
Hari ini Alex dan Mang Ujang berganti tugas. Rama membutuhkan Alex untuk terjun langsung ke proyek yang sepertinya ada sabotase. Rama sendiri yang turun tangan untuk melihat ke proyek yang sedang berjalan.
Untuk hal seperti ini, Alex lebih jago analisanya dibandingkan Rama karena Alex dan kawan-kawannya dulu juga sering mengganggu proyek atas suruhan orang yang berkepentingan. Bagi mereka siapa aja yang menyuruh ga masalah asal bayaran cocok. Jadi segala modus operandi sudah dikuasai oleh Alex.
"Ada yang ga beres Boss.. mengenai listrik pihak PLN bilang memang ada pemutusan aliran ke area perumahan yang Boss bangun. Ini bukan orang sembarangan yang melakukan, pasti sangat mengerti tentang aliran listrik. Mengenai para pekerja yang tiba-tiba menghilang, biasanya mandor dapat bayaran lebih untuk menarik mundur anak buahnya dan diberikan proyek yang baru dengan bayaran yang lebih menggiurkan" papar Alex.
"Saya juga berpikir seperti itu. Selidiki Lex.. apa Big Boss ada dibelakang ini semua. Kalo sekedar persaingan bisnis, Big Boss ga akan segila ini. Proyek receh kalo setingkat cluster kan.. apa yang sebenarnya dia inginkan?" tanya Rama mencoba menjalin benang kusut sosoknya Big Boss.
"Siap Boss .. tapi kalo ada penyelidikan seperti ini, saya ga bisa jaga Mba Izza selama seminggu. Karena saya ga pulang ke rumah Boss" sahut Alex.
"Izza nanti dijaga sama Mang Ujang, kalo pulang kuliah malam biar saya yang jemput. Saya akan atur waktu seminggu ini untuk jemput dia. Cuma dua hari kan yang pulang malam" kata Rama.
"Oke Boss.. tapi Mang Ujang diwanti-wanti buat selalu waspada. Tau sendiri kan Mang Ujang kaya gimana orangnya" jawab Alex.
"Ya .. nanti kan Izza banyak di Audah Hotel, bisa saya minta security mengawal dia. Kalo perlu depan ruangan saya akan dijaga security" ucap Rama.
"Baik Boss..." ujar Alex.
💐
Mang Ujang yang menjadi supirnya Izza hari ini, tadinya Izza mau bawa mobil sendiri tapi dilarang oleh Rama.
Sepanjang perjalanan, Izza banyak mendapatkan cerita tentang Rama dari Mang Ujang. Sangat terdengar manis banget, Mang Ujang yang notabene jadi orang terdekat Rama setahun belakangan ini, menceritakan hal-hal yang Izza ga tau.
"Mas Boss memang melalui perusahaan memberikan bantuan ke Panti Asuhan, tapi sebagai pribadi pun Mas Boss jadi donatur tetap juga di Panti Asuhan tempat Mba Izza tinggal dulu. Mas Boss juga ga segan-segan membantu karyawannya yang mengalami kesulitan ekonomi, khususnya buat sekolah anak, di Abrisam Group ada program anak kantor namanya, jadi ada dua orang anak dari tiap keluarga yang dinilai layak untuk dibantu, semua biaya sekolah ditanggung sampai tingkat SMA (dananya dari CSR perusahaan dan lima persen gaji pokoknya Rama). Mas Boss pula yang ga mau lagi pake jasa outsourcing buat klening serpis, dia tawarin mereka yang kerja di outsourcing menjadi karyawan tetap di perusahaan. Semua karyawan dijamin dengan perjanjian kerja yang jelas. Sektor usaha yang merugi langsung ditutup dan mantan karyawannya dicariin kerja ke tempat temannya Mas Boss atas rekomendasi Mas Boss pastinya. Makanya segala usaha yang Mas Boss lakukan pasti maju. Banyak do'a orang-orang yang dibantu sama dia" buka Mang Ujang.
