
Hujan masih turun rintik-rintik waktu Mang Ujang and the gank nunggu waktu check-in.
Rama dan Izza sudah melanjutkan perjalanan lagi menuju Grafiti Cikole, Rama sudah booking kamar disana.
Kamar yang Rama pilihkan untuk Mang Ujang dan pasangan serta Ceu Lilis dan pasangan, tipenya Suite Lake View (kamar yang menghadap ke danau), dua kamar yang paling mahal ada disana, letaknya berseberangan.
Untunglah Mang Ujang dan Ceu Lilis punya pasangan yang paham tentang proses check in dan sebagainya, jadi memudahkan prosesnya.
Mereka menunggu waktu masuk dengan bersantai keliling resort dan bermain perahu di danau.
Fasilitas kamarnya pun ada bathtubnya serta kamar yang luas. Selain itu ada balkon dengan pemandangantepat kearah danau dan beberapa kamar lainnya.
Interiornya dilengkapi standar hotel seperti sofa plus meja, lemari pendingin, televisi. Amenities yang disediakan resort ini tidak banyak. Hanya sepasang sikat gigi dan pasta giginya. Tidak ada sandal hotel seperti biasa. Tapi satu yang jarang ditemui, resort ini menyediakan guling.
Suasana resortnya masih banyak yang dipertahankan agar tetap alami. Ada banyak pohon, tanaman bunga dan buah.
Udara di resort rasanya sejuk agak dingin, apalagi ditambah hujan.
Jam makan siang, kedua pasangan ini menuju restoran untuk kembali mengisi perut sekalian sholat di Musholla dekat restoran. Masing-masing pasangan sudah diberikan voucher makan sama Rama, jadi kalo makan melebihi harga voucher, mereka bayar selisihnya.
Setelah bisa masuk ke kamar yang sudah dibooking, Mang Ujang langsung bersantai di sofa sambil nonton televisi. Sementara Maryam merapihkan barang bawaan mereka. Karena saking lelahnya, Mang Ujang langsung tertidur, Maryam dapat bonus ngoroknya Mang Ujang.
Yang namanya masih banyak pepohonan plus danau, yang lumayan mengganggu adalah nyamuk, untunglah tadi Rama sudah mengingatkan untuk membeli obat nyamuk elektrik dan semprot sebagai salah satu usaha mengurangi nyamuk.
🌺
Rama dan Izza sudah sampai didaerah Cikole, sopir travel pun pamit setelah menurunkan semua barang bawaan Rama dan Izza.
Ternyata tujuan mereka kesebuah tempat penginapan baru yang sedang diperbincangkan karena suasananya serta privasi yang sangat dijaga (letak bungalow satu dengan lainnya berjarak), suasana hutan pinus dan bebatuan alam untuk track jalan serta beberapa spot yang medsosable tersedia dibeberapa titik.
Rama dan Izza disambut oleh Manager dan beberapa karyawan. Tentu saja hal ini mengejutkan Rama karena tamu lain yang mengurus check in berbarengan dia, tidak mendapatkan perlakuan yang sama.
"Selamat datang Pak Rama.. Ibu Izza" sambut sang Manager.
"Selamat siang" jawab Rama agak mulai curiga ada sesuatu.
Rama tidak pernah mengirim request akan berbulan madu disini sehingga pastinya tidak akan disiapkan yang berlebihan. Tapi dengan penyambutan seperti ini aja membuat dia patut punya tanda tanya besar.
"Kamarnya sudah bisa ditempati Pak, ada yang bisa kami bantu untuk kenyamanan Bapak dan Ibu? atau ada special request?" tanya sang Manager lagi.
"Tidak ada Pak.. " jawab Rama masih waspada.
"Untuk koper nanti dibantu dibawakan ya Pak, mari saya antar menuju kamar. Kamar yang paling besar dan terletak dibagian atas ya. Bapak dan Ibu mau berjalan kaki menuju kamar atau naik golfcar?" tanya sang Manager.
"Diantar golfcar aja Pak" jawab Izza langsung.
