HELLO SUNSHINE

HELLO SUNSHINE
Hello 72, Only you



Rombongan para cewek ini kaget melihat ada sosok lelaki menghampiri mereka.


"Mas Haidar...." ucap Izza rada lirih.


Teman-temannya Izza tersenyum melihat sosoknya Haidar, mereka tersenyum karena menang taruhan bahwa Izza akhirnya dijemput dan tersenyum karena sosok Haidar begitu ganteng dihadapan mereka.


"Katanya kuliah sampe jam delapan, sekarang udah jam sembilan lewat ... pada ngerumpi dulu di kelas ya?" tanya Mas Haidar sambil melihat jam barunya dari salah satu klien barunya.


"Ada kelas tambahan, kok Mas Haidar tau Izza kuliah malam?" jawab Izza bingung.


"Saya kan ada di Panti Asuhan dari sore, anterin sedikit bantuan dari karyawan-karyawan toko frozen food. Ibu bilang kamu kuliah, ya kasian aja sama anak gadis yang pulang sendirian, mumpung saya ga ada kesibukan ya langsung aja kesini. Kalo Sachi masih bangun pasti ikut, karena tadi dia juga ikut ke Panti Asuhan, tapi dijalan tidur, jadinya anterin dia pulang dulu baru kesini" jelas Mas Haidar.


"Ehmm... ehemmmm ... ehemmm" temannya Izza berdehem.


"Kenapa? tenggorokannya sakit? atau haus? mau dibeliin minum?" tanya Mas Haidar.


"Hehehe... Mas ini memang paling tau jiwanya para mahasiswa.... paham banget sama kode-kode" jawab temannya Izza.


"Sebelum kalian jadi mahasiswa, saya udah jadi mahasiswa duluan" kata Mas Haidar sok akrab.


"Mas kuliah disini?" tanya temannya Izza.


"Ga lah .. kampus biasa aja kok .. ga berani kuliah ditempat kaya gini ... hehehe" jawab Mas Haidar merendah.


"Tapi masih di Jakarta kan Kampusnya?" tanya teman lainnya.


"Yang jelas diluar Jakarta" jawab Mas Haidar lagi.


"Kampus mana sih Mas? ga usah malu-malu lah. Tapi memang di Jakarta biaya pendidikan itu mahal, mending keluar daerah deh kalo mau cari yang masih terjangkau" paksa temannya Izza.


"Ga usah tau lah .. yang jelas kampus swasta. Gedungnya ga kaya gini, banyak kebonnya daripada kelasnya.. " tukas Mas Haidar.


"Menurut Mas, mewah ga gedung Kampus ini? baru renovasi soalnya" kata temannya Izza.


"Not bad lah .. tapi baiknya jangan banding-bandingkan antar Kampus, semua punya kelebihan masing-masing" saran Mas Haidar.


"Bukan bandingin sih .. tapi Kampus kami ini memang lumayan dapat suntikan dana yang bagus kayanya, secara banyak artis dan anak pengusaha yang kuliah disini .. hehehe" ucap temannya Izza.


Izza ga ikutan ngobrol karena dia tau kalo Mas Haidar itu lulusan luar negeri. Jadi dibiarkan aja temannya sibuk nanya sama Mas Haidar.


"Gimana Za .. mau dibeliin sekarang atau besok aja?" goda temannya Izza.


"Apaan nih yang sekarang atau besok aja?" ucap Mas Haidar nimbrung.


"Ini Mas .. tadi kan kita taruhan, Izza dijemput ga hari ini, kan tadi datang ke Kampus juga dianterin sama mobil mewah, tapi ga keliatan yang anter cewe atau cowo" adu temannya Izza.


"Oh dianterin mobil mewahhhh.... jangan-jangan mobil yang warnanya dark navy blue" duga Mas Haidar.


"Nah iya betul banget, warnanya navy gelap gitu, kacanya juga agak gelap" sahut temannya Izza.


Izza malah jadi kikuk karena Mas Haidar pasti sudah tau siapa orangnya.


"Udah malam, yuk Za kita pulang. Saya udah bilang ke Ibu kalo akan jemput kamu terus anter secepatnya" ajak Mas Haidar.