"Iya.. Kak Rama memang sosok yang baik, saya sampai dititik seperti ini juga atas kebaikan hatinya. Kebayang ga Mang, saya ini anak Panti Asuhan, ga pernah mimpi bisa naik turun mobil plus dikasih supir pribadi, punya rekening tabungan yang sangat besar kalo menurut saya, punya kehidupan yang auto kaya, apa aja yang saya inginkan bisa terwujud. Ditambah kasus Mba Gita, harusnya saya yang menjadi musuh utama Kak Rama, bukan malah menjadi pendamping hidupnya. Dia angkat derajat saya sangat tinggi, semua diluar ekspektasi saya" papar Izza.
"Intinya nih Mba Boss tuh beruntung deh dapat Mas Boss, orangnya ga banyak omong tapi langsung sat set kelar. Dirawat baik-baik ya suaminya. Mamang mah cuma kasian kalo liat Mas Boss tuh cape sama semua pekerjaannya, belum lagi urusan lain yang bikin ruwet kepala. Papi Boss kan udah angkat tangan urusan kerjaan. Mas Haidar apalagi, sudah sibuk sama bisnis pribadinya, bisnis sayuran organik yang makin berkembang pesat. Mamang ga tega liat belakangan ini keliatan kusut banyak pikiran, malah enak banget liat Mas Boss tidur didalam mobil. Jangan kejar tayang mulu Mba.. jadinya tenaga siang malam terkuras habis. Perhatikan ga Mba kalo Mas Boss agak kurusan sejak sebulan belakangan ini?" ucap Mang Ujang.
"Kejar tayang apa sih Mang" sahut Izza.
"Ya namanya pengantin baru, bawaanya mau berduaan terus. Paham deh kejar tayang apanya" ledek Mang Ujang.
"Ada-ada aja segala kejar tayang.. udah kaya sinetron" sahut Izza.
"Oh iya Mba.. Para karyawan kan lagi ngomongin Mas Boss yang nikah sama Mba Izza" ujar Mang Ujang.
"Ngomongin apa Mang?" tanya Izza.
"Maap ya Mba sebelumnya, saya hanya menyampaikan ke Mba Boss karena kan saya mah sayang sama Mas Boss. Jadi para karyawan bilang Mba Boss ini main dukun, ya bikin Mas Boss kepelet gitu" adu Mang Ujang.
"Astaghfirullahal'adzim... bisa punya pikiran kaya gitu ya? saya aja ga pernah tau ada dukun buat hal-hal kaya gitu" kata Izza kaget.
"Secara Mas Boss kan masih muda, gagah, berwibawa, kaya raya, punya jabatan dan segalanya. Tapi kenapa memilih Mba Boss, maap.. yang ga punya poin plus untuk dijadikan istri" lanjut Mang Ujang.
"Jangankan orang lain Mang .. saya aja bingung kenapa Kak Rama milih saya" jawab Izza santai.
"Kalo menurut penerawangan Mamang.. semua Mas Boss lakukan karena Sachi. Tiap hari merengek minta Mama, ditambah Mba Boss ini wanita pertama yang Sachi terima sebagai pengganti Mamanya. Selain itu memang kayanya Mas Boss nyaman dekat Mba Izza, sejak nikah mana pernah curhat ke Mang Ujang lagi, soalnya udah punya teman curhat di kasur" papar Mang Ujang.
"Selama Mang Ujang ikut sama Kak Rama, apa ga ada wanita yang dekat selain saya?" tanya Izza.
"Dulu ada Mba Dania, tapi Mas Boss ga layanin tuh. Kirain sama Lilis, eh ga nyangkut juga. Baru sama Mba Boss lah dia mau jalan bareng. Paling juga sama Mba Anin deh yang keliatan bisa pergi bareng, itu juga karena kerjaan" ujar Mang Ujang.
"Menurut Mang Ujang, saya pantas ga jadi istrinya Kak Rama?" tanya Izza.
