
"Belum tidur sayang" sapa Rama yang mengejutkan Izza.
Rama berjalan mendekati Izza kemudian memeluknya dari belakang.
"Belum ngantuk" jawab Izza.
"Dingin loh... nanti alergi kamu bisa kambuh" ingat Rama.
"Kak... Izza mau ngomong serius.. " pinta Izza.
"Mau ngomong apa? emang selama ini perbincangan kita ga pernah serius ya?" canda Rama sambil tersenyum.
"Kak.. ga liat muka Izza udah sangat serius?" ucap Izza dengan ekspresi wajah yang datar. "Ya udah kalo mau ngobrol, jangan didepan jendela gitu ah, nanti kamu kedinginan, tutup dulu ya, kita ngobrol di kasur kan bisa lebih rileks" ucap Rama.
Izza menutup jendela kamar, tapi dia duduk di bangku memandang Rama yang sudah tiduran diatas kasur.
"Kak... Izza mau terus terang sesuatu, tapi tolong jangan benci sama Izza..." ucap Izza menahan tangis.
"Ada apa sih? ada yang mengganjal? ngomong aja, ga ada rahasia kan diantara kita" tanya Rama dengan lembut.
"Selama ini Izza pake pil KB buat mencegah kehamilan pasca keguguran waktu itu" ucap Izza dengan keberanian yang ia kumpulkan sejak seminggu yang lalu.
"APPPAA????" Rama langsung kaget dan berjalan mendekati Izza.
Rama duduk disampingnya Izza yang tengah menundukkan kepalanya.
"Ga salah denger kan?" tanya Rama meyakinkan pendengarannya.
"Maafin Izza Kak..." jawab Izza sambil memegang tangan Rama tapi langsung ditarik sama Rama.
Rama kembali duduk ditepi kasur.
"Kenapa De? Kenapa kamu ga mau hadir anak diantara kita?" tanya Rama yang sudah ga karuan hati dan pikirannya.
"Kak.. sampai detik ini misteri siapa Ayah biologis Izza belum terungkap. Sama siapa menanyakan hal ini? apa perlu tes DNA sama Om Flandy? peristiwa itu juga membuat makin tersadar, menyandang nama Abrisam tidaklah mudah. Izza ga mau nantinya anak kita mengalami hal seperti yang kita alami. Semua bermula dari persaingan bisnis, selama Abrisam Group masih berdiri.. selama itu akan ada musuh kan? cukuplah peristiwa itu mengoyak hati terdalam Izza. Mengalami penculikan, pelecehan hingga hampir jadi korban rudapaksa, mengetahui identitas Kakak sendiri bahkan melihat kematiannya untuk melindungi Izza. Berita ini pasti akan ada jejak digitalnya. Suatu saat anak kita bisa membacanya" papar Izza dengan suara yang sangat memelas.
"Kakak bawa kamu ke psikiater, psikolog dan dokter ahli untuk mengobati fisik dan mental kamu De... kenapa bertindak sebodoh ini? kenapa ga pernah menolak kalo Kakak meminta kita datang ke dokter untuk merencanakan kehamilan? kenapa kamu ga pernah bilang kalo ga siap punya anak? Kalo kaya begini.. kesannya Kakak maksa ga sih?" tanya Rama yang ga habis pikir sama jalan pikirannya Izza.
"Maafin Kak" jawab Izza.
"Apa kata maaf kamu bisa mengubah semuanya? Kakak habiskan banyak rupiah untuk semua ini De.. bukan sedikit.. Kakak lakukan buat kamu .. ya .. kamu.. wanita yang spesial dalam hidup Kakak" ujar Rama.
"Maaf Kak..." kata Izza sudah dengan suara yang parau.
Tetesan air mata Izza sudah tak terbendung, biasanya Rama paling ga bisa melihat Izza menangis. Tapi kali ini dia diam melihat Izza dengan segala kesedihannya.
"Izza cuma ga mau kalo anak itu hadir malah disaat Izza masih belum yakin sama hati Izza sendiri" bela Izza.
"Makin ga paham... kamu ngomong apa sih?" tanya Rama yang merasa mendadak bego malam ini.
"Izza hadir kedalam hidup Kak Rama itu sebenarnya sudah diskenariokan... Mba Gita juga ikut membantu. Izza mencoba menggoda hati Kak Rama, karena infonya Kak Rama belum pernah jatuh cinta dan maunya ketemu sama cewe yang alim, pendiam tapi smart. Sebisa mungkin Izza tampil seperti itu. Saat Izza tau Kak Rama sudah mulai tergoda, saat itulah kemenangan serasa sudah digenggaman. Harusnya Izza bisa pake akal saat menerima tawaran ini" lanjut Izza.
