HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 150, Ominous



Polisi mulai bergerak kearah TKP yang tercurigai menjadi tempat penyekapan Izza. Mobil Rama berada paling belakang diantara rombongan mobil polisi. Alex yang mengemudikan mobil, Rama berada disampingnya Alex dan Mba Rani duduk dibangku belakang.


"Ram... terima kasih atas informasinya seminggu yang lalu, subuh ini kami sudah menangkap jaringan pengedar serta menyita banyak barang bukti karena memang disana dijadikan markas sekaligus gudang penyimpanan. Sudah seminggu yang lalu kami pantau sejak kamu lapor beserta segala foto dan video yang mendukung. Kamu selalu membantu kami semua memerangi peredaran barang-barang haram" buka Mba Rani.


"Karma kali ya Mba.. saya memberitahukan tentang jaringan tersebut dan sekarang istri saya ditawan oleh jaringan mereka, apa mereka tau kalo saya yang membocorkan gudang mereka?" duga Rama dengan datar.


"Informasi sekecil apapun kami akan jaga kerahasiaannya, saya memang belum bisa memastikan apakah penculikan Izza ini masih dirangkaian yang sama atau tidak, sabar ya Ram..." ucap Mba Rani menguatkan.


"Maaf Boss.. Bu Rani ... penculiknya Mba Izza sepertinya tidak ada kaitannya dengan informasi yang diberikan sama Mas Rama.. murni karena sang Big Boss terobsesi sama Mba Izza sejak lama. Kenapa tidak diupayakan di Jakarta untuk menculik Mba Izza? karena gerak sangat terbatas disana, susah mencari celah jalan yang lengang seperti di Surabaya. Semua jalur yang Mba Izza lalui adalah daerah rawan macet. Kampus, rumah, Kantor Pusat Abrisam Group serta Audah Hotel itu berada dipusat bisnis. Tidak heran kalo orang ini tau Boss akan mengadakan resepsi di Surabaya, karena masih orang terdekat dari lingkaran keluarga Abrisam juga" papar Alex.


"Kamu tau Lex siapa mereka?" tanya Mba Rani.


"Belum Bu Rani, tapi siapa yang tau persis gerak langkah Mba Izza kalo bukan orang terdekat. Memang pesta seorang keluarga Abrisam pasti banyak bisa diketahui khalayak ramai, tapi ga sedetail ini... sampai tau kalo Mba Izza akan belanja di depot Bu Rosy, saya baru coba mulai berpikir nih ... penasaran juga" tambah Alex.


Sebenarnya Rama sudah menyebutkan nama kepihak yang berwajib, Alex memang tidak diberitahu oleh Rama jadi Alex masih terus menerka-nerka. Mba Rani pun hanya memancing apakah Alex tau siapa pelakunya, hal ini untuk mengetahui apakah Alex ada dipihak Rama atau pihak musuh.


Kewaspadaan terhadap orang terdekat sangat diperlukan untuk masa sekarang ini. Makanya Rama pun hanya memberikan nama ke Polisi, tidak ke orang lain termasuk Alex.


"Benar juga apa yang kamu katakan Lex .. orang ini tau persis ya. Kalian mencurigai seseorang dalam keluarga ga? yang membuat Izza berkeinginan makan di depot Bu Rosy.. karena kan rencananya memang diculik disana" tanya Mba Rani.


"Ga ada Mba.. tapi memang seminggu yang lalu itu Izza banyak liat seliweran tentang depot Bu Rosy di media sosialnya. Dia bilang ke saya, minta mampir ke depot Bu Rosy kalo ke Surabaya. Kebetulan juga oleh-oleh yang banyak dipesan temannya adanya disana. Apa mungkin teman di media sosialnya Izza ada yang sengaja share tentang depot Bu Rosy sehingga terus-menerus muncul di beranda media sosialnya Izza?" papar Rama.


"Bisa jadi seperti itu, jadi Izza sudah digiring untuk ke tempat itu. Tapi tanpa digiring pun, hampir setiap orang yang datang ke Surabaya pasti mampir ke depot Bu Rosy untuk beli sambal Bu Rosy yang memang sudah sangat terkenal sebagai ikon oleh-oleh" kata Mba Rani lagi.