"Ya pantas aja sih Mba, tapi kan jadi istrinya Mas Boss bukan sekedar pantas, tapi harus istimewa. Semua beban itu ada dipundaknya Mas Boss. Makanya Mamang mah seneng akhirnya Mas Boss cepat nikah, paling ga dia bisa ada yang ngurusin" beber Mang Ujang.
"Iya Mang... abis nikah aja juga langsung sibuk sama kerjaan, HP nya bunyi terus kalo ga di silent" kata Izza.
"Keinginannya buat majuin perusahaan yang bikin dia jadi gila kerja. Yang bikin ga abis pikir tuh waktu tidurnya sedikit banget, sehari paling banyak empat jam tidurnya. Itu juga dicicil, di rumah dua jam dan di mobil dua jam pulang dan pergi kerja. Tiap weekend sebenarnya mau diusahakan buat santai, kenyataannya jarang. Tiap ada waktu luang, Mas Boss seneng banget ke Tasikmalaya, bisa dibilang jadi tempat favoritnya" kata Mang Ujang.
"Mang, kenapa kak Rama begitu betah kalo ke Tasikmalaya?" selidik Izza.
"Semuanya, suasananya, kebun organiknya, makanannya dan Pesantren Abah Ikin" jawab Mang Ujang.
"Lilis?" tanya Izza.
"Ini yang saya ga paham, kalo dibilang adik, kok mesra. Dibilang calon istri muda kok kayanya Mas Boss dingin" jawab Mang Ujang.
"Pernah Kak Rama menyatakan perasaannya tentang Lilis ke Mang Ujang?" tanya Izza lagi.
"Itu mah Mang Ujang kali, kak Rama kayanya ga kaya gitu deh, dia tau rasa sakitnya wanita yang diduakan, jadi ga mungkin menyakiti wanita" jawab Izza mulai agak panas.
"Wah kata siapa ga bisa ... justru orang kaya Mas bosslah yang kekayaannya berlebih bisa kaya gitu. Makanya Mba.. servisnya harus lebih memuaskan, jadi Mas Boss ga berpaling ke tetangga sebelah. Hati-hati juga sama Mba Farida. Kadang suka tebar pesona ke Mas Boss. Sesekali datang ke HO biar kasih paham tuh cewek-cewek penggemar Mas Boss, kalo Mas Boss udah ada pawangnya" ide Mang Ujang.
"Ya asal ga ditanggapin ya ga akan kejadian kan Mang. Selingkuh itu atas dasar penerimaan kedua belah pihak. Kalo satu nolak kan ga akan terjadi" jawab Izza.
💐
Rama tidak sengaja bertemu Abah Ikin saat habis meeting disebuah restoran siang ini. Mereka berbincang ringan awalnya, tapi akhirnya jadi lebih serius.
"Pernikahan itu suatu ikatan sakral seorang pria dengan wanita. Dalam pernikahan, kedua insan ini berikrar untuk saling setia, mitsaqan ghaliza, yang artinya perjanjian yang sangat kokoh. Pernikahan juga menghalalkan apa-apa yang sebelumnya diharamkan Allah dan termasuk salah satu penyempurna ibadah. Seorang suami itu pemimpin bagi istri dan anak-anaknya. Makanya harus bisa mengarahkan, mengayomi dan melindungi. Seorang suami kalo menasehati harus dengan kesabaran dan lemah lembut karena pada hakikatnya wanita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Rasulullah SAW tidak menyuruh para suami untuk mengubah tulang rusuk yang bengkok itu karena hal ini akan menyebabkan jadi patah. Beliau hanya berpesan kepada para suami untuk menjaga istri mereka dengan penuh kelembutan. Menyatukan dua kepala dalam suatu bahtera yang disebut rumah tangga ga semudah membalikkan telapak tangan, akan ada berbagai cobaan dan rintangan yang menguji kesabaran. Ingat ya, seorang wanita rela diperistri karena dia mendambakan kebahagiaan, cinta dan ketenangan, bukan hanya kebutuhan biologis dan harta semata" ucap Abah Ikin yang membuat Rama mengangguk-angguk.