"Tawaran? tawaran apa? please... jelaskan sejelas-jelasnya De.. beneran deh..ini otak ga mampu mencerna apa yang sedang kamu bicarakan .." ucap Rama yang kini duduk di lantai kayu bersandar tempat tidur.
"Mba Anindya adalah dalang semuanya" bergetar bibir Izza mengucap nama itu.
Rama jelas sangat kaget ketika nama itu meluncur dari bibir pecah delima milik Izza.
"Mba Anin?" tanya Rama mengulang.
"Tau kan sakit hatinya Mba Anin terhadap Mas Haidar? dikhianati, tidak dicintai bahkan dihempaskan" ujar Izza.
"Kenapa kalo dendam sama Mas Haidar, malah kamu diperalat untuk mengikat Kakak? ga ada hubungannya sama sekali pernikahannya mereka yang gagal sama Kakak" buru Rama.
"Karena pada akhirnya.. Mba Anin menyukai Kak Rama. Perasaan itu muncul ketika Mba Anin sudah menikah dengan Mas Haidar dan intensitas pertemuan dan perbincangan dengan Kak Rama intensif. Meskipun tidak secara fisik bertemu, tapi Kak Rama selalu video call saat Mas Haidar masih masa recovery" jelas Izza.
"Kalo dia cinta sama saya? kenapa ga merebut hati saya? kok malah nyuruh kamu.. apa ga khawatir kamu berkhianat?" tanya Rama.
"Pada akhirnya memang Izza berkhianat... sudah jatuh cinta beneran sama Kak Rama. Bersamaan dengan itu, semua kisah hidup Izza malah terbuka secara ga sengaja.. dan itu berkat bantuan Kak Rama juga" tambah Izza.
"Silahkan kamu cerita panjang lebar dulu .. Kakak akan menyimaknya" tantang Rama.
"Siapa yang ga iri sama kesuksesan bisnis keluarga Papi, Abrisam Group adalah perusahaan yang besar dan maju. Ibaratnya besi aja dipegang sama Abrisam Group bisa jadi emas. Izza memang tidak mengenal Om Flandy dan sepak terjangnya, tapi Mba Anin bilang kalo pada awalnya, Papi dan Om Flandy berbisnis bersama, tapi ketika berjalan dan sukses, Om Flandy dihempaskan begitu saja. Pak Alfian, Papanya Andi, itu Om nya Mba Anindya. Banyak orang ga tau karena memang satu ayah tapi beda ibu dengan Om Flandy" beber Izza sambil beberapa kali mengatur nafasnya.
Wajah Izza penuh cucuran air mata. Rama masih diam tanpa kata.
"Sejak awal bertemu sama Kak Rama, Om Alfian sudah berniat menjodohkan Kak Rama sama Mba Dania. Karena Kak Rama ga kunjung tergoda sama Mba Dania, akhirnya Pak Alfian penasaran, beliau pengen tau tipe idaman Kak Rama seperti apa agar bisa dicopy paste oleh Mba Dania. Andi sama sekali tidak terlibat, bahkan tidak tau tentang hal ini. Mba Gita itu adik angkatannya Pak Alfian di Kampus, mereka cukup dekat karena dulu sering ada event charity bareng. Setelah Izza diambil dari Panti Asuhan sama Mba Gita, sering diajak ikut event itu sampe akhirnya kenal sama Pak Alfian, dulu saat masih berteman sama Andi, ga pernah tau siapa keluarganya. Makanya Andi bisa tau juga keberadaan Izza dimana meskipun sudah terlambat karena saat itu Izza sudah tinggal di rumah Papi" kata Izza.
Izza mengambil tissue untuk membersihkan hidungnya. Rama masih mencoba mendengarkan cerita yang tidak runut dari bibir Izza.
"Pak Alfian melihat ada sesuatu yang menarik dalam diri Izza, hingga akhirnya Izza dilatih menjadi wanita yang kalem, lemah lembut dan kuat agamanya serta pintar berbicara. Ga sebentar Kak, Izza dipersiapkan selama SMA buat jadi wanita yang akan menggoda Kak Rama. Semua berjalan sesuai skenario, Kak Rama jatuh cinta sama Izza. Sedangkan Audah Hotel adalah sebuah rencana masa depan Mba Anin untuk selalu mengikat Kak Rama ada disampingnya. Jadi saat itu Pak Alfian pasrah.. antara Mba Anin atau Mba Dania yang bisa menggaet Kak Rama, yang penting berhasil. Ditengah jalan, Mba Anindya tidak bisa menerima kalo Kak Rama ternyata seserius itu sama Izza.. bisa ditebak bagaimana marahnya. Bekas luka yang pernah Kakak lihat bukan sekedar kejadian di kecil, tapi juga Izza dapatkan dari Mba Anin" papar Izza yang sudah banjir air matanya.
