HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 107, I'm gonna have a family meeting



Rombongan keluarga Pak Isam sudah memasuki halaman rumah, mereka ke Jakarta naik pesawat kemudian lanjut pakai bus yang sudah disewa oleh Pak Isam. Rombongan berjumlah lima puluh satu orang, terdiri dari dewasa dan anak-anak. Ada yang tidak ikut karena sakit jadinya belum full, tapi semua adik dan adik ipar Pak Isam hadir semua.


Izza masih sibuk di dapur bersama yang lainnya. Menyiapkan minuman panas dan dingin. Risol dan pisang coklat sudah ditata dibeberapa piring sebagai makanan pembuka.


Mas Haidar dan Sachi juga sudah standby di teras depan. Sachi selalu jadi idola keluarganya Pak Isam karena lucu dan cantik. Hari ini rambut Sachi dikepang dua, dijepit juga dengan jepitan rambut warna warni, dia memakai dress selutut shabbychic nuansa pink. Pak Isam duduk di bangku taman depan.


Saling mencium tangan, berangkulan dan menanyakan kabar tengah dilakukan oleh semuanya. Para security dan asisten rumah tangga yang laki-laki tengah membantu menurunkan tas-tas dan koper.


"Mana nih calonnya Mas Haidar? katanya udah ada yang baru, kok ga dishare di grup chat? sama juga nih Rama, diam-diam sat set sat set mau nikah" ledek Omnya Haidar.


"Nantilah Om .. biar surprise" jawab Mas Haidar.


"Jagoan ga keliatan Mas, kemana?" tanya adiknya Pak Isam.


"Ga pulang ke rumah sejak Izza tinggal disini" kata Pak Isam.


Pak Isam memang sudah sedikit bercerita tentang Izza di grup chat keluarga agar tidak menimbulkan prasangka yang aneh-aneh. Jadi semua keluarga taunya kalo Izza adalah calon istrinya Rama.


"Penasaran banget sama yang namanya Izza, Mas ga pernah kasih fotonya sih, kan dia tinggal disini, bisa difoto langsung" ucap adik iparnya Pak Isam.


"Ngko nguamuk Ramane (Nanti marah)" sahut adiknya Pak Isam yang lain.


"Ramane ndi Mas? (Rama dimana)" tanya adiknya Pak Isam lainnya.


"Di Audah Hotel, nanti kesini, sekarang masih di jalan" jawab Pak Isam.


"Rama udah siapin kamar buat besok, baru pulang hari Senin kan semua? mumpung Senin tanggal merah. Lagipula naik dari Halim kan pesawatnya?" kata Mas Haidar.


"Iya.." jawab saudaranya Pak Isam.


"Ayo masuk... pasti cape kan .. rehat-rehat dulu lah" pinta Pak Isam.


Sachi sudah sama para sepupunya Mas Haidar, banyak oleh-oleh yang dia dapatkan.


Rumah terasa beda, ada sentuhan wanita. Tata letak ada yang sedikit diubah, ada bunga hidup diletakkan dalam vas koleksi Maminya Rama. Gorden lama yang tidak dipakai kembali dipasang. Taste Maminya Rama memang bagus. Semua ornamen sangat diperhatikan. Sejak kematian Maminya Rama, Pak Isam tidak pernah membeli perabotan atau apapun untuk interior rumahnya. Paling sesekali Mba Mentari yang membeli, biasanya menjelang hari raya.


Meja makan sudah tersedia cemilan serta oleh-oleh yang Rama bawa dari Tasikmalaya. Minuman juga sudah tersedia di meja sebelahnya. Ada yang dingin dan hangat, bahkan ada juga jar khusus air panas untuk menyeduh kopi atau susu. Untuk minuman dingin, Izza membuat lemon tea, kebetulan lemon di taman belakang sedang berbuah banyak. Dapat kiriman teh juga dari temannya Pak Isam di Jawa Tengah, jadinya daripada tidak dimanfaatkan, sama Izza diolah menjadi minuman. Untuk air hangat, Izza membuatkan teh tarik. Semua menyerbu minuman dan cemilan yang disediakan. Izza sedang ganti baju dulu karena sudah berjibaku di dapur sejak pagi.


