
Semenjak Izza bisa menerima kehadiran Pak Sandy, keduanya kerap bertemu. Paling tidak seminggu dalam sekali. Jika Pak Sandy tidak ada kegiatan diakhir pekan, beliau main ke rumah Pak Isam, jika Izza yang senggang, gantian Izza yang main ke rumah Pak Sandy. Kadang bersama Rama, kadang hanya berdua dengan Zian.
Beberapa kali mereka juga jalan-jalan sekedar makan atau nonton ke bioskop disebuah pusat perbelanjaan dengan anak, menantu dan cucu Pak Sandy. Hubungan mereka pun makin akrab layaknya keluarga pada umumnya. Kehadiran Izza ditengah keluarga Pak Sandy cukup memberikan banyak perubahan, terutama kebersamaan. Ani dan Izza pun makin akrab, kerap Ani saling tukar pikiran mengenai program kehamilan yang tengah dijalani lagi. Mungkin karena sesama wanita, jadinya bisa lebih paham bagaimana perasaan menantikan kehadiran sang buah hati.
Pak Sandy dan anak-anaknya sudah beberapa menawarkan ke Izza mengenai status hukumnya, tapi Izza tetap pada pendiriannya untuk tidak mengubah nama Bapaknya yang selama ini dia ketahui. Bagi Izza, sudah cukup kehangatan keluarga dibandingkan selembar kertas pengakuan secara legalitas.
Izza sudah pernah berdiskusi dengan Rama, Pak Isam dan Abah Ikin, semua pihak menerima keputusan Izza mengenai hubungannya dengan Pak Sandy. Beberapa kali Pak Sandy menawarkan pembagian saham Audah Hotel pun tetap ditolak oleh Izza.
"Saya tidak mau aji mumpung, lagi pula suami saya sudah lebih dari cukup memenuhi semua kebutuhan hidup saya. Kehadiran saya ditengah keluarga Bapak hanya ingin merasakan punya keluarga, tidak lebih dari itu" selalu menjadi alasan Izza ke Pak Sandy tiap kali penawaran saham Audah Hotel datang padanya.
.
Hari ini Izza akan pergi bersama keluarga besar Pak Sandy, mereka akan pergi ke Taman Safari yang ada di Puncak, Bogor.
Keluarga besar Pak Sandy sudah tau tentang siapa Izza sebenarnya, karena pembawaan Izza yang baik, pihak keluarga besar sangat menerima dengan tangan terbuka. Bahkan Izza lebih dekat dengan keluarga Pak Sandy dibandingkan Ani, padahal baru sekali Izza ikut ke acara pernikahan salah satu keluarga Pak Sandy.
Acara pergi bersama seperti ini memang rutin diadakan tiap tiga bulan sekali, untuk memperat tali persaudaraan dan menjaga anak-anak keturunan agar saling kenal.
Izza mengajak Zian dan Sachi. Rama tidak bisa ikut, oleh karena itu menugaskan Mba Nur dan Alex untuk mengawal dan membantu Izza menjaga anak-anak. Mereka akan dijemput oleh bis yang disewa oleh Pak Sandy khusus untuk keluarga intinya. Keluarga yang lain membawa kendaraan sendiri. Pak Sandy memutuskan naik bis karena ingin bisa menikmati perjalanan secara bersama, tidak terpisah-pisah mobil.
Sabtu ini Rama ikut seminar tentang bisnis, hal ini dipandang perlu karena memperluas jaringan bisnis Rama serta menambah pengetahuan pula. Pak Isam yang meminta Rama untuk banyak hadir diacara seperti itu.
Pak Isam sendiri sedang berada di Pesantren Abah Ikin. Beliau menghadiri pembukaan toko frozen food dan air isi ulang milik Mas Haidar yang melibatkan para santri yang ada di Pesantren Abah Ikin untuk belajar berwirausaha. Mba Rani sendiri sedang dinas diluar kota. Jadi di rumah Pak Isam tidak ada pemiliknya.
.
Izza dijemput oleh rombongan Pak Sandy agar tidak perlu bolak-balik ke rumah Pak Sandy.