"Gila kali ya... Mba Anin itu mantan kakak ipar saya ... ga mungkinlah saya punya perasaan yang lebih sama dia" jawab Rama.
"Itulah cinta Kak, semua diluar logika. Izza cemburu hingga kita berselisih karena Kakak menjaga Mba Anin di Rumah Sakit. Khawatir Mba Anin merebut Kakak dari Izza" sahut Izza.
Izza kembali mengambil tissue untuk mengusap air matanya.
"Pak Alfian yang memaksa Izza harus bisa segera menikah sama Kak Rama. Makanya Izza putar otak untuk mengambil hati Papi dan Mas Haidar, apalagi tujuannya kalo bukan untuk memaksa Kakak segera menikah. Semua berjalan sesuai rencana, kita menikah dan Mba Anin tampak mulai mundur. Izza sudah tanda tangan kontrak sama Pak Alfian untuk mengajukan gugatan cerai sebelum usia pernikahan kita satu tahun dan ga boleh hamil selama pernikahan" jelas Izza makin sesenggukan.
"Apa yang kamu dapat dari semua ini? uang? harta? Berapa yang mereka janjikan?" ketus Rama didepan mukanya Izza.
"Kembaran saya terlibat pengedaran obat terlarang, dia tertangkap membawa obat tersebut, ya.. saya kembar... ketika rumah kami terbakar, kami terpisah... setelah kejadian itu, dia diangkat anak oleh Pak Alfian" jelas Izza.
Izza diam sejenak.
"Harusnya dia yang akan disiapkan menjadi umpan buat Kak Rama. Tapi karena ga kuat menahan kesedihannya akibat kematian tragis orang tua kami, dia malah mencoba obat terlarang bersama Andi dan lama kelamaan malah jadi kurir barang haram itu" ujar Izza.
"Pak Alfian juga sindikat barang haram?" tanya Rama penasaran.
Rama hanya bisa geleng-geleng kepala ga percaya.
"Wis.. angel... angel" ujar Rama pelan.
"Kembaran Izza tertangkap dan Izza rela menukar diri ini buat bantu dia, hingga akhirnya tawaran Pak Alfian terpaksa diterima buat jalanin skenario gila ini" lanjut Izza.
"Dimana kembaran kamu sekarang?" tanya Rama.
"Dia sudah meninggal, saat sedang ketagihan dipenjara, dia nekat menyilet tangannya hingga urat nadinya putus" jawab Izza.
"Kapan?" tanya Rama.
"Saat kita baru nikah sebulan, yang Izza bilang mau melayat teman waktu itu" jawab Izza.
"Mba Zizi itu fiktif atau memang ada sosoknya?" tanya Rama.
"Ada" jawab Izza.
"Jadi sekeluarga ga benar ini mah judulnya. Ibu sang kupu-kupu malam, Bapak ga jelas yang mana... Bram maybe... Brame-rame.. Kakak.. kembaran.. semua terlibat barang haram. And you... finally.. apa yang kamu bilang benar, baguslah kita belum ada anak. Bagaimana anak kita kelak menanggung malu punya Ibu dan keluarga Ibu yang ga karuan. Harusnya Kakak ga terpesona begitu aja, terlalu bodoh hingga ga cari bibit bebet bobotnya kamu" omel Rama yang sudah tidak tahan untuk menghina keluarganya Izza.
"Sudah lama mau berterus terang, tapi Izza sudah sangat menikmati menjadi istri Kak Rama. Mendapatkan sebuah cinta yang Izza inginkan. Tapi ini ga adil buat Kak Rama.. Kak.. Izza mau menemui Pak Alfian dan memutuskan perjanjian gila ini dulu. Kemudian baru berbincang sama Kakak lagi. Selama lingkaran setan ini masih berjalan, bisnis Kakak ga akan berjalan lancar. Terutama dari pihak Mba Anin. Semua bisnis Kakak yang terkendala itu karena Mba Anin dan Pak Alfian. Mereka ingin Kakak pada akhirnya bergantung sama suntikan dana dari mereka. Izza yang memulai.. Izza pula yang akan mengakhirinya" papar Izza.
Izza menerima semua ocehannya Rama yang menyakitkan hati, tapi apa mau dikata, itulah kebenarannya.
Adalah hal yang lumrah kalo Rama marah besar, sesabar-sabarnya orang kalo menerima kenyataan seperti ini pasti pahit banget. Tapi Rama memang seorang lelaki yang masih berakal panjang, kalo mengikuti kata hatinya ingin dia jatuhkan talak cerai ke Izza malam ini juga, tapi dia ga memilih itu karena dia masih harus berpikir ulang, menimbang semuanya dari berbagai sisi.
