HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 44, Thinking



Mang Ujang duduk bareng Haidar dan Pak Isam. Mereka lagi ngopi sambil memperhatikan Rama dan Sachi yang masih aja becanda.


"Gimana Mang kerja sama Boss cilik? Dia kan orangnya serius banget plus pendiam, cuma sama Sachi aja dia bisa ketawa kaya gitu. Sama kita mah ya ga banyak omong" tanya Haidar ingin tau.


"Alhamdulillah Mas Boss .. selama jadi supirnya saya jadi rada pinteran. Orangnya juga tegas, berwibawa dan taktis kerjanya. Tipenya juga ga bossy, ga terlalu serius juga kalo ngobrol sama saya, malah orangnya humoris kalo saya bilang mah" jawab Mang Ujang.


"Humoris? Sejak kapan dia berubah? k UUD Gaok sama keluarga biasa aja" selidik Pak Isam.


"Dari awal jadi supir Mas Boss juga orangnya begitu. Mungkin semangat kali ya kerja, jadi berubah sifatnya" kata Mang Ujang.


"Jangan-jangan dia berubah karena udah punya pacar kali ya? jadi ada yang nasehatin gitu, ajaib banget tuh anak berubah dengan cepat, kalo sekedar kuliah diluar negeri kayanya ga bakalan buat dia banyak berubah" goda Haidar.


"Pacar mah belum ada tapi gebetan ada tiga orang ... uppss" jawab Mang Ujang sambil nutup mulutnya.


Rama yang denger Mang Ujang ngomong yang ga sesuai fakta langsung berhenti becanda sama Sachi.


"Maaanngggg jangan ngadu yang aneh-aneh deh" teriak Rama dari ruang keluarga.


"Keceplosan Mas Boss" sahut Mang Ujang.


"Jangan ember ya" ingat Rama.


"Wah sebentar lagi Sachi punya Bunda dong ya" sambut Haidar setengah menggoda Rama.


"Bener Yah? Sachi mau punya Bunda? Asyikkk... bisa anter Sachi sekolah. Ayah udah ketemu sama Bunda? sekarang dimana Yah?" jawab Sachi lompat kegirangan.


"Kan kalo sekolah bisa diantar sama Mba kaya biasa, ga perlu seorang Bunda kan?" kata Rama.


"Ga mau, maunya sama Bunda" jawab Sachi mulai ngambek.


"Ya... ya .. nanti Ayah cari dulu ya Bundanya. Sachi mau berapa satu, dua, tiga atau empat?" tawar Rama rada nyeleneh.


"Mau.. mau... mau banyak... jadi bisa gantian setiap hari antar sekolah" ucap Sachi langsung hepi.


Rama mengajak Sachi buat toss tanda sepakat. Sebuah bantal kecil dari ruang tamu melayang ke kepala Rama. Rupanya Haidar yang melempar.


"Anak kecil diajarin yang nggak-nggak. Ngomong tuh dijaga ya, awas aja kalo masih ngomong aneh didepan Sachi, nanti Mas jewer" kata Haidar marah.


"Ampun Mas Boss...." ucap Rama dengan gaya berlutut yang membuat semua ketawa terutama Sachi yang terlihat paling geli ketawanya.


Sachi memang belum paham konsep seorang Ibu hanya ada satu, selama ini tumbuh tanpa sosok Ibu, makanya kalo denger kata Ibu, pastinya ia sangat senang.


Rama mengajak Sachi buat tidur, kini keduanya sudah terlelap tidur, mereka tidur berpelukan di kasur lantai yang ada di ruang keluarga. Mang Ujang, Haidar dan Pak Isam masih ngobrol.


"Mereka sama-sama ditinggal Ibu saat terlahir ke dunia ini, mungkin itu yang membuat mereka saling sayang satu sama lain. Walaupun waktu Rama buat Sachi ga banyak, tapi mereka punya bahasa kalbu yang mengikat dimanapun mereka berada" kata Pak Isam yang selalu takjub dengan bonding keduanya.


Haidar membawakan selimut dari kamar, kemudian menutupi tubuh Rama dan Sachi dengan selimut.