Sedari jam enam pagi, mereka sudah berangkat agar sampai ditujuan lebih pagi demi menghindari macet di jalur menuju Puncak.
Sachi bahagia bisa jalan-jalan ke tempat wisata, apalagi ini menjadi pengalaman pertamanya naik bis.
Sepanjang jalan Sachi becanda sama Zian. Keduanya memang sangat akrab, Zian bisa tertawa terpingkal-pingkal jika Sachi memasang mimik wajah yang lucu dan tertawa.
💐
Rama berangkat dari rumah jam tujuh pagi, Mang Ujang hari ini menjadi supirnya Rama.
"Lama nih ga anterin Mas Boss.. kangen juga, abis Mba Boss lebih banyak di rumah, jadinya Mamang ya uplek-uplek rumah aja. Antar jemput Sachi sekolah dan ke swalayan aja rutinnya" adu Mang Ujang.
"Namanya Ibu Rumah tangga Mang.. ya kerjaannya di rumah" jawab Rama dengan santainya.
"Mamang nyupirin Mas Boss lagi aja ya?" pinta Mang Ujang.
"Kesannya kaya pejabat aja kalo Mamang ikut nyupirin, kan udah ada Alex. Bisa gantian bawa mobil juga saya sama Alex, jadi lebih efisien waktu dan biaya" jelas Ram.
"Ya gapapa Mas Boss.. kan biar Alex bisa fokus ngurusin Mas Boss aja. Kasian Alex kaya double kerjaan gitu. Ya jadi asisten merangkap supir" alasan Mang Ujang.
"Terus Izza nanti sama siapa?" tanya Rama.
"Cari supir baru dong Mas Boss.. banyak kok yang mau. Atau ambil satu dari supir Kantor buat khusus antar Mba Boss dan anak-anak" ide Mang Ujang.
"Saya belum bisa percaya sama orang lain untuk mengawal Izza. Sebenarnya dia bisa aja sibuk Mang, kan dia lagi ditawari posisi jadi public relations di Audah Hotel. Saya aja yang ga bolehin dia kerja. Padahal kalo saya perhatikan ya dia mau-mau aja menerima posisi itu" kata Rama.
"Kenapa ga boleh kerja Mas Boss? sayang kan udah kuliah terus ilmunya ga kepake. Ngurus rumah tangga mah ga perlu sekolah tinggi, yang penting bisa urus anak dan suami, masak dan bebenah" tanya Mang Ujang.
"Bagus dong.. seorang Ibu punya pendidikan yang tinggi, bisa mencerdaskan anak bangsa.. hehehe" ucap Rama menyindir Mang Ujang.
"Kan anak bisa ikut bimbel atau panggil guru les gitu ke rumah biar pintar" tukas Mang Ujang.
"Ibu itu lebih paham anaknya, jadi tau kapan anak moodnya bagus, kapan waktu istirahat atau kapan anaknya bermain. Kalo guru les kan waktunya ga bisa fleksibel dan tidak tau kondisi anak lagi cape atau ngga" terang Rama.
"Terus ga sayang ilmu yang dipelajari di bangku kuliah?" tanya Mang Ujang.
"Mungkin saat seorang wanita belum nikah dan baru lulus kuliah, sasaran utamanya adalah bekerja menjalani profesi yang diinginkan. Tapi Izza kan posisinya sudah punya suami, prioritasnya ya saya, Sachi dan Zian. Alhamdulillah kalo Izza pintar dan ada bekal dari bangku kuliah, jadi bisa ajarin Zian dan Sachi di rumah, ga perlu panggil guru les privat.. lebih hemat.." ungkap Rama memberikan alasan sederhana agar Mang Ujang bisa paham.
"Ini sih karena Mas Boss orang kaya, jadinya bisa ngomong kaya gitu. Beda sama Mamang yang butuh uang banyak. Makanya dua kali seminggu, Maryam mengajar ngaji dan belajar secara privat di blok sebelah rumah. Lumayan bayarannya Mas Boss, bisa buat beli susu anak-anak" kata Mang Ujang.
