HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 162, Husband and wife



Ada salah satu pemilik penginapan tidak jauh dari tempatnya Rama berada sekarang, tau kalo Rama sedang menginap di Resort keluarganya. Sudah lama ingin berjumpa sama Rama karena Pak Isam pernah mempromosikan Abrisam Group untuk mengerjakan proyek-proyek wahana air dan penginapan.


Mereka akhirnya membuat janji di Resort sebelah. Izza tidak ikut karena Rama masih dalam tahap berbincang santai saja, belum urusan bisnis. Rama mau Izza bisa rehat banyak selama disini, karena kalo sudah sampe rumah pasti banyak yang dikerjakan.


Izza rencananya mau menikmati berendam air belerang di kolam umum (padahal di kamarnya ada kolam rendam private) plus mau ikut mewarnai topi caping sebagai salah satu hiburan stress release di Resort ini.


"Apa kabar Za?" sapa Andi.


Izza kaget dan menengok kearah asal suara.


"Andi... " kata Izza.


Andi duduk disebelahnya Izza yang baru memulai cat dasar untuk topi caping yang ada dihadapannya.


"Long time no see ya.. sekalinya ketemu sudah jadi istrinya Mas Rama" ujar Andi.


Izza terus mencoba mengalihkan pandangannya kearah topi caping agar tidak bertemu pandang sama Andi. Wanita mana di sekolahnya Izza yang tidak kenal sama sosok Andi. Si anak basket yang jago banget mainnya dan terkeren pada masanya. Andi memang pernah menyatakan rasa suka ke Izza, tapi sadar diri dengan kondisi keluarganyalah membuat Izza menutup rapat-rapat hatinya kepada lelaki manapun. Sebagai abege, saat itu memang tidak akan berbicara serius tentang membina keluarga, tapi ada ketakutan dalam diri Izza jika suatu saat seorang lelaki ingin tau dimana rumahnya dan bagaimana kondisi keluarganya.


"Ga nyangka juga kamu kerja disini. Setau saya kan dari keluarga orang berada, pastilah punya bisnis sendiri, tidak kerja sama orang lain" jawab Izza.


"Narkoba banyak melenyapkan segala yang penting dalam hidup saya Za" kata Andi.


"Yang penting kan sekarang sudah tidak menyentuh barang itu lagi dan bertekad untuk menata hidup kedepannya" ujar Izza.


"Pesantren Abah Ikin banyak mengubah saya Za.. semoga lebih baik kedepannya" harap Andi.


"Maaf ya kalo Kak Rama cara ngomongnya memang agak to the point, ya mungkin aja kamu tersinggung dengan banyak pertanyaan dari beliau" pinta Izza.


"Ga kok.. malah akhirnya saya paham, kenapa orang-orang di rumah sering membicarakan Mas Rama. Oh ya.. mungkin kamu ga tau kalo Papa dan Kakak saya mengenal Mas Rama saat kuliah diluar negeri. Sering keduanya membicarakan tentang Mas Rama dan berharap bisa menjadi bagian dari keluarga kami. Rupanya jodoh berkata lain, Kakak saya ga pernah dilirik sedikitpun sama Mas Rama dan pendekatan Papa ke Mas Rama pun tidak berhasil" cerita Andi.


"Dunia sempit ya... sama-sama mengembara, akhirnya bertemu disini. Kamu pasti belum nikah ya Ndi.. cowo jarang ada yang nikah muda" kata Izza mencoba mencairkan suasana.


"Belum.. believe it or not.. setelah saya ditolak sama kamu, tidak ada wanita yang mampu mengusik hati ini lagi. Saya coba mencari keberadaan kamu, tapi ga berhasil. Ketika ada yang kasih tau keberadaan kamu selama ini di Panti Asuhan, eh saat itu kamu sudah ada di rumah Mas Rama. Telat ya?" ungkap Andi sambil tersenyum pahit.