"Luangkan waktu buat pasangan, membahas berbagai hal bersama pasangan. Saling percaya dan terbuka. Abah hanya bisa mendo'akan agar dalam mengarungi bahtera rumah tangga bisa lebih baik lagi demi mencapai pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warahmah" tambah Abah Ikin.
"Makasih nasehatnya Abah" jawab Rama.
"Belajar komunikasi yang baik lagi Nak Rama ...istri kamu sabar banget itu ngadepin polah kamu yang mutusin apa-apa sendiri, merasa paling pintar jadi ga perlu masukan, setiap langkah dia memang harus sepengetahuan kamu, tapi jangan lupa kalo tiap langkah kamu itu ada do'a-do'a dari dia" ingat Abah Ikin.
"Itu memang jadi PR terbesar saya. Terbiasa dari kecil bertahan dengan pemikiran sendiri, membuat saya jadi egois. Tapi saya sayang kok sama Izza. Saya berpikir apa yang saya lakukan itu baik buat dia, padahal kadang jadi terlalu berlebihan mengikat dia disamping saya" ucap Rama.
"Alhamdulillah kalo kamu sadar, perbaikilah apa yang masih kurang. Rumah tangga itu proses belajar seumur hidup" kata Abah Ikin.
"Insyaa Allah" jawab Rama.
"Masih berkomitmen ga mau menjalankan kewajiban kamu memberikan nafkah batin buat istri?" tanya Abah Ikin.
"Saya belum bisa" jawab Rama.
"Masih normal kan? bisa bangun kan?" cecar Abah tanpa tedeng aling-aling.
"Normal .. saya masih greget kok kalo liat wanita. Beberapa kali saya mengakui timbul hasrat terhadap Izza. Tapi banyak hal yang membuat saya ga bisa menjalankan kewajiban saya yang satu itu" jawab Rama.
"Mau tunggu sampai resmi?" tanya Abah Ikin lagi.
"Insyaa Allah" jawab Rama.
"Masih berkutat didendam itu?" tembak Abah Ikin lagi.
"Saya coba melepaskan satu persatu, tapi kondisi saat ini ga bisa saya tepikan begitu saja. Statusnya Izza di rumah perlu kejelasan, Papi berkali-kali minta kejelasan status Izza. Lagipula Sachi sangat rapat sama dia. Kebahagiaan Sachi menjadi hal utama buat saya" jelas Rama.
"Jangan terjebak didalam pernikahan yang malah saling mendzolimi. Abah tanya berkali-kali saat mau menikah kan? apa yakin dan mantap kamu jawab iya. Jangan main-main sama akad yang kamu ucapkan ya" omel Abah Ikin.
Rama ga menjawab.
"Apa tidak kasian melihat istri? kamu nikahi dia dengan alasan untuk menjaga anak dan keinginan Pak Isam yang merindukan sosok anak perempuan di rumah. Dia kan juga bisa dikatakan sebatang kara menjalani hidup. Punya saudara tapi ga mau mengakui, punya Kakak angkat ditahan polisi, tempat dia bernaung di Panti Asuhan pun sudah tidak ada. Ya Allah... kemana pikiran kamu yang cerdas Nak Rama? Abah kira dengan merenung di Pesantren terus memutuskan menikah sudah sangat matang dipikirkan. Belum selesai masalah pernikahan sendiri, sekarang malah sibuk ngurusin Lilis, Ujang dan Alex. Kamu hanya punya waktu dua puluh empat jam dalam sehari, apa sanggup menjalani semuanya? kapan waktu untuk beribadah dengan khusyu kalo pikiran masih mengawang-awang? Nak Rama yang Abah kenal ga seperti ini" ucap Abah Ikin.