"Alhamdulillah rejeki namanya Mang. Masing-masing keluarga kan punya aturan sendiri. Disini bukan kaya atau ngga, tapi memang dari dulu inginnya punya istri yang menghabiskan waktunya untuk keluarga saja. Saya yang akan bekerja keras untuk mereka. Orang-orang diluar, contohnya seperti Mang Ujang ini pasti deh ngomongnya istri ga boleh kerja karena saya kaya, padahal saya ini uangnya tertanam di perusahaan Mang. Ditabungan ya dana emergency aja. Izza yang mengatur semuanya biar cukup. Banyak pendapatan tapi kami juga banyak pengeluaran. Di rumah kan banyak orang, tau sendiri kalo belanja bulanan bisa habis dua puluh jutaan sekedar makanan dan kebutuhan rumah, itu belum masak harian. Belum gaji para security dan asisten rumah tangga yang ada di rumah. Kayanya itu juga masih banyak Papi yang keluar uang. Saya dan Mas Haidar hanya membantu sedikit" papar Rama panjang lebar.
"Ya abis kalo asisten rumah tangga sedikit, bisa pada sakit Mas Boss. Misalnya yang bagian masak, setiap hari masak buat dua puluh orang, mana tiga kali makan. Terus yang bagian bebenah.. rumah memang dua lantai, tapi guedeee banget. Kalo orangnya sedikit ya bisa tepar bebenahan rumah" ungkap Mang Ujang.
"Makanya jangan mikir kami ini uangnya banyak jadi bisa bebas mau ngapain aja. Banyak yang dipikirkan untuk di gaji. Tentunya untuk investasi juga sih Mang.. kan Investa kalo bisa ya bertambah, bukan berkurang" sahut Rama.
"Iya.. Mamang ngerti.. tapi gimana nih Mas Boss.. boleh ya Mamang nyupirin Mas Boss lagi. Masa ga kasian sama bestie" pinta Mang Ujang.
"Mang.. Abrisam Group sedang melalui fase-fase genting tiga bulan terakhir ini. Otak rasanya diperas setiap hari buat mikirin Abrisam Group. Saya perlu orang yang dinamis dan punya pola pikir yang bisa mendukung saya untuk bergerak cepat. Bukan saya mengecilkan kemampuan Mamang, tapi kan tau sendiri Mamang yang hobinya tidur terus agak susah dibangunin jadi salah satu kendala. Belum lagi Mamang yang ga bisa saya ajak diskusi tentang pekerjaan. Dari awal kan sudah saya bilang Mang.. ubah sedikit demi sedikit perangai yang aneh-aneh itu" kata Rama.
"Mamang udah ga tidur terus kok Mas Boss, tau sendiri Mba Boss kan orangnya disiplin banget. Satu jam sehari, Mamang diwajibkan untuk membaca buku dan membahas apa yang Mamang baca, rasanya kaya anak SD aja" adu Mang Ujang.
"Izza itu melatih Mamang untuk bisa menyampaikan suatu pesan atau berita secara jelas dan sesuai dengan pesan awal. Salah satunya ya dengan baca buku, Mamang akan menceritakan apa yang Mamang baca. Ga ngawur dengan pola pikir ajaibnya. Sekarang ngerasain ada perubahan ga?" tanya Rama.
"Alhamdulillah Mas Boss.. kata Maryam, Mamang udah bener kalo diminta beli keperluan anak-anak dan bisa ngobrol sama Abah Ikin lebih enak, dulu rasanya canggung" jawab Mang Ujang.
"Sekarang juga cara bicaranya berubah, ga norak kaya dulu lagi.. hehehe" ledek Rama.
"Mba Boss ini kerjaannya, yang bikin Mamang berubah. Katanya Mamang dilatih untuk pabrik sepik.. pabrik spiker apa gitu namanya" ujar Mang Ujang.
"Public speaking Mang.. bukan pabrik speaker, emangnya radio.. hahaha" sahut Rama ketawa geli.