Izza memang langsung berinisiatif masuk kamar karena melihat wajah Rama yang mulai agak bete.
"Mari Pak ..Bu.. saya antarkan" tawar sang Manager.
Rama dan Izza mengikuti langkah sang manager untuk naik golfcar.
"Maaf ya Pak .. apa semua tamu diperlakukan seperti kami?" tanya Rama daripada dia bingung.
"Tidak Pak.. hanya jika ada special request saja" jawab sang Manager sambil mengemudikan golfcar.
"Sepertinya saya tidak mencantumkan special request saat booking" kata Rama.
"Benar.. memang bukan Bapak yang request, tapi owner tempat ini langsung yang menginstruksikan agar melayani Bapak dan Ibu secara all out. Memberi kenyaman untuk Bapak dan Ibu yang akan menghabiskan masa bulan madu disini" jelas sang Manager.
"Siapa owner tempat ini? saya tidak pernah cari tau siapa owner tempat yang saya tuju" ucap Rama.
"Pemiliknya adalah Pak Isam, Ayahanda dari Pak Rama" jawab sang Manager full senyum.
"Papi? dari mana Papi tau kalo saya mau kesini?" tanya Rama.
"Benar Pak, justru Pak Isam tau dari saya. Bapak ingat saat booking? semua diisi lengkap data Bapak Rama. Jelas disana ada nama Abrisam dibelakang nama Bapak. Ditambah transfer pembayaran melalui uang perusahaan, dari Abrisam Group. Bagian keuangan berkoordinasi dengan saya dan saya menanyakan langsung ke Pak Isam. Sebagai orang tua yang berbahagia, tentunya ingin anak dan menantunya mendapatkan perlakuan istimewa. Apalagi menghabiskan salah satu momen penting dalam pernikahan" jelas sang Manager.
"Oke.. thanks" jawab Rama singkat.
Rama baru sadar kalo dia ga memperhitungkan tentang identitasnya yang mudah dikenal dari nama belakangnya.
.
Rama dan Izza masuk kedalam kamar yang sudah disiapkan untuk mereka. Kalo aja ga sayang uang (Rama sudah booking tiga hari dengan tarif dua juta lima ratus ribu rupiah per malamnya), sudah pasti dia akan pindah tempat honeymoon.
Padahal Rama sengaja mencari tempat penginapan yang tergolong baru, dengan nuansa alami serta masih sedikit direview di internet tapi penilaiannya sangat bagus.
Rama memang sudah berniat untuk menghabiskan waktu berdua sama Izza dengan segala privasinya yang terjaga. Dia juga ingin terlepas dari beban kerja yang selama ini menghimpit. Semua pekerjaan sudah didelegasikan ke masing-masing bagian secara jelas dan terperinci.
HPnya juga masih diaktifkan walaupun dia silent. Tapi memang sinyal disini ga terlalu baik karena masih seperti hutan. Toh konsep penginapan ini back to nature, melepaskan kebiasaan kehidupan kita dan menyatu dengan alam.
Rama merebahkan tubuhnya diatas sofa yang ada di balkon dengan pemandangan hutan pinus. Dia merasa kurang nyaman dengan perlakuan istimewa seluruh karyawan ditempat ini.
"Kenapa sih jadi bete gini, senyumlah sedikit Kak" kata Izza sambil meletakkan nampan welcome drink and cake yang disiapkan diatas meja minibar.
"Liat sendiri kan tadi bagaimana penyambutan ke kita, segala pakai bunga dan diservice bak raja. Udah gitu liat deh ranjangnya pake bunga dan segala tulisan happy honeymoon, aromaterapi langsung menyeruak kesegala penjuru kamar. Kulkas pun full makanan dan minuman, pokoknya ga sesuai konsep dalam otak ini aja" protes Rama.
"Belajar menghargai orang lain bisa ga? Wajarlah mereka begitu, tempat ini punya Papi dan yang mereka tau kalo Rama adalah pewarisnya yang mengurus semua bisnis Papi kecuali tempat ini ya" canda Izza untuk mencarikan suasana.