"Mungkin orang ini juga sudah tau parkiran depot Bu Rosy pasti padat. Agak susah ngeluarin mobil dari parkiran. Dan tau kalo tipenya Mba Izza ga tega melihat penjual yang sudah tua menjajakan dagangan. Jadi ngejar pun akan terkendala susahnya keluar dari parkiran" tambah Alex.


"Orang ini cukup mengenal Izza lebih dari yang saya kenal ... luar biasa" puji Rama.


"Namanya juga obsesi Boss.. " sahut Alex.


"Wajar jika ada orang yang terobsesi oleh Izza, karena saya pun sama. Sejak kenal, kaya ada magnet yang selalu menarik saya untuk mendekat. Hingga banyak mencari informasi tentang dia. Walaupun tidak didasari dengan cinta, tapi akhirnya jatuh cinta juga setelah mengenal dia lebih jauh. Dia mampu menjungkirbalikkan dunia saya" ungkap Rama dari hatinya yang paling dalam.


"Takdir yang membuat kalian berdua bisa saling mencintai Ram.. Mba liat pun, Izza juga ga ada ketertarikan dengan kamu, tapi begitu kalian menikah, Mba bisa liat bagaimana Izza belajar mencintai kamu dengan sepenuh hati. Like a Cinderella ... seorang gadis sederhana yang menarik perhatian seorang pangeran kaya raya" gumam Mba Rani becanda.


"Ya begitulah Mba... sebenarnya bukan dia yang menjadi Cinderella.. tapi saya yang dijadikan pangeran olehnya" puji Rama.


"Ga kebayang jadi seorang Izza ya.. kuat banget. Belum selesai persoalan Mba Gita, lalu keluarga yang ga mengakui dirinya hingga tidak ada yang menghadiri pernikahannya dan sekarang menghadapi orang yang terobsesi memilikinya. Saya khawatir setelah kejadian ini, jiwanya terguncangnya Ram.. kuatkan dia walau apapun terjadi. Kamu harus siap dengan kemungkinan seburuk apapun. Ditiap misi kami selalu berupaya untuk meminimalisir jatuhnya korban, tapi tidak bisa menjamin seratus persen di lapangan sesuai harapan kami. Apalagi jika tersangka mempunyai senjata. Ketenangan kamu sangat diperlukan disini Ram" nasehat Mba Rani.


"InsyaAllah Mba.. " jawab Rama.


💐


"Ayo Za... mobil semua sudah bersiap keluar pagar. Kita keluar dari gudang ini, mendekat kearah gerbang, cuma itu satu-satunya jalan keluar yang kita punya karena tembok disini semua tinggi dan kita ga bisa loncat ke rumah sebelah. Lari sekencang-kencangnya begitu pagar terbuka. Akan ada resiko, tapi hanya itu pilihannya" perintah Mas Ivan.


"Ya Mas .." jawab Izza.


"Gerbang itu otomatis, akan tertutup satu menit setelah bagian belakang mobil melintas karena sensornya seperti itu, menutupnya juga perlahan sekitar dua menit. Kita akan mendekat kearah belakang pos security terus lari. Fokus lari kedepan Za.. saya akan ada dibelakang kamu untuk melindungi" lanjut Mas Ivan.


"Ya Mas... makasih" ujar Izza lagi.


"Maafkan saya harus melibatkan kamu dalam hal ini, saya yang merencanakan penculikan kamu Za.. agar konsentrasi Pak Flandy mengarah ke kamu. Karena .. gudang utama kami akan digerebek hari ini" lanjut Mas Ivan.


"Maksudnya gimana Mas? Izza ga paham" jawab Izza bingung.


"Saya sudah memberikan semua bukti kejahatan ke Rama, dia orang yang tepat untuk memberitahukan kepihak yang berwajib. Saya tau dia banyak kenalan Polisi. Kalo saya melaporkan, malah nanti jadi ketahuan sama Pak Flandy. Tapi tentang penculikan kamu, dia ga tau sama sekali, tapi saya yakin dia cukup pandai membaca clue yang ada. Kamu akan dijemput sama dia sebentar lagi" kata Mas Ivan yakin.