"Mas Boss ini memang ga salah pilih .. Mba Izza itu orangnya baik, sopan, sayang dan perhatian sama semua orang. Mana sekarang Mba Boss tenyata anak orang kaya, makin nilainya plus plus plus deh.. rajin kasih kita bonus atau traktiran" puji Mang Ujang.
"Berarti indera kesepuluh saya jalan Mang.. hehehe" kata Rama asal.
"Tapi memang Mas Boss ini cocok jadi peramal.. apa jangan-jangan Mas Boss ini indo.. indo.." tukas Mang Ujang sambil mikir.
"Indonesia?" jawab Rama.
"Bukan" sahut Mang Ujang.
"Indoapril?" lanjut Rama.
"Bukan" jawab Mang Ujang lagi.
"Oh.. maksudnya indigo kali ya" Rama baru ingat.
"Nah itu.. indigo.. punya kemampuan menerawang masa depan" ucap Mang Ujang.
"Ngawur aja Mang.. saya tuh mainin feeling aja. Begitu merasa ada kecocokan ya jadiin. Izza itu memang kuat banget masuk ke otak dan hati saya, makanya saya nikahin aja lah Mang, soalnya feeling saya bagus ke dia" ungkap Rama.
"Hasilnya ada Zian ya" ledek Mang Ujang.
"Zian itu hasil iseng Mang" sahut Rama.
"Iseng gimana Mas Boss? bilangin ke Mba Boss nih" tanya Mang Ujang ga paham.
"Iseng aja liat istri di kamar sambil tiduran kan menggoda tuh, iseng juga karena abis kerja di kantor seharian mau cari hiburan, awalnya iseng godain dia abis gitu saya tergoda .. hahaha ... iseng menghabiskan malam biar cepet ngantuk, kan kalo habis iseng itu kita bisa langsung tidur nyenyak Mang.. hahaha" canda Rama.
Mang Ujang ikut tertawa geli.
"Mamang kira iseng ga niat .. itu mah bukan iseng Mas Boss.. tapi doyan.. hahaha" ledek Mang Ujang.
"Iseng-iseng berhadiah Mang.. " lanjut Rama.
"Iseng melakukan serangan fajar sih Mas Boss ini" ledek Mang Ujang masih sambil ketawa.
"Nah ga tau deh Zian itu hasil dari serangan fajar, atau kegiatan tengah malam.. atau.. saat siang tengah hari bolong" ucap Rama.
"Parah nih Mas Boss.. pantes kalo libur kerja ga keluar kamar.. istrinya dikekepin terus seharian toh" ujar Mang Ujang.
"Ya ngapain harus keluar kamar Mang.. kalo kegiatan di kamar lebih menyenangkan. Tapi sejak punya anak ya ga bisa. Kasian Izza cape ngurusin anak" kata Rama.
"Nah itu dia Mas Boss.. Mamang mau tanya, emang istri kalo udah punya anak itu ga ada gregetan buat bercinta yang hot hot gimana gitu... anyep aja padahal kita sudah panas membara" curhat Mang Ujang.
"Kalo mau panas ya diatas kompor Mang mainnya .. hehehe.. jadi suami jangan kebanyakan nuntut. Para Ibu-ibu itu repotnya ngalahin kepala negara. Bangun pagi buta, terus uplek-uplek urus dapur, belum kalo anak bangun. Masih urus kita juga sampe berangkat kerja. Pokoknya seharian ada aja yang dikerjain. Sadar diri aja kita Mang.. memang dalam berumah tangga, hubungan suami istri itu termasuk penting, tapi kan masih banyak hal lain untuk bahagia selain melakukan hal itu. Saya nih Mang.. kalo pulang kerja liat Zian dan Sachi belum tidur dan ngajak main aja udah bahagia, jadi masih sempat bercengkrama dengan mereka. Begitu rebahan di kasur, istri mijitin tanpa kita minta.. wah surga dunia banget deh" nasehat Rama.