"Tapi kan ga perlu kaya gitulah. Profesional aja. Toh saya juga bayar seperti tamu pada umumnya" jawab Rama masih ga terima.
"Terus mau bete terus nih? Atau kita mau pulang aja?" ucap Izza sambil duduk disebelahnya Rama.
"Ehmm.....ini nih yang bikin lemah seorang Rama... hehehe" jawab Rama yang langsung memindahkan kepalanya ke pangkuan Izza.
"Malulah Kak diliat orang" kata Izza.
"Emang kenapa? oh kita pasangan sah, yang ga sah aja cuek mempertontonkan dimuka umum" jawab Rama.
"Kita masih hidup dengan kearifan budaya timur, so jangan bawa-bawa budaya barat kesini" sahut Izza.
Izza mengambil cangkir yang berisi bandrek. Dinikmati pelan-pelan.
"Hangat ya?" tanya Rama yang segera bangun untuk mengambil cangkir karena melihat Izza sangat menikmati minumannya.
Rama menyeruput perlahan. Ada aliran hangat melalui kerongkongannya.
"Semua tamu dapat kaya gini ga ya?" tanya Izza penasaran.
"Harusnya sih kalo tempat seperti ini ya ada welcome drink" jawab Rama.
"Kok bisa ya terlacak kalo yang booking ternyata anaknya Papi, nama orang kan bisa aja sama ya? ditambah KTP Kakak bukannya alamat apartemen ya, bukan alamat rumah Papi" kata Izza sambil meletakkan cangkirnya yang sudah kosong.
"Ini yang baru kepikiran sama Kakak ... bener-bener lupa dan ga nyangka juga sih. Pas booking memang pesan sendiri, terus minta tolong ke Farida untuk transfer dulu ke tempat ini pakai uang perusahaan, sekalian deh buat transfer kebeberapa vendor pernikahan di Tasikmalaya kemarin. Ya mungkin makin menguatkan karena di bukti transaksi kan jelas kalo itu berasal dari rekening Abrisam Group" jelas Rama.
"Kenapa pakai uang perusahaan untuk keperluan pribadi? harusnya ga boleh gitu dong" protes Izza.
"Oke... berhubung memang staycation kita ini bertujuan untuk saling mengenal satu sama lain, Kakak akan terus terang. Semoga kamu ga marah ya, kan katanya lelaki itu mending minta maaf daripada minta ijin" ucap Rama sambil meletakkan cangkirnya di meja kemudian merebahkan kembali kepalanya ke pangkuan Izza.
"Sebulan terakhir ini bisa dibilang rekening pribadi Kakak tuh mantab... makan tabungan. Maksudnya banyak yang dikeluarkan, malah lebih besar dibandingkan pemasukan. Gaji Kakak yang di Audah Hotel kan sudah ditransfer semua ke kamu De.. sedangkan saat pembayaran, saldo rekening ga cukup dan belum gajian di Abrisam Group. Jadi istilahnya Kakak pinjam uang Kantor dulu dan langsung potong gaji. Bukan semena-mena memakai uang perusahaan" papar Rama.
"Jadi semua pernikahan Mang Ujang, Lilis dan kita itu pakai uang Kakak semua?" tanya Izza.
"Ga semua sih, ada juga sumbangan dari Papi dan Mas Haidar... jangan ngambek dong" jawab Rama merayu.
"Permisi dulu Kak, mau rapihin baju dulu terus mau tidur" pinta Izza.
Rama langsung duduk, Izza segera bergegas masuk kedalam. Rama buru-buru mengikuti.
"De... jangan marah dong" kata Rama.
"Siapa yang marah?" tanya Izza sambil membuka koper yang Rama bawakan.
"Gapapa kan Kakak banyak keluar uang buat biaya pernikahan Mang Ujang dan Lilis?" tanya Rama hati-hati.
"No problem..." jawab Izza.
"Ada tapinya ga?" tembak Rama.
"Jangan diulangi lagi" ucap Izza.
"Siap Mba Boss" canda Rama.
Dilihatnya satu persatu baju yang ada didalam koper oleh Izza. Pilihan Rama sih cocok untuk disini, tapi ini semua bajunya Mba Mentari. Tidak ada baju miliknya pribadi.
