.


Izza langsung bengong ga percaya akan ucapan yang baru terlontar dari mulutnya Rama. Kebayang ga sih kalo dilamar ditengah teriknya matahari, dikeramaian pula. Tanpa ucapan romantis atau seikat bunga. Ga ada adegan berlutut sambil menyerahkan cincin dan bertanya "Will you marry me?".


🤍


Terima kasih untuk semua yang sudah memberikan apresiasinya terhadap novel karya saya.


Yuk baca karya saya lainnya :


* Senja


* Aku, Dirimu & Dirinya


* Harta, Tahta dan Tutug Oncom


* Warung


* Roti Bakar


Jangan lupa bantu promosi ke encang, encing, nyak, babeh, tetangga, sodara, tukang sayur di pengkolan, teman online, macan ternak (emak2 cantik anter anak), adik, kakak, om, tante, kang cilok yang pake dasi, kang parkir yang pake jas dll.


✍️