.


"Setelah sekian purnama akhirnya rumah ini ada sentuhan wanita lagi ya Mas.. pantas aja Mas kayanya sayang sama Izza. Ya pintar ambil hati calon mertua" puji adiknya Pak Isam.


"Ojo salah pilih meneh Mas Haidar.. bojo ayu tapi ra kenal sedulur (istri cantik tapi tidak kenal sama saudara/tidak mau membaur)" saran sepupunya Mas Haidar yang usianya sepantaran.


"Kali ini insyaa Allah bisa membaur, tapi lagi ada pelatihan jadi ga bisa datang. Dia titip salam buat semuanya" jawab Mas Haidar.


.


Izza keluar dari kamar Mba Mentari, memakai baju dress panjang nan simpel warna navy dengan motif sedikit bunga warna baby blue dibagian bawah dan dibagian lengan. Baju ini adalah milik Maminya Rama. Memang perawakannya mirip sama Izza. Pashmina instan warna baby blue makin melengkapi penampilannya Izza menjadi lebih paripurna.


"Ayuuneeee..." kompak para adik-adiknya Pak Isam berkata ketika melihat Izza menghampiri mereka.


"Ini yang namanya Izza" kata Pak Isam memperkenalkan dengan bangga.


Izza diperkenalkan satu persatu oleh Pak Isam. Senyum selalu mengembang dibibirnya Izza. Kuliah di Public Relation membuat Izza pandai dalam membawa dirinya dalam sebuah forum. Gestur tidak berlebihan, senyum tulus dan tata bicaranya pun sangat apik.


"Sachi... ini Bundanya ya?" ledek sepupunya Mas Haidar.


"Itu aunty Izza, kata Ayah nanti sebentar lagi, baru panggilnya Bunda Izza. Sekarang belum boleh" jelas Sachi dengan polosnya.


"Kenapa belum boleh?" iseng lainnya.


"Kata Ayah pokoknya belum boleh" ngotot Sachi.


"Sekarang Ayah Rama mana? kok belum datang juga" tanya yang lainnya lagi.


"Ayah lagi cari uang dulu, buat sekolah sama beli mainan Sachi" lanjut Sachi.


"Ayah Rama uangnya banyak dong kalo selalu beliin mainan?" tanya sepupunya Rama.


"Ayah ga punya uang, dompet Ayah uangnya satu lembar, nih dompet Sachi banyak uangnya" pamer Sachi sambil memperlihatkan dompetnya yang isinya uang mainan.


"Aduh Ayah Rama.. kerja terus tapi ga punya uang" ledek lainnya.


Sachi malah tertawa mendengar Rama diledek.


"Coba Ayah Ramanya ditelpon, bilang kalo ga datang, aunty Izza mau dibawa ke Surabaya sama Oma-oma semua" ledek adiknya Pak Isam.


"Ga boleh .. ga boleh .. aunty Izza bolehnya sama Sachi aja" ucap Sachi ngambek.


Sachi langsung berlari kearah Izza. Tubuh Sachi yang berisi menabrak tubuh Izza yang tinggi langsing, jadilah Izza hilang keseimbangan dan jatuh bersama Sachi. Para sepupunya Mas Haidar langsung lari mendekati Izza dan Sachi untuk menolong.


"Mba Izza gapapa?" tanya mereka berebutan untuk menolong Izza.


"Assalamualaikum..." sapa Rama sambil berjalan masuk kedalam rumah.


"Waalaikumsalam..." jawab semuanya.


Para sepupunya Rama mundur alon-alon, daripada Rama ngamuk karena sang calon istri dikerubungi oleh mereka.