"Masa lalu ga perlu dikenang. Saya sudah berbahagia dengan pilihan ini. Mungkin sekarang belum ada, bukan berarti kamu ga bisa buka hati kan? ga ada yang spesial dalam diri saya, ga ada yang patut kamu kenang sekian lama, toh diantara kita memang tidak pernah ada cerita" jawab Izza.


"Justru ketidak spesialan kamulah yang membuat kamu jadi spesial. Buktinya seorang Mas Rama bisa jatuh cinta sama kamu, berarti ada dalam diri kamu yang sangat menarik hatinya" tambah Andi.


"Terlalu memuji Ndi.. biasa aja, cinta yang tumbuh diantara kami terjalin setelah menikah, Kak Rama mampu menjawab setiap keraguan saya, banyak juga membantu memecahkan persoalan-persoalan hidup yang selama ini mendera. Semakin saya mengenalnya, semakin hati ini jatuh padanya. Mungkin ada diluar sana yang bilang ya iyalah bisa jatuh cinta pada seorang Rama ... udah mah beliau kaya, punya jabatan dan perusahaan, baik dan penuh perhatian.. padahal semua itu mah bonus. Kak Rama banyak menjadi pelengkap hidup dan menjadikan saya merasa dispesialkan" papar Izza penuh binar cinta dimatanya saat membicarakan tentang Rama.


"Berarti kalian berdua beruntung bisa bertemu... Mas Rama beruntung mendapatkan sosok wanita yang tepat untuk mendampinginya dan kamu beruntung mendapatkan sosok lelaki yang bisa menjadikan kamu ratu" kata Andi.


"Saya kembalikan penilaian ke orang lain yang melihat kami seperti apa" jawab Izza sambil masih sibuk dengan kuasnya.


🌺


Mba Gita sudah kembali berada di Jakarta setelah dua minggu berada di Pesantren Abah Ikin, kondisinya pun sudah tampak lebih sehat dan segar.


Pak Isam dan Mas Haidar menemui Mba Gita. Saling menyapa sekadar menanyakan kabar dan memberikan makanan serta support semangat agar Mba Gita bisa menjalani proses hukum dengan baik.


"Maafkan saya Pak... Mas..." pinta Mba Gita.


"Yang sudah berlalu ya sudah lah Git.. semoga kedepannya kamu bisa menyadari kesalahan dan tidak mengulanginya lagi" kata Pak Isam bijak.


"Saya banyak salah ke Bapak dan Mas Haidar. Karena sayalah Bapak jadi pecandu, karena saya jugalah yang membuat Nay stress dan terganggu mentalnya saat kehamilan" ucap Mba Gita dengan disertai tetesan air mata.


"Ya sudah takdirnya seperti itu Git. Ada banyak hikmahnya kok. Toh selama ini sumbangsih kamu ke Abrisam Group pun besar, susah dapat seorang sekretaris cekatan seperti kamu. Secara pribadi, saya ingin berterima kasih atas segala pengabdian kamu di Abrisam Group dan saya akan memberikan bantuan seorang pengacara yang mendampingi proses hukum ini hingga ke pengadilan nanti" kata Pak Isam.


"Terima kasih Pak" jawab Mba Gita makin haru.


"Mba .. saya mau tanya, apa Mba tau tentang video Nay yang tengah bercinta dengan seorang lelaki? rasanya hal itu masih mengganjal dihati saya hingga hari ini, meskipun Rama sudah menjelaskan" tanya Mas Haidar.


"Itu bohong .. editan saja. Tujuannya untuk menjatuhkan Mas Rama, tapi ternyata Mas Rama lebih cerdas kan, dia punya tim IT yang sangat bagus kerjanya sehingga bisa membuktikan kalo video itu hanya editan semata" kata Mba Gita.


"Kenapa keluarga kami banyak musuh ya? padahal dalam dunia bisnis, kami main bersih.. ga sabotase proyek dan sebagainya" ujar Mas Haidar.


"Semua iri dengan Abrisam Group" jawab Mba Gita.


"Sudahlah Mas.. ga perlu kita menaruh dendam dengan mereka yang menyakiti kita, selama kita masih berada dijalan yang benar, ya sudah.. jalankan aja" ingat Pak Isam.