Meskipun ga paham arah pembicaraannya Mas Ivan, Izza mencoba merekam dulu dalam memorynya. Nanti jika dia sudah selamat dari tempat ini barulah menanyakan banyak hal lagi ke Rama. Kini sisa tenaga dan pikirannya akan dia kerahkan dulu untuk meloloskan diri sesuai instruksi dari Mas Ivan.


.


Dua mobil sudah dalam kondisi nyala, tinggal menunggu Pak Flandy keluar.


Mas Ivan dan Izza pun sudah mulai bergerak mengendap-endap menuju belakang pos security di rumah tersebut.


Mobil yang dikendarai oleh Alex sudah terparkir agak jauh dari rumah yang sudah dikepung.


.


Kini Izza dan Mas Ivan sudah berada dibelakang pos security, mengatur nafas pelan agar tidak terdengar suara helaannya oleh anak buahnya Pak Flandy yang berada disini.


Pak Flandy keluar dari rumah, anak buahnya memasukkan beberapa koper kedalam mobil.


Izza ngumpet dibelakang punggungnya Mas Ivan begitu melihat sosok Pak Flandy. Muncul ketakutan luar biasa dalam diri Izza hingga tangannya bergetar. Sampai dia memegang pundaknya Mas Ivan.


"Kamu gapapa Za?" tanya Mas Ivan berbisik.


Wajahnya Izza tampak pucat dan tangannya bergetar. Mas Ivan memegang telapak tangannya Izza yang sudah berkeringat dingin.


"Tenang Za... sebentar lagi kamu akan bebas dan bisa bertemu Rama. Dia akan selalu menjadi malaikat pelindung kamu. Cintanya mampu memenuhi segala cinta yang kamu butuhkan. Jadi istri yang baik buat dia. Rama adalah orang paling baik yang pernah saya kenal" ujar Mas Ivan pelan.


Izza hanya bisa menganggukkan kepalanya.


.


Pintu pagar mulai terbuka, polisi sudah berada di tempat persembunyiannya masing-masing. Alex, Rama dan Mba Rani pun sudah keluar dari mobil karena mesin mobil dimatikan, mereka ga mungkin berada didalam mobil yang tertutup rapat, jadi mereka bersembunyi dibalik mobil.


.


Mobil yang ditumpangi oleh Pak Flandy bergerak keluar, polisi sudah saling berkoordinasi. Mobil kedua yang banyak berisi koper-koper dan dua anak buah Pak Flandy juga mulai bergerak kearah pagar.


Mas Ivan menarik tangannya Izza untuk segera lari kearah pagar dan nantinya akan langsung belok kearah kiri (mobil bergerak kearah kanan).


Kejadiannya begitu cepat.


Izza terpaksa digendong belakang oleh Mas Ivan karena Izza sudah tidak mampu menggerakkan kakinya karena ketakutan yang menyergap.


Sekuat tenaga Mas Ivan berlari membawa beban tubuhnya Izza.


"HEIIIIIIII" teriak anak buahnya Pak Flandy yang melihat mereka keluar pagar.


Mas Ivan membalikkan tubuhnya kemudian...


DDORRRRR.... suara tembakan terdengar satu kali.


.


"Siapa Mba yang melepaskan senjata?" tanya Rama.


"Jangan gerak dulu Ram.. mereka bersenjata, biarkan anggota kami yang menyelesaikan terlebih dahulu" ingat Mba Rani.


"Tapi Izza ada disana Mba" ucap Rama agak panik.


"Saya paham perasaan kamu Ram.. tapi saya sudah menjamin kamu agar tidak bertindak bodoh yang nantinya malah mengacaukan semuanya. Makanya masyarakat sipil tidak terlibat dalam operasi seperti ini karena mereka banyak mengedepankan emosi ketimbang logika" ingat Mba Rani.


Alex dan Rama sama-sama mencoba menahan gejolak rasa yang muncul, keduanya sama-sama mengkhawatirkan kondisi Izza.