Rama memang terkenal jagoan di keluarga besarnya, deretan kasus kenakalan masa remaja plus kalo ga terima omongan sepupunya pasti langsung ngajak baku hantam. Sudah beberapa orang sepupunya merasakan bogem mentah dari Rama karena sebuah kesalahpahaman.


Rama mendekati Izza dan Sachi. Memastikan Sachi baik-baik aja, bahkan Sachi sudah kembali berlari kesana kemari.


"Bisa bangun sendiri?" tanya Rama ke Izza yang lagi mengurut tangannya yang tertindih badan Sachi.


"Bisa .. " jawab Izza.


"Piye tho Massss... sing mesra karo calone" ledek sepupunya Rama.


"Dek... Mas bantu bangun ya.. ngono tho Mas" ucap sepupunya Rama mengajarkan.


Semua ketawa aja melihat Rama yang masih sekaku dulu kalo berhadapan dengan wanita.


"Nanti kalo saya gendong, bisa kena marah Papi. Papi itu lebih sayang ke Izza daripada anaknya sendiri" ucap Rama yang menghampiri saudaranya satu persatu untuk bersalaman.


"Ketemu dimana Mas.. mantap tenan pilihane" puji Omnya Rama sambil menepuk bahunya Rama.


Rama cuma tersenyum mendengar celotehan saudaranya.


"Tiap lebaran yang ditanya kan selalu mana gandengannya, terus begitu lulus kuliah ditanya lagi mana calonnya. Ya mumpung lebaran masih lama, jadi saya kenalin dulu sama calon istri InsyaAllah yang sebentar lagi jadi istri" papar Rama.


"Yakin nih mau nikah muda? belum menikmati dunia senang-senang loh" kata Adiknya Pak Isam menggoda.


"Justru nikah biar bisa senang-senang.. hahaha" canda Rama.


Izza menuju ruang makan, kembali merapihkan makanan karena sudah jam sebelas siang, artinya sebentar lagi makan siang. Mas Haidar main sama Sachi dan sepupu lainnya. Masih tampak cuek antara Rama dan Mas Haidar.


"Za .. Mas nya pulang kok ga ditawari minuman" protes tantenya Rama.


Rama rupanya cepat tanggap dan ingin membuat first impression kalo hubungan mereka memang sudah serius dan siap menikah.


"Spesial kalo buat Rama... De ... request minumannya mana?" tanya Rama dengan nada mesra.


Pak Isam dan Mas Haidar kaget mendengar nada bicara Rama. Sesaat kemudian mereka tersenyum, paham sama karakter Rama yang kadang butuh pencitraan.


Izza yang paling kaget mendengar Rama memanggil Ade ke dirinya. Belum pernah terlontar dari bibirnya Rama sebelumnya. Karena memang dia belum menyiapkan sesuatu yang spesial jadinya kelabakan sendiri. Izza langsung menuju kulkas di dapur untuk melihat apa ada yang bisa dia sajikan dalam waktu cepat.


"Ini orang ya... bikin malu aja... segala manggil Ade, udah gitu minta minuman spesial.. emangnya disini cafe apa" gerutu Izza sambil mengambil bahan untuk membuatkan minuman.


Setelah selesai membuat minuman, Izza langsung menyajikan minuman kehadapan Rama.


"Makasih ya De, sini duduk disebelah Kakak" kata Rama sambil tersenyum manis kearah Izza.


"Walah manggilnya Kakak... Kakak Ade... hahaha .. ga pantes kayanya Mas ber Kakak Ade" ledek sepupunya Rama.


"Duduk tho De .. jangan sibuk aja, kan banyak asisten disini. Nanti kalo Kang Mas butuh sesuatu kan ga perlu teriak" ledek sepupunya Rama yang lainnya.


"Duh yang punya Ade... itu kenapa Masnya dibikinin susu.. biar kuat dan sehat ya?" ujar Omnya Rama.