"Ya Pi" jawab Mas Haidar.


"Pak.. Mas.. bagaimana kabarnya Izza?" tanya Mba Gita.


"Alhamdulillah sehat, sedang honeymoon lagi. Ingin ketemu sama dia?" kata Pak Isam.


"Mas Rama bilang nanti saja jika kondisi sudah lebih kondusif. Izza kan juga masih recovery mentalnya. Kasian kalo harus datang menjenguk ke Kantor Polisi, bisa teringat kejadian yang kemarin" sahut Mba Gita.


"Ya memang dia seperti ketakutan kalo mendengar bunyi sirine dan polisi dalam jumlah yang banyak" sahut Mas Haidar.


"Iya.. Mas Rama sudah cerita" jawab Mba Gita.


"Kapan ketemunya sama Rama?" tanya Pak Isam.


"Saat saya dibawa ke Pesantren Abah Ikin, Mas Rama ikut juga kesana" jawab Mba Gita.


🌺


Izza segera balik ke kamar setelah melukis topi capingnya selesai. Izza menyerahkan ke penjaga untuk proses pengeringan.


"Baik Mba Izza.. akan kami antar ke kamar jika topi capingnya sudah kering" ujar penjaga wahana.


"Terima kasih" jawab Izza.


Andi masih melihat kearah Izza.


"Andi... saya pamit dulu ya, mau balik ke kamar" ujar Izza.


"Oke.. " jawab Andi.


💠


Rama ditelepon sama Pak Isam, beliau meminta Rama memberikan sharing pengalaman dan ilmu yang dimiliki untuk para karyawan disana.


"Iya Pi" jawab Rama.


"Kerjaan sudah selesai?" tanya Pak Isam.


"Yang di Cimahi sudah ada solusi, tapi di Subang masih pending sampai owner-nya selesai umroh. Jadinya kami lanjut rehat disini dulu Pi" jelas Rama.


"Ya.. memang saatnya kalian lebih fokus ke keluarga. Setelah banyak kejadian menimpa.. rehat dulu, saling menguatkan kembali" nasehat Pak Isam.


"Iya Pi" jawab Rama.


.


Setelah makan malam, Rama meminta ke Andi untuk memanggil karyawan perdivisi, dia ingin melakukan diskusi ringan sambil makan malam, Izza pun ikut mendampingi Rama, karena dia kan kuliahnya ambil jurusan Public Relation, jadinya lebih paham bagaimana menampilkan diri agar para tamu merasa berkesan akan keramahan dan kesigapan para karyawan Resort. Ga lama diskusinya, hanya sekedar lima belas menit saja perdivisi.


Kemudian Rama meminta untuk mengumpulkan semuanya, kecuali karyawan yang sedang melayani para tamu. Sekarang sudah jam delapan malam, suasana sudah agak sepi karena kebanyakan para tamu rehat di kamarnya masing-masing.


.


Rama berdiri didekat kolam rendam, memandang para karyawan yang duduk santai di taman sekitar kolam.


"Terima kasih semua atas kerjasamanya selama ini. Saya mewakili Pak Isam, akan memberikan sedikit sharing saja, semoga kedepannya Resort ini semakin maju. Saya sudah berkeliling Resort ini, karena mungkin kebanyakan anak muda yang bekerja, jadinya lebih kekinian hiasannya. Jaman media sosial seperti sekarang, pastinya salah satu iklan yang efektif adalah dengan banyaknya para tamu yang berfoto dan memberikan informasi tempat ini. Sudah saya tanyakan juga sekilas, angka tamu yang menginap makin bertambah setiap minggunya. InsyaAllah akan ada penambahan tiga kamar lagi, untuk family room dan rombongan. Perluasan area jogging track dan kolam renang air biasa untuk anak-anak juga akan segera dibangun. Saya dengar juga, sebagian besar dari karyawan yang bekerja belum punya pengalaman. Semoga disini menjadi kawah candradimuka untuk kalian lebih melesat kedepannya. Sebagai rasa hormat atas kinerja kalian semua, saya angkat dua jempol untuk kalian" kata Rama sambil mengangkat dua ibu jarinya.