"Bahkan Haidar aja yang ngurusin Sachi dari kecil, ga bisa dapat cinta yang sama dari Sachi seperti yang dia diberikan buat Rama. Mereka memang punya ikatan batin yang kuat" lanjut Haidar.


"Ga nyangka saya, diusia muda kaya Mas Boss, udah bisa ngurus anak. Jujur aja kalo saya mah ga bisa" sahut Mang Ujang.


"Cinta yang tulus dari keduanya Mang... makanya saya yakin kalo kelak Rama akan mencari seorang wanita seperti almarhumah Ibunya Sachi, karena Rama kan kenal baik sama Ibunya Sachi. Sampe sesayang itu sama Sachi berarti Ibunya Sachi sangat istimewa dalam hidup Rama" kata Haidar.


"Saya pernah ditunjukin foto Ibunya Sachi, nah ini yang saya heran, ketiga cewe yang lagi deket sama Mas Boss itu ya mukanya mirip-mirip sama foto Ibunya Sachi. Lumayan tinggi-tinggi, langsing, kulit ga putih ga coklat .. sedang-sedang aja, wajahnya juga tampak polos kalem gitu" kata Mang Ujang ember.


"Dia jatuh cinta sama yang mana Jang?" Pak Isam angkat bicara.


"Kalo itu saya ga tau persis Boss Papi. Soalnya semua deket, tapi kalo sama Mba Dania kayanya ngga digubris deh, abis Mas Bossnya dingin banget kalo ditelepon sama Mba Dania. Nah kalo sama Ceu Lilis dan Izza... wah keluar deh jiwa playboynya" bocor Mang Ujang.


"Izza adiknya Gita?" tanya Pak Isam.


"Ya... beberapa kali saya liat Mas Boss merhatiin banget, beda deh. Di kantor juga keliatan kok" kata Mang Ujang lagi.


"Gapapa sih kalo dia suka. Anaknya baik kok. Tapi biar dia cari sendiri ajalah, udah janji ga ada perjodohan buat Rama" ucap Pak Isam.


"Kapok Pi?" ledek Haidar.


"Itu anak bisa jinak aja udah bagus. Punya kesadaran memiliki perusahaan yang tinggi. Bukan previlage, tapi siapa lagi yang urus Abrisam Group kalo bukan dia. Makanya Papi kasih kebebasan aja, asal jangan kebablasan" jelas Pak Isam.


"Kalo Ceu Lilis itu siapa Mang?" tanya Haidar penasaran.


"Kembang desa disini Mas, penyanyi dangdut terkenal disini. Kan Mas Boss Rama mau janjian sama dia buat dikenalin ke orang tua" jelas Mang Ujang bocor.


"Waduh ... langsung aja kenalan sama orang tua. Gercep banget nih Rama" jawab Haidar.


.


Akhirnya Mang Ujang tertidur juga di kasur sebelah Rama. Haidar dan Pak Isam tidur dikamar masing-masing.


Sebelum subuh, Rama, Pak Isam dan Haidar udah bangun, mereka rencananya akan ke pesantren. Sachi udah pindah tidur sama pengasuhnya di kamar. Mang Ujang masih tidur, susah dibangunin buat diajak ke pesantren.


Pak Isam memperkenalkan Haidar ke Abah Ikin dan semua orang yang mengurus pesantren. Seperti biasa kegiatan menjelang subuh, mereka pun ikut melantunkan dzikir berjama'ah. Hingga masuk waktu subuh.


🏵️


Sesampainya di Mesjid pesantren, keluarga Pak Isam langsung bergabung dengan para jama'ah di Mesjid. Berdzikir hingga waktu adzan subuh tiba. Dzikir yang diadakan tiap hari dari tengah malam hingga subuh merupakan salah satu terapi untuk para "santri" disini. Karena memang yang kesini kebanyakan orang yang punya permasalahan dengan hidupnya.


Dari yang pernah Rama baca disalah satu media online kalo dzikir adalah terapi dari segala persoalan hidup. Rama pun ikut larut dalam lantunan dzikir dan do'a, dia pun merasa butuh terapi juga secara jiwa.