"Minum susu kok siang-siang, sudah jam sebelas ini Mas.. ga salah menu?" kata Tantenya Rama.


"Ya kan baru datangnya siang, besok kalo udah nikah ya pagi minumnya" sahut Rama.


"Pengantin baru kalo minum susu ya ga kenal pagi, siang, sore dan malam pokoke .. Ya kan Mas?" sambut lainnya dengan nada becanda.


Yang paham becandaan seperti itu sudah tertawa. Rama dan Izza yang belum paham malah jadi bingung.


"Maksudnya apa ya?" tanya Rama penasaran.


Rama masih belum paham juga arah pembicaraan mereka. Sachi menghampiri Rama dan mencoba minuman yang ada di gelasnya Rama.


"Enakkkk" ucap Sachi.


Karena penasaran ada dua orang sepupunya Rama yang meminta untuk mencicipi minumannya Rama.


"Apa ini Mba Izza? susu campur apa?" tanya sepupunya Rama.


"Susu, kurma dan madu" jawab Izza.


"Waduh... makin mak grengg ngko yo Mas" timpal Om nya Rama.


"Buat persiapan Om, jadi begitu hari H udah kuat mengahadapi segala tantangan dan medan yang terjal sekalipun... hahaha" sahut sepupunya Rama.


Paham sedang diledek, Rama mencoba untuk terlihat santai. Otaknya memang cepat bisa nyambung kalo clue sudah agak lebih jelas.


"Saya kan harus kerja keras, calon istri masih kuliah, butuh biaya yang banyak. Sachi juga kan mau masuk SD, hutang mobil sama Papi juga masih banyak. Tabungan masih diangka delapan digit" sahut Rama dengan santai.


"Kerja keras boleh, tapi ingat juga sama keluarga. Boss kok ya bingung.. lunasin lah hutang mobil ke Papi" goda Omnya Rama.


"Hari ini mau dilunasin Om.. tenang aja" jawab Rama.


"Proyek goal nih" sahut sepupunya.


"Inget ga sama mobil antik yang dulu pernah dibeli? nah itu kan nongkrong aja di garasi milik teman yang jual beli mobil antik. Sudah sebulan ini tawar menawar dan Alhamdulillah kemarin deal. Transferan juga baru masuk" jelas Rama.


"Yang sedan hitam dua pintu itu?" tanya sepupunya Rama meyakinkan.


"Yoi .. musuhnya artis, duitnya ga berseri.. hehehe. Pokoknya suka terus langsung angkut" jawab Rama.


"Kalo mobil antik pasarannya gimana sih Mas? ada harga-harga standarnya ga?" tanya sepupuku yang lain.


"Mobil antik itu ga ada pasaran harga, jadi deal-dealan diharga berapa gitu. Ini bukan masalah merek atau apapun, kadang nilai historis, keklasikkan interior dan kondisi mesin sih. Tapi yang paling penting kalo udah hobi mah susah dijelasinnya" jelas Rama.


"Baru sebulan yang lalu motor antiknya laku gede, sekarang laku berapa?" iseng Pak Isam bertanya.


"Tenang Pi .. pokoknya lunas deh mobil.. hehehe" ujar Rama.


"Mas Rama sekarang sumringah sama banyak omong ya, jauh berbeda dari tiga bulan yang lalu kita ketemu di Bali" kata Tantenya Rama.


"Dulu kan bukan Boss.. cuma anak buah jadinya manut ae. Sekarang ya harus cuap-cuap, masa Boss anteng" alasan Rama.


Ada asisten rumah tangga yang menghampiri Izza. Membisikkan sesuatu ke Izza.


"Saya permisi ke dapur dulu ya" pamit Izza.


"Ada apa?" tanya Rama kepo.


"Nyiapin makanan" jawab Izza.


"Santai dong Mas Bro.. kan ceritanya Mba Izza ini tuan rumah, jadi ya wajar kalo agak repot. Biasanya kan Pakde Isam nyewa katering, tapi kali ini calon mantu yang handle" kata sepupunya Rama.