Para karyawan bersorak dan bertepuk tangan.


"No pain no gain... ga ada orang yang maju sekedar pintar atau bakat, perlu kerja keras dan bekerja secara bijak dan cerdas. Semua perusahaan pasti menginginkan karyawannya bisa memenuhi target, jadi jangan dijadikan beban, kerja dulu aja nanti juga ada hasilnya. Ingat .. usaha tidak akan mengkhianati hasil. Dalam dunia kerja juga membutuhkan teamwork yang kuat, hal ini dibutuhkan untuk tercapainya sebuah target. Saya harapkan disini tidak ada karyawan yang tipenya cari muka demi mengungguli karyawan lainnya, karena perusahaan tidak akan tutup mata terhadap kinerja kalian semua. Jangan pelit berbagi ilmu, pakai ilmu padi .. makin berisi semakin merunduk. Jangan lupa tingkatkan networking, siapa tau yang menginap disini itu seorang yang punya perusahaan multi nasional atau artis terkenal, jadi mereka yang akan merekomendasikan tempat ini bahkan mengajak kalian bergabung di perusahaannya dengan gaji yang lebih besar serta pengalaman yang baru lagi. Penampilan juga harus lebih rapih walaupun casual, karena penampilan itu kesan pertama yang dilihat oleh customer kita. Untuk masukan nanti saya akan berikan catatan ke Manager Resort, jadi bisa dibahas internal saja karena saya berada diluar management" papar Rama dengan gamblang.


Karyawan masih antusias mendengarkan sharing sang putra mahkotanya Pak Isam, pembawaannya sangat luwes dan humble jadi enak untuk disimak.


"Tapi ini ada lagi yang lebih penting, jalankan agama dengan baik, bagi yang Islam bangun pagi, sholat terus lanjut tilawah.. memulai hari dengan mengingat Allah dan menyerahkan apapun yang akan terjadi dihari ini tetap dalam lindungan Allah" ungkap Rama sambil tersenyum.


Para karyawan banyak yang manggut-manggut mendengarnya.


"Oke... sekali lagi terima kasih atas waktunya, silahkan beristirahat... Kayana Resort....." ucap Rama semangat.


"Go...go...Kayana.... yes" ucap karyawan ga kalah semangat sambil bertepuk tangan.


.


Semua karyawan membubarkan diri dengan hati yang senang. Rama pun menuju kamar, Izza sudah terlebih dahulu balik ke kamar karena ingin buang air kecil.


Rama membuka kaos dan celana trainingnya, sekarang hanya memakai celana boxer ditubuhnya, kemudian berjalan kearah kolam kecil dan berendam air hangat disana.


"Kak... mau dipesenin minuman atau makanan?" tawar Izza yang baru berganti baju tidur sesuai request Rama.


"Ga usah... kamu udah mau tidur ya?" tanya Rama.


"Ya... badan rasanya cape deh, udah lama ga jalan kaki jarak jauh, jadinya agak pegal. Tadi kan keliling Resort ini buat liat-liat" ucap Izza sambil mengambil minum air mineral botolan.


"Sini De berendam bareng, air panas bikin rileks tau... ngilangin pegal-pegal. Buktinya dingin kaya gini kamu malah ga timbul alergi. Berarti ada efeknya tuh berendam setiap hari disini" ajak Rama.


"Males Kak, abis berendam belerang kan harus mandi lagi, dingin mandi air biasanya. Lagian udah jam sepuluh, time to sleep" jawab Izza.


Rama muncul dengan keisengannya, dia keluar dari kolam rendam dan langsung mengangkat tubuh Izza. Izza sudah minta untuk tidak diceburin, tapi tetap aja Rama ga bergeming.


"Kan... jadi harus mandi malem" protes Izza manyun.


"Udah biasa juga kan mandi tengah malem" goda Rama sambil memeluk dari belakang dan menciumi leher Izza.