"Soalnya kan kalo ambil baju dari lemari kamu pasti ketahuan... ga surprise" kata Rama yang paham melihat wajahnya Izza yang penuh tanda tanya.
Izza tidak bersuara, tapi tangannya terampil meletakkan baju satu persatu kedalam lemari, termasuk bajunya Rama.
Begitu pakaian dalam, dia merasa risih melihat pakaian dalam milik Rama. Dia juga membayangkan bagaimana Rama memasukkan pakaian dalamnya kedalam koper.
"Sorry kalo melihat dan menyentuh barang pribadi. Toh kita suami istri kan? jangankan pegang, isinya aja boleh dinikmati" ujar Rama agak nakal.
Izza masih aja diam, kini baju sudah tersusun rapih. Koper pun sudah diletakkan di pojok kamar.
"Tidurnya Dzuhur aja De ... tanggung sebentar lagi adzan" usul Rama.
Izza masih diam sambil masuk ke kamar mandi, sepertinya dia mau berganti baju, terlihat membawa kaos dan training kedalam kamar mandi.
Rama tengah menerima telepon saat Izza keluar kamar dan duduk ditepi ranjang sambil memperhatikan HP nya.
"Kak... bawa laptop ga?" tanya Izza.
"Ada tugas ternyata, lupa ga cek email masuk. Mana dikumpulin dua hari lagi" jawab Izza.
"Tugas tentang apa?" tanya Rama.
"Rebranding" kata Izza.
"Kamu copas aja nanti dari tinjauan bisnis yang pernah Kakak susun untuk rebranding Audah Hotel" ungkap Rama.
"Bener ada?" tanya Izza meyakinkan.
"Iya ada.. malah masih ada di email kok, sebentar ya Kakak kirim ke email kamu De" ucap Rama sambil menekan HP layar sentuhnya.
🌷
Mang Ujang baru bangun jam empat sore, itu juga dibangunin sama Maryam. Kemudian Mang Ujang sholat ashar, sehabis sholat dia masih menunggu langit agak terang baru akan berencana keliling menikmati keindahan tempat ini. Sekarang malah turun kabut.
"Enak ya A'.. kamar mandinya ada air panas otomatis, tadi Maryam pakai air panas mandinya" kata Maryam untuk memecah kebisuan diantara mereka.
"Iya.. tempat seperti ini ya harus ada, biar tamu-tamu tetap bisa mandi. Kalo dingin terus kan ga mandi-mandi nanti" jawab Mang Ujang.
Kepalanya Maryam masih terbalut handuk, begitu dibuka, Mang Ujang sampai nelan ludah melihat kecantikan istrinya dengan rambut pendeknya tapi terkesan eksotis.
Lelaki mana yang ga akan tergoda, ditambah istrinya memakai daster, walaupun panjang tapi dimata Mang Ujang tampak seksi.
Mang Ujang mendekati Maryam, Maryam makin menundukkan pandangannya.
"Wanita berjilbab kalo lepas jilbabnya keliatan beda ya" ujar Mang Ujang basa basi.
Maryam diam, tangannya tampak cemas. Naluri lelakinya Mang Ujang sebagai suami muncul, otaknya mulai memikirkan hal-hal yang waktu belum menikah dulu dilarang.
Maryam yang lugu hanya bisa menuruti semua perintah dari suaminya. Sebagai istri sholehah, dia harus bisa melayani hasrat suaminya.
"A'... kita sholat dulu dan berdo'a ya" ajak Maryam.
"Kan tadi udah sholat ashar... langsung ajalah sayang... Aa' udah terangsang nih" sahut Mang Ujang.
"Tapi berdo'a dulu atuh A'.. biar jadi ibadah buat kita berdua" saran Maryam dengan lembut.
"Do'anya apa?" tanya Mang Ujang.
"Aa' belum hapalin?" ujar Maryam kaget.
"Memang ada do'anya?" tanya Mang Ujang ga paham.