"Bukan saya yang masak, Mba di rumah ini masakannya lebih enak. Saya cuma ngatur aja" ujar Izza merendah.


"Ya gapapa, mengatur makanan itu bikin pusing loh Za. Apalagi selera tiap mulut beda-beda" bela Tantenya Rama.


🌺


"Terus kamu mau ke Jakarta? menerima tawaran Nak Rama?" tanya Abahnya Mang Ujang.


"Masih belum tau, ke Jakarta juga mau apa? kalo sekedar sekolah aja pasti bosan. Mending disini jaga adik-adik" jawab Ceu Lilis.


"Sebenarnya Nak Rama itu suka sama kamu atau tidak? Kok kayanya peduli banget. Dari mulai pengobatan Ibu kamu, sekolah, biaya hidup.. atuh lelaki ga akan kasih semua secara gratis Lis. Pasti ada hati" tanya Ambunya Mang Ujang.


"Ya ga tau juga kalo ada sesuatu Lilis, tapi berkali-kali bilang ke Lilis ya hanya dianggap adik sama dia. Dia kan sudah janji sama almarhumah Kakaknya Lilis, kalo udah ketemu sama Lilis ya akan diurusin" jawab Ceu Lilis.


"Kamunya suka sama dia?" cecar Abahnya Mang Ujang.


"Wanita mana atuh Abah yang ga suka sama Aa' Rama, tapi realistis aja, orang seperti Lilis mah susah buat ikutin semua pemikirannya. Ditambah dari keluarga berada, pasti banyak aturan yang bikin ga bebas. Lilis mah ga mau jadi burung dalam sangkar emas" papar Ceu Lilis.


"Ujang ikut dia bahagia aja tuh, orangnya baik banget" puji Ambunya Mang Ujang.


"Atuh Mang Ujang mah supirnya, masa mau diatur-atur hidupnya. Kalo jadi istri kan harus patuh. Aa' Rama orangnya susah ditebak, kalo lagi enak hati ya enak diajak ngobrol, tapi kalo lagi bete bisa abis kena omel. Tanya aja sama Mang Ujang yang udah kenyang sama omelannya Aa' Rama. Susah jadi pendampingnya, Lilis mah angkat tangan deh. Kalo dia suka juga akan Lilis tolak" kata Ceu Lilis lagi.


"Ujang bilang kalo calon istrinya itu anak Panti Asuhan, ga punya Bapak Ibu dan keluarga. Kok mereka bisa kenal ya?" ujar Abahnya Mang Ujang.


"Panjang ceritanya ... kan sekarang Kakak angkatnya Izza dipenjara karena korupsi di kantornya Aa' Rama. Udah gitu Kakak kandungnya udah meninggal juga di penjara kasus narkoba. Aa' Rama tau semua, tapi tetap aja nekat mau nikah sama Izza" papar Ceu Lilis.


"Maksudnya gimana? Abah ga paham. Tapi balik lagi Lis.. mungkin Nak Rama udah cinta banget, orang kalo udah cinta ya semua buta, rela menutup mata dan mata hati" ucap Abahnya Mang Ujang.


Ceu Lilis akhirnya bercerita tentang awal mula hubungannya sama Rama terjalin, bagaimana Kakaknya Izza, tentang siapa Sachi dan siapa Mba Gita. Orang tua Mang Ujang agak kaget mendengar semua ceritanya Ceu Lilis karena selama ini Mang Ujang ga pernah cerita apapun tentang kehidupan Rama.


"Oh jadi Nak Rama kenal sama Kakak kamu terus merawat anak yang aslinya itu anak kandung Kakaknya? ya Allah.. patut diacungi jempol. Bukan dia yang harusnya tanggung jawab padahal" puji Abahnya Mang Ujang.