Anggota kepolisian keluar dari persembunyiannya untuk menyergap kawanan penjahat.


💐


"MOMMMYYYYYY.." teriak Sachi yang terbangun kemudian menangis.


Mba Nur langsung memeluknya. Mas Haidar yang ada di kamar sebelah juga terbangun mendengar teriakan Sachi.


Mas Haidar bergegas menuju kamar Sachi dan mengetuk pintu.


Mba Nur membukakan pintu. Mas Haidar masuk kedalam kamar, Mba Nur menunggu diluar kamar.


"Kenapa Sachi?" tanya Mas Haidar sambil memeluk Sachi.


"Mommy... Mommy ..." panggil Sachi.


"Sachi mimpi Mommy?" tanya Mas Haidar lagi.


"Iya ... Sachi mimpi Mommy lari dikejar orang jahat" jawab Sachi.


"Sekarang Sachi tidur lagi ya.. besok kan sekolah. Mommy baik-baik aja, ada Ayah Rama yang jagain" kata Mas Haidar meyakinkan Sachi.


"Papa... telepon Mommy sekarang" pinta Sachi.


"Sudah malam, Mommy sama Ayah pasti sudah tidur dan HP nya ga aktif" alasan Mas Haidar.


Mas Haidar akhirnya membawa Sachi ke kamarnya dan tidur bareng dirinya. Sachi memeluk erat Mas Haidar.


"Ya Allah... dua orang yang tidak ada hubungan darah saja bisa kontak batin seperti ini, betapa besarnya cinta Izza dalam menyayangi Sachi. Nak... Papa bisa melegalkan status kamu sebagai anak, tapi hati kamu hanya untuk Rama dan Izza saja. Tapi jalan ini harus Papa ambil demi masa depan kamu juga Sachi.. Papa sudah melakukan kesalahan, ya... Papa ga bisa menjaga Mama kamu, tapi sekarang Papa ga mau gagal jadi the real Papa untuk kamu. Ya Allah... selamatkanlah adik iparku Izza.. wanita hebat yang menjadi cahaya di rumah ini, menjadi bintang penerang dalam keluarga kami. Berikan kesabaran dan ketabahan untuk adikku Rama.. yang sedang diberikan cobaan ini. Semoga keduanya bisa segera bertemu kembali dalam keadaan baik-baik saja" mohon Mas Haidar dalam hatinya.


Ditahannya bulir bening diujung matanya. Dia tidak ingin Sachi tau kalo dirinya tengah menangis.


🌺


Tubuh Mas Ivan rebah di aspal, tubuh Izza pun ikut terjatuh karena Mas Ivan sudah tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


"Mas Ivannnnnnn" pekik Izza histeris melihat aspal sudah bersimbah darah.


Ada dua orang anak buahnya Pak Flandy yang berlari mendekat kearah mereka.


"Jangan bergerak!!" pinta Pak Polisi kearah penjahat.


Anak buahnya Pak Flandy berhasil dibekuk.


.


"Mba itu suara Izza...." ucap Rama makin ga karuan perasaannya.


Alex dan Mba Rani menahan kedua tangan Rama agar tidak bergerak.


"Rama.. jangan bodoh" teriak Mba Rani.


"Iya Boss.. tahan dulu sampai semua situasi aman terkendali" tambah Alex.


"Nanti kalo kamu bertindak tidak sesuai prosedur, malah akan timbul banyak korban. Jika kamu tidak bisa diajak kerjasama, dengan terpaksa saya akan meminta Alex membawa kamu pulang" ingat Mba Rani tegas.


Rama kembali duduk, dia memejamkan mata dan menutup wajahnya pakai kedua telapak tangan.


.


Pintu keluar blok perumahan tersebut sudah diblokade mobil polisi, sehingga mobil Pak Flandy dan anak buahnya bisa tertangkap karena tidak ada jalan keluar lagi.


.


Polisi terlihat saling berjibaku dengan anak buahnya Pak Flandy yang ada di rumah tempat Izza disekap.