Teman-temannya Izza masih aja ngasih kode ke Izza. Rupanya Mas Haidar melihat gelagat teman-temannya Izza.


"Oh ya ... ini buat bayar taruhannya Izza" kata Mas Haidar sambil memberikan uang seratus ribuan ke temannya Izza.


Temannya Izza senang dikasih uang sama Mas Haidar.


"Lumayan buat makan malam yang telat" ucap mereka.


.


Didalam mobil Izza dan Mas Haidar banyak berbincang tentang Sachi. Anak ini mengalami penurunan motivasi karena Rama memang sudah tidak banyak waktu buat Sachi. Sedangkan apa-apa yang berkaitan dengan sekolah, Sachi sangat percaya sama Rama.


"Sachi ga mau belajar sama yang lain, baginya Ayah Rama udah paket komplit. Bisa jadi guru sekaligus teman bermainnya. Tapi sejak Rama pegang Audah Hotel juga, waktunya sedikit buat Sachi. Ditambah sekarang kasus hukum yang sedang berjalan. Makin-makin deh Sachi tersingkir. Rama selalu pulang menjelang tengah malam. Paling ketemu Sachi saat sarapan. Udah ga anterin sekolah lagi. Weekend pun sibuk dengan segudang meeting sana sini" adu Mas Haidar.


"Gimana ya Mas... saya ga bisa komen kalo berhubungan sama Kak Rama. Saya ga terlalu kenal bagaimana kehidupannya. Mungkin Kak Rama memang super sibuk" ucap Izza.


"Rama itu susah banget denger kata orang, bisa dibilang kadang sok pintar. Semua seakan bisa dikerjakan sendiri. Keluarga juga udah ga tinggal diam. Mulai dari Mbah di Surabaya sampe Sachi juga udah protes, tetap aja ga mampu mengubah ritme hidupnya. Terobsesi banget jadi orang sukses dan kaya raya. Entah apa yang mau dia buktikan. Dalam kamus hidupnya hanya kerja, kerja dan kerja" kata Mas Haidar.


"Sudah pilihan hidupnya mungkin Mas" jawab Izza.


"Mas ga tau siapa yang bisa ngomong sama dia buat lebih terlihat manusia... Papi aja ga didengar" ucap Mas Haidar.


"Kayanya Kak Rama akrab banget sama Mang Ujang, biasanya rahasia Boss ada ditangan supir pribadinya" kata Izza.


"Ujang??? ngarepin dia mah udah pasti hasilnya nol besar. Dia aja sering kena bully sama Rama" jawab Mas Haidar.


"Ya dido'akan aja kalo gitu Mas .. semoga hatinya bisa dilembutkan" harap Izza.


"Aamiin ... Za.. kamu hati-hati ya, Mas khawatir kamu jadi incaran jaringannya Mba Gita. Sebisa mungkin jangan pulang sendiri. Atau kamu numpang aja sama teman yang kost dekat kampus kalo kuliah pulang malam. Kita ga pernah tau gerakan jaringan itu kan Za. Mas juga udah dengar kamu hampir jadi korban rudapaksa" kata Mas Haidar.


"Dulu kalo pulang malam ada Mba Gita yang jemput Mas, kalo ga bisa ya naik ojol" papar Izza.


"Nantilah kita pikirkan solusinya" ucap Mas Haidar.


"Gimana kalo besok Sachi nginep di Panti Asuhan? boleh ga Mas?" ijin Izza.


"Saya sih ga masalah kalo Sachinya mau. Tapi apa kamu ga repot?" tanya Mas Haidar.


"Ya udah besok saya tawarin Sachinya ya. Dia pasti happy. Nanti biar pengasuhnya ikut nginep juga disana ya" ujar Mas Haidar.


"Boleh ga kalo pengasuhnya ga ikut? siapa tau Sachi mau ngomong tentang keresahan hatinya. Kan selama ini sama pengasuhnya juga ga keluar apa yang sebenarnya diinginkan Sachi" pinta Izza sekali lagi.


"Oke .. besok saya kabarin ya" jawab Mas Haidar.


🏠


Rama tidak jadi ke Audah Hotel, dia kembali ke rumah setelah menghabiskan makanannya.