"Jangan aneh-aneh deh di kolam belerang gini, paling lama tuh berendam lima belas menit aja, kalo menghirup belerang kelamaan bisa pusing" wanti-wantu Izza.


"Kan kita pernah dulu begini, berendam bareng. Toh ini kolam rendam pribadi. Abis dari sini kan kita bisa lanjut ke tempat lain... misalnya di bangku atau di kasur.. berendam pakai lingerie ternyata tambah seksi ya De" bisik Rama makin romantis.


"Kayanya sudah siap tempur nih si Abang yang satu ini" timpal Izza.


"As always... hahahaha" jawab Rama.


"Kak.. maaf ya belum bisa jadi istri yang Kakak inginkan. Maaf juga belum kasih kado buat ulang tahun Kakak" ucap Izza yang membalikkan kepalanya kearah Rama.


"Kamu adalah kado terindah yang Allah kasih De" jawab Rama sambil terus menghujani ciuman ketubuh Izza.


"Kak.... Izza minta maaf ya belum bisa kasih hal yang diinginkan dalam pernikahan kita.." ucap Izza pelan, Izza tidak bisa melanjutkan perkataannya karena bibir Rama sudah menutup rapat bibirnya.


.


"Saat hari pertama bertemu sama kamu di makam, kamu sudah mampu membuat hati bergetar seketika. Waktu pun berputar, Kakak tersadar kalau sudah jatuh cinta dengan banyaknya intensitas pertemuan diantara kita.. dan selalu masih dengan getaran yang sama saat kita jumpa kali pertama. Berkali-kali Kakak bilang saat itu bukan cinta, tapi bukankah cinta butuh proses?" ucap Rama dengan intonasi yang mesra.


Izza malah meneteskan air matanya.


"Kenapa nangis? ga bahagiakah kamu hidup sama Kakak?" tanya Rama sambil mengusap air mata Izza.


Keduanya naik dari kolam rendam dan berbilas dengan air biasa. Izza makin memeluk erat tubuh Rama tanpa kata saat berbilas. Rasanya dia hanya ingin menikmati malam ini bersama tubuh kekar yang selalu memeluknya setiap malam, pelukan yang membuatnya sejenak melupakan keresahan yang ada, pelukan yang mampu membuat iri para wanita diluar sana yang menginginkan posisi sepertinya.


.


Malam semakin larut, Rama sudah rebah di kasur selepas mandi setelah bermesraan dengan istri tercintanya. Biasanya Rama ga bisa tidur sebelum jam satu dinihari, tapi sekarang belum jam dua belas malam, dia sudah tertidur nyenyak seperti bayi, terlihat tanpa beban. Izza memandangi wajah Rama dengan seksama, ada gurat lelah disana, tapi dengan pandainya mampu ia tutupi tanpa pernah mengeluh.


Diselimutinya tubuh Rama yang berbalut kaos buntung dan celana boxernya. Kemudian diciumnya pipi sang suami.


Izza beranjak dari tempat tidur dan memakai sweater, dia berjalan kearah jendela, dibukanya sedikit dan duduk disana.


Malam mencumbu rembulan, waktu pun merayap, Izza berada diantara dingin yang berpagut sepi. Pinta dan harap dilangitkan, dalam lantunan lirih dalam kalbunya. Bilur keresahan merajai jiwanya kini.


Di jendela kayu Izza menahan tangis pilu. Dihembuskan napasnya perlahan pada gelap malam yang terbalut dingin.


"Semua akan baik-baik saja... Tenanglah wahai hati" ucap Izza lirih ngomong sendiri.


Pada malam yang dingin ini, Izza kembali mengingat apa yang telah terjadi sejauh ini, banyak sudah bahagia tercipta bersama Rama.


"Ketakutan ini terus menghantui.. rasanya ga mampu untuk bisa menghadapi hari nanti jika Allah menitipkan kita buah hati.. maafkan Izza Kak..." lirih Izza berkata dalam hatinya sambil memandang Rama yang sedang tertidur.