Dua orang polisi mendekati Izza dan Mas Ivan, kemudian menelpon ambulance.


Izza tambah menangis meraung-raung melihat ada bercak darah ditelapak kaki dan tangannya.


"Bu... tenang Bu... Ibu sudah aman.." ucap polisi.


"Za...." panggil Mas Ivan pelan sambil mencoba meraih tangannya Izza.


Izza langsung menggenggam tangannya Mas Ivan.


"Za... maafkan Mas ya.... jika Mas tiada, makamkan dilubang yang sama dengan Ibu. Mas mau bilang kalo sudah menuntaskan dendam ini dan bisa jadi kakak kamu yang bertugas melindungi kamu Za... terimakasih ya Allah.. saya diberikan kesempatan menjadi orang baik walaupun diujung nyawa saya" ucap Mas Ivan pelan.


"Mas... Mas Ivan bisa bertahan... polisi lagi telepon ambulance..." pekik Izza makin panik.


"Za... bantu Mas bersyahadat..." pinta Mas Ivan.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar Rasuulullah" kata Izza perlahan-lahan membimbing Mas Ivan.


Mas Ivan membaca dengan cara mengikuti ucapan Izza. Kemudian dia memejamkan matanya. Tangannya langsung lemas tergeletak disisi tubuhnya.


Polisi memeriksa denyut nadi dibagian lehernya Mas Ivan kemudian menggelengkan kepalanya.


"Mas Ivannnnnnn... bangun Massss.. Mas harus hidup.. masih banyak cerita yang harus Mas kasih tau ke Izza" ratap Izza berteriak.


"Bu... bersabar Bu... jangan sampai nanti Ibu histeris dan mengakibatkan Ibu bisa pingsan" ucap Pak polisi.


.


Suara tembakan awal dan jerit tangisannya Izza membangunkan warga sekitar. Polisi sudah langsung memasang garis kuning agar warga tidak mendekat.


Rama berada tepat didepan garis kuning, dari kejauhan melihat Izza menangis didepan tubuh Mas Ivan yang sedang dimasukkan kedalam ambulance.


.


Mba Rani mendekati Izza yang masih histeris. Tubuh Izza ditutupi selimut oleh perawat karena mengigil ketakutan. Mba Rani meminta ijin kerekannya untuk mambantu menenangkan Izza.


"Za... sabar Za..." ucap Mba Rani sambil menepuk pundaknya Izza.


Izza menoleh dan langsung memeluk Mba Rani dengan kencang.


"Kamu sudah aman Za... kita ke Rumah Sakit dulu ya untuk memastikan kondisi kamu. Mba jamin kamu selamat Za.. ga usah takut lagi ya" bisik Mba Rani.


Izza menolak dibawa dengan ambulance, rasa takut terus menghantuinya. Ditambah suara mobil polisi dan sirene ambulance yang meraung-raung, membuat dia makin ketakutan.


.


Anak buahnya Pak Flandy beserta Pak Flandy pun sudah diamankan pihak kepolisian dan dibawa ke Kantor Polisi.


Mba Rani meminta ijin ke Komandan yang bertugas untuk membawa Rama mendekat kearah Izza agar Izza bisa segera dibawa ke Rumah Sakit.


"Dia mengalami guncangan hebat didepan mata, melihat korban ditembak demi melindunginya. Mungkin suaminya bisa membantu dan meyakinkan dia biar mau dibawa ke Rumah Sakit" pinta Mba Rani.


"Baik.. silahkan Pak Rama masuk kedalam garis kuning, mohon penjagaannya juga" putus Pak Komandan.


"Siap" jawab Mba Rani.


🌺


Pak Isam mengetuk pintu kamarnya Mas Haidar. Pelan-pelan Mas Haidar memindahkan kepala Sachi dibantal.


Pintu dibuka oleh Pak Isam karena tidak terkunci. Mas Haidar memberikan isyarat agar Pak Isam tidak bersuara karena ada Sachi.


Keduanya keluar kamar, pintu kamar dibiarkan terbuka.