Rama langsung menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya dan berganti baju, Rama mengetuk kamarnya Sachi.


Mba Nur membukakan pintu kamarnya Sachi.


"Saya mau pindahin Sachi ke kamar" kata Rama.


Rama menggendong Sachi yang masih terlelap. Dia sama sekali ga bangun saat Rama menggendongnya untuk pindah ke kamarnya Rama.


Tempat tidur Sachi kecil untuk tidur berdua, makanya kalo mau tidur sama Sachi pasti di kamarnya Rama.


Direbahkan perlahan tubuh Sachi kemudian ditutup selimut.


Dipeluknya sang putri kecil, wajah polosnya sangat tampak terlihat. Makin besar, Sachi makin cantik.


Diciumnya kening Sachi dengan lembut kemudian dipeluknya lagi dengan penuh kasih sayang.


"Ayah..." panggil Sachi terbangun.


"Iya ini Ayah sayang ... Sachi bobo lagi ya, masih malam" jawab Rama dengan lembut.


"Ayah kerja kok ga pulang-pulang? Sachi kan kangen" kata Sachi rada serak.


"Sekarang kan Ayah udah pulang. Kita tidur berdua ya" jawab Rama.


"Ayah jangan kerja mulu ya" kata Sachi.


"Sachi kan tau kalo Ayah kerja buat Sachi sekolah, main ke Mall, nonton, beli mainan.." papar Rama.


"Sachi cuma mau Ayah. Gapapa Sachi ga beli mainan, ga nonton ke bioskop. Yang penting Ayah jangan kerja terus" ucap Sachi.


"Ya..." ucap Rama pelan menahan sesak didada atas permintaan Sachi.


"Bukan Ayah ga mau menemani kamu main, meninabobokan atau ikut belajar bersama. Tapi banyak yang harus Ayah kerjakan diluar rumah Nak ... ini demi masa depan kita juga. Ayah harus memenuhi semua janji ke Mama kamu" kata Rama dalam hatinya sambil mengusap punggungnya Sachi.


Keduanya tidur saling berpelukan. Banyak hal masih menari-nari dalam pikirannya Rama, jadi tidurnya ga nyenyak dan banyak bangun.


"Ya Allah... apakah aku masih sangat mencintai seseorang yang nggak bisa termiliki?" tanya Rama dalam hatinya.


Rama punya pengalaman pahit dimana dia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya pada seseorang yang nyatanya ga pernah bisa dia miliki. Tentu saja menyesakkan dada. Tapi Rama mencoba berkali-kali sadar, seberapa pun besarnya cinta yang Rama berikan, seberapa pun besarnya pengorbanan yang Rama lakukan, tetap saja wanita itu tak akan menjadi miliknya Rama selamanya.


Tidak ada alasan kenapa kita bisa mencintai seseorang yang nggak bisa kita miliki. Yang dirasakan hanyalah kebahagiaan semu, yang berujung pada rasa sakit pada akhirnya.


Setelah mencoba berkali-kali berpikir, menurut sudut pandang Rama sendiri tentunya, mungkin Rama gak bisa membedakan perasaan yang sedang bergemuruh dihatinya. Apakah memang cinta atau hanyalah obsesi semata? Bisa jadi, sebenarnya Rama hanya terobsesi kepadanya karena ada sesuatu yang istimewa dalam diri wanita tersebut, sesuatu yang ga Rama dapatkan dari keluarganya.


Sifat manusiawi biasanya muncul, bahwa sesuatu yang tidak kita miliki akan terlihat lebih indah dan menggoda daripada milik sendiri, konon katanya rumput tetangga lebih indah daripada rumput sendiri. Sama halnya ketika kita mencintai seseorang yang jelas-jelas tak bisa kita miliki. Bisa jadi mencintainya karena kita merasa dia adalah sosok berharga yang pantas dicintai.