Sampai di Taman Safari masih jam sembilan kurang, semua bersiap-siap untuk memulai wisata. Izza tengah makan nasi kotak yang disiapkan oleh keluarga Pak Sandy. Tadi saat di mobil dia menyuapi Sachi dan Zian sarapan. Zian yang sudah memasuki usia enam bulan memang sudah diberikan makanan pendamping ASI. Sekarang lagi suka sama buah dan biskuit bayi, jadinya selalu Izza bawa jika pergi bersama Zian.
"Belum sarapan Za?" tanya Pak Sandy.
"Sudah Pak.. maklumlah masih busui, jadi gampang lapar" jawab Izza.
"Zian kan sudah diatas enam bulan, bukannya sudah dikasih makanan pendamping ASI? jadinya sudah tidak banyak minum ASI kan?" tanya Pak Sandy lagi.
"Maunya saya mengASIhi sampai usia Zian dua tahun Pak. Alhamdulillah Kak Rama mendukung" kata Izza.
"Bagus itu.. Rama belum telepon?" tanya Pak Sandy.
"Sudah dua kali Pak, maklumlah Ayah posesif.. hehehe" jawab Izza.
"Wajarlah Za.. kan dia pernah cerita tidak mendapatkan perhatian dari orang tua sewaktu kecil, jadinya tidak mau terulang ke anaknya" kata Pak Sandy.
"Iya.. tapi sekarang pekerjaannya sedang banyak menyita waktu dan pikiran. Ya seperti sekarang, susah buat pergi bareng lagi" adu Izza.
"Sabar Za.. dia lagi berjuang membesarkan Abrisam Group. Pusing juga kan ditinggalkan sama karyawan yang potensial secara bersamaan. Masih bagus itu dia langsung ambil alih semuanya. Dia pergaulannya luas sih ya, jadi apa aja bisa" puji Pak Sandy.
"Jangankan urusan kantor Pak, urusin anak dan bebenah juga bisa" lanjut Izza.
"Keliatan dia memang sangat sayang sama anak-anaknya" kata Pak Sandy.
.
Setelah masuk ke gerbang, rombongan keluarga besar Pak Sandy mengikuti safari journey terlebih dahulu, naik bis yang disediakan oleh Taman Safari. Sachi tampak antusias, tapi Zian belum paham, cuma bisa diam melongo melihat pemandangan didepan matanya.
Di Safari Journey, mereka melihat berbagai jenis hewan langsung di lingkungan yang meniru habitat aslinya dari dalam kendaraan.
Kadang memang agak susah melihat berbagai macam hewan karena selain tidak bisa diatur, terkadang hewan-hewan ini bersembunyi atau tidur.
Di awal-awal safari journey, kita bisa melihat burung flamingo, gajah sumatera, tapir, rusa, banteng, kuda nil, kijang, burung kasuari, beruang madu, siamang, orang utan, jerapah. Kemudian masuk ke area habitat singa, macan dan harimau. Di sini pengunjung diwanti-wanti untuk tidak membuka kaca jendela apalagi turun dari kendaraan.
Area yang terakhir dilewati adalah African Village, yang berisikan hewan-hewan asal Afrika.
Selepas dari sana, rombongan berkeliling berjalan kaki untuk menikmati aneka pertunjukan ala sirkus. Ada pertunjukan gajah, harimau, lumba-lumba, singa laut, aneka satwa, teater safari dan koboi.
Taman Safari sendiri menyebut pertunjukan-pertunjukan hewan dengan presentasi edukasi karena emang selalu diselipkan unsur-unsur edukasi terkait dengan hewannya. Tidak semua pertunjukan dilihat oleh Izza karena membawa Zian dan Sachi. Jadi mereka memilih ke Istana Panda, untuk menuju ke lokasi harus naik bus shuttle yang lokasinya deket dengan area Parkir E.
Setelah sampai lokasi, tampak sebuah bangunan megah Istana Panda. Lokasinya yang berada diketinggian gunung Pangrango membuat suasana di lokasi cukup dingin dan berkabut. Sebelum melihat panda, terlebih dahulu pengunjung masuk ke ruangan teater untuk menyaksikan film dokumenter tentang Hu Chun dan Cai Tao, sepasang panda dari Tiongkok hingga sampai ke Indonesia.