Kondisi sekarang membuat Rama Terkadang jadi bingung dan gelisah ketika sedang dihimpit berbagai macam persoalan serius. Ga tau harus berbagi dengan siapa lagi.


Setelah membuka pesan dari Mba Nay, Rama makin tidak tenang. Ada lagi yang harus dia pecahkan. Siapa Sachi aja hingga hari ini belum bisa ia kasih tau ke Mas Haidar. Sebenarnya sudah sering dia mencoba dengan cara implisit, tapi ga berhasil juga. Ingatan Mas Haidar tentang Mba Nay seolah-olah memang tidak pernah ada. Walaupun sekarang sudah ga pusing lagi kalo mikir terlalu dalam, tetap aja Mas Haidar ga berhasil mengingat siapa Mba Nay.


Belum lagi permasalahan korupsi di perusahaannya, menambah deretan permasalahan. Para Karyawan juga sudah lumayan banyak yang mengajukan resign.


Ketika masalah satu persatu berbaris menimpa seseorang, otomatis yang kita ingat adalah adalah akal empirik dan rasio untuk segera mencari solusi dari masalah yang dihadapi. Padahal saat seperti itulah manusia akan berada pada titik terendah dalam kehidupannya.


Kadang kita lupa mencari Allah dulu dalam kepanikan. Padahal dengan mengingat Allah, niscaya akan memulai babak baru dimana hidup akan senantiasa diberkahi dengan limpahan kasih sayangNya.


Abah Ikin memberikan sedikit pencerahan disela berdzikir dan berdo'a, agar kita bisa survive (bertahan), sebagai manusi harus memiliki kemampuan untuk bisa membina hubungan baik dengan sesama, dengan siapapun, kapanpun dan dimanapun. Karena kita ga akan pernah tau kelak Allah titipkan melalui perantaraan siapa masalah kita bisa terselesaikan. Karena tidak akan ada uang ataupun solusi masalah yang turun dari langit begitu aja tanpa usaha dan do'a.


Abah Ikin juga berpesan untuk selalu berdzikir kepada-Nya dengan sepenuh hati. Mengakui kekurangan, kebodohan dan kelemahan kita dihadapan Allah SWT. Karena keutamaan dzikir adalah dapat membawa ketenangan dan menyembuhkan jiwa.


"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram"


(QS: Ar Ra’d 13:28).


Inilah kadang momen yang lama dirindukan oleh semua manusia. Berada bersama saudara seiman, melepas semua atribut keduniawian. Duduk bersimpuh mengingat Allah SWT.


Tiba-tiba ada remaja lelaki disampingnya yang menangis histeris, rupanya anak muda berusia kira-kira lima belas tahun ini sudah menjadi pecandu narkoba sejak usia dua belas tahun. Lingkungan yang membuat ia tergoda buat memakai. Rama dipeluk erat oleh remaja tersebut.


Pihak pengurus pesantren akhirnya membawa remaja tersebut kedalam ruangan khusus.


"Ya Allah terima kasih sudah membimbing hamba hingga tak terperosok di jurang narkoba" ucap Rama dalam hatinya.


🏠


Sepulang dari pesantren, Rama udah berganti baju dan duduk di teras villa, hari ini penampilannya biasa aja, pakai celana joger cingkrang yang lagi trend sama kaos oblong warna coklat susu, kontras sama kulitnya yang sawo matang. Karena hari ini dia ngerasa rambutnya susah disisir rapih, akhirnya mutusin pake topi aja biar aman. Ga lupa kaca mata hitamnya udah nangkring dikerah bajunya.


Rama itu orang yang paling males bawa tas. Makanya dia selalu pake celana yang banyak saku biar bisa ngantongin dompet dan HP nya. Diliat jam tangannya masih jam enam pagi, Mang Ujang juga baru kelar mandi.


Sachi masih tidur, mungkin masih ngantuk karena baru tidur tengah malam.


"Mba nanti kalo Sachi udah bangun, saya ditelpon ya" pinta Rama.


"Baik Mas" jawab pengasuhnya Sachi.


"Bilang aja saya lagi ada keperluan. Semalam dia bilang mau sarapan nasi mentega sama telur" kata Rama lagi.