"Mungkin kalo saat itu Mba Nay terima pinangan Aa' Rama, sekarang Aa' Rama udah jadi Kakak ipar Lilis" ucap Ceu Lilis.


"Berat ya kalo begitu... Kita harus bisa selamatkan Nak Rama, kasian kalo dapat calon istri dari keluarga yang seperti itu" ucap Ambunya Mang Ujang.


"Bukan urusan kita" potong Abahnya Mang Ujang.


"Tapi kan anak kita kerja sama dia" kata Ambunya Mang Ujang.


"Ujang kan kerja jadi supir, bukan jadi penasehat hidupnya Nak Rama. Nanti salah-salah malah anak kita yang kehilangan pekerjaan" tengah Abahnya Mang Ujang.


💐


Para asisten rumah tangga sedang menyiapkan makan siang di meja makan, Izza sedang memotong buah dengan potongan seperti yang ada dihajatan (sekali gigitan).


Rama menghampiri Izza. Rama tepat berdiri dibelakangnya Izza dan tangannya memegang meja dapur (seperti memeluk). Tapi tubuh keduanya ga bersentuhan.


"Apaan sih Kak.. " ucap Izza risih.


Para asisten rumah tangga udah senyum-senyum aja. Alex yang membawakan semangka bulat yang sudah dikupas kulit pun jadi bingung, mau mundur dulu tapi Izza minta cepat diletakkan semangka di meja, mau maju pun rasanya ga mau ganggu.


"Kenapa Lex .. sini buahnya biar sekalian dipotong" perintah Rama yang melihat Alex malah bengong.


Rama kemudian menarik bangku dan duduk disampingnya Izza. Alex meletakkan buah dan bergegas pergi.


"Makasih ya.. " ucap Rama.


"Buat apa Kak?" tanya Izza.


"Menjadi nyonya rumah yang baik, memberikan first impression yang oke. Ya pokoknya atas semua yang kamu lakukan didepan keluarga saya" kata Rama dengan suara pelan.


"Anggap aja sebagai ucapan terima kasih atas semua bantuan yang Keluarga Kakak berikan" ujar Izza.


"Hari ini full repot dong ya" ujar Rama sambil memakan buah yang sudah Izza potong.


"Nanti ada jam pengganti, jadi mau berangkat ke Kampus sore ini. Makanya sebelum jalan nanti mau kasih catatan dulu ke yang lain, apa aja yang harus disiapkan" jawab Izza.


"Saya antar ya, jam berapa sampai jam berapa?" tanya Rama.


"Ga usah Kak.. sudah bilang kok ke Bang Alex untuk antar ke Kampus" jawab Izza.


"Naik apa?" tanya Rama.


"Naik motor kayanya, tau sendiri kalo malam Minggu jalanan rame, apalagi awal bulan, masih banyak yang jalan-jalan" jawab Izza.


"Nanti saya antar pakai mobil aja, lagi musim hujan, lagipula kan pulangnya malam" kata Rama.


"Tapi kan lagi banyak keluarga disini, ga enaklah Kakak tinggal-tinggal" ucap Izza.


"Justru saya bisa abis dicecar kalo ga anterin kamu. Pokoknya nanti saya antar.. titik ga ada koma" perintah Rama.


"Ini mau lepas kangen atau nyiapin buah? udah pada kelaparan tuh semuanya" sindir Mas Haidar yang menuju chiller es krim untuk mengambil salah satu es krim.


Izza langsung memberikan isyarat ke Rama untuk sabar.


"Jangan bikin keributan kalo masih kumpul keluarga" bisik Izza.


"Kamu tau kalo saya lagi ada masalah sama Mas Haidar?" tanya Rama.


"Pak Isam udah cerita semua" jawab Izza.


"Ramaaaaa... jangan gangguin Izza yang lagi nyiapin buah dong.. kapan selesainya, kalo mau pacaran nanti dulu lah. Urusan perut orang banyak harus segera teratasi nih" ledek Tantenya Rama.