Tibalah memasuki tempat untuk melihat panda Hu Chun (Betina) dan Cai Tao (Jantan). Pengunjung hanya bisa melihat dari tempat yang disediakan disekitaran kandang dengan dinding kaca. Selain panda raksasa, ada juga sepasang panda merah, yaitu Mei Mei dan Yan Yan.
.
Sudah jam empat sore, rombongan meninggalkan area wisata. Mereka akan menuju ke salah satu restoran, tadi makan siang terlewat dan hanya makan kue dan snack saja.
Bicara soal makan enak, wilayah Bogor memang jagonya. Mas Barry sudah memesan tempat untuk rombongan.
Favorit di restoran ini adalah sate kambing lemak dengan bumbu kacang yang tidak terlalu kental tapi juga tidak encer. Dengan lemak daging kambing yang dimasak setengah matang, membuat satenya ringan di lidah, enak dan tidak susah untuk dikunyah. Ditambah tahu mendoannya juga istimewa. Setelah biasanya kebanyakan kita hanya tau menikmati tempe mendoan saja, kali ini versi mendoan yang nyemek-nyemek bisa dirasakan dari tahunya yang sangat lembut dengan tekstur halus.
Izza memesan buntut goreng, ternyata juga lezat tak terkira. Bumbunya meresap dengan daging yang juicy, sampai tak rela menikmati kelezatan daging buntutnya dengan kuah yang disediakan terpisah. Ternyata Zian disuapi pake nasi yang dihaluskan pakai sendok, kuah sop buntut dan buntut goreng yang sudah dihaluskan sama Izza, dia sangat lahap.
"Wah Zian.. tau makanan enak" ledek Mas Barry.
"Kalo Ayahnya tau bisa ketawa ini, lidahnya Zian selera tinggi" sahut Izza.
"Maksudnya gimana Za?" tanya Mas Barry.
"Zian itu tau makanan yang mahal Mas.. biskuit aja maunya yang mahal. Buah sudah dikenalin beberapa, yang dipilih ya buah naga, jeruk baby, apel, pear. Kalo dikasih pisang atau pepaya pasti nolak. Makanan pendamping ASI nya saja pake plain butter merek luar, apalagi kalo pake keju.. makannya lahap" jelas Izza.
"Pantes Ayahnya pergi pagi pulang malam buat cari uang ya, ternyata makanan anaknya cukup menguras kantong" kata Pak Sandy.
"Ga rewel tapi ya diajak jalan jauh" Ani ikut berbicara.
"Hobi jalan kaya Ayahnya Mba.. hehehe " jawab Izza.
"Sachi juga makannya banyak dan gampang ya" ujar Mas Barry.
"Anak-anaknya Ayah Rama sudah pasti makannya banyak dan gampang Mas.. liat aja Ayahnya kalo makan gimana" sahut Izza.
"Iya ya.. Rama itu makannya banyak, Mas perhatikan kalo makan selalu nambah dan lauknya banyak" kata Mas Barry.
"Itu sudah jauh berkurang Mas.. katanya jarang olahraga, jadinya ga terlalu terasa lapar terus" ucap Izza.
💐
Ahad pagi, Rama sedang mengajak Zian renang di rumah. Sejak usia Zian tiga bulan, Rama sudah mendatangkan personal trainer renang untuk baby dan anak-anak. Awalnya untuk semua anak-anak yang ada di rumah Pak Isam, tapi Mang Ujang dan Maryam tidak mengijinkan anaknya belajar renang karena khawatir tenggelam. Jadinya hanya Zian dan sesekali Sachi ikut bergabung jika tidak ada acara bersama Mas Haidar dan Mba Rani.
Setelah selesai renang, Zian mandi dan tidur. Rama menghampiri Izza yang ada di kamarnya Zian.
"De.. tadi pagi Pak Sandy telepon" buka Rama.
"Ada apa Kak?" tanya Izza.
"Meminta ijin Kakak untuk setuju pemberian sepuluh persen saham Audah Hotel ke kamu" jawab Rama.