"Mba Nay ... sampai kapan aku bisa melupakan cinta ini? kukira bersama terkuburnya jasadmu, menjadi batas rasa cintaku yang besar ini padamu. Ternyata semua ga semudah itu. Walaupun mengenalmu secara singkat, Mba Nay sudah memenuhi semua kriteria yang Rama butuhkan. Perlukah kututup hatiku untuk wanita lain agar rasa cintaku padamu ga akan padam? Andai Mba masih ada, bukankah kita akan menjadi keluarga bahagia bersama Sachi tentunya" ucap Rama sambil mengusap kepalanya Sachi dengan lemah lembut.


⬅️⬅️


"Mba ... Faqi (saat itu panggilan Rama adalah Faqi) ikhlas menikahi Mba Nay. Walaupun kita tau bersama siapa Ayah biologis bayi yang Mba kandung, insyaallah Faqi bisa terima kondisinya. Biarlah ini menjadi rahasia kita" kata Faqi untuk kesekian kalinya meminta kesediaan Mba Nay menerima ajakannya untuk menikah.


"Faqi ... Mba ga bisa menikah sama kamu. Cinta Mba hanya untuk Mas Haidar, dia pasti akan ingat Mba dan akan mencari Mba kalo sudah sembuh. Apalagi ada buah cinta kami yang sebentar lagi akan terlahir ke dunia ini. Anak ini akan menjadi sumber kebahagiaan kami" jawab Mba Nay.


"Mba... bukan hanya untuk menutup malu dan sekedar bertanggung jawab terhadap anak ini, Faqi benar-benar cinta sama Mba Nay. Ga ada yang mampu mengubah rasa ini Mba .. Kedekatan kita selama ini makin membuat Faqi yakin kalo Mba adalah jodoh yang Allah pilihkan untuk Faqi" pinta Faqi lagi.


"Ga bisa Faqi .. Mba udah anggap kamu seperti adik Mba sendiri. Kamu hanya ga bisa membedakan rasa cinta dan kasihan. Sadarlah Faqi ... Kakak kamu adalah cinta sejatinya Mba" jawab Mba Nay lagi.


"Kalo Mas Haidar ga bisa kembali ke Mba, apa Mba bisa terima Faqi? Faqi janji akan menutup masa lalu, kita buka lembaran baru. Walaupun konsekuensinya Faqi terbuang dari keluarga, Faqi sanggup Mba" lanjut Faqi penuh pengharapan.


"Mas Haidar pasti datang menepati janjinya sama Mba. Dia akan datang menjemput Mba dan anaknya, kami akan membangun keluarga yang ideal" jawab Mba Nay yakin.


"Kondisi Mas Haidar ga bisa dipastikan bisa sembuh dengan cepat. Jika Allah masih memberikan kesempatan untuk hidup pun butuh recovery yang panjang. Tabrakan itu juga akan menghapus sebagian memorynya. Mba tau kan kalo Mas Haidar ga ingat siapa Mba... dan satu lagi yang ga boleh Mba lupa ... Mas Haidar adalah tunangannya Mba Anin. Cepat atau lambat mereka akan menikah. Bahkan yang mendampingi Mas Haidar di Malaysia adalah Mba Anin. Masih yakin Mas Haidar akan kembali kepelukan Mba? Mba Anin bisa melakukan segalanya dan Mas Haidar masih dengan baik mengenalinya" ucap Faqi dengan penuh emosi yang tertahan.


"Ga Faqi ... Ga ... Mas Haidar pasti sembuh, Mas Haidar pasti ingat sama Mba dan anaknya ... kamu jangan nakut-nakutin" teriak Mba Nay histeris.


Karena kondisinya yang belum stabil, Mba Nay pingsan seketika, bersamaan dengan itu, Mba Gita datang ke Apartemen. Akhirnya Faqi dan Mba Gita membawa Mba Nay ke Rumah Sakit.


➡️➡️


"Mba Nay ... " lirih Rama memanggil.


Rama buru-buru mengambil botol air mineral yang ada di meja kamarnya. Kemasan enam ratus mililiter itu langsung habis dalam sekali tenggak.


Keringat membanjiri tubuh Rama padahal AC di kamarnya sudah dalam suhu yang paling dingin.


"Mba Nay ... kamu adalah pikiran terakhir dalam pikiranku sebelum tertidur dan pikiran pertama ketika aku bangun setiap paginya" ungkap Rama.