"Ada A' .. Maryam ajarkan ya" ujar Maryam dengan sabar membimbing Mang Ujang membaca do'a.
Setelah itu langsung aja Mang Ujang pegang kendali, dia berada disampingnya Maryam sambil mendekap erat, menciumi seluruh wajah istrinya. Mang Ujang tidak memperhatikan bagaimana Maryam berusaha tampak baik-baik saja padahal dia sangat merasa tabu.
Apalagi saat Mang Ujang menempelkan bibirnya ke bibir Maryam, inilah kali pertama dia mendapatkan ciuman dari seorang lelaki. Maryam diam mematung ga tau harus bagaimana.
"Sayang ... buka dong bajunya" rayu Mang Ujang yang sudah mulai melucuti bajunya sendiri.
"Malu A'... " jawab Maryam malu-malu.
"Terus gimana kita mau bercinta kalo masih pakai baju lengkap seperti ini" protes Mang Ujang.
Mang Ujang sudah dalam kondisi tanpa busana. Makinlah Maryam bingung.
"A'.. masuk kedalam selimut" pinta Maryam agak menjerit hingga Mang Ujang refleks masuk kedalam selimut karena khawatir ada sesuatu.
Begitu sudah dalam selimut, Mang Ujang bingung.
"Ada apa sih sampe disuruh masuk kedalam selimut? ada hewan? ada orang masuk?" tanya Mang Ujang masih ga paham.
"Malu A' jika ada yang melihat Aa' seperti itu" jawab Maryam.
Mang Ujang yang sudah tidak tahan, langsung dengan penuh inisiatif membuka tubuh istrinya. Maryam malu tanpa busana didepan lelaki hingga dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Maryam sampai meminta melakukannya didalam selimut.
Mang Ujang rupanya mempraktekkan hal yang pernah diliatnya dari sebuah video dewasa. Karena ini kali pertama Mang Ujang melihat wanita dalam kondisi polos seperti ini, tentulah menjadi kesempatan mengeksplorasi dan menikmati secara langsung.
Mang Ujang layaknya suami jaman dahulu yang berprinsip bahwa suami harus puas, tidak peduli bagaimana istrinya.
******* dan erangan kesakitan dari Maryam tidak terlalu diacuhkan karena terbuai oleh hasrat kelaki-lakiannya.
"A' .. pelan-pelan A'... sakitttt" keluh Maryam.
"Tahanlah... namanya juga masih perawan.. ya rapetlah" kata Mang Ujang.
Maryam mencoba menahan sakitnya, berkeluh kesah pun Mang Ujang ga paham. Sampai tangannya Maryam meremas bantal untuk menahan sakit.
Setelah Mang Ujang puas, dia rebah disampingnya Maryam yang tampak menangis.
"Kenapa nangis? nyesel nikah sama Aa'?" tanya Mang Ujang yang masih ga paham.
"Bukan A'... tapi perih dan sakit" jawab Maryam jujur.
Maryam mengambil pakaiannya yang terserak dibawah ranjang. Kemudian mau memakainya kembali.
"Ga usah pake dulu lah... kan masih mau lanjut" tahan Mang Ujang.
"Tapi mau ke kamar mandi A'.. mau pipis" jawab Maryam.
"Pakai handuk aja, tuh ada dilaci samping ranjang" perintah Mang Ujang.
Maryam mengikuti perintah Mang Ujang, karena saat belajar dulu, dia ditekankan untuk menuruti semua perintah suami.
Setelah kembali dari kamar mandi, Mang Ujang kembali meminta Maryam melayaninya. Walaupun masih terasa sakit, Maryam hanya bisa pasrah.
"Pahala kan melayani suami" kata Mang Ujang.
"Iya A'.. " jawab Maryam pelan.
"Kamu harus aktif juga dong sayang, jangan kaku aja kaya lilin... lurus dan kaku" ucap Mang Ujang sambil kembali menikmati jengkal demi jengkal tubuh istrinya yang sintal.
"Maryam ga tau harus bagaimana A'... maafin ya kalo Maryam ga bisa melayani Aa' dengan baik" kata Maryam dengan lembut.