"Papi baru aja telepon Alex, ada tembakan terjadi. Izza sudah ditemukan, dia ditolong oleh seseorang, Alex belum tau siapa orangnya. Dia tidak bisa mendekat karena ada garis polisi. Sekarang Rama sedang didampingi Rani untuk bertemu Izza yang katanya masih histeris. Rencananya Izza akan dibawa ke Rumah Sakit guna diperiksa fisik dan psikisnya" lapor Pak Isam.


"Innalilahi... ya Allah... tapi bukan Izza yang tertembak kan Pi?" tanya Mas Haidar.


"Bukan... tapi belum jelas bagaimana kondisi fisiknya Izza, apa terluka dan sebagainya belum tau. Tapi Alex melihat Izza masih duduk diatas aspal jalanan dan sudah terlihat ada korban dimasukkan ke kantong jenazah. Berarti bukan Izza korbannya" lanjut Pak Isam agak berantakan menjelaskan karena panik.


"Papi besok pagi jalan ke Surabaya?" tanya Mas Haidar.


"Iya.. naik pesawat yang jam enam pagi. Papi ga tenang kalo belum melihat mereka" kata Pak Isam.


"Apa ga sebaiknya menunggu telepon dari Rama saja Pi? khawatirnya malah selisih jalan.. Rama balik ke Jakarta dan Papi ke Surabaya" saran Mas Haidar.


"Sekarang jam satu malam, Izza dan Rama pasti masih akan dimintai keterangan. Ga mungkin pagi ini berangkat ke Jakarta. Ditambah kondisi Izza yang belum stabil. Rama pasti ga akan membawa Izza pulang" kata Pak Isam.


"Nanti coba Mas hubungi Rani, dia kan ada disana, paling ga kita tau bagaimana tahap selanjutnya dari kasus ini" ujar Mas Haidar.


"Ya.. dicoba saja. HP nya Rama masih ga aktif. Kita hanya bisa mengandalkan Alex untuk koordinasinya" jelas Pak Isam.


"Iya Pi... coba kita cari berita di televisi Pi, biasanya ada breaking news" usul Mas Haidar yang menyalakan televisi yang ada dihadapannya.


Benar saja beritanya sudah naik ke media.


"Seorang pengusaha terkenal di Ibukota, tertangkap tangan atas kasus penculikan dan kepemilikan sejumlah obat terlarang. Pihak berwajib sedang mendalami keterkaitan tersangka FL dengan jaringan yang sudah berhasil ditangkap pagi dini hari sebelumnya" kata pembaca berita.


Ada video amatir yang menyajikan gambar sekilas Pak Flandy dibawa oleh pihak kepolisian setempat.


"Papa Flandy?????" ucap Mas Haidar.


"Flandy????" kata Pak Isam hampir bersamaan.


Keduanya saling berpandangan ga percaya atas apa yang mereka lihat.


💠


Polisi juga sudah berjaga-jaga didepan rumah Pak Flandy di Jakarta. Istrinya Pak Flandy dan Mba Anindya tengah shock mendengar berita terkini.


Keduanya tidak tau kalo Pak Flandy merupakan salah satu gembong narkoba yang selama ini dicari oleh pihak kepolisian. Ditambah berita penculikan Izza menjadi tamparan hebat untuk keluarga ini. Malu, marah, kesal, sedih dan segala rasa tumpah menjadi satu didalam keluarga besar Pak Flandy.


🌺


Rama mendekati Izza.


"De...." panggil Rama pelan.


Izza melihat kearah Rama kemudian pingsan, untunglah posisi Rama berhadapan dengan Izza jadi bisa langsung menangkap tubuh Izza.


.


Izza dibawa pakai ambulance, Rama mendampinginya. Didalam ambulance, Izza mendapatkan pertolongan pertama terlebih dahulu.


Tangan Rama terus menggenggam tangannya Izza.


"Ya Allah... selamatkanlah istriku, pulihkanlah kesehatannya... dia adalah cinta dalam hidupku dan aku tidak bisa membayangkan hidup di dunia ini tanpanya ya Allah... " kata Rama dalam hatinya sambil mencium tangannya Izza berkali-kali.