"Izza disukai oleh Big Boss jaringannya Mba Gita. Orang inilah yang merusak segalanya. Bisnis Papi dan keluarga banyak yang ditutup karena dia, Mba Nay meninggal karena dia, kebakaran rumah keluarga Mba Nay, kematian Mba Zizi dan keterlibatan Mba Gita dalam jaringan narkoba" papar Rama.
"Apa hubungan semua itu sama Izza? kamu mau unjuk kekuatan kalo bisa memiliki Izza daripada dia?" tanya Abah Ikin.
"Setelah saya menikahi Izza, akhirnya orang ini unjuk diri secara perlahan-lahan, dia berhasil saya paksa untuk keluar" jawab Rama.
"Astaghfirullahal'adzim.. Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadzhalimin (Aku memohon ampun kepada Allah yang Maha Agung. Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim)" ucap Abah Ikin sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Saya yakin orang ini sangat jahat. Bukan hanya sekedar menuntaskan segala dendam yang ada, tapi untuk menyelamatkan banyak orang kedepannya" lanjut Rama.
"Astaghfirullahal'adzim... Astaghfirullahal'adzim..." jawab Abah Ikin makin geleng-geleng kepala.
"Itulah kenapa saya tidak mau menjalankan kewajiban saya memberikan nafkah batin ke Izza. Saya akan menjaganya tetap suci hingga saya mampu menghapuskan segala dendam saya dan bisa membuka hati untuk mencintainya layaknya suami terhadap istrinya" ungkap Rama.
"Astaghfirullahal'adzim... Astaghfirullahal'adzim..." Abah Ikin terus beristighfar mendengar setiap perkataan Rama.
"Maafkan saya Abah... jika saya belum mampu menyerap segala ilmu yang Abah berikan. Sekarang saya juga masih belajar menerima masa lalu. Mba Nay sudah saya letakkan sebagai kawan saja, segala perasaan tentangnya mulai saya kubur dalam-dalam. Atas permintaan Mas Haidar, semua yang berkaitan dengan Mba Nay sudah saya serahkan ke Mas Haidar dan Sachi. Mengenai bisnis keluarga pun saya coba kerjakan sebaik mungkin, walaupun hasilnya belum sesuai target. Sachi juga sudah saya coba untuk lebih dekat ke Mas Haidar, agar tidak terlalu bergantung sama saya lagi. Mengenai kasus Mba Gita, biarlah pihak kepolisian yang melanjutkan, sebagai warga negara saya sudah memberikan segala informasi yang saya punya. Big Boss ini pasti suatu saat akan terbongkar, karena semua yang terjadi ada kaitannya. Mengenai Izza.. ada hal lain yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk menikah sama dia. Saya ga bisa mengutarakan ke Abah sekarang. Tapi saya sudah janji pada diri sendiri, Izza akan jadi istri saya secara resmi dalam waktu secepat mungkin" kata Rama.
"Abah udah ga bisa komentar apapun sekarang. Lakukan yang menurut Nak Rama benar. Cuma satu pesan Abah.. libatkan Allah dalam setiap langkah. Coba untuk mendekat ke keluarga, toh sekarang bukankah rumah sudah terasa hangat sebagai rumah? Orang tua sudah sangat sayang, Kakak yang selalu hadir dan mendukung, istri yang pemikirannya cerdas dan penuh perhatian, anak yang sehat dan lucu. Pekerjaan ga akan ada selesainya, tapi keluarga ada batas kebersamaan. Manusia pasti akan ada batas usia. Entah kita yang meninggal duluan atau keluarga kita yang berpulang terlebih dahulu. Selagi ada waktu... dekap erat mereka semua agar ga ada penyesalan nantinya. Bisnis rugi, masih ada kesempatan untuk bangkit lagi. Tapi kalo kehilangan keluarga... mau cari dimana lagi?" nasehat Abah Ikin.
Rama kembali terdiam. Mencoba mencerna tiap-tiap bait nasehat dari Abah Ikin.