"Ya udah .. sekarang kamu ikuti aja apa yang Aa' mau.. nanti juga lama-lama terbiasa" putus Mang Ujang.
🌺
Berkebalikan dengan Mang Ujang dan Maryam, di kamar lain justru Ceu Lilis yang banyak aktif menggerayangi tubuh suaminya dan bermanja-manja.
Maman yang gemeteran saat digoda sama Ceu Lilis. Pergaulan Ceu Lilis dengan orang-orang panggung artis dangdut membuatnya terbiasa dengan saling menyentuh seperti ini. Walaupun dia ga berhubungan bebas, tapi sekedar pelukan dan dicium pipinya agar ada yang nyawer adalah hal biasa dan lumrah.
Dibolehkan seorang istri untuk merayu suaminya. Dengan cara apapun selama masih dalam batas halal, seperti berpakaian seksi atau menciumi tubuh suaminya.
Lelaki mana yang ga naik keinginan jika digoda, tapi Maman tipe slow yang ingin melakukan dengan gaya konvensional dulu karena masih newbie. Sedangkan Ceu Lilis sudah mau bergaya macam-macam.
Tapi begitu Maman mulai beraksi, justru Ceu Lilis yang berkali-kali minta untuk berhenti sebentar karena sakit.
"Kata orang enak ya beginian... ini mana ada enak-enaknya. Udah mah ga masuk-masuk karena sakit, eh dia keluar duluan baru juga nempel" keluh Ceu Lilis dalam hatinya.
"Lis.. kalo sakit kita teruskan nanti aja ya, saya ga tega liat kamu kesakitan" kata Maman.
"Lanjut aja dulu A'.. coba Lilis tahan sakitnya, siapa tau kalo udah dijebol bisa ga sakit lagi" rayu Ceu Lilis.
"Tapi nanti kamu sakit" ucap Maman.
"Makanya A'.. kita saling sentuh dulu kali... biar rileks, kan di drama Korea keliatannya juga pada nafsu banget sebelum melakukannya" ucap Ceu Lilis.
"Jangan lagi ya nontonin orang berzina, kalo dia suami istri, kalo bukan kan kamu kebagian dosanya juga" nasehat Maman.
"Iya A'.. janji deh... Lilis akan turutin semula yang Aa' ajarin" janji Ceu Lilis.
Hampir dua jam mereka "bertarung penuh kenikmatan" di ranjang, dengan beberapa kali break tentunya.
🌷
Sementara pasangan Rama dan Izza sibuk menyelesaikan tugas kuliahnya Izza hingga Maghrib menjelang.
"Makan malam mau dibawa kesini atau kita makan disana aja?" tanya Rama.
"Makan diluar aja ya Kak.. sekalian menikmati suasana" jawab Izza.
"Dingin loh... nanti alergi kamu kambuh" ujar Rama.
"Kan tadi ada jaket tebalnya Kakak, bisalah pakai itu buat melindungi dari hawa dingin ini" jawab Izza lagi.
"Oke.. setelah sholat kita makan ya" ujar Rama.
.
Pelayan restoran mempersilakan Rama dan Izza duduk didalam restorannya, tapi mereka milih duduk di saung aja. Menunya juga terbatas banget. Mie goreng tektek, nasi goreng aneka macam, roti dan pisang bakar, soto Bandung dan beberapa macam gorengan.
Rama dan Izza memesan menu nasi goreng spesial plus tambahan dua telur ceplok dan soto bandung. Karena porsinya masih kurang nendang, Rama memesan roti bakar keju dan mie goreng tektek.
Suasana ga seramai siang tadi, karena besok sudah hari Senin, semua orang kembali beraktivitas. Sepertinya yang masih menginap sama seperti Rama, masih menikmati bulan madu atau sekedar staycation karena baru punya waktu luang. Tidak ada anak-anak, semua orang dewasa.
Memang tempat ini cocok buat yang sedang berbulan madu atau yang sedang kasmaran. Suasananya hening, udaranya adem banget, pemandangan berderet-deret tanaman hijau. Ditambah suara serangga bersahut-sahutan.