"Kenapa masih dilanjutkan kalo kembaran kamu udah ga ada, kan kamu udah ga punya sesuatu yang harus kamu tukar lagi" tanya Rama.
"Pertama karena saat itu kita baru nikah, ga mungkin kan mengajukan gugatan cerai. Yang kedua karena Mba Gita terlibat permasalahan sama Kakak. Dan yang terakhir... Izza ga bisa mengawal hati untuk jatuh cinta sama Kakak dan ingin selalu bersama" jawab Izza.
"Misi kamu udah selesai?" tanya Rama lagi.
"Tujuan utama memang belum semua, tapi kayanya sudah sampai disini aja" jawab Izza.
"Kamu akan pergi?" tanya Rama serius.
Izza ga mampu menatap ke arah Rama.
"Izza menyerahkan ke Kakak untuk mengambil keputusan, tapi Izza minta ijin buat bertenang sejenak, menenangkan pikiran dengan menjauh dari Kakak" pinta Izza.
"Kalo Kakak ga ijinin gimana? Kamu masih istri saya kan?" jawab Rama.
"Mohon banget Kak, Izza mau selesaikan semua dulu tanpa embel-embel istrinya Kak Rama" pinta Izza lagi.
"Kita buat kesepakatan aja. Kita seperti biasa, jangan sampai terlihat ada masalah. Tapi kita tidur di kamar yang berbeda. Kakak diatas, kamu di kamar Mba Mentari. Pintar-pintarnya kamu cari alasan ke orang rumah aja. Kakak mau memikirkan secara baik-baik semua hal ini dalam kesendirian. Jangan pernah protes ini itu dengan apa yang Kakak lakukan" perintah Rama.
"Tapi Kak... tolong.. Izza mau menyendiri dulu" pinta Izza lagi.
"Siapa yang bisa jamin kamu ga pergi dan menghilang?" tanya Rama yang membuat Izza ga berkutik.
"Rapihkan semua baju, kita pulang ba'da subuh" perintah Rama kemudian keluar meninggalkan kamar.
Diperjalanan pun mereka berdua diam, hanya musik dari radio yang terdengar didalam mobil. Rama beberapa kali menerima telepon dari Mba Farida dan beberapa klien, tapi hanya bicara seperlunya. Belum pernah Izza melihat Rama semarah ini. Izza amat sangat memaklumi sikap Rama.
"Kak... Nanti mampir ke makam boleh?" tanya Izza hati-hati.
"Cape.. nanti sampai rumah kamu minta anter Mang Ujang aja" jawab Rama.
"Iya" kata Izza lagi.
.
Perjalanan Subang Jakarta hari ini ga macet, hanya tiga jam mereka sudah sampai di Jakarta.
Rama langsung masuk kamar, Izza minta diantar ke makam sama Mang Ujang.
.
Mang Ujang mengikuti langkah Izza dari belakang. Ikut berdo'a bersama Izza didepan pusara orang tuanya Izza.
ðŸ’
Seminggu sudah perang dingin antara Izza dan Rama tengah berlangsung. Izza menyibukkan diri di toko sayur organik milik Mas Haidar yang baru buka, Mas Haidar minta bantuan Izza selama sebulan untuk bantu training karyawan untuk melatih service excellent.
Rama pun kembali makin menggila lagi kerjanya. Rama berangkat kerja jam enam pagi dan pulang ke rumah selalu lewat tengah malam.
Hari ini Mang Ujang mengantar Rama meeting di kelapa Gading.
"Mas Boss... keliatannya lemes banget, double lembur ya? udah lembur di kantor eh masih lembur juga di rumah .. Hehehe" canda Mang Ujang.
"Ga juga, lagi banyak yang harus dipikirkan" jawab Rama sambil memejamkan matanya.
"Gimana Mas Boss ... udah ada tanda-tanda Mba Boss hamil? kali aja abis bulan madu langsung tokcer" tanya Mang Ujang kepo.
"Belum" jawab Rama ogah-ogahan.
"Ini kayanya Mas Boss ga jago gocekannya nih. Kan kalo cewe mah tinggal telentang doang" ledek Mang Ujang.
"Ya kali" jawab Rama.
"Jangan sibuk kerjaan aja Mas Boss. Nyari nafkah memang harus, tapi rumah tangga juga diperhatikan" nasehat Mang Ujang.
"Emang kalo ga anak artinya saya ga merhatiin keluarga? ga usah sempit gitu deh jalan pikirannya. Lagi ngapain sih tanya begitu mulu, emang ga bosen nanyanya? kalo Izza hamil juga nanti keliatan perutnya buncit" omel Rama.
Mang Ujang langsung diam.
"Tumben sensi banget nih Mas Boss, biasanya jawabnya bijak. Apa udah bosen kali ya ditanya orang mulu" gumam Mang Ujang.