"Baik Mas" jawab pengasuhnya Sachi lagi.


.


Setelah Mang Ujang siap, mereka melaju ke rumah Ceu Lilis. Naik mobil lagi karena semua motor sedang dipakai oleh pekerja.


Rama menepati janji sama ibunya Ceu Lilis untuk datang guna berkenalan. Hari Ahad ini Ceu Lilis jualan bubur tapi didepan rumah, keluarga Ibu panti masih kumpul jadinya dagangan buburnya laris dibeli oleh mereka.


Rama datang saat yang beli bubur udah lumayan sepi. Rama dan Mang Ujang disediakan semangkok bubur dan segelas teh hangat yang dicemplungin gula batu.


Rama tampak serius berbincang sama ibunya Ceu Lilis. Rama merencanakan agar Ibunya Ceu Lilis bisa berobat rutin buat liat kondisi kakinya yang ga bisa berjalan.


Ga lama kemudian, penjaga villa milik keluarga Pak Isam datang membawa motor roda tiga (yang ada bak belakang) dan kursi roda, dia memarkir kendaraan persis disamping mobil.


Seperti biasa, kalo ada sesuatu, pasti para tetangga kepo. Apalagi ini tiba-tiba ada motor roda tiga yang membawa kursi roda.


"Lis... bisa bawa motor kan?" tanya Rama serius.


"Bisa A' dulu diajarin sama teman-teman. Jaman masih keliling nyanyi dari kampung ke kampung. Kan emang kendaraan dengan ongkos paling murah ya motor" jawab Ceu Lilis.


"Nih kunci sama STNK kamu pegang. Tuh motor emang ga baru, tapi bisa buat kamu jualan bubur. Jangan dorong gerobak lagi, nanti kamu cape. Lagian kan kalo pake motor, kamu bisa menjangkau lebih jauh lagi area dagangnya. Kursi rodanya buat ibu, jadi Ibu bisa diajak jalan-jalan liat sawah. Atau mau ngumpul sama tetangga jadi ga repot. Lagipula dengan kendaraan ini kamu bisa ke Puskesmas atau Rumah Sakit daerah di Desa sebelah, ga usah minjem angkot lagi kalo mau kontrol kondisi Ibu" jelas Rama.


"Ya Allah... baik banget sih A'... beneran ini buat Lilis?" tanya Ceu Lilis dengan senang.


"Iya.. boleh dipakai tapi jangan dijual ya. Kalo misalkan ada warga yang mau pakai dan kamu ga pakai ya pinjemin aja" lanjut Rama.


"Ya ga atuh A' masa dijual" kata Ceu Lilis lagi.


"Makasih ya A' Rama..." ucap Ibunya Ceu Lilis yang terharu sampai menitikkan air mata.


"Itu bukan saya yang kasih Bu.. tapi Allah yang menggerakkan hati saya untuk memberikan semua ini ke Ibu" kata Rama.


Lilis duduk disamping Ibunya, beberapa kali Ibu dan anak ini berterima kasih ke Rama.


"Tehnya enak, rasanya gimana gitu. Beda ya sama yang biasa saya minum" ucap Rama.


"Itu teh terkenal disini A', Lilis ada stok kalo Aa' mau bawa" tawar Ceu Lilis.


"Mereknya apa? nanti saya bisa beli sendiri" jawab Rama.


"Jangan gitu A'.. jadi orang ga boleh nolak rejeki, atuh harga teh sebungkus ga sebanding sama motor" kata Ceu Lilis sambil masuk kedalam rumah, berniat mengambil teh buat oleh-oleh.


Ketika Rama sedang menikmati bubur, Izza datang membawa mangkok kosong untuk membeli bubur.


Rama dan Mang Ujang udah senyum-senyum melihat kedatangan Izza, yang diliain jadi salah tingkah.


"Makan Za... tunggu dulu ya, Ceu Lilisnya lagi masuk sebentar" ucap Mang Ujang.


"Ya Mang" jawab Izza.


"Duduk sini Za... ngapain berdiri disitu" ajak Mang Ujang.