"Terus Kakak jawab apa?" tanya Izza lagi.
"Kakak minta tanya kamu langsung" jawab Rama.
"Menurut Kakak gimana?" tanya Izza balik.
"Up to you.. tapi sudah saatnya kamu terima De.. Abah Ikin cerita kalo sekarang banyak warga sekitar Pesantren yang meminta bantuan untuk sekolah. Dana dari donatur kan lebih banyak untuk operasional Pesantren. Jadi dengan kepemilikan saham yang nantinya kamu punya, bisa membantu meringankan beban masyarakat disana De. Kakak belum bisa memberikan lebih dari yang biasa diberikan kesana, karena cash flow perusahaan belum stabil lagi" papar Rama.
"Karena alasan itu, Izza harus menerima pelimpahan saham?" ujar Izza.
"Yup.. " ucap Rama singkat.
"Kok kaya bukan tipenya Kak Rama ya pemikiran seperti ini. Kak Rama tuh ga sematre ini" sindir Izza.
"Hadeeehhh begitu syulitt ya berbohong sama anak komunikasi, dari nada bicara dan mimik bisa kebaca ya.. hehehe.. oke.. oke.. Kakak jujur deh. Pak Sandy pernah janji sama Ibu Didie, kelak kalo anak yang dikandungnya lahir, Bu Didie akan dibelikan rumah. Belum sempat semua terlaksana, mereka sudah terpisah tanpa kabar berita. Jadi Pak Sandy ingin memenuhi janjinya. Sudah ada rumah yang akan diberikan ke kamu di daerah Jakarta Timur, tapi mengingat kamu sudah ada rumah untuk tempat tinggal, beliau akhirnya memutuskan untuk memberikan sahamnya ke kamu. Memang hanya sepuluh persen, tapi nilainya lumayan De. Anak-anaknya sudah setuju, tinggal tunggu tanda tangan kamu saja. Mas Barry dan Kakaknya juga sudah telepon Kakak untuk memberitahukan hal ini. Secara emosional pun, Kakak agak menyesal melepaskan saham Audah Hotel yang punya banyak kenangan. Siapa tau jadi jalan kita untuk kembali bisa membeli Audah Hotel lagi De.. tapi ya kalo kondisi Abrisam Group sudah stabil lagi ya" Rama memberikan semua alasannya.
"Ini nilai sentimentil antara kita atau sama Mba Anin yang Kakak selalu ingat?" kata Izza dengan nada cemburu.
"Ya sama istriku tercinta ini dong.. sama Mba Anin murni hubungan profesional saja. Tumben cemburu, biasanya santai aja" ucap Rama meledek.
Rama memeluk Izza dari belakang, padahal Izza sedang merapihkan bajunya Zian yang sudah disetrika, tadi Mba Nur belum sempat merapihkan.
"De.. kayanya Zian tadi ngomong deh" kata Rama berbisik.
"Ngomong apa? masih bubling gitu kok, belum jelas ngomong apa. Jangan mengada-ada deh" jawab Izza.
"Bener De.. katanya minta adik, biar ga sepi" ujar Rama sambil tersenyum.
Izza langsung menyubit lengannya Rama yang melingkar diperutnya.
"Aduh.." ucap Rama.
"Kan udah deal dua tahun lagi" oceh Izza.
Karena Rama gemes melihat Izza, timbul rasa iseng untuk mengelitiki Izza. Tentu saja Izza kegelian, canda mereka terhenti dengan sebuah ciuman mesra keduanya.
Tok.. tok... tok
Ada suara pintu diketuk dari luar.
"Nanti aja masuknya, lagi tanggung" jawab Rama asal yang langsung mendapat cubitan lagi dari Izza.
Mba Nur yang rencananya akan merapihkan bajunya Zian hanya tersenyum dari balik pintu.
"Mas Rama itu ya.. seneng banget bercinta di kamar anaknya, segala ngomong nanggung lagi.. hehehe.. untuk ngetuk pintu dulu, kalo langsung pasti melihat adegan panas para Boss" ucap Mba Nur sambil berlalu dan turun